Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Tujuan dari pendidikan itu sendiri ialah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sudarman (2005:68) menjelaskan bahwa salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas di arahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak didik lulus dari sekolah, mereka pintar teoretis tetapi mereka miskin aplikasi. Pendidikan di sekolah terlalu menjejali otak anak dengan berbagai bahan ajar yang harus dihafal. Pendidikan tidak di arahkan untuk mengembangkan dan membangun karakter serta potensi yang dimiliki. Dengan kata lain, proses pendidikan kita tidak diarahkan membentuk manusia cerdas, memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup, serta tidak diarahkan untuk membentuk manusia kreatif dan inovatif.

Maka dalam mewujudkan tujuan pendidikan diatas diperlukan beberapa hal yang harus dilakukan diantaranya yaitu strategi pembelajaran dalam mendidik peserta didik. Strategi pembelajaran itu sendiri sangatlah banyak, namun yang akan kami bahas dalam makalah ini ialah strategi pembelajaran inkuiri pada pelajaran biologi. Strategi pembelajaran inkuiri ini merupakan strategi pembelajaran yang yang menekankan pada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing untuk siswa. Strategi pembelajaran ini berangkat dari asumsi bahwa manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak lahir kedunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu yang bisa diindra. Demikian sedikit penggambaran strategi pembelajaran tersebut.

Diharapkan pembelajaran yang terjadi dapat lebih bermakna dan memberi kesan yang kuat kepada siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi dalam pembelajaran. 1.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana pengertian strategi pembelajaran inkuiri? b. Bagaimana ciri-ciri dan prinsip-prinsip strategi pembelajaran inkuiri? c. Apa saja langkah-langkah strategi pembelajaran inkuiri? d. Sebutkan kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran biologi?

1.3 Tujuan a. Mengetahui pengertian strategi pembelajaran inkuiri b. Memahami ciri-ciri dan prinsip-prinsip strategi pembelajaran inkuiri c. Menjelaskan langkah-langkah strategi pembelajaran biologi d. Menyebutkan kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran biologi

BAB 11 PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Model inkuiri didefinisikan oleh Piaget (Sund dan Trowbridge, 1973) sebagai: Pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain. Hamalik (2001:63) mengemukakan bahwa pembelajaran berdasarkan inkuiri (inkuiri based teaching) adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di mana kelompok-kelompok siswa dibawa ke dalam suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digariskan secara jelas. Strategi pembelajaran Inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar. Strategi pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan.

Kuslan Stone (Dahar,1991) mendefinisikan model inkuiri sebagai pengajaran di mana guru dan anak mempelajari peristiwa-peristiwa dan gejalagejala ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuwan. Wilson (Trowbridge, 1990) menyatakan bahwa model inkuiri adalah sebuah model proses pengajaran yang berdasarkan atas teori belajar dan perilaku. Inkuiri merupakan suatu cara mengajar murid-murid bagaimana belajar dengan menggunakan keterampilan, proses, sikap, dan pengetahuan berpikir rasional (Bruce & Bruce, 1992). Senada dengan pendapat Bruce & Bruce , Cleaf (1991) menyatakan bahwa inkuiri adalah salah satu strategi yang digunakan dalam kelas yang berorientasi proses. Inkuiri merupakan sebuah strategi pengajaran yang berpusat pada siswa, yang mendorong siswa untuk menyelidiki masalah dan menemukan informasi. Proses tersebut sama dengan prosedur yang digunakan oleh ilmuwan sosial yang menyelidiki masalahmasalah dan menemukan informasi. Sementara itu, Trowbridge (1990) menjelaskan model inkuiri sebagai proses mendefinisikan dan menyelidiki masalah-masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, menemukan data, dan menggambarkan kesimpulan masalah-masalah tersebut. Lebih lanjut, Trowbridge mengatakan bahwa esensi dari pengajaran inkuiri adalah menata lingkungan/suasana belajar yang berfokus pada siswa dengan memberikan bimbingan secukupnya dalam menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmiah. Senada dengan pendapat Trowbridge, Amien (1987) dan Roestiyah (1998) mengatakan bahwa inkuiri adalah suatu perluasan proses discovery yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses discovery, inkuiri mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, menumbuhkan sikap objektif, jujur, rasa ingin tahu, terbuka dan sebagainya.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa inkuiri merupakan suatu proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Jadi, dalam model inkuiri ini siswa terlibat secara mental maupun fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru. Dengan demikian, siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuwan sains, yaitu teliti, tekun/ulet, objektif/jujur, kreatif, dan menghormati pendapat orang lain. 2.2 Ciri-ciri Strategi pembelajaran inkuiri memiliki beberapa ciri-ciri yang bisa dipahami, diantaranya: 1) Strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. 2) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Karena itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. 3) Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.

Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal. Sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran. Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran. 2.3 Prinsip-prinsip Dalam pelaksanaanya, strategi pembelajaran inkuiri harus berpegang pada prinsip-prinsip yang telah ditentukan sehingga pembelajaran akan berjalan lancar dan sesuai tujuan. Adapun prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri: a) Berorientasi pada Pengembangan Intelektual Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. b) Prinsip Interaksi Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik inter-aksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. c) Prinsip Bertanya Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi ini adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses

berpikir.Karena itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. d) Prinsip Belajar untuk Berpikir Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. e) Prinsip Keterbukaan Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya. 2.4 Langkah-langkah Sesuai dengan pokok bahasan yang telah diuraikan di atas, maka langkah-langkah yang ditempuh dalam pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri adalah: a. Orientasi Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Guru merangsang dan Mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan startegi ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar. b. Merumuskan Masalah Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu.

Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. c. Merumuskan Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangatdipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasanakan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis. d. Mengumpulkan Data Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran in-kuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting da-lam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Karena itu, tu-gas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaanperta-nyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah manakala siswa tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidak gairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus-menerus memberikan dorongan kepada siswa

untuk belajar melalui penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk berpikir. e. Menguji Hipotesis Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Dalam menguji hipotesis yang terpenting adalah mencar itingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggung jawabkan. f. Merumuskan Kesimpulan Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gongnya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus pada masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan. 2.5 Keunggulan dan kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan, karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya: 1. Strategi ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna. 2. Strategi ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.

10

3.

Strategi

ini

merupakan

strategi

yang

dianggap

sesuai

dengan

perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. 4. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar. Di samping memiliki keunggulan, strategi ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya: 1. 2. 3. Jika strategi ini digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan. 4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka startegi ini akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru. 2.6 Implementasi Inkuiri dalam Pembelajaran Biologi Sekolah sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan seharusnya mampu berperan dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas melalui proses edukasi ( proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan mendidik dan mengajar ), proses sosialisasi ( proses bermasyarakat khususnya bagi anak didik ), proses transformasi ( proses perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik ). Dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah, hal yang terpokok adalah kegiatan pembelajaran. Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan pendidikan yang berkualitas pula. Agar dapat terwujud pendidikan yang berkualitas haruslah dimulai dengan proses pembelajaran yang berkualitas.

11

Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari proses belajar siswa. Belajar merupakan hal yang kompleks, dimana kompleksitas belajar dapat dipandang dari 2 subyek, yaitu dari siswa dan dari guru. Siswa sebagai pembelajar yang mengalami proses belajar sedangkan guru adalah subyek pembelajar siswa. Proses pembelajaran selalu melibatkan interaksi antara guru dengan siswa yang disebut interaksi edukatif. Proses interaksi edukatif menyebabkan guru dengan sadar mengarahkan tingkah laku, sikap dan perubahan anak didik menjadi lebih baik, dewasa, dan bersusila. Kondisi proses pembelajaran yang efektif atau berkualitas dapat tercipta bila siswa terlibat secara aktif, siswa memiliki motivasi belajar tinggi, siswa mempunyai minat dan perhatian dalam belajar, guru memperhatikan perbedaan individual siswa (prinsip individualitas), peragaan dalam pengajaran. Dalam proses pembelajaran yang efektif atau berkualitas siswa mempunyai hak dan kebebasan untuk bersuara, berpendapat dan berargumen di dalam kelas yang berkaitan dengan materi pelajaran di kelas. Saat berlangsungnya proses pembelajaran sebenarnya yang efektif bukanlah gurunya saja, yang mana seakanakan siswa hanya dianggap sebagai suatu benda yang pasif, yang hanya mendengarkan dan mematuhi apa yang disampaikan oleh guru, tetapi seharusnya dalam proses pembelajaran, guru dapat menciptakan kondisi yang dapat memunculkan motivasi dan minat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran, sehingga antara siswa dan guru sama-sama aktif, dalam transfer ilmu pengetahuan baik dari guru ke siswa atau sebaliknya dari siswa ke guru dan dapat juga transfer ilmu antar siswa satu ke siswa yang lainnya. Sebagian besar guru-guru menggunakan metode pengajaran ceramah, tanya jawab, atau pemberian tugas dalam proses pembelajaran. Walaupun metode tersebut masih relevan dengan perkembangan pendidikan sekarang ini, tetapi kurang mampu mendorong siswa berperan secara aktif. Oleh karena itu, maka perlu adanya perbaikan dalam proses pembelajaran khususnya proses pembelajaran Biologi. Perbaikan tersebut dalam hal penggunaan metode

12

pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan peserta didik, dan dapat membuat siswa berperan aktif serta kreatif. Agar tercipta proses pembelajaran yang lebih baik dibutuhkan seorang guru yang profesional. Guru yang profesional adalah memiliki sekumpulan bidang ilmu sebagai landasan dari sejumlah tehnik dan prosedur yang unik. Sebagai contoh seorang guru harus mempelajari psikologi, metode pembelajaran, dan lain-lain (Sardiman, 2000:132). Salah satu ciri dari seorang guru yang profesional dalam meningkatkan pendidikan di sekolah, maka seorang guru harus memahami dan mampu menggunakan bermacam-macam metode pembelajaran. Penggunaan bermacam-macam metode pembelajaran, dapat meningkatkan kualitas berpikir para siswa (Sardiman, 2000 : 133). Metode pembelajaran yang mampu menggiatkan siswa untuk berpikir secara aktif dan kreatif di dalam proses pembelajaran adalah metode pembelajaran inkuiri. Metode pembelajaran inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan pengembangan keterampilan. Di dalam metode pembelajaran inkuiri ini, siswa dihadapkan pada sebuah masalah yang tidak sengaja dibuat oleh guru atau hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuantemuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian (Gulo, 2002:84). Dalam perkembangannya, metode pembelajaran inkuiri mendapat dukungan dari para ahli, di antaranya; Suchman (1966) dalam jurnal Lembaran Ilmu Pendidikan (Tim Dosen, 2000 : 129), dari Illinois Amerika Serikat dalam bukunya Developing Inquiry menegaskan bahwa metode pembelajaran inkuiri dapat diterapkan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, lalu metode pembelajaran ini dikembangkan oleh Jones (1979), dalam bukunya Strategies for Teaching yang menerapkan metode pembelajaran inkuiri ini dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial; dan digunakan dalam proses pembelajaran, baik dalam mata pelajaran science maupun dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial, dan mata pelajaran yang lain.

13

Hasil pengamatan langsung yang dilakukan oleh Soewarso (Tim Dosen, 2000:128) di Weber Elementary School atau Sekolah Dasar, Lowa Amerika Serikat pada bulan Juli 1997 dalam jurnal Lembaran Ilmu Pendidikan, menyatakan bahwa metode pembelajaran inkuiri ini sekarang sedang populer di gunakan di Amerika Serikat dan Inggris, yang ternyata metode pembelajaran ini mampu membangkitkan siswa untuk berperan secara aktif dalam proses pembelajaran, berpikir secara kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang diberikan oleh gurunya (Tim Dosen, 2000:128). Dengan metode pembelajaran inkuiri akan melatih siswa berani mengemukakan pendapat dan menemukan sendiri pengetahuannya yang berguna untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Penggunaan metode pembelajaran inkuiri secara efisien dan efektif akan mengurangi monopoli guru dalam penguasaan jalannya proses pembelajaran, dan kebosanan siswa dalam menerima pelajaran akan berkurang (Soewarso, 2000 : 127). Metode pembelajaran inkuiri di samping mengantarkan siswa pada tujuan instruksional tingkat tinggi, tetapi dapat juga memberi tujuan iringan ( nutrunant effect) sebagai berikut: (1) Memperoleh keterampilan untuk memproses secara ilmiah (mengamati, mengumpulkan dan mengorganisasikan data, mengidentifikasikan variabel, merumuskan, dan menguji hipotesis, serta mengambil kesimpulan). (2) Lebih berkembangnya daya kreativitas anak. (3) Belajar secara mandiri. (4) Lebih memahami hal-hal yang mendua. (5) Perolehan sikap ilmiah terhadap ilmu pengetahuan yang menerimanya secara tentatif (Gulo, 2002:101). Metode pembelajaran inkuiri di samping mengantarkan siswa pada tujuan instruksional tingkat tinggi, tetapi dapat juga memberikan tujuan iringan yang menitik beratkan pada perkembangan kepribadian dan intelegensi siswa.

14

2.7 Peranan Metode Pembelajaran Inkuiri Di dalam perkembangannya, ternyata metode pembelajaran inkuiri mempunyai peranan yang penting terhadap pendidikan di sekolah. Pelaksanaan penggunaan metode pembelajaran inkuiri mempunyai peranan penting baik bagi guru maupun para siswa. Peranannya antara lain sebagai berikut: (1) Menekankan kepada proses perolehan informasi oleh siswa. (2) Membuat konsep diri siswa bertambah dengan penemuan-penemuan yang diperolehnya. (3) Memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan memperluas penguasaan keterampilan dalam proses memperoleh kognitif para siswa. (4) Penemuan-penemuan yang diperoleh siswa dapat menjadi kepemilikannya dan sangat sulit melupakannya. (5) Tidak menjadikannya guru sebagai satu-satunya sumber belajar, karena siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar (Sumantri, 1999:166). Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang berinkuiri, peranan guru sangat diperlukan. Peranan guru tersebut antara lain, sebagai motivator, fasilitator, penanya, administrasi, pengarah, manajer, dan rewarder. Peranan-peranan tersebut diharapkan dimiliki oleh setiap guru supaya metode pembelajaran inkuiri dalam proses pembelajaran di sekolah dapat tercipta. Supaya guru dapat melakukan peranannya secara efektif maka pengenalan kemampuan siswa sangat diperlukan, terutama cara berpikirnya, cara mereka menanggapi, dan sebagainya. Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, dan teman yang kritis. Peranan ini sangat sulit dan sensitif, karena esensi inkuiri adalah aktivitas siswa. 2.8 Proses Pembelajaran Biologi dengan Metode Pengajaran Inkuiri Proses disini dimaksudkan sebagai kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui modul. Beberapa trend pendekatan dalam proses pembelajaran Biologi telah banyak diterapkan, seperti CBSA, keterampilan proses, konstruktivis dan STS (science Technology and Society). Berbagai pendekatan tersebut juga telah

15

dijabarkan dalam model pembelajaran yang penerapannya diharapkan mampu mengaktifkan siswa, sehingga proses belajar siswa dapat berjalan secara optimal. Keempat pilar pendidikan, yaitu: learning to do; learning to know; learning to be; learning to live together (paradigma pendidikan), dapat dijabarkan dalam proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan bagi siswa di sekolah sehingga akan terwujud proses pembelajaran yang lebih meaningful. Salah satu alternatif model proses pembelajaran yang banyak dikembangkan saat ini adalah proses pembelajaran dengan prinsip siswa berusaha menemukan sendiri. Proses pembelajaran seperti ini menyiratkan suatu kondisi proses pembelajaran yang berpusat pada siswa. Paradigma pembelajaran yang berpusat pada siswa ini menuntut guru untuk dapat menciptakan suasana belajar bagi siswanya. Peran guru tidak hanya memberikan informasi berupa penegasan-penegasan konsep Biologi, namun lebih dari itu, guru harus bersedia meluangkan waktu untuk mempersiapkan proses pembelajaran dengan cermat serta pada saat kegiatan belajar berlangsung guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dirancang untuk mencapai kompetensi tersebut. 1. Tahap pertama, sering disebut dengan kegiatan awal pembelajaran, yaitu memberikan motivasi kepada siswa dengan cara menggali pengetahuan awal siswa tentang topik yang sedang dibahas. Secara konkrit, cara ini dapat berupa demontrasi yang dilakukan guru atau dengan melibatkan siswa untuk menunjukkan fenomena alam. 2. Tahap kedua, sering disebut dengan kegiatan inti pembelajaran, yaitu siswa diberi kesempatan untuk melakukan eksplorasi sederhana. Eksplorasi dalam proses pembelajaran Biologi pada jenjang SMP lebih diartikan sebagai kegiatan yang memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan mengamati, menyelediki fenomena (sesuai rancangan guru), menyusun laporan pengamatan, serta

16

mengkomunikasikan hasil pengamatannya dalam rangka menjawab pertanyaan yang muncul pada tahap pertama, sebagai konsep yang siswa temukan. 3. Tahap ketiga, masih dalam kegiatan inti pembelajaran, yaitu penegasan konsep yang dilakukan oleh guru. Penegasan atau penguatan guru memegang peranan penting untuk meyakinkan siswa terhadap hasil pengamatannya. 4. Tahap keempat, sering disebut dengan penutup proses pembelajaran, yaitu pengembangan. Pengembangan dapat berupa aplikasi konsep yang dikaitkan dengan alternatif pemecahan masalah kehidupan sehari-hari, evaluasi sebagai balikan atau dapat juga pemberian tugas. Skema pembelajaran bukanlah satu-satunya skema yang baik untuk pembelajaran Biologi. Namun, konsep-konsep tertentu akan lebih meaningful bagi siswa jika disajikan dengan menerapkan skema tersebut. Selanjutnya, penerapan skema pembelajaran Biologi di atas membawa implikasi bahwa: 1. Guru Biologi harus memiliki komitmen tinggi untuk selalu berusaha menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa mempelajari sesuatu; 2. Guru Biologi selalu berupaya meningkatkan kreativitasnya dalam memanfaatkan berbagai sumber belajar bagi siswanya; 3. MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) lebih difungsikan sebagai forum berbagi ide dan pengalaman (Saptono, 2002:4). Dalam proses pembelajaran berbasis KBK, keberhasilan proses

pembelajaran dapat dilihat apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri siswa seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) (Mulyasa, 2002:102). Untuk mencapai keberhasilan tersebut, dalam proses pembelajaran berbasis KBK diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran tersebut. Metode pembelajaran banyak sekali, namun demikian tidak semua metode pembelajaran dapat menunjang keberhasilan suatu proses pembelajaran. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk

17

menunjang keberhasilan proses pembelajaran adalah metode inkuiri, karena metode pembelajaran inkuiri merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran KBK, dan metode pembelajaran inkuiri pun tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan pengembangan keterampilan. Pada hakikatnya, metode pembelajaran inkuiri ini merupakan suatu proses. Proses ini bermula dari merumuskan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan bukti, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan sementara, menguji kesimpulan sementara supaya sampai pada kesimpulan yang pada taraf tertentu diyakini oleh siswa yang bersangkutan. Dalam mata pelajaran Biologi dengan topik Tumbuhan Berbiji (Spermatophyta), ini mempunyai standar kompetensi, yaitu: 1. Mengenali perkembangan dan hakikat sains serta melakukan kerja ilmiah dalam bidang ilmiah 2. Mengaplikasikan konsep keanekaragaman makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri kehidupan. Untuk memperoleh kejelasan tentang materi di atas, berikut adalah bagan proses pembelajaran Biologi dengan metode pembelajaran inkuiri berbasis KBK yang penulis angkat dalam penulisan skripsi ini sebagai alternatif lain dalam pelaksanaan proses pembelajaran Biologi selain metode-metode pembelajaran yang telah ada. Dengan dilaksanakannya metode pembelajaran inkuiri dalam proses pembelajaran Biologi ini, penulis berharap siswa dapat berperan secara aktif dan kreatif di dalam proses pembelajaran khususnya mata pelajaran Biologi.

18

Proses Pembelajaran Biologi dengan Metode Inkuiri Berbasis KBK Tahap Kegiatan Materi Kegiatan Tahap kegiatan Pendahuluan Merumuskan masalah Materi Kegiatan Tumbuhan berbiji Artikulasi masalah 1.Tumbuhan berkeping Merumuskan Masalah: dua (monokotil) satu (dikotil). Tumbuhan berkeping 2.Tumbuhan berkeping dua (monokotil) Merumusakan Masalah: Perumusan hipotesis 1. Hipotesis (1) Tumbuhan berkeping Menguji Hipotesis (2) dua (monokotil) 2. Hipotesis (2) Tumbuhan Menarik Kesimpulan Sementara Penarikan Kesimpulan berkeping Kesimpulan Kesimpulan Tumbuhan berkeping satu (dikotil) Menguji Hipotesis (1)

satu (monokotil) 1.Tumbuhan berkeping Menarik dua (monokotil) satu (dikotil) 1. Kesimpulan (1) Tumbuhan berkeping dua (monokotil) 2. Kesimpulan (2) Tumbuhan satu (dikotil) berkeping (1) 2.Tumbuhan berkeping Menarik

(2) Membuat Generalisasi

Dalam proses pembelajaran diberikan suatu pengalaman belajar yaitu melakukan penyelidikan atau penelitian terhadap tumbuhan berkeping dua (dikotil) dan mengkomunikasikan hasil penyelidikan atau penelitian tersebut. Dengan kegiatan melakukan penelitian ada tiga komponen yang harus dimiliki peserta didik yaitu komponen kognitif, psikomotor (proses), dan afektif.

19

Komponen kognitif yang harus dikuasai setelah melalui proses pembelajaran dengan metode inkuiri meliputi: 1) dapat menjelaskan pengertian tumbuhan berkeping dua (dikotil). 2) dapat menyebutkan ciri-ciri tumbuhan berkeping dua (dikotil), dan 3) dapat mengelompokkan tumbuhan berkeping dua (dikotil). Komponen psikomotor atau proses yang harus dijalankan peserta didik yaitu: 1) membawa bahan yang dibutuhkan (contoh tumbuhan berkeping dua), 2) melakukan penyelidikan pada tumbuhan berkeping dua (dikotil), dan 3) mencatat hasil penyelidikan. Komponen afektif yang harus dimiliki antara lain: 1) peserta didik dapat bekerjasama melakukan penyelidikan dalam kelompok, dan 2) peserta didik dapat mengkomunikasikan hasil penyelidikannya dengan baik. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan dengan metode inkuiri ini lebih mengedepankan keaktifan peserta didik dan guru tidak menjadi satu-satunya sumber belajar, namun ruang kelas, bahan praktikum, proses praktikum, hasil praktikum dan buku penunjang menjadi sumber dalam proses belajar. Pada kegiatan pendahuluan guru memberikan stimulus dengan

memberikan pertanyaan yang menarik dan mengandung masalah untuk dipecahkan oleh peserta didik . Dalam tahap ini Guru berperan sebagai fasilitator, motivator, penanya sedangkan peserta didik mulai bekerja sesuai dengan perintah Guru. Pada tahap selanjutnya peserta didik mulai merumuskan masalah yang sudah diberikan oleh Guru. Setelah peserta didik selesai merumuskan masalah, dilanjutkan dengan kegiatan merumuskan hipotesis. Selesai dengan kegiatan merumuskan hipotesis, kemudian peserta didik menarik kesimpulan sementara. Setelah peserta didik melewati lima tahap dalam proses pembelajaran di atas, dilanjutkan dengan membuat laporan baik secara individu maupun kelompok untuk diadakan evaluasi hasil yang telah dicapai bersama dengan guru.

20

Dalam pembelajaran dengan metode inkuiri, guru menerapkan proses diskusi. Dalam pembelajaran ini peserta didik lebih aktif mengamati, meneliti, menduga dan mengambil kesimpulan berdasarkan hasil pengamatannya. Lingkungan sebagai tempat pengamatan merupakan media yang dapat membantu daya abstraksi peserta didik. Materi yang relatif abstrak dikonkritkan dengan bantuan proses pengamatan langsung di lingkungan belajar. Proses pengamatan tersebut juga menumbuhkan minat dan motivasi siswa, karena pembelajaran bervariasi dan tidak bersifat monoton, yang akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

BAB III PENUTUP

21

3.1 Kesimpulan Berdasarkan untuk memecahkan definisi-definisi masalah, para pakar pendidikan, dapat disimpulkan bahwa inkuiri merupakan suatu proses yang ditempuh siswa merencanakan eksperimen, melakukan

eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Jadi, dalam model inkuiri ini siswa terlibat secara mental maupun fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru. Dengan demikian, siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuwan sains, yaitu teliti, tekun/ulet, objektif/jujur, kreatif, dan menghormati pendapat orang lain. Strategi pembelajaran inkuiri memiliki beberapa ciri-ciri yang bisa dipahami, diantaranya: Strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).. Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah

mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Adapun prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri: 1) Berorientasi pada Pengembangan Intelektual 2) Prinsip Interaksi 3) Prinsip Bertanya 4) Prinsip Belajar untuk Berpikir 5) Prinsip Keterbukaan Sesuai dengan pokok bahasan yang telah diuraikan di atas, maka langkah-langkah yang ditempuh dalam pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri adalah: Orientasi Merumuskan Masalah 22

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Merumuskan Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Mengumpulkan Data Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Menguji Hipotesis Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Merumuskan Kesimpulan Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gongnya dalam proses pembelajaran. Keunggulan Strategi Pembelajaran Inkuiri, di antaranya: Startegi ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna. Startegi ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Startegi ini merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

23

Di samping memiliki keunggulan, strategi ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya: Jika strategi ini digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan. Selama kriteria keberhasiJan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka strategi ini akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru. 3.2 Saran 1. Sebaiknya dalam menggunakan model pembelajaran inkuiri ini, pengajar memperhatikan waktu yang dibutuhkan oleh siswa dalam menguasa idasardasar ilmiah dari materi yang dipelajari. Hal ini dilakukan dengan memadukan model pembelajaran ini dengan model pembelajaran koperatif. 2. Pengaja rmembuat suasana kondusif yang memungkinkan siswa bias nyaman untuk berfikir dan menemukan inspirasi dalam mempelajari suatu materi. 3. Pengajar dalam menyampaikan suatu masalah dimulai dengan menyajikan permasalahan yang ringan untuk kemudian ditambah porsinya seiring dengan perkembangan prestasi yang ditunjukkan oleh peserta didik. 4. Bagi guru agar dapat menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran. Biologi dan disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Dalam penggunaan metode tersebut 24 dapat memanfaatkan lingkungan,

laboratorium maupun penugasan di lingkungan tempat tinggal peserta didik.

25

Daftar Pustaka Dahar, R.W. (1991). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Depdikbud. (1993). Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Depdikbud. Gulo, W. 2002. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Balai Pustaka. Hamalik, O. (1991). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Sinar Baru. Joyce, B. & M. Weil. (1980). Models of Teaching. Boston-London: Allyn and Bacon. Lyons, J. (1995). Introduction to Theoretical Linguistics. New York: Melbourne. Mulyono, I. (1999). Struktur Pasif Pesona Bahan Ajar Keterampilan Berbicara bagi Pembelajar Penutur Asing Level Lanjut (Advanced) dalam Makalah KIPBIPA IV. Bandung: IKIP Bandung. Nurgiyantoro, B. (1995). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE. 26

Parera, J.D. (1997). Linguistik Edukasional: Metodologi Pembelajaran Bahasa, Analisis Kontrastif, Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Erlangga. Ramlan, M. (1996). Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono. Roestiyah, N.K. (1998). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Rusyana, Y. & Samsuri. (1976). Pedoman Penulisan Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sakri, A. (1995). Bangun Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung: ITB. Sardiman, A.M. 2000. Interaksi Dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sumantri, Mulyani dan Permana, Johan. 1999. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti. Sund & Trowbridge. (1973). Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. Columbus: Charles E. Merill Publishing Company. Suparman, H. et.al. (1990). Relevansi Buku Teks Bahasa Indonesia dengan Buku Teks Bidang Studi Lain Kelas III SD Laboratorium Unud Singaraja . Laporan Penelitian Universitas Udayana. Syamsuddin, A.R. (1999). Studi Wacana: Kajian Linguistik Komprehensif. Bandung: IKIP Bandung. Tim Dosen. 2000. Lembaran Ilmu Pendidikan. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Trowbridge, L.W. & R.W. Bybee. (1990). Becoming a Secondary School Science Teacher. Melbourne: Merill Publishing Company.

27

28