Anda di halaman 1dari 3

Impaksi Gigi yang mengalami impaksi adalah gigi yang mengalami hambatan dalam erupsi karena adanya suatu

barier fisik yang menghalangi tempat erupsinya. Faktor yang biasanya menyebabkan adanya impaksi adalah karena jumlah gigi yang ada sudah menutupi seluruh tempat pada rahang atau adanya ruang yang tidak cukup untuk terjadinya erupsi. Hal yang sering terjagi juga adalah perubahan posisi dari akar gigi yang menyebabkan gigi tidak dapat muncul di tempat yang seharusnya. Setiap gigi dapat terkena impaksi, tetapi beberapa gigi lebih sering mengalaminya daripada gigi-gigi lainnya. Gigi-gigi yang sering mengalami impaksi adalah molar ketiga, baik untuk rahang atas maupun rahang bawah, diikuti dengan premolar dan gigi yang terkena impaksi jika terdapat jumlah gigi yang berlebih. Gigi molar ketiga pada rahang bawah lebih sering terkena impaksi daripada gigi molar pada rahang atas. Dachi dan Howell melaporkan, dalam penelitian melalui 3874 foto rongten yang diambil secara rutin pada pasien di atas 20 tahun, 17% pasien mengalami impaksi, di antaranya yang mengalami impaksi pada gigi molar ketiga pada rahang atas sebanyak 22%, dan pada rahang bawah 18%. Impaksi pada gigi molar ketiga dapat terjadi dalam banyak variasi posisi. Winter membuat suatu klasifikasi sederhana untuk impaksi pada molar ketiga ini, yaitu : 1. Impaksi mesioangular, yaitu posisi molar ketiga yang berada obliq dalam tulang alveolar, mahkotanya berada pada posisi mesial, biasanya mengalami kontak dengan mahkota gigi molar kedua. Impaksi ini adalah impaksi yang paling sering terjadi. 2. Impaksi distoangular, yaitu posisi molar ketiga yang berada obliq dalam tulang alveolar, mahkotanya mengarah ke posisi distal sehingga akar gigi molar ketiga mengalami kontak dengan akar dari gigi kedua. 3. Impaksi vertikal, yaitu impaksi yang terjadi dalam posisi normal (vertikal), tetapi mengalami hambatan, biasanya oleh permukaan distal gigi molar kedua. 4. Impaksi horizontal, yaitu posisi molar ketiga yang berada horizontal pada tulang alveolar, dengan mahkota yang mungkin kontak atau tidak dengan gigi molar kedua. Dalam kasus-kasus yang lain, impaksi dapat terjadi dimana gigi molar ketiga berada dalam posisi bukal, lingual, ataupun mengarah ke distal, sehingga mahkotanya dapat mengalami kontak dengan tulang mandibula atau maksila. Dalam kasus-kasus impaksi, baik untuk gigi keseluruhan, maupun khusus untuk gigi molar ketiga, perlu adanya klasifikasi, dimana gigi dapat mengalami impaksi secara komplit, ataupun gigi mengalami impaksi secara parsial (sebagian). Impaksi yang terjadi secara komplit adalah jika impaksi yang terjadi pada gigi menyebabkan tidak adanya hubungan sama sekali antara gigi dengan rongga mulut, sementara pada impaksi parsial, hubungan ini terjadi. Walaupun tidak ada hubungan gigi dengan rongga mulut yang terlihat pada suatu impaksi, infeksi tetap dapat terjadi melalui adanya pelebaran pocket bagian distal gigi molar kedua karena adanya dorongan ke arah mesial. Hal lain yang dapat terjadi pada keadaan impaksi yaitu kemungkinan timbulnya karies pada gigi yang mengalami impaksi. Timbulnya karies pada gigi yang mengalami impaksi yang komplit tidak dimungkinkan.

Gigi yang mengalami impaksi total kadang-kadang dapat mengalami resorpsi. Alasan mengapa gigi yang satu mengalami resorpsi, sementara yang lain tidak belum diketahui. Proses resorpsi biasanya terjadi bermula pada mahkota gigi yang menyebabkan hancurnya email dan dentin, juga diikuti dengan hancurnya semen, dan digantikan dengan tulang. Perikoronitis Perikoronitis adalah suatu infeksi yang terjadi pada jaringan gusi yang mengitari mahkota gigi yang sedang mengalami erupsi. Perikoronitis paling sering terjadi pada erupsi gigi molar ketiga yang biasa terjadi pada akhir masa remaja atau pada awal usia 20 tahun. Perikoronitis biasanya terjadi karena adanya erupsi gigi molar ketiga yang mengalami erupsi parsial. Erupsi parsial ini kebanyakan terjadi karena adanya malposisi dari tumbuhnya gigi ataupun kurangnya ruang untuk tumbuhnya gigi karena panjangnya rahang yang terbatas. Mahkota gigi pada molar ketiga, atau jarang pada gigi lainnya, menembus dan dilingkupi jaringan gusi atau sesekali oleh mukosa. Mahkota gigi pada gigi yang mengalami erupsi parsial ini tidak melekat secara penuh pada lapisan gusi di sekitarnya dikarenakan lapisan terluar mahkota merupakan lapisan email yang memiliki porsi kelekatan terhadap gusi yang sama dengan gigi yang sudah erupsi sepenuhnya. Jadi, karena bagian mahkota gigi adalah bagian yang bukan merupakan akar, maka bagian ini tidak melekat secara penuh pada gusi disekitarnya. Hal ini menimbulkan adanya celah di antara jaringan gusi dan mahkota gigi. Celah ini kemudian dapat menjagi tempat untuk menumpuknya sisa makanan dan menjadi tempat yang baik untuk pertumbuhan bakteri, terutama pada rongga mulut yang kebersihannya tidak terjaga dengan baik. Perikoronitis yang akut akan menimbulkan rasa nyeri yang terlokalisir dan adanya kepekaan gusi terhadap rangsangan, terutama nyeri. Rasa nyeri dapat menyebar ke daerah muka, telinga, ataupun rahang. Keadaan ini juga dapat disertai dengan adanya limfadenopati bagian kepala dan leher, serta adanya pembengkakan pada muka, rasa nyeri pada saat mengunyah, dan trismus. Dalam kasus yang berat, keadaan dapat diikuti dengan adanya demam, kelemahan umum, dan penyebaran infeksi. Dengan pemeriksaan secara inspeksi maupun palpasi, dapat diketahui dengan jelas bahwa pada bagian yang bersangkutan terdapat pembesaran, inflamasi, dan kepekaan dari jaringan lunak yang melindungi bagian mahkota gigi, termasuk bagian oklusalnya. Jaringan lunak ini dapat merupakan gusi, jaringan mukosa, ataupun keduanya. Pada inspeksi juga dapat terlihat adanya akumulasi plak dan debris lainnya pada gigi yang bersangkutan maupun pada gigi yang berdekatan. Hal ini terjadi karena kepekaan terhadap rangsang nyeri yang bertambah pada nyeri yang bersangkutan menimbulkan berkurangnya kecenderungan untuk menyikat gigi. Organisme yang menjadi etiologi pasti dari timbulnya perikoronitis belum dapat diidentifikasi secara jelas. Beberapa penelitian mengarahkan dugaan pada kuman-kuman tertentu. Penelitian ini menunjukkan bahwa Streptococcus viridans, spirocetes, dan fusobakteria terlibat dalam infeksi pericoronitis. Penelitian lebih lanjut menyatakan adanya keterlibatan kuman penyebab periodontitis, yaitu Prevotella (Bacteriodes) intermedia, Peptostreptococcus micros, Veillonella sp., Fusobacterium nucluatum, Actinobacillus actinomycetemcomitans, dan Capnocytophaga sp. dalam celah yang terinfeksi secara akut. Yang menarik adalah Eubacterium sp. dan Porphyromonas ginggivalis, yang sangat berperan pada periodontitis tidak

terdapat pada celah tersebut. Walaupun jelas bahwa organisme yang ada pada perikoronitis adalah merupakan bakteri anaerobic, tetapi bakteri utama yang menjadi penyebab dari perikoronitis mungkin berbeda dengan baktei yang menyebabkan periodontitis. Sementara itu, peran dari spirocetes dan bakeri fusiform belum jelas, sebagian peneliti yakin bahwa organisme ini ikut ambil bagian dalam mekanisme infeksi, tetapi mungkin organisme ini hanya merupakan bakteri oportunis pada celah perikoronal. Faktor-faktor lain yang dapat berperan pada terjadinya perikoronitis adalah trauma yang diakibatkan oleh gigi yang berlawanan, stress emosional, merokok, sakit kronis, retardasi mental, dan infeksi saluran pernapasan atas. Bukti-bukti yang menyokong faktor-faktor ini masih sangat sedikit.

Abses Abses adalah suatu kumpulan pus yang terlokalisir, yang merupakan supurasi yang tersembunyi di dalam jaringan, organ atau ruang yang tersedia. Abses biasanya terjadi karena menyebarnya bakteri yang piogenik ke dalam jaringan. Dalam tahap awal, abses adalah akumulasi neutrofil yang terkumpul pada suatu tempat dalam jaringan baik karena proses imunitas terhadap antigen yang masuk maupun hasil nekrosis jaringan sekitar proses tersebut. Sejalan dengan perkembangannya, Nekrosis sel darah abses putih dapat dan terus sel-sel berkembang jaringan dan menimbulkan nekrosis yang progresif dari sel-sel sekitarnya. kemudian terkumpul dalam suatu fokus sentral. Di luar fokus sentral ini, terdapat dilatasi vascular dan proliferasi parenkim dan fibroblast, yang menandakan adanya proses perbaikan. Sejalan dengan waktu, suatu fokus sentral akan dilingkupi oleh dinding dari jaringan ikat dengan vaskularisasi yang baik, untuk mencegah terjadinya penyebaran. Setelah itu, makrofag akan muncul pada zona fibroblastik dan pada tahap selanjutnya akan masuk ke dalam fokus sentral untuk menggantikan peran neutrofil. Penyembuhan dari suatu abses hanya dapat terjadi dengan adanya pembuangan dari eksudat supuratif yang ada, karena keberadaan dari eksudat supuratif akan terus memancing proses inflamasi. Pengeluaran dari eksudat ini dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu pertama, dengan melalui evakuasi eksudat ke permukaan dan pembuangan kemudian lewat rupturnya jaringan, dan yang kedua dengan adanya proteolisis dari akumulasi jaringan dan debris-debris sel. Cairan ini kemudian akan diresorpsi ke dalam darah. Karena abses memiliki karekteristik sebagai destruksi local dari jaringan parenkim dan stromal, maka bekasnya akan menimbulkan sikatrik dan deformitas jaringan yang permanent.