Anda di halaman 1dari 2

Efek pada Hemodinamik Ginjal Jika penurunan volume dicegah dengan mengganti hilangnya cairan, inhibitor symport Na+K+

-2Cl- biasanya meningkatkan aliran darah di ginjal (RBF) total dan meredistribusi aliran darah tersebut ke korteks tengah (Stein et al., 1972). Namun, efek terhadap RBF belum diketahui, tetapi prostaglandin terlibat dalam hal ini (Williamson et al., 1974). Pada kenyataannya, obat antiradang non-steroid (non-steroidal antiinflammatory drugs, NSAID) mengurangi respon diuretik terhadap diuretik loop, kemungkinan besar karena mencegah peningkatan RBF yang diperantarai oleh prostaglandin (Brater, 1985). Diuretik loop memblok umpan balik tubuloglomerulus (TGF) dengan cara menghambat transpor garam ke dalam makula densa, sehingga makula densa tidak lagi dapat mendeteksi konsentrasi NaCl dalam cairan tubulus. Dengan demikian, tidak seperti inhibitor karbonat anhidrase, diuretik loop tidak mengurangi GRF dengan cara mengaktifkan TGF. Diuretik loop merupakan stimulator kuat untuk pelepasan renin. Efek ini akibat gangguan pada transpor NaCl dari makula densa, dan jika terjadi deplesi volume, akan terjadi aktivasi refleks pada sistem saraf simpatik dan menstimulasi mekanisme baroreseptor dalam ginjal. Prostaglandin, terutama prostasiklin, dapat berperan penting untuk memperantarai respons pelepasan renin terhadap diuretik loop. (Oates et al., 1979). Efek Pada Ekskresi Urin Kerja utama diuretika loop adalah mengurangi reabsorpsi aktif NaCl dalam lumen tubuli ke dalam interstitium pada Ansa Henle bagiaan asenden. Asam etakrinat juga mempunyai efek hambatan terhadap reabsorpsi natrium pada tubuli distal. Pertukaran Na-K bertambah karena banyaknya jumlah natrium yang masuk ke dalam lumen tubuli distal sehingga hasil akhir pemberian diuretika loop akan meningkatkan volume urin yang dikeluarkan serta kehilangan lebih banyak natrium, klorida, dan, kalium. Kehilangan ion Cl berlebihan bisa menginduksi terjadinya alkalosis metabolik (alkalosis metabolik hipokloremik), dan hilangnya ion K dapat mempermudah timbulnya intoksisasi digitalis (Staf Pengajar, 2009). Kerja Lain Diuretik loop mempunyai efek langsung terhadap pembuluh darah (Dorman et al., 1996). Diuretik loop, terutama furosemida, secara akut meningkatkan kapasitas vena sistemik, sehingga menurunkan tekanan pengisian ventrikel kiri. Efek ini, yang kemungkinan diperantai oleh prostaglandin dan membutuhkan fungsi ginjal yang baik (Johnson at al.,

1983), memberikan manfaat bagi pasien edema pulmonari bahkan sebelum terjadi diuresis. Furosemida dan asam etakrinat dapat menghambat Na+,K+-ATPase, glikolisis, respirasi mitokondria, pompa Ca2+ pada mikrosom, adenilil siklase, fosfodiesterase dan prostaglandin dehidrogenase; namun efek-efek ini tidak dapat digunakan untuk terapeutik. Secara in vitro, dosis tinggi inhibitor symport Na+-K+ -2Cl- dapat menghambat transpor elektrolit di banyak jaringan. Efek klinis obat ini hanya penting pada telinga bagian dalam, tempat terjadinya perubahan pada komposisi elektrolit di endolimfe dapat menyebabkan ototoksisitas yang diinduksi oleh obat. Daftar Pustaka Brater, D.C. 1983. Pharmacodynamic consideration in the use of diuretics. Annu. Rev. Pharmacol. Toxicol. 23:45-62. Dormans, T. P. J.et al. 1996. Vascular effect of loop diuretics. Cardiovasc. Res.77:359-396. Johnston, G. D. et al. 1953. Factors modifying the early nondiuretic vascular effects of furosemide in man. Biochemistry. 53:630-635. Oates et al. 1979. The participation of prostaglandins in the control of renin realase. 38:72-74 Stein et al. 1972. Differences in the effect of furosemide and chlorothiaziade on the distribution of renal cortical blood flow in the dog. 79:995-1003. Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi ke-2. Jakarta : EGC. Williamson, H. E. et al. 1974. Inhibition of ethacynic acid induced increase in renal blood flow by indomethacin. 8:297-301.