Anda di halaman 1dari 10

PEDIKULOSIS

Pendahuluan Pedikulosis ialah infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh Pediculus (tergolong famili Pediculidae). Selain menyerang manusia, penyakit ini juga menyerang binatang, oleh karena itu dibedakan Pediculus humanus dengan Pediculus animalis. Pediculus ini merupakan parasit obligat artinya harus menghisap darah manusia untuk dapat mempertahankan hidup. Kutu kepala merupakan serangga tak bersayap, tinggal di kulit kepala, dan menghisap darah. Panjang kutu kepala dewasa adalah 2-4 mm. Penderita memperoleh kutu kepala akibat kontak kepala dengan kepala lainnya yang sudah terinfeksi. Masih ada kepercayaan umum bahwa kutu kepala ada kaitannya dengan kebersihan yang buruk, hal ini mungkin didukung oleh hasil survei pada awal abad kedua puluh yang menunjukkan bahwa infeksi kutu kepala terutama menjadi masalah masyarakat kelas bawah pada daerah industri besar. Namun demikian, pada tahun-tahun terakhir ini, kutu kepala terjadi pula pada orang-orang dari jenjang sosial lebih tinggi, berkembang di daerah perkotaan, dan saat ini sudah menyebar luas ke semua kelas sosioekonomi. Kutu betina dewasa meletakkan telur-telur yang dilekatkannya pada batang-batang rambut. Telur-telur ini berwarna seperti lemak dan sukar dilihat, tetapi begitu menetas (sesudah kurang lebih 10 hari), maka telur-telur yang sudah kosong akan lebih mudah terlihat.

Klasifikasi 1. Pediculus humanus var. capitis yang menyebabkan pedikulosis kapitis. 2. Pediculus humanus var. corporis yang menyebabkan pedikulosis korporis. 3. Phthirus pubis (nama dahulu: Pediculus pubis) yang menyebabkan pedikulosis pubis.

PEDIKULOSIS KAPITIS

Definisi Adalah infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan Pediculus humanus var. capitis.

Epidemiologi Penyakit ini terutama menyerang anak-anak usia muda dan cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat, misalnya di asrama dan panti asuhan. Tambahan pula dalam kondisi higiene yang tidak baik, misalnya jarang membersihkan rambut atau rambut yang relatif susah dibersihkan (rambut yang sangat panjang pada wanita). Cara penularannnya biasanya melalui perantara (benda), misalnya sisir, bantal, kasur, dan topi.

Etiologi Kutu ini mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki, berwarna abu-abu dan menjadi kemerahan jika telah menghisap darah. Terdapat 2 jenis kelamin ialah jantan dan betina, yang betina dengan ukuran panjang 1,2 3,2 mm dan lebar lebih kurang panjangnya, jantan lebih kecil dan jumlahnya hanya sedikit. Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa, dan dewasa. Telur (nits) diletakkan di sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut, yang berarti makin ke ujung terdapat telur yang lebih matang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit: Bangsa/ras Kebersihan : Semua bangsa : Anak-anak yang belum mengerti tentang kebersihan dan

higiene rambut kepala lebih sering terkena penyakit ini.

Patogenesis Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Gatal tersebut timbul karena pengaruh liur dan ekskreta dari kutu yang dimasukkan ke dalam kulit waktu menghisap darah.

Gejala klinis Gejala mula yang dominan hanya rasa gatal, terutama pada daerah oksiput dan temporal serta dapat meluas ke seluruh kepala. Kemudian karena garukan, terjadi erosi, ekskoriasi, dan infeksi sekunder (pus, krusta). Bila infeksi sekunder berat, rambut akan bergumpal disebabkan oleh banyak pus dan krusta (plikapelonika) dan disertai pembesaran kelenjar getah bening regional (oksiput dan retroaurikular). Pada keadaan tersebut kepala memberikan bau yang busuk. Gejala tersering adalah rasa gatal akibat gigitan tuma. Akibat garukan dapat terjadi infeksi sekunder sehingga timbul folikulitis, furunkulosis, dan rambut melekat satu sama lain. Kelenjar getah bening leher dapat pula membesar. Rasa gatal merupakan gejala utama. Telur-telur cenderung lebih banyak ditemukan pada daerah oksipital kulit kepala dan di atas telinga. Kadang-kadang serpihan ketombe atau lapisan keratin yang melekat pada batang rambut bisa dikelirukan dengan telur-telur tersebut, sedangkan untuk membedakannya dengan jelas adalah dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis. Pada infeksi berat, kutu dewasa dan kutu kecil dapat ditemukan dengan mudah. Impetigo dapat terjadi akibat inokulasi stafilokokus ke dalam kulit sewaktu menggaruk. Istilah dungu (nitwit) berasal dari penampilan anak-anak berkutu yang kelihatan bodoh, dengan sepsis kulit sekunder dan mungkin juga menderita anemia, dan akibatnya selalu dalam keadaan yang tidak sehat.

Pemeriksaan kulit Lokalisasi : bagian belakang kepala (regio oksipitalis)

dan di atas telinga (regio parietalis). Efloresensi/sifat-sifatnya : tampak krusta yang melekat pada rambut,

dan beberapa rambut bergabung menjadi satu. Ditemukan tuma kepala dan telur-telur yang melekat pada rambut.

Pembantu diagnosis Cara yang paling diagnostik adalah menemukan kutu atau telur, terutama dicari di daerah oksiput dan temporal. Telur berwarna abu-abu dan berkilat.

Diagnosis banding Diagnosis tidak sulit, namun perlu didiagnosis banding dengan: 1. Tinea kapitis 2. Pioderma (impetigo krustosa) 3. Dermatitis seboroika

Pengobatan Pengobatan bertujuan memusnahkan semua kutu dan telur serta mengobati infeksi sekunder. Menurut kepustakaan pengobatan yang dianggap terbaik ialah secara topikal dengan malathion 0,5% atau 1% dalam bentuk losio atau spray. Caranya: malam sebelum tidur rambut dicuci dengan sabun kemudian dipakai losio malathion, lalu kepala ditutup dengan kain. Keesokan harinya rambut dicuci lagi dengan sabun lalu disisir dengan sisir yang halus dan rapat (serit). Pengobatan ini dapat diulang lagi seminggu kemudian, jika masih terdapat kutu atau telur. Obat tersebut sukar didapat. Di Indonesia obat yang mudah didapat dan cukup efektif ialah krim gama benzen heksaklorida (gameksan = gammexane) 1%. Cara pemakaiannya: setelah dioleskan lalu didiamkan 12 jam, kemudian dicuci dan disisir dengan serit agar semua kutu dan telur terlepas. Jika masih terdapat telur, seminggu kemudian

diulangi dengan cara yang sama. Obat lain ialah emulsi benzil benzoat 25%, dipakai dengan cara yang sama. Pada keadaan infeksi sekunder yang berat sebaiknya rambut dicukur, infeksi sekunder diobati dulu dengan antibiotika sistemik dan topikal, lalu disusul dengan obat di atas dalam bentuk sampo. Higiene merupakan syarat supaya tidak terjadi residif. Metode pengobatan akhir-akhir ini telah berubah, dan sekarang bisa diterapkan strategi yang mencakup metode fisik maupun kimiawi. Pengendalian secara kimiawi, yaitu penggunaan insektisida, telah secara luas dipakai di seluruh dunia. Insektisida mudah dan nyaman digunakan serta hasilnya sangat efektif. Akan tetapi, telah disadari adanya efek samping yang potensial, terutama pada insektisida yang meninggalkan residu seperti lindan (yang sudah tidak banyak lagi digunakan di beberapa belahan dunia termasuk di Inggris), tidak hanya pada manusia tetapi juga pada lingkungan sekitarnya. Selain itu, banyak ditemukan terjadinya resistensi kutu kepala terhadap malation dan insektisida piretroid.

Pedikulisida Malation Karbaril Piretroid sintetik: o Permetrin o Fenotrin

Obat-obat yang berbahan dasar air lebih disukai daripada larutan alkohol karena hanya sedikit menyebabkan iritasi pada kulit yang mengalami ekskoriasi, tidak mengiritasi bronkus pada pasien asma, dan tidak mudah terbakar. Karena tidak satu pun dari insektisida-insektisida ini yang bisa membasmi habis semua telur, maka pengobatan harus diulangi sesudah 7-10 hari untuk membunuh setiap kutu kecil yang muncul dari telur yang selamat. Metode pengobatan fisik yang sederhana antara lain adalah mencuci rambut dengan sampo yang kemudian diikuti dengan penggunaan kondisioner

dalam jumlah yang banyak. Rambut kemudian disisir dengan menggunakan sisir yang giginya kecil-kecil dan rapat, sehingga semua kutu dapat terangkat. Tindakan ini diulangi setiap 4 hari selama 2 minggu.

Penatalaksanaan pedikulosis dibagi menjadi: Umum : Menjaga kebersihan kepala, rambut harus sering dicuci dan dirawat dengan baik. Khusus: Gama benzen heksaklorida 1% dalam bentuk sampo; dapat diulang beberapa kali. Jika ada infeksi sekunder diberi antibiotik, misalnya penisilin dan eritromisin.

Prognosis Prognosis baik bila higiene diperhatikan.

REFLEKSI KASUS SMF PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSUD dr. Soebandi Jember

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Umur : An. A : 7 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Agama Status Pekerjaan Suku Bangsa Alamat II. : Islam : Belum Menikah : Siswi SD : Jawa : Sukorambi Jember

AUTOANAMNESA 1. Keluhan Utama Gatal pada kepala 2. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengaku kepalanya gatal sejak 3 bulan yang lalu. Gatal timbul mendadak, mula-mula sedikit lalu lama kelamaan bertambah gatal. Terkadang nenek pasien menemukan telur serta kutu yang berjalan di rambut pasien. 3. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Saat berusia 5 tahun. 4. Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga pasien yakni nenek pasien menderita penyakit seperti ini. 5. Riwayat Pengobatan Pasien dulu menggunakan obat Peditox 1x, setelah memakai gatal berkurang tapi tidak lama hanya beberapa minggu. 6. Riwayat Alergi Pasien tidak memiliki riwayat alergi.

III. PEMERIKSAAN FISIK 1. Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Kepala/leher Thorak 2. Status Lokalis Lokasi Ditemukan : Regio parietalis, oksipitalis, temporalis : telur kutu di sepanjang rambut : Baik : Compos Mentis : dalam batas normal : dalam batas normal

IV. RESUME Seorang anak perempuan usia 7 tahun datang dengan keluhan utama gatal di kepala. Pasien mengaku kepalanya gatal sejak 3 bulan yang lalu. Gatal timbul mendadak, mula-mula sedikit lalu lama kelamaan bertambah gatal. Terkadang nenek pasien menemukan telur serta kutu yang berjalan di rambut pasien. Pasien pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya saat berusia 5 tahun. Keluarga pasien yakni nenek pasien menderita penyakit seperti ini. Pasien dulu menggunakan obat Peditox 1x, setelah memakai gatal berkurang tapi tidak lama hanya beberapa minggu. Dari hasil pemeriksaan ditemukan telur kutu di sepanjang rambut di regio parietalis, oksipitalis dan temporalis.

V.

DIAGNOSIS BANDING Tinea kapitis Dermatitis seboroika

VI. DIAGNOSIS KERJA Pedikulosis kapitis

VII. PENATALAKSANAAN Umum : Menjaga kebersihan kepala, rambut harus sering dicuci dan dirawat dengan baik. Khusus: Gama benzen heksaklorida 1% dalam bentuk sampo; dapat diulang beberapa kali. Jika ada infeksi sekunder diberi antibiotik, misalnya penisilin dan eritromisin.

VIII. PROGNOSIS Ad bonam

DAFTAR PUSTAKA

1. Browm & Burns. 2005. Lecture Notes Dermatologi. Jakarta: EMS 2. Handoko. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI 3. Siregar. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi 2. Jakarta: EGC.