Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

Infeksi pada organ-organ telinga, hidung, dan tenggorokan dapat menyebabkan terbentuknya abses pada leher bagian dalam yang merupakan ruang potensial diantara fasia leher dalam sebagai akibat dari penjalaran infeksi dari berbagai sumber seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah, dan leher, tergantung ruang mana yang terlibat. Penyebab paling sering dari abses leher dalam adalah infeksi gigi (43%) dan penyalahgunaan narkoba suntikan (12%). 1,4 Abses leher dalam merupakan suatu kondisi yang mengancam jiwa akibat komplikasi-komplikasinya yang serius seperti obstruksi jalan napas, kelumpuhan saraf kranial, mediastinitis, dan kompresi hingga ruptur arteri karotis interna. Lokasinya terletak di dasar mulut dan dapat menjadi ancaman yang sangat serius. Etiologi infeksi di daerah leher dapat bermacam-macam. Kuman penyebab abses leher dalam biasanya terdiri dari campuran kuman aerob, anaerob maupun fakultatif anaerob. Asmar dikutip Murray dkk, mendapatkan kultur dari abses retrofaring 90 % mengandung kuman aerob, dan 50% pasien ditemukan kuman anaerob. 1,2 Infeksi kepala dan leher yang mengancam jiwa ini sudah jarang terjadi sejak diperkenalkannya antibiotik dan angka kematiannya menjadi lebih rendah. Disamping itu higiene mulut yang meningkat juga berperan dalam hal ini. Sebelum era antibiotik, 70 % infeksi leher dalam berasal dari penyebaran infeksi di faring dan tonsil ke parafaring. 1 Abses parotis merupakan salah satu dari abses leher dalam yang terjadi. Abses parotis adalah penumpukan bahan nanah dan terinfeksi di kelenjar parotis. Kondisi ini paling sering berkembang sebagai konsekuensi dari perawatan mulut yang buruk. 12

Gejala abses parotis termasuk rasa sakit dan pembengkakan salah satu atau kedua kelenjar parotis. Pemeriksaan mulut juga bisa menunjukkan kebocoran nanah dari kelenjar parotis ke dalam rongga mulut dan pasien mungkin memiliki napas yang berbau busuk akibat infeksi. 1 Pengobatan biasanya melibatkan drainase. Disamping drainase abses yang optimal, pemberian antibiotik diperlukan untuk terapi yang adekuat. Untuk mendapatkan antibiotik yang efektif terhadap pasien, diperlukan pemeriksaan kultur kuman dan uji kepekaan antibiotik terhadap kuman. Namun ini memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga diperlukan pemberian antibiotik secara empiris. Berbagai kepustakaan melaporkan pemberian terapi antibiotik spektrum luas secara kombinasi. Kombinasi yang diberikan pun bervariasi. 10 Meluasnya penggunaan antibiotik tidak hanya menurunkan angka kejadian infeksi yang mengancam jiwa, tetapi juga mengubah gambaran klinis penyakit ini. Hal ini ditambah juga dengan semakin meningkatnya jumlah pasien dengan status immunosupresi berat, menjadi tantangan bagi para dokter untuk memahami gambaran klinis penyakit ini yang dapat memicu terjadinya komplikasi yang mengancam jiwa. Pengetahuan anatomi fasia dan ruang-ruang potensial leher secara baik, serta penyebab abses leher dalam mutlak diperlukan untuk dapat memperkirakan perjalanan penyebaran infeksi dan penatalaksanaan yang adekuat. 1,2,10

BAB II EPIDEMIOLOGI

Huang dkk, dalam penelitiannya pada tahun 1997 sampai 2002, menemukan kasusinfeksi leher dalam sebanyak 185 kasus. Abses submandibula (15,7%) merupakan kasus terbanyak ke dua setelah abses parafaring (38,4), diikuti oleh Ludwigs angina (12,4%), parotis (7%) dan retrofaring (5,9%). 6 Yang dkk, pada 100 kasus abses leher dalam yang diteliti April 2001 sampai Oktober 2006 mendapatkan perbandingan antara laki-laki dan perempuan 3:2. Lokasi abses lebih dari satu ruang potensial 29%. Abses submandibula 35%, parafaring 20%, mastikator 13%, peritonsil 9%, sublingual 7%, parotis 3%, infra hyoid 26%, retrofaring 13%, ruang karotis11%. 14 Di Bagian THT-KL Rumah Sakit dr. M. Djamil Padang selama 1 tahun terakhir (Oktober 2009 sampai September 2010) didapatkan abses leher dalam sebanyak 33 orang, abses peritonsil 11 (32%) kasus, abses submandibula 9 (26%) kasus, abses parafaring 6 (18%)kasus, abses retrofaring 4 (12%) kasus, abses mastikator 3(9%) kasus, abses pretrakeal 1 (3%) kasus. 10

BAB III ANATOMI 13

Kelenjar parotis adalah kelenjar liur yang berpasangan, berjumlah 2 (kanan dan kiri). Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur yang terbesar. Masingmasing beratnya rata-rata 25 gram dan bentuknya irregular, berlobus, berwarna antara hijau dan kuning (yellowish) terletak dibawah meatus akustik eksternus diantara mandibula dan otot sternokleidomastoideus.

Gambar 3.1 Proyeksi Kelenjar Parotis Terhadap Organ Lain15

Kelenjar parotis bentuknya bervariasi, jika dilihat dari lateral 50% berbentuk segitiga, 30% bagian atas dan bawahnya membulat. Biasanya kelenjar

parotis berbentuk seperti piramida terbalik dengan permukaan-permukaannya sebagai berikut: permukaan superior yang kecil, superficial, anteromedial, dan posteromedial. Bentuk konkav pada permukaan superior berhubungan dengan bagian tulang rawan dari meatus akustik eksternus dan bagian posterior dari sendi temporomandibular. Disini saraf auriculotemporal mempersarafi kelenjar parotis. Permukaan superfisialnya ditutup oleh kulit dan fascia superficial yang mengandung cabang fasial dari saraf aurikuler, nodus limfatikus parotis superficial, dan batas bawah dari platisma.

Gambar 3.2 Penampang samping letak kelenjar parotis 3

Bagian anterior kelenjar berbatasan dengan tepi posterior ramus mandibula dan sedikit melapisi tepi posterior muskulus masseter. Bagian posterior kelenjar

dikelilingi

oleh telinga,

prosesus

mastoid,

dan

tepi

anterior

muskulus

stemokleidomastoideus. Bagian dalam yang merupakan lobus medial meluas ke rongga parafaring, dibatasi oleh prosesus stiloideus dan ligamentum

stilomandibular, muskulus digastrikus, serta selubung karotis. Di bagian anterior lobus ini terletak bersebelahan dengan bagian medial ptetygoideus. Bagian lateral hanya ditutupi oleh kulit dan jaringan lemak subkutaneus. Jaringan ikat dan jaringan lemak dari fasia leher dalam membungkus kelenjar ini. Kelenjar parotis berhubungan erat dengan struktur penting di sekitarnya yaitu vena jugularis interna beserta cabangnya, arteri karotis eksterna beserta cabangnya, kelenjar limfa, cabang auriculotemporalis dari nervus trigerninus dan nervus fasialis. Pendarahan kelenjar parotis berasal dari arteri karotis eksterna dan cabangcabang di dekat kelenjar parotis. Darah vena mengalir ke vena jugularis eksterna melalui vena yang keluar dari kelenjar parotis. Nodul kelenjar lime ditemukan pada kulit yang berada di atas kelenjar parotis (kelenjar preaurikuler) dan pada bagian dari kelenjar parotis itu sendiri. Ada 10 kelenjar limfatik yang terdapat pada kelenjar parotis, sebagian besar ditemukan pada bagian superficial dari kelenjar diatas bidang yang berhubungan dengan saraf fasialis. Kelenjar limfe yang berasal dari kelenjar parotis mengalirkan isinya ke nodus limfatikus servikal atas. Persarafan kelenjar parotis oleh saraf preganglionic yang berjalan pada cabang petrosus dari saraf glossopharyngeus dan bersinaps pada ganglion otik. Serabut postganglionic mencapai kelenjar melalui saraf auriculotemporal.

Kelenjar parotis memiliki saluran untuk mengeluarkan sekresinya yang dinamakan Stensens duct yang akan bermuara di mulut dekat gigi molar 2; lokasi biasanya ditandai oleh papilla kecil.

Gambar 3.3 Kelenjar parotis kiri, permukaan anteromedial 3

BAB IV FISIOLOGI 11

Setiap hari diproduksi 1 sampai 2 liter air liur dan hampir semuanya ditelan dan direabsorbsi. Proses sekresi dibawah kendali saraf otonom. Makanan dalam mulut merangsang serabut saraf yang berakhir pada nucleus pada traktus solitaries dan pada akhirnya merangsang nukleus saliva pada otak tengah. Pengeluaran air liur juga dirangsang oleh penglihatan, penciuman melalui impuls dari kerja korteks pada nukleus saliva batang otak. Aktivitas simpatis yang terus menerus menghambat produksi air lir seperti pada kecemasan yang menyebabkan mulut kering. Obat-obatan yang menghambat aktivitas parasimpatis juga menghambat produksi air liur seperti obat antidepresan, tranquillizers, dan obat analgesik opiate dapat menyebabkan mulut kering (Xerostomia). Air liur terdiri atas air dan mucin, membentuk seperti lapisan gel pada mukosa oral dan membasahi makanan (lubrikasi). Lubrikasi penting untuk mengunyah dan pembentukan bolus makanan sehingga memudahkan untuk ditelan. Air liur juga mengandung amylase, yang berperan dalam pencernaan karbohidrat. Air liur mengandung enzim antibakteri

seperti lysozyme dan immunoglobulin yang membantu mencegah infeksi serius dan mengantur flora bakteri yang menetap di mulut. Saluran air liur relative impermeabel terhadap air dan mensekresi kalium, bikarbonat, kalsium, magnesium, ion fosfat dan air. Jadi produk akhir dari kelenjar air liur adalah hipotonik, cairan yang bersifat basa yang kaya akan kalsium dan fosfat. Komposisi ini penting untuk mencegah demineralisasi enamel gigi.

Gambar 4.1 Letak kelenjar parotis tampak depan8

Gambar 4.2 Struktur mikroskopis kelenjar air liur 16

Gambar 4.3 Letak kelenjar parotis dari sisi samping

10

BAB V Infeksi 5

Infeksi adalah masuknya suatu organisme patogen pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik yang apabila tidak ditangani dengan benar dapat menimbulkan suatu abses. Abses adalah kumpulan pus (netrofil yang telah mati) yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya oleh bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian lain dari tubuh. Infeksi leher dalam adalah suatu proses infeksi yang terjadi di dalam ruang potensial di antara fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran dari berbagai sumber infeksi, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga dan leher yang dapat menimbulkan abses leher dalam.

11

BAB VI ETIOLOGI 10

Tabel. 1. Kuman Penyebab Abses leher dalam


Jenis Kuman

Jumlah pasien % kultur +


63 46 35 22 34 11 10 10 9 8 8 8 7 6 39 28 22 14 21 6,8 6,2 6,2 5,5 4,9 4,9 4,9 4,3 3,7 3,7 6 5 3 3 3 3 3,1 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9

Streptococcus viridans Staphylococcus epidermidis Staphylococcus aureus Bactroides Sp Streptococcus -haemolyticus Klebsiella pneumonia Streptococcus pneumonia Mycobacterium tb Anaerob gram negatif Neisseria sp Peptostreptococcus Jamur Enterobacter Bacillus sp Propionibacterium Acinetobacter Actinimicosis israelii Proteus sp Klepsiella sp Bifidobacterium Microaerophilic streptococcus

12

Enterococcus sp Moraxtella catarrhalis Dan lain-lain

3 3 2

1,9 1,2 6,8

Beberapa penyebab lainnya terjadi infeksi sebagai berikut : infeksi pada faring dan tonsil, infeksi atau abses dental, prosedur bedah mulut atau pengangkatan kawat gigi, infeksi atau obstruksi glandula saliva, trauma kavum oris dan faring, pemeriksaan, terutama esofagoskopi atau bronkoskopi, aspirasi benda asing, limfadenitis servikal, anomali celah brakial, kista duktus tyroglossalis, tiroiditis, mastoiditis dengan petrositis dan Bezold's abscess, penggunaan obat intravena, dan nekrosis dan supurasi masa atau limfonodus servikalis maligna. Pada umumnya abses leher dalam disebabkan oleh infeksi campuran beberapa kuman. Baik kuman aerob, anaerob maupun kuman fakultatif anaerob. Kuman aerob yang sering ditemukan adalah Stafilokokus, Streptococcus sp, Haemofilus influenza, Streptococcus pneumonia, Moraxtella catarrhalis, Klebsiell sp, Neisseria sp. Kuman anaerob yang sering adalah Peptostreptococcus, Fusobacterium dan bacteroides sp. Pseudomanas aeruginosa merupakan kuman yang jarang ditemukan. Kuman anaerob yang sering ditemukan pada abses adalah kelompok batang gram negatif, seperti Bacteroides, Prevotella, maupun

Fusobacterium. Infeksi sering bersifat polimikroba yaitu bersamaan dengan kuman anaerob lainnya, fakultatif anaerob, dan aerob. Bakteri anaerob ditemukan hampir di semua bagian tubuh. Infeksi terjadi ketika bakteri anaerob dan bakteri flora normal lainnya mengontaminasi yang secara normal steril. Berbagai penelitian tentang kuman penyebab abses telah banyak dilakukan. Botin dkk mendapatkan Peptostreptococus, Streptococus viridan,

13

Streptococus intermedius berkaitan dengan infeksi gigi sebagai sumber infeksi abses leher dalam. El-Sayeddan Al-daurosy, Botin dkk mendapatkan kuman aerob terbanyak adalah stafilokokus dan streptokokus. Abshirini H dkk, pada 40 hasil kultur dari abses mendapatkan stafilokokus 77%, Streptococcus -haemolitycus 12,5%, Entrobacter 12,5%, Streptococcus haemolyticus 7,5%, Klebsiella sp 5%, Streptococcus non haemolyticus 5%, Pseudomonasaeruginosa 2,5%. Parhiscar dkk, dari 210 pasien abses (1981-1998), dilakukan kultur terhadap 186 (88%) pasien, dan pada 162 (87%) pasien ditemukan pertumbuhan kuman, 24 (13%) pasien tidak terdapat pertumbuhan kuman. Kuman terbanyak Streptococcus viridan 39%, Staphylococcus epidermidis 28%. Kuman anaerob terbanyak adalah bacteroides sp 14%. Brook menemukan kuman yang tumbuh pada 201 spesimen dari abses kepala dan leher, hanya kuman aerob sebanyak 65 spesimen, hanya kuman anaerob 65 spesimen, dan campuran keduanya 71 spesimen. Yang dkk dari 100 pasien abses yang dilakukan kultur kuman didapatkan 89%, ada pertumbuhan kuman. Kuman aerob dominan ialah Streptococcus viridan, Klebsiella pneumonia, Stapylococcus aureus. Kuman anaerob dominan Prevotella, Peptostreptococcus, dan Bacteroides.

14

Tabel.2 Pola kelompok kuman pada abses leher dalam Hasil


Positif kuman Kuman tunggal Gram positif aerob Gram negatif aerob Anaerob Kuman campuran Aerob saja Gram positif saja Gram negatif saja Kedua gram Anaerob saja Campuran aerob-anaerob 3 51 (57,3%) 13 5 1 7 2 36

jumlah kasus
89 38(42,7%) 14 21

15

BAB VII PATOGENESIS

Pembentukan abses merupakan hasil perkembangan dari flora normal dalam tubuh. Flora normal dapat tumbuh dan mencapai daerah steril dari tubuh baik secara perluasan langsung, maupun melalui laserasi atau perforasi. Berdasarkan kekhasan flora normal yang ada di bagian tubuh tertentu maka kuman dari abses yang terbentuk dapat diprediksi berdasar lokasinya. Sebagian besar abses leher dalam disebabkan oleh campuran berbagai kuman, baik kuman aerob, anaerob, maupun fakultatif anaerob. 10 Pada kebanyakan membran mukosa, kuman anaerob lebih banyak dibanding dengan kuman aerob dan fakultatif, dengan perbandingan mulai 10:1 sampai 10000:1. Bakteriologik dari daerah gigi, oro-fasial, kuman yang paling dominan adalah kuman dan abses leher,

anaerob yaitu, Prevotella,

Porphyromonas, Fusobacterium spp, dan Peptostreptococcus spp. Bakteri aerob dan fakultatif adalah Streptococcus pyogenic dan Stapylococcus aureus. 10 Sumber infeksi paling sering pada abses umber infeksi dari abses parotis adalah penyebaran dari infeksi oleh Stapylococcus, Haemophillus, Streptococcus dari kelenjar parotis yang kering, seperti supurasi dari kelenjar limfe intra parotid, dan penyebaran dari fissura kartilago Santorini atau foramen tulang Huschke. 12 Penyebab dehidrasi kelenjar parotis adalah postoperatif dan obat-obatan (antihistamin, antidepresan
12

trisiklik,

barbiturat,

diuretik,

dan

parasimpatomimetik).

Penyebaran infeksi dapat meluas melalui foramen apikal gigi ke daerah sekitarnya. Apek gigi molar I yang berada di atas milohioid menyebabkan

penjalaran infeksi akan masuk terlebih dahulu ke daerah sublingual, sedangkan molar II dan III apeknya berada di bawah milohioid sehingga infeksi akan lebih cepat ke daerah submaksila. 10

16

BAB VIII DIAGNOSIS

Anamnesis 1,4 Dari anamnesis biasanya didahului riwayat tertusuk benda asing pada dinding posterior faring, pasca tindakan endoskopi atau adanya riwayat batuk kronis. Gejala yang dapat dijumpai adalah : demam tinggi, sukar dan nyeri menelan, rasa sakit di leher (neck pain), keterbatasan gerak leher, dispnea, malaise. Pada bentuk kronis, perjalanan penyakit lambat dan tidak begitu khas sampai terjadi pembengkakan yang besar dan menyumbat hidung serta saluran napas.

Pemeriksaan Fisik 1,4 Manifestasi dari abses parotis adalah : pembengkakan dari sudut rahang tanpa trismus atau edema faring, nyeri tekan dan pitting edema pada kelenjar parotis, fluktuasi, pus pada Stensens duct, napas berbau, terkadang ada nanah di dalam mulut.

Gambar 8.1 Anak yang menderita Abses Parotis

17

Pemeriksaan Penunjang 10

1. Rontgen Panoramiks Dilakukan pada kasus abses leher dalam yang dicurigai berasal dari gigi. 2. Rontgen toraks Perlu dilakukan untuk evaluasi mediastinum, empisema subkutis, pendorongan saluran nafas, pneumonia yang dicurigai akibat aspirasi dari abses. 3. Pemeriksaan Bakteriologik Pemeriksaan bakteriologik pus dari lesi yang dalam atau tertutup harus meliputi biakan metoda anaerob. Setelah desinfeksi kulit, pus dapat diambil dengan aspirasi memakai jarum aspirasi atau dilakukan insisi. Pus yang diambil sebaiknya tidak terkontaminasi dengan flora normal yang ada di daerah saluran nafas atas atau rongga mulut. Aspirasi dilakukan dari daerah yang sehat dan dilakukan lebih dalam. 4. Tomografi Komputer (TK/ CT Scan) Tomografi komputer dengan kontras merupakan pemeriksaan baku emas pada abses leher dalam. Berdasarkan penelitian Crespo dkk, seperti dikutip Murray AD dkk, bahwa dengan hanya pemeriksaan klinis tanpa tomografi komputer mengakibatkan estimasi terhadap luasnya abses yang terlalu rendah pada 70% pasien. TK memberikan gambaran abses berupa lesi dengan hipodens (intensitas rendah), batas yang lebih jelas, kadang ada air fluid levels. Kirse dan Robenson, mendapatkan ada hubungan antara ketidakteraturan dinding abses dengan adanya pus pada rongga atau organ tersebut. Pemeriksaan TK toraks diperlukan jika dicurigai adanya perluasan abses ke mediastinum.

18

Gambar 8.2 Orang Menderita Abses Parotitis dan hasil CT-Scan

Gambar 8.3 CT-Scan dengan kontras 17

19

BAB IX PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan abses leher dalam adalah dengan evakuasi abses baik dilakukan dengan anestesi lokal maupun dengan anestesi umum. Penanganan adalah drainase eksternal dengan insisi parotidektomi. 12 Antibiotik dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob harus diberikan secara parenteral. Hal yang paling penting adalah terjaganya saluran napas yang adekuat dan drainase abses yang baik. 4 Menurut Poe dkk penatalaksanaan abses leher dalam meliputi operasi untuk evakuasi dan drainase abses, identifikasi kuman penyebab dan pemberian antibiotik. Hal ini akan mengurangi komplikasi dan mempercepat perbaikan. 10 Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan antibiotika adalah efektifitas obat terhadap kuman target, risiko peningkatan resistensi kuman minimal, toksisitas obat rendah, stabilitas tinggi dan masa kerja yang lebih lama. Pemberian antibiotik berdasarkan hasil biakan kuman dan tes kepekaan antibiotik terhadap kuman penyebab infeksi. Biakan kuman membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasilnya, sedangkan pengobatan harus segera diberikan. Sebelum adanya hasil kultur kuman dan uji sensitifitas, diberikan antibiotik kuman aerob dan anaerob secara empiris. Yang SW, dkk melaporkan pemberian antibiotik kombinasi pada abses leher dalam, yaitu: kombinasi

penisilin G, klindamisin dan gentamisin, kombinasi ceftriaxone dan klindamisin, kombinasi ceftriaxone dan metronidazole, kombinasi cefuroxime dan klindamisin, kombinasi penisilin dan metronidazole, masing-masing didapatkan angka perlindungan (keberhasilan) 67,4%, 76,4%, 70,8%, 61,9%. Avest ET, dkk,23 memberikan antibiotik empiris, kombinasi metronidazole dengan ceftriaxone. 14

20

Penisilin G merupakan obat terpilih untuk infeksi kuman streptokokus dan stafilokokus yang tidak menghasilkan enzim penecilinase. Gentamisin

menunjukkan efek sinergis dengan pinisilin. Klindamisin efektif terhadap streptokokus, pneumokokus dan stafilokokus yang resisten terhadap penisilin. Lebih khusus pemakaian klindamisin pada infeksi polimikrobial termasuk Bacteroides sp maupun kuman anaerob lainnya pada daerah oral. 7,14 Berbagai kombinasi pemberian antibiotik secara empiris sebelum didapatkan hasil kepekaan terhadap kuman penyebab, dianjurkan berbagai ahli seperti terlihat pada tabel 3. Tabel 3. Antibiotik yang dianjurkan beberapa penulis secara empiris. 14 Penulis Antibiotik Umur D A&D

Sakaguchi dkk (97) Penesilin & Klindamisin Parhischar, Har-El (01) Gates (83) Chen dkk (98) Plaza, Mayor (01) Simo dkk (98) Nagy dkk(97) Mc Clay dkk (03) Sichel dkk (02) Brondbo dkk (83) Penesilin G & Oxacillin atau Nafcilin Penesilin, lactamase resistant drug PenesilinG, Klindamisin, Gentamisin Cefotaxime, Metronidazole Flucloxacine, Metronidazole Ceftriaxone , Klindamisin Cefuroxime, Klindamisin Amoksillin-Asam klavulanik Penesilin G, Metronidazole

DTV D D A A&D A A&D A

Ket : A=Anak, D=Dewasa DTV=Data tidak valid

21

Pada kultur didapatkan kuman anaerob, maka antibiotik metronidazole, klindamisin, carbapenem, sefoxitin, atau kombinasi penisilin dan -lactam inhibitor merupakan obat terpilih.7 Metronidazole juga efektif sebagai amubisid. Aminoglikosida, quinolone atau cefalosforin generasi ke III dapat ditambahkan jika terdapat kuman enterik gram negatif.6,10 Cefalosporin generasi III mempunyai efektifitas yang lebih baik terhadap gram negatif enterik. Dibanding dengan cefalosporin generasi I, generasi III kurang efektif terhadap kokus gram positif, tapi sangat efektif terhadap dan Pneumokokus. Ceftriaxone dan

Haemofillus infeluenza, Neisseria sp

cefotaxime mempunyai efektifitas terhadap streptokokus. Ceftriaxone sangat efektif terhadap gram negatif dan Haemofillus sp, kebanyakan Streptococcus pneumonia dan Neisseriae sp yang resisiten terhadap penesilin. 14 Setelah terdapat hasil uji kepekaan antibiotik terhadap kuman penyebab diberikan antibiotik yang sesuai. Pada pemberian kombinasi antibiotik secara empiris jika terdapat perbaikan, antibiotik dapat diteruskan, jika tidak maka antibiotik diganti sesuai uji kepekaan. 4,5 Evakuasi abses dapat dilakukan dalam anastesi lokal untuk abses yang dangkal dan terlokalisasi atau eksplorasi dalam narkose umum bila letak abses dalam dan luas. 4,5 Adanya trismus menyulitkan untuk masuknya pipa endotrakea peroral. Pada kasus demikian diperlukan tindakan trakeostomi dalam anastesi lokal. Jika terdapat fasilitas bronkoskop fleksibel, intubasi pipa endotrakea dapat dilakukan secara intranasal. 4,5

22

BAB X KOMPLIKASI

Komplikasi yang sering terjadi adalah penyebaran infeksi melalui ruang faringomaksilar menuju mediastinum. 12 Obstruksi jalan nafas dan asfiksia merupakan komplikasi yang potensial terjadi pada abses leher dalam terutama Ludwigs angina. Ruptur abses, baik spontan atau akibat manipulasi, dapat mengakibatkan terjadinya pneumonia, abses paru maupun empiema. 10 Komplikasi yang paling berbahaya adalah terkenanya dapat terjadi tromboflebitis septik vena jugular. Bila terjadi periflebitis atau endoflebitis, dapat timbul tromboflebitis dan septicemia. 9 Dapat juga terjadi perdarahan masif yang tiba-tiba akibat dari erosi arteri karotis interna. Kompikasi ini dapat memberi kesan dengan adanya perdarahan awal yang kecil (perdarahan tersamar). 9 Dapat terjadi bakteremia maupun sepsis. Kejadian emboli paru mencapai 5% pada kasus pasien dengan trombosis vena jugular. Penyebab terbanyak adalah bakteri Fusobacterium necroforum, dan pada penyalahgunaan obat suntik penyebab terbanyak adalah stafilokokus. 9 Ruptur arteri karotis merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Ini biasanya terjadi pada abses parafaring bagian poststiloid, infeksi meluas ke bungkus karotis. Mediastinitis dapat terjadi akibat perluasan infeksi melalui viseral anterior, vaskuler viseral, maupun daerah retrofaring dan danger space. Pasien akan mengeluhkan nyeri dada dan sukar bernapas. 10

23

BAB XI RESUME

Infeksi pada organ-organ telinga, hidung, dan tenggorok dapat menyebabkan terbentuknya abses pada leher bagian dalam yang merupakan ruang potensial diantara fasia leher dalam sebagai akibat dari penjalaran infeksi dari berbagai sumber seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah, dan leher, tergantung ruang mana yang terlibat. Penyebab paling sering dari abses leher dalam adalah infeksi gigi (43%) dan penyalahgunaan narkoba suntikan (12%). Abses parotis merupakan salah satu dari abses leher dalam yang terjadi. Abses parotis adalah penumpukan bahan nanah dan terinfeksi di kelenjar parotis. Kondisi ini paling sering berkembang sebagai konsekuensi dari perawatan mulut yang buruk. Sumber infeksi dari abses parotis adalah penyebaran dari infeksi oleh Stapylococcus, Haemophillus, Streptococcus dari kelenjar parotis yang kering, seperti supurasi dari kelenjar limfeintra parotid, dan penyebaran dari fissura kartilago Santorini atau foramen tulang Huschke. Penyebab dehidrasi kelenjar parotis adalah postoperative dan obat-obatan (antihistmain,antidepresan trisiklik, barbiturat, diuretik, dan parasimpatomimetik). Manifestasi abses parotis adalah pembengkakan sudut rahang tanpa trismus atau edema faring, demam tinggi, malaise, nyeri tekan dan pitting edema pada kelenjar parotis, fluktuasi, pus pada Stensens duct. Penanganan adalah drainase eksternal dengan insisi parotidektomi, obat untuk mengobati infeksi, dan pemantauan tanda-tanda kekambuhan. Komplikasi yang sering terjadi adalah penyebaran infeksi melalui ruang faringomaksilar menuju mediastinum.

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring. Dalam: Adams, Boies, dan Higler, editors. Boies: Buku ajar penyakit THT Edisi VI. Jakarta:EGC Penerbit Buku Kedokteran; 1997. hal. 320-355. 2. Andrina YMR. Abses retrofaring. Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan Universitas Sumatera Utara. 2003. Diunduh dari: http://www.repository.usu.ac.id 3. Davis, Gwilym G. Parotid Gland. Dalam: Applied Anatomy: The Construction Of The Human Body. Philadelphia: J. B. Lippincott Company. 1913. 4. Fachruddin D. Abses Leher Dalam. Dalam: Iskandar M, Soepardi AE editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok. Edisi ke 6. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI. 2007: 226-30. 5. Gadre AK, Gadre KC. Infection of the deep Space of the neck. Dalam: Bailley BJ, Jhonson JT, editors. Otolaryngology Head and neck surgery. Edisi ke-4. Philadelphia: JB.Lippincott Company. 2006: 666-81 6. Huang T, chen T, Rong P, Tseng F, Yeah T, Shyang C. Deep neck infection: analysis of 18 cases. Head and neck. 2004: 860-864. 7. Jawetz, Melnick & Adelberg. Mikrobiologi kedokteran. Edisi 23. Alih bahasa: Hartarto H dkk. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007: 225-73. 8. Kaufman BR., Frederick R. Heckler. Clinics in Sports Medicine Volume 16, Issue 3. USA: Elsevier. 1997.543562. 9. Lee, Keat Jin. Essential otolaryngology: head & neck surgery. McGraw-Hill Professional. 2003.

25

10. Pulungan, M. Rusli. Pola Kuman Abses Leher Dalam. Diunduh dari: http://www.scribd.com/doc/48074146/POLA-KUMAN-ABSES-LEHERDALAM-Revisi 11. Satish, Keshav. Dalam: The Gastrointestinal System At A Glance. Australia: Blackwell Science Ltd, 2004: 14-15. 12. Snow JB, Phillip A. Ballengers Otorhinolaryngology: Head and Neck Surgery. USA: PMPH. 2009. 13. Standring, Susan. Grays Anatomy: The Anatomical Basis of Clinical Practice. USA: Elsevier, 2005: 515-518. 14. Yang S.W, Lee M.H, See L.C, Huang S.H, Chen T.M, Chen T.A. Deep neck abscess: an analysis of microbial etiology and effectiveness of antibiotics. Infection and Drug Resistance. 2008: 1-8. 15. http://www.anatomyatlases.org/AnatomicVariants/OrganSystem/Images/84.shtml 16. http://www.anatomyatlases.org/MicroscopicAnatomy/Section10/Plate10210.shtml 17. https://wiki.uiowa.edu/display/protocols/Parotid+Abscess+-+Rads

26