Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Jika dahulu, pada abad-abad pertengahan Negara-negara eropa menjadi sorotan utama dalam perkembangan peradaban dunia dan menjadi bahan kajian oleh para pemerhati perkembangan dunia (yang diawali dengan revolusi Industri di inggris), tetapi kini kawasan asia menjadi topik yang menarik untuk di bicarakan, untuk kali ini maka makalah ini akan menyamapaikan tentang betapa pentingnya Negara-negara di asia pasifik. Mengutip kata-kata dari seorang penulis yang berkata Wilayah Asia-Pasifik merupakan salah satu wilayah penting bagi dunia pasca perang Dingin. Ini adalah daerah di mana perubahan ekonomi, sosial dan politik besar sedang berlangsung, dan keamanan menjadi perhatian utama 1 . Menyadari bahwa Asia-pasific bukan lagi suatu regional yang biasa, tetapi telah menjadi perhatian sejak perang dingin dengan itu perlu diketahui dimana tingkat kerjasama Negara-negara asia pasifik dalam menjaga eksistensinya di mata internasional.

Berdiri tahun 1989, misi APEC adalah menciptakan kawasan perdagangan bebas dan membebaskan aliran investasi dari berbagai hambatan. Itulah tujuan utama

Asia-Pacific strategic relations, oleh : William T. Tow. The asia-pacific region is one of vital importance for the post-Cold war world. It is an area in which major economic, social and political change is taking place, and one in which security is major of international concern
1

dari APEC pada awalnya. Masalahnya, berbagai hambatan pada perdagangan dan arus investasi global tidaklah begitu lancar sehingga memperlambat realisasi potensi perekonomian. Itulah alasan mengapa sekelompok negara kemudian mengikrarkan pendirian APEC, dengan Australia sebagai salah satu motornya.

1.2. Rumusan masalah. Melihat latar belakang yang telah tercantum diatas, maka dirumuskanlah masalah untuk mendukung penulisan makalah ini, rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut : 1. 2. Bagaimana sejarah terbentuknya dan apa itu APEC ? Apa saja masalah-masalah yang menjadi kendala utama dalam APEC hingga saat ini? 1.3.Tujuan Penulisan Makalah ini ditulis dalam rangka untuk memenuhi kriteria penugasan dalam mata kuliah Persfektif Global. Dan tak lupa untuk mempelajari, memahami dan menjelaskan tentang APEC dan permasalahan yang sedang dihadapinya. 1.4.Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini, adapun metode yang penulis gunakan adalah studi referensi atau pengumpulan data yang mengambil dari sumber buku dan internet seperti yang telah ditentukan pada saat penugasan.

1.5. Batasan Masalah Berdasarkan apa yang telah disebutkan dalam perumusan masalah, tulisan ini dibatasi pada : a. Latar belakang dan Sejarah APEC b. Permasalahan atau tantangan yang sedang dihadapi oleh APEC.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Sejarah dan Latar Belakang Terbentuknya APEC

APEC adalah Asia-Pacific Economic Coorperation atau Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik. APEC didirikan pada tahun 1989. APEC bertujuan mengukuhkan pertumbuhan ekonomi dan mempererat komunitas negara-negara di Asia Pasifik 2 . Koferensi negara-negara kawasan Asia Pasifik yang dilaksanakan atas prakarsa Australia pada bulan November 1989 di Canberra merupakan forum antar pemerintah yang kemudian dikenal dengan nama Asia Pacific Economic Cooperation atau disingkat APEC. Latar belakang berdirinya APEC ditandai dengan kebutuhan pembangunan ekonomi regional akibat globalisasi sistem perdagangan, dan adanya perubahan berbagai situasi politik dan ekonomi dunia sejak pertengahan tahun 1980an.

Asia pasific Economic Cooperation-APEC merupakan forum yang terbentuk dan perkembangannya dipengaruhi antara lain oleh kondisi politik dan ekonomi dunia saat itu yang berubah secara cepat di Uni Soviet dan Eropa Timur, kekhawatiran gagalnya perundingan Putaran Uruguay yang akan menimbulkan proteksionisme dengan munculnya kelompok regional serta timbulnya kecenderungan saling ketergantungan diantara negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Forum yang

http://id.wikipedia.org/wiki/Kerjasama_Ekonomi_Asia_Pasifik 4

dibentuk tahun 1989 di Canbera-Australia ini telah melaksanakan langkah besar dalam menggalang kerjasama ekonomi sehingga menjadi suatu forum konsultasi, dialog dan sebagai lembaga informal yang kerjasama ekonominya berpedoman melalui pendekatan liberalisasi bersama berdasarkan sukarela, melakukan inisiatif secara kolektif dan untuk mendukung keberhasilannya dilakukan konsultasi yang intensif terus menerus diantara 21 ekonomi anggota.

Kerja

sama

APEC

dibentuk

dengan

pemikiran

bahwa

dinamika

perkembangan Asia Pasifik menjadi semakin kompleks dan di antaranya diwarnai oleh perubahan besar pada pola perdagangan dan investasi, arus keuangan dan teknologi, serta perbedaan keunggulan komparatif, sehingga diperlukan konsultasi dan kerja sama intra-regional. Anggota ekonomi APEC memiliki keragaman wilayah, kekayaan alam serta tingkat pembangunan ekonomi, sehingga pada tahun-tahun pertama, kegiatan APEC difokuskan secara luas pada pertukaran pandangan (exchange of views) dan pelaksanaan proyek-proyek yang didasarkan pada inisiatifinisiatif dan kesepakatan para anggotanya. APEC dianggotai oleh 21 negara dari seluruh dunia, kebanyakan anggota dari APEC adalah negara yang memiliki garis pantai ke Samudra Pasifik, dan letak sekretariasnya berada di Singapore.

Sebagai salah satu forum kerja sama ekonomi utama di kawasan, APEC bertujuan untuk mencapai Bogor Goals, yaitu terciptanya liberalisasi perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik sebelum tahun 2010 untuk anggota Ekonomi

Maju dan sebelum tahun 2020 untuk anggota Ekonomi Berkembang. Dalam mencapai Bogor Goals, APEC melandaskan kerjasama yang dibangun pada tiga pilar, yaitu :

1. liberalisasi perdagangan dan investasi, 2. fasilitasi bisnis, dan kerjasama ekonomi, dan 3. teknik (ECOTECH).

Pada awalnya terdapat 12 negara sebagai pendiri yaitu Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Indonesia, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. Sejak saat itu telah menjadi wahana utama di kawasan Asia Pasifik dalam meningkatkan keterbukaan dan praktek kerjasama ekonomi sehingga dapat menarik masukan beberapa negara yaitu Republik Rakyat China, Hongkong-Cina dan Chinese-Taipe untuk bergabung pada 1991 yang kemudian disusul masuknya Meksiko dan Papua New Guinea tahun 1993 seerta Chili pada 1994. Sedangkan tiga ekonomi anggota terakhir yaitu Federasi Rusia, Peru dan Vietnam bergabung dalam forum APEC tahun 1998. Dalam perkembangannya APEC memiliki peran cukup strategis dengan penduduk sekitar 2 milyar jjiwa atau lebih dari 40% populasi dunia dan mewakili 45% nilai perdagangan dunia (1996) sebuah pasar potensial untuk perdagangan barang, jasa dan sumber daya manusia. Realisasi pertumbuhan GDP APEC tahun 2000 sebesar 4.1% berarti relatif sedikit lebih rendah dari pertumbuhan GDP dunia

yang sebesar 4.7%, disamping itu APEC juga memiliki arti penting dalam rangka pembangunan nasional karena mewakili 69.1% pasar ekspor non-migas dan merupakan 63.3% sumber impor non-migas Indonesia masing-masing tahun 2000. Serangkaian upaya penguatan infrastruktur forum kerjasama APEC terus diintensifkan kerjasamanya sehingga forum tersebut menjadi lebih kuat dan tangguh di kawasan. Forum ini sangat diharapkan tetap menjadi pelopor dalam pelaksanaan putaran uruguay untuk mencapai sistem perdagangan yang adil, terbuka dan transparan untuk mempertahankan serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional dan global. Mengingat pentingnya peranan APEC dalam rangka memberikan dukungan terhadap sistem perdagangan dimaksud dalam menunjang pertumbuhan ekonomi regional dan global di kawasan, maka Para Pemimpin Ekkonomi APEC telah mengesahkan sejumlah Deklarasi yang memuat kesepakatankesepakatan yang signifikan terhadap perkembangannya antara lain mengenai VISI APEC, Bogor Goals, Osaka Actions Agenda (OAA) yang memberikan arahan atau pedoman kerjasama APEC, dan taahun 1996 meluncurkan fase implementasi daripada OAA dalam bentuk MAPA (Manila Action Plans For APEC)3. Sedangkan tindakan konkrit lain yaitu berupa implementasi Rencana Aksi Kolektif (RAK) maupun Rencan Individu (RAI) oleh seluruh anggotanya sehingga penjabaran secara keseluruhan terhadap langkah-langkah implementasi dalam melakukan liberalsme ekonominya merupakan cermin yang kuat dalam mewujudkan kearah sistem

Manila Action Plans For APEC dibuat di Manila tahun 1996, merupakan Fase imlementasi OAA yang dibuat secara individu maupun kolektif. 7

perdagangan dan investasi bebas dan terbuka tahun 2010/2020 untuk ekonomi maju dan berkembang APEC. Implementasi kerjasam ekonomi dan teknik yang terkait dengan bidang perdagangan dan investasi, sesungguhnya baru berlangsung dalam 6 tahun terakhir sejak disahkannya MAPA, namun demikian dengan waktu yang singkat APEC berhasil mencatat berbagai kemajuan yang berarrti dalam rangka memperlancar arus barang, jasa, investasi dan mobilitasi para pelaku usaha dikawasan yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, dunia usaha dan para pihak yang terkait untuk mengetahhui perkembangan berbagai kesepakatan terakhir kerjasama ekonomi khususnya dalam mengantisipasi perdaganan bebas APEC.

2.2. Permasalahan di Dalam Tubuh APEC

Sejak berdirinya APEC, badan kerjasama ekonomi ini telah menghadapi berbagai macam tantangan. Di antara tantangan-tantangan tersebut adalah masalah dominasi AS dalam APEC, pergeseran misi APEC dan perpecahan dalam APEC. Dalam penjelasan berikut ini, penulis akan menguraikan setiap tantangan tersebut secara rinci.

a. Dominasi AS Di Dalam APEC

AS dengan kebijakan politik luar negerinya yang mengedepankan power selalu berusaha menjadi controller dalam berbagai forum kerjasama internasional,

termasuk dalam APEC. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi APEC 2003 di Bangkok, Thailand, pada tanggal 20 Oktober, 2003, isu nuklir Korea Utara, terorisme, dan kegagalan pembahasan sistem perdagangan dunia mendominasi hari pertama. Fakta ini membuktikan dominasi Amerika Serikat atas penyusunan topik yang dibahas di APEC.

Bahkan sebelum pelaksanaan KTT tersebut, AS sudah mengambil langkahlangkah awal untuk memantapkan dominasinya di APEC. Dalam tur Asia sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) George Walker Bush telah mencanangkan penekanan isu terorisme di forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Sebelum tiba di Bangkok, Bush mendarat di Tokyo, kemudian di Filipina, dengan tujuan menggalang dukungan Asia untuk membasmi terorisme. Misi Bush yang lain adalah meraih dukungan soal rekonstruksi di Irak. Bush juga sudah menekankan bahwa dalam pertemuan puncak APEC dia akan menekankan "dunia ini masih berbahaya".

Tentu saja banyak pihak merasa keberatan dengan sikap AS dan agenda politiknya dalam KTT APEC. Namun demikian, untuk mengurangi kritikan bahwa APEC telah didominasi oleh AS melalui pemaksaan pembahasan isu-isu non ekonomi, pihak AS mencoba memberikan argumentasi soal itu. Pada rangkaian pertemuan menteri perdagangan dan menteri luar negeri APEC di Thailand pada minggu pertama bulan Oktober 2003, AS lewat forum APEC memberikan sinyal

bahwa buruknya keamanan akan bisa merusak perekonomian anggota APEC yang merupakan tempat bagi 60 persen kegiatan perekonomian dunia. Pihak AS lebih lanjut menegaskan bahwa keamanan dan ekonomi tidak terpisahkan.4[7]

Dominasi AS juga nampak sekali dalam usulan mereka untuk membahas masalah nilai tukar Yuan (mata uang Cina). Dalam pertemuan bilateral selama masa KTT APEC 2003, Bush dan Presiden Cina Hu Jintao setuju untuk menunjuk para ahli membentuk panel. Tujuannya, menjajaki tentang bagaimana Beijing bisa membuat nilai yuan dapat mendekati nilai pasar. Sampai saat pelaksanaan KTT tersebut Cina masih mengontrol dan mematok nilai yuan. Usulan AS ini berawal dari keluhan para pebisnis AS yang mengeluh bahwa yuan memiliki nilai yang terlalu rendah (vastly undervalued). Kondisi ini membuat harga komoditas ekspor Cina menjadi murah dan menyerbu pasaran AS. Hal itu telah pula menyebabkan tergerogotinya sejumlah kesempatan kerja di AS. Faktor tersebut telah membuat AS berusaha keras untuk menekan Cina supaya mengambil kebijakan dalam bidang keuangan yang tidak merugikan kepentingan pelaku-pelaku bisnis AS.

b. Pergeseran Misi APEC

Dalam KTT-KTT APEC akhir-akhir ini, pembahasan APEC tidak lagi terfokus pada masalah-masalah ekonomi, akan tetapi justru berkisar pada isu-isu non-

10

ekonomi. Ini merupakan bukti nyata bahwa karena dominasi AS di APEC maka misi APEC telah mengalami pergeseran.

Anggota-anggota APEC sendiri banyak yang telah menyadari pergeseran misi APEC tersebut di atas. Menanggapi pergeseran misi ini, sejumlah anggota forum APEC merasa keberatan karena persoalan keamanan telah mengurangi penekanan APEC terhadap perekonomian dan isu perdagangan. Topik non-ekonomi juga mengurangi fokus pembahasan pada penghidupan kembali sistem perdagangan multilateral yang gagal pada pertemuan di Cancun, Meksiko, awal September 2003.

Mahathir Mohamad, yang pada tahun 2003 masih menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia mengatakan, bahwa APEC dibentuk sebagai satu kelompok kerja sama ekonomi. Itulah sebabnya Malaysia dan beberapa anggota APEC tidak setuju pengabaian isu ekonomi dengan mengutamakan isu keamanan, militer, atau politik yang bukan merupakan misi APEC. Untuk menjaga supaya APEC kembali pada misi awalnya, beberapa pemimpin negara anggota APEC mencoba mendesakkan pembahasan isu ekonomi dalam pertemuan-pertemuan APEC. Mereka menekankan pentingnya menciptakan peraturan global perdagangan untuk menghasilkan pertumbuhan yang berimbang. Mereka meminta agar agenda pembahasan perdagangan didorong, termasuk oleh APEC.

11

c. Perpecahan Dalam APEC

Perpecahan dalam tubuh APEC semakin kelihatan nyata. Pada KTT APEC 2003 saja terdapat dua hal penting yang mengindikasikan adanya perseteruan dan perpecahan dalam tubuh APEC. Seperti biasanya, di sela pertemuan APEC 2003, Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan-pernyataan diplomatic yang dapat membahayakan kesatuan anggota-anggota APEC. Dalam KTT APEC 2003, lewat Condoleezza Rice, yang waktu itu menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional Bush, AS mengecam PM Malaysia. Kecaman ini dilontarkan AS sehubungan dengan pernyataan Mahathir pada KTT Organisasi Konferensi Islam (OKI) bahwa Yahudi mengatur dunia secara tidak langsung. AS mengatakan, pernyataan Mahathir seperti itu bukan hanya terjadi sekali, tetapi sudah beberapa kali dan AS tidak dapat mentolerir pernyataan racist semacam itu. Tentu saja pernyataan AS ini menciptakan suatu perseteruan diplomatic antara AS dan Malaysia. Bila hal ini dibiarkan saja, besar kemungkinan bahwa keharmonisan antar anggota APEC dapat terganggu. Bukan hanya menyerang Malaysia, AS juga menyerang junta militer di Myanmar dalam KTT APEC 2003. AS mengecam keras penahanan pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, dan kegagalan Myanmar memperkenalkan demokrasi. Kecaman ini sudah pasti membuat pihak Myanmar berang dan makin menjaga jarak dengan AS.

12

Ketika pertemuan para pemimpin APEC berlangsung di Santiago, para pebisnis dan ekonom di Asia Pasifik mengkritik APEC sebagai suatu forum kerjasama yang tidak mengalami kemajuan yang berarti terutama dalam enam tahun terakhir. Bahkan dalam usianya yang sudah 19 tahun, APEC dinilai terancam pecah. Niat APEC untuk mengurangi hambatan pada aliran perdagangan dan investasi tidak memperlihatkan gerakan. Menurut ekonom terpandang AS, APEC sedang berubah ke sistem perdagangan global yang terbagi tiga (tripolar global trading system). Hal itu menjadi ancaman bagi kesatuan APEC dan bertentangan dengan semangat Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Potensi keterpecahan APEC itu diutarakan ekonom AS, Dr Fred C Bergsten. Pada awal 1990-an, Bergsten merupakan bagian kelompok terkemuka (eminent persons group/EPG), yang membidani perkembangan APEC. Dia mengatakan, APEC kini tampaknya lebih tumpul. Liberalisasi Sukarela Sektoral Secara Dini (The Early Voluntary Sectoral Liberalization)-diprakarsai oleh AS untuk membuat APEC segera mengurangi hambatan perdagangan dan investasi di sektor tertentu-gagal terrealisasi karena penolakan Jepang.

Rencana-rencana Aksi Individu (The Individual Action Plans/IAP), yang diharapkan sebagai cetak biru bagi anggota untuk mempercepat liberalisasi perdagangan, hanya berakhir tak lebih dari sekadar laporan nasional. APEC

13

didasarkan pada asas sukarela atas inisiatif sendiri. Anggota APEC punya rencana sendiri-sendiri (IAP) soal percepatan liberalisasi itu.

Namun, penurunan tarif global berjalan lambat-termasuk di APEC, yang dipicu oleh kegagalan WTO-mempercepat liberalisasi perdagangan. Sejumlah anggota APEC mulai menciptakan kesepakatan perjanjian perdagangan bilateral sendiri atau dengan beberapa negara di kawasan.

Padahal, rencana APEC adalah untuk membentuk satu kawasan perdagangan bebas tahun 2010 bagi anggotanya yang lebih maju dan tahun 2020 bagi anggota yang masih berkembang. Selain ada sejumlah perjanjian perdagangan bebas yang sudah terbentuk, sejumlah perjanjian baru dalam proses perundingan. Dan semua itu bukan dalam semangat tema APEC Cile 2004 "One Community, Our Future".

Di Asia misalnya, 10 negara anggota ASEAN bersama Jepang, Korea Selatan, dan India sedang mengarah pada pembentukan kelompok perdagangan tersendiri mencakup 3 miliar penduduk.

Perundingan untuk formulasi Kawasan Perdagangan Bebas Amerika (Free Trade Area of the Americans) juga sedang berlangsung. "Perjanjian seperti itu berkembang pesat dan membentuk pengelompokan di APEC sendiri. Muncul

14

peraturan perdagangan yang saling tumpang tindih dan perjanjian perdagangan itu berkualitas rendah," kata Fred C Bergsten.5[8]

Ekonom dari Korea Selatan, Kim Kih-wan, juga mengingatkan bahwa kesepakatan itu bersifat diskriminatif dan akan mengalihkan arus perdagangan di APEC menjadi antarkelompok sendiri. Kim mengatakan, kesepakatan perdagangan di APEC telah terpecah menjadi kelompok Asia dan Amerika, padahal Asia Pasifik memiliki APEC.

15

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3.1. Kesimpulan

Pada bagian penutup ini penulis ingin menyimpulkan bahwa APEC merupakan suatu forum kerjasama di bidang ekonomi bagi negara-negara yang berada di kawasan Asia Pasifik. Melihat pada tujuan awal terbentunya APEC adalah untuk liberalisasi perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik. Kerjasama ekonomi antara APEC dan negara-negara lain memang menguntungkan, bahkan ternyata, selain bentuk kerjasama yang cakupannya luas.. Forum kerjasama ini bersifat informal dan didasarkan pada prinsip kesetaraan dan sikap saling menghormati serta memahami. Pada perkembangannya pada masa akhir-akhir ini, sedikit banyak APEC telah mengalami pergeseran tujuan dan misinya, yaitu dari kerjasama bidang ekonomi menjadi kerjasama bidang politik dan keamanan.

Pergeseran fokus dan misi APEC ini terjadi karena kuatnya dominasi AS di APEC, yang selalu memaksakan kepentingan politik dan ekonominya kepada negaranegara anggota APEC lainnya. Dominasi AS tersebut telah menimbulkan dampak lain yang cukup membahayakan masa depan APEC. Dampak lain yang dimaksud adalah timbulnya perpecahan di antara negara-negara anggota APEC. Dengan kondisi

16

APEC yang sekarang, rasanya keberlangsungan dan besarnya manfaat APEC bagi negara-negara berkembang patut dipertanyakan.

Akhir kata, APEC masih bisa relevan jika kita go back to basics, tetapi benarbenar memprioritaskan kepada apa yang realistis dan dapat dilakukan dalam konteks APEC, dan mengurangi perlakuan diskriminatif dari negara-negara anggotanya yang secara ekonomi mapan kepada negara-negara anggotanya dari kelompok negara berkembang.

3.2.Saran

Untuk kemajuan dan perbaikan APEC, melalui bagian penutup makalah ini, penulis ingin mengajukan beberapa saran diantarya:

1.

APEC bisa berperan dengan program kerja sama ekonomi dan

teknis yang konkret dan riil, untuk membantu negara-negara anggotanya untuk implementasi perjanjian yang ada; membangun lembaga, kapasitas dan SDM untuk menyikapi globalisasi; dan membantu pemerintah di masingmasing negara untuk menyikapi kekhawatiran warganya mengenai dampak negatif dari globalisasi secara bijak, dan tidak dengan menutup diri atau meningkatkan proteksi dan mengunakan intervensi pemerintah.

2.

APEC perlu mengarisbawahi beberapa prioritas program kerja

ecotech, terutama kapasitas untuk implementasi WTO, kapasitas menyikapi

17

membangun sektor finansial yang tangguh dan peningkatan perangkat manusia dan prasarana untuk menyikapi sistem ekonomi baru yang didasari pengetahuan atau teknologi informasi (the new knowledge based economy).

3. Di samping prioritas, tentunya harus ada komitmen konkret dalam bentuk dana maupun bantuan teknis dan teknologi yang aktual dari negaranegara anggota yang lebih maju.

18

DAFTAR PUSTAKA Buzan, Barry. 1998, Asia-Pacific In The New Worl Order. London: Routledge

Cipto, Bambang. 2007. Hubungan internasional di Asia Tenggara: teropong terhadap dinamika, realitas, dan masa depan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hurrel, Andrew. 2007. Regionalism In World Politics.. New York: Oxford University Press. Http://www.apecsec.org.sg diakses pada tanggal 7 Juni 2013 pukul 20.00-22.00 WITA Tow,T. William. 2004. Asia-Pacific strategic relations, Cambridge : Cambridge University Http://id.wikipedia.org/wiki/Kerjasama_Ekonomi_Asia_Pasifik diakses pada tanggal 7 Juni 2013 pukul 20.00-22.00 WITA Http://www.pksi.depkeu.go.id/pub.asp?id=12 diakses pada tanggal 7 Juni 2013 pukul 20.00-22.00 WITA

19