Anda di halaman 1dari 9

PERIKORONITIS adalah peradangan gingiva disekeliling mahkota gigi yang sedang tumbuh biasanya pada gigi M3

Penyebab : Gangguan Pada erupsi gigi

Gejala :

Penderita demam Sakit pada daerah yang sedang tumbuh Sukar menelan Trismus dari ringan sampai berat

Tanda-tanda Klinis

gusi merah sakit bengkak

Rencana perawatan :

Rongen Foto Irigasi dengan natrium hipochlorit Kumur antiseptik Pemberian analgetik,antimikroba Pencabutan gigi kalau posisi gigi miring dan kekurangan tempat 1. PENDAHULUAN Pertumbuhan gigi Molar 3 sering menimbulkan masalah dan menimbulkan keadaan infeksi pada jaringan lunak di sekitarnya dan mengganggu kenyamanan mulut dan gigi gigi yang lain. Terutama jika molar 3 ini erupsi tidak sempurna, contohnya antara lain akibat bentuk anatomi dari pada rahang yang sempit. Gigi Molar 3 pertumbuhannya dimulai pada saat seseorang berusia kurang lebih 17-22 tahun, sering dinamakan GIGI bungsu karena merupakan gigi yang terakhir muncul pada kehidupan seseorang. Masalah serius sering dirimbulkan oleh pertumbuhan gigi ini, Menurut Letkol Laut drg. A. Danardono, Sp. B.M., Kepala Sub Departemen Bedah Mulut & Maksilo Fasial Ladokgi (Lembaga Kedokteran Gigi) TNI AL M.E. Martadinata, Jakarta, kemunculan gigi Molar 3 memang sering dikeluhkan pasien. Dan mereka rata-rata menjalani operasi gigi bungsu, tambahnya. Problem yang sering dialami gigi molar 3 adalah kesulitan bererupsi. Kondisi ini biasa disebut impaksi. Gigi terhalang oleh gigi depannya ( molar dua ) atau jaringan tulang /

jaringan lunak yang padat disekitarnya. Kemungkinannya, gigi bisa muncul sebagian atau tidak bisa erupsi sama sekali. Kalaupun muncul, erupsinya salah arah atau posisinya tidak normal. Gigi demikian bisa digolongkan sebagai gigi yang gagal bererupsi pada posisi normal. Posisi impaksi gigi molar 3 bisa bermacam macam. Ada yang miring ke depan, vertikal dan muncul sebagian, serta terpendam horizontal atau vertikal. semua itu tergantung letak dan posisi gigi molar 3 terhadap rahang dan Molar 2, serta kedalamannya tetanam terhadap molar 2. Tidak jarang dalam pertmbuhannya molar 3 ini menimbulkan infeksi pada jaringan lunak sekitarnya ( ginggiva ) yang menimbulkan suatu keadaan yang dinamakan PERIKORONITIS yang akan dibahas sedikit di makalah ini. 2. DEFINISI Perikoronitis merupakan perdangan pada jaringan lunak disekeliling gigi yang akan erupsi, paling sering terjadi pada molar 3 bawah. (1,4 ) Perikoronitis merupakan suatu kondisi yang umum terjadi pada Molar impaksi dan cenderung muncul berulang, bila molar belum erupsi sempurna. Akibatnya, dapat terjadi destruksi tulang di antara gigi molar dan geraham depannya.(2 ) 3. EPIDEMIOLOGI Perikoronitis dapat terjadi pada usia berpapun, tetapi paling terjadi pada anak anak dan dewasa muda yang gigi giginya sedang bererupsi. Umumnya hal ini berkaitan dengan molar ketiga bawah yang sedang bererupsi dalam alignemen yang baik, tetapi dibatasi erupsinya oleh ruang yang tidak cukup. Radiograf dari daerah tersebut menggambarkan radiolusensi menghilang atau sangat menebal karena deposisi dari tulang yang reaktif. 4. FAKTOR PENYEBAB Faktor penyebab utama dari perikoronitis adalah karena gigi molar 3 tidak dapat erupsi dengan baik dikarenakan tidak cukup ruang untuk pertumbuhannya, sehingga sulit untuk erupsi dinamakan impaksi Impaksi bertendensi menimbulkan infeksi ( perikoronitis ), dikarenakan adanya karies pada gigi geraham depannya. Cukup banyak kasus karies pada gigi molar 2 dikarenakan gigi molar 3 mengalami impaksi. Hal ini terbukti dari hasil pengamatan Akbar Rahayu (1981 ) pada penderita yang berobat pada bagian bedah mulut dan Maksilo Fasial Ladokgi TNI AL M.E. Martadinata. Menurut Akbar, terbentuknya karies dipermudah, terutama kalau erupsinya Molar 3 sebagian maka sisa sisa makanan akan sulit untuk di bersihkan karena sikat gigi sulit menjangkau wilayah gigi gigi bagian belakang sementara sisa sisa makanan masuk di celah antara gigi karena letaknya di ujung dan tersembunyi di belakang geraham depannya sehingga dapat menimbulkan invasi kuman dan menyebabkan peradangan setempat.( 4) Ada sejumlah faktor yang menyebabkan gigi mengalami impaksi. Karena jaringan sekitarnya yang terlalu padat, adanya retensi gigi susu yang berlebihan, tanggalnya gigi susu terlalu awal. Bisa juga karena tidak adanya tempat untuk erupsi. Rahang kesempitan dikarenakan pertumbuhan tulang rahang yang kurang sempurna. Teori lain mengatakan Pertumbuhan rahang dan gigi mempunyai tendensi bergerak maju ke arah depan. Apabila pergerakan ini terhambat oleh sesuatu yang merintangi, bisa terjadi impaksi gigi. Misalnya, karena infeksi, trauma, malposisi gigi, atau gigi susu tanggal sebelum waktunya.

Sementara, menurut teori Mendel, pertumbuhan rahang dan gigi dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika salah satu orang tua (ibu) mempunyai rahang kecil, dan bapak bergigi besar-besar, ada kemungkinan salah seorang anaknya berahang kecil dan bergigi besarbesar. Akibatnya, bisa terjadi kekurangan tempat erupsi gigi molar 3, dan terjadilah impaksi. Sempitnya ruang erupsi gigi molar 3, menurut drg. Danardono, itu karena pertumbuhan rahangnya kurang sempurna. Hal ini bisa karena perubahan pola makan. Manusia sekarang cenderung menyantap makanan lunak, sehingga kurang merangsang pertumbuhan tulang rahang. Makanan lunak yang mudah ditelan menjadikan rahang tak aktif mengunyah. Sedangkan makanan banyak serat perlu kekuatan rahang untuk mengunyah lebih lama. Proses pengunyahan lebih lama justru menjadikan rahang berkembang lebih baik. Seperti diketahui, sendi-sendi di ujung rahang merupakan titik tumbuh atau berkembangnya rahang. Kalau proses mengunyah kurang, sendi-sendi itu pun kurang aktif, sehingga rahang tidak berkembang semestinya. Rahang yang harusnya cukup untuk menampung 32 gigi menjadi sempit. Akibatnya, gigi bungsu yang selalu tumbuh terakhir itu tidak kebagian tempat untuk tumbuh normal. Ada yang tumbuh dengan posisi miring, atau bahkan tidur di dalam karena tidak ada tempat untuk nongol. Ada 3 sumber utama infeksi gigi, yaitu : Dari periapikal ( ujung akar gigi ) sebagai akibat kerusakan pulpa dan masuknya kuman ke jaringan periapikal Dari jaringan periodontal ( jaringan pengikat akar gigi ) sebagai akibat saku gusi semakin dalam karena penumpukan karang gigi sehingga penetrasi kuman semakin mudah. Dari Perikoroner akibat akumulasi kuman di sekeliling mahkota gigi saat erupsi / tumbuh. Impaksi gigi molar kadang kadang tampak pada waktu dilakukan pemeriksaan roentgen rutin seputar daerah tidak bergigi pada rahang bawah. Penekanan selaput lender antara mahkota molar 3 dan prothesa menyebabkan rasa sakit. Tekanan pada gusi yang menutupi menyebabkan kematian sel dan dapat menimbulkan penyebaran infeksi. 5. GAMBARAN KLINIS Penderita Perikoronitis ini biasanya mengeluh kesakitan yang kadang tidak tertahankan dan seringkali menyebabkan perasaan yang kurang nyaman pada saat membuka mulutnya, dengan membuka mulut pasien akan merasa semakin terasa sakit. Pasien mengeluh nafsu makannya menjadi berkurang dikarenakan lebih terasa sakit bila tersentuh oleh makanan, dan mengunyah. Rasa sakit yang idiopatik merupakan rasa sakit molar yang sedang erupsi atau rasa sakit yang menyebar ke bagian leher dan kepala. Pasien sering mengeluh sakit meski kadang secara klinis dan rongent tidak ada yang tidak normal. Kecuali adanya gigi impaksi tertanam dalam sekali. Daerah infeksi terlihat gusi ( ginggiva ) yang hiperemis, bengkak, dan terlihat lebih mengkilat daripada daerah gusi yang lain. Kadang sudah timbul pernanahan, disebut perikoronal abses, yang nanahnya dapat keluar dari marginal. 6. PENATALAKSANAAN

Perlindungan antibiotic dianjurkan jika ada gejala gejala konstitusional dan kemungkinan adanya penyebaran infeksi. Perikoronitis paling baik dirawat dengan membuka ruang folikuler, membilas bahan purulen dari sulkus gusi dengan larutan saline dan menghilangkan trauma oklusi apapun. Perawatan yang pasti biasanya adalah pencabutan gigi yang bersangkutan. Tetapi Bila ruangan cukup untuk erupsi gigi dilakukan operkuloktomi yaitu pengambilan jaringan lunak disekitar gigi yang mengalami impaksi.untuk memberi kesempatan gigi molar 3. Bila ruangan tidak cukup untuk erupsi gigi dilakukan ekstraksi gigi penyebab. Gigi molar 3 rawan menyebabkan masalah kesehatan gigi dan mulut misalnya perikoronitis yang menimbulkan nyeri yang terasa amat mengganggu dikarenakan banyak hal, sehingga banyak dari para ahli menyarankan untuk melakukan ekstraksi molar 3 walaupun pertumbuhannya normal dan tidak mengganggu fungsi gigi gigi yang lain. Sebenarnya rasa sakit bisa dengan mudah dihilangkan dengan pemberian antibiotic, tetapi yang jadi masalah adalah apabila ada sisa makanan yang menempel pada daerah daerah molar 3 akan sangat sulit untuk dibersihkan karena posisinya yang terletak di paling belakang sehingga rasa nyeri akan terus kambuh dan sakit lagi. Untuk menghindari kemungkinan muncul komplikasi lebih lanjut, pencabutan sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Sebelum menimbulkan kerusakan pada gigi yang lain. Selain itu bila pencabutan dilakukan pada umur yang lebih muda, penyembuhan pasca pencabutan bisa lebih cepat. Tetapi bagaimana bila timbulnya perandangan (perikoronitis) sedangkan gigi molar 3 masih berada di bawah gusi dan tidak dapat di cabut? Solusinya adalah harus mengoperasi gigi molar 3 itu terlebih dahulu. Bukan mencabut gigi molar depannya ( molar 2 ) 7. PENCEGAHAN Seperti diketahui, sendi sendi di ujung rahang merupakan titik tumbuh atau berkembangnya rahang. Kalau proses mengunyah kurang, sendi sendi itupun kurang aktif, sehingga rahang tidak berkembang semestinya. Rahang yang seharusnya cukup untuk menampung 32 gigi menjadi sempit. Akibatnya, gigi molar 3 yang selalu tumbuh terakhir itu tidak kebagian tempat untuk tumbuh normal. Ada yang tumbuh dengan posisi miring, atau bahkan tidur di dalam karena tidak ada tempat untuk erupsi. Maka, untuk mendukung perkembangan rahang, sebaiknya sering sering mengkonsumsi makanan berserat supaya gigi jadi lebih aktif menggigit, memotong, dan mengunyah. Rahang pun menjadi makin aktif dan diharapkan akan tumbuh normal. Dampaknya, pertumbuhan gigi pun bisa lebih baik. Dan periksalah gigi secara teratur ke dokter gigi. 8. KOMPLIKASI Bila molar 3 dibiarkan bererupsi sedangkan ruang untuk erupsinya kurang, maka ia akan mendesak kuat dua gigi sebelahnya ( molar satu dan molar dua ). Karena dua gigi molar itu kuat, sementara gigi molar tiga terus mendorong, akibatnya timbul rasa sakit. Jika gigi depannya tidak ada atau kurang kuat, daya dorong molar tiga dapat menyebabkan gigi depannya akan cenderung condong ke depan. Gigi molar 3 yang impaksi MERADANG adakalanya tidak menimbulkan keluhan maupun gejala klinis. Meskipun demikian, kalau molar 3 dibiarkan tertanam

ditempatnya, ada kemungkinan dapat memperburuk keadaan, misalnya pada penderita kelainan jantung akut, kelainan pembekuan darah, dan menjadikan tidak tahan terhadap obat anestesi. Apalagi bila gigi impaksi terbenam dalam dalam tulang rahang secara keseluruhan, justru memungkinkan terbentuknya kista. Untuk mencegah timbulnya komplikasi macam macam, maka tindakan pencabutan atau atau bedah sangat dianjurkan. 9. PROGNOSIS Prognosis penyakit perikoronitis biasanya baik. Kebanyakan factor local dapat diobati jika disebabkan oleh infeksi dapat diobati denan obat obatan dari golongan antibiotic. Perikoronitis berulang sebaiknya dilakukan pencabutan, untuk menghindari berbagai komplikasi yang kemungkinan akan timbul jika tidak dilakukan pencabutan sedini mungkin 10. KESIMPULAN Perikoronitis adalah peradangan dari jaringan lunak di sekitar mahkota gigi yang erupsi sebagian atau impaksi. Perikoronitis dapat terjadi pada usia berapapun, tetapi paling sering terjadi pada anak anak dan dewasa muda yang gigi ginya sedang bererupsi. Umumnya hal ini berkaitan dengan molar ke tiga bawah yang sedang bererupsi dalam alignmen yang baik, tetapi dibatasi erupsinya oleh ruang yang tidak cukup. Radiograf dari daerah tersebut menggambarkan radiolusensi yang berbentuk obor disekeliling giginya, dengan batas kortikal pada sisi distal dari lusensi menghilang atau sangat menebal karena deposisi dari tulang yang reaktif. Perikoronitis terjadi dari kontaminasi bakteri di bawah operculum, mengakibatkan pembengkakan gusi, kemerahan dan halitosis. Timbulnya sakit merupakan salah satu variabel dan mungkin parah sekali, tetapi ketidaknyamanan yang dirasa biasanya mirip dengan gingivitis , abses periodontal dan tonsillitis. Limphadenopati regional, malaise, dan sedikit demam adalah hal biasa, jika edema atau selulitis meluas mengenai otot masseter maka, seringkali trismus menyertai keadaan ini. Perikoronitis sering kali diperparah oleh sakit yang ditimbulkn oleh trauma dari gigi lawannya selama penutupan mulut. Perikoronitis paling baik dirawat dengan ,membuka ruang folikuler, membilas bahan purulen dari sulkus gusi dengan larutan saline dan menghilangkan trauma oklusi apapun. Perawatan yang pasti biasanya adalah pencabutan gigi yang bersangkutan. Perlindungan antibiotic dianjurkan jika ada gejala gejala konstitusional dan kemungkinan ada penyebaran infeksi. Kekambuhan dan kronisitas dapat terjadi jika keadaan tersebut hanya dirawat dengan antibiotik. DAFTAR PUSTAKA 1. Langlais Robert P., and Craig S miller., Atlas berwarna kelainan rongga mulut yang lazim. Robert P L, Craig S M; Alih bahasa budi susetyo, editor Lilian juwono. Jakarta hipokrates, 1998. 2. Mansjoer Arif, dkk: Kapita selektakedokteran. Editor Arif Mansjoer, dkk,Edisi 3, Volume 1, Jakarta: mediaAesculapius FKUI 2000 3. http://www.indomedia.com/intisari/, Rahang sempit si bungsu menebar rasa sakit. Di Download pada tanggal 04-05-07 pada pukul 21.00 4. http://www.pikiran_rakyat.com Sakit gigi yang mengganggu,di Download pada tanggal 04-05-2007 pada pukul 21.00

5. http://www.medicastore.com 2004., di Download pada tanggal 04-05-2007 pada pukul 21.00 6. http://www.pdgi_online.com.,di Download pada tanggal 04-05-2007 pada pukul 21.00 Jangan pernah menyepelekan impaksi gigi. Karena gigi terpendam dapat menyebabkan komplikasi, infeksi pada gusi atau pericoronitis. Posisi gigi yang belum keluar sempurna akan memudahkan makanan dan bakteri terjebak di bawah gusi yang di bawahnya terdapat gigi bungsu. Hal ini akan menyebabkan infeksi. Jika tidak segera dtangani, infeksi tersebut akan menyebar ke tenggorokan dan leher. Selain itu, impaksi gigi juga dapat membuat gigi berjejal, karang gigi karena sulitnya membersihkan pada daerah tersebut. Kista juga merupakan salah satu komplikasi dari impaksi gigi. Sebab, mahkota gigi impaksi tumbuh dalam suatu selaput. Jika selaput tersebut menetap dalam tulang rahang, dapat terisi cairan yang akhirnya membentuk kista yang dapat merusak tulang, gigi, dan syaraf. Gejala-gejala yang mengawali impaksi gigi ini dapat berupa rasa sakit atau rasa kaku pada rahang di area gigi molar tiga jika mengunyah makanan. Pembengkakan pada gusi di atas atau sekitar gigi moral tiga. Gigi yang impaksi dapat menyebabkan sakit kepala, sakit pada telinga, dan leher. Juga dapat menyebabkan bau mulut akibat adanya infeksi. Pengobatan untuk impaksi dilakukan melalui pengangkatan gigi yang terpendam lewat operasi kecil. Sebab, gigi moral yang impaksi tidak berfungsi dengan baik dalam pengunyahan dan menyebabkan berbagai gangguan. Itulah mengapa gigi tersebut lebih baik diangkat daripada dipertahankan. Semakin cepat mengangkat gigi yang terpendam, akan semakin baik daripada harus menunggu sampai timbulnya komplikasi dan rasa sakit yang lebih lanjut. (dab/ais) Pasien wanita umur 20 tahun mengalami bengkak pada wajah bagian rahang kanan bawah. Pada pemeriksaan intra oral diketahui gigi 46 sisa akar dan gigi 48 erupsi sebagian dan mukosa mengalami perikoronitis. Pasien tersebut telah datang ke puskesmas dan mendapat pramedikasi akan tetapi bengkak yang terjadi lebih parah serta sakit tidak hilang.

Dalam kasus ini terdapat 2 port de entry (jalan masuk bakteri ke dalam tubuh) yaitu region 46, gigi sisa akar dan region 48 yang mengalami perikoronitis akut. 2 port de entry ini akan menyebabkan infeksi pada jaringan sekitarnya, dalam hal ini rahang kanan bawah. Bakteri akan berpenetrasi pada jaringan lalu melakukan invasi dan berkembang biak pada jaringan tersebut. Tentunya bakteri juga melakukan metabolisme untuk mengeluarkan toksin yang berguna untuk meracuni dan merusak hingga mematikan jaringan yang terinfeksi. Untuk melakukan aktivitasnya, bakteri memerlukan nutrisi. Nutrisi ini diambil dari pembuluh darah jaringan. Lama kelamaan bakteri akan memenuhi pembuluh darah dan menyumbatnya. Jika pembuluh darah disumbat, maka jaringan

utamanya sel sel syaraf tidak akan mendapatkan nutrisi. Juga karena semakin banyaknya jumlah bakteri dan toksin yang dihasilkannya, maka tekanan dalam gigi akan meningkat sehingga saraf akan terdesak atau terjepit sehingga terdapat rasa nyeri. Karena tidak adanya vaskularisasi dan inervasi pada jaringan, maka jaringan tidak mendapatkan nutrisi dan lama kelamaan akan mengalami nekrosis.

Sebenarnya, tubuh tidak tinggal diam. Tubuh juga melakukan respon inflamasi seperti pada kasus 1, akan tetapi yang berbeda adalah adanya respon imun spesifik pada kasus ini.

Yang pertama adalah gigi 46 sisa akar. Gigi ini pada awalnya mengalami karies. Jika karies tidak segera dirawat, lama kelamaan akan bertambah parah sehingga menapai ruang pulpa. Pada ruang pulpa, seperti yang kita tahu, terdapat pembuluh darah dan saraf. Jika bakteri karies mengenainya maka akan terjadi respon inflamasi pada pulpa. Seperti dijelaskan di atas, setelah bakteri menginvasi dia akan mengeluarkan toksin serta menyumbat pembuluh darah dan mendesak saraf sehingga gigi tersebut mengalami nekrosis. Bakteri yang resisten, akan mengarah ke apikal gigi sambil terus memproduksi toksin dan menyumbat pembuluh darah, hal ini mengakibatkan terjadinya periodontitis apikalis pada gigi tersebut yang menghasilkan produk radang berupa eksudat. Eksudat ini sendiri akan memperparah rasa nyeri karena dia ikut mendesak saraf. Ternyata infeksi bakteri telah meluas sampai ke tulang alveolar di sekitar apikal gigi 46, yang artinya vaskularisasi pada tulang alveolar tersebut terganggu sehingga terjadi kerusakan yang berakibat turunnya densitas tulang. Penurunan densitas tulang ini dalam foto panoramik yang dilakukan pasien bermanifestasi berupa gambaran radiolusen di sekitar apikal gigi 46. Gambaran radiolusen ini dapat berisikan jaringan granulasi, abses ataupun hanya rongga kosong.

Yang kedua adalah perikoronitis akut pada mukosa gigi 48. Perikoronitis ini awalnya disebabkan oleh adanya gigi 48 yang erupsi sebagian mesioangular. Bagian distal gigi telah erupsi sempurna, akan tetapi bagian mesial masih tertanam di dalam mukosa gingiva. Bagian mesial tersebut masih diliputi oleh dental sac yang memberikan gambaran radiolusen di bagian interdental gigi 48 dengan 47 pada foto radiografik. Tetapi hal ini merupakan proses fisiologis. Dental sac itu tentunya terbuka karena bagian distal telah erupsi, pembukaan ini dimanfaatkan oleh bakteri yang terdapat pada debris

(sebagaimana diketahui gigi impaksi dapat meretensi sisa makanan dan terkadang sulit untuk dibersihkan sehingga terdapat akumulasi debris dan plak atau kalkulus pada gigi tersebut) yaitu Prevotella intermedia untuk masuk ke jaringan yang lebih dalam. Hal ini akan menimbulkan pericoronal damaged. Tubuh tetap akan merespon keadaan ini dengan respon inflamasi, salah satunya edema yang ditunjukkan oleh adanya bengkak. Edema ini kemungkinan berada di M. Pterygoideus medialis sehingga menyebabkan pasien susah membuka mulut atau disebut trismus.

Oleh puskesmas kejadian ini dipremedikasi dengan antibiotik dan analgesik untuk mengobatinya. Akan tetapi pasien tidak merasakan adanya perubahan, pasien malah merasa sakit dan bengkaknya bertambah. Sakit dan bengkak yang bertambah ini dikarenakan tidak dilakukan drainase untuk mengeluarkan eksudat dari proses radang di gigi 48 ini, meskipun telah diketahui bahwa pasien merasa terjadi pembengkakan pada pipinya. Di dalam jaringan sendiri, eksudat ini dikelilingi oleh dinding yang berfungsi untuk mencegah meluasnya infeksi di sekitar gigi tersebut. Jika eksudat tidak didrainase serta dilakukan premedikasi berupa antibiotik (dalam hal ini analgesik hanya pereda nyeri saja, tanpa berefek pada respon inflamasi sendiri), maka antibiotik tidak dapat menembus dinding eksudat tersebut. Hal ini akan memicu terjadinya ascending infection (penjalaran infeksi lebih lanjut) yang mengakibatkan bertambah besarnya bengkak. Bengkak yang bertambah besar akan menimbulkan nyeri yang lebih hebat karena semakin banyak saraf yang terdesak, ini mengakibatkan analgesik yang diberikan tidak efektif lagi karena dosis analgesik untuk bengkak yang bertambah besar ini kurang.

Bengkak yang bertambah besar ini juga dapat disebabkan oleh pemberian antibiotik yang tidak tepat sehingga tidak berefek apapun pada perikoronitis. Pemberian antibiotik yang tidak tepat sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kultur untuk mengetahui jenis bakteri yang menginfeksi jaringan. Akan tetapi hal ini tidak mungkin selalu dilakukan, sehingga tenaga medis biasanya menggunakan pengalaman empirisnya untuk menentukan antibiotik yang tepat. Umumnya bakteri yang menyebabkan infeksi dalam rongga mulut adalah bakteri coccus aerob gram positif, coccus anaerob gram positif dan batang anaerob gram negatif. Pemberian antibiotik antara 3-5 hari, jika masih terdapat keluhan atau keluhan semakin bertambah maka perlu dilakukan penggantian antibiotik. Tenaga medis di puskesmas kemungkinan besar memberikan antibiotik bakteri aerob

untuk mengobati perikoronitis pasien ini. Antibiotik ini tidak tepat karena sebenarnya infeksi telah menjalar ke dalam jaringan, dibuktikan oleh pembengkakan pada awal datang ke puskesmas. Bengkak ini menandakan bakteri telah masuk hingga ke jaringan yang dalam, bakteri yang dapat masuk ke dalam jaringan yang lebih dalam hanyalah bakteri anaerob. Kesalahan pemberian ini seharusnya sudah dapat dideteksi saat hari ketiga sehingga tidak menambah besar bengkak tersebut, serta dilakukan drainase untuk mengeluarkan eksudat radang.