Anda di halaman 1dari 28

Anggaran Bahan Baku

Manajemen persediaan tradisional Pada umumnya perusahaan menggunakan cara tradisional dalam mengelola persediaannya yaitu denga cara memiliki persediaan minimal untuk mendukung kelancaran proses produksi dan selain itu perusahaan juga memperhitungkan biaya persediaan yang paling ekonomis yang dikenal dengan istilah Economic Order Quantity ( EOQ ). Perusahaan manufaktur memperhitungkan 3 macam persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi, ketiga jenis persediaan ini dihitung tigkat perputarannya yaitu : 1. Perputaran bahan baku Bahan baku yang digunakan dibagi dengan rata-rata persediaan bahan baku 2. Perputaran barang dalam proses Harga pokok produksi dibagi dengan rata-rata persediaan barang dalam proses 3. Perputaran barang jadi Harga pokok penjualan dibagi dengan rata-rata persediaan barang jadi atau penjualan dibagi dengan rata-rata persediaan barang jadi

Dalam perusahaan dagang juga harus dihitung perputaran barang dagangannya yaitu dengan model sebagai berikut : 1. Harga pokok penjualan dibag dengan rata-rata persediaan barang dagangan 2. Penjualan bersih dibagi dengan rata-rata persediaan barang dagangan

Besar kecilnya nilai persediaan bahan baku dipengaruhi oleh : 1. Estimasi dan rencana volume penjualan 2. Estimasi dan perencanaan volume produksi 3. Estimasi dan perncanaan kenutuhan bahan baku yang digunakan dalam proses produksi 4. Biaya order pembelian 5. Biaya penyimpanan 6. Harga bahan baku

Penganggaran (Kelompok 3) | 1

Dalam mengelola bahan baku dibutuhkan 2 usur biaya variabel utama yaitu biaya pesanan dan biaya penyimpangan. Yang termasuk dalam biaya pesanan adalah : 1. Biaya proses pemesana bahan baku 2. Biaya pengiriman pesanan 3. Biaya penerimaan bahan baku yang dipesan 4. Biaya untuk memproses pembayaran bahan baku yang dibeli

Sedangkan yang termasuk dalam biaya penyimpangan adalah : 1. Biaya untuk mengelola bahan baku ( biaya menimbang dan menghitung 2. Biaya sewa gudang 3. Biaya pemeliharaan dan penyelamatan bahan baku 4. Biaya asuransi 5. Biaya Pajak 6. Biaya Modal

Manajemen harus menghitung biaya yang paling ekonomis pada setiap jumlah barang yang dipesan yang biasa disebut denga istilah Economic Order Quantity ( EOQ ) cara menghitungnya adalah sebagai berikut : EOQ = PI Dimana : R =Requirement of raw material, jumlah bahan baku yang dibutuhkan selama 1 periode S = Set up cost, biaya pesanan setiap kai melakukan pesanan P = Price, harga bahan baku per satuan I = Inventory, biaya penyimpana persediaan yang umumnya dinyatakan dalam presentasi dari nilai rata-rata persediaan

Contoh kasus : Jika diketahui PT STE membutuhkan jumlah bahan baku yang dibutuhkan selama 1 periode sebanyak 1.600 unit dan biaya untuk melakukan pesanan yaitu Rp 5 dan harga untuk bahan baku per satuannya adalah Rp 1/ unit dan biaya penyimpanan persediaannya adalah 40%. Diketahui :
Penganggaran (Kelompok 3) | 2

R = 1.600 unit S= Rp 5 P= Rp 1 I= 40 % Maka EOQ nya adalah sebagai berikut : EOQ = PI = 0.40x1 = 0.4 = = 200 unit

Dan jika penggunaan maksimal bahan baku adalah 80 unit per hari dan penggunaan rata-rata Per harinya adalah 60 unit per haridan waktu tenggangnya ( Lead Time ) adalah 4 hari. Maka Persediaan pengamannya dapat dihitung sebagai berikut : Penggunaan Maksimal Penggunaan Rata-rata Selisih Waktu tenggang Persediaan pengaman 80 (60) 20 x4 hari 80 unit

Dengan adanya persediaan pengaman sebanyak 80 unit, maka titik pemesanan kembali ( Reorder Point ) dapat dihitung sebagai berikut : ROP= ( Tingkat penggunaan rata-rata x waktu tenggang ) + Persediaan pengaman ( 60 x 4 ) + 80 unit = 320 unit Jadi pesanan secara otomatis dapat dilakukan ketika tingkat persediaan turun menjadi 320 unit.

Persediaan Model JIT ( Just In Time ) Model JIT artinya ketika kita membutuhkan barang maka barang produksi itu ada, model JIT ini bisa diterapkan jika pemasok benar-benar profesional ( barang bagus kualitasnya dan tepat waktu ) dan menjadi bagian dari perusahaan yang dipasok. Harga dalam JIT system bukan merupakan hal yang pokok karena harga bisa dinegosiasi terlebih dahulu dan yang penting bagi perusahaan adalah kualitas barangnya dan ketepatan waktunya. Perusahaan yang menerapkan JIT system ini dalah perusahaan yang tidak menanggung biaya persediaan, bahan baku akan datang tepat pada waktunya dibutuhkan. dan hubungannya dengan barang jadi dalam JIT system ini diterapkan dimana perusahaan hanya

Penganggaran (Kelompok 3) | 3

memproduksi sesuai dengan pesanan yang ada sehingga ia tidak mempunyai persediaan dan ini akan berdampak pada penghematan biaya persediaan barang jadi.

Prinsip dasar JIT ( Just In Time ) Prinsip dasarnya adalah perusahaan yang menerapkan model sistem seperti ini berarti ia tidak mempunyai saldo persediaan ( Safety Stock ), delngan tidak memiliki safety stock perusahaan dapat menghemat biaya persediaan, JIT hanya bisa dilaksanakan jika sumber daya menusia dan peralatan dirawat dengan baik artinya buruh pabrik harus loyal dan memiliki kesadaran tinggi untuk bekerja selam hidupnya.

Peningkatan Kualitas Dalam melaksanakan JIT system ini dituntut bagi semua pihak yang terlibat dalam suatu perusahaan untuk memilik komitmen tinggi dalam melaksanakan organisasi, komitmen ini harus didasarkan pada motivasi partisipasi aktif, peningkatan kualitas dan pengedalian kegiatan agar seluruh kegiatan perusahaan dapat dilaksanakan secar efektif dan efesien. Dalam menjalankan suatu bisnis, suatu perusahaan pasti pernah mengalami kegagalan dan ini pasti ada penyebabnya dan penyebab ini dapat ditelusuri dari 4 aspek yaitu : 1. Tenaga Manusia Kurangnya latihan, pendidikan, terlalu banyak tenaga kerja yang diperkerjakan, tidak dimotivasi, tidak dibimbing dan tidak diarahkan, tidak dihargai prestasi dan perasaannya. 2. Metode Kerja Tanpa kontrol dari pemasok, bahan, peralatan, output dan pelanggan serta tidak adanya petunjuk pelaksanaan kerja. 3. Mesin atau peralatan Kurangnya perawatan dan dan tertinggalnya tekhnologi yang digunakan. 4. Material atau bahan baku Adanya kesalahan dalam spesifikasi dan penanganan.

Perancangan Bisnis Perancangan ini biasanya dilakukan oleh tim kerja yang terdiri dari beberapa orang yang bertanggung jawab atas kegagalan suatu produk yang telah dirancangnya, maka dari itu para perancang bisnis ini harus mengetahui dan memahami produk yang akan dibuat dan dipasarkan yang terdiri dari :
Penganggaran (Kelompok 3) | 4

1. Spesifikasi pelanggan 2. Spesifikasi penjualan 3. Spesifikasi proses produksi Titik sentral dari perancangan produk ini adalah kepuasan pelanggan sebab penghasilan pelanggan yang dibelanjakan merupakan pendapatan peruasahaan, maka kualitas produk, distribusi, harga, dan pelayanan purna jual mendapatkan prioritas utama dalam merancang suatu produk.

Proses Produksi Proses produksi dilakukan didasarkan pada permintaan pasar, perubahan permintaan akan mengubah kegiatan produksi perusahaan. Jika peermintaan tinggi maka kegiatan produksi perusahaan juga akan tinggi begitupun sebaliknya, oleh sebab itu pengelolaan produksi harus fleksibelbaik dari tenaga kerjanya, peralatannya ataupun modal kerjanya. Jika terjadi kegagalan ( Penyimpangan ) produk maka harus dicari penyebabnya dan penyebabnya ini harus dibongkar dan dihapuskan, kegagalan produk ini merupakan tanggung
2

jawab bersama seluruh tim kerja dan untuk mengetahui penyebab kegagalan ini harus ditelusuri dari prosesnya. Oleh karena itu tim kerja ini harus mengontrol proses dan berusahaa meningkatkan kualitas proses, dengan demikian kegagalan ini dapat diperkecil dan dihilangkan sama sekali. Perbedaan antara sistem JIT dengan sistem persediaan minimum ( Safety Stock ) dapat disajikan sebagai berikut : Sistem JIT Mengutamakan proses produksi melalui pengendalian terpadu Mengutamakan kerja tim Kontrak jangka panjang dengan pemasok dan diperlakukan sebagai mitra bisnis sejati yang loyal Berusaha terus-menerus, menghilangkan penyimpangan Kepuasan pelanggan melalui pelayanan purna jual Kepuasan pelanggan melalui harga dan kualitas produk Toleransi terhadap penyimpangan Sistem Safety Stock Mengutamakan hasil akhir ( Output ) melalui pemeriksaan ( Inspeksi ) Mengutamakan kerja individu Kontrak jangka pendek dengan pemasokdan diperlakukan sebagai pesaing

Penganggaran (Kelompok 3) | 5

Angkatan Kerja ( Buruh atau Karyawan ) Angkatan kerja adalah semua orang yang terlibat dalam kegiatan produksi suatu perusahaan tertentu dan semua orang yang menerima upah atau gaji dari perusahaan dan bisa juga sebagai tenaga penggeral alat produksi mak ia sebagai pencipta output dan sekaligus sebagai pencipta laba perusahaan. Seluruh angkatan kerja harus mempuyai satu visi serta misi yang jelas untuk mengembangkan perusahaan, untuk mewujudkan visi dan misinya ini ketermpilan dan pengetahuan tenag kerja ini harus ditingkatkan dan dikembangkan. Disamping itu angkatan kerja ini juga harus memiliki kesadaran yang tinggi mengenai proses kerja, pemasok dan pelanggan dan mereka juga harus kompak dalam bekerja dan harus bisa menelusuri setiap kegagalan untuk menemukan penyebabnya.

Kelangsungan Hidup Organisasi Organisasi adalah tempat interaksi manusia untuk mencapai tujuan

hidupnya/organisasinya yaitu untuk memperoleh laba sesuai harapan, dalam organisasi manajemen harus mampu menciptakan kesadaran kepada semua angkatan kerja yang terdiri dari : 1. Membantu dan mengembangkan tim lain 2. Kesadaran tinggi terhadap kesatuan sistem organisasi

Keunggulan JIT JIT memiliki keunggulan yang tediri dari : 1. Menghilangkan pemborosan dengan cara memproduksi suatu produk hanya dalam kuantitas yang diminta pelanggan 2. Dampak persediaan, persediaan kecil mungkin nol 3. Tata letak pabrik 4. Pengelompokkan karyawan 5. Pemberdayaan karyawan 6. Pengendalian mutu total

Kerjasama dan laba Semua organisasi bisnis berorientasi pada laba, laba hanya bisa diperoleh jika masyarakat melakukan pembelian produk. Suatu tanda organisasi yang baik adalah yng

Penganggaran (Kelompok 3) | 6

mampu meningkatkan labaa secara terus menerus sepanjang waktu, untuk melaksanakan hal itu ditentukan oleh 7 faktor yaitu :

1. Manusia pelaksana kerja harus diperlakukan harus secara manusiawi 2. Bahan yang disediakan harus sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan 3. Alat kerja harus sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai 4. Metode kerja harus sesuai dengan kondisi karyawan dan alat kerja yang digunakan 5. Model pengukuran kinerja harus jelas 6. Kondisi ekonomi dan politik harus menjadi salah satu dasar pertimbangan 7. Manajemen dan kepemimpinan harus lahir dari bawah ( Karyawan ) sehingga dapat melaksanakan garis karyawan dan sasaran kerja yang bisa dicapai

Tujuan menggunakan model JIT Model JIT bertujuan untuk menghilangka pemborosan dengan cara memproduksi suatu produk hanya dalam kuntitas yang diminta oleh pelanggan, model ini dapat menghemat persediaan, menetapkan letak pabrik yang efektif dan efesien, mengadakan pengendalian mutu total, serta biaya overhead sangat mudah dilacak dan diebankan kepada produk. Sistem JIT hakikatnya adalah pengendalian mutu total dimana pekerjanya bertanggung jawab mulai dari proses awal sampai dengan produk jadi yang berkualitas tanpa cacat, sistem ini berbeda dengan sistem tradisional yang mengizinkan tingkat mutu yang dapat diterima. Berikut disajikan perbedaannya :

Just In Time Persediaan tidak signifikan Jumlah pemasok kecil Kontrak jangka panjang dengan pemasok, pemasok adalah partner yang dibina Tenaga kerja multi ahli Jasa terdesentralisasi Keterlibatan pegawai tinggi, loyalitas tinggi, kerja sepanjang masa Gaya manajemen partsipatif Pengendalian mutu total

Tradisional Persediaan signifikan Jumlah pemasok banyak Kontrak jangka pndek dengan pemasok, pemasok adalah pihak yang dieksloitir Tenaga kerja terspesialisasi Jasa tersentralisasi Keterlibatan pegawai rendah, kerja mencari upah, tidak ada loyalitas, sering pindah kerja Gaya manajemen otoriter Pengendalian mutu terbatas
Penganggaran (Kelompok 3) | 7

Informasi Manajemen Model JIT menyajikan informasi informasi yang cepat dan akurat, cepat karena produk berada dalam kekuasaan, pelaksanaan dan pengawasan tim kerja, para pemimpin di perusahaan ini harus mampu menguasai informasi ekonomi dan politik sebagai bahan untuk membuat strategi, kebijakan n program kerja.

Anggaran Bahan Baku Vs Aktual Anggaran bahan baku harus dibandingkan dengan anggaran aktualnya baik dalam pembelian maupun penggunaannya, hasil perbandingan itu akan menghasilkan berbagai varian antara lain : 1. Varian pembelian bahan baku 2. Varian kuantitas bahan 3. Varian bauran bahan 4. Dan varian hasil bahan

Ilustrasi: PT. SINAR TERANG ELEKTRONIK memiliki data bahan baku sebagai berikut : pabrik memiliki biaya standar untuk satuan per 100 ton produk jadi yaitu bahan baku A 50 ton, B 45 ton, C 35 ton. Harga standar bahan baku per ton A Rp. 35, B Rp. 25, C Rp 20. Pembelian bahan baku A 2.000 ton @ Rp. 40, B 2.500 ton @ Rp. 28, C 2.800 ton @ Rp. 15 Sedangkan bahan baku yang digunakan dalam proses produksi adalah A 1.200 ton, B 2.000 ton, C 2.500 ton. Penyimpangan bahan baku dicatat pada saat pembelian bahan baku. Kenyataan yang terjadi pada saat ini adalah output riil yang dihasilkan adalah sebesar 4.300 ton semenyang siap dijual dipasar. Diminta : Hitunglah Varian Bahan Baku Solusi Varian bahan baku PT.STE Kalkulasi Biaya Standar Material ( Jenis ) A B C Jumlah Kuantitas standar (Unit) 50 45 35 130 Harga Standar (Rp) 35 25 20 Total Biaya (Rp) 1.750 1.125 700 3.575 Biaya/Unit (Rp)

Penganggaran (Kelompok 3) | 8

Biaya per unit total berdasar input 130 unit ( 3.575/ 130 ) Biaya per unit total berdasar output 100 unit ( 3.575/100 )

27,5 35,75

Perhitungan Penyimpangan Harga Bahan Baku Material (Jenis ) A B C Harga Standar (Rp) 35 25 20 Harga akual (Rp) 40 28 15 Varian Harga (Rp) -5 -3 +5 Total varian (Rp) -10.000 -7.500 +14.000

Beli ( Unit )

2.000 2.500 2.800

Jumlah penyimpangan harga pembelian bahan baku Keterangan : (-)artinya tidak menguntungkan dan (+) artinya menguntungkan -3.500

Perhitungan Penyimpangan Bauran Bahan Baku Material (Jenis ) A B C jumlah Digunakan kuantitas 1.200 2.000 2.500 5.700 Standar kuantitas berdasarkan standar output 50/130*5.700=2.192 45/130*5.700=1.973 35/130*5.700=1.535 Varian Kuantitas -992 -27 965 Harga Standar (Rp) 35 25 20 Total varian (Rp) -34.720 -675 +19.300 +16.095

Jumlah varian bauran bahan baku

Perhitungan penyimpangan harga bahan baku ( Material Yield Variance ) Standar Output = (5.700/130) x 100 = 4.384,6 Aktual Output = Penyimpangan (Tidak Menguntungkan) = = 4.385 unit ( 4.300 unit ) 85 unit

Nilai Penyimpangan = 85 x Rp. 35,75 = Rp. 3.038,75 (-) tidak menguntungkan

Perhitungan Penyimpangan Kuantitas Bahan Baku ( Material Quntity Variance )

Penganggaran (Kelompok 3) | 9

Aktual Output sebesar 4.300 seharusnya menggunakan bahan baku sebesar 5.000, standar kuantitas bahan baku A 50/130*5.000=1.923, B 45/130*5.000=1.731, C 35/130*5.000=1.346 Perhitungan penyimpangan kuantitas bahan baku berdasar output aktual ( 4.300 ) dengan output standar ( 4.385 ) unit.

Perhitungan Penyimpangan Harga Bahan Baku Material yield variance + Material Mix variance ( - Rp. 3.038,75 + 16.095 = Rp. 13.056,25 Menguntungkan/favorable ) Material (Jenis ) A B C Jumlah Digunakan kuantitas Standar kuantitas berdasarkan aktual output Varian Kuantitas +723 -269 -1.154 Harga Standar (Rp) 35 25 20 Total varian (Rp) +25.305 -6.725 -23.080 -4.500

1.200 50/130*5.000=1.923 2.000 45/130*5.000=1.731 2.500 35/130*5.000=1.346 5.700 5.000

Perhitungan Penyimpangan Bahan Baku Keterangan Penyimpangan harga pembelian bahan baku (m) Penyimpangan hasil bahan baku (m) Penyimpangan bauran bahan baku (m) Jumlah penyimpangan bahan baku (m) Catatan : (-) Tidak menguntungkan, (+) menguntungkan ( Rp ) -3.500 +16.095 -4.500 +8.095

Penganggaran (Kelompok 3) | 10

Anggaran Tenaga Kerja


Tenaga kerja dalam hal ini adalah manusia yang bekerja dengan mendapatkan upah, oleh sebab itu lazim disebut buruh. Terdapat dua jenis tenaga kerja yaitu tenaga kerja intelektual (manajer dan staf) dan tenaga kerja fisik (buruh). Manajer dan staf pada umumnya menerima gaji bulanan dan berbagai fasilitas yang manusiawi, sedangkan buruh pada umumnya menerima upah jam-jaman, harian,mingguan, dan borongan. Buruh adalah pelaksana yaitu penggereak alat kerja untuk mencapai sasaran kerja. Oleh sebab itu ia lazim disebut kaum produsen, karena ia yang menghasilkan komoditi. Upah buruh dalam terminologi akuntansi disebut upah langsung atau direct labor cost yang dikategorikan sebagai biaya variabel (variable cost ). Material yang dibuat oleh buruh untuk menjadi komoditi dikategorikan sebagai biaya variabel. Dua unsur biaya variabel itu disebut biaya utama (prime cost) dinyatakan sebagai biaya langsung (direct cost) dalam kajian akuntansi biaya dan akuntansi manajemen. Selanjutnya biaya yang berhubungan dengan alat kerja, manajer, dan staf dikategorikan biaya tidak langsung (indirect cost) terhadap proses produksi komoditi. A. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYUSUNAN 1) Anggaran Tenaga Kerja Kebutuhan tenaga kerja Tekhnologi produksi

Tenaga kerja dapat dikategorikan menjadi dua yaitu buruh dan karyawan. Buruh dibayar atas dasar tarif perjam, harian, mingguan, dan karyawan dibayar atas dasar gaji bulanan. 2) Manfaat Anggaran Tenaga Kerja manfaat anggaran tenaga kerja antara lain adalah : Sebagai pedoman kerja manajer lini (kepala seksi) untuk mendorong efektivitas buruh mencapai sasaran kerja Alat ukur efisiensi kerja melalui analisis penyimpangan tarif upah dan jam kerja Alat untuk menentukan besarnya harga pokok produksi

3) Teknik Perhitungan Anggaran Tenaga Kerja PT Sinar Terang Elektronik Satu


Penganggaran (Kelompok 3) | 11

Perusahaan menyusun anggaran tenaga kerja untuk tahun depan. Proses produksi dilaksanakan dua departemen, yaitu departemen satu dan departemen dua. Rencana produksi tahun depan adalah: triwulan satu 400unit, triwulan dua 500unit, triwulan tiga 600unit, dan triwulan empat 700unit. Standar jam kerja per unit produk untuk departemen satu 2jam, departemen dua 3 jam, sedangkan standar tariff upah untuk departemen satu Rp 4, dan departemen dua Rp 5. Solusi PT STE Satu Anggaran Jam Kerja Langsung (direct Labor Hour Buget) Departemen satu Triwulan (Standar 2 Jam Kerja) Unit Produksi 1 2 3 4 400 500 600 700 2.200 Jumlah (Jam) 800 1.000 1.200 1.400 4.400 Departemen Dua (Standar 3 Jam Kerja) Unit Produksi 400 500 600 700 2.200 Jumlah (Jam) 1.200 1.500 1.800 2.100 6.600

Anggaran Upah (Direct Labor Cost Buget) Departemen satu Triwulan (Standar Upah Rp 4) Unit Produksi 1 2 3 4 800 1.000 1.200 1.400 4.400 Jumlah (Jam) 3.200 4.000 4.800 5.600 17.600 Departemen Dua (Standar Upah Rp 5) Unit Produksi 1.200 1.500 1.800 2.100 6.600 Jumlah (Jam) 6.000 7.500 9.000 10.500 33.000

PT Sinar Terang Elektronik Dua Perusahaan sedang menyusun anggaran upah buruh untuk tahun depan. Data yang tersedia adalah sebagai berikut :

Penganggaran (Kelompok 3) | 12

Prediksi penjualan: produk A = 200 unit, B= 300 unit, C= 400unit. Persediaaan barang jadi dalam unit : persediaan awal A= 10 unit, B= 20 unit, dan C= 30 unit, sedangkan persediaan akhir A= 5 unit, B= 10 unit, dan C= 15unit. Produk tersebut dikerjakan dalam tiga departemen yaitu departemen AX, BX, dan CX. Standar Jam Kerja dan tarif Upah Produk A B C Tarif Upah Departemen. AX 1 jam 2 jam 3 jam Rp5 Departemen. BX 2 jam 3 jam 1 jam Rp6 Departemen. CX 3 jam 2 jam 1 jam Rp7

Solusi PT STE Dua Anggaran Produksi Keterangan Penjualan Persediaan Akhir (+) Jumlah Persediaan awal (-) Anggaran Produksi Produk A 200 5 205 10 195 Produk B 300 10 310 20 290 Produk C 400 15 415 30 385

Anggaran Jam Kerja Langsung Dept. AX (Direct Labor Hous Budget) Departemen AX Produk Unit Produksi A B C 195 290 385 Standar Jam 1 2 3 Total 195 580 1.155 1.930

Penganggaran (Kelompok 3) | 13

Anggaran Jam Kerja Langsung Dept. BX (Direct Labor Hous Budget) Produk A B C Departemen BX Unit Produksi 195 290 385 Standar Jam 2 3 1 Total 390 870 385 1.645

Anggaran Jam Kerja Langsung Dept. CX (Direct Labor Hous Budget) Produk A B C Departemen CX Unit Produksi 195 290 385 Standar Jam 3 2 1 Total 585 580 385 1.550

Anggaran Upah Buruh Dept. AX Produk A B C Departemen AX Total Jam 195 580 1155 Tarif Upah (Rp) 5 6 7 Total (Rp) 975 3.480 8.085 12.540

Penganggaran (Kelompok 3) | 14

Anggaran Upah Buruh Dept. BX Produk A B C Departemen BX Total Jam 390 870 385 Tarif Upah (Rp) 5 6 7 Total (Rp) 1.950 5.220 2.695 9.865

Anggaran Upah Buruh Dept. CX Produk A B C Departemen CX Total Jam 585 580 385 Tarif Upah (Rp) 5 6 7 Total (Rp) 2.925 3.480 2.695 9.100

4) Anggaran Tenaga Kerja Versus Aktual (Kinerja) PT STE JAYA Berikut ini adalah ata akuntansi perusahaan : 1. Pabrik memiliki biaya standar untuk satuan per 100 unit produk jadi, yaitubahan baku A 55 unit dan C 11 unit. Harga standar bahan baku per unit A Rp 43, B Rp 35, dan C Rp 25. 2. Untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi dibutuhkan tenaga kerja buruh tariff standar Rp 7,50 perjam dan dibutuhkan waktu pengolahan 500 jam per 100 unit output. 3. Kenyataan yang terjadi saat ini dipabrik 9dalam periode akuntansi satu tahun) adalah bahwa output riil yang dihasilkan adalah 3.234 unit semen jadi yang siap dijual ke pasar. 4. Permintaan actual adalah sebesar 3.000 unit. Pembelian bahan baku A 2.000 unit @ Rp 44, B 1.200 unit @ Rp 37, dan C 500unit @ Rp 24. Sedangkan bahan baku yang

Penganggaran (Kelompok 3) | 15

digunakan dalam proses produksi adalah A 1.870 unit, B 1.100 unit dan C 440 unit; penyimpangan bahan baku dicatat pada saat pembelian bahan baku. 5. Upah buruh yang dibayarkan Rp 7,95 per jam pada jam kerja actual 15.800 jam Diminta : varian upah.

Solusi PT STE Jaya Perhitungan Varian Efisiensi Upah Buruh Keterangan Jam aktual x tarif standar = 15.800 x 7,50 Jam standar x tarif standar = (3410/110) x 100 x 5 jam x Rp 7,50 atau 15.500 jam x Rp 7,50 Penyimpangan efisiensi upah (tm) = (15.800 - 15.500) x Rp 7,50; jam standar = (3410/110) x 100 x 5 jam = 15.500 jam berdasar output diharapkan. Jam aktual lebih besar daripada jam standar, maka penyimpangan tidak menguntungkan 2.250 (Rp) 118.500 116.250

Keterangan : Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi 3.140 unit = material A 1.870 unit, B 1.100 unit, dan C 440 unit Input standar 110 unit = A 55 unit, B 44 unit dan C 11 unit Untuk menghasilkan output 100 unit dikonsumsi material 110unit dalam waktu 5jam, jadi yang standar = (3410/110) x 100 x 5 jam = 15.500 jam

Penganggaran (Kelompok 3) | 16

Perhitungan Varian Efisiensi Upah Buruh Keterangan Jam standar x tarif standar = (3410/110) x 100 x 5 jam x Rp 7,50 (atau jam standar berdasar output yang diharapkan), atau 15.500 jam x Rp 7,50 Jam standar x tarif standar = (3410/110) x 100 x 5 jam x Rp 7,50 (atau jam standar berdasar output aktual) atau 16.170 jam x Rp 7,50 Penyimpangan Hasil Upah (Labor Yield Variance), 134 Q x 7,50 x 5 jam (m). Karena penyimpangan output menguntungkan, maka penyimpangan hasil upah menguntungkan. 5.025 121.275 116.250 (Rp)

Keterangan : Angka 3.557,5 adalah output actual 3.234 unit seharusnya membutuhkan input (3.234/100) x 110 unit = 3.557,5 unit dan utuk memprosesnya menjadi output dibutuhkan waktu = (3.557,4/110) x 100 x 5 jam = 16.170, ini adalah jam standar berdasar actual output Jam standar berdasar output diharapkan dibandingkan dengan jam standar berdasar output actual dikalikan tariff standar melahirkan varian hasil upah tenaga kerja (labor yield variance).

Perhitungan Upah Varian Buruh Keterangan penyimpangan tarif (labor rate variance)( ) penyimpangan efisiensi (Labor efficiency variance) () penyimpangan hasil upah (Labor Yield Variance) () Jumlah penyimpangan uoah buruh () (Rp) 7.710 2.250 5.025 4.334

Keterangan : tm = tidak menguntungkan atau unfavorable m = menguntungkan atau favorable

Penganggaran (Kelompok 3) | 17

ANGGARAN BIAYA OVERHEAD PABRIK


Definisi Biaya Overhead Biaya overhead pabrik disebut biaya tidak langsung (indirect cost) karena perilakunya sulit ditelusuri terhadap aktivitas produksi; sifat biaya ini adalah semi variabel cost atau sebagian biaya variabel dan sebagian lainnya merupakan biaya tetap. Biaya overhead pabrik berhubungan dengan peralatan pabrik seperti tanah, gedung, mesin, dan peralatan lainnya, dimana faktor tenaga kerja yang mengoperasikannya yang menjadi faktor penentudalam aktivitas pabrik; tenaga kerja itu disebut tenaga kerja tidak langsung (indirect labor) biayanya disebut biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor cost). Untuk mengoperasikan peralatan itu dibutuhkan berbagai macam bahan pembantu yang disebut bahan tidak langsung (indirec material costs). Pada umumnya biaya overhead pabrik terdiri dari gaji manajer pabrik dan staffnya, penyusutan aktiva tetap pabrik, pajak bumi dan bangunan, pajak upah atau pajak penghasilan, premi asuransi kerugian aktiva tetap pabrik, premi asuransi kesehatan tenaga kerja, bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung,pemeliharaan dan reparasi mesin-mesin, pemeliharaan gedung, air, telepon, listrik, penanganan bahan, penataan mesin, inspeksi, pengawasan, konsultan, biaya umum dan administrasi pabrik, dan lain-lain.

Tarif Biaya Overhead Pabrik Dalam kalkulasi biaya normal (normal costing), niaya overhead pabrik dialokasikan keproses produksi berdasarkan tarif yang di tentukan lebih dahulu dikalikan dengan kapasitas pabrik yang nyata (actual capacity). Kapasitas pabrik didasarkan pada lima unsur yaitu: 1) biaya bahan baku langsung; 2) biaya tenaga kerja langsung; 3) jam tenaga kerja langsug; 4) jam mesin; 5) unit output yang dihasilkan. Tarif biaya overhead pabrik dihitung berdasarkan anggaran biaya overhead pabrik dibagi kapasitas pabrik normal.

Ilustrasi: Data kondisi pabrik PT SINAR TERANG ELEKTRONIK adalah sebagai berikut: Tarif biaya overhead pabrik berdasarkan kapasitas normal = Biaya overhead pabrik dianggarkan Kapasitas normal
Penganggaran (Kelompok 3) | 18

1. Tarif biaya overhead pabrik berdasarkan biaya bahan baku langsung Rp 1.000/Rp 5.000 = 20%

2. Tarif biaya overhead pabrik berdasarkan biaya tenaga kerja langsung Rp 1.000/Rp 3.000 = 33,33%

3. Tarif biaya overhead pabrik berdasarkan jam tenaga kerja langsung Rp 1.000/4.000 jam = Rp 0.25

4. Tarif biaya overhead pabrik berdasarkan jam mesin Rp 1.000/5000 jam = Rp 0,20

5. Tarif biaya overhead pabrik berdasarkan unit output dihasilkan Rp 1.000/10.000 unit = Rp 0,10

PT STE Tabel Kondisi Pabrik Keterangan Biaya bahan baku langsung normal Biaya tenaga kerja langsung normal Biaya overhead pabrik dianggarkan Jumlah biaya pabrik Kapasitas pabrik normal: Biaya bahan baku langsung Biaya tenaga kerja langsung Jam tenaga kerja langsung Jam mesin Unit Output dihasilkan Jumlah Rp 5.000 Rp 3.000 Rp 1.000 Rp 9.000 Tarif

4.000 jam 5000 jam 10.000 unit

20% 33,33% Rp 0,25 Rp 0,20 Rp 0,10

Manajemen PT STE akan memilih satu dari lima tarif diatas untuk mengalokasikan (membebankan) biaya overhead pabrik kepada proses produksi. Biaya bahan baku langsung nyata Rp 5.000, Biaya tenaga kerja langsung nyata Rp 3.000, jam tenaga kerja langsung nyata 5.000 jam. Maka pembebanan biaya overhead pabrik = 5000 jam x Rp 0,30 = Rp 1.500. total biaya pabrik (total manufacturing cost) dapat dikalkulasikan sebagai berikut:

PT STE Tabel Kalkulasi Biaya Pabrik Keterangan Biaya bahan baku langsung Biaya tenaga kerja langsung Pembebanan biaya overhead pabrik Total biaya pabrik Rp Rp Rp Rp (Rp) 5.000 3.000 1.000 9.000

Penganggaran (Kelompok 3) | 19

Anggaran Biaya Overhead Pabrik Anggaran biaya overhead pabrik ialah rencana kerja yang disajikan dala bentuk uang untuk biaya tidak langsung. Untuk menyusun anggaran biaya overhead pabrik harus diklasifikasikan kedalam perilaku biaya tetap dan variabel dengan metode titik terendah (high low point) atau kuadrat terkecil (least squares). Sebelum dibuat anggarannnya, biaya overhead harus disusun beban tetap dan tarif variabel per unitnya (per jam) yang didasarkan pada kapasitas normal. Kapasitas normal adalah acuan dasar penentuan tarif biaya overhead pabrik. Ilustrasi: Dasar kegiatan PT STE: jam tenaga kerja langsung pada kapasitas normal 4000 jam atau 80% dari kapasitas terpasang. Maka tabelnya adalah sebagai berikut:

PT STE Tabel Biaya Overhead Pabrik Pada Kapasitas Normal Biaya Tetap Biaya Variabel Keterangan (Rp) (Rp) Tenaga kerja tidak langsung 4.000 2,00 Beban tidak langsung 3.000 0,90 Penanganan bahan 3.000 0,80 Perbekalan pabrik 2.000 0,80 Inspeksi 1.000 Pengawasan 1.500 Total biaya terkendali oleh departemen 12.500 4,00 Asuransi kebakaran 2.000 Pajak bumi dan bangunan 2.000 Penyusutan peralatan pabrik 2.000 Total biaya tak terkendali 4.000 Pemeliharaan gedung dan peralatan 4.000 0,60 Air, telepon, listrik 3.000 0,40 Beban umum pabrik 1.000 0,70 Total beban departemen jasa 2.000 1,80 Total 47.000 12,00

Keterangan tabel biaya overhead pabrik pada kapasitas normal: JKTL = Jam Tenaga Kerja Langsung (Jam Kerja Buruh) Ikhtisar:

Penganggaran (Kelompok 3) | 20

Biaya Tetap Biaya Variabel (4.000 jam x Rp 12,00) Total

= Rp 47.000 = Rp 48.000 = Rp 95.000

Tarif per jam tenaga kerja langsung = Rp 95.000/4000

= Rp 23,75

PT STE Tabel Anggaran Fleksibel Biaya Overhead Kapasitas Kapasitas (3.500) JTKL (4.000) JTKL Keterangan (70%) (80%) (Rp) (Rp) 9.000 9.200 Tenaga kerja tak langsung 8.500 8.500 Bahan tidak langsung 7.000 7.300 Penanganan bahan 6.500 7.000 Perbekalan pabrik 4.000 4.000 Inspeksi 2.000 2.500 Pengawasan 37.000 38.500 Total biaya terkendali oleh departemen Asuransi kebakaran Pajak bumi dan bangunan Penyusutan peralatan pabrik Total biaya tak terkendali Pemeliharaan gedung dan peralatan Air, telepon dan listrik Beban umum pabrik Total beban departemen jasa Total Ikhtisar: Kapasitas 70% (3.500 JTKL) Biaya Tetap Biaya Variabel (3.500 jam x Rp 12,00) Total = Rp 47.000 = Rp 42.000 = Rp 89.000 2.500 2.000 1.000 5.500 5.200 4.800 5.000 15.000 57.500 2.800 2.200 1.500 6.500 5.500 5.000 5.500 16.000 61.000

Kapasitas (4.500) JTKL (90%) (Rp) 9.500 8.500 7.500 7.200 4.300 2.500 39.500 3.000 2.500 1.500 7.000 6.000 5.000 5.500 16.500 63.000

Tarif per jam tenaga kerja langsung = Rp 89.000/3.500

= Rp 25,43

Penganggaran (Kelompok 3) | 21

Ikhtisar: Kapasitas 80% (4.000 JTKL) Biaya Tetap Biaya Variabel (4.000 jam x Rp 12,00) Total = Rp 47.000 = Rp 48.000 = Rp 95.000

Tarif per jam tenaga kerja langsung = Rp 95.000/4.000

= Rp 23,75

Ikhtisar: Kapasitas 90% (4.500 JTKL) Biaya Tetap Biaya Variabel (4.500 jam x Rp 12,00) Total = Rp 47.000 = Rp 54.000 = Rp101.000

Tarif per jam tenaga kerja langsung = Rp 101.000/4.500

= Rp 22,44

Alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu produksi Alokasi biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi harus akurat dan wajar agar dapat menghasilkan harga pokok produksi yang akurat dan wajar pula. Keakuratan dan kewajaran itu harus didasarkan pada hubungan: 1. Sebab akibat 2. Biaya manfaat Alokasi biaya mempunyai kegunaan antara lain: 1. Untuk menetapkan harga jual. 2. Untuk mengukur laba dan menilai aktiva. 3. Untuk memotivasi manajer. 4. Untuk memonitor departemen pembantu produksi. 5. Untuk mengambil keputusan manajemen. 6. Untuk menilai persediaan. Model alokasi biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi pada umumnya terdiri dari tiga model. Yaitu: 1. Alokasi langsung. 2. Alokasi bertahap. 3. Alokasi timbal balik atau reciprocal.

Penganggaran (Kelompok 3) | 22

Ilustrasi: Rincian biaya overhead pabrik aktual masing-masing departemen PT STE adalah sebagai berikut: Data Akuntansi PT STE Dept. Pembantu Dept. A Dept. B 800 2400 1440 1900 0 500 0 400 500 0 800 0 Dept. Produksi Dept. X Dept. Y 2000 5000 3000 4000 3000 4500 800 5320 1500 5000 2400 2280

Keterangan Biaya variabel (Rp) Biaya tetap (Rp) jam mesin dianggarkan: dept.A melayani (dalam jam) dept.B melayani (dalam jam) jam mesin aktual: dept.A melayani (dalam jam) dept.B melayani (dalam jam)

Biaya overhead dept. Pembantu produksi dialokasikan kedepartemen produksi atas dasar: biaya tetap dialokasikan berdasar jam mesin yang dianggarkan dan biaya variabel dialokaskan berdasar jam mesin aktual. Diminta: 1. Hitunglah berapa biaya departemen A dan B yang dialokasikan kepada masingmasing kepada departemen produksi X dan Y dengan menggunakan metode langsung, metode bertahap, dan metode resiprocal, atau metode aljabar! 2. Hitunglah tarif aktual tetap dan variabel perjam mesin, berdasar alokasi aljabar, dasar perhitungan tarif departemen X 3.000 jam mesin dan departemen Y 4.000 jam tenaga kerja langsung! 3. Hitunglah harga pokok produksi per unit, jika yang diproduksi 1000 unit, bahan langsung Rp 15.000,- dan tenaga kerja langsung Rp 10.000,- , jam mesin aktual 3.200 jam dan jam tenaga kerja langsung aktual 3.900! 4. Menghitung varian baiay overhead pabrik! Solusi Untuk PT STE 1. Alokasi Biaya Metode langsung Alokasi biaya tetap berdasar jam mesin yang diaggarkan Keterangan A B X Biaya tetap 1.440 1.900 0 A = (3000/4500; 1500/4500) -1.440 0 960 B = (4500/9500; 5000/9500) 0 -1.900 900 Total 0 0 1.860

Y 0 480 1.000 1.480

Penganggaran (Kelompok 3) | 23

Metode langsung Alokasi biaya variabel berdasar jam mesin aktual A B X Keterangan Biaya variabel 800 2.400 0 A = (800/3200; 2400/3200) -800 0 200 B = (5320/7600; 2280/7600) 0 -2.400 1.680 Total 0 0 1.880

Y 0 600 720 1.320

Metode bertahap Alokasi biaya tetap berdasar jam mesin yang dianggarkan Keterangan A B X Biaya tetap 1.440 1.900 0 A = (500/5000; 3000/5000; 1500/5000) -1.440 144 864 B = (4500/9500; 5000/9500) 0 -2.044 968 Total 0 0 1.832

Y 0 432 1.076 1.508

Metode bertahap Alokasi biaya variabel berdasar jam mesin aktual Keterangan A B X Biaya variabel 800 2.400 0 A = (800/4000; 200/4000; 2400/4000) -800 160 160 B = (5320/7600; 280/7600) 0 -2.560 1.792 Total 0 0 1.952

Y 0 480 768 1.248

Metode Aljabar Biaya tetap: A = 1.440 + 0,05B A = 1.440 + 0,05(1.900 +0,10A) A = 1.542,7 B = 1.900 + 0,10A B = 1.900 + 0,10(1.542,7) B = 2.054,3

Biaya Variabel:

A = 800 + 0,05B A = 800 + 0,05(2.400 + 0,20A) A = 929,3

B = 2.400 + 0,20A B = 2.400 + 0,20(929,3) B = 2.585,9

Penganggaran (Kelompok 3) | 24

Keterangan: 0,05B artinya departemen B melayani A 500 jam kepad departemen A, total jam mesin departemen B = 10.000 jam yaitu dari 500 + 4.500 + 5.000 jam. 0,10A artinya departemen A melayan B 500 jam kepada B, total jam mesin departemen A = 5.000 jam yaitu dari 500 + 1.500 + 3.000 jam.

Metode aljabar Alokasi biaya tetap berdasar jam mesin yang dianggarkan A B X Keterangan Biaya tetap 1.440 1.900 0 A = (500/5000; 3000/5000; 1500/5000) -1.542,7 1.54,3 925,6 B = (500/10000; 4500/10000; 5000/9500) 102,7 -2.054,3 924,4 Total 0 0 1.850

Y 0 462,8 1.027,1 1.490

Metode aljabar Alokasi biaya variabel berdasar jam mesin aktual A B X Keterangan Biaya variabel 800 2.400 0 A = ( 800/4000; 200/4000; 2400/4000) -929,3 185,9 185,9 B = (400/8000; 5320/8000; 2280/8000) 129,3 -2.585,9 1.719,6 Total 0 0 1.905,4

Y 0 557,6 737 1,294,6

2. Tarif Biaya Overhead Departemen Produksi

Keterangan Biaya tetap Terima alokasi Total Dasar perhitungan tarif Tarif tetap JM = Jam Mesin; JTKL = Jam Tenaga Kerja Langsung

Metode aljabar Tarif biaya overhead tetap X 3.000 1.850 4.850 3.000JM 1,617

Y 4000 1490 5490 4000JTKL 1,3725

Penganggaran (Kelompok 3) | 25

Keterangan Biaya variabel Terima alokasi Total Dasar perhitungan tarif Tarif variabel Tarif tetap Total tarif biaya overhead

Metode aljabar Tarif biaya overhead variabel X 2.000 1.905 3.905 3.000 JM 1,30180 1,61700 2,91880

Y 5.000 1.295 6.295 4.000JKTL 1,57365 1,57350 2,94615

3. Harga Pokok Produksi Kalkulasi Harga Pokok Produksi Keterangan Biaya Bahan Baku Langsung Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik, Dept. X, 3.200 x 2,9188 Biaya Overhead Pabrik, Dept. Y, 3.900 x 2,94615 Total Harga Pokok Produksi (Rp) 15.000,00 10.000,00 9.340,16 11.489,98 45.830,14

4. Varian Biaya Overhead Pabrik Varian Biaya Overhead Pabrik X Keterangan Aktual 8.000,00 Pembebanan 9.340,16 Varian Biaya Overhead Pabrik *1340,16 * Favorable (menguntungkan) **Unfavorable (tidak menguntungkan) Y 12.000,00 11.489,98 **510,02

Anggaran Biaya Overhead Pabrik Versus Aktual (Kinerja) Ilustrasi: Berikut ini adalah data akuntansi PT STE: 1. Produk yang dihasilkan adalah lampu LED yang memiliki pasar oligopoli. Harga pasar yang berlaku adalah Rp 70 per-unit. 2. Pabrik memiliki biaya standar untuk satuan per 100 unit produk jadi, yaitu bahan baku A 55 unit, B 44 unit dan C 11 unit. Harga standar bahan baku per-unit A Rp 43, B Rp 35, dan C Rp 25.
Penganggaran (Kelompok 3) | 26

3. Untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi dibutuhkan tenaga kerja buruh, tarif standar Rp 7,50 per-jam dan dibutuhkan waktu pengolahan 500 jam per 100 unit output. 4. Biaya overhead pabrik didasarkan pada upah jam kerja langsung. Pada kapasitas normal 16.500 jam. Biaya overhead pabrik yang dianggarkan adalah Rp 12.375 dan variabel Rp 8.250. 5. Kenyataan yang terjadi saat ini dipabrik adalah bahwa output riil yang dihasilkan 3.234 unit lampu LED jadi yang siap dijual. 6. Permintaan aktual adalah 3.000 unit. Pembelian bahan baku A 2.000 unit @Rp 44, B 1.200 unit @Rp 37, dan C 500 unit @Rp 24. Sedangkan bahan baku yang digunakan dalam proses produksi adalah A 1.870 unit, B 1.100 unit, dan C 440 unit; penyimpangan bahan baku dicatat pada saat pembelian bahan baku. 7. Upah buruh yang dibayarkan Rp 7,95 per-jam pada jam kerja aktual 15.800 jam. 8. Biaya overhead aktual tetap Rp 11.075 dan variabel Rp 8.490. Diminta: menghitung varian overhead pabrik.

Solusi PT STE Varian Biaya Overhead Pabrik penyimpangan biaya overhead pabrik Keterangan biaya yang diperhitungkan secara akuntansi (Rp 8.490 variabel + Rp 11.075 tetap) biaya yang dibeban kan ke proses produksi 3.234 unit x 5 jam x Rp 1,25 (Rp) 19.565,00 20.212,50

penyimpangan biaya overhead pabrik 647,5 Keterangan: Pembebanan overhead kepada proses produksi adalah aktual kapasitas (dalam hal ini output aktual 3.234 unit) kali tarif biaya overhead.

Penyimpangan biaya overhead pabrik (Penyimpangan pengeluaran) Keterangan Biaya aktual dianggarkan: VC = 15.800 x Rp 0,50 = 7.900 FC = 12.375 penyimpangan pengeluaran (Rp) 19.565 20.275 710
Penganggaran (Kelompok 3) | 27

Penyimpangan biaya overhead pabrik Penyimpangan kapasitas Keterangan dianggarkan: VC = 15.800 x Rp 0,50 = 7.900 FC = 12.375 kapasitas aktual x tarif standar = 15.800 jam x Rp 1,25 penyimpangan kapasitas (Rp) 20.275 19.750 525

Penyimpangan overhead pabrik Penyimpangan efisiensi Keterangan kapasitas aktual x tarif standar = 15.800 x Rp 1,25 kapasitas standar x tarif standar = 15.500 x Rp 1,25 penyimpangan efisiensi (Rp) 19.750 19.375 375

Perhitungan Varian Hasil Biaya Overhead Keterangan Jam standar x tarif standar = (3.410/110) x 5 jam x Rp 1,25 (atau jam standar output yang diharapkan), Atau 15.500 x Rp 1,25 Jam standar x tarif standar = (3.557/1.100) x 500 jam x Rp 1,25 (atau jam standar output yang diharapkan), Atau 16.170 jam x Rp 1,25 Penyimpangan hasil biaya overhead (factory overhead yield variance), 134Q x Rp 1,25 x 5 jam (m). Karena penyimpangan output menguntungkan, Maka penyimpangan hasil upah menguntungkan. (Rp) 19.375,0

20.212,5

837,5

Perhitungan Varian Biaya Overhead Pabrik Keterangan Penyimpangan pengeluaran Penyimpangan kapasitas Penyimpangan efisiensi Penyimpangan hasil biaya overhead Jumlah varian biaya overhead (Rp) 710 525 375 837,5 647,5

---------------SELESAI-------------Penganggaran (Kelompok 3) | 28