Anda di halaman 1dari 11

Penyuluhan

PENYAKIT JANTUNG PARU

Di susun oleh:

Nama : RINA S.Ked Nim : 110.2008.215 Pembimbing : dr. Syarif H, Sp.Jp

KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN YARSI Agustus 2012

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb, Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan materi penyuluhan yang berjudul Penyakit Jantung Paru. Penyuluhan ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas dalam menempuh kepaniteraan klinik di bagian Ilmu penyakit dalam di RSUD Serang. Dalam penulisan makalah ini penulis tidak terlepas dari kesulitan dan hambatan yang dihadapi, namun berkat pertolongan dari berbagai pihak makalah ini dapat terwujud. Tidak lupa ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan setinggitingginya kepada dr.Syarif H Sp.JP yang telah bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk memberikan petunjuk, bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan makalah ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang telah membantu. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penulis. Meskipun demikian, penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari seluruh pihak demi kesempurnaan makalah ini. Serang, Agustus 2012

RINA

PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyakit jantung paru Istilah penyakit jantung paru pertama kali dikenalkan pada tahun 1931 oleh Dr. Paul D. White. Pada tahun 1963 komite ahli WHO mengusulkan sebuah definisi untuk penyakit jantung paru yakni, pembesaran bilik kanan jantung yang diakibatkan oleh penyakit yang mengganggu fungsi dan atau struktur paru, tetapi gangguan paru tersebut bukan akibat penyakit yang mengenai jantung sisi kiri seperti pada penyakit jantung bawaan. Jadi penyakit jantung paru merupakan kelainan pada bagian jantung kanan yang berfungsi untuk memompakan darah ke paru disebabkan oleh kelainan pada paru-paru itu sendiri. Beberapa pendapat mengatakan secara umum kelainan pada paru tersebut akan mengakibatkan hipertensi paru dimana meningkatnya tekanan yang dibutuhkan jantung untuk memompakan darah ke paru. B. Penyebab dan proses terjadinya Penyakit jantung paru Penyebab terjadinya penyakit jantung paru adalah adanya kelainan baik dari perubahan struktur, maupun fungsi dan kelainan pada pembuluh darah di paru. Banyak sekali penyakit yang dapat menyebabkan kelainan tersebut namun berdasarkan penelitian PPOK adalah penyebab yang tersering. PPOK adalah suatu penyakit dimana terjadi hambatan aliran udara di saluran pernafasan yang tidak bisa sembuh kembali, biasanya terjadi sebagai respon paru terhadap zat-zat berbahaya yang di konsumsi terlalu lama, seperti asap rokok dll. Termasuk dari PPOK adalah bronchitis kronis

atau radang dari saluran paru dan emfisema atau perubahan struktur paru dan kerusakan saluran pertukaran udara di paru, keduanya tentu saja menyebabkan hambatan dalam pertukaran udara. Menurut penelitian 80-90% pasien penyakit jantung paru mempunyai PPOK (penyakit paru obstruktif kronik) dan 25 % pasien dengan PPOK akan berkembang menjadi penyakit jantung paru (Springhouse, 2005).. Penyakit jantung paru sering ditemukan di daerah dimana insidensi merokok dan PPOK tinggi dan biasanya mengenai usia pertengahan sampai usia lanjut dan lebih sering mengenai pria dari pada wanita. Kelainan pada struktur, fungsi dan pembuluh darah paru akan mengakibatkan timbulnya hipertensi paru. Hipertensi paru adalah kelainan pada pembuluh darah paru dimana terjadi kesulitan dalam memompakan darah ke paru-paru dan akhirnya menyebabkan jantung kanan kerja keras dan akhirnya mengalami perubahan struktur atau pelebaran. Menurut New York Heart Association (NYHA), hipertensi paru secara fungsional dibagi menjadi empat derajat sesuai dengan keadaan klinis pasien (table II.1) (Humbert et al., 2004). Tabel II.1. Klasifikasi hipertensi parunal (Dikutip dari: Humbert et al., 2004) Deskripsi Hipertensi paru tanpa menyebabkan keterbatasan aktivitas. Aktivitas

Klasifikasi Derajat I

sehari-hari tidak menyebabkan sesak nafas, letih, nyeri dada, atau hampir pingsan.

Derajat II

Hipertensi keterbatasan

paru

menyebabkan minimal.

aktivitas

Pasien merasa nyaman saat istirahat, tetapi pada aktivitas sesak sehari-hari nafas, letih,

menyebabkan

nyeri dada, atau hampir pingsan. Derajat III Hipertensi paru menyebabkan

keterbatasan aktivitas yang nyata. Pasien merasa nyaman disaat

istirahat, tetapi pada aktivitas yang lebih ringan dari aktivitas sehari-hari menyebabkan sesak nafas, letih,

nyeri dada, atau hampir pingsan. Derajat IV Hipertensi Paru yang menyebabkan terjadinya gejala pada saat apapun juga. Pasien memiliki tanda-tanda gagal jantung kanan. Merasa sesak dan cepat letih saat atau keduanya dan

walaupun

istirahat

diperberat dengan aktivitas fisik. a Hipertensi paru menyebabkan meningkatnya kinerja bilik kanan jantung dan dapat mengakibatkan dilatasi atau pembesaran bilik kanan

jantung. Timbulnya keadaan ini diperberat dengan adanya peningkatan Hb akibat jaringan kekurangan oksigen, kelebihan cairan akibat adanya retensi air dan natrium, serta meningkatnya curah jantung (Allegra et al.,2005). Ketika jantung kanan tidak lagi dapat melakukan adaptasi dan kompensasi maka akhirnya timbul kegagalan jantung kanan yang ditandai dengan adanya bengkak pada tubuh. Jangka waktu terjadinya pembesaran atau dilatasi bilik kanan jantung maupun gagal jantung kanan pada masing-masing orang berbeda-beda (Naeije, 2005). Berdasarkan perjalanan penyakitnya, penyakit jantung paru dibagi menjadi 5 fase, yakni (Naeije, 2005): a) Fase: 1 Pada fase ini belum nampak gejala klinis yang jelas, selain ditemukannya gejala awal penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), bronkitis kronis, Tuberkulosis paru, bronkiektasis dan sejenisnya. Anamnesa pada pasien 50 tahun biasanya didapatkan kebiasaan banyak merokok. b) Fase: 2 Pada fase ini mulai ditemukan tanda-tanda berkurangnya pertukaran udara paru. Gejalanya antara lain, batuk lama berdahak (terutama bronkiektasis), sesak napas, mengi, sesak napas ketika berjalan menanjak atau setelah banyak bicara. Sedangkan kebiruan masih belum nampak. Pemeriksaan fisik ditemukan kelainan berupa, hipersonor, suara napas berkurang, ekspirasi memanjang, ronki basah dan kering, mengi. Letak diafragma rendah dan denyut jantung lebih redup. Pemeriksaan radiologi

menunjukkan berkurangnya corakan bronkovaskular, letak diafragma rendah dan mendatar, posisi jantung vertikal. c) Fase: 3 Pada fase ini nampak gejala kekurangan oksigen di darah yang lebih jelas. Didapatkan pula berkurangnya nafsu makan, berat badan berkurang, cepat lelah. Pemeriksaan fisik nampak sianotik, disertai sesak. d) Fase: 4 Ditandai dengan hiperkapnia, gelisah, mudah tersinggung kadang somnolens. Pada keadaan yang berat dapat terjadi koma dan kehilangan kesadaran. e) Fase: 5 Pada fase ini nampak kelainan jantung, dan tekanan arteri parunal meningkat. Tanda-tanda peningkatan kerja bilik jantung, namun fungsi bilik kanan jantung masih dapat kompensasi. Selanjutnya terjadi kelainan fungsi dan struktur bilik kanan jantung kemudian terjadi gagal jantung kanan. Pemeriksaan fisik nampak sianotik, bendungan vena jugularis, hepatomegali, edema tungkai dan kadang asites.

C. Penegakan Diagnosis Penyakit jantung paru Diagnosis penyakit jantung paru dapat ditegakkan jika terbukti terdapat adanya hipertensi paru akibat dari kelainan fungsi dan atau struktural paru. Untuk menegakkan diagnosis penyakit jantung paru secara pasti maka dilakukan prosedur wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan

secara tepat. Pada wawancara dan pemeriksaan fisik pemeriksa dapat menemukan data-data yang mendukung ke arah adanya kelainan paru baik secara struktural maupun fungsional. Adanya hipertensi paru tidak dapat ditegakkan secara pasti dengan hanya pemeriksaan fisik dan wawancara tetapi membutuhkan pemeriksaan tambahan. Pada penyakit jantung paru selama jantung masih bisa melakukan kompensasi terhadap hipertensi paru, pemeriksaan pada penderita penyakit jantung paru hanya didapatkan keluhan yang terkait dengan gangguan yang melatarbelakanginya. Keluhan yang biasanya didapatkan adalah batuk produktif, sesak nafas saat aktivitas (dispneu d effort), adanya mengi, cepat letih, dan lemas. Ketika keparahan penyakit bertambah keluhan yang sering muncul adalah sesak nafas walaupun tidak beraktivitas, tachypnea, orthopnea, edema, dan perasaan tidak nyaman pada kuadran kanan atas (Springhouse, 2005). Pemeriksaan fisik ditemukan kelainan bentuk dada pada pemeriksaan menggunakan stetoskop didapatkan suara nafas memanjang. D. Pemeriksaan tambahan Penyakit jantung paru Pemeriksaan tambahan untuk mengetahui secara pasti tejadinya penyakit jantung paru adalah dengan kateterisasi jantung kanan (Swan-Ganz catheterization) (gambar II.4) untuk mengukur secara pasti hipertensi paru. Kateterisasi jantung kanan ini dimasukkan melalui vena sentral sampai ke pembuluh darah paru untuk melihat dan mengukur hipertensi paru.

1. Pemeriksaan laboratorium (Aderaye, 2004). 2. Pemeriksaan pencitraan (Springhouse, 2005). a. Foto Toraks b. Ekokardiografi 3. Pemeriksaan EKG E. Penatalaksanaan Penyakit jantung paru Penanganan penyakit jantung paru secara umum adalah mencegah berlanjutnya proses penyakit yang masih bisa ditangani secara langsung dan secara bersamaan menangani komplikasi yang terjadi seperti kekurangan oksigen di darah, meningkatnya karbon dioksida di darah dan jika mungkin menghilangkan factor penyebab, dengan: a) Mengusahakan supaya jalan nafas tetap terbuka dengan obat-obatan pengisapan lendir dari jalan nafas dan lain-lain. b) Pemberian 02 Pemberian terapi oksigen jangka panjang pada pasien PPOK terbukti memperbaiki prognosis dan dapat mencegah terjadinya pembesaran bilik kanan jantung. c) Memberantas infeksi saluran nafas. Dengan pemberian antibiotik yang sesuai dan adekuat. d) Pemberian obat yang meningkatkan kontraksi jantung e) Obat vasodilator (pelebaran) arteri paru f) Makanan rendah garam, pembatasan asupan cairan, pemberian diuretic, untuk mengurangi bengkak.

F. Pencegahan Penyakit jantung paru Berhenti merokok dan hindari asap rokok Jika tinggal di daerah industri harus rutin menggunakan masker Hindari menghisap asap pembakaran sampah atau kayu yang terlalu rutin Penanganan segera penyakit paru yang diderita.

10

DAFTAR PUSTAKA

Aderaye, G. Causes and Clinical Characteristics Of Chronic Cor-Parunale In Ethiopia. East African Medical Journal. 2004. 81 (4): 202-205.
Allegra et al. Possible Role Of Erythropoietin In The Pathogenesis Of Chronic

Penyakit jantung paru. Nephrol Dial Transplant. 2005. 20: 2867. Anonim. 2009. Penyakit jantung paru. Available at: www.eradiography.net/radpath/c/cor_parunale.htm. Diakses pada 23 Oktober 2009. Budev ,Marie M., Arroliga A. C., Wiedemann H. P., and Matthay R. A. Penyakit jantung paru: An Overview. Semin Respir Crit Care Med. 2003;24(3). Hill. N.S and Farber. W. Parunary Hypertension. N Engl J Med. 2008. 359;20. Humbert M,., Sitbon , and Simonneau. Treatment of Parunary Arterial Hypertension. N Engl J Med. 2004.351:1425-36. Incalzi et al., Electrocardiographic Signs of Chronic Penyakit jantung paru A Negative Prognostic Finding in Chronic Obstructive Parunary Disease. Circulation. 1999. 99:1600-1605. Palevsky H and Fishman. A.P. The Management of Primary Parunary Hypertension. JAMA. 1991. 265:1014-1020. Springhouse. 2005. Professional Guide to Diseases. Lippincott Williams & Wilkins. Scully et al. Case Records of the Massachusetts General Hospital. N Engl J Med. 2000. 343(24): 1795. Weinrauch, Larry A. 2008. Swan Ganz catheterization. Available at: http//www. nlm.nih.gov. Diakses pada 23 Oktober 2009. Weitzenblum, Emmanuel. Chronic Penyakit jantung paru. Heart. 2003. 89(2): 225230.

11