Anda di halaman 1dari 213

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG

R E N CA N A A K S I KOTA H IJAU (RAKH) MASTER PLAN RTH P E R KOTA AN

MANUAL K E G I ATA N P 2 K H 2013

D E TA IL E N G I N EE RIN G DESIGN (DED) TA M A N KOTA H IJAU IM P L E M E NTAS I TA M A N KOTA H IJAU S U P E RV IS I

FORU M KO M U N ITA S H IJAU ( F K H )


BERSAMA MENATA RUANG

KATA PENGANTAR
Sejak tahun 2011 yang lalu, Kementerian Pekerjaan Umum c.q. Direktorat Jenderal Penataan Ruang telah menginisiasi lahirnya Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) sebagai salah satu bentuk implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota/Kabupaten dengan melibatkan partisipasi aktif pemangku kepentingan pada aras lokal untuk meningkatkan kualitas ruang perkotaan. Pada tahun 2011, P2KH diawali dengan penandatanganan Piagam Komitmen Kota Hijau dan penyusunan Rencana Aksi Kota Hijau (RAKH) oleh 60 Kota/Kabupaten peserta. Tahun 2012 dilanjutkan dengan implementasi RAKH, penyusunan peta komunitas hijau, penyusunan masterplan ruang terbuka hijau dan implementasi taman ramah lingkungan. Tahun 2013 merupakan kelanjutan dari pelaksanaan tahun 2011 dan 2012 dengan spektrum atribut yang lebih luas untuk mulai diwujudkan secara bertahap, tidak sebatas pada 3 (tiga) atribut yang diprioritaskan sebelumnya, yakni green open space, green community serta green planning and design.

Untuk mencapai tujuan pelaksanaan P2KH tahun 2013 tersebut, diperlukan manual yang bersifat operasional yang memuat antara lain: tata cara atau mekanisme pelaksanaan kegiatan, substansi teknis kegiatan, dan standar kualitas output, yang kesemuanya dituangkan dalam Manual Kegiatan P2KH 2013.
Manual Kegiatan P2KH ini pada dasarnya merupakan perbaikan dan pengayaan substantif dari Manual P2KH 2012 yang terdiri atas 6 (enam) kegiatan pokok, yaitu: (1) penyempurnaan Rencana Aksi Kota Hijau (RAKH), (2) penyusunan Masterplan RTH perkotaan, (3) penyusunan Detail Engineering Design (DED) Taman Kota Hijau, (4 peningkatan kuantitas dan kualitas RTH perkotaan, (5) supervisi peningkatan kuantitas dan kualitas RTH Perkotaan, dan (6) kegiatan Forum Komunitas Hijau (FKH). Akhir kata, semoga Manual ini benar-benar dapat menjadi pemandu pelaksanaan kegiatan P2KH tahun 2013 bagi Kota/Kabupaten, komunitas hijau dan masyarakat luas, secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel, sehingga hasil yang dicapai pada akhirnya dapat dinikmati dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Jakarta, Maret 2013

Dadang Rukmana Direktur Perkotaan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI I. PENYEMPURNAAN RENCANA AKSI KOTA HIJAU (RAKH)

i ii I

II.

PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH PERKOTAAN


A. Masterplan RTH B. Penyempurnaan Masterplan RTH up-scaling

II
II.A III.B

III.

PENYUSUNAN DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED) Taman Kota Hijau III

IV. PENINGKATAN KUANTITAS RTH PERKOTAAN


V. V. SUPERVISI PENINGKATAN KUANTITAS RTH PERKOTAAN KEGIATAN FORUM KOMUNITAS HIJAU (FKH) A. Sosialisasi dan Kampanye Publik tentang Kota Hijau B. Pembentukan FKH dan Penyusunan Rencana Aksi FKH

IV
V VI VI.A VI.B

C. Penyusunan Peta Komunitas Hijau


D. Penyelenggaraan Aksi FKH 1. Festival Hijau (Green Festival) di Taman Kota 2. Aksi Komunitas Hijau Lain (terkait Atribut Kota Hijau) 3. Sosialisasi Komunitas Hijau

VI.C
VI.D VI.D.1 VI.D.2 VI.D.4

ii

PHOTO

PENYEMPURNAAN RENCANA AKSI KOTA HIJAU (RAKH)

DAFTAR ISI
BAB I PENGANTAR BAB II PRINSIP P2KH BAB III MUATAN RAKH BAB IV JADWAL KEGIATAN BAB V PENYAJIAN RAKH I.1 I.1 I.2 I.5 I.6

I. PENGANTAR
P2KH dipahami sebagai sebuah instrumen untuk mewujudkan amanat UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR), yaitu untuk

mweujudkan

kualitas

penataan

ruang

wilayah

nasional,

provinsi,

dan

kota/kabupaten yang aman, produktif dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, P2KH juga perlu dipahami sebagai suatu program kolabiratif dengan inisiatif utama dari pemerintah kota/kabupaten yang difasilitasi oleh pemerintah pusat.

II PRINSIP P2KH
1. KEMANDIRIAN Setelah pelaksanaan P2KH, kota/kabupaten diharapkan dapat mandiri, terutama dalam hal pendanaan program kota hijau.

2. KEBERLANJUTAN P2KH diharapkan dapat terus berlanjut dengan program penambahan RTH, pembentukan forum komunitas hijau, penjabaran masterplan RTH serta programprogram kota hijau lainnya.

3. KEBERAGAMAN P2KH yang awalnya terfokus pada tiga atribut kota hijau, harus dapat dilanjutkan dengan fokus yang lebih beragam pada lima atribut lainnya, dengan menampilkan potensi kearifan lokasi masing-masing kota/kabupaten (local site spesific)

I.1

III MUATAN RAKH


1. PENDAHULUAN 1.1 Visi dan Misi Kota/Kabupaten Menyebutkan visi dan misi kota/kabupaten yang tercantum di dalam RPJPD/RPJMD dan menjabarkan keterkaitan visi dan misi tersebut terhadap P2KH. 1.2 Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang terkait Kota Hijau Menyebutkan tujuan kebijakan dan strategi penataan ruang di dalam RTRW yang terkait kota hijau. 2. PROFIL KOTA/KABUPATEN 2.1 Profil Umum Menguraikan mengenai : a. Karakteristik alam (pesisir, dataran, pegunungan) dan topografi secara umum b. Kondisi eksisting dan rencana pemenuhan RTH Publik kota/kawasan perkotaan, baik luasan (dalam ha) maupun persentase (dalam persen) c. Kontribusi sektor unggulan dalam PDRB kota/kabupaten d. D. Jumlah penduduk total dan distribusi kepadatan penduduk 2.2 Potensi Pendukung Mengutaikan berbagai potensi yang dimiliki oleh pemerintah kota/kabupaten untuk mewujudkan program kota hijau, meliputi : a. Ketersediaan lahan yang akan dikembangkan sebagai RTH (rencana dan potensi, dalam hektar) b. Keberadaan minimal 3 (tiga) komunitas hijau (masyarakat peduli lingkungan) yang ada, dilengkapi dengan nama komunitas, nama contact person, nomor telpon dan alamat email.

I.2

c. Alokasi APBD untuk program kota hijau

3.

RENCANA AKSI KOTA HIJAU 2013-2017


3.1 Cakupan dan Muatan Kegiatan Utama A. Green Planning and Design Kegiatan-kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas rencana tata ruang dan rancang kota yang lebih sensitif terhadap agenda hijau. Antara lain meliputi penyusunan RDTR pada wilayah prioritas di kota

dengan memperhatikan ketersediaan dan kualitas ruang terbuka hijau,


koridor hijau, menyusun masterplan RTH perkotaan.

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH BARU


B. Green Open Space menambah luas RTH kota. Green Community C.

Bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan karakteristik kota/kabupaten melalui berbagai macam strategi untuk mencapai target RTH minimal 30% sesuai yang

direncanakan dalam RTRW. Contoh kegiatan yang terkait atribut ini


adalah pembuatan hutan kota, taman kota di kawasan perkotaan untuk

Bertujuan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat atau komunitas dan institusi swasta dalam perwujudan pengembangan kota hijau. Contoh kegiatan terkait atribut ini adalah penyusunan peta komunitas hijau yang melibatkan komunitas hijau, sosialisasi program kota hijau (green campaign) kepada masyarakat, pelibatan institusi pendidikan melalui program sekolah hijau dan kampus hijau.

I.3

3.2 Cakupan dan Muatan Kegiatan Upscaling A. Green Transportation Merencanakan dan menerapkan transportasi yang bekelanjutan, yaitu : 1. Jalur Sepeda menghubungkan taman-taman kota 2. Fasilitas Sepeda Sewa (Bike Sharing) di taman-taman kota B. Green Waste Menerapkan pronsip-prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycling), yaitu : - Pembuatan Sistem Komposting di taman kota C. Green Water Meningkatkan efisiensi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air, yaitu : - Penerapan konsep zero run-off di taman kota/halaman RTH privat D. Green Building Merencanakan dan menerapkan konsep ramah lingkungan pada bangunan, yaitu : - Pembuatan taman vertikal (vertical garden) di taman kota E. Green Energy Menerapkan dan memanfaatkan sumber enrgi yang efisien dan ramah lingkungan. Misalnya penggunaan listrik tenaga surya untuk lampu penerangan jalan umum, listrik tenaga angin, dsb. Setiap Kota/Kabupaten diarahkan mengembangkan minimal 1 (satu) kegiatan upscaling sesuai potensi lokasi (local site spesific) masing-masing. 3.3 Komitmen Daerah Terhadap RAKH Identifikasi bentuk komitmen daerah terhadap tindak lanjut dari RAKH yang telah disusun, meliputi : a. Sharing pembiayaan APBD tahun anggaran 2013-2017 terhadap perwujudan kota hijau b. Pembentukan tim swakelola P2KH kota/kabupaten (lintas SKPD). Sebagai koordinator penyusunan Rencana Aksi Kota Hijau, dapat ditunjuk Bappeda atau institusi yang membidani tata ruang di masing-masing kota/kabupaten. I.4

IV. JADWAL KEGIATAN


N o 1 2 3 4 Tahapan Kegiatan I Pengisian F1, F2, F3, F7 Pengumpulan F1, F2, F3, F7 Verifikasi F1, F2, F3, F7 oleh Tim Pusat Pembuatan Peta RTH , Peta RTH up-scaling Eksisting Verifikasi Peta RTH , Peta RTH up-scaling Eksisting oleh Tim Pusat Pembuatan Peta RTH , Peta RTH up-scaling Rencana Verifikasi Peta RTH , Peta RTH up-scaling Rencana oleh Tim Pusat Penyempuraan Dokumen RAKH sesuai format buku Pengumpulan Softcopy Buku RAKH Pengumpulan Hardcopy Buku RAKH II Bulan ke III IV

8 9 1 0

I.5

V. PENYAJIAN RAKH
Buku RAKH diharuskan mengikuti urutan penyajian sebagai berikut : A. COVER DEPAN B. COVERING LETTER C. BAGIAN I FORM F1, F2, F3 1. FORM F1 2. FORM F2 3. FORM F3 4. LAMPIRAN PASAL DALAM PERDA/RAPERDA RTRW YANG MEMUAT SUBSTANSI TENTANG RUANG TERBUKA HIJAU 5. TABEL RTH EKSISTING & RENCANA 6. TABEL INDIKATOR PROGRAM PENAMBAHAN RTH JANGKA PENDEK (20132017) 7. PETA SEBARAN RTH EKSISTING 2013 8. PETA RTH RENCANA 2032 9. PETA UP-SCALING EKSISTING 2013 10. PETA UP-SCALING RENCANA 2017 D. BAGIAN II KETERSEDIAAN LAHAN YANG AKAN DIKEMBANGKAN SEBAGAI RTH 1. FORM F7 2013 2. Bukti Kepemilikan Lahan oleh Pemerintah Daerah 3. Surat Keputusan (SK) Kepala Daerah Tentang Penetapan Lokasi sebagai RTH E. LAMPIRAN 1. LAMPIRAN I STATUS RTRW 2. LAMPIRAN II PROGRAM TERKAIT KOTA HIJAU 3. LAMPIRAN III SURAT PERNYATAAN ALOKASI DANA SHARING 2013 4. LAMPIRAN IV SK TIM SWAKELOLA P2KH 2013 5. LAMPIRAN V PETA KOMUNITAS HIJAU F. COVER BELAKANG

I.6

A . COV E R D E PA N - B E L A KA NG
Cover Depan & Belakang mengikuti Template/Contoh yang diberikan sebagai berikut :

Gambar/Foto yang Mewakili Kondisi dan Profil Kota Hijau di Kota/Kabupaten

I.7

B . COV E RING L E T T E R
Pernyataan Komitmen Atas Rencana Aksi Kota Hijau (RAKH) 2013 yang ditandatangani Walikota/Bupati

I.8

C . BAG IA N I FO RM F1 DA N F2 1. FO RM F 1

I.9

1. FO RM F1 ( L A NJUTAN)

I.10

1. FO RM F 1 ( L A NJUTAN)

I.11

PETUNJUK PENGISIAN FORM F1


Kode Deskripsi 1 Diisi dengan nama kota/kabupaten calon peserta kegiatan fasilitasi penyusunan Rencana aksi kota hijau 2012 2 Diisi dengan nama provinsi dimana kota/kabupaten tersebut berada. 3 a. b. Untuk kota, diisi dengan luas wilayah kota dalam hektar (ha); Untuk kabupaten diisi dengan luas wilayah keseluruhan kabupaten dalam hektar (ha). c. Khusus untuk kabupaten, diisi dengan luas kawasan perkotaan yang merupakan ibukota kabupaten, dalam hektar (ha); d. Khusus untuk kabupaten, diisi dengan luas kawasan perkotaan yang merupakan kawasan strategis ekonomi, dalam hektar (ha). Pilih salah satu kawasan strategis ekonomi di wilayah kabupaten yang akan diprioritaskan pengembangan RTHnya. Untuk kabupaten, kedua kawasan perkotaan pada point 3a dan 3b harus diisi, bukan dipilih salah satu. 4 Diisi dengan status RTRW kota/kabupaten: a. Apabila sudah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah, beri tanda silang pada kotak di depan kata Perda, dan tuliskan nomor dan tahun Peraturan Daerah kota/kabupaten tentang RTRW kota/kabupaten tersebut; b. Apabila Raperda RTRW kota/kabupaten sudah mendapat persetujuan substansi dan sedang dalam proses pembahasan menjadi Perda RTRW kota/kabupaten di DPRD kota, beri tanda silang pada kotak di depan kata Persetujuan Substansi, sedang proses legalisasi di DPRD (lampirkan surat permohonan pembahasan RTRW dari Walikota/Bupati kepada DPRD). a. Apabila Raperda RTRW kota/kabupaten sudah mendapat persetujuan substansi namun belum dibahas dan diproses sebagai Peraturan Daerah di DPRD, beri tanda silang pada kotak di depan kata Persetujuan Substansi, belum proses legalisasi di DPRD 5 Diisi dengan visi dan misi kota/kabupaten yang tertera dalam dokumen perencanaan (RPJPD dan RPJMD) kota/kabupaten

I.12

PETUNJUK PENGISIAN FORM F1 (LANJUTAN)


Kode Deskripsi 6 Diisi dengan pernyataan/penjelasan keterkaitan antara visi dan misi kota/kabupaten yang tercantum dalam RPJPD dan RPJMD dengan kegiatan P2KH.

7 Diisi dengan tujuan, kebijakan atau strategi penataan ruang di dalam RTRW yang terkait dengan pengembangan kota hijau. Kebijakan dan strategi yang dicantumkan hanya yang berkaitan langsung dengan perwujudan kota hijau.
8 Diisi dengan bentuk karakteristik alam dan kondisi geografis-topografi kota/kabupaten: a. Jika merupakan daerah pesisir, beri tanda silang pada kotak di depan kata Pesisir b. Jika merupakan daerah dataran, beri tanda silang pada kotak di depan kata Dataran c. Jika merupakan daerah pegunungan, beri tanda silang pada kotak di depan kata Pegunungan 9 Diisi dengan jenis sektor unggulan yang memberikan kontribusi paling besar dalam PDRB kota/kabupaten, ditambahkan pula persentasenya terhadap total PDRB kota/kabupaten. 10 Diisi dengan jumlah penduduk berdasarkan data sensus terakhir (Tahun 2010) dari Badan Pusat Statistik (BPS). Kepadatan penduduk diisi dengan jumlah penduduk (jiwa) berbanding dengan luas wilayah kota, dalam kilometer persegi (km2). a. Untuk kota, diisi dengan jumlah penduduk dan kepadatan penduduk dalam jiwa/km2 ; b. Untuk kabupaten diisi dengan jumlah penduduk dan kepadatan penduduk dalam jiwa/km2 wilayah keseluruhan kabupaten; c. Khusus untuk kabupaten, diisi dengan jumlah penduduk dan kepadatan penduduk dalam jiwa/km2 wilayah kawasan perkotaan yang merupakan ibukota kabupaten; d. Khusus untuk kabupaten, diisi dengan jumlah penduduk dan kepadatan penduduk dalam jiwa/km2 wilayah kawasan perkotaan yang merupakan kawasan strategis ekonomi. Salah satu kawasan strategis ekonomi di wilayah kabupaten yang akan diprioritaskan pengembangan RTHnya. Untuk kabupaten, kedua kawasan perkotaan pada point 10a dan 10b harus diisi, bukan dipilih salah satu.

I.13

PETUNJUK PENGISIAN FORM F1 (LANJUTAN)


Kode Deskripsi 11 Diisi dengan luasan dan persentase RTH Eksisting (kondisi saat ini). Untuk kota, persentase RTH dihitung dari luas wilayah kota, sedangkan untuk kabupaten, persentase RTH dihitung dari luas wilayah kawasan perkotaan yang tercantum pada butir 3 di atas. 12 a. Diisi dengan Jenis RTH Publik yang ada di wilayah kota/kabupaten. Jenis RTH mengacu pada Permen PU No 5/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, yaitu: RTH Taman dan Hutan Kota; mencakup Taman RT, Taman RW, Taman Kelurahan, Taman Kecamatan, Taman Kota, Hutan Kota dan Sabuk Hijau (green belt) RTH Jalur Hijau Jalan; mencakup pulau jalan dan median jalan, jalur pejalan kaki, ruang di bawah jalan layang. RTH Fungsi Tertentu; mencakup RTH sempadan rel kereta api, Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi, RTH sempadan sungai, RTH sempadan pantai, RTH Pengamanan sumber air baku/mata air, dan pemakaman. Diisi dengan luasan dan persentase rincian jenis RTH Publik Eksisting, sesuai dengan hitungan pada butir 11 di atas. Untuk kota, persentase RTH dihitung dari luas wilayah kota, sedangkan untuk kabupaten, persentase RTH dihitung dari luas wilayah kawasan perkotaan yang tercantum pada butir 3 di atas. Diisi dengan luasan dan persentase rincian jenis RTH Publik Rencana (sesuai yang tercantum dalam Masterplan RTH perkotaan). Untuk kota, persentase RTH dihitung dari luas wilayah kota; Untuk kabupaten, persentase RTH dihitung dari luas wilayah kawasan perkotaan yang tercantum pada butir 3c dan 3d di atas (disajikan dalam dua tabel RTH eksisting dan rencana, untuk masing-masing kawasan perkotaan).

b.

c.

13 Diisi dengan indikator program penambahan RTH (sesuai yang tercantum dalam Masterplan RTH perkotaan) jangka pendek (2013-2017) : Salah satu lokasi yang akan dikembangkan sebagai lokasi penambahan RTH pada tahun 2013 dijelaskan lebih lanjut dalam Form F7.

I.14

PETUNJUK PENGISIAN FORM F1 (LANJUTAN)


Kode Deskripsi 13 a. Jenis RTH : diisi dengan rencana jenis RTH yang akan dikembangkan sebagai RTH; b. Luas : diisi dengan besaran luas lahan, dalam satuan meter persegi (m2); c. Lokasi : diisi dengan letak dimana lahan berada; d. Kepemilikan : diisi dengan pihak pemilik lahan, Pemda/Masyarakat/pihak lain; e. Rencana Tahun Pelaksanaan : diisi dengan rencana tahun pelaksanaan penambahan RTH pada lokasi yang disebutkan dalam jangka pendek (2013-2017); f. Instansi Pelaksana : diisi dengan instansi yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan penambahan RTH tersebut, misalnya Bappeda dan dinas terkait lainnya; g. Besaran Dana : Diisi dengan perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan program penambahan RTH tersebut h. Sumber Dana : Diisi dengan perkiraan sumber dana pembiayan program penambahan RTH, misalnya dari APBD, SCR, atau sumber lain 14 a. Arahan 8 (delapan) strategi pemenuhan RTH 30% b. Diisi dengan tanda centang () langkah mana yang dipilih oleh kota/kabupaten yang bersangkutan 15 a. Diisi dengan nama FKH Kota/Kab yang telah terbentuk; b. Diisi dengan nama jelas koordinator FKH yang telah disepakati; c. Diisi dengan nomor kontak handphone koordinator FKH; d. Disi dengan alamat email sekretariat FKH atau alamat email koordinator FKH; e. Diisi dengan kontak media sosial, misalnya alamat facebook, twitter, dsb; f. Diisi dengan jumlah komunitas yang tergabung dalam FKH g. Disi dengan nama-nama komunitas yang tergabung dalam FKH, sesuai butir 13f di atas; h. Disi dengan nama jelas kontak person setiap anggota komunitas i. Diisi dengan nomor kontak handphone setiap kontak anggota komunitas sesuai yang tertulis dalam butir 13h di atas; j. Disi dengan alamat email sekretariat komunitas k. Disi dengan kontak media sosial, misalnya alamat facebook, twitter, dsb dari setiap komunitas l. Diisi dengan deskripsi kegiatan masing-masing komunitas.

I.15

PETUNJUK PENGISIAN FORM F1 (LANJUTAN)


Kode Deskripsi 16 a. Diisi dengan nama program/kegiatan komunitas yang sedang/telah dilakukan baik oleh FKH atau komunitas lain di Kota/Kabupaten yang bersangkutan; b. Diisi dengan foto kegiatan program/kegiatan sesuai dengan butir 16b di atas. 17 Diisi dengan informasi mengenai kerjasama yang telah, sedang dan akan dilakukan antar kota/kabupaten atau dengan lembaga/instansi lain, baik nasional maupun internasional yang berhubungan dengan perwujudan kota hijau. a. Diisi dengan nama kerjasama yang telah, sedang dan akan dilakukan; b. Diisi dengan bentuk kerjasama yang terjalin, misalnya dukungan pembiayaan, bimbingan teknis, pertukaran informasi, dsb c. Diisi dengan pihak yang terlibat dalam kerjasama tersebut, misalnya nama kota, lembaga, instansi, swasta, dsb d. Diisi dengan keterangan lain yang diperlukan untuk memperjelas informasi yang dibutuhkan, misalnya jangka waktu kerjasama, dsb. 18 Diisi dengan rincian program terkait kota hijau yang telah dan sedang dikembangkan di wilayah kota/kabupaten dalam lima tahun terakhir: a. Diisi dengan nama program yang telah dan sedang dikembangkan, misalnya pembuatan jalur sepeda, jalur pedestrian, pembuatan hutan kota, dsb. b. Diisi dengan tahun pelaksanaan (dalam rentang waktu lima tahun terakhir). c. Diisi dengan instansi yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program tersebut d. Diisi dengan keterangan lain yang dibutuhkan untuk memperjelas informasi yang dibutuhkan, misalnya apakah kegiatan tersebut masih berlangsung, lanjutan program tersebut, dsb.

I.16

2. FO RM F2

I.17

PETUNJUK PENGISIAN FORM F2


Kode Deskripsi 1 Diisi dengan nama kota/kabupaten calon peserta kegiatan fasilitasi penyusunan rencana aksi kota hijau 2012 2 Diisi dengan nama provinsi dimana kota/kabupaten tersebut berada 3 Diisi dengan rincian rencana kegiatan utama berkaitan dengan perwujudan kota hijau dalam lima tahun ke depan, yang terfokus pada 3 (tiga) atribut kota hijau, yaitu Green Planning and Design, Green Open Space dan Green Community a. Diisi dengan rincian kegiatan yang akan dilakukan b. Diisi dengan instansi yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut, misalnya Bappeda dan dinas terkait lainnya. c. Diisi dengan rencana waktu pelaksanaan dalam lima tahun ke depan (2013 s.d 2017). d. Diisi dengan informasi tambahan yang memperjelas keterangan yang telah disampaikan, misalnya lokasi, luasan, sumber pembiayaan, dsb. 4 Diisi dengan rincian rencana kegiatan pendukung berkaitan dengan perwujudan kota hijau dalam lima tahun ke depan, yang terkait 5 (lima) atribut kota hijau, yaitu Green Transportation, Green Waste, Green Water, Green Building dan Green Energy. a. Diisi dengan rincian kegiatan yang akan dilakukan b. Diisi dengan instansi yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut, misalnya Bappeda dan dinas terkait lainnya. c. Diisi dengan rencana waktu pelaksanaan dalam lima tahun ke depan (2013 s.d 2017). d. Diisi dengan informasi tambahan yang memperjelas keterangan yang telah disampaikan, misalnya lokasi, luasan, sumber pembiayaan, dsb. 5 Merupakan tim pelaksana swakelola P2KH di masing-masing kota/kabupaten, sesuai dengan SK Kepala daerah: a. Diisi dengan nama pihak yang dilibatkan di dalam tim swakelola; b. Diisi dengan jabatan dan instansi dimana anggota tim tersebut berasal; c. Diisi dengan kedudukan masing-masing orang dalam tim swakelola; d. Diisi dengan Nomor Handphone/telepon masing-masing anggota tim; e. Diisi dengan alamat email masing-masing anggota tim.

I.18

PETUNJUK PENGISIAN FORM F2 (LANJUTAN)


Kode Deskripsi 6 Merupakan tenaga ahli individu yang dikontrak dalan pelaksanaan kegiatan swakelola P2KH di masing-masing kota/kabupaten, sesuai dengan SK Kepala daerah: Tenaga ahli yang ditentukan sesuai juknis Diisi dengan nama tenaga ahli yang dilibatkan; Diisi dengan Nomor Handphone/telepon masing-masing tenaga ahli; Diisi dengan alamat email masing-masing anggota tim. 7 Diisi dengan identitas pihak dan instansi yang dapat dihubungi dan memberi informasi yang diperlukan selama pelaksanaan kegiatan guna memperlancar komunikasi dan informasi selama pelaksanaan kegiatan P2KH 2013. a. Diisi dengan nama pihak yang menjadi contact person kota/kabupaten b. Diisi dengan jabatan pihak yang menjadi contact person kota/kabupaten. Diharapkan jabatan contact person minimal adalah Kepala Seksi pada Bappeda atau instansi yang membidangi tata ruang c. Diisi dengan instansi tempat contact person tersebut bekerja. Diharapkan contact person berasal dari Bappeda atau instansi yang membidangi tata ruang. d. Diisi dengan nomor telepon/handphone yang mudah dihubungi untuk kelancaran informasi dan komunikasi. e. Diisi dengan alamat email yang digunakan untuk kelancaran informasi dan komunikasi

I.19

3. FO RM F3

I.20

PETUNJUK PENGISIAN FORM F3


Kode 1 2 3 Deskripsi Diisi dengan nama kota/kabupaten calon peserta P2KH 2012/2013 Diisi dengan nama provinsi dimana kota/kabupaten tersebut berada. Merupakan tabel yang menjelaskan bentuk dan jumlah sharing APBD 2013 untuk pembangunan RTH di lokasi yang diusulkan pada Form F7, yang mencakup: a. Diisi dengan nama program yang direncanakan di tahun anggaran 2013 untuk pembangunan RTH di lokasi yang diusulkan pada Form F7 RAKH. Sebutkan pula lokasi dan luasannya; b. Diisi dengan jumlah dana yang dialokasikan dalam RAPBD atau APBD 2013 untuk melaksanakan program tersebut pada point 3a (dalam juta rupiah). c. Diisi dengan instansi yang menjadi penanggung jawab pelaksanaan program tersebut, bisa satu instansi atau koordinasi antar beberapa instansi. 4 Merupakan tabel yang menjelaskan bentuk dan jumlah sharing APBD 2013 untuk kegiatan terkait atribut kota hijau yang akan dilaksanakan di tahun 2013, mencakup: a. Diisi dengan nama program yang direncanakan di tahun anggaran 2013, misalnya terkait pembangunan pedestrian dan jalur sepeda (green transportation); pembangunan dan pengembangan sistem pengomposan (green waste); revitalisasi sungai, danau, waduk dan pembuatan sumur-sumur resapan (green water); penggunaan listrik tenaga surya untuk penerangan jalan (green energy); dan sebagainya. b. Diisi dengan jumlah dana yang dialokasikan dalam RAPBD atau APBD 2013 untuk melaksanakan program tersebut pada point 4a (dalam juta rupiah). c. Diisi dengan instansi yang menjadi penanggung jawab pelaksanaan program tersebut, bisa satu instansi atau koordinasi antar beberapa instansi. 5 Menjelaskan rincian kegiatan yang mendukung keberlanjutan P2KH beserta sumbersumber pembiayaannya, seperti sharing APBD, CSR perusahaan, mitra RTH, donatur warga, hibah, dll. a. Diisi dengan bentuk sharing kegiatan yang direncanakan dalam program P2KH b. Diisi dengan perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan program tersebut c. Diisi dengan instansi yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan d. Diisi dengan rencana waktu pelaksanaan kegiatan e. Diisi dengan informasi tambahan yang memperjelas keterangan yang telah disampaikan, misalnya lokasi, luasan, sumber pembiayaan, dsb.

I.21

3. L A M P IRA N PA SA L DA L A M P E RDA / RA P E RDA RT RW YA NG M E M UAT S U B STA NS I T E NTA NG RUA NG T E RB U KA H IJAU

I.22

4. TA B E L RT H E KS IST ING & RE NC A NA


Kota : 1 Tabel, meliputi seluruh wilayah administrasi kota
Kabupaten : 2 Tabel, meliputi kawasan ibukota kabupaten dan kawasan strategis ekonomi

I.23

7 . P E TA S E BA RA N RT H E KS IST ING 2013


Kota : 1 Peta, meliputi seluruh wilayah administrasi kota
Kabupaten : 2 Peta, meliputi kawasan ibukota kabupaten dan kawasan strategis ekonomi

I.24

8 . P E TA RT H RE NC A NA 2032
Kota : 1 Peta, meliputi seluruh wilayah administrasi kota Kabupaten : 2 Peta, meliputi kawasan ibukota kabupaten dan kawasan strategis ekonomi

I.25

9. P E TA U P - S C AL ING E KS IST ING 2013


Kota : 1 Peta, meliputi seluruh wilayah administrasi kota Kabupaten : 2 Peta, meliputi kawasan ibukota kabupaten dan kawasan strategis ekonomi Isi Peta : RTH (Green Open Space), 1 Atribut lain (Green Transportation/Waste/Building/Water)

I.26

10. P E TA U P - S C AL ING RE NC A NA 2017


Kota : 1 Peta, meliputi seluruh wilayah administrasi kota Kabupaten : 1 Peta, meliputi kawasan ibukota kabupaten atau kawasan strategis ekonomi Isi Peta : RTH (Green Open Space), 1 Atribut lain (Green Transportation/Waste/Building/Water)

I.27

D. BAG IA N II KE T E RS E D IA A N L A H A N YA NG A KA N D IKE M BA NG KAN S E BAG A I RT H 1. FO RM F7 2013

I.28

PETUNJUK PENGISIAN FORM F7


Kode Deskripsi 1 Diisi dengan nama kota/kabupaten peserta kegiatan fasilitasi penyusunan Rencana aksi kota hijau 2012 2 Diisi dengan nama provinsi dimana kota/kabupaten tersebut berada. 3 Diisi dengan dasar penetapan lokasi sebagai RTH a. Centang, apabila dasar penetapan lokasi adalah Perda, sebutkan Nomor dan Tahun Perda; b. Centang, apabila dasar penetapan lokasi adalah Surat Keputusan (SK) Kepala Daerah, sebutkan Nomor dan Tahun SK. 4 Diisi dengan gambaran lokasi yang ditetapkan sebagai RTH: a. Diisi dengan: Diisi dengan nama jalan dimana lahan tersebut berada; Kelas Jalan : jalan lingkungan, jalan lokal, jalan arteri dsb; Diisi dengan nama kelurahan dimana lahan tersebut berada; Diisi dengan nama kecamatan dimana lahan tersebut berada. a. Diisi dengan deskripsi yang menjelaskan nilai strategis lahan tersebut sehingga dipilih menjadi lokasi penambahan RTH b. Diisi dengan luas lahan, dalam hektar (ha) c. Diisi dengan status kepemilikan lahan : Centang pada kotak, apabila lahan adalah milik Pemda, yang dibuktikan dengan fotokopi sertifikat kepemilikan lahan oleh Pemda; Centang pada kotak, apabila lahan belum milik Pemda, disertai dengan deskripsi penjelasnya dan lampiran dokumen penjelasnya. Disyaratkan lahan adalah milik Pemda, yang dibuktikan dengan sertifikat kepemilikan. a. Diisi dengan deskripsi yang menjelaskan kondisi eksisting lahan tersebut: Centang pada kotak, apabila lahan berupa tanah kosong tanpa bangunan; Centang pada kotak, apabila lahan berupa tanah kosong dengan bangunan; Berikan deskripsi lain yang menjelaskan secara rinci kondisi eksisting lahan tersebut. 5 Diisi dengan gambar yang menjelaskan lokasi lahan tersebut pada skala kota atau kawasan perkotaan dengan skala yang cukup. 6 Diisi dengan gambar foto udara yang diambil dari google earth. 7 Diisi dengan foto kondisi eksisting (minimal 4 foto) yang bisa menunjukkan dengan jelas kondisi eksisting lahan tersebut dari berbagai sudut. Lengkapi dengan peta kunci, yang menunjukkan titik-titik pengambilan foto.

I.29

2. B U KT I KE P E M IL IKA N L A H A N O L E H P E M E RINTA H DA E RA H

I.30

3. S U RAT KE P U T USA N ( S K) KE PA L A DA E RA H T E NTA NG P E NE TA PAN LO KA S I S E BAG A I RT H

I.31

E . L A M P IR A N 1. L A M P IRA N I STAT US RT RW
- Lembar Pertama Perda RTRW, atau - Surat Pernyataan/Keterangan dari Kepala Daerah bahwa RTRW sedang dalam Proses Legalisasi

I.32

2. L A M P IRA N II P RO G RAM T E RKA IT KOTA H IJAU


A. Tabel Nama Program Terkait Kota Hijau lain (di luar P2KH) yang saat ini telah dan sedang dikembangkan di wilayah kota/kabupaten

B. Foto Proses atau Hasil Program/Kegiatan Terkait Kota Hijau lain

I.33

3. L A M P IRA N III A LO KA S I DA NA S H A RIN G


Surat Pernyataan dari Instansi Penanggung Jawab atau Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD 2013

I.34

4. L A M P IRA N IV T IM SWA KE LO L A P 2KH 2013


A. Surat Keputusan (SK) TIM SWAKELOLA P2KH 2013

B. Daftar Kontak Tim Swakelola P2KH 2013

I.35

5 . L A M P IRA N V P E TA KO M U NITA S H IJAU


Dicetak format A2 terlipat rapi), jenis kertas art/matte paper, berat 120 gram dan disisipkan dalam plastik yang terjilid dalam buku RAKH (sehingga tidak tercecer terpisah).

I.36

PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH PERKOTAAN

II

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH BARU

II.A

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan I.3 Ruang Lingkup I.4 Keluaran I.5 Jadwal Pelaksanaan BAB II MUATAN MASTER PLAN RTH PERKOTAAN II.1 Gambaran Umum Kota (Profil Kota/Kabupaten) II.2 Identifikasi dan Evaluasi RTH Kawasan Perkotaan II.3 Rencana Pengembangan RTH Kota II.4 Road Map Rencana Pembangunan RTH Kota (20 tahun) II.4.1 Analisis Kebutuhan RTH Kawasan Perkotaan II.4.1.1 Kebutuhan RTH Berdasarkan Persentasi Wilayah II.4.1.2 Kebutuhan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk II.4.1.3 Kebutuhan RTH Berdasarkan Fungsi Tertentu II.4.2 Indikasi Program II.5 Strategi Pencapaian RTH 30% BAB III PENGELOLAAN RTH KOTA III.1 Pengembangan Pembibitan dan Budidaya Tanaman Penghijauan (Nursery) III.2 Pemeliharaan dan Pengelolaan RTH Kota III.3 Kelembagaan RTH Kota III.4. Raperda tentang RTH Kota/Kawasan Perkotaan LAMPIRAN DAFTAR PETA 1. Peta sebagai Input 2. Peta sebagai Output II.A.1 II.A.1 II.A.2 II.A.2 II.A.3 II.A.3 II.A.4 II.A.4 II.A.5 II.A.8 II.A.10 II.A.11

II.A.13 II.A.16 II.A.18 II.A.18 II.A.18 II.A.18 II.A.18 II.A.19 II.A.19 II.A.19

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG


Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan amanat UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang dimana disyaratkan luas RTH minimal sebesar 30% dari luas wilayah kota atau kawasan perkotaan yang terdiri dari RTH Publik minimal 20% dan RTH Privat minimal 10%. Pada kenyataannya, terjadi penurunan kuantitas Ruang Terbuka Hijau secara signifikan di kawasan perkotaan yang menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan di wilayah perkotaan. Oleh karena itu, salah satu langkah yang harus diambil terutama oleh para pembuat keputusan yaitu menyusun kebijakan hijau. Pemerintah Daerah dan DPRD perlu secepatnya menempatkan masalah RTH sebagai salah satu isu penting dalam pembahasan anggaran dan program pembangunan yang berkelanjutan. Perlu didorong lahirnya Peraturan Daerah tentang RTH dan Rencana Induk RTH agar perencanaan pembangunan RTH memiliki kekuatan hukum yang jelas dan tegas. Masterplan RTH bertujuan untuk memetakan RTH eksisting dan menetapkan rencana pembangunan RTH dalam periode 20 tahun sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah masing-masing Kota/Kabupaten. Dengan adanya Masterplan RTH diharapkan perwujudan RTH di kawasan perkotaan minimal 30% dapat tersusun dalam kerangka indikasi program yang sistematis dan realistis. Pada kawasan yang masih memiliki RTH lebih dari 30 %, maka Masterplan RTH disusun untuk upaya konservasi dan pelestarian kota hijau. agar pembangunan tetap dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan RTH yang sudah ada, sebagai wujud komitmen pengembangan

II.A.1

I.2 MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud Kegiatan ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya mendorong terwujudnya kota hijau khususnya RTH 30% dalam rangka implementasi RTRW kota/kabupaten dan untuk pemenuhan amanat UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. b. Tujuan Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk menyusun Rencana Induk Ruang Terbuka Hijau (Masterplan RTH), yang menjadi dasar penetapan lokasi-lokasi RTH yang diprioritaskan perwujudannya.

I.3 RUANG LINGKUP


a. Lingkup Wilayah Perencanaan Kegiatan ini dilaksanakan pada lingkup wilayah administrative kota (city wide) dan kawasan fungsional perkotaan di kabupaten. b. Lingkup Periode Perencanaan Masterplan RTH disusun dalam lingkup periode perancanaan 20 tahun sesuai RTRW Kota/Kabupaten. c. Lingkup Target Group Penyusunan Masterplan RTH melibatkan Pemerintah Kota/Kabupaten, swasta, dan masyarakat dengan pendekatan partisipatif (participatory planning). Pemerintah Kota/Kabupaten dapat memanfaatkan Masterplan RTH sebagai salah satu suplemen utama dalam penetapan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Swasta dapat memanfaatkan Masterplan RTH untuk mengambil peluang-peluang usaha dan pengalokasian CSR (coorporate social responsibility) yang mendukung kebijakan pembangunan kota hijau. Dalam masterplan sebaiknya memuat pula kerjasama pembangunan dan pemeliharaan RTH yang terbuka bagi pihak swasta.

II.A.2

I.4 KELUARAN
1. Dokumen teknis Masterplan RTH antara lain memuat: a. Gambaran Umum Kota (Profil Kota/Kabupaten) b. Identifikasi RTH Eksisting (Tabulasi dan Peta) c. Rencana Pengembangan RTH (Tabulasi dan Peta) d. Road Map Rencana Pembangunan RTH Kota (20 tahun) e. Strategi Pencapaian RTH minimal 30 % 2. Album peta yang disajikan dengan tingkat ketelitian skala minimal 1:25.000 dalam format A3 yang dilengkapi dengan data peta digital yang memenuhi ketentuan sistem informasi geografis (GIS) yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang. Album peta tersebut terdiri dari: a. Peta eksisting RTH (pertamanan, hutan kota, jalur hijau jalan, sempadan sungai, jalur hijau SUTT/SUTET, dll) b. Peta Rencana RTH periode 20 tahun c. Peta lokasi prioritas pembangunan RTH skala 1:5000 d. Peta tematik (topografi, geologi, hidrologi, resapan air, dll)

I.5 JADWAL PELAKSANAAN


N o
1 2

Tahapan Kegiatan
Pekerjaan Persiapan Pekerjaan Survey dan Pembuatan Peta RTH Eksisting

Bulan ke
I II III IV

Pekerjaan Analisis Fisik dan Kebutuhan RTH

4
5 6

Pekerjaan Pembuatan Rencana RTH


Pembuatan Indikasi Program Pekerjaan Pembuatan Rencana Pengelolaan RTH

II.A.3

BAB II MUATAN MASTERPLAN RTH PERKOTAAN II.1 GAMBARAN UMUM KOTA (PROFIL KOTA/KABUPATEN
Gambaran umum kota/kawasan perkotaan menjelaskan secara utuh karakter fisik maupun non fisik suatu kota. Adapun muatan dari gambaran umum wilayah, melingkupi : II.1.1 Informasi Fisik Informasi Fisik kota menjelaskan tentang letak geografis dan wilayah administrasi, klimatologi, jenis tanah, topografi dan kemiringan lereng, geologi, hidrologi dan daerah resapan air, dan vegetasi/flora (khas lokal), yang disajikan denga peta. II.1.2 Kependudukan Profil kependudukan menjelaskan mengenai jumlah penduduk pada kurun periode tertentu, sebaran penduduk pada suatu wilayah, dan laju pertumbuhan penduduk. Selain itu melalui profil penduduk dapat pula diestimasikan berbagai parameter demografi (kelahiran, kematian, migrasi). Profil penduduk bermanfaat dalam perencanaan maupun evaluasi program pembangunan khususnya pembangunan ruang terbuka hijau. II.1.3 Ekonomi Profil ekonomi menggambarkan antara lain struktur ekonomi, pertumbuhan ekonomi, kemampuan keuangan daerah, peranan ekonomi daerah terhadap perekonomian nasional, serta peluang investasi. Secara umum, melalui profil ekonomi kota/kabupaten dapat terlihat sektor-sektor yang menjadi unggulan kota/kabupaten sehingga diharapkan melalui pengembangan RTH di lokasi yang tepat dapat meningkatkan produktifitas perekonomian daerah. II.1.4 Sarana dan Prasarana Profil sarana dan prasarana memperlihatkan seberapa jauh kota/kabupaten telah memenuhi standar pelayanan wilayah sesuai dengan fungsi yang diembannya. Profil sarana dan prasarana kota/kabupaten terdiri dari antara lain: sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan, transportasi publik termasuk pula sarana dan prasarana untuk kegiatan yang sifatnya rekreatif seperti berinteraksi sosial, berolahraga dan bermain di II.A.4 ruang terbuka kota.

II.2 IDENTIFIKASI RTH EKSISTING


Kegiatan awal dalam penyusunan Masterplan RTH kota adalah mengidentifikasi keberadaan RTH kota yang telah ada (eksisting), terutama RTH public, yaitu RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah. Hal ini penting karena sudah seberapa jauh pemerintah daerah telah membangun dan mengelola RTH untuk kepentingan masyarakat. Identifikasi dan evaluasi tersebut meliputi: II.2.1 Penggunaan Lahan Kota (Land Use Map) Dalam penyusunan rencana pembangunan RTH kota, terlebih dahulu harus diperhatikan peta penggunaan lahan eksisting. Dari peta tersebut dapat diketahui ruang-ruang kota yang telah terbangun (built up area) dan yang belum terbangun. Ruang-ruang kota yang belum terbangun mengindikasikan keberadaan RTH kota dapat menjadi potensi untuk dikembangkan sebagai RTH kota. Keberadaan RTH eksisting, terutama RTH public menjadi titik tolak dalam pengembangan dan pembangunan RTH. II.2.2. Identifikasi Jenis RTH Kota Identifikasi jenis-jenis RTH yang telah tersedia dalam sebuah kawasan menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis RTH yang akan dibangun. Identifikasi dapat dilakukan dengan pengumpulan data primer melalui survey atau pengumpula data sekunder dari peta land use atau remote sensing. Informasi RTH eksisting disajikan dengan peta dan tabulasi

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH BARU

II.A.5

CONTOH TABEL RTH EKSISTING


KOTA BANDA ACEH

II.A.6

CONTOH TABEL RTH EKSISTING


KABUPATEN BADUNG

II.A.7

II.3 RENCANA PENGEMBANGAN RTH KOTA


Berdasarkan data penggunaan lahan eksisting dan identifikasi RTH di kawasan

perkotaan maka dapat diperkirakan lokasi-lokasi yang berpotensi untuk dikembangkan


sebagai RTH pada tahun-tahun mendatang sebagai upaya pemenuhan luasan RTH 30%. Peluang pengembangan RTH antara lain dapat diwujudkan dengan menambah RTH baru pada lahan-lahan yang belum terbangun. Dengan mengembangkan jalurjalur hijau sempadan sungai, situ, pantai dan jalur hijau pengaman ekologis lainnya. Di sisi lain, pemenuhan luasan RTH tidak selalu berarti pembangunan RTH baru, namun

dapat dilakukan melalui akuisisi RTH privat, revitalisasi RTH yang sudah mengalami alih
fungsi, atau melalui pengembangan RTH pada fungsi khusus seperti RTH sempadan rel, jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi, dan kawasan belum terbangun lainnya. Alternatif penambahan luasan RTH tersebut juga harus tergambar dalam peta dan tabulasi rencana pengembangan RTH di kawasan perkotaan.

II.A.8

CONTOH TABEL RENCANA PENGEMBANGAN RTH


KOTA MALANG

II.A.9

II.4 ROAD MAP RENCANA PEMBANGUNAN RTH KOTA (20 TAHUN)


Dalam Masterplan RTH Kota harus ditentukan arah pengembangan dan pembangunan RTH yang disesuaikan dengan karakteristik dan potensi kawasan kota. Road Map Rencana Pembangunan RTH kota menyajikan perencanaan pencapaian RTH minimal 30 persen dalam kurun waktu 20 tahun, dengan menyesuaikan pada jangka waktu pengembangan wilayah berdasarkan RTRW setempat. Road Map dibagi menjadi target pencapaian jangka menengah dan jangka panjang, diawali dengan melakukan analisis kebutuhan RTH Kota dan indikasi program pada setiap lokasi pengembangan. Arah pengembangan tersebut tercermin dari kebijakan yang tertuang dalam rencana pembangunan RTH dalam mewujudkan Kota Hijau.

II.A.10

II.4.1 ANALISIS KEBUTUHAN RTH KOTA


Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5 tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan, analisis kebutuhan RTH kota terdiri dari 3 (tiga) pendekatan, yaitu: berdasarkan persentasi wilayah, berdasarkan jumlah penduduk dan berdasarkan fungsi tertentu.

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH BARU

II.4.1.1 Kebutuhan RTH Berdasarkan Persentasi Wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut: - RTH di perkotaan terdiri dari RTH privat dan RTH publik - Proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% RTH publik dan 10% RTH privat. - Apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan dan perundangan yang berlaku, maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya.
II.4.1.2. Kebutuhan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk, dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH perkapita sesuai peraturan yang berlaku. Tabel kebutuhan RTH berdasarkan jumlah penduduk

II.A.11

II.4.1.3. Kebutuhan RTH Berdasarkan Fungsi Tertentu Kebutuhan RTH berdasarkan fungsi tertentu dapat dihitung dengan pendekatan Kebutuhan Oksigen, Netralisasi Karbon Dioksida, Kebutuhan Air dan kebutuhan fungsi ekologis lainnya. Dilengkapi dengan perhitungan-perhitungan. a. Kebutuhan RTH Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Kebutuhan RTH kota berdasarkan kebutuhan oksigen dapat dihitung berdasarkan pendekatan Gerakis yang dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut: Hasil penelitian di sebuah kota dengan luas 431 km2, jumlah penduduk 2,6 juta jiwa, jumlah kendaraan bermotor 200.000 maka kebutuhan oksigennya = 5,352 X 10 gram atau setara 5.709 X 10 gram berat kering tanaman. Untuk memproduksi oksigen oleh kelompok tanaman sebesar jumlah tersebut perlu dibangun: (5.709 X 10) : 24 = 105.7 km2 atau 24.6% luas kota adalah RTH Dengan catatan asumsi bahwa setiap meter persegi (m2) tanaman menghasilkan 54 gram bahan kering. b. Kebutuhan RTH Berdasarkan Netralisasai Karbon Dioksida RTH juga memiliki fungsi sebagai penyerap karbon dioksida (CO2), namun harus diperhatikan jenis RTH yang dapat memaksimalkan fungsi ini adalah RTH hutan kota. Cahaya matahari yang memancar sepanjang hari akan dimanfaatkan oleh vegetasi dalam fotosintesis yang berfungsi untuk mmengubah gas CO2 dari H2O menjadi Karbohidrat dan Oksigen (O2). Proses ini sangat berguna bagi manusia, sebab bila konsentrasi CO2 meningkat akan beracun bagi manusia dan menyebabkan efek rumah kaca (green-house effect). c. Kebutuhan RTH Berdasarkan Perhitungan Kebutuhan Air Kebutuhan air dalam kota tergantung dari faktor kebutuhan air bersih pertahun, jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM, potensi air saat ini, dan kemampuan RTH menyimpan air. Berdasarkan angka kebutuhan air tersebut lebih lanjut dapat dihitung luas RTH kota yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat kota.

II.A.12

II.4.2 INDIKASI PROGRAM


Masterplan RTH harus dilengkapi dengan tabel indikasi program pembangunan RTH perkotaan yang meliputi: 1. Usulan Program Utama : Program-program pembangunan RTH yang

diindikasikan memiliki bobot kepentingan utama dan diprioritaskan untuk mewujudkan tujuan pembangunan RTH kota/kawasan perkotaan 2. Lokasi : dilaksanakan Lokasi adalah tempat dimana usulan program utama akan

3. Kepemilikan lahan 4. Besaran:

5. Sumber pendanaan : Sumber pendanaan dapat berasal dari APBD Kota, APBD

6. Instansi pelaksana : Instansi pelaksana adalah pihak-pihak pelaksana program yang meliputi pemerintah (sesuai dengan kewenangan masing-masing pemerintahan), swasta, dan masyarakat 7. Waktu dan tahapan pelaksanaan : Usulan indikasi program utama direncanakan dalam kurun waktu perencanaan 10 (sepuluh) tahun yang dirinci setiap 5 (lima)

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH BARU


utama yang akan dilaksanakan

Besaran adalah perkiraan jumlah satuan masing-masing program

Provinsi, APBN, swasta, dan/atau masyarakat

tahunan

Tabel Indikasi Program Indikator keberhasilan MP-RTH adalah tercantumnya rencana pembangunan RTH (taman, hutan kota, jalur hijau dan RTH lainnya)

II.A.13

CONTOH TABEL INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN RTH


KOTA MALANG

II.A.14

CONTOH TABEL INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN RTH


KABUPATEN BADUNG

II.A.15

II.5 STRATEGI PENCAPAIAN RTH 30%


Berikut 8 strategi peningkatan RTH 30% untuk mewujudkan kota hijau. 1. Menetapkan daerah yang tidak boleh dibangun (preservasi) Menentukan daerah-daerah yang diperkirakan sensitif terhadap perubahan. Daerah yang sensitif harus dipreservasi atau dikonservasi agar fungsi lingkungan tetap terjaga. Daerah yang perlu dipreservasi antara lain : Habitat satwa liar; Daerah dengan keanekaragaman hayati tinggi; Daerah genangan dan penampungan air hujan (water retention) Daerah rawan longsor; Tepian sungai dan tepian pantai sebagai pengaman ekologis; Daerah-daerah yang memiliki nilai pemandangan tinggi 2. Membangun lahan hijau baru (menambah kuantitas/hub) Untuk menambah kuantitas RTH pemerintah daerah dapat membeli lahan untuk memperbanyak pembangunan taman-taman lingkungan, taman kota, taman makam, lapangan olahraga, hutan kota, kebun raya, hutan mangrove, dan situ/danau buatan. 3. Mengembangkan koridor hjau/jalur hijau kota (link) Penghijauan secara massal untuk menciptakan koridor hijau atau jalur hijau kota seperti : Jalur hijau jalan dan jalan tol; Jalur hijau sempadan sungai; Tepian badan air situ, waduk dan pantai; Sempadan rel kereta api; Saluran Umum Tegangan Tinggi (SUTT). Jalur hijau dapat dikembangkan sebagai urban park connector. 4. Mengakuisisi RTH privat, menjadikan bagian RTH kota Mengembangkan dan mengendalikan RTH privat menjadi RTH kota dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut : Penerapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) pada lahan-lahan privat yang dimiliki masyarakat dan swasta diterapkan pada pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Pengembang diminta untuk memenuhi kewajiban penyediaan RTH publik, minimal 20% berupa taman lingkungan jalur hijau dan jenis RTH lainnya. Warga diajak berperan serta mengelola lahan hijau pekarangan melalui penanaman pohon penghijauan.

II.A.16

5. Peningkatan kualitas RTH Kota melalui refungsi RTH eksisting Mengembalikan fungsi RTH yang sebelumnya berfungsi bukan RTH, sehingga dapat meningkatkan fungsi ekologisnya. Upaya terebut dapat berupa: Refungsionalisasi RTH eksisting jalur hijau SPBU kembali menjadi taman; Restorasi kawasan hutan bakau; Revitalisasi situ, danau, waduk, sebagai daerah resapan air. Penanaman rumput pada taman-taman lingkungan yang diperkeras (lapangan bulutangkis, lapangan basket, lahan parkir) agar mempunyai daya serap air yang lebih besar. 6. Menghijaukan bangunan (green roof/green wall) Keterbatasan lahan telah mendorong pengembangan daerah hijau tidak dipermukaan tanah (landed). Kini mulai diintroduksi pembangunan taman atap (green roof, roof garden) dan dinding hijau (green wall, vertical garden) pada bangunan. Penghijauan bangunan terbukti mampu menurunkan suhu kota dan menyerap karbon dioksida sekaligus meningkatkan estetika bangunan. 7. Meningkatkan peran serta masyarakat/forum komunitas hijau Untuk mewujudkan RTH minimal 30% dari luas kota maka partisipasi masyarakat sangat diperlukan. Untuk perlu membentuk komunitas hijau untuk dilibatkan dalam program pengembangan kota hijau di masing-masing daerah. 8. Menyusun kebijakan hijau Pemerintah Daerah dan DPRD perlu secepatnya menempatkan masalah RTH sebagai salah satu isu penting dalam pembahasan anggaran dan program pembangunan yang berkelanjutan. Perlu secepatnya didorong untuk menyusun Peraturan Daerah tentang RTH agar perencanaan pembangunan RTH memiliki kekuatan hukum yang jelas dan tegas.

II.A.17

BAB III PENGELOLAAN RTH KOTA


3.1 Pengembangan Pembibitan dan Budidaya Tanaman Penghijauan (Nursery) Untuk memenuhi kebutuhan penghijauan dalam pengembangan kota hijau, pemerintah daerah perlu menyiapkan lahan untuk pembibitan dan budidaya tanaman. Tanaman penghijauan yang dikembangkan dapat berupa pohon, semak hias maupun groundcover untuk menghijaukan lingkungan.
3.2 Pemeliharaan dan Pengelolaan RTH Kota RTH yang telah dibangun perlu pemeliharaan dan pengelolaan yang berkelanjutan agar fungsi ekologi, sosial maupun estetikanya tetap terjaga. 3.3 Kelembagaan RTH Kota Disamping pemeliharaan dan pengelolaan RTH perlu ada kejelasan satuan kerja yang bertanggung jawab terhadap keberadaan RTH, hal ini berkaitan dengan kelembagaan (SKPD) . 3.4. Raperda tentang RTH Kota/Kawasan Perkotaan Master Plan RTH dapat menjadi dasar untuk menyusun rancangan peraturan daerah tentang RTH (Raperda RTH) sebagai dasar hukum pembangunan RTH dalam menunjang pembangunan kota hijau.

II.A.18

LAMPIRAN DAFTAR PETA


1 . PETA INPUT
Untuk melengkapi analisis pembangunan RTH kawasan perkotaan, dokumen teknis Masterplan RTH perlu dilengkapi dengan peta-peta tematik sebagai berikut: 1. Peta administrasi Kota/Kabupaten 2. Peta alih fungsi RTH 3. Peta geologi lahan 4. Peta hidrologi 5. Peta tipologi lereng 6. Peta kawasan resapan air 7. Peta sempadan sungai 8. Peta sempadan sutet 9. Peta sempadan rel KA 10. Peta penggunaan lahan eksisting

2. PETA OUTPUT
Adapun salah satu output yang diharapkan dari kegiatan penyusunan Masterplan RTH kawasan perkotaan berupa peta yang terdiri dari: 1. Peta RTH eksisting berdasarkan tipologi (skala 1:25.000) 2. Peta rencana penambahan luasan RTH untuk kurun waktu 20 (dua puluh) tahun (skala 1:25.000) sebagai pemenuhan target 30% (skala 1:25.000)

II.A.19

CONTOH
PETA RTH EKSISTING Kota Malang

CONTOH
PETA RTH RENCANA Kota Malang

CONTOH
PETA RTH EKSISTING Kab. Badung Ibukota Kabupaten

CONTOH
PETA RTH RENCANA Kab. Badung Ibukota Kabupaten

CONTOH
PETA RTH EKSISTING Kab. Badung Kawasan Strategis

CONTOH
PETA RTH RENCANA Kab. Badung Kawasan Strategis

B. PENYEMPURNAAN MASTERPLAN UPSCALING

II.B

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan I.3 Ruang Lingkup I.4 Keluaran I.5 Jadwal Pelaksanaan BAB II MUATAN MASTER PLAN RTH PERKOTAAN II.1 Gambaran Umum Potensi Lokal Kota Kabupaten II.2 Identifikasi RTH dan atribut hijau pilihan eksisting II.3 Rencana Pengembangan dan Pembangunan II.4.Indikasi Program II.5 Pengelolaan Atribut Hijau Kota BAB III LAMPIRAN DAFTAR PETA II.B.1 II.B.1 II.B.2 II.B.2 II.B.4 II.B.4 II.B.5 II.B.5 II.B.6 II.B.7 II.B.9 II.B.11 II.B.12

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG


Kota Hijau merupakan kota yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan secara efektif dan efisien sumberdaya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, mensinergikan lingkungan alami dan buatan, berdasarkan perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Sebagai bentuk implementasi dari Kota Hijau, diperlukan perencanaan dan perancangan kota yang ramah lingkungan yang diperuntukkan bagi masyarakat umum, dengan mementingkan kualitas, kegiatan sosial dan budaya serta ruang hijau didalamnya. Pada tahap inisiasi kota hijau, telah dilakukan penyusunan Masterplan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Perkotaan sebagai salah satu dari fokus kegiatan perencanaan dan perancangan kota yang ramah lingkungan (Green Planning and Design). Masterplan RTH Perkotaan merupakan acuan pengembangan RTH 30% dalam rangka memenuhi amanat UU no. 26/2007 tentang Penataan Ruang. Memasuki tahap up-scaling, diperlukan adanya pengembangan perencanaan

menuju perwujudan kota hijau dengan melibatkan atribut lain sesuai dengan potensi lokal masing-masing kota/kabupaten melalui kegiatan penyusunan Masterplan RTH up-scaling.

II.B.1

I.2 MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud Kegiatan ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya mendorong terwujudnya kota hijau

dalam rangka implementasi RTRW kota/kabupaten dan untuk pemenuhan amanat UU


No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, khususnya pengembangan dari masterplan RTH.

b. Tujuan Masterplan RTH up-scaling bertujuan untuk memetakan potensi lokal daerah sesuai

atribut Kota Hijau, dengan berdasarkan pada masterplan RTH perkotaan yang telah
ada.

I.3 RUANG LINGKUP


a. Lingkup Wilayah Perencanaan Kegiatan ini dilaksanakan pada lingkup wilayah administratif kota (city wide) dan kawasan fungsional perkotaan (ibukota dan kawasan strategis perekonomian) di kabupaten.

b. Lingkup Periode Perencanaan Masterplan RTH up-scaling disusun dalam lingkup periode perancanaan 20 tahun sesuai RTRW Kota/Kabupaten.

II.B.2

c. Lingkup Atribut Perencanaan Masterplan RTH up-scaling berbasis pada atribut utama yaitu Green Open Space (RTH) dengan pengembangan 1 (satu) atribut lain, dengan pilihan sebagai berikut : A. Green Transportation Merencanakan dan menerapkan transportasi non motor yang menghubungkan antar RTH Perkotaan. Misalnya jalur sepeda dan jalur pejalan kaki. B. Green Waste Merencanakan pengelolaan sampah di RTH perkotaan dengan pronsip-prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycling) perkotaan. Misalnya pemilihan sampah, komposting, pembatasan penggunaan plastik, kawasan bebas Styrofoam, kerajinan daur ulang, dsb. C. Green Water Merencanakan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, khususnya di Ruang Terbuka Hijau (RTH) maupun Ruang Terbuka Biru (RTB) Perkotaan. Misalnya : konsep zero run-off di RTH perkotaan, pemanfaatan ruang terbuka biru (fungsi rekreasi, sumber energi, area konservasi), dsb. D. Green Energy Merencanakan pemanfaatan sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan. Misalnya penggunaan listrik tenaga surya untuk lampu penerangan jalan umum, listrik tenaga angin, pembangkit tenaga air, dsb.

II.B.3

I.4 KELUARAN
1. Dokumen teknis Masterplan RTH up-scaling antara lain memuat: a. Gambaran Umum Potensi Lokal yang akan dikembangkan (Atribut Hijau pilihan) b. Identifikasi RTH dan atribut hijau eksisting (yang dipilih), berupa Tabulasi dan Peta c. Rencana Pengembangan RTH dan atribut hijau pilihan, berupa Tabulasi dan Peta d. Road Map Rencana Pembangunan RTH dan atribut hijau pilihan (periode 20 tahun) 2. Album peta yang disajikan dengan tingkat ketelitian skala minimal 1:25.000 dalam format A3 yang dilengkapi dengan data peta digital yang memenuhi ketentuan sistem informasi geografis (GIS) yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang. Album peta tersebut terdiri dari: a. Peta eksisting RTH dan atribut hijau pilihan b. Peta Rencana RTH dan atribut hijau pilihan dalam periode 20 tahun c. Peta Lokasi Prioritas Pembangunan Jangka Menengah (5 tahun) skala 1 : 5000

I.5 JADWAL PELAKSANAAN


N o 1 2 Tahapan Kegiatan Pekerjaan Persiapan Pekerjaan Survey dan Pembuatan Peta RTH dan atribut hijau (pilihan) Eksisting Pekerjaan Pembuatan Rencana RTH dan atribut pilihan Pembuatan Indikasi Program Pekerjaan Pembuatan Rencana Pengelolaan Bulan ke I II III IV

3 4 5

II.B.4

BAB II MUATAN MASTERPLAN RTH UPSCALING PERKOTAAN II.1 GAMBARAN UMUM POTENSI LOKAL KOTA/KABUPATEN
Muatan dari gambaran umum wilayah, melingkupi : II.1.1 Informasi Fisik Informasi Fisik kota menjelaskan tentang letak geografis dan wilayah administrasi, klimatologi, jenis tanah, topografi dan kemiringan lereng, geologi, hidrologi dan daerah resapan air, dan vegetasi/flora (khas lokal), yang disajikan dengan peta. II.1.2 Kependudukan Profil kependudukan menjelaskan mengenai jumlah penduduk pada kurun periode tertentu, sebaran penduduk pada suatu wilayah, dan laju pertumbuhan penduduk. Selain itu melalui profil penduduk dapat pula diestimasikan berbagai parameter demografi (kelahiran, kematian, migrasi). Profil penduduk bermanfaat dalam perencanaan maupun evaluasi program pembangunan khususnya pembangunan ruang terbuka hijau. II.1.3 Potensi Hijau Lokal Potensi hijau lokal menjelaskan potensi pengembangan kota hijau sesuai dengan 8 atribut kota hijau. Setiap daerah agar memilih 1 dari 8 atribut kota hijau berdasarkan potensi (kekuatan) setempat, antara lain : A. Green Transportation Potensi penerapan transportasi non motor antar RTH perkotaan B. Green Waste Potensi penerapan pengelolaan sampah di RTH perkotaan dengan pronsip-prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycling) C. Green Water Potensi pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan II.B.5 D. Green Energy Potensi pemanfaatan sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan.

II.2 IDENTIFIKASI RTH DAN ATRIBUT HIJAU PILIHAN EKSISTING


Kegiatan awal dalam penyusunan Masterplan RTH up-scaling kota adalah mengidentifikasi keberadaan RTH up-scaling kota yang telah ada (eksisting), terutama RTH publik, yaitu RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah dan atribut hijau pilihan. Identifikasi dan evaluasi tersebut meliputi: II.2.1 Penggunaan Lahan Kota (Land Use Map) Dalam penyusunan rencana pembangunan RTH kota, terlebih dahulu harus diperhatikan peta penggunaan lahan eksisting. Dari peta tersebut dapat diketahui ruang-ruang kota yang telah terbangun (built up area) dan yang belum terbangun. Ruang-ruang kota yang belum terbangun mengindikasikan keberadaan RTH kota dapat menjadi potensi untuk dikembangkan sebagai RTH kota. Keberadaan RTH eksisting, terutama RTH public menjadi titik tolak dalam pengembangan dan pembangunan RTH. II.2.2. Identifikasi Jenis RTH Kota Identifikasi jenis-jenis RTH yang telah tersedia dalam sebuah kawasan menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis RTH yang akan dibangun. Identifikasi dapat dilakukan dengan pengumpulan data primer melalui survey atau pengumpula data sekunder dari peta land use atau remote sensing. Informasi RTH eksisting disajikan dengan peta dan tabulasi. II.2.3. Identifikasi Atribut Hijau sesuai potensi lokal Identifikasi atribut kota hijau sesuai dengan potensi lokal, yaitu : A. Jalur Sepeda dan Jalur Pejalan Kaki eksisting (Green Transportation) B. Pengelolaan Persampahan eksisting (Green Waste) C. Pengelolaan sumber daya air eksisting (Green Water) D. Pemanfaatan sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan (Green Energy)

II.B.6

II.3 RENCANA PENGEMBANGAN DAN PEMBANGUNAN


Berdasarkan identifikasi RTH dan atribut hijau eksisting di kawasan perkotaan maka dapat diperkirakan lokasi-lokasi yang berpotensi untuk dikembangkan sesuai dengan atribut hijau pilihan pada tahun-tahun mendatang. A. TABEL RTH Eksisting dan Rencana
No Jenis RTH Luas (Ha) 1 RTH Taman dan Hutan Kota Eksisting Persentase (%) Luas (Ha) Rencana Persentase (%)

a.Taman Kota
b. Hutan Kota c. Sabuk hijau (green belt) 2 RTH Jalur Hijau Jalan a. Pulau Jalan dan median jalan b. Ruang dibawah jalan layang 3. RTH Fungsi Tertentu a. RTH sempadan kereta api b. Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c. RTH sempadan sungai d. RTH sempadan pantai e. RTH pengamanan sumber air baku/mata air f. Pemakaman Total

II.B.7

B. TABEL Atribut Hijau Pilihan Eksisting dan Rencana


No Jenis Atribut Pilihan Luas (Ha) 1 Green Transportation a.Jalur Sepeda b. Jalur Pejalan Kaki 2 Green Waste a. Tempat Pembuangan Sampah Akhir b. Tempat Pemilahan Sampah 3. Green Water a. Sungai b. Waduk c. Danau d.Pemanfaatan sumber daya air 4. Green Energy a. Tenaga Surya b. Tenaga Angin c. Tenaga Air Total Eksisting Persentase (%) Luas (Ha) Rencana Persentase (%)

II.A.10

II.4 INDIKASI PROGRAM


Masterplan RTH harus dilengkapi dengan tabel indikasi program pembangunan RTH up-scaling perkotaan yang meliputi: 1. Usulan Program Utama : Program-program pembangunan RTH dan atribut

pilihan yang diindikasikan memiliki bobot kepentingan utama dan diprioritaskan untuk mewujudkan tujuan pembangunan RTH dan atribut pilihan kota/kawasan perkotaan 2. Lokasi : dilaksanakan 3. Kepemilikan lahan 4. Besaran: Besaran adalah perkiraan jumlah satuan masing-masing program Lokasi adalah tempat dimana usulan program utama akan

utama yang akan dilaksanakan

5. Sumber pendanaan : Sumber pendanaan dapat berasal dari APBD Kota, APBD
Provinsi, APBN, swasta, dan/atau masyarakat 6. Instansi pelaksana : Instansi pelaksana adalah pihak-pihak pelaksana program yang meliputi pemerintah (sesuai dengan kewenangan masing-masing pemerintahan), swasta, dan masyarakat 7. Waktu dan tahapan pelaksanaan : Usulan indikasi program utama direncanakan

dalam kurun waktu perencanaan 10 (sepuluh) tahun yang dirinci setiap 5 (lima)
tahunan

II.B.9

TABEL INDIKASI PROGRAM


N o 1 Program Lokasi Kepemilikan Lahan Besaran Dana Sumber Pendanaan Instansi Pelaksana Waktu Pelaksanaan

Jangka Pendek (1 tahun) a.. b. .

Jangka Menengah (5 tahun) a. .. b. ..

3.

Jangka Panjang (20 tahun) a. .. b. ..

II.B.10

II.5 PENGELOLAAN ATRIBUT HIJAU KOTA


3.1 Pengembangan Pembibitan dan Budidaya Tanaman Penghijauan (Nursery)

Untuk memenuhi kebutuhan penghijauan dalam pengembangan kota hijau,


pemerintah daerah perlu menyiapkan lahan untuk pembibitan dan budidaya tanaman. Tanaman penghijauan yang dikembangkan dapat berupa pohon, semak hias maupun groundcover untuk menghijaukan lingkungan.

3.2 Pemeliharaan dan Pengelolaan Atribut Hijau

RTH yang telah dibangun perlu pemeliharaan dan pengelolaan yang berkelanjutan
agar fungsi ekologi, sosial maupun estetikanya tetap terjaga.

3.3 Kelembagaan Atribut Hijau Disamping pemeliharaan dan pengelolaan RTH dan atribut hijau lainnya, perlu ada kejelasan satuan kerja yang bertanggung jawab terhadap keberadaan RTH

dan atribut lain tersebut, hal ini berkaitan dengan kelembagaan (SKPD) .

3.4. Raperda tentang RTH Kota/Kawasan Perkotaan Master Plan RTH dapat menjadi dasar untuk menyusun rancangan peraturan daerah tentang RTH (Raperda RTH) sebagai dasar hukum pembangunan RTH dalam menunjang pembangunan kota hijau.

II.B.11

BAB III LAMPIRAN PETA


Keluaran yang diharapkan dari kegiatan penyusunan Masterplan RTH up-scaling kawasan perkotaan berupa peta yang terdiri dari: 1. Peta eksisting RTH dan atribut hijau pilihan 2. Peta Rencana RTH dan atribut hijau pilihan dalam periode 20 tahun 3. Peta Lokasi Prioritas Pembangunan Jangka Menengah (5 tahun) skala 1 : 5000

II.B.12

CO NTOH P E TA RT H U P - S C A L IN G E KS IST ING 2013

CO NTOH P E TA RT H U P - S C A L IN G RE NC A NA 2033

PHOTO

PENYUSUNAN DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED) TAMAN KOTA HIJAU

III

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan I.3 Lingkup Kegiatan I.4 Keluaran BAB II SYARAT DAN KETENTUAN II.1 Syarat Penentuan Lokasi dan Perencanaan RTH II.2 Ketentuan RTH BAB III PROSES DAN TAHAPAN KEGIATAN III.1 Pengumpulan Data III.2 Analisis III.3 Perencanaan III.4 Penyusunan Dokumen Konstruksi dan Pelelangan III.5 Komponen Rencana Anggaran Biaya III.6 Jadwal Pekerjaan BAB IV PELAKSANA KEGIATAN IV.1 Tenaga Ahli IV.2 Mekanisme Kerja III.1 III.1 III.2 III.3 III.4 III.5 III.5 III.6 III.7 III.7 III.8 III.9 III.10 III.12 III.17 III.18 III.18 III.19

DAFTAR ISI

BAB V LAMPIRAN : CONTOH DED III.22 V.1 Daftar Gambar III.22 V.2 Site Plan III.23 V.3 Gambar Simulasi 3D III.25 V.4 Gambar Detail Tata Tanaman dan Teknik Penanaman III.27 V.5 Gambar Detail Perkerasan III.28 V.6 Gambar Detail Tempat Sampah, Komposter, Bangku Taman, Sumur Resapan III.29 V.7 Guideline Papan Informasi Taman III.30

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG


Pengembangan Kota Hijau di Indonesia memerlukan gerak bersama seluruh unsur pemangku kepentingan kota. Pada tahun 2011, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum memprakarsai Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH. P2KH diawali dengan penggalangan prakarsa dan komitmen kabupaten kabupaten/kota untuk mewujudkan Kota Hijau melalui perumusan local action plan atau rencana aksi kota hijau (RAKH). Salah satu atribut yang menjadi fokus di dalam RAKH adalah terkait Green Open Space yakni berupa peningkatan kualitas dan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan karakteristik Kabupaten/kota. Hal ini tentunya sejalan dengan tujuan dari P2KH yaitu meningkatkan kualitas ruang kota khususnya mellaui perwujudan RTH 30% sekaligus implementasi RTRW Kota/Kabupaten.

Untuk menindaklanjuti rencana aksi yang telah disepakati oleh pemerintah Kabupaten/Kota tersebut, maka di tahun 2012 ini pemerintah melaksanakan kegiatan penyusunan DED (Detail Engineering Design) RTH Perkotaan. Kegiatan ini merupakan turunan dari masterplan RTH Perkotaan dan ditujukan untuk memberikan panduan dalam perencanaan RTH perkotaan.

III.1

I.2 MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud

Kegiatan Penyusunan DED dimaksudkan sebagai salah satu upaya mendorong


terwujudnya kota hijau melalui peningkatan kualitas dan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sesuai dengan karakteristik Kota dalam rangka implementasi RTRW Kota/Kabupaten amanat UU No. 26/ 2007 tentang Penataan Ruang pasal 29 ayat (2).

b. Tujuan

Tujuan kegiatan ini adalah menyusun Detail Engineering Design (DED) RTH sebagai
acuan bagi pelaksana konstruksi dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi serta mengawal proses terkait penyelenggaraan konstruksi implementasi pengembangan RTH.

III.2

I.3 RUANG LINGKUP


1. Kegiatan Pekerjaan Pra Rancangan : a. Gambar pra-rancangan arsitektur lanskap yang meliputi : siteplan b.Garis besar persyaratan teknis (outline specification) c. Perkiraan biaya pembangunan (preliminary cost estimate) 2. Kegiatan Pekerjaan Pengembangan Rancangan : a. Gambar Rancangan landscape yang meliputi : siteplan dan detail gambar rencana, yaitu : - Rencana Tata Hijau (Softscape) - Rencana Hardscpae (Jogging Track, Plaza, Parkir Sepeda) dan Bangunan Taman - Rencana Penempatan Sumur Resapan dan Kran Taman Sprinkler - Rencana Penempatan Tempat Sampah, Komposter, dan Bangku Taman - Rencana Titik Lampu dan Penempatan Solar Panel b. Gambar detail landscape yang meliputi : - Detail Penanaman Pohon dan Daftar Pohon - Detail Perkerasan (Jogging Track) - Detail Toilet & Pos Jaga - Detail Parkir Sepeda - Detail Tempat Sampah, Detail Komposter, Detail Tempat Duduk Taman - Detail Sumur Resapan - Detail Signage Nama Taman 3. Kegiatan Pekerjaan Dokumen Lelang, meliputi: a. Petunjuk Pelelangan. b. Persyaratan Teknis. c. Gambar rencana dan detail landscape d. Rencana Kerja dan Syarat-syarat. e. Rincian volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya pekerjaan konstruksi. dan harga satuan pekerjaan

III.3

I.4 KELUARAN
1. Dokumen DED yang meliputi :

a. Laporan perencanaan lansekap lengkap dengan perhitungan-perhitungan yang


bisa dipertanggungjawabkan. b. Rencana siteplan mencakup seluruh eleman lanskap. c. Gambar DED softscape dan hardscape lengkap dalam ukuran kertas A3.

2. Dokumen Lelang :

a. Rencana anggaran biaya (RAB/EE),


b. Rincian volume pekerjaan (BQ), c. Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)

3. Dokumen pengadaan jasa pemborongan implementasi pengembangan RTH

III.4

BAB II SYARAT DAN KETENTUAN

II.1 SYARAT PENENTUAN LOKASI DAN PERENCANAAN RTH


Sebelum pelaksanaan perancangan konstruksi, setiap Kota/Kabupaten harus menentukan lokasi strategis dan signifikan dalam rangka peningkatan kuantitas RTH kawasan perkotaan. Kawasan Perkotaan yang termasuk dalam cakupan kegiatan P2KH adalah ibukota kota/kabupaten sehingga akan memberikan dampak optimal terhadap perwujudan Kota Hijau secara keseluruhan.

Syarat Penentuan Lokasi Penambahan RTH : - Status lahan milik PEMDA - Kemudahan aksesibilitas - Kedekatan dengan pusat kegiatan masyarakat kota,serta bisa digunakan untuk publik

Syarat Perencanaan RTH : - Komposisi Ruang Hijau (Softcape) : Perkerasan (Hardscape) = Softcape min. 70% : Hardcape max.30% berupa material ramah lingkungan (bisa dimungkinkan untuk menyerap air)

III.5

II.2 KETENTUAN RTH


Penyusunan DED RTH Perkotaan diarahkan berbentuk Taman Kota Hijau. Atribut yang harus tercakup dalam perencanaan Taman Ramah Lingkungan : 1. Green Waste : Sistem Pengolahan dan Penggunaan Material Bekas (Sampah), dalam bentuk : - pemilahan sampah dengan penggunaan tempat sampah organik-anorganik - pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan komposter. Kompos digunakan untuk pemeliharaan taman itu sendiri. - penggunaan furniture hijau (terbuat dari bahan daur ulang) di dalam taman, seperti untuk bangku taman, patung, dll. 2. Green Water : Sistem Pengolahan dan Penggunaan Ulang (Daur Ulang) Air, dalam bentuk : - pembuatan sumur resapan air - pengolahan atau penggunaan kembali air bekas, misalnya dari air dari toilet untuk penyiraman tanaman. 3. Green Energy : Sistem Penyedia Sumber Listrik dari Matahari, dengan pemakaian : - Lampu Surya - Pohon Surya (penyedia instalasi stop kontak & wi-fi dengan solar panel) 4. Green Building : Naungan sederhana, sebagai sarana pendukung utama taman, dari material ramah lingkungan dengan penghawaan alami : -Shelter atau Halte Bus, Gazebo, Pergola, Toilet SIGNAGE TAMAN : Informasi tentang siteplan taman, lokasi, luasan, serta logo institusi dan keterangan P2KH 5. Green Transportation : Sistem Kemudahan & Kenyamanan Aksesibiltas, dalam bentuk : - Trotoar Tepi Jalan-Taman dan Jalur Pejalan Kaki dalam Taman - Jalur & Parkir Sepeda 6. Green Open Space : Pemilihan Jenis Vegetasi dengan tinggi minimal 3 meter, diameter minimal 5cm, berupa - Vegetasi Lokal (Endemik), Vegetasi Peneduh (Penyerap Polutan atau Pereduksi Emisi Karbon), Vegetasi Pembentuk Iklim Mikro, Vegetasi Produsen Oksigen, Vegetasi Penarik Satwa Liar

III.6

BAB III PROSES DAN TAHAPAN KEGIATAN

III.1 PENGUMPULAN DATA


A. Data Primer Data Visual Kegiatan ini berupa pendokumentasian/foto yang menunjukkan visualisasi lokasi perencanaan. Data visual ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran nyata kondisi eksisting di lapangan terutama mengenai potensi dan masalah yang ada. Data Pengukuran dilakukan pada lokasi perencanaan untuk mendapatkan data ukur sebagai dasar penyusunan DED. B. Data Sekunder Pengumpulan data sekunder berupa: a. Peraturan pemda setempat, yang meliputi: 1) Peraturan yang terkait dengan Penataan Ruang; Peruntukan lahan KDB (Koefisien dasar bangunan) KDH (Koefisien dasar hijau) KLB (Koefisien lantai bangunan) KB (Ketinggian bangunan) Tipe bangunan GSB (garis sepadan bangunan). 2) Peraturan mengenai persyaratan bangunan berupa persyaratan: Disain Struktur Instalasi mekanikal/ elektrikal Kebakaran Aksesibilitas bagi penyandang cacat. 3) Peraturan dan standar perencanaan lainnya yang secara langsung ataupun tidak langsung terkait dengan kegiatan pembangunan. a. Gambar peta eksisiting dan LRK (Lembar Rencana Kota). III.7 b. Studi literatur

III.2 ANALISIS
Kegiatan analisis yang dilakukan dimaksudkan untuk mendapatkan bentuk-bentuk

penanganan yang bisa dilakukan berdasarkan potensi dan masalah yang telah
diidentifikasi sebelumnya seperti tanah, air, topografi, kemiringan tanah (slope), hidrologi, , vegetasi, klimatologi, dan lainnya. Adapun kegiatan analisis perancangan lansekap meliputi: 1. Zonasi tapak Pembagian zonasi tapak dari taman yang akan direncanakan sebagai RTH publik.

2. Aksesibilitas dan Sirkulasi


Aksesibilitas kedalam tapak perlu dipertimbangkan secara seksama agar memudahkan pengunan taman/RTH dan tidak mengganggu lingkungan sekitar. Perencanaan pola sirkulasi meliputi sirkulasi kendaran dan jalur pedestrian. 3. Analisis vegetasi eksisting tapak dan lingkungan Analisis vegetasi untuk mempertimbangkan dalam pemilihan jenis tanaman yang

sesuai dengan fungsi dan zonasi tapak.


4. Site Furniture Perencanaan berbagai site furniture yang dapat mendukung aktifitas warga (interaksi sosial) di RTH. 5. Parkir Tata letak dan jumlah parkir yang dapat menampung kendaraan pengguna RTH. 6. Sosial Budaya Identifikasi aspek sosial budaya yang berada di lingkungan sekitar tapak/RTH.

III.8

III.3 PERENCANAAN
Setelah dilakukan analisis dan berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, selanjutnya disusun bentuk- bentuk penanganan dalam kegiatan pembangunan atau penataan RTH.

Selanjutnya dilakukan pengembangan potensi dan pemecahan masalah dengan cara merumuskan konsep pembangunan atau penataan RTH yang dituangkan dalam bentuk perencanaan teknis.

Adapun keluaran atau produk penyusunan DED adalah: 1. Gambar Rencana Teknis (Gambar Rancangan, Detail Rancangan dan Gambar Konstruksi) ; 2. Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis (Spesifikasi Teknis); 3. Estimate Enginer (EE) atau Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Semua produk hasil perencanaan tersebut selanjutnya dijadikan acuan pihak yang berkepentingan dalam pelaksanaan pekerjaan fisik (Pemerintah Pusat / Ditjen Penataan Ruang, Pemerintah Kota dan Kabupaten, Kontraktor, dan juga masyarakat secara umum).

III.9

III.4 PENYUSUNAN DOKUMEN KONSTRUKSI DAN PELELANGAN


A. Dokumen Konstruksi

Tahap ini meliputi pembuatan gambar-gambar Detail, BQ, RKS dan RAB dan
menyusun dokumen perancangan berupa laporan perancangan Arsitektur Lansekap.

Adapun rincian kegiatan pada tahap ini adalah sebagai berikut: 1. Pembuatan gambar-gambar rancangan detail yang penting. 2. Pembuatan gambar kerja.

3. Pembuatan gambar-gambar:
a. Rencana tapak (Site plan). b. Rencana Tata Hijau (Planting Plan). c. Gambar Arsitektur. d. Gambar Struktur. e. Gambar M/E.

f. Gambar Detail (skala 1:50, 1:20, 1:10, 1:5, sesuai kebutuhan).


g. Pembuatan visualisasi 3D (tiga dimensi) RTH, minimal 2 (dua) sudut pandang.

Semua gambar-gambar rancangan dibuat mengikuti kaidah-kaidah gambar kerja.

III.10

B. Dokumen Pelelangan

Tahap ini adalah tahap persiapan pelelangan untuk pekerjaan pelaksanaan RTH.
1. Pembuatan dokumen tender: a. Pembuatan spesifikasi teknis pekerjaan lansekap, bangunan penunjang, struktur, dan M/E. b. Pembuatan spesifikasi khusus pekerjaan lansekap, bangunan penunjang, struktur, dan M/E. c. Pembuatan rencana kerja dan syarat (RKS) pekerjaan lansekap, bangunan

penunjang, struktur, dan M/E.


d. Pembuatan rencana volume (BQ) pekerjaan lansekap, bangunan penunjang, struktur, dan M/E. e. Pembuatan rencana anggaran dan biaya pekerjaan lansekap, bangunan penunjang, struktur, dan M/E. f. Pembuatan dokumen persyaratan administrasi. g. Pembuatan dokumen persyaratan umum. 2. Persiapan Pelelangan meliputi: Membantu pemberi tugas dalam menyusun dokumen untuk pelelangan, membantu panitia pelelangan dalam menyusun program dan pelaksanaan pelelangan: a. Pembuatan jadwal dan program lelang b. Pembuatan dokumen persyaratan administrasi.

c. Pembuatan dokumen persyaratan umum.


d. Koordinasi dengan semua pihak yang terkait. 3. Pendampingan Pelelangan meliputi : Membantu panitia pelelangan pada waktu penjelasan pekerjaan termasuk menyusun berita acara penjelasan pekerjaannya, membantu panitia pelelangan dalam melaksanakan evaluasi penawaran, menyusun kembali dokumen

pelelangan dan melaksanakan tugas-tugas yang sama apabila terjadi


lelang ulang, dan menyusun dokumen pelelangan.

III.11

II.5 KOMPONEN RENCANA ANGGARAN BIAYA


Dalam perhitungan biaya terdapat beberapa komponen biaya yang harus diperhatikan sebagai kebutuhan utama RTH, adapun komponen biaya tersebut antara lain: A. Pekerjaan Persiapan 1. Pembuatan Papan Nama Proyek 2. Pengadaan Listrik dan Air Kerja 3. Pengukuran & Pasang Bowplank 4. Pekerjaan Direksi Keet 5. Pekerjaan Striping/Pembersihan Lokasi 6. Pekerjaan Pembersihan setelah Pembangunan D. Green Water 1. Pekerjaan Pembuatan Sumur Resapan 2. Pemasangan Sprinkler Taman 3. Pemipaan 4. Pompa Air E. Green Waste 1. Tempat Samah Organik-Anorganik 2. Komposter

B. Green Open Space 1. Pekerjaan Penanaman Rumput F. Green Energy 2. Pekerjaan Penanaman Pohon 1. Gardu Listrik 3. Pekerjaan Penanaman Perdu 2. Pemasangan Lampu Solar Cell 4. Pekerjaan Penanaman Ground Cover 5. Pekerjaan Pelapisan Tanah Subur G. Green Building 6. Pupuk Kandang 1. Pekerjaan Pembangunan Toilet & Pos Jaga C. Green Transportation 2. Pekerjaan Pembangunan Pergola 1. Pekerjaan Jogging Track 3. Pekerjaan Gazebo 2. Pekerjaan Plaza 4. Pekerjaan Signage Taman 3. Pekerjaan Parkir Sepeda 5. Pekerjaan Bangku Taman

III.12

A. DED Tipe I Syarat Perencanaan RTH : 1 (satu) lokasi dengan luasan minimal 5000m2 atau bisa pada (maksimal) 2 (dua) lokasi yang dihubungkan dengan koridor penghubung 'hijau misalkan: 2 lokasi, dengan luas 2000m2/lokasi dengan koridor penghubung 1000m2 berupa jalur pejalan kaki, jalur sepeda, jalur vegetasi, atau bentuk lain)

III.13

B. DED Tipe II Syarat Perencanaan RTH : 1 (satu) lokasi dengan luasan minimal 3000m2

III.14

C. DED Tipe III/up-scaling Syarat Perencanaan RTH : 1 (satu) lokasi dengan luasan minimal 5000m2 atau bisa pada (maksimal) 2 (dua) lokasi yang dihubungkan dengan koridor penghubung 'hijau misalkan: 2 lokasi, dengan luas 2000m2/lokasi dengan koridor penghubung 1000m2 berupa jalur pejalan kaki, jalur sepeda, jalur vegetasi, atau bentuk lain) Syarat Perencanaan up-scaling : Setiap Kota/Kabupaten diarahkan mengembangkan minimal 1 (satu) implementasi fisik upscaling sesuai potensi lokasi (local site spesific) yang termasuk dalam cakupan dan muatan upscaling berikut. Cakupan dan Muatan Upscaling A. Green Transportation Merencanakan dan menerapkan transportasi yang bekelanjutan, yaitu : 1. Jalur Sepeda menghubungkan taman-taman kota 2. Fasilitas Sepeda Sewa (Bike Sharing) di taman-taman kota B. Green Waste Menerapkan pronsip-prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycling), yaitu : - Pembuatan Sistem Komposting di taman kota C. Green Water Meningkatkan efisiensi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air, yaitu : - Penerapan konsep zero run-off di taman kota/halaman RTH privat D. Green Building Merencanakan dan menerapkan konsep ramah lingkungan pada bangunan, yaitu : - Pembuatan taman vertikal (vertical garden) di taman kota E. Green Energy Menerapkan dan memanfaatkan sumber enrgi yang efisien dan ramah lingkungan. Misalnya penggunaan listrik tenaga surya untuk lampu penerangan jalan umum, listrik tenaga angin, dsb.

III.15

III.16

III.6 JADWAL PEKERJAAN


Penyusunan DED Taman Kota Hijau dilaksanakan dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan. Dengan rincian kegiatan sebagai berikut: N o 1 Tahapan Kegiatan I Pengumpulan data dan survey lapangan Bulan ke II III

Penyusunan gambar konsep pengembangan rancangan lansekap taman


Penyusunan gambar teknis Penyusunan dokumen lelang (RKS, BQ, EE)

3 4

III.17

BAB IV PELAKSANA KEGIATAN IV.1 TENAGA AHLI


Dalam pelaksanaan kegiatan ini diperlukan Tenaga Ahli sebanyak 3 (tiga) orang sesuai dengan bidang keahliannya. Adapun kualifikasi tenaga ahli tersebut adalah sebagai berikut: 1. Ketua Tim (Arsitek Lanskap) Disyaratkan memiliki spesialisasi dan bersertifikat Tenaga Ahli Arsitektur Lanskap, dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Arsitektur Lansekap, yang dibuktikandengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Arsitektur Lansekapsekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun. 2. Ahli Sipil Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik Sipil yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Manajemen Konstruksi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun 3. Ahli Lingkungan Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik Lingkungan yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang penataan lingkungan sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.

Selain Tenaga Ahli tersebut, dibutuhkan pula Tenaga Penunjang/Pendukung, yaitu: 1. Quantity Surveyor sejumlah 1 orang 2. Juru Gambar sejumlah 1 orang 3. Tenaga Administrasi sejumlah 1 orang

III.18

IV.2 MEKANISME KERJA


4.2.1 Tanggung Jawab A. Tanggung Jawab Tim Tenaga Ahli Tim Tenaga Ahli harus melaksanakan fungsi teknis konstruksi, manajemen, pengaturan, dan administrasi yang diperlukan untuk melaksanakan implementasi fisik RTH berdasarkan kebutuhan yang dijelaskan dalam

Dokumen Pengadaan. Tim Tenaga Ahli paling sedikit harus melaksanakan


tugas-tugas berikut: 1. Memberikan hasil kerja menyeluruh dan cukup terperinci dengan memperhatikan proses perancangan lansekap, detail konstruksi, operasional pelaksanaan dan pemeliharaan pekerjaan. 2. Menggabungkan informasi atau masukan yang diterima dari Pemerintah

Daerah (Kota/Kabupaten), Masyarakat, maupun informasi lainnya.


3. Menyerahkan hasil kerjanya ke Pemerintah Daerah (Kota/Kabupaten) sesuai Jadwal Pekerjaan. 4. Mengatur hubungan teknis antara Pemerintah Daerah, Masyarakat, dan pelaksana konstruksi. 5. Menyiapkan informasi teknis kepada Pemerintah Daerah dan

Masyarakat.

III.19

B. Tanggung Jawab Pemerintah Daerah (Kota/Kabupaten) Pemerintah Daerah akan menyediakan Tim Teknis dan administrasi untuk memeriksa pekerjaan Tim Tenaga Ahli dan berpartisipasi dalam proses Pembangunan RTH. Tim Tenaga Ahli tersebut akan melakukan tugas-tugas sebagai berikut: 1. Memberikan persetujuan untuk semua keputusan manajemen proyek dan

teknis.
2. Menyediakan staf teknis yang memiliki wewenang untuk mengawasi dan menyetujui pekerjaan Tenaga Ahli. 3. Mengatur hubungan yang kondusif dengan semua pihak seperti Pelaksana Konstruksi dan penyedia material/bahan konstruksi. 4. Memberitahuka Tenaga Ahli terhadap perubahan mengenai lingkup pekerjaan, persyaratan dan jadwal.

5. Mengatur hubungan antara Tenaga Ahli dan Mitra Strategis, jika ada,
sesuai keperluan. 6. Menyediakan data yang diperlukan Tenaga Ahli untuk kelancaran pekerjaan merujuk pada Dokumen Pengadaan.

III.20

4.2.2 Koordinasi Kegiatan A. Rapat Kemajuan Pekerjaan Tim Tenaga Ahli harus melaksanakan rapat kemajuan perkerjaan penyusunan DED setiap bulan, disyaratkan dan disetujui oleh Tim Teknis Pemerintah Daerah. Rapat tersebut merupakan waktu kerja dengan Tim Teknis untuk meninjau kemajuan dan jadwal, permasalahanpermasalahan yang berhubungan dengan pekerjaan dan peluang penyelesaiannya, mengindentifikasi tindakan yang diperlukan dan menindak lanjuti yang telah disetujui untuk dilaksanakan, serta mengatur pelaksanaan pekerjaan tersebut. Laporan kemajuan pekerjaan dan informasi tentang jadwal harus disiapkan untuk rapat tersebut. Tim Teknis secara berkala meminta Tenaga Ahli untuk melaksanakan pertemuan untuk melaporkan status Pekerjaan Penyusunan DED RTH dan kemajuan pekerjaan kepada Tim Teknis Pemerintah Daerah, perwakilan masyarakat dan yang lainnya. B. Laporan Bulanan Setiap bulan,Tim Tenaga Ahli harus menyampaikan laporan singkat yang akurat dan tidak bias mengenai status pekerjaan yang dilaksanakan dan dikelola. Laporan tersebut harus tersedia dalam kurun waktu 2 (dua) hari kerja setelah tenggat waktu setiap bulannya. Tenggat waktu adalah tanggal 25 pada setiap bulan. Laporan tersebut akan digunakan Tim Teknis Pemerintah Daerah sebagai dasar untuk melaporkan status proyek. Tim Tenaga Ahli harus mendapatkan persetujuan Tim Teknis untuk format pelaporan awal dan revisi-revisi berikutnya sebelum persiapan pembuatan laporan. Laporan pada dasarnya akan termasuk informasi yang berikut ini: Jadwal pencapaian Ringkasan Jadwal Pekerjaan Laporan Pencapaian Kualitas Daftar Kendali Perubahan Laporan pendukung yang terperinci akan dikeluarkan secara terpisah sesuai permintaan Tim Teknis Pemerintah Daerah untuk melengkapi III.21 Laporan Kemajuan Kerja. .

BAB V LAMPIRAN : CONTOH DED V.1 DAFTAR GAMBAR

III.22

V.2 SITEPLAN
Kab. Tasikmalaya

III.23

SITEPLAN
Kab. Purbalingga

III.24

V.3 SIMULASI 3D
Kab. Tasikmalaya

SIMULASI 3D
Kab. Purbalingga

V.4 DETAIL TATA TANAMAN & TEKNIK PENANAMAN

III.27

V.5 DETAIL PERKERASAN

III.28

V.6 DETAIL TEMPAT SAMPAH, KOMPOSTER, BANGKU TAMAN, SUMUR RESAPAN

III.29

V.7 GUIDELINE PAPAN INFORMASI TAMAN


Contoh layout Lansekap
Nama dan Lokasi Taman

Keterangan Siteplan Taman

Legenda Atribut Taman

Keterangan Taman ini dibangun dalam kegiatan P2KH

Logo Kementerian PU

Logo Pemerintah Kota/Kab terkait

III.30

Dimensi Papan Info : 900x600 mm Orientasi, Desain & Material Bebas

GUIDELINE PAPAN INFORMASI TAMAN


Contoh layout Portrait
Nama dan Lokasi Taman

Keterangan Siteplan Taman

Legenda Atribut Taman

Keterangan Taman ini dibangun dalam kegiatan P2KH

Logo Kementerian PU

Logo Pemerintah Kota/Kab terkait

III.31

PENINGKATAN KUANTITAS RTH PERKOTAAN

IV

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan I.3 Ruang Lingkup I.4 Keluaran BAB II PROSES DAN TAHAPAN KEGIATAN II.1 Tahapan Kegiatan II.1.1 Umum II.1.2 Tahap Pekerjaan Persiapan dan Pekerjaan Tanah II.1.3 Tahap Konstruksi Lansekap II.1.4 Tahap Pemeliharaan Tanaman II.2 Jadwal Pelaksanaan BAB III PELAKSANA KEGIATAN III.1 Kualifikasi Pelaksana Konstruksi dan Tenaga Ahli III.2 Mekanisme Kerja BAB IV LAMPIRAN FOTO IV.1 FOTO IMPLEMENTASI RTH IV.2 FOTO SEBELUM DAN SESUDAH RTH IV.1 IV.1 IV.2 IV.2 IV.2 IV.3 IV.3

DAFTAR ISI

IV.16 IV.17 IV.17 IV.18 IV.22 IV.22 IV.34

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG


Selaras dengan amanat Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 pasal 3, perlu diwujudkan suatu bentuk pengembangan kawasan perkotaan yang mengharmonisasikan lingkungan alamiah dan lingkungan buatan. Salah satu pengembangannya antara lain dapat dilakukan dalam bentuk perwujudan Kota Hijau. Pengembangan Kota Hijau di Indonesia memerlukan gerak bersama seluruh unsur pemangku kepentingan kota. Pada tahun 2011, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum memprakarsai Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) untuk mewujudkan Kota Hijau melalui perumusan local action plan atau rencana aksi kota hijau (RAKH). Salah satu atribut yang menjadi fokus di dalam RAKH adalah terkait Green Open Space yakni berupa peningkatan kualitas dan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan karakteristik Kota/Kabupaten Penyediaan RTH juga merupakan amanat dari UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang dimana disebutkan bahwa perencanaan tata ruang wilayah harus memuat ketentuan rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH), dan mensyaratkan luas RTH minimal sebesar 30% dari luas wilayah kawasan perkotaan yang dibagi menjadi RTH Publik minimal 20% dan RTH Privat minimal 10%. Untuk menindaklanjuti rencana aksi yang telah disepakati oleh pemerintah kabupaten/kota tersebut, maka di tahun 2012 ini pemerintah melaksanakan kegiatan FasilitasiImplementasi Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan melalui perwujudan ruang terbuka hijau. Kegiatan ini merupakan pilot project sebagai bentuk upaya untuk mendorong pemerintah Kota/Kabupaten mewujudkan kota hijau melalui implementasi RTH secara fisik dalam ruang kotanya. Peningkatan jumlah luasan RTH publik menjadi sasaran utama implementasi fisik ini. pewujudan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan perkotaan dengan meningkatnya kualitas penataan ruang.

IV.1

I.2 MAKSUD DAN TUJUAN


A. Maksud Kegiatan Fasiltiasi Implementasi Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan dimaksudkan sebagai salah satu upaya mendorong terwujudnya kota hijau melalui peningkatan kualitas dan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sesuai dengan karakteristik Kota/Kabupaten dalam rangka implementasi RTRW Kota/Kabupaten dan pemenuhan amanat UU No. 26/ 2007 tentang Penataan Ruang pasal 29 ayat (2). B. Tujuan Tujuan kegiatan adalah melaksanakan implementasi fisik pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota/Kabupaten sesuai dengan DED yang telah disusun.

I.3 LINGKUP KEGIATAN


Adapun lingkup pelaksanaan kegiatan Fasilitasi Implementasi Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan berupa revitalisasi, pemeliharaan maupun pembangunan baru Ruang Terbuka Hijau (RTH) berdasarkan hasil desain yang telah disepakati yang secara umum meliputi: 1. Pekerjaan persiapan 2. Pekerjaan Konstruksi lansekap 3. Pemeliharaan Pekerjaan.secara menyeluruh,

I.4 KELUARAN
Kegiatan ini diharapkan dapat terbangunnya area RTH publik yang terintegrasi dan aksesibel bagi lingkungan perkotaan sekitarnya serta dapat memberikan fungsi interaksi sosial secara aktif bagi kota secara umum.

IV.2

BAB II PROSES & TAHAPAN KEGIATAN II.1 TAHAPAN KEGIATAN


II.1.1 Umum A. Lingkup Pekerjaan 1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik. 2. Pekerjaan lansekap yang dilaksanakan meliputi semua pekerjaan yang tertera dalam gambar lansekap dan sesuai petunjuk-petunjuk Pengawas atas saran perencana. 3. Pekerjaan tersebut meliputi antara lain : - Pekerjaan Persiapan - Pekerjaan Penanaman dan pekerjaan hard material -Pekerjaan Perawatan / pemeliharaan tanaman dan pekerjaanpekerjaan lain yang terkait / erat kaitannya dengan pekerjaan ini B. Sarana Kerja 1. Kontraktor wajib memasukkan identifikasi tempat kerja bagi semua pekerjaan yang dilakukan di luar lapangan sebelum pemasangan , peralatan kerja serta jadwal kerja. Hal ini harus dilaporkan / persetujuan dari Pengawas di lapangan 2. Semua sarana kerja yang digunakan harus benar-benar baik dan memenuhi persyaratan kerja sehingga memudahkan dan melancarkan kerja di lapangan 3. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/material di lapangan harus aman dari segala kerusakan, hilang dan lain-lain serta hal-hal yang dapat mengganggu pekerjaan lain yang sedang berjalan

IV.3

C. Perbedaan dan Perubahan Gambar 1. Bila terjadi perbedaan dan atau pertentangan dalam gambar-gambar yang ada maupun perbedaan yang terjadi dengan keadaan di lapangan, diwajibkan bagi Kontraktor untuk melaporkannya secara tertulis kepada Pengawas untuk kemudian Pengawas memberikan keputusan tentang itu untuk bisa dilaksanakan setelah berunding terlebih dahulu kepada Perencana 2. Untuk ukuran dalam gambar Lansekap pada dasarnya adalah ukuran jadi sampai dalam keadaan selesai. Semua ukuran harus benar-benar diperhatikan terutama peil-peil , ketinggian, lebar, ketebalan, luas penampang dan lain-lain sesuai dengan apa yang tertera dalam gambar. Bila ada keraguan mengenai ukuran atau bila belum dicantumkan dalam gambar, Kontraktor wajib melaporkan secara tertulis kepada Pengawas, kemudian Pengawas memberikan keputusan ukuran yang akan dipakai dan dijadikan pegangan setelah berunding dengan Perencana 3. Untuk hal-hal pekerjaan yang belum tercakup secara lengkap dalam gambar, Kontraktor diwajibkan membuat Shop Drawing yang merupakan gambar detail pelaksanaan berdasarkan gambar perencanaan, gambar kerja yang telah disesuaikan dengan keadaaan di lapangan pada kertas standar yang berlaku pada Kontraktor. Di dalam Shop Drawing ini harus jelas dan mencantumkan semua data yang diperlukan termasuk keterangan produksi, cara pemasangan dan atau persyaratan khusus pabrik / produksi bahan yang dipakai. Shop Drawing ini harus diajukan kepada Pengawas untuk mendapatkan persetujuannya secara tertulis, setelah berunding dengan pihak Perencana

IV.4

D. Persyaratan Pekerjaan Lansekap 1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk-petunjuk dan syarat-syarat pekerjaan lansekap dan sesuai petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Pengawas dengan saran Perencana 2. Pekerjaan Lansekap yang dilaksanakan harus mengikuti semua petunjuk gambar-gambar lansekap terlampir dan apa yang ditentukan kemudian oleh Pengawas atas petunjuk Perencana E. Bahan / Material 1. Bahan-bahan yang dipakai/dipasang harus sesuai dengan yang tercantum dalam gambar Lansekap, memenuhi standar spesifikasi bahan yang telah dipilih/ditunjuk/disetujui, mengikuti peraturan persyaratan tertulis dalam uraian dan syarat-syarat Pekerjaan Lansekap ini serta petunjuk-petunjuk Pengawas atas saran dan petunjuk perencana 2. Semua bahan sebelum dipasang harus disetujui oleh Pengawas. Contoh bahan yang akan dipasang harus diajukan dan diserahkan ke Pengawas untuk kemudian mendapatkan persetujuan dari Pengawas sesuai petunjuk Perencana. Pengajuan bahan yang setara dengan apa yang disyaratkan 3. Penyimpanan dan pemeliharaan bahan terhadap kerusakan di lapangan harus benar-benar diperhatikan sesuai persyaratan spesifikasi F. Dasar Penentuan Ukuran/Posisi Bagian-Bagian Pekerjaan 1. Untuk mendapatkan posisi dan ketetapan di lapangan untuk setiap bagian pekerjaan harap diperhatikan segala petunjuk yang tertera dalam gambar Lansekap

IV.5

2. Untuk memudahkan pekerjaan di lapangan patokan-patokan ukuran yang dipakai adalah terhadap as-as bangunan sekitar dengan menyesuaikan ukuran dalam gambar, atau menggunakan patokan-patokan yang ada di dalam site untuk bagian-bagian yang jauh dari bangunan. 3. Kontraktor harus memasang patok-patok yang terpenting di dalam site serta membubuhkan nomor asnya dengan koordinat, terutama untuk patokan titik mula setiap bagian dari pekerjaan. Patok-patok tersebut harus diikatkan kepada benchmark tapak/bangunan/proyek. G. Pelaksanaan Pekerjaan Lansekap 1. Semua ukuran dan posisi harus tepat sesuai gambar Lansekap , juga ketetapan pemasangan patok-patok di lapangan 2. Pembentukan dan penyelesaian tanah harus mengikuti bentuk/kemiringan kontur/peil yang tertera dalam gambar. Kemiringan kemiringan yang dibuat harus cukup kuat untuk mengalirkan air hujan menuju selokan yang ada disekitarnya serta mengikuti persyaratan-persyaratan yang tertera dalam gambar. Tidak dibenarkan adanya genangan air di atas tanah. 3. Cara pelaksanaan setiap bagian pekerjaan ini mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan Lansekap.

IV.6

II.1.2 Pekerjaan Persiapan dan Pekerjaan Tanah A. Lingkup Pekerjaan 1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan peralatan dan alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik 2. Pekerjaan yang dilaksanakan dalam hal ini meliputi : a. Pekerjaan persiapan tanah b. Pembentukan tanah dan penyelesaian tanah c. Pembersihan tanah dan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan pekerjaan ini. B. Persyaratan Pekerjaan Persiapan Tanah 1. Peralatan yang dipakai cukup baik dan memenuhi syarat kerja 2. Semua pekerjaan tanah dilaksanakan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan Lansekap dan petunjuk Pengawas C. Pekerjaan Persiapan Tanah 1. Pekerjaan persiapan tanah ini meliputi pembongkaran/pemindahan/ pembersihan di tempat kerja dari benda/puing-puing bekas bangunan yang tidak berguna lagi, yang dapat mengganggu terlaksananya kelancaran kerja di tempat tersebut. 2. Pohon/semak/rumput yang tidak diperlukan lagi ditempat kerja harus disingkirkan berikut pokok pohon/semak / rumput sampai akar-akarnya sedalam kurang lebih 30 cm 3. Mengadakan pengukuran (stake out) dan pemasangan patok-patok titik awal/peil dasar yang diperlukan ditempat kerja

IV.7

D. Pembentukan Tanah dan Penyelesaian Tanah 1. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan galian , urugan tanah, perataan tanah, tanah yang dipergunakan adalah tanah merah urug yang bebas dari kotoran/akarakar pohon 2. Pembentukan dan penyelesaian tanah harus mengikuti bentuk / rencana grading , kemiringan / contour / peil yang tertera dalam gambar Lansekap 3. Untuk pekerjaan penanaman diperlukan pekerjaan pengurugan tanah yang mengandung bahan organis E. Pembersihan Tanah 1. Tanah yang telah siap untuk pelaksanaan suatu pekerjaan ataupun yang telah selesai digarap harus dibersihkan dari bekas tanah galian dan bekas-bekas bahan bangunan 2. Tanah yang dipersiapkan untuk pekerjaan penanaman harus benar-benar dibersihkan dari batu , kerikil , adukan kapur dan segala bekas bahan bangunan / bongkaran , bahan plastik dan bahan-bahan organis. Tanah yang dipakai F. Pekerjaan Tanah Subur 1. Lingkup Pekerjaan : a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-baha, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk memperoleh hasil yang baik b. Pekerjaan tanah subur ini dilakukan untuk semua area termasuk bak tanaman / pot tanaman

IV.8

2. Persyaratan bahan : a. Tanah yang digunakan harus terdiri dari tanah gembur, tidak berbatu atau tidak terdapat puing-puing bekas bangunan , tidak ada sampah dan rumput / tanaman liar b. Tanah yang digunakan harus bebas dari bibit hama , kutu maupun rayap c. Air siraman digunakan air tawar bersih dan tidak mengandung minyak, asam alkali dan bahan-bahan organis lainnya d. Apabila dipandang perlu, Pengawas dapat meminta kepada Kontraktor supaya air yang dipakai untuk kegiatan ini diperiksa di Laboratorium Pemeriksaan Bahan yang resmi dan sah atas biaya Kontraktor e. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan diatas dan harus dengan persetujuan Pengawas 3. Syarat-syarat Pelaksanaan : a. Tanah dan pupuk kandang yang digunakan harus dengan persetujuan pihak Pengawas b. Campuran tanah dan pupuk kandang harus merata, warna dan campurannya, demikian pula dengan campuran humus c. Lapisan tanah subur harus sama ketebalannya sesuai yang disyaratkan dalam detail gambar, diratakan, disiram air sampai jenuh d. Tebal lapisan tanah subur minimum 20 cm atau sesuai dengan gambar e. Pekerjaan selanjutnya dapat dikerjakan bilamana sudah mendapat persetujuan dari pihak Pengawas

IV.9

II.1.3 Pekerjaan Lansekap A. Lingkup Pekerjaan 1. Pekerjaan ini meliputi tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan untuk mendapatkan hasil yang baik 2. Pekerjaan lansekap ini meliputi semua pekerjaan hard material dan pekerjaan soft material sesuai petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan lansekap dengan memperhatikan pekerjaan : a. Persiapan dan pembentukan tanah sesuai yang telah diuraikan dalam BAB II b. Cara dan syarat yang telah ditentukan B. Bahan dan Material Soft Material, meliputi semua pekerjaan penanaman pohon , semak . perdu ,penutup tanah dan rumput C. Persyaratan Pekerjaan Lansekap 1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti semua petunjuk gambar uraian dan syarat pekerjaan Lansekap, atas petunjuk Pengawas 2. Setiap pekerjaan Lansekap dilaksanakan, diperlukan adanya Koordinasi kerja dengan pekerjaan lain agar tidak terjadi kerusakan pekerjaan yang sudah atau sedang terpasang di tempat tersebut 3. Dalam hal melaksanakan pekerjaan ini, persiapan tanah , pembentukan tanah, penggalian lubang tanaman harus sudah dilaksanakan dengan mengikuti semua petunjuk gambar sesuai uraian syarat yang tertulis 4. Lubang-lubang galian dibuat sesuai dengan posisi pohon/tanaman dengan mengikuti petunjuk gambar Lansekap 5. Pemasangan patok-patok berikut dengan keterangan koordinat posisi perlu dilaksanakan terutama untuk patokan penanaman awal setiap jenis tanaman 6. Patokan diambil berdasarkan pengukuran yang ditarik dari as-as bangunan yang terdekat / patokan-patokan yang ada dalam site

IV.10

7. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar yang ada dan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan serta meneliti kebenaran ukuran di lapangan 8. Perbedaan antara gambar dengan keadaaan di lapangan harus dilaporkan kepada Pengawas untuk diambil keputusan pemecahan perihal perbedaan setempat 9. Setelah pembentukan dan penyelesaian tanah mengikuti bentuk kemiringan/kontur/peil sesuai gambar, serta pekerjaan penggalian lubang selesai dapat dilaksanakan penanaman 10.Segala perubahan letak pohon di lapangan yang menyimpang dari ketentuan gambar Lansekap disebabkan keadaan lapangan, harus atas sepengetahuan dan persetujuan Pengawas 11.Kontraktor diwajibkan mengajukan shop drawing dengan mengikuti ukuran bentuk dan peletakan sesuai permintaan Perencana. D. Pelaksanaan Pekerjaan Lansekap 1. Semua jenis material yang dipakai harus disetujui oleh Pengawas sesuai dengan petunjuk gambar Lansekap dan mengikuti semua persyaratan tertulis, uraian dan syarat pekerjaan Lansekap. 2. Khususnya soft material harus disediakan Nursery pada areal yang sudah ditunjuk, disamping itu berguna untuk pengkondisian pohon terhadap lingkungan 3. Material yang dipilih harus sesuai dengan gambar lansekap atau sesuai petunjuk Pengawas atas saran Perencana 4. Pekerjaan Soft Material : a. Penanaman Pohon, dengan tinggi minimal 3 meter dan diameter minimal 5 cm b. Penanaman pohon dengan tinggi c. Penanaman semak d. Penanaman rumput

IV.11

II.1.4 Pemeliharaan Pekerjaan A. Lingkup Pekerjaan 1. Pekerjaan ini adalah semua pekerjaan yang dilaksanakan untuk memelihara dan merawat semua tanaman yang telah selesai ditanam maupun yang belum tertanam (masih di tempat penampungan sementara) dari segala macam kerusakan untuk mendapatkan tumbuh dan bentuk yang baik seperti yang dipersyaratkan sampai jangka waktu pemeliharaan yang telah berakhir 2. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alatalat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik 3. Pekerjaan pemeliharaan ini meliputi : a. Penyiraman b. Penyiangan c. Penggantian pohon / tanaman yang mati d. Pemangkasan e. Pemupukan f. Pemberantasan hama & penyakit B. Persyaratan Pekerjaan Pemeliharaan Tanaman 1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti semua petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan serta petunjuk Pengawas 2. Pemeliharaan tanaman sangat perlu perhatian Kontraktor setelah selesai penanaman. Ikatan kontrak masa pemeliharaan ini berlangsung selama 6 (enam) bulan dari masa selesainya penanaman 3. Selama masa itu Kontraktor diwajibkan secara teratur memelihara tanaman yang rusak/mati. Semua penggantian tanaman yang rusak/mati dengan tanaman yang baru adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor 4. Pemeliharaan tanaman disesuaikan dengan sifat dan jenis tanaman yang ditanam

IV.12

C. Bahan / Material 1. Bahan dan peralatan yang dipergunakan dalam setiap jenis pekerjaan pemeliharaan ini harus benar-benar baik, memenuhi persyaratan kerja yang dibutuhkan dan tidak merusak tanaman. 2. Pupuk maupun obat anti hama yang dipergunakan juga harus sesuai dengan uraian dan syarat yang tertulis dalam bab selanjutnya. 3. Penggantian tanaman harus sesuai jenis/bentuk/warna daun dan bunga dengan apa yang telah ditentukan dan tertanam D. Penyiraman 1. Penyiraman dilakukan dengan air bersih, bebas dari segala bahan organis/zat kimia/bahan-bahan lain yang dapat mengganggu dan merusak pertumbuhan tanaman 2. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan selang 3. Penyiraman dilakukan secara teratur, terutama di musim kemarau dan bagi tanaman-tanaman yang baru ditanam serta bagi tanaman-tanaman dalam tempatpenampungan, hal ini harus benar-benar diperhatikan 4. Penyiraman dilakukan : a. Dua kali sehari secara teratur bagi semua jenis tanaman yang baru ditanam dan semua jenis tanaman dalam penyimpanan sementara sebelum ditanam, yaitu pada waktu pagi hari dan sore hari sesudah pk 15.30, sampai tanaman-tanaman tersebut tumbuh sehat dan kuat b. Untuk semua tanaman hias yang sudah terlihat tumbuh baik dan kuat, disiram satu kali sehari pada sore hari setelah pukul 15.30 5. Banyaknya air penyiraman harus cukup sampai membasahinya, dibawah permukaan tanah. Bagi tanaman yang masih terlihat cukup basah tanahnya pada sore hari untuk penyiraman pada saat itu tak perlu dilakukan 6. Tidak diperkenankan tanah bekas siraman terlihat tergenang air, air harus dapat terserap baik oleh tanah di sekitar tanaman

IV.13

E. Penyiangan 1. Penyiangan ini harus dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali bagi tanaman semak dan perdu yang tertanam. 2. Tanaman liar dan rumput disekitar perdu dicabut dan dibersihkan sampai akarnya dari sekeliling perdu 3. Untuk tanaman hias, penyiangan dilakukan secara teratur setiap 2 minggu sekali , dengan mencabut segala tanaman liar dan jenis rumput yang berada disekitar dan dibawahnya, serta tanahnya digemburkan. F. Penggantian Tanaman 1. Kontraktor wajib mengganti setiap kali ada tanaman yang rusak atau mati. Semua penggantian tanaman ini dengan tanaman yang baru adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor sampai masa pemeliharaan yang ditentukan berakhir 2. Penggantian tanaman harus sesuai jenis / bentuk / warna daun dan bunga serta ukuran yang sama dengan apa yang telah ditentukan berakhir 3. Penggantian tanaman dilaksanakan dengan sebaik mungkin jangan sampai merusak tanaman lain disekitarnya pada saat mencabut dan menanam yang baru 4. Penggantian tanaman dilakukan pada sore hari antara pukul 15.00 18.00 dan harus segera disiram

IV.14

G. Pemangkasan 1. Pemangkasan dilakukan pada cabang ranting yang tumbuh tidak teratur/liar untuk mendapatkan/mempertahankan bentuk pertumbuhan cabang yang diinginkan 2. Membuang ranting dan cabang yang sakit dengan cara memotongnya 3. Semua pekerjaan pemangkasan dilakukan dengan gunting pangkas dengan cara memangkas cabang atau ranting arah miring dari bawah keatas dengan sudut 30 50 derajat 4. Untuk bekas pemotongan cabang/yang permukaannya terpotong lebar, penampang yang terpotong tersebut ditutup ter (aspal) 5. Pemangkasan ini dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali 6. Pemangkasan pada tanaman hias untuk pemeliharaan bentuk dilakukan bilamana ketinggian komposisi kelompok tanaman tidak lagi beraturan dan dipotong sesuai petunjuk ketinggian yang diminta dalam gambar H. Pemupukan 1. Pupuk kompos 2. Pupuk kandang, dengan pemakaian antara 2 4 kg/m2 3. Pemupukan tanaman dijadwalkan setiap interval 1 bulan sekali dengan diselang penggunaannya yaitu pupuk kandang dan pupuk kompos I. Pemberantasan Hama Penyakit 1. Ulat dan serangga dengan Basudin/Diazinon/Bayrusil, dosis 1 2 cc/L air segar disemprotkan dengan sprayer 2. Jamur, panu pada batang tanaman keras, dengan Dithan M 45, Fungisida dosis 2 3 gram/L air segar, disemprotkan dengan sprayer 3. Siput darat yang bersarang di bak-bak bunga/tanaman hias dengan Metadex yang disebarkan disekitar tanaman tersebut, dengan dosis 50 gram/m2 luas lahan 4. Kutu-kutu buah , kumbang , diberantas dengan Fosforeno ,dengan dosis 1 2 cc/L air segar, disemprotkan dengan sprayer bertekanan

IV.15

II.2 JADWAL PELAKSANAAN


Untuk melaksanakan kegiatan Peningkatan Kuantitas Ruang Terbuka Hijau Perkotaan dibutuhkan waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut: N o 1 2 Tahapan Kegiatan I Pekerjaan Persiapan Pekerjaan Lansekap Bulan ke II III

3
4

Pemeliharaan Pekerjaan
Pelaporan

IV.16

BAB III PELAKSANA KEGIATAN III.1 KUALIFIKASI PELAKSANA KONSTRUKSI RTH DAN TENAGA AHLI
A. Pelaksana Konstruksi RTH Adapun kualifikasi Pelaksana Konstruksi RTH adalah sebagai berikut: 1. Memiliki kompetensi pembangunan RTH yang ditandai dengan portofolio proyek dan tenaga ahli yang terdapat di dalamnya. 2. Memiliki pengalaman dengan pekerjaan sejenis minimal 5 tahun B. Tenaga Ahli

Sementara itu kualifikasi tenaga ahli yang harus terdapat dalam struktur
organisasi Pelaksana Konstruksi adalah sebagai berikut: 1. Ketua Tim (Ahli Lansekap): Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik Lansekap yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Manajemen Konstruksi sekurang-kurangnya 3 (tiga)

tahun, serta berpengalaman menangani proyek sejenis.


2. Ahli Sipil: Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik Sipil yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Manajemen Konstruksi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun. 3. Ahli Lingkungan : Disyaratkan denganpendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik

Lingkungan yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman


profesional di bidang penataan lingkungan sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.

IV.17

III.2 MEKANISME KERJA


3.2.1 Tanggung Jawab A. Tanggung Jawab Pelaksana Konstruksi Pelaksana Konstruksi harus melaksanakan fungsi teknis konstruksi, manajemen, pengaturan, dan administrasi yang diperlukan untuk melaksanakan Pekerjan berdasarkan kebutuhan yang dijelaskan dalam Dokumen Pengadaan. Pelaksana Konstruksi paling sedikit harus melaksanakan tugas-tugas berikut: 1. Memberikan hasil kerja menyeluruh dan cukup terperinci dengan telah memperhatikan baik fase-fase konstruksi dan commisioning maupun operasi dan pemeliharaan pekerjaan 2. Menggabungkan informasi atau masukan yang diterima dari Pemerintah kota, Masyarakat, dan yang lainnya. 3. Menyerahkan hasil kerjanya ke Pemerintah Kota sesuai Jadwal Pekerjaan 4. Mengatur hubungan teknis antara Pemerintah Kota, Masyarakat, dan konsultan, sebagaimana diperlukan untuk mendapatkan masukan atas implementasi RTH. 5. Menyiapkan informasi teknis kepada Pemerintah Kota dan Masyarakat sehingga dapat berhubungan dengan kelompok pihak ketiga, seperti, tetapi tidak terbatas pada: - Lembaga-lembaga Keuangan dan para penasehat teknis independen mereka - Instansi Pemerintah sektoral - Dan sebagainya. 6. Mengatur hubungan komersil dengan semua Pihak Konsultan, Pelaksana Konstruksi, dan pemasok

IV.18

B. Tanggung Jawab Pemerintah Daerah Pemerintah Kota akan menyediakan Tim Teknis dan administrasi untuk memeriksa pekerjaan Pelaksana Konstruksi dan berpartisipasi dalam proses Pembangunan RTH, Tim Teknis tersebut akan melakukan tugas-tugas sebagai berikut: 1. Memberikan persetujuan untuk semua keputusan manajemen proyek dan teknis 2. Menyediakan staf teknis yang memiliki wewenang serta tenaga ahli untuk mengawasi dan menyetujui pekerjaan Pelaksanaan Konstruksi 3. Memberitahukan Pelaksana Konstruksi terhadap perubahan mengenai lingkup pekerjaan, persyaratan dan jadwal. 4. Mengatur hubungan antara Pelaksana Konstruksi dan Mitra Strategis, jika ada, sesuai dengan prosedur dan keperluan 5. Menyediakan data yang diperlukan oleh Pelaksana Konstruksi, seperti: hasil-hasil kajian dan informasi lain, yang merujuk pada Dokumen Pengadaan

IV.19

III.2.2 Koordinasi Kegiatan A. Rapat Kemajuan Pekerjaan Pelaksana Konstruksi harus melaksanakan rapat kemajuan proyek setiap bulan disyaratkan dan disetujui oleh Tim Teknis Pemerintah Kota. Rapat tersebut merupakan waktu kerja dengan Tim Teknis untuk meninjau kemajuan dan jadwal, permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaan dan peluang penyelesaiannya, mengindentifikasi tindakan yang diperlukan dan menindak lanjuti yang telah disetujui untuk dilaksanakan, serta mengatur pelaksanaan pekerjaan tersebut. Laporan kemajuan pekerjaan dan informasi tentang jadwal harus disiapkan untuk rapat tersebut. Dari waktu ke waktu, Tim Teknis akan selalu meminta Pelaksana Konstruksi untuk melaksanakan pertemuan untuk melaporkan status Pekerjaan Implementasi RTH dan kemajuan pekerjaan kepada Tim Teknis Pemerintah Kota, perwakilan masyarakat dan yang lainnya. B. Laporan Bulanan Setiap bulan, Pelaksana Konstruksi harus menyajikan laporan singkat yang akurat dan tidak bias mengenai status pekerjaan yang dilaksanakan dan dikelola. Laporan tersebut harus tersedia dalam kurun waktu 5 (lima) hari kerja setelah tenggat waktu setiap bulannya. Tenggat waktu adalah tanggal 25 pada setiap bulan. Laporan tersebut akan digunakan Tim Teknis Pemerintah Kota sebagai dasar untuk melaporkan status proyek kepada masyarakat.

IV.20

Pelaksana Konstruksi harus mendapatkan persetujuan Tim Teknis untuk format pelaporan awal dan revisi-revisi berikutnya sebelum persiapan pembuatan laporan. Laporan pada dasarnya akan termasuk informasi yang berikut ini: Jadwal pencapaian Ringkasan Jadwal Pekerjaan Statistik Kemajuan dan Kinerja (Ringkasan secara Keseluruhan / Elemen Pekerjaan /Bidang kerja) Laporan Pencapaian Kualitas yang memperinci tentang QA audit serta temuan-temuan mengenai efektitas dan efisiensi Pekerjaan Pelaksana Konstruksi dan sistem manajemennya Status Tagihan Daftar Kendali Perubahan Laporan pendukung yang terperinci akan dikeluarkan secara terpisah sesuai permintaan Tim Teknis Pemerintah Kota untuk melengkapi penerbitan Laporan Kemajuan Kerja Bulanan

IV.21

BAB VI LAMPIRAN 1 . FOTO IMPLEMENTASI RTH


G RE E N O P E N S PAC E TATA TA NA M A N

KAB. PURBALINGGA

KAB. BADUNG

KAB. BANDUNG

KAB. PEKALONGAN KOTA KENDARI

KAB. CIAMIS

IV.22

KOTA MALANG

KOTA KENDARI

G RE E N O P E N S PAC E TATA TA NA M A N

KAB. BANDUNG

KAB. SUMBAWA

KAB. BANDUNG

KAB. KUDUS

KAB. KENDAL KAB. BANDUNG KAB. BREBES

IV.23

G R E E N T R A N S P O RTATIO N JO G G IN G T R AC K DA N JA LU R P E JA L A N K A K I

KAB. BEKASI

KOTA SURAKARTA

KAB. KENDAL

KAB. PURBALINGGA

KOTA KENDARI

IV.24

KOTA SEMARANG KAB. KUNINGAN

KAB. TASIKMALAYA

G RE E N T RA N S P O RTATION P L A ZA

Plaza

KAB. PEKALONGAN

KAB. SIDOARJO

KOTA PALU

KOTA SEMARANG

KOTA METRO

KAB. PACITAN KAB. PACITAN

KAB. KENDAL

KAB. SUKOHARJO

IV.25

G RE E N T RA N S P O RTATION PA RKIR S E P E DA

KAB.NGANJUK

KAB. KENDAL

KOTA SALATIGA

IV.26

KOTA YOGYAKARTA

KAB. TASIKMALAYA

G RE E N E N E RGY L A M P U S U RYA

KAB. KENDAL

KOTA BANDA ACEH

KAB. NGANJUK

KAB. TASIKMALAYA KOTA MEDAN

G RE E N WAT E R S U MU R RESA PA N

KAB. TASIKMALAYA

IV.27

G RE E N WA ST E BA K SA M PA H

KAB. PURBALINGGA KAB. SAMPANG

KAB. TASIKMALAYA

KOTA MAKASSAR

IV.28

KAB. KENDAL

KOTA KENDARI

KAB. BANDUNG

G RE E N WA ST E BA NG KU TA M A N

KAB. BEKASI KAB. BEKASI KOTA PALU KOTA SURAKARTA

KOTA KENDARI

KAB. CIAMIS

KAB. SUKOHARJO KAB. CIAMIS

KAB. KUNINGAN

KAB. KUDUS

KOTA MAKASSAR

IV.29

G RE E N B U IL D IN G BA NG UNAN TO IL ET & P O S JAG A

KOTA KENDARI

KOTA YOGYAKARTA

KAB. PATI

KAB. BANDUNG

KOTA KENDARI

KAB. KUNINGAN

IV.30

Pos Jaga
KAB. CIAMIS KAB. PEKALONGAN

G RE E N B U IL D IN G G A Z E BO & P E RG O LA

KAB. KUDUS

KOTA SALATIGA

KOTA KENDARI

KAB. PURBALINGGA

KAB. KUNINGAN

KAB. CIAMIS

KAB. TASIKMALAYA

KAB. BEKASI

IV.31

NA M A / S IG NAGE TA M A N

KOTA MALANG

KOTA YOGYAKARTA

KAB. SUMBAWA

KAB. KUDUS

KAB. BADUNG IV.32 KAB.SAMPANG

KAB. SUKOHARJO

KOTA YOGYAKARTA

NA M A / S IG NAGE TA M A N

KAB. SUMBAWA

KAB. TASIKMALAYA

KAB. BADUNG

KOTA SURAKARTA

IV.33

BAB VI LAMPIRAN 2. FOTO SEBELUM DAN SESUDAH RTH


KA B . P U RBAL INGGA BOJONG PARK Eks Rice Mills Kel. Bojong, Kec. Purbalingga (9.000 m2)

IV.34

sebelum

sesudah

KOTA S E M A RA NG REJOMULYO PARK Eks Pasar Rejomulyo, Kel. Rejomulyo, Kec. Semarang Tengah (5.000 m2)

sebelum

sesudah

IV.35

SUPERVISI PENINGKATAN KUANTITAS RTH PERKOTAAN

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan I.3 Lingkup Kegiatan I.4 Keluaran BAB II PROSES DAN TAHAPAN KEGIATAN II.1 Pengertian II.2 Tahanap Kegiatan II.3 Penyusunan Dokumen Konstruksi dan Pelelangan II.4 Jadwal Pekerjaan BAB III PELAKSANA KEGIATAN III.1 Tenaga Ahli III.2 Mekanisme Kerja III.2.1 Tanggung Jawab III.2.2 Peran Serta Green Community III.2.3 Koordinasi Kegiatan V.1 V.1 V.2 V.3 V.3 V.4 V.4 V.6 V.8 V.8 V.9 V.9 V.10

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG


Pengembangan Kota Hijau di Indonesia memerlukan gerak bersama seluruh unsur pemangku kepentingan kota. Pada tahun 2011, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum memprakarsai Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). P2KH diawali dengan penggalangan prakarsa

dan komitmen kota/kabupaten untuk mewujudkan Kota Hijau melalui perumusan


local action plan atau rencana aksi kota hijau (RAKH).

Untuk menindaklanjuti RAKH yang telah disepakati oleh pemerintah Kabupaten/Kota tersebut, maka di tahun 2012 ini pemerintah melaksanakan kegiatan implementasi pelaksanaan fisik RTH untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas di perkotaan.

Adanya kegiatan implementasi fisik ini harus didampingi oleh kegiatan supervisi
untuk mengawasi kegiatan fisik yang berjalan.

Kegiatan supervisi ini dilakukan untuk memberikan pengawasan terhadap tahapan kualitas pekerjaan pelaksanaan fisik secara berkala. Supervisi/pengawasan yang dilakukan diharapkan dapat memberikan kualitas fungsi RTH yang berdampak

optimal bagi llingkungan perkotaan secara umum.

V.1

I.2 MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud

Kegiatan Supervisi dimaksudkan sebagai salah satu upaya mewujudkan peningkatan


kualitas dan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sesuai dengan karakteristik Kota dalam rangka implementasi RTRW Kota/Kabupaten amanat UU No. 26/ 2007 tentang Penataan Ruang pasal 29 ayat (2).

b. Tujuan

Tujuan kegiatan adalah quality assurance pelaksanaan fisik RTH sesuai dengan RKS
dengan cara mengawal proses penyelenggaraan konstruksi implementasi

pengembangan RTH secara berkala.

V.2

I.3 RUANG LINGKUP


1. Tahap Pelelangan Membantu PPK di Kota/Kabupaten dalam mempersiapkan, menyusun program, mendampingi, dan menilai hasil pelelangan untuk kegiatan pelaksanaan kontruksi fisik

2. Tahap Pelaksanaan Mengevaluasi, dan mengendalikan Program pelaksanaan konstruksi fisik serta melakukan koordinasi antar pihak yang terlibat dalam kegiatan pelaksanaan implementasi fisik.

I.4 KELUARAN
Keluaran dari kegiatan ini adalah dokumen supervisi pelaksanaan konstruksi RTH yang di terbitkan berkala setiap minggunya.

V.3

BAB II PROSES DAN TAHAPAN KEGIATAN


II.1 PENGERTIAN
Pengawasan/supervisi dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan untuk menjadikan segala kegiatan di pelaksanaan konstruksi berjalan dan berhasil sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Supervisi pelaksanaan pekerjaan konstruksi mencakup kegiatan/tindakan mengawasi

pelaksanaan pekerjaan sesuai standar konstruksi/rencana yang telah ditetapkan,


kemudian mengadakan pengukuran/penilaian pelaksanaan sesuai standar

pengukuran kegiatan tersebut dan membandingkan antara hasil pelaksanaan yang dicapai dengan standar/rencananya untuk mengetahui apakah ada penyimpangan (evaluasi).

Standar yang dipergunakan adalah mencakup standar konstruksi itu sendiri atau spesifikasi/persyaratan teknis pekerjaan, seperti kuantitas,dimensi/ukuran, kualitas, cara pengerjaan atau rencana kerja yang telah ditetapkan sebelumnya seperti biaya atau jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan, dan lain-lain. Sedangkan penyimpangan dapat merupakan hasil yang lebih baik (hal ini merupakan suatu prestasi) dan penyimpangan yang negatif atau tidak sesuai/dibawah standar yang telah ditetapkan (merupakan suatu masalah yang harus diselesaikan).

V.4

Pengawasan pelaksanaan pembangunan prasarana pada prinsipnya dilakukan terhadap semua aspek kegiatan, namun demikian dalamproses pengawasan ini dapat difokuskan pada 5 (lima) aspek-aspek pengawasan pelaksanaan berikut : 1.Volume pekerjaan, termasuk dimensi atau ukuran konstruksi, yang perlu disupervisi antara lain, adalah : a.Jenis dan volume tiap pekerjaan; b.Kondisi lokasi; c.Fungsi dari setiap aspek pekerjaan; d.Termasuk juga disini adalah apakah semua rencana pengamanan dampak lingkungan sudah dilaksanakan. 2.Mutu/Kualitas pekerjaan, yang perlu disupervisi antara lain, adalah : a.Sumber, kualitas, kuantitas bahan/Alat/tenaga kerja yang dipergunakan pada sestiap jenis pekerjaan sesuai rencana; b. Kualitas hasil pekerjaan; c. Kelengkapan RTH untuk kenyamanan pemakai; d.Metode atau cara pelaksanaan tiap jenis pekerjaan benar; e.Koordinasi pelaksanaan denganpihak/instansi/dinas terkait setempat. 3. Waktu pelaksanaan, yang perlu disupervisi antara lain, adalah : a.Pelaksanaan tiap-tiap item pekerjaan tetap mengacu pada jadwal yang telah direncanakan. b.Keterlambatan dan/atau percepatan waktupelaksanaan pekerjaan maka harus diperhitungkan perubahan waktu kerja tersebut terhadap jadwal kerja; c.Monitoring perpanjangan jangka waktu pelaksanaan kontrak atau menghentikan pekerjaan/pemutusankontrak (bila perlu). 4.Biaya, yang perlu disupervisi antara lain, adalah : a. Pembelanjaan atau penggunaan dana; b. Penyelewengan dana; c. Proses transaksi selalu disertai dengan bukti-bukti tertulis; d. Pembukuan Keuangan dengan baik; e. Aspek kontribusi swadaya masyarakat dipenuhi. 5.Administrasi pelaksanaan, yang perlu disupervisi, adalah : a. Penyusunan Dokumen manajemen administrasi yang diperlukan secara lengkap, benar dan sesuai kondisi lapangan/yang sebenarnya; V.5 b. Administrasi diarsipkan dan dipelihara dengan baik

II.2 TAHAPAN KEGIATAN


A. Tahapan Pelelangan 1. Membantu PPK di Kota/Kabupaten dalam mempersiapkan dan menyusun program pelaksanaan pelelangan pekerjaan kontruksi fisik. 2. Membantu Panitia Lelang dalam menyusun harga Perhitungan Sendiri (Owner'sEtimate) pekerjaan kontruksi fisik. 3. Membantu Panitia Lelang melakukan prakualifikasi calon peserta pelelangan. 4. Membantu Panitia Lelang dalam penyebarluasan pengumuman pelelangan, baik melalui papan pengumuman, media cetak maupun media elektronik. 5. Membantu memberikan penjelasan pekerjaan pada waktu rapat penjelasan pekerjaan. 6. Membantu melakukan pembukaan dan evaluasi terhadap penawaran yang masuk. 7. Membantu menyiapkan draft surat perjanjian pekerjaan pelaksanaan kontruksi fisik. 8. Menyusun laporan proyek tahap pelelangan. B. Tahap Pelaksanaan 1. Mengevaluasi program kegiatan pelaksanaan kontruksi fisik yang disusun oleh pemborong, yang meliputi program-program pencapaian sasaran kontruksi penyediaan dan penggunaan tenaga kerja, peralatan dan perlengkapan, bahan bangunan, informasi, dana, program Quality Assurance/Quality Control, dan program kesehatan dan keselamatan kerja (K3). 2. Mengendalikan program pelaksanaan kontruksi fisik sesuai yang direncanakan oleh konsultan DED dan dilaksanakan di lapangan, yang meliputiprogram pengendalian sumber daya, pengendalian biaya,pengendalian waktu, pengendalian sasaran fisik (kuantitas dan kualitas) hasil konstruksi, pengendalian perubahan pekerjaan baik penambahan maupun pengurangan, pengendalian tertib administrasi,pengendalian kesehatan dan keselamatan kerja.

V.6

3. Melakukan evaluasi program terhadap penyimpangan teknis dan manajerial yang timbul, usulan koreksi program dan tindakan turun tangan, serta melakukan koreksi teknis bila terjadi penyimpangan. 4. Melakukan koordinasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kontruksi fisik 5. Melakukan kegiatan pengawasan terdiri atas: Memeriksa dan mempelajari dokumen untuk pelaksanaan kontruksi yang akan dijadikan dasar dalam pengawasan pekerjaan di lapangan Mengawasi pemakaian bahan, peralatan dan metode pelaksanaan, serta mengawasi ketepatan waktu, dan biaya pekerjaan kontruksi. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan kontruksi dari segi kualitas, kuantitas, dan laju pencapaian volume/ realisasi fisik dan mengumpulkan data dan informasi di lapangan untuk memecahkan persoalan yang terjadi selama pekerjaan kontruksi. Menyelenggarakan rapat-rapat lapangan secara berkala, membuat laporan mingguan dan bulanan pekerjaan pengawasan, dengan masukan hasil rapatrapat lapangan, laporan harian, mingguan dan bulanan pekerjaan konstruksi yang dibuat oleh pelaksana konstruksi. Menyusun berita acara persetujuan kemajuan pekerjaan untuk pembayaran angsuran, pemeliharaan pekerjaan, dan serah terima pertama dan kedua pekerjaan kontruksi. Meneliti gambar-gambar untuk pelaksanaan (shop drawings) yang diajukan oleh kontrakor dan meneliti gambar- gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan (As Built Drawings) sebelum serah terima. Menyusun daftar cacat/kerusakan sebelum serah terima, dan mengawasi perbaikannya pada masa pemeliharaan dan bersama dengan Konsultan Perencana menyusun petunjuk pemeliharaan dan penggunaan bangunan gedung. 6. Menyusun laporan akhir pekerjaan manajemen kontruksi

V.7

II.3 PENYUSUNAN DOKUMEN PELELANGAN


Pendampingan Pelelangan Meliputi : membantu panitia pelelangan pada waktu penjelasan pekerjaan termasuk menyusun berita acara penjelasan pekerjaannya, membantu panitia pelelangan dalam melaksanakan evaluasi penawaran, menyusun kembali dokumen pelelangan dan melaksanakan tugas-tugas yang sama apabila terjadi lelang ulang, dan menyusun dokumen pelelangan.

II.4 JADWAL PEKERJAAN


Untuk melaksanakan kegiatan Supervisi Peningkatan Kuantitas Ruang Terbuka Hijau Perkotaan dibutuhkan waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut: N o 1 2 3 4 Tahapan Kegiatan I Lelang Jasa Pemborong Supervisi Pekerjaan Persiapan Supervisi Pekerjaan Konstruksi Supervisi Pekerjaan Finishing Bulan ke II III

V.8

BAB III PELAKSANA KEGIATAN III.1 TENAGA AHLI


Dalam pelaksanaan kegiatan ini diperlukan Tenaga Ahli sebanyak 3 (tiga) MM sesuai dengan bidang keahliannya. Adapun kualifikasi tenaga ahli tersebut adalah sebagai berikut: 1. Ketua Tim (Arsitektur Lanskap): Disyaratkan memiliki spesialisasi dan bersertifikat Tenaga Ahli Arsitektur Lanskap, dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Arsitektur Lansekap, yang dibuktikandengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Arsitektur Lansekap sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun. 2. Ahli Mekanikal / Elektrikal: Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik Mesin /Elektro / Fisika Teknik yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Manajemen Konstruksi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun. 3. Ahli Sipil: Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik Sipil yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Manajemen Konstruksi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun Selain Tenaga Ahli dan Asisten Tenaga Ahli tersebut, dibutuhkan pula Tenaga Pendukung, yaitu: 1. Pengawas Sipil sejumlah 1 orang 2. Quantity Surveyor sejumlah 1 orang V.9 3. Juru Gambar sejumlah 1 orang

III.2 MEKANISME KERJA


III.2.1 Tanggung Jawab

A. Tanggung Jawab Pengawas


Pengawas harus melaksanakan fungsi pengawasan teknis pelaksanaan konstruksi, manajemen proyek,dan administrasi yang diperlukan untuk melaksanakan Pekerjan berdasarkan kebutuhan yang dijelaskan dalam Dokumen Pengadaan. Pengawas paling sedikit harus melaksanakan tugas-tugas berikut:

1. Memberikan monitoring dan evaluasi terperinci pada fase-fase pelelangan,


pelaksanaan konstruksi dan commisioning maupun operasi dan

pemeliharaan pekerjaan 2. Memantau informasi atau masukan yang diterima dari Pemerintah kota, Masyarakat, dan yang lainnya 3. Menyerahkan laporan monitoring dan evaluasi pekerjaan ke Pemerintah Kota

sesuai Jadwal Pekerjaan


4. Mengatur hubungan teknis antara Pemerintah Kota, Masyarakat, pelaksana konstruksi dan konsultan, sebagaimana diperlukan untuk mendapatkan masukan atas Perancangan DED RTH 5. Memberikan informasi teknis tambahan kepada Pemerintah Kota dan Masyarakat terkait dengan fase pelelangan, pelaksanaan konstruksi dan

pemeliharaan

V.10

B. Tanggung Jawab Pemerintah Kota/Kabupaten Pemerintah Kota/Kabupaten akan menyediakan Tim Teknis dan administrasi untuk memeriksa pekerjaan Konsultan dan berpartisipasi dalam proses Pembangunan RTH, Tim Teknis tersebut akan melakukan tugas-tugas sebagai berikut: 1. Memberikan persetujuan untuk semua keputusan manajemen proyek dan teknis 2. Menyediakan staf teknis yang memiliki wewenang serta tenaga ahli untuk mengawasi dan menyetujui pekerjaan Konsultan 3. Mengatur hubungan komersil dengan semua pihak seperti Pelaksana konstruksi,Konsultan dan Pemasok 4. Memberitahukan Pengawas terhadap perubahan mengenai lingkup pekerjaan, persyaratan dan jadwal 5. Mengatur hubungan antara Pengawas dan Mitra Strategis, jika ada, sesuai keperluan 6. Menyediakan data yang diperlukan konsultan untuk kelancaran pekerjaan

merujuk pada Dokumen Pengadaan

III.2.2 Peran Serta Komunitas Hijau Komunitas Hijau hendaknya terlibat dalam pengawasan selama implementasi fisik RTH berlangsung. Pengawasan dari Komunitas Hijau diperlukan agar kualitas fisik RTH yang terbangun bisa terjaga sesuai dengan perencanaannya.

V.11

III.2.3 Koordinasi Kegiatan A. Rapat Evaluasi Kemajuan Lapangan Kegiatan evaluasi pada prinsipnya merupakan bagian dari proses

pengawasan/pengendalian pelaksanaan kegiatan, hanya umumnya dilakukan

untuk periode waktu tertentu, meskipun juga dapat dilakukan sewaktu-waktu


(mendesak).

Rapat Evaluasi Kemajuan Pelaksanaan Kegiatan adalah merupakan pertemuan yang dilaksanakan oleh Pengawas - Pelaksana Konstruksi - Konsultan Tim Teknis Pemerintah daerah (Tim Pelaksana Kegiatan) padasetiap setiap peride

waktu tertentu (pada umumnya


mingguan atau sesuai periode waktu yang disepakati) untuk mengevaluasi sejauh mana kemajuan pelaksanaan kegiatan telah dicapai, termasuk penyelesaiaanmasalah yang muncul. Rapat ini dihadiri oleh semua

pengurus/pelaksana kegiatan (termasuk dapat mengundang pihak-pihak terkait lainnya yang diperlukan).

Beberapa hal penting yang perlu menjadi agenda evaluasi berkaitandengan pelaksanaan kegiatan dilapangan, antara lain : - Volume pekerjaan - Realisasi Volume Pengadaan Bahan/Alat/Tenaga Kerja - Realisasi Biaya Pengadaan Bahan/Alat/Tenaga Kerja - Realisasi Swadaya Masyarakat - Administrasi -Masalah-masalah yang timbul dilapangan

V.12

B. Laporan Kemajuan Pekerjaan Setiap minggu, Pengawas harus menyajikan laporan singkat yang akurat mengenai status monitoring dan evaluasi pekerjaan yang dilaksanakan dan dikelola. Laporan tersebut akan digunakan Tim Teknis Pemerintah Daerah

sebagai dasar untuk melaporkan status proyek kepada masyarakat.


Pengawas harus mendapatkan persetujuan Tim Teknis untuk format pelaporan awal dan revisi-revisi berikutnya sebelum persiapan pembuatan laporan.

Laporan pada dasarnya akan termasuk informasi yang berikut ini:

Jadwal pencapaian
Ringkasan Jadwal Pekerjaan Laporan Pencapaian Kualitas Daftar Kendali Perubahan

Laporan pendukung yang terperinci akan dikeluarkan secara terpisah sesuai

permintaan Tim Teknis Pemerintah Daerah untuk melengkapi penerbitan


Laporan Kemajuan Kerja mingguan

V.13

KEGIATAN FORUM KOMUNITAS HIJAU (FKH)

VI

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG


Dalam upaya mewujudan Kota Hijau terdapat 8 (delapan) atribut yang harus dipenuhi

yaitu: Green Planning and Design, Green Open Space, Green Community, Green
Water, Green Waste, Green Energy, Green Building, dan Green Transportation. Dari 8 (delapan) atribut tersebut, Green Community menjadi salah satu atribut yang penting, karena keterlibatan dan rasa memiliki masyarakat yang utamanya dijaring melalui forum-forum komunitas,akan menjadi motor penggerak utama gerakan hijau di kota/kawasan perkotaan serta menjamin keberlanjutan program Kota Hijau di masa yang akan datang. Penerapan atribut Green Community, melalui pembentukan Forum Komunitas Hijau (FKH) adalah sarana mewadahi komunitas-komunitas yang sudah ada, untuk saling belajar dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Kota Hijau. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat melalui pembentukan Forum Komunitas Hijau (FKH) dalam meningkatkan pengetahuan dan kepedulian

seluruh penghuni kota terhadap perwujudan kota hijau, diawali dari memahami
pentingnya RTH di kota.

Proses pemahaman tersebut dapat dimulai dari komunitas-komunitas yang tergabung dalam FKH sendiri, yang nanti kemudian akan menyebar ke segmen masyarakat lain lewat kegiatan-kegiatan FKH.

VI.1

TUJUAN DAN SASARAN


a. Tujuan Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini antara lain : 1. Meningkatkan pemahaman kepada warga tentang pentingnya kota hijau bagi keseimbangan fungsi kota yangberkelanjutan. 2. Menggali / menampung aspirasi dari warga tentang kota hijau lewat metode rembug/ diskusi terbuka. 3. Mengajak warga untuk memanfaatkan ruang terbuka hijau yang ada, serta berperan aktif dalam peningkatan kualitas dankuantitas RTH Kota/Kawasan Perkotaan. 4. Membentuk forum hijau kota/kabupaten sebagai mitra pemerintah kota/kabupaten dalam meningkatkan kualitas dan kuantitasRTH kota/kawasan perkotaan. b. Sasaran Sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini adalah : 1. Tercapainya target minimal 1.000 orang yang terjangkau sosialisasi, baik melalui media offline maupun online 2. Terdatanya komunitas-komunitas hijau yang telah ada maupun bertambahnya komunitas dalam Forum Komunitas Hijau 3. Terselenggaranya workshop/konsinyiasi dalam rangka menghimpun aspirasi warga/komunitas 4. Terbentuknya forum komunitas hijau kota 5. Tersusunnya peta komunitas hijau 6. Tersusunnya rencana aksi forum komunitas hijau berisikan program-program yang mendorong partisipasi aktifmasyarakat dalam peningkatan kuantitas dan kualitas RTH dan merangkum harapan dan aspirasi warga terhadapRTH Kota/Kawasan Perkotaan 7. Teragendakannya kegiatan bersama antar komunitas/kelompok warga pada salah satu Ruang Terbuka Hijau dikota/kabupaten, minimal satu kegiatan dalam satu tahun 8. Terliputnya kegiatan Kota Hijau oleh media massa baik media cetak maupun eletronik VI.2 9. Terdokumentasikannya kegiatan melalui foto dan prosiding kegiatan

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH BARU

RUANG LINGKUP
Masyarakat yang menjadi target sasaran kegiatan forum komunitas hijau adalah yang berada dalam kelompok usia : 16- 30 tahun(remaja, pemuda, komunitas penggiat lingkungan yang aktif, tokoh-tokoh muda, dan sebagainya dengan pertimbangan waktu yang tersedia, spirit yang dinamis, serta pembawa perubahan (agent of change). Contoh : - Karang Taruna, kelompok pemuda teritorial - Siswa-siswi sekolah-sekolah tingkat atas/ SLTA - Komunitas seni dan budaya - Komunitas peduli lingkungan - Komunitas olahraga - Komunitas hobi (sepeda, motor, dll) - Masyarakat yang peduli

KELUARAN
1. Database Forum Komunitas Hijau Kota 2. Rencana Aksi forum komunitas hijau kota 3. Dokumentasi dan prosiding pelaksanaan aksi-aksi komunitas hijau

VI.3

A. SOSIALISASI DAN KAMPANYE PUBLIK TENTANG KOTA HIJAU

VI.A

I. TUJUAN
1. Membangun kesadaran warga dan pemerintah daerah tentang pentingnya Kota Hijau 2. 3. Menyatukan visi Kota Hijau antara warga dan pemerintah daerah Membangun partisipasi warga dalam program-program Kota Hijau

II. SASARAN
1. 2. Masyarakat umum dengan prioritas generasi muda (16-30 tahun) Komunitas atau kelompok masyarakat yang berorganisasi secara sukarela karena kesamaan minat.

VI.A.1

Berikut adalah beberapa pelaksanaan kegiatan sosialisasi Kota Hijau serta alternatif

kegiatan yang dapat disesuaikan denganpotensi serta karakteristik masyarakat


setempat : 1. Temu Warga pada tingkat kelurahan/kecamatan tentang Kota HIjau Sosialisasi ini dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemerintah Kota/Kabupaten saat melakukan temuwarga. Dalam pertemuan-pertemuan ini dijelaskan dan dibagikan brosur mengenai fungsi, manfaat, dan pentingnya

2. Talkshow di radio dan TV lokal (media elektronik)

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH BARU


sosialisasi atirbut-atribut lain dari Kota Hijau. siaran di stasiun TV yang sama. kuantitas RTH sebagai fungsi esensial kota yang berkelanjutan.

peningkatan kualitas dan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta di mana saja
lokasi RTH di kota/kabupaten yang dapat diakses. Pada tahap berikutnya adalah

Bekerja sama dengan media lokal untuk melakukan talkshow atau penyuluhan mengenai fungsi, manfaat, dan pentingnya Kota Hijau beserta penjelasan

atribut-atributnya. Paling tidak ada3 radio lokal dan 2 stasiun TV lokal/2 kali

3. Press release ke media massa Memberikan bahan-bahan tertulis kepada media massa lokal, agar mereka menurunkan tulisan tentang fungsi,manfaat, dan peningkatan kualitas dan

4. Sosialisasi ke sekolah-sekolah (SLTA) 5. Kampanye lewat social media : facebook, twitter, youtube Membuat akun media sosial, untuk menyebarkan pemahaman fungsi, manfaat, dan pentingnya peningkatankualitas dan kuantitas RTH. Melalui media sosial inilah interaksi warga dan pemerintah diharapkan dapat terjadi secara

intens dan proaktif.

VI.A.2

Aksi Kota Hijau tidak lahir secara instan, dibutuhkan tahapan-tahapan yang diawali dengan sosialisasi untuk menumbuhkan kepedulian, dilanjutkan dengan mobilisasi melalui pembentukan komunitas hijau. Setelah terbentuk komunitas yang terorganisir maka perlu diambil langkah-langkah persuasif antara lain melalui insentif program oleh pemerintah. Pada tahap akhir lahirlah aksi-aksi yang mendukung perwujudan Kota Hijau Sosialisasi Mobilisasi Persuasi Aksi --

VI.A.3

B. PEMBENTUKAN FKH DAN PENYUSUNAN RENCANA AKSI FKH

VI.B

DAFTAR ISI
I.1 DEFINISI DAN KRITERIA FKH I.2 TAHAPAN PEMBENTUKAN FKH I.3 PENYUSUNAN RENCANA AKSI FKH I.4 PENGEMBANGAN FKH I.5 JADWAL PELAKSANAAN I.6 FORM PEMBENTUKAN FKH & PENYUSUNAN RENCANA AKSI FKH IV.B.1 IV.B.2 IV.B.3 IV.B.4 IV.B.4

IV.B.6

I.1 DEFINISI DAN KRITERIA FKH


Forum Komunitas Hijau (FKH) ini adalah forum komunikasi antar komunitas/kelompok warga yang peduli pada masalah lingkungan dan sosial budaya di kota/kabupaten tertentu, terutama membangun interaksi sosial warga terhadap pemanfaatan ruang terbuka hijau di kota.

FKH

terdiri

dari

perwakilan seputar

komunitas/kelompok isu lingkungan,

warga, sosial,

yang dan

memiliki budaya.

kepedulian/kegiatan

Komunitas/kelompok warga adalah perkumpulan yang sifat keanggotaannya terbuka, berorientasi sosial (bukan profit, seperti koperasi misalnya), dan sudah aktif dalam satu tahun terakhir mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengangkat isu lingkungan dan sosial budaya. Contoh komunitas/kelompok warga yang dimaksud antara lain komunitas bike2work, komunitas motor, komunitas berkebun, karang taruna, pramuka, kelompok kesenian, dll.

VI.B.1

I.2 TAHAPAN PEMBENTUKAN FKH


1. Dilakukan pendataan terhadap komunitas-komunitas yang ada di daerah tersebut. Komunitas yang didata sebaiknyabukan ormas yang berafiliasi pada parpol tertentu, dan bukan pula asosiasi dagang. Akan lebih baik bila komunitastersebut hidup pada territorial tertentu (Karang Taruna) atau minat khusus (Bike to Work), organisasi profesi (IDI),maupun kelompok-kelompok lain yang sifatnya sosial budaya;

2. Diadakan workshop/konsinyiasi dengan mengundang pakar-pakar Kota Hijau sebagai narasumber dan komunitas-komunitassebagai peserta untuk menggalang kepedulian komunitas-komunitas tersebut terhadap perwujudan KotaHijau;

3. Dibentuk Forum Komunitas Hijau (FKH) yang terdiri atas komunitas-komunitas yang telah menyatakan minatnya dalam mendukungperwujudan Kota Hijau di kota/kabupaten masing-masing;

4. FKH merupakan forum bagi komunitas-komunitas yang peduli pada program Kota Hijau di kota/kabupaten masing-masing dan menjadi mitra bagi pemerintah untuk mewujudkan Kota Hijau;

5. FKH menyusun rencana aksi komunitas hijau kota yang terdiri atas programprogram kegiatan yang dapat mendorong danmeningkatkan keterlibatan dan

VI.B.2

3. peran aktif masyarakat dalam mewujudkan Kota Hijau

I.3 PENYUSUNAN RENCANA AKSI FKH


1. FKH berdiskusi untuk memetakan masalah-masalah di kota/kab yang terkait untuk wujudkan Kota Hijau

2.

Masalah tersebut kemudian dipilah mana yang menjadi tanggung jawab pemerintah, bisnis maupun warga sendiri

3.

FKH membuat skala prioritas masalah yang menjadi tanggung jawab warga.

4.

Berdasarkan skala prioritas inilah kemudian didiskusikan satu rencana aksi untuk mengatasinya.

5.

Rencana aksi ini tidak harus menjadi solusi 100%, tetapi bisa merupakan penyelesaian satu tahap. Misalnya masalah yang dipilih soal sampah, lalu rencana aksinya adalah penyadaran warga untuk memilah sampah (satu tahap untuk masalah sampah)

6.

Program disusun dengan pertimbangan SMART

Specific (khusus dan jelas),

Measurable (dapat diukur), Attainable (dapat dicapai), Realistic (realistis) Time Bound (target waktu)

7.

Mengisi form persetujuan Rencana Aksi

VI.B.3

CONTOH RENCANA AKSI Tahun 2013-2014 KOTA PAREPARE

VI.B.4

I.4 PENGEMBANGAN FKH


1. FKH adalah forum/wadah bagi komunitas, tanpa menghilangkan eksistensi komunitas masing-masing; 2. Keanggotaan FKH adalah komunitas, bukan perseorangan. Keanggotaan FKH bersifat terbuka, komunitas-komunitas baru dapat bergabung sesuai dengan visi misi Kota Hijau; 3. Komunitas anggota FKH dapat melakukan kegiatan bersama-sama atas nama FKH, atau juga atas nama komunitas sendiri; 4. FKH membuat kesepakatan mekanisme organisasi , antara lain : susunan pengurus, periodisasi kepengurusan, visi misi organisasi, dll; 5. Pelembagaan FKH diserahkan pada kesepakatan anggota, dapat berupa lembaga formal (badan hokum, AD/ART, SK Bupati/Walikota) ataupun informal. Prinsipnya FKH ini adalah independen dan mandiri; 6. Pendanaan FKH didapat dari berbagai sumber, seperti sponsorhip, usaha bersama maupun bantuan dari pemerintah/swasta

I.5 JADWAL PELAKSANAAN


N o 1 2 Tahapan Kegiatan I Sosialisasi dan Kampanye Publik tentang Kota Hijau Pembentukan Forum Komunitas Hijau (FKH) a. Pendataan komunitas yang sudah ada b. Workshop/Konsinyasi c. Pembentukan FKH dengan penentuan koordinator 3 Penyusunan Rencana Aksi FKH Bulan ke II

VI.B.4

VI.B.5

I.6 FORM PEMBENTUKAN FKH & PENYUSUNAN RENCANA AKSI FKH

VI.B.6

C. PENYUSUNAN PETA KOMUNITAS HIJAU

VI.C

DAFTAR ISI
I.1 TUJUAN DAN KELUARAN I.2 JADWAL PEKERJAAN I.3 TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN I.4 BATASAN PEMETAAN I.5 GUIDELINE LAYOUT PETA I.6 FORM PENYUSUNAN PETA KOMUNITAS HIJAU IV.C.1 IV.C.1 IV.C.2 IV.C.3 IV.C.4 IV.C.6

I.1 TUJUAN DAN KELUARAN


Tujuan : Meningkatkan kesadaran warga terhadap lokasi-lokasi hijau dan memiliki kontribusi positif bagi kualitas ruang kota

Keluaran Spesifikasi Peta Komunitas Hijau : 1. Dibuat/dicetak pada kertas ukuran A2, jenis kertas art/matte paper, berat 120

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH I.2 JADWAL PEKERJAAN BARU


3. Kelengkapan informasi peta : Kontak FKH, nama-nama relawan yang terlibat, logo Kementerian Pekerjaan Umum, logo Pemda N o Tahapan Kegiatan Bulan ke II I III 1 Pembentukan Kelompok Kerja 2 Penentuan Batasan Tema 3 Pemetaaan dan Pencarian Data 4 Kompilasi dan Tinjuan Data

gram

2. Dicetak dalam jumlah sesuai ketentuan RAB dan dikemas dengan terlipat rapi.

5 Desain dan Cetak Peta


6 Evaluasi dan Pelaporan

VI.C.1

I.3 TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN


a. FKH membentuk tim relawan untuk membuat Peta Komunitas Hijau dengan langkah-langkah sebagai berikut : b. Tim menentukan batasan lokasi pemetaan, yaitu wilayah administratif kota (city wide) dan kawasan fungsional perkotaan di kabupaten c. Lokasi/objek yang akan dipetakan, dengan mengacu pada 8 atribut Kota Hijau. d. Materi pemetaan mengacu pada 8 atribut Kota Hijau, minimal mengandung 2 atribut Kota Hijau (Green Open Space/Ruang Terbuka Hijau dan Green Community/Tempat Akfititas Komunitas)

e. Tim kemudian melakukan survei lapangan pada lokasi-lokasi yang masuk pada
batasan obyek peta. Dalam survei lapangan, setiap orang melakukan penilaian/pencatatan pada lokasi-lokasi yang dikunjungi. f. Tim kemudian mendiskusikan hasil survei, setiap orang bertukar pikiran dan melakukan penilaian bersama/kelompok pada setiap lokasi, serta membahas kembali, lokasi-lokasi mana yang layak dimasukkan dalam peta.

g. Setelah survei dan diskusi selesai, tim kemudian merancang setting dan layout
peta, sesuai petunjuk teknis dan memasukkan hasil-hasil survei diskusi ke dalam peta. h. Draft Peta Komunitas Hijau ini wajib konsultasi dengan Tim Pendamping Pusat untuk mendapat persetujuan substansi. i. Setelah mendapat persetujuan substansi dari Tim Pendamping Pusat, draft peta

ini baru dapat dicetak/diperbanyak sesuai petunjuk teknis

VI.C.2

I.4 BATASAN PEMETAAN


Materi pemetaan mengacu pada 8 atribut Kota Hijau, yaitu : 1. Green Planning and Design : Apakah sudah memiliki RTRW, Rencana Induk RTH, Perda/Peraturan terkait 8 atribut? 2. Green Open Space : Bagaimana kondisi RTH (taman, jalur hijau) yang ada? Digunakan untuk kegiatan apa? Siapa pengguna RTH tersebut? 3. Green Community : Apakah ada kelompok/komunitas peduli lingkungan atau sosial? Berapa jumlahnya? Siapa saja? Dimana mereka berkegiatan? Siapa kontak personnya? Waste :

4. Green

5. Green Water : Bagaimana kondisi air permukaan/air tanahnya? Sudah berapa persen masyarakat mengakses air bersih? Adakah teknologi

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH BARU


Bagaimana pengelolaan sampah? Apakah memilah/memanfaatkan sampah? tradisional/modern dalam pengolahan air? Apakah ada ancaman krisis air? mempertahankan pengetahuan lokal? pengguna transportasi ramah lingkungan? Berjalan kaki, Sepeda?

dikelola

pemda/perusahaan/masyarakat? Apakah sudah ada inisiatif masyarakat

6. Green Building : Adakah bangunan ramah lingkungan? Adakah bangunan yang

7. Green Transportation : Bagaimana sistem transportasinya? Adakah fasilitas

8. Green Energy : Apa sumber energinya? Adakah inisiatif penggunaan energi hijau (air, surya, angin)?

VI.C.3

Contoh layout Portrait KAB. SUMBAWA HALAMAN DEPAN


COVER BELAKANG Kontak FKH (Nama, No.HP, Email, Facebook/Twitter) COVER DEPAN Judul Peta, Logo Kementerian PU, Logo Pemerintah Daerah

I.5. GUIDELINE LAYOUT PETA


HALAMAN BELAKANG
TITIK HIJAU Temuan Hijau sesuai urutan lokasi, dilengkapi nama tempat, alamat, deskripsi lokasi

VI.C.4

LOKASI TERPILIH Temuan Paling Menarik

PROFIL KOTA/KAB Penjelasan Karakteristik Wilayah Pemetaan

PENYUSUN Nama relawan penyusun

PETA & LEGENDA Penomoran Tiik Hijau, dengan garis batas kecamatan, nama jalan, nagivasi arah utara

Contoh layout Lansekap - KOTA BANDUNG


COVER Judul Peta, Logo Kementerian PU, Logo Pemerintah Daerah PENYUSUN & kONTAK FKH Nama relawan penyusun, Kontak FKH (Nama, No.HP, Email, Facebook/Twitter) TITIK HIJAU & FOTO Temuan Hijau sesuai urutan lokasi, dilengkapi nama tempat, alamat, deskripsi lokasi

HALAMAN DEPAN

HALAMAN BELAKANG

PROFIL KOTA/KAB Penjelasan Karakteristik Wilayah Pemetaan

PETA & LEGENDA Penomoran Tiik Hijau, dengan garis batas kecamatan, nama jalan, nagivasi arah utara

LOKASI TERPILIH & FOTO Temuan Paling Menarik

I.6 FORM PENYUSUNAN PETA KOMUNITAS HIJAU

VI.C.6

D. PENYELENGGARAAN AKSI FKH

VI.D

DAFTAR ISI
I.1 FESTIVAL HIJAU (GREEN FESTIVAL) DI TAMAN KOTA IV.D.1 I.2 AKSI KOMUNITAS HIJAU LAIN (TERKAIT ATRIBUT KOTA HIJAU) IV.D.3 I.3 SOSIALISASI KOMUNITAS HIJAU I.4 DOKUMENTASI KEGIATAN FKH IV.D.6 IV.D.8

DAFTAR ISI

I.1 FESTIVAL HIJAU (GREEN FESTIVAL)


Tujuan : a. b. c. Mengkampanyekan kegiatan di ruang terbuka hijau Memberi ruang ekspresi kesenian di ruang terbuka hijau Menjadikan ajang interaksi antar kelompok warga

Bentuk Kegiatan :

A. PENYUSUNAN MASTERPLAN RTH BARU


yang memadai Festival ini kegiatan kesenian antar kelompok tersebut. dapat diperoleh dari sponsorship, APBD, maupun usaha-usaha lain. Terselenggara kegiatan kesenian di taman kota dalam satu hari Peserta pengisi festival minimal 5 kelompok

Festival ini berupa kegiatan di ruang terbuka hijau atau di salah satu taman kota

Festival ini bukan lomba, tetapi lebih ajang ekspresi kelompok2 kesenian di kota

Pendanaan dari P2KH berupa dana stimulan, biaya penyelenggaran festival ini

Keluaran :

Kesenian yang ditampilkan dapat berupa kesenian modern maupun tradisional, diutamakan kesenian lokal. Contoh festival : festival teater, festival tari, festival musik tradisional, festival mainan anak, dll.

Waktu Pelaksanaan : Rentang Oktober-November dalam rangka peringatan Hari Tata Ruang

VI.D.1

Form Perencanaan Festival Hijau

VI.D.2

I.2 AKSI KOMUNITAS HIJAU LAIN (TERKAIT ATRIBUT KOTA HIJAU)


Tujuan : Membangun kesadaran warga tentang atribut-atribut Kota Hijau

Batasan kegiatan : Terkait dengan salah satu atau lebih dari 8 atribut Kota Hijau Kegiatan dapat berupa lokalatih (workshop), kampanye isu tertentu, atau model kegiatan lain. Contoh : tanam pohon, kampanye naik sepeda ke kantor/sekolah, membuat sumur resapan, membangun mikrohidro, membuat bank sampah,

lokalatih daur ulang, lomba lingkungan, pemetaan jalur sepeda/titik sampah, dll
Pilihan kegiatan diserahkan pada kesepakatan FKH, sesuai dengan konteks permasalahan kota/kabupaten yang terkait dengan salah satu atribut Kota Hijau. Misal masalah yang menonjol di suatu kota adalah sampah, maka pilihan kegiatan dapat difokuskan di soal green waste. Pendanaan : Untuk kegiatan ini, P2KH memberikan dana stimulan, sementara

FKH dapat mulai mandiri dengan menggali dana dari sumber-sumber lain.

Output : a. Terselenggaranya satu kegiatan (terkait Kota Hijau) yang ditentukan sendiri oleh FKH b. Terlibatnya sejumlah orang (minimal 50 orang) dalam kegiatan ini c. Dokumentasi kegiatan berupa foto, laporan, dan/ peta (jika kegiatan berupa pemetaan).

VI.D.2

VI.D.3

Form Perencanaan Aksi Komunitas Hijau

VI.D.4

AKSI KEGIATAN RUTIN


Bagi FKH yang telah terbentuk diharapkan dapat menyelenggarakan kegiatan rutin antara lain : 1. Pelibatan secara reguler FKH dalam setiap kegiatan P2KH yang tengah berjalan seperti sosialisasi, penyusunan Masterplan RTH, penyusunan DED Taman Ramah Lingkungan, dan supervisi implementasi fisik RTH agar timbul rasa memiliki dan kepedulian terhadap misi perwujudan Kota Hijau yang sedang berlangsung. 2. Pemanfaatan RTH, khususnya taman kota, untuk kegiatan rutin komunitaskomunitas yang tergabung dalam FKH, seperti senam bersama, pentas musik akustik, pengamatan satwa dan tumbuhan, latihan drama, latihan menari, dsb.

VI.D.5

I.3 SOSIALISASI KOMUNITAS HIJAU


Tujuan : Mengajak warga untuk memahami Kota Hijau Meningkatkan peran serta warga dalam mewujudkan Kota Hijau

Bentuk : Kampanye Kota Hijau lewat media massa maupun media social Talkshow di media massa maupun di kegiatan publik (di sekolah, pusat keramaian, dll) Penyebaran Peta Komunitas Hijau

Target : a. Terjangkau minimal 1000 orang di media social (facebook, youtube, twitter, dll) b. Interaksi yang intens saat kegiatan : ada penanya saat talkshow (minimal 3 penanya), percakapan/komentar di media social (3 komentar) c. Respon terhadap peta komunitas hijau, berupa masukan, pertanyaan, kritikan via email, telepon, maupun komentar di media sosial.

VI.D.6

Form Perencanaan Sosialisasi Komunitas Hijau

VI.D.7

I.4 DOKUMENTASI KEGIATAN FKH

VI.D.8

TIM PENYUSUN
TIM PENGARAH : M. Basuki Hadimuljono, Joessair Lubis, Dadang Rukmana, Iman Soedrajat, Lina Marlia, Bahal Edison Naiborhu

TIM PELAKSANA : Endra S. Atmawidjaja, Andi Renald R., Firsta, Wisnubroto Sarosa, Desfitriza, Allien Dyah Lestari, One Indirasari, Ludfie Hamdrie, Rocky Adam, Wulansih, Agus Salam, Yohanes Fajar S.W., Sylva A.A. Irnadiasputri, Larasati Pratiwi, Niken Prawestiti

TIM PENDAMPING : Nirwono Joga, Alinda Zain, Iwan Ismaun,

Bayu Wardhana, Bintang A. Nugroho

Dicetak di Indonesia Penerbit : KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG Produksi 2013

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG

Sekretariat P2KH : Gedung Ditjen SDA & Penataan Ruang Lt.4 Jl. Pattimura no.20 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110 Telp/Fax : 021-7231611/021-7243431 www.penataanruang.net