Anda di halaman 1dari 12

LUAS MINIMUM

Disusun oleh : Nama: Mukhlishal Ibrahim B1J009011 Faisal Anggi Pradita B1J010012 Muhamad Maarif B1J010148 Marlina Syarah Dilah B1J010111 Kelompok : 3 Rombongan: III : Widyastuti Handini Paksi

Asisten

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumbuhan dikenal berperan amat penting dalam konservasi tanah dan air, karena perakaran tumbuhan sebagai pengikat agregrat tanah. Batang dan tajuk tumbuhan mengintersepsi butiran hujan sehingga tidak langsung menumbuk tanah yang akan mempercepat laju erosi (Widiyono et al., 2005).Analisis vegetasi merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan sturuktur suatu

ekosistem.Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam yaitu dengan metode petak dan tanpa petak.salah satu metode dengan petak yang banyak adalah metode jalur (untuk risalah pohon) dan metode garis petak (untuk risalah permudaan) (Latifah, 2005). Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan

tajuk.Analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut.Analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan (Odum, 1998). Menurut Soerianegara dan Indramawan (1980), analisis vegetasi dalam ekologi tumbuhan adalah cara untuk mempelajari struktur vegetasi dan komposisi jenis tumbuhan. Analisis vegetasi bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis (susunan) tumbuhan dan bentuk (struktur) vegetasi yang ada di wilayah yang dianalisis.Caranya adalah dengna melakukan deskripsi komunitas tumbuhan. Analisis vegetasi dapat juga digunakan untuk mengetahui pengaruh dampak lingkungan merupakan suatu cara pendekatan yang khas, karena pengamatan terhadap berbagai aspek vegetasi yang dilakukan harus secara mendetail dan terdiri atas vegetasi yang belum terganggu (alamiah). Aspek-aspek vegetasi yang perlu diketahui antara lain : 1. Ada atau tidak adanya jenis tumbuhan tertentu 2. Luas basal area 3. Luas daerah penutup (cover) 4. Frekuensi

5. Kerapatan 6. Dominansi 7. Nilai penting Suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu luas tertentu, dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara keseluruhan.yang disebut luas minimum (Odum, 1998).

B. Tujuan Untuk mengetahui jumlah spesies dalam suatu daerah secara minimun dan kerapatannya

II. MATERI DAN METODE

A. Materi Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah jenis-jenis rerumputan yang ada disekitar lingkungan Fakultas Biologi yang berada pada petakan yang telah dibuat untuk menentukan luas minimum. Alat-alat yang digunakan adalah tali raffia, meteran, patok kayu atau bambu, alat tulis dan label. B. Metode 1. Petakan dibuat dengan ukuran 0,25 x 0,25 m. 2. Hitung jumlah jenis dalam petak tersebut kemudian dicatat. 3. Petakan dibuat kembali atau diperluas dengan ukuran 2x lipat petak pertama untuk melihat ada penambahan jenis/tidak, seterusnya sampai besar persentase 10 % artinya pembuatan petakan dihentikan, jika belum diperluas lagi. 4. Dibuat tabel jumlah jenisnya kemudian dibuat grafik luas minimumnya.
1

2 4 3 50 m 5 6

25 m

100 m

200 m Gambar 1. Petak untuk metode luas minimum

Membuat Kurva Luas Minimum Langkah-langkah : 1. Membuat sumbu x dan sumbu y sumbu x = luas petak sumbu y = jumlah jenis 2. Membuat garis pertolongan (misal m) yang besarnya 10% dari luas petak terakhir dan 10% jumlah jenis terakhir. X = 10% x luas terakhir = 10% x 2 =0,2 Y = 10% x Jumlah jenis terakhir = 10% x 11 = 1,1 Maka didapatkan suatu titik, kemudian dihubungkan dengan titik 0 dan dibuat garis m. 3. Membuat garis yang sejajar dengan garis m yaitu yang menyinggung garis (pertemuan titik-titik luas petak dan jumlah jenis) disebut garis n. 4. Titik singgung garis n diproyeksikan ke sumbu x sehingga didapatkan luas minimumnya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel jumlah jenis pada metode luas minimum No. 1 2 3 4 5 6 7 Luas Petak 0,25 x 0,25m= 0,0625 m2 0,50 x 0,25 m= 0,1250m2 0,50 x 0,50 m= 0,25 m2 1 x 0,50m= 0,50m2 1 x 1m= 1 m2 2 x 1m= 2 m2 2 x 2m= 4m2 Jumlah jenis 4 7 8 9 10 11 12 Persentase 4/4 x 100% = 100% 3/4 x 100% = 75% 1/7 x 100 = 14% 1/8 x 100% = 12% 1/9 x 100% = 11% 1/10 x 100% = 10% 1/11 x 100% = 9%

Perhitungan : a. Luas petak I (0,25 x 25)m2 Jumlah spesies : 4 Presentasi penambahan = Jumlah spesies baru x 100% Jumlah spesies awal = 4/4x 100%= 100% b. Luas petak II(0,50 x 0,25)m2 Jumlah spesies : 7 Presentasi penambahan = Jumlah spesies baru x 100% Jumlah spesies awal = x 100= 75% c. Luas petak III (0,50 x 0,50)m2 Jumlah spesies : 8 Presentasi penambahan = Jumlah spesies baru x 100% Jumlah spesies awal = 1/7x 100% = 14% d. Luas petak IV (1 x 0,50)m2 Jumlah spesies : 9 Presentasi penambahan = Jumlah spesies baru x 100% Jumlah spesies awal

= 1/8x 100% = 12% e. Luas petak V(1 x 1)m2 Jumlah spesies : 10 Presentasi penambahan = Jumlah spesies baru x 100% Jumlah spesies awal = 1/9x 100% = 11% f. Luas petak VI (2 x 1)m2 Jumlah spesies : 11 Presentasi penambahan = Jumlah spesies baru x 100% Jumlah spesies awal = 1/10 x 100% = 10% g. Luas petak VII (2 x 2)m2 Jumlah spesies : 12 Presentasi penambahan = Jumlah spesies baru x 100% Jumlah spesies awal = 1/11 x 100% = 9%

y = Jumlah jenis

12 11 10 9 8 7

1,1 0 0,0625 0,50 1 2 2 x = luas petak (m ) Gambar 2. Grafik Luas Minimum ( Lokasi samping ex-farm) 0,125 0,2 0,25 4

B. Pembahasan

Luas minimum atau kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak contoh (kuadrat). Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut.Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas petak contoh yang digunakan. Bentuk luas minimum dapat berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas petak contoh minimum yang mewakili vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan patokan dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat. Kajian dalam mempelajari komunitas tumbuhan kita tidak dapat melakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati komonitas, terutama apabila area itu cukup luas. Oleh karena itu, kita dapat melakukan penelitian disebagian area komunitas tersebut dengan syarat bagian tersebut dapat mewakili sebagian komunitas yang ada. Pemahaman untuk memahami luas,metode manapun yang di pakai untuk menggambarkan suatu vegetasi yang penting adalah harus di sesuaikan dengan tujuan luas atau sempitnya suatu area yang diamati (Anwar,1995). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah spesies di dalam suatu daerah adalah: a. Iklim Fluktuasi iklim yang musiman merupakan faktor penting dalam membagi keragaman spesies. Suhu maksimum yang ekstrim, persediaan air, dan sebagainya yang menimbulkan kemacetan ekologis (bottleck) yang membatasi jumlah spesies yang dapat hidup secara tetap di suatu daerah. b. Keragaman Habitat Habitat dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies yang keragamannya lebih besar di bandingkan habitat yang lebih seragam. c. Ukuran Daerah yang luas dapat menampung lebih besar spesies di bandingkan dengan daerah yang sempit.Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan antara luas dan keragaman spesies secara kasaradalah kuantitatif. Rumus

umumnya adalah jika luas daerah 10 x lebih besar dari daerah lain maka daerah itu akan mempunyai spesies yang dua kali lebih besar (Anwar, 1995). Tujuan pembuatan luas minimum adalah menentukan luas petak minimum yang representatif dengan komunitas tumbuhan yang dianalisis. Luas minimun adalah teknik untuk mengetahui organisme apa saja yang terdapat pada suatu kumunitas. Pengamatan jumlah minimum dilakukan dengan cara pelemparan plot sebanyak beberapa kali. Penjumlah luas minimum dilakukan dengan cara membuat lahan dengan ukuran tertentu dan kemudian menghitug jumlah individu yang terdapat di dalam plot dan lahan yang telah dibuat. Suatu metode untuk menentukan luas minimum suatu daerah disebut metode luas minimal. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengetahui jumlah petak yang digunakan dalam metode tersebut (Guritno, 1995). Luas minimum didapatkan setelah persentase penambahan jenis baru kurang dari 10%, jika presentase penambahan kurang dari 10% maka pembuatan petak dihentikan. Dari data hasil praktikum dan perhitungan luas minimum dapat ditentukan setelah pembuatan petak ke-6 dengan luas petak 2 x 1m = 2 m2 denganjumlah jenis 11sehingga didapatkan presentase 1/10 x 100% = 10% ditunjukkan pada grafik yang diarsir dengan warna biru. Tabel yang diberi tanda warna hijau muda adalah luas petak yang tidak dapat ditentukan luas minimumnya, karena presentase penambahan jenisnya < 10%. Luas daerah vegetasi yang telah diambil diatasnya sangat bervariasi untuk setiap bentuk vegetasi mulai dari 0,0625 m2 sampai 4 m2. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Syairifuddin (2011), dimana pengamatan dilakukan pada setiap tingkat pertumbuhan suatu vegetasi menggunakan petak yang dikelompokkan kedalam : 1) Tingkat semai (seedling), yaitu sejak perkecambahan sampai tinggi 1,5 m. 2) Tingkat sapihan (sapling) yaitu tingkat pertumbuhan permudaan dengan

tinggi antara 1,5 meter, dengan diameter batang kurang dari 10 cm. 3) Tingkat tiang (pole) atau pohon kecil yaitu tingkat pertumbuhan pohon muda yang berukuran dengan diameter batang antara 10-19 cm (dbh) dan tinggi antara 2,5 5 m. 4) Pohon yaitu tingkat pohon-pohon yang berdiameter batang diatas 20 cm (dbh) dan tinggi > 5 m. Berdasarkan pernyataan tersebut beberapa tanaman dengan tingkat pertumbuhan vegetasi tertentu mampu dihitung dan dianalisis kerapatannya. Oleh karena itu, jenis

tanaman yang merambat dan memiliki rhizoma maupun stolon dihitung sebagai satu kesatuan (Guritno, 1995) Titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis (spesies), maka dalam menetapkanbesar atau banyaknya petak-petak sampling perludigunakan kurva lengkung species area (Cain danCastro, 1958 dalam Soerianegara, 1982). Yaitu dengan mendaftarkan jenis-jenis pohon yang terdapat dalamsuatu petak kecil. Ukuran petak ini lalu diperbesar 2 kali dan jenis-jenis pohon yang terdapat didaftarkanpula. Pekerjaan ini dilakukan hingga penambahan luaspetak tidak menyebabkan penambahan yang berartipada banyaknya jenis. Banyaknya luas minimum ini ditetapkan dengan dasar penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 10 % atau 5 % (Soerianegara, 1982). Invasi secara ekologi merupakan suatu ancaman dalam interaksi ekologi suatu ekosistem hutan di seluruh dunia secara objektif dilakukan untuk menguji hubungan antara kelimpahan non-natif spesies dalam vegetasi dan tanah yang berisi biji dengan faktor abiotik dan jarak dari batas hutan terdekat (Honu et al., 2009) . Titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis (spesies), maka dalam menetapkan besar atau banyaknya petak-petak sampling perlu digunakan kurva lengkung species area (Cain dan Castro, 1958 dalam Soerianegara, 1982). Yaitu dengan mendaftarkan jenis-jenis pohon yang terdapat dalam suatu petak kecil. Ukuran petak ini lalu diperbesar 2 kali dan jenis-jenis pohon yang terdapat didaftarkan pula. Pekerjaan ini dilakukan hingga penambahan luas petak tidak menyebabkan pe-nambahan yang berarti atau pada banyaknya jenis. Banyaknya luas minimum ini ditetapkan dengan dasar:penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 10 % atau 5 % (Soerianegara, 1982). Pengaruh perubahan vegetasi tentunya tidak hanya berlangsung sesaat, bentuk pengaruh pun bisa berbeda sejalan dengan waktu. Perubahan pada vegetasi tertentu biasanya akan diikuti oleh proses suksesi. Proses ini berlangsung bertahap sampai akhirnya mencapai tingkat klimaks. Perubahan dan proses suksesi itu, tentunya akan mempengaruhi berbagai kehidupan spesies burung yang menempati daerah tersebut (Partasasmita et al., 2009).

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut : Jumlah spesies dalam suatu daerah mencapai 11 jenis dengan luas petak minimum 2 x 1 m2 = 2 m2. Kerapatan spesies mencapai 10 % dalam 7 luas petak minimum.

DAFTAR REFERENSI

Anwar. 1995. Biologi Lingkungan. Ganexa exact, Bandung. Guritno. 1995. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Rajawali Press, Jakarta. Honu, Y, A. K. Shibi, C. David J. Gibson. 2009. Occurrence Of Nonnative Species DeepIn Natural Areas Of The Shawnee National Forest, Southern Illinois, U.S.A. Natural Areas Journal, 29:177187. Latifah, Siti. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Alam. USU Repository, Sumatera Utara. Lerouxa, S. J. Fiona K.A. Schmiegelowa, Robert, B. Lessardb, Steve G. Cumming. 2007. Minimum Dynamic Reserves: A Framework For Determining Reserve Size In Ecosystems Structured By Large Disturbances. Biological conservation, Vol 138: 464 473. Odum, H. 1998. Fundamentals of ecology. Columbia University Press, Columbia. Partasaamita, R., A. Mardiastuti, D. D. Solihin, R. Widjajakusuma, S. N. Prijono. 2009. Jurnal Biotika, 7(2): 94-107. Soerianegara, I dan A. Indrawan. 1982. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Managemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB, Bogor. Syairifuddin, A. 2011. Identifikasi Plasma Nutfah Vegetasi Hutan Alam Resort Trisula Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). E-jurnal GAMMA, 6(2):77-94. Widiyono, W. Abdulhadi, R. dan Lidon, B. 2005. Model Anakisis Embung Secara Terpadu Meliputi Bagian Hulu, Tengah, dan Hilir. Limnotek, 12(1): 1-9.