Anda di halaman 1dari 21

PERCOBAAN V TOKSISITAS

A. TOKSISITAS AMFETAMIN I. Tujuan Percobaan 1) Mengetahui dan memahami mekanisme kerja yang mendasari manifestasi efek dan toksisitas amfetamin 2) Melihat pengaruh lingkungan terhadap toksisitas amfetamin 3) Memahami bahaya penggunaan amfetamin dan obat sejenis

II.

Tinjauan Pustaka

DEFINISI Obat-obat - Amfetamin - Metamfetamin - Metilendioksimetamfetamin (MDMA, ecstasy atau Adam). Amfetamin bisa disalah gunakan selama bertahun-tahun atau digunakan sewaktu-waktu. Bisa terjadi ketergantungan fisik maupun ketergantungan psikis. Dulu ketergantungan terhadap amfetaamin timbul jika obat ini diresepkan untuk menurunkan berat badan, tetapi sekarang penyalahgunaan amfetamin terjadi karena penyaluran obat yang ilegal. Beberapa amfetamin tidak digunakan untuk keperluan medis dan beberapa lainnya dibuat dan digunakan secara ilegal. Di AS, yang paling banyak disalahgunakan adalah metamfetamin. yang termasuk ke dalam golongan amfetamin adalah:

Penyalahgunaan MDMA sebelumnya tersebar luas di Eropa, dan sekarang telah mencapai AS. Setelah menelan obat ini, pemakai seringkali pergi ke disko untuk triping. MDMA mempengaruhi penyerapan ulang serotonin (salah satu penghantar saraf tubuh) di otak dan diduga menjadi racun bagi sistim saraf.

GEJALA Amfetamin meningkatkan kesiagaan (mengurangi kelelahan), menambah daya konsentrasi, menurunkan nafsu makan dan memperkuat penampilan fisik.

Obat ini menimbulkan perasaan nyaman atau euforia (perasaan senang yang berlebihan). Beberapa pecandu amfetamin adalah penderita depresi dan mereka menggunakan efek peningkat-suasana hati dari amfetamin untuk mengurangi depresinya sementara waktu. Pada atlet pelari, amfetamin bisa memperbaiki penampilan fisik, perbedaan sepersekian detik bisa menentukan siapa yang menjadi juara.

Para pengemudi truk jarak jauh menggunakan amfetamin supaya mereka tetap terjaga.

Selain merangsang otak, amfetamin juga meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung. Pernah terjadi serangan jantung yang berakibat fatal, bahkan pada atlet muda yang sehat. Tekanan darah bisa sedemikian tinggi sehingga pembuluh darah di otak bisa pecah, menyebabkan stroke dan kemungkinan menyebabkan kelumpuhan dan kematian. Kematian lebih mungkin terjadi jika:

- MDMA digunakan dalam ruangan hangat dengan ventilasi yang kurang pemakai sangat aktif secara fisik (misalnya menari dengan cepat)

- pemakai berkeringat banyak dan tidak minum sejumlah cairan yang cukup untuk menggantikan hilangnya cairan. Orang yang memiliki kebiasaan menggunakan amfetamin beberapa kali sehari, dengan segera akan mengalami toleransi Jumlah yang digunakan pada akhirnya akan meningkat sampai beberapa ratus kali dosis awal. Pada dosis tertentu, hampir semua pecandu menjadi psikostik, karena amfetamin dapat menyebabkan kecemasan hebat, paranoia dan gangguan pengertian terhadap kenyataan hidup. Reaksi psikotik meliputi halusinasi dengar dan lihat (melihat dan mendengar benda yang

sebenarnya tidak ada) dan merasa sangat berkuasa. Efek tersebut bisa terjadi pada siapa saja, tetapi yang lebih rentan adalah pengguna dengan kelainan psikiatrik (misalnya skizofrenia). EFEK Efek yang ditimbulkan Amphetamine tipikal digunakan untuk meningkatkan daya kerja dan untuk menginduksi perasaan euforik. Pelajar yang belajar untuk ujian, pengendara truk jarak jauh, pekerja yang sering dituntut bekerja mengejar deadline, dan atlet. Amphetamine merupakan zat yang adiktif. Jenis obatobatan yang tergolong kelompok amphetamine adalah : dextroamphetamine (Dexedrin), methamphetamine dan

methylphenidate (Ritalin). Obat tersebut beredar dengan nama jalanan : crack, ecstasy, ice, crystal meth, speed, shabushabu. Gejala Intoksikasi (keracunan) Sindroma intoksikasi amfetamin serupa dengan intoksikasi kokain, yaitu Takikardia Dilatasi pupil Peninggian atau penurunan tekanan darah Berkeringat atau menggigil Mual dan muntah Penurunan berat badan Agitasi atau retardasi psikomotor Kelemahan otot, depresi pernapasan, nyeri dada, aritmia jantung Konfusi, kejang, diskinesia, distonia, koma Gejala Putus Obat Kecemasan Gemetar Mood disforik Letargi Fatigue Mimpi yang menakutkan Nyeri kepala Berkeringat banyak Kram otot dan lambung Rasa lapar yang tidak pernah kenyang HALUSINOGEN Halusinogen disebut sebagai psikodelik atau psikotomimetik karena disamping menyebabkan halusinasi juga menyebabkan hilangnya kontak dengan realitas dan suatu perluasan serta peninggian kesadaran.

Ketergantungan halusinogen Pemakaian jangka panjang jarang terjadi. Tidak terdapat adiksi fisik, namun demikian adiksi psikologis dapat terjadi walaupun jarang. Hal ini disebabkan karena pengalaman menggunakan LSD berbedabeda dan karena tidak terdapat euforia seperti yang dibayangkan. Gejala Intoksikasi Perilaku maladaptif (kecemasan, paranoid, gangguan dalam pertimbangan, dsb) Perubahan persepsi ( depersonalisasi, ilusi, direalisasi, halusinasi,dsb ) Dilatasi pupil Takikardia Berkeringat Palpitasi Pandangan kabur Tremor Inkoordinasi PHENCYCLIDINE (PCP)

Phencyclidien adalah golongan arylcyclohexylamine yang paling sering disalahgunakan. PCP dikembangkan dan diklasifokasikan sebagai anestetik disosiatif; tetapi

penggunaannya sebagai anestetik pada manusia disertai dengan disorientasi, agitasi,


3

delirium dan halusinai yang tidak menyenangkan saat terbangun. Karena alasan tersebut PCP tidak lagi digunakan sebagai anestetik pada manusia. Dibeberapa negara digunakan sebagai anestetik dalam kedokteran hewan. Nama populer dari PCP adalah : Angel dust, crystal, peace, supergrass (jika dibubuhi padarokokganja), hog, rocket fuel, dan horse tranquilizer.

Efek yang ditimbulkan dan Gejala Klinis Efek PCP adalah mirip dengan efek halusinogen seperti lysergic acid diethylamide (LSD); tetapi karena farmakologi yang berbeda dan adanya efek klinis yang berbeda diklasifikasikan sebagai kategori obat yang berbeda. Ketergantungan secara fisik jarang ditemui, tetapi ketergantungan secara psikologis sering dialami oleh pengguna PCP. Orang yang baru saja menggunakan PCP seringkali menampilkan gejala : Menjadi tidak komunikatif, tampak pelupa dan fantasi yang aktif Tempo yang cepat Euforia Badan yang hangat Rasa geli dan sensasi melayang penuh kedamaian Perasaan depersonalisasi Isolasi dan menjauhkan diri dari orang lain Halusinasi visual dan auditoris Gangguan persepsi tempat dan waktu Perubahan citra tubuh yang mencolok Konfusi dan disorganisasi pikiran Kecemasan Menjadi simpatik, bersosialisasi dan suka bicara pada suatu saat dan bersikap bermusuhan pada waktu lainnya Hipertensi, nistigamus dan hipertermia Melakukan gerakan memutar kepala, menghentak, menyeringai Kekakuan otot Muntah berulang Bicara dan menyanyi berulang Lekas marah, paranoid Suka berkelahi dan menyerang secara irasional Bunuh diri atau membunuh Delirium Gangguan psikotik Gangguan mood Gangguan kecemasan SEDATIF, HIPNOTIK ATAU ANSIOLITIK Sedatif adalah obat yang menurunkan ketegangan subyektif dan menginduksi ketenangan mental. Istilah "sedatif"

sesungguhnya adalah sama dengan dengan istilah "ansiolitik", yaitu obat yang menurunkan kecemasan. Hipnotik adalah obat yang menginduksi tidur. Jika sedatif dan ansiolitik diberikan dalam dosis tinggi, obat tersebut dapat menginduksi tidur seperti yang disebabkan oleh hipnotik. Sebaliknya jika hipnotik diberikan dalam dosis rendah , obat dapat menginduksi sedasi pada siang hari seperti yang disebabkan oleh sedatif atau ansiolitik. Di dalam literatur lama, sedatif, ansiolitik dan hipnotik dikelompokkan bersama sama sebagai tranquilizer minor.

Jenis obatobatan yang tergolong kelompok sedatifhipnotik atau ansiolitik adalah


4

benzodiazepin, seperti : Diazapam (Valium) Barbiturat contoh secobarbital (Seconal) Qualone (Quaalude) Mepobramate (Equanil) Dana glutethimide (Doriden). Obatobatan ini sebenarnya diresepkan sebagai antipireptik, pelemas otot, anestetik, dan adjuvan anestetik. Semua obat didalam kelas ini dan alkohol memiliki toleransi silang dan efeknya adalah adiktif. Ketergantungan fisik dan psikologis berkembang terhadap semua obatobatan ini, dan semuanya disertai gejala putus obat. 6. Zat Adiktif lain Beberapa jenis zat adiktif lain : INHALANSIA Zat inhalan tersedia secara legal, tidak mahal dan mudah didapatkan. Oleh sebab itu banyak dijtemukan digunakan oleh kalangan sosial ekonomi rendah. Contoh spesifik dari inhalan adalah bensin, vernis, cairan pemantik api, lem, semen karet, cairan pembersih, cat semprot, semir sepatu, cairan koreksi mesin tik (tipEx), perekat kayu, bahan pembakar aerosol, pengencer cat. Inhalan biasanya dilepaskan ke dalam paruparu dengan menggunakan suatu tabung. Gambaran Klinis Dalam dosis awal yang kecil inhalan dapat menginhibisi dan menyebabkan perasaan euforia, kegembiraan, dan sensasi mengambang yang menyenangkan. Gejala psikologis lain pada dosis tinggi dapat berupa rasa ketakutan, ilusi sensorik, halusinasi auditoris dan visual dan distorsi ukuran tubuh. Gejala neurologis dapat termasuk bicara yang tidak jelas (menggumam, penurunan kecepatan bicara, dan ataksia) . Penggunaan dalam waktu lama dapat menyebabkan iritabilitas, labilitas emosi dan gangguan ingatan. Sindroma putus inhalan tidak sering terjadi, kalaupun ada muncul dalam bentuk susah tidur, iritabilitas, kegugupan, berkeringat, mual, muntah, takikardia, dan kadangkadang disertai waham dan halusinasi. Efek yang merugikan Efek merugikan yang paling serius adalah kematian yang disebabkan karena depresi pernafasan, aritmia jantung, asfiksiasi, aspirasi muntah atau kecelakaan atau cedera. Penggunaan inhalan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal yang ireversibel dan kerusakan otot yang permanen. KAFEIN Kafein, paling sering ditemukan dalam bentuk kopi dan teh, adalah zat psikoaktif yang paling luas digunakan. Kafein dapat bertindak sebagai pendorong yang positif, namun dapat menimbulkan ketergantungan psikologis. PENGOBATAN Gejala yang berlawanan dengan efek amfetamin terjadi jika amfetamin secara tiba-tiba

dihentikan penggunannya. Pengguna akan menjadi lelah atau mengantuk, yang bisa berlangsung selama 2-3 hari setelah penggunaan obat dihentikan. Beberapa pengguna sangat cemas dan gelisah. Pengguna yang juga menderita depresi bisa menjadi lebih depresi jika obat ini berhenti digunakan. Mereka menjadi cenderung ingin bunuh diri, tetapi selama beberapa hari mereka mengalami kekurangan tenaga untuk melakukan usaha bunuh diri.

Karena itu pengguna menahun perlu dirawat di rumah sakit selama timbulnya gejala putus obat. Pada pengguna yang mengalami delusi dan halusinasi bisa diberikan obat anti-psikosa (misalnya klorpromazin), yang akan memberikan efek menenangkan dan mengurangi ketegangan. Tetapi obat anti-psikosa bisa sangat menurunkan tekanan darah.

Biasanya lingkungan yang tenang dan mendukung bisa membantu pemulihan pengguna amfetamin.

B. TOKSISITAS SIANIDA

I. Tujuan Percobaan a. Mengetahui dan memahami mekanisme terjadinya manifestasi keracunan sianida. b. Agar mahasiswa mengerti mekanisme kerja antidotum untuk sianida. c. Agar mahasiswa terampil menangani kasus keracunan CN dengan memilihkan antidote yang tepat. II. Landasan Teori Sianida merupakan racun yang bekerja cepat, berbentuk gas tak berbau dan tak berwarna, yaitu hidrogen sianida (HCN) atau sianogen khlorida (CNCl) atau berbentuk kristal seperti sodium sianida (NaCN) atau potasium sianida (KCN). Hidrogen sianida merupakan gas yang mudah dihasilkan dengan mencampur asam dengan garam sianida dan sering digunakan dalam pembakaran plastik, wool, dan produk natural dan sintetik

lainnya. Keracunan hidrogen sianida dapat menyebabkan kematian, dan pemaparan secara sengaja dari sianida (termasuk garam sianida) dapat menjadi alat untuk melakukan pembunuhan ataupun bunuh diri. Akibat racun sianida tergantung pada jumlah paparan dan cara masuk tubuh, lewat pernapasan atau pencernaan. Racun ini menghambat sel tubuh mendapatkan oksigen sehingga yang paling terpengaruh adalah jantung dan otak. Paparan dalam jumlah kecil mengakibatkan napas cepat, gelisah, pusing, lemah, sakit kepala, mual dan muntah serta detak jantung meningkat. Paparan dalam jumlah besar menyebabkan kejang, tekanan darah rendah, detak jantung melambat, kehilangan kesadaran, gangguan paru serta gagal napas hingga korban meninggal. Dosis lethal (LD 50) dari komponen ini adalah sekitar 2 mg/Kg, dengan menelan 5075 mg dari garam cyanida ini dapat menyebabkan sulit bernafas dalam waktu beberapa menit. Hallogen cyanida adalah gas yang mengiritasi dan dapat menyebabkan oedema paru-paru, air mata kelur terus dan hipersalivasi. Kebanyakan plastik dan serat acrylic dapat mengeluarkan gas cyanida bila dibakar. Gas tersebut dapat terhisap melalui pernfasan terabsorpsi melalui kulit dan dapat menyebabkan terjadinya kematian. Sumber lain dari keracunan cyanida ialah dengan memakan/termakan cyanogenik glycosida yang terdapat dalam biji dari buaha-buahan tertentu. Amygdalin, adalah salah satu senyawa cyanogenik glykosida yang terdapat dalam biji buah apel, peach, plum, apricot, cherry dan biji almond, dimana amygdalin di hidrolisa menjadi hidrogen cyanida. Mekanisme toksisitas sianida Sianida menjadi toksik bila berikatan dengan trivalen ferric (Fe+++). Tubuh yang mempunyai lebih dari 40 sistem enzim dilaporkan menjadi inaktif oleh cyanida. Yang paling nyata dari hal tersebut ialah non aktif dari dari sistem enzim cytochrom oksidase yang terdiri dari cytochrom a-a3 komplek dan sistem transport elektron. Bilamana cyanida mengikat enzim komplek tersebut, transport elektron akan terhambat yaitu transport elektron dari cytochrom a3 ke molekul oksigen di blok. Sebagai akibatnya akan menurunkan penggunaan oksigen oleh sel dan mengikut racun PO2. Sianida dapat menimbulkan gangguan fisiologik yang sama dengan kekurangan oksigen dari semua kofaktor dalam cytochrom dalam siklus respirasi. Sebagai akibat
7

tidak terbentuknya kembali ATP selama proses itu masih bergantung pada cytochrom oksidase yang merupakan tahap akhir dari proses phoporilasi oksidatif. Selama siklus metabolisme masih bergantung pada sistem transport elektron, sel tidak mampu menggunakan oksigen sehingga menyebabkan penurunan respirasi serobik dari sel. Hal tersebut menyebabkan histotoksik seluler hipoksia. Bila hal ini terjadi jumlah oksigen yang mencapai jaringan normal tetapi sel tidak mampu menggunakannya. Hal ini berbeda dengan keracunan CO dimana terjadinya jarinngan hipoksia karena kekurangan jumlah oksigen yang masuk. Jadi kesimpulannya adalah penderita keracunan cyanida disebabkan oleh ketidak mampuan jaringan menggunakan oksigen tersebut. Gejala klinis Sianida menyebabkan keracunan yang sangat cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu beberapa menit. Terjadinya gejala keracunan cyanida bergantung pada jenis cyanidanya. Gas hidrogen cyanida adalah paling beracun dan gejalanya timbul dalam beberapa detik dan kematian terjadi dalam beberapa menit. Bila garam cyanida termakan, gejalanya tidak cepat terlihat, karena bahan kimia tersebut diabsorpsi secara lambat. Derajat keparahan bergantung pada jumlah/dosis yang masuk kedalam tubuh. Gejala yang terlihat pada keracunan sedang adalah sebatas pada kelemahan penderita, sakit kepala, mual dan muntah. Gejala tersebut terjadi dengan cepat dan terlihat tidak spesifik. Pada umumnya hipoksia seluler yang disebabkan oleh keracunan cyanida dapat menyebabkan kematian sel, tetapi kekurangan oksigen pada sel tertentu pada aortik dan karotik adalah penyebab utama dari kematian sel tersebut. Hal ini menyebabkan gejala piperpnea, yang diikuti dengan dyspnea. Terjadinya nausea dan vomitus mungkin disebabkan karena iritasi pada mukosa gastro-intestinal oleh garan cyanida tersebut.

Begitu konsentrasi cyanida dalam darah meningkat, laju respirasi menjadi lambat (menurun) dan terjadi sesak nafas, tetapi cyanosis biasanya tidak ditemukan. Konsentrasi cyanida dalam darah meningkat, kekurangan oksigen pada otak terjadi dan timbul kejang-kejang hipoksia dan kemudian diikuti dengan kematian karena nafas terhenti.

Pengobatan Pada kejadian keracunan akut sulit dapat ditolong. Pengobatan terutama ditujukan untuk menurunkan jumlah cyanida yang terikat dalam jaringan. Antidotum yang dapat digunakan yaitu : Natrium Tiosulfat Berupa hablur besar, tidak berwarna, atau serbuk hablur kasar. Mengkilap dalam udara lembab dan mekar dalam udara kering pada suhu lebih dari 33C. Larutannya netral atau basa lemah terhadap lakmus. Sangat mudah larut dalam air dan tidak larut dalam etanol. Sodium tiosulfat merupakan donor sulfur yang mengkonversi sianida menjadi bentuk yang lebih nontoksik, tiosianat, dengan enzyme sulfurtransferase, yaitu rhodanase. Tidak seperti nitrit, tiosianat merupakan senyawa nontoksik, dan dapat diberikan secara empiris pada keracunan sianida. Penelitian dengan hewan uji menunjukkan kemampuan sebagai antidot yang lebih baik bila dikombinasikan dengan hidroksokobalamin. Rute utama detoksifikasi sianida dalam tubuh adalah mengubahnya menjadi tiosianat oleh rhodanase, walaupun sulfurtransferase yang lain, seperti 37 beta-merkaptopiruvat sulfurtransferase, dapat juga digunakan. Reaksi ini memerlukan sumber sulfan sulfur, tetapi penyedia substansi ini tebatas. Keracunan sianida merupakan proses mitokondrial dan penyaluran intravena sulfur hanya akan masuk ka mitokondria secara perlahan. Natrium tiosulfat mungkin muncul sendiri pada kasus keparahan ringan sampai sedang, sebaiknya diberikan bersama antidot lain dalam kasus keracunan parah. Ini juga merupakan pilihan antidot saat diagnosis intoksikasi sianida tidak terjadi, misalnya pada kasus penghirupan asap rokok. Natrium tiosulfat diasumsikan secara intrinsic nontoksik tetapi produk detoksifikasi yang dibentuk dari sianida, tiosianat dapat menyebabkan toksisitas pada pasien dengan kerusakan ginjal. Pemberian natrium tiosulfat 12.5 g i.v. biasanya diberikan secara empirik jika diagnosis tidak jelas. Natrium tiosulfat merupakan komponen kedua dari antidot sianida. Antidot ini diberikan sebanyak 50 ml dalam 25 % larutan. Tidak ada efek samping yang ditimbulkan oleh tiosulfat, namun tiosianat memberikan efek samping seperti gagal ginjal, nyeri

perut, mual, kemerahan dan disfungsi pada SSP. Dosis untuk anak-anak didasarkan pada berat badan. Natrium Nitrit Nitrit menyebabkan methemoglobin dengan sianida membentuk substansi nontoksik sianmethemoglobin. Methemoglobin tidak mempunyai afinitas lebih tinggi pada sianida daripada sitokrom oksidase, tetapi lebih potensial menyebabkan methemoglobin daripada sitokrom oksidase. Efek samping dari penggunaan nitrit meliputi pembentukan formasi methemoglobin, vasodilatasi, hipotensi, dan takikardi. Mencegah pembentukkan formasi yang cepat, monitoring tekanan darah, dan pemberian dosis yang tepat akan mengurangi terjadinya efek samping. Ketika dilakukan terapi dengan nitrit, lihat konsentrasi hemoglobin. Tetapi jangan menunda terapi ketika menunggu hasil pengukuran kadar hemoglobin. Sodium nitrit injeksi dan amil nitrit dalam bentuk ampul untuk inhalasi merupakan komponen dari antidot sianida. Kegunaan nitrit sebagai antidot sianida bekerja dalam dua cara, yaitu : nitrit mengoksidasi hemoglobin, yang kemudian akan mengikat sianida bebas, dan cara yang kedua yaitu meningkatkan detoksifikasi sianida endothelial dengan menghasilkan vasodilasi. Inhalasi dari satu ampul amil nitrit menghasilkan tingkat methemoglobin sekitar 5%. Pemberian dosis tunggal nitrit secara intravena dapat menghasilkan tingkatmethemoglobin sekitar 20-30%. III. Bahan dan Alat

A. Bahan : Mencit NaCl fisiologis Amfetamin NaCN Na2S203 NaNO2 B. Alat : Jarum suntik Stopwatch Timbangan hewan
10

Kandang hewan tunggal

IV.

Cara Kerja A. TOKSISITAS AMFETAMIN

1) Timbang dan tandai hewan untuk tiap kelompok 2) Hitung VAO untuk masing-masing hewan. untuk kelompok 1 menggunakan amfetamin dengan konsentrasi 10 mg/kg BB, kelompok 2 dan 3 menggunakan amfetamin dengan konsentrasi 20 mg/kg BB. Setelah dsuntikkan, amati dan catat waktu terjadinya manifestasi efek amfetamin pada hewan percobaan. 3) Bahas hasil percobaan saudara dan ambil suatu kesimpulan.

B. TOKSISITAS SIANIDA

1) Timbang dan tandai hewan untuk tiap kelompok 2) Hitung VAO untuk masing-masing hewan. 3) Selanjutnya lakukan hal seperti tercantum pada table 4) Amati gejala yang timbul,catat waktu timbulnya gejala tersebut 5) Tabelkan hasil saudara 6) Bahas hasil percobaan saudara dan ambil suatu kesimpulan kel 1 Mencit 1 Mencit 2

NaNO2 0,2 % 20 mg/kgBB sc,lalu berikan secara NaCL Fis 0,2 ml/20gbb sc, NaCN 0,2 % 20 mg/kgbb oral lalu berikan NaCN

20mg/kgbb oral 2 NaCN 0,2 % 20 mg/kgbb oral NaCN 0,2 % 20 mg/kgbb sc

NaNO2 0,2 % 20 mg/kgbb sc,lalu berikan NaCN 0,2 NaCN 0,2 % 20mg/kgbb sc % 20mg/kgbb oral dan NaS2O3 0,2 % 20mg/kgbb dan NaCL fis 0,2 ml/20gbb ip ip

NaNO2 0,2 % 20mg/kgbb oral, lalu berikan NaCN NaCN 0,2 % 20 mg/kgbb 0,2 % 20 mg/kgbb sc dan Na2S2O2 0,2% 20 oral dan Na2S2O3 0,2 % 20 mg/kgbb ip mg/kgbb ip Control

Control

11

V.

Hasil dan Pembahasan A. Hasil Pengamatan kelompok 6 BB mencit = 35 gr Konsentrasi NaCN = 2 mg/cc Dosis NaCN = 20 mg/kgbb Konsentrasi Na2S2O3 = 2 mg/cc Dosis Na2S2O3 = 20 mg/kgbb Na2S203 secara oral: VAO = 0,0345kg x 20 mg/kg BB 2 mg/cc = 0,35 ml NaCn secara ip : VAO = 0,0345kg x 20 mg/kg BB 2 mg/cc = 0,35 ml Hasil pengamatan toksisitas amfetamin Waktu (menit) Gejala kel 1 Aktivitas motorik meningkat Laju pernafasan meningkat Grooming / menggaruk-garuk Melompat Bertengkar Rangsangan terhadap bunyi Tremor Konvulsi Mati Buku berdiri Keluar air liur 01.25 01.43 kel 2 04.22 05.44 kel 3 40.00 33.00 02.51 04.09 02.21 -

01.56 01.37 05.13 02.42 -

12

Toksisitas Sianida Waktu Gejala Kel 1 Kel 2 Kel 3 Kel 4 Kel 5 Kel 6

Tenang Sesak nafas Mencacah perut Mata redup,ekor pucat Geliat Hiperaktiv Mengusap muka Diam ditempat Perut dan dada Letih nafas perut Menggaruk mulut Gemetaran Biru,mulut kering Telinga menempel Respon sakit berkurang urinasi Tremor Kejang Mati

03.02 -

11.00 14.00

01.00 20.00 01.10 02.00 02.00 01.15 01.27 18.20 21.00 03.45

03.00 03.00 03.00 13.57 03.00 -

01.37 03.21 08.51 10.01 06.25 09.14 22.29 11.32 11.25 01.46

02.15 15.00 24.00 26.00

23.00 03.30

46.00 05.00 25.00 20.00 01.23

01.26 -

02.47 01.31 01.28 12.54

25.00 15.00 -

20.32 -

35.00 02.43 01.23

02.30 -

06.51 01.15 11.24 -

26.00 01.25 03.00 01.46 05.32 45.00 02.12 02.15

09.51 05.30 -

35.00 -

02.48

20.00 24.48

15.45

01.52 29.00 15.49 04.10 -

50.00 50.00 01.20 48.00 48.00 01.08 01.45 01.45 08.27

B. Pembahasan Pada percobaan di atas, kelompok 6 menguji toksisitas sianida dan menggunakan satu ekor mencit. obat yang diberikan berupa NaCN yang disuntikkan secara oral dan Na2S2O3 yang disuntikkan secara ip. Pada mencit kelompok 6 diberikan obat NaCN secara oral pada mencit dan setelah itu diberikan Na2S2O3 secara ip.
13

Pada praktikum farmakologi kali ini kami melakukan percobaan uji antidotum yang mana pada praktikum kali ini kami menggunakan NaCN sebagai zat penyebab toksik dan menggunakanantidotum Na thiosulfat.Percobaan terapi antidote metode tidak khas Na Thiosulfat bertujuan agar mahasiswa mampu memahami strategi terapi antidot spesifik berdasarkan contoh kemampuan dari natrium thiosulfat dalam menawarkan racun sianida. Hewan uji yang digunakan adalah mencit galur tertentu, sehat, jantan atau betina umur dewasa .Berdasarkan kondisi yang hampir seragam tersebut makadiharapkan hasil percobaan dapat sesuai dengan teori yang ada, karena variablevariabel yangmempengaruhi hasil sudah dikendalikan dari awal. Sebelum digunakan untuk pengujian, hewanuji harus dipuasakan terlebih dahuli minimal 18 jam dengan tetap di beri minum secukupnya.Hal ini tersebut dilakukan dengan harapan agar efek yang di timbulkan oleh racun sianida danantidotumnya menjadi lebih optimal dan tidak di pengaruhi oleh factor makanan. Pada percobaan ini , mencit yang disuntik sediaan NaCN secara oral dan sesaat kemudian mencit mengalami sesak nafas.Efek utama yang dihasilkan oleh sianida adalah mempengaruhi pernapasan, di manaoksigen dalam darah terikat oleh senyawa sianida dan terganggunya sistem pernapasan, badan mencit terasa lemas, kejang, ekor pucat, diam ditempat, letih nafas perut, gemetaran, biru, mulut kering dan kejang. Racun sianida yang terpejan dalam tubuh dapat breaksi dengan komponen besi dalamenzim sitokrom oksidase mitokondria, sehingga enzim tersebut menjadi tidak aktif (dengan pembantukan kompleks antara ion sianida dengan besi bervalensi tiga, akan memblok kerjaenzim sitokrom mitokondria, sehingga oksigen darah tidak dapat lagi di ambil oleh sel), padahalsystem enzim tersebut sangat di perlukan dalam berlangsunganya metabolisme aerob. Karena ituwujud/gejala keracunan yang timbul oleh keracunan sianida berturut-turut adalah: sianosis,kejang, gagal nafas, koma, dan berakhir pada kematian. Gejala sianosis dapat terlihat darimembirunya pembuluh darah di ekor mencit. Gejala kejang dapat diamati dari gerakan mencityang menggosokkan perutnya kebawah dengan kaki belakang ditarik kebelakang atau jikamencit merasa sangat kekurangan O2, maka gejala yang terlihat adalah mencit melompat-lompat atau hiperaktif. Karena kekurangan O2 dalam tubuh maka gejala selanjutnya adalah gagal nafas(ambilan nafas yang sangat cepat), dan koma.
14

Terapi antidotum spesifik yang dilakukan adalah dengan pemberian Na2S2O3 (Natrium tiosulfat) secara intra peritoneal agar efek penghambatan racun dapat dicapaidengan cepat. Sianida yang terpejan didalam tubuh dapat bereaksi dengan komponen besi dalamenzim sitokrom oksidase mitokondria. Hasil reaksi oksidasi tersebut adalah pigmen berwarnacoklat kehijauan sampai hitam yang disebut methehemoglobin. Ion Feri Sianida dalammethehemoglobin akan berikatan dengan sianida dalam plasma membentuk sian-methemoglobinyang menyebabkan ikatan sianida dalam sitokrom oksidase terputus sehingga enzim pernafasanyang semua terblok tersebut menjadi teregenerasi kembali.Dimana Na nitrit lebih berperan dalam pembebasab hemoglobin pada fase absorbsi. Dan Na thiosulfat berperan dalam pembebasan hemoglobin pada fase distribusi.Dimana fasedistribusi di tandai pada saat mencit tersebut kejang dan fase absorbsi di tandai pada saat mencittersebut sudah mengalami sianosis yaitu pada saat mencit tersebut berwarna biru karena sudah banyaknya darah yang sudah terikat dengan sianida. Dari hasil pengamatan pada tabel diperoleh bahwa pada pada pemberian antidotum Na Thiosulfat di peroleh hasil bahawa pada pemberian antidotum Na Thiosulfat mencit adalah terlambat hal ini menunjukkan bahwa Na Thiosulfat tidak dapat dapat menolong keracunan dalam fase distribusi karena untuk menentukan perbedaan antara sianosis dan kejang sangat tipis sekali.sehingga sianida yang diperkirakan sudah menyebar keseluruh tubuh mencit . Sedangkan apabila di berikan Na Thiosufat maka Na thiosulfat akan tidak dapat membebasakan darah dari keterikatannya pada sianida sehingga mencit kekurangan oksigen dan mati. Adapun kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan pengambilan data tersebut kurang baik antara lain: kesalahan pada saat penyuntikan secara peritonial kemungkinan kesalahan yangmungkin terjadi adalah penyuntikan secara peritonial yanag salah. Suntikan tersebut tidak masuk dalam rongga perut tapi masuk secara subkutan sehingga antidotum tersebut pun menjadi kurang berarti.kesalahan lain yang mengakibatakan data menjadi kurang baik adalah kesalahan pada saat pemberian antidotum tersebut, karena perbedaan antara sianosis dan kejang sangat tipis sehinggakemungkinan kesalahan pemberian sehingga pada pemberian Na Nitrit tersebut menjadi tidak berarti karena sianida sudah masuk dalam tahap distribusi. Kesalahan pencatatan waktu jugamungkin

15

terjadi karena perbedaan tiap gejala efek toksik sangan tipis sehingga pencatata waktuyang kurang tepat juga dapat mengakibatkan data yang di dapat menjadi kurang baik

Mekanisme kerja dari racun sianida yaitu menghambat oksidasi glukosa dalam sel dengan membentuk kompleks stabil dengan sitokrom oksidase.Pengaruh lain yang disebabkanoleh keracunan sianida adalah muntah dan mengganggu

penglihatan.Pemberian antidota Na2S2O3 0,2% dapat menghubungkan kembali proses respirasi sel yang telah terputus akibat pengaruh dari senyawa sianida. Pemberian antidota yang terlambat dapat menyebabkan kematian pada kelinci.Senyawa sianida dapat hilang oleh proses pemanasan. Sianida dapat dikurangitoksisitasnya agar tidak membahayakan kesehatan, yaitu dengan mengikat asam aminoyang mengandung unsur S, seperti metionin dan sistein yang terdapat pada protein. Didalam tubuh, sianida langsung dinetralkan oleh sulphur (S) sehingga terbentuk iontiosianat (CNS). Namun pembentukan CNS ini akan mempengaruhi penyerapan iodiumoleh kelenjar tiroid.

Sianida merupakan garam yang bersifat racun keras. Sianida jika diberikan ke dalam tubuh maka akan membentuk ion kompleks dengan ion Ferri yang menyebabkan gagalnya pernafasan sel dan akan menimbulkan kematian. Toksisitas sianida disebabkan karena kemampuannya untuk membentuk kompleks dengan ion feri dari sitokrom oksidase.dalam keadaan normal enzim sitorom oksidase berfungsi dalam sirkulasi oksigen dalam darah dan jaringan. bila kerja enzim tersebut terganggu , maka pertukaran oksigen dengan karbondioksida dari darah kejaringan tergaanggu sehingga kadar karbondioksida dalam jaringan mening16

kat dan mengakibatkanjaringan kekurangan oksigen ( yang berfungsi untuk faal tubuh ). Metahemoglobin adalah hormone yang berkemampuan untuk mengikat sianida sehingga sianida bebas sitokrom oksidase sehingga membentuk sianmethemoglobin yang berwaarna kemerahan. kemampuan tergantung pada afinitasnya dimana aktivitas methemoglobin lebih tinggi untuk mengikat sianida dibandingkan sitokrom oksidase sehingga methemoglobin dapat memecah ikatan-ikatan sianida sitokrom oksidase dan membentuk ikatan sianidamethemoglobin. Pada praktikum ini obat yang dapat membentuk methemoglobin atau sebagai antidote adalah Na2S203 dan tujuan dari perlakuan ini adalah untuk menghasilkan konsentrasi methemoglobin yang tinggi dengan pemberian nitrit. dan methemoglobin berkompetisi dengan sitokrom oksidase untuk berikatan dengan sianida. detoksikasi yang sebenarnya dicapai dengan pemberian tiosulfat yang dibawah pengaruh enzim rhodonase bereaksi dengan sianida membentuk tiosulfat (CSN) ,senyawa yang relative tidak toksik dan segera dieksresikan dalam urin.

VI.

Kesimpulan o NaCN dengan dosis 0,2 %( untuk mencit ) sudah mampu menimbulkan efek toksik terhadap hewan uji mencit o Gejala- gejala keracunan sianida yang teramati pada hewan uji mencit berturutturutyaitu: sianosis, kejang, gagal nafas, dan mati. o Hasil perhitungan dengan cara analisis varian satu jalan diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna pada saat kejang dan tidak ada perbedaan yang bermakna pada saat sianosis o Keracunan sianida dapat diamati dengan adanya gangguan sistem pernapasan,seperti sesak nafas. Keracunan ini dapat diatasi dengan pemberian antidota yang tepatkarena keterlambatan pemberian antidota dapat menyebabkan kematian. Sianida dapat menimbulkan banyak gejala pada tubuh, termasuk pada tekanandarah, penglihatan, paru, saraf pusat, jantung, sistem endokrin, sistem otonom dan sistemmetabolisme. Biasanya penderita akan mengeluh timbul rasa pedih dimata karena iritasidan kesulitan bernafas karena mengiritasi mukosa saluran pernafasan.
17

o Tanda awal dari keracunan sianida adalah hiperpnea sementara, nyeri kepala, dispnea,kecemasan, perubahan perilaku seperti agitasi dan gelisah, berkeringat banyak, warnakulit kemerahan, tubuh terasa lemah dan vertigo juga dapat muncul o Tanda akhir sebagai ciri adanya penekanan terhadap CNS adalah koma dandilatasi pupil, tremor, aritmia, kejang-kejang, koma penekanan pada pusat pernafasan,gagal nafas sampai henti jantung, tetapi gejala ini tidak spesifik bagi mereka yangkeracunan sianida sehingga menyulitkan penyelidikan apabila penderita tidak mempunyairiwayat terpapar sianida.

18

Jawaban Pertanyaan 1.Jelaskan mekanisme kerja yang mendasari efek farmakologi amfetamin ? 2.Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi toksisitas amfetamin ? 4.Bila terjadi keracunan, obat apa yang digunakan untuk mengatasinya? Jelaskan! Jawab : 1. Mekanisme kerja amfetamin pada susunan saraf pusat dipengaruhi oleh

pelepasan biogenik amine yaitu dopamin, norepinefrin dan serotonis atau ketiganya dari tempat penyimpanan pada presinap yang terletak pada akhiran saraf. Efek yang dihasilkan dapat melibatkan neurotransmitter atau sistim monoamine oxidase (MAO) pada ujung presinaps saraf. Mekanisme toksisitas dari amfetamin terutama melalui aktivitas sistim saraf simpatis melalui situmulasi susunan saraf pusat, pengeluaran ketekholamin perifer, inhibisi re uptake katekholamine atau inhibisi dari monoamin

aksidase. Dosis toksik biasanya hanya sedikit diatas dosis biasa. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi toksisitas : Dosis Rute pemberian kecepatan distribusi suatu bahan toksik jenis dan kecepatan metabolismenya

4.Mengatasi keracunan : 1. Tindakan emergensi dan suportif Mempertahankan fungsi pernafasan Terapi agitasi: Midazolam 0,05-0,1 mg/Kg IV perlahan-lahan atau 0,1-0,2 mg/kg IM; Diazepam 0,1-0,2 mg/kg IV perlahan-lahan; Haloperidol 0,1-0,2/kg IM atau IV perlahan-lahan

19

Terapi kejang: Diazepam 0,1-0,2 mg/kg BB IV; Phenitoin 15-20mg/kg BB infus dengan dosis 25-50 mg/menit; pancuronium dapatdigunakan bila kejang tidak teratasi terutama dengan komplikasiasidosis dan atau rabdomiolisis Terapi coma Awasi suhu, tanda vital dan EKG minimal selama 6 jam Terapi spesifik dan antidotum, pada amfetamine tidakada antidotuM Khusus Terapi hipertensi: phentolamine atau nitroprusside Terapi tachiaritmia: propanolol atau esmolol Terapi hiperthermia: bila gejala ringan terapi dengan kompres dingin atau sponging bila suhu lebih dari 40oC atau peningkatan suhu berlangsung sangat cepat terapi lebih agresif dengan menggunakan selimut dingin atau ice baths. Bila hal ini gagal dapat digunakan Dantrolene. Trimethorfan 0,3-7 mg/menit IV melalui infus Terapi hipertensi dengan bradikardi atau talhikardi bila ringan biasanya tidak memerlukan obat-obatan. Hipertensi berat (distolik > 120 mmHg) dapat diberikan terapi infus nitroprusid atau obat-obat lain seperti propanolol, diazoksid, khlorpromazine, nifedipin dan fentolamin ! Gejala psikosa akut sebaiknya diatasi dengan supportive environment dan evaluasi cepat secara psikiatri. Gejala yang lebih berat dapat diberikan sedatif dengan khlorpromazin atau haloperidol. 2. Dekontaminasi Dekontaminasi dari saluran cerna setelah penggunaan amfetamine tergantung pada jenis obat yang digunakan, jarak waktu sejak digunakan, jumlah obat dan tingkat agitasi dari pasien. Pada pasien yang mempunyai gejala toksik tetapi keadaan sadar berikan activated charcoal 30-100 gr pada dewasa dan pada anak-anak 1-2 gr/kg BB diikuti atau ditambah dengan pemberian katartik seperti sorbitol.
20

VII.

Daftar Pustaka

Donatus, A.Imono.2001. Toksikologi Dasar .Yogjakarta:Universitas Gajah Mada Lu, Frank .1995.Toksikologi Dasar: asas, organ sasaran, dan penilaian risiko. Penerjem hEdi Nugroho. Jakarta: UI-Press. Donatus,I.A.1997.Makalah Penanganan dan Pertolongan Pertama Keracunan

BahanBerbahaya, Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Farmasi . UniversitasGadjah Mada: Yogyakarta Loomis, I.A., 1978, Essentiale of Toxycologi, diterjemahkan oleh Imono Argo Donatus,Toksikologi Dasar, Edisi III, IKIP Semarang Press, Semarang Lu, F.C., 1995.Toksikologi Dasar : Asas, Organ Sasaran dan Penilaian

Resiko.diterjemahkan oleh Edi Nugroho, Edisi II. UI Press: JakartaUtama

21