Anda di halaman 1dari 34

BAB I TINJAUAN TEORITIS

A. FUNGSI OTAK KIRI DAN OTAK KANAN 1. Dasar Teori Perbedaan teori fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981. Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya. Penemuan penting di dalam sejarah otak adalah kesadaran kita bahwa berbagai bagian otak mengendalikan fungsi yang berbeda-beda. Bagian-bagian otak adalah: a. Batang Otak, mengendalikan fungsi-fungsi penyangga kehidupan dasar misalnya pernapasan dan laju denyut jantung. Mengontrol tingkat kesiagaan. Menyiagakan anda terhadap informasi sensorik yang masuk. Mengendalikan suhu. Mengendalikan proses pencernaan. Menyampaikan informasi dari serebelum. b. Serebelum atau otak kecil atau otak belakang, mengendalikan gerakan tubuh dalam ruang dan menyimpan ingatan untuk respon-respon dasar yang dipelajari. c. Sistem Limbik atau otak tengah, yang posisinya sedikit lebih ke depan dan terdiri atas Talamus dan Ganglia Basal atau otak tengah. Sistem Limbik penting bagi pembelajaran dan ingatan jangka pendek tetapi juga menjaga homeostatis di dalam tubuh (tekanan darah, suhu tubuh dan kadar gula darah). Terlibat dalam emosi ketahanan hidup dari hasrat seksual atau perlindungan diri. Menurut ilmuwan Robert Ornstein "suatu cara untuk mengingat fungsi sistem limbik adalah empat F, yang penting untuk kelangsungan hidup : Feeding (memberi makan), Fighting (berkelahi), Fleeing (melarikan diri), dan reproduksi sosial. Sistem Limbik mengandung Hipotalamus, yang sering dianggap sebagian bagian terpenting dari 'otak mamalia'. Hipotalamus meskipun kecil (besarnya hanya sepatuh gula kotak) dan beratnya hanya empat gram, hipotalamus mengatur hormon, hasrat seksual, emosi, makan, minum, suhu tubuh, keseimbangan kimiawi, tidur dan bangun, sekaligus mengatur kelenjar utama dari otak (kelenjar pituitari). Hipotalamus adalah bagian otak yang memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak, misalnya kapan kita lapar.

d. Serebum atau korteks serebral, membungkus seluruh otak dan posisinya berada di depan. Serebum adalah karya besar evolusi alam dan bertanggung jawab atas berbagai keterampilan termasuk ingatan, komunikasi, pembuatan keputusan dan kreativitas. Fungsi : pengaturan, ingatan, pemahaman, komunikasi, kreativitas, pembuatan keputusan, mind mapping, bicara, musik. Serebum dibungkus oleh suatu lapisan berkerut-kerut berupa sel-sel saraf setebal seperdelapan inci yang amat sangat menakjubkan, yang dikenal sebagai korteks serebral. Sifat kortekslah yang merumuskan kita sebagai manusia.

Area terpenting otak yang perlu dipahami dalam mengenali kekuatan otak adalah serebrum atau yang sering disebut 'otak kiri dan kanan'.

Serebum membagi tugas ke dalam dua kategori utama yaitu tugas otak kanan dan otak kiri. 2. Peranan Otak kanan Adapun peranan otak kanan yaitu : Hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Otak kanan bertanggung jawab dalam, daya intuisi, daya kreasi, kesenian, kemampuan refleksi, daya ingat, kepribadian dan lain sebagainya. Seseorang dengan kecenderungan otak kanan yang lebih dominan cenderung dapat lebih berperasaan serta kurang kemampuan manajerial. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya. Sementara itu otak kanan berfungsi dalam perkembangan emotional quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, dan melukis. Belahan otak kanan : - Artistik - Kreatif - Naluriah 3. Peranan Otak Kiri Adapun peranan otak kiri yaitu: Perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika. Berhubungan dengan rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika.

Bagian otak ini merupakan pengendali intelligence quotient (IQ). Daya ingat otak bagian ini juga bersifat jangka pendek. Untuk berpikir nalar, analisa, kemampuan berbahasa dan kemampuan menghitung. Seseorang dengan kecenderungan otak kiri yang lebih dominan lebih egois, mementingkan diri sendiri, mudah iri hati, sombong dan lain sebagainya. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika. Pendidikan saat ini kebanyakan lebih mengutamakan otak kiri. Sehingga mengakibatkan banyak orang tidak percaya adanya indera intuisi, daya prediksi dan kemampuan perspektif yang merupakan gejala umum dimana fungsi otak kanan tertekan oleh otak kiri. Tugas otak kiriantara lain kata-kata, logika, angka, urutan, daftar dan analisis. Istilah-istilah populer yang memayungi kegiatan belahan otak kiri adalah - Akademik - Intelektual - Bisnis

Walaupun keduanya mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi setiap individu mempunyai kecenderungan untuk mengunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah hidup dan pekerjaan. Setiap belahan otak saling mendominasi dalam aktivitas namun keduanya terlibat dalam hampir semua proses pemikiran. Dunia medis di jaman dahulu menganggap bahwa perbedaan fungsi otak kanan dan otak kiri tidaklah besar. Namun, pada saat ini, perbedaan fungsi otak kiri dan otak kanan tidak hanya menjadi pengetahuan yang diakui bersama oleh para praktisi medis pada umumnya, tetapi juga menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan yang khusus diteliti. kutipan dari "Buku Pintar MIND MAP" by Tony Buzan. Otak merupakan alat untuk memproses data tentang lingkungan internal dan eksternal tubuh yang diterima reseptor pada alat indera (seperti mata, telinga, kulit, dan lain-lain). Data tersebut dikirimkan oleh urat saraf yang dikenal dengan system saraf keseluruhan. System saraf ini memungkinkan seluruh urat saraf mengubah rangsangan dalam bentuk implus listrik. Kemudian implus listrik dikirim ke pusat system saraf, yang berada di otak dan urat saraf tulang belakang. Disinilah data diproses dan direspon dengan rangsangan yang cocok. Biasanya

dalam tahap ini timbul saraf efektor, yang berfungsi untuk mengirim implus saraf ke otot sehingga otot berkontraksi atau rileks. Di dalam jaringan system saraf pusat terdapat hirarki control. Banyak rangsangan sederhana berhubungan dengan tindakan refleks/aksi spontan (misalnya, dengan cepat kita mengibaskan tangan saat menyentuh piring panas). Otak tidak terlibat langsung dalam proses identifikasi mengenai tindakan refleks. Tapi, tindakan refleks tersebut diproses di saraf tulang belakang. Meskipun otak tidak terlibat langsung dalam proses yang berhubungan dengan aksi spontan, tetap saja kita akan mencerna data/rangsangan yang dipersepsi alat indera. Contohnya kita tidak serta-merta menumpahkan sepiring penuh makanan tanpa alasan kecuali piring itu memang panas sehingga kita refleks menumpahkannya. Atau bisa juga hal itu disebabkan oleh stress yang kita alami. Fenomena semacam ini adalah fungsi yang rumit yang terjadi di otak. Bernafas, keseimbangan, menelan, dan mencerna terjadi, karena fungsi otomatis otak. Dan kita tidak menyadari bahwa proses tubuh tersebut membutuhkan control yang lembut dan teknik mengatur yang baik. Otak purba mengontrolnya secara relatif. Misalnya, kita akan menoleh jika seseorang memanggil nama kita di jalan. Aksi tersebut dikontrol oleh bagian otak yang lebih baru. Otak dan urat saraf tulang belakang dilindungi oleh tulang (tengkorak dan tulang belakang secara berurutan) dan dikelilingi oleh cairan otak, yang berfungsi sebagai alat penahan goncangan.

4.

Peranan Otak Terhadap Pembelajaran Pembelajaran tidak pernah terlepas dari organ yang bernama otak. Sebuah anugrah luar biasa yang diberikan Sang pencipta pada setiap individu. Adanya alat yang memudahkan kita hidup seperti computer, televise, radio, handphone adalah sebuah hasil berpikir dari otak manusia. Einstein yang mampu menciptakan bom atom sehingga menyebabkan ribuan juta orang meninggal ketika peristiwa Nagasaki dan hirosima adalah juga hasil dari otak manusia namun tidak digunakan balam kebaikan. Sekarang pertanyaannya apakah yang dapat kita ciptakan? Seberapa besar kita bisa menggunakan otak kita untuk berpikir? Manfaatkanlah anugrah ini dengan sebaik-baiknya dengan tidak menyia-nyiakan apa yang kita punya(otak). Namun sebelumnya perlu kita ketahui beberapa hal tentang otak. Sedikit akan diuraikan bagaimana anatomi otak dan bagaimana cara otak bekerja. Tiga tingkatan otak dan keberbakatan. Menurut Dr. Paul Maclean otak kita terdiri dari tiga tingkatan (otak triune) ada otak reptile, otak mamalia, dan otak
4

neo korteks. Otak reptile terletak di dasar otak dan terhubung dengan tulang belakang. Otak ini berfungsi sebagai pusat kendali, system syaraf otonomi, dan untuk mengatur fungsi utama tubuh seperti denyut jantung dan pernapasan. Otak reptile juga berfungsi mengatur reaksi seseorang terhadap bahaya atau ancaman. Bila seseorang merasa takut, stress, terancam, kurang tidur, marah dan lelah maka otak reptile akan aktif. Orang tidak bisa berpikir jika otak reptile aktif. Kemudian Otak mamalia yang di dalamnya terdapat sisitem limbic yang terdiri dari amygdala, hippocampus, thalamus, dan hypothalamus. Otak mamalia berperan dalam mengatur kebutuhan akan keluarga, strata social, dan rasa memiliki. Otak ini juga memberikan arti pada suatu emosi atau kejadian, kekebalan tubuh, hormone dan memori jangka panjang. Peran otak mamalia dalam pembelajaran sangat penting karena mengatur memori jangka panjang. System limbic di dalam otak mamalia berperan penting untuk menentukan otak mana yang aktif, otak reptile atau otak neo cortex. Bila dalam keadaan tegang, stress, takut, marah maka informasi yang diterima otak akan diteruskan ke otak reptile. Apabila seseorang dalam keadaan bahagia, tenang, dan rileks, maka otak neo korteks dapat aktif dan dapat digunakan untuk berpikir. Otak neo cortex merupakan 80% dari total otak manusia. Jadi, kita mengusahakan anak belajar dalam keadaan rilex, santai, dan bahagia agar otak dapat berpikir. Tentang keberbakatan, Bakat masing-masing individu berbeda. Ada yang bakat dalam music, seni lukis, seni tari, menulis dan lain-lain. Bakat disesuaikan dengan kemampuan seseorang dalam bidang tertentu. Bakat dan kecerdasan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan karena seseorang yang berbakat diawali dari kecerdasan intelektualnya. Orang yang berbakat umumnya memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Namun, belum tentu orang yang berintelegensi tinggi adalah orang yang berbakat. Bakat perlu diasah dan dilatih dengan kecerdasan yang diatas rata-rata ia dapat menjadi orang yang berbakat dalam bidang tertentu. Peserta didik yang tinggi merupakan peserta didik yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul yang meliputi kemampuan intelektual, akademik khusus, berpikir kreatif dan produktif, memimpin, salah satu bidang seni, dan psikomotor seperti olahraga. Selain iti ada juga factor lain yang mempengaruhi bakat yaitu kecerdasan emosi. Seseorang yang menekuni bidang tertentu dan ia bisa melebihi kemampuan dari orang lain adalah orang yang berbakat. Tanpa ada kemauan menekuni bakat yang dimiliki menjadi kurang terasah. Dan bakat ini tidak hanya dalam satu bidang tetapi pada bidang. Seseorang bisa memiliki bakat dalam menyanyi juga bakat dalam menari. Selain itu bakat juga dapat diwariskan atau diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Orang tua yang berbakat dalam bermain music misalnya
5

biola, dapa diikuti anaknya yang juga pintar dalam bermain musik. Bakat ini, erat hubungannya dengan kreativitas. Orang yang berkreativitas tinggi dapat menemukan sesuatu yang berbeda dari yang lain dan merupakan kemampuan yang tidak semua orang dapat melakukannya hal tersebut dapat juga disebut bakat. Orang berbakat haruslah memiliki kreativitas yang tinggi sehingga semakin diasah akan semakin timbul bakatnya itu dapat menjadi penghasilan bagi diri dan keluarganya. Akan luar biasa jika bakat itu diasah sejak dini. Cobalah temukan apa yang menjadi kemampuan yang paling menonjol dari diri kita. Dalam pembelajaran otak merupakan peran yang vital. Semua kegiatan belajar mengajar menggunakan kemampuan otak. Seseorang tidak akan bisa belajar tanpa menggunakan otak. Siapa yang bisa menyangkal pernyataan tersebut. Kita belajar membaca, menulis, makan, minum dan aktivitas lainnya selain menggunakan alat indra pastilah ada peranan otak didalamnya. Bagaimana dahulu kita membaca jika huruf a, b, c d saja tidak ingat. Daya ingat merupakan hasil dari kerja otak. Perlu diketahui otak itu jaran bisa belajar dalam format yang berurutan. Akan lebih baik jika kita belajar pada saat kita mau untuk belajar. Tidak bisa otak otak itu dipaksakan untuk belajar, kalaupun bisa hasilnya menjadi kurang maksimal. Misalnya kita harus membaca seluruh buku tapi kita hanya menyukai bagian-bagian tertentu dari buku itu. Tentunya otak kita lebih senang belajar bagian-bagian tertentu yang lebih kita sukai. Mempelajari sesuatu yang disenangi akan lebih member makna dan akan lebih tersimpan dalam jangka lebih lama. Dibandingkan hanya membaca saja tentunya apa yang dibaca menjadi kurang bermakna dan pengetahuan yang didapat hanya sekilas saja. Otak kita dirancang untuk belajar multi jalur, pada berbagai tingkatan, dari berbagai sumber, dan di dalam konteks yang berbeda. Kita belajar akan lebih baik dari kesalahan, belajar dengan ketertarikan , mengeksplorasi masalah, memfokuskan pada poin kunci, dan dengan pendekatan coba-coba. Sebagai seorang pendidik kita merencanakan pembelajaran yang sedemikian rupa supaya otak peserta didik secara alami mau belajar. Pembelajaran yang menyenangkan sesuai dengan keinginan anak itu untuk belajar akan membuat otak belajar secara alami tanpa ada tekanan yang memaksakan untuk belajar. Mempelajari berbagai hal yang berbeda menuntut pendekatan yang berbeda untuk peserta didik yang berbeda. Pembelajaran disesuaikan dengan gaya belajar masing-masing individu dan pengalaman mereka. Tahap pra pemaparan adalah perlu sebelum dimulai belajar. Merupakan tahap yang membantu otak membangun konseptual yang lebih baik, seperti mengatur waktu belajar, menyiapkan air minum yang cukup banyak, menciptakan lingkungan belajar
6

yang benar-benar membenamkan dan menarik. Dan yang paling penting Ciptakanlah lingkungan kelas yang mendukung, menantang, kompleks, tanpa ancaman dan paksaan Menyiapkan pembelajaran. Makna dari pembelajaran adalah bagaimana membuat anak untuk belajar. Apalah arti pembelajaran jika tidak mampu membuat peserta didik belajar. Sebagai pendidik kita mengharapka pebelajarpebelajar yang handal, tekun dan kreatif. Tidak boleh sebagai pendidik berkata anak didik itu malas, bodoh, tolol dan kata-kata lain yang dapat menyakiti peserta didik. Kata-kata tersebut jika dilontarkan terus-menerus dapat membentuk konsep diri. Anak itu akan menganggap dirinya adalah anak yang bodoh, malas dan sifat-sifat negative lain. Hal ini akan berakibat buruk pada diri anak serta pembelajaran tidaka akan berjalan dengan baik jika anak didiknya sudah beranggapan dirinya anak pemalas jadi buat apa belajar. Jika seorang anak dengan kemampuannya dipuji pintar, lucu, cerdas maka anak itu akan meyakini dirinya itu pintar, cerdas. Hal ini akan direfleksikan mereka dalam pembelajaran misalnya saja anak yang dipuji pandai oh ya saya kan pandai saya harus bisa menjawab pertanyaan guru atau saya harus dapat nilai yang bagus untuk mendapatkan itu berarti saya harus rajin belajar anak yang dikatakan pintar akan membawa motivasi dalam dirinya untuk belajar lebih giat lagi. Bandingkan dengan anak yang dibilang malas atau bodoh kemungkinan mereka cenderung untuk malas belajar karena belajar dianggap sesuatu yang melelahkan dan percuma. Untuk itu sebisa mungkin sebagai pendidik yang baik kita menghindari kata-kata negative itu. Cobalah mendidik dengan menanamkan konsep diri yang baik pada anak dengan memberikan pujian namun masih tetap harus diarahkan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sikap peserta didik. Yaitu: faktor bilologi, adanya perbedaan anatomi otak (neurotransmitter) yang merupakan bagian otak yang membawa pesan kimiawi dalam otak. Tingkat neurotransmitter akan mempengaruhi energy, konsentrasi, suasana hati. Kemudian perbedaan gender dan perbedaan usia. Perubahan usia juga mempengaruhi sikap. Dorongan dari lingkungan keluarga, masyarakkat juga mempengaruhi belajar anak. Orang tua hendaknya memberikan pesan positif pada anak. Misalnya, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Disini anak akan lebih termotivasi untuk melakukan dan memperbaiki apa yang sebelumnya telah dilakukan. Peran nutrisi akan mempengaruhi pembelajaran. Nutrisi yang paling dibutuhka otak adalah glukosa dan oksigen. Banyaklah makan makanan yang mengandung glukosa dan oksigen, perbanyaklah minum air putih. Otak terdiri dari kurang lebih 80 persen air. Setiap hari kita harus mencukupi kebutuhan air putih (murni) demi lancarnya proses belajar. Pastikan juga para pembelajarn diberikan waktu untuk meminum
7

air putih. Izinkan mereka membawa botol air yang berisi air putih dari rumah tanpa harus membuat mereka malu dan sungkan. Jelaskan lah pula pentingnya minum air putih dan makan yang bernutrisi yang banyak mengandung glukosa, protein, lemak, mineral, dan vitamin-vitamin yang dibutuhkan. Siapkan pembelajar yang sehat jasmani agar mereka dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Otak itu unik dan bagaimana memperkaya otak. Otak dengan keunikannya merupakan sebuah anugrah luar biasa dari sang pencipta. Dalam persamaan 95,5 persen anatomi manusia, perbedaan 0,5 persen saja sudah membuat individu itu berbeda dari individu lain. Perbedaan anatomi otak akan mempengaruhi perbedaan gaya belajar yang ada pada tiap individu merupakan sesuatu yang harus dipahami dan kita sadari bahwasannya tiap individu diciptakan berbeda. Ada yang lebih suka belajar dengan mendengarkan music, ada juga yang lebih suka ketenangan. Ada yang senang belajar dengan duduk di kursi ada juga yang lebih senang berbaring di lantai. Berikanlah variasi dalam mengajar dengan berbagai macam gaya pembelajaran yang berbeda. Tanyakanlah pada mereka gaya pembelajaran seperti apa yang lebih mereka sukai dan lebih nyaman dalam belajar. Adanya degenerasi alamiah yang semakin bertambah usia kita semakin menurun. Membuat kita berpikir bagaimana cara menumbuhkan otak yang lebih baik. Semakin banyak otak dilatih untuk berpikir akan lebih baik dari pada jarang menggunakan otak untuk berpikir. Berpikir dengan otak akan terus dilatih sehingga banyak terjadi koneksi-koneksi pada otak. Para pembelajar paling baik ketika mereka diberikan stimulasi yang baru dan di luar kebiasaan. Pserta didik akan lebih tertarik jika diberikan sesuatu yang baru yang belum pernah mereka dengar diluar kebiasaan. Selain itu juga untuk banyak melatih otak berpikir perbanyaklah latihan-latihan dalam pembaelajaran namun jangan sampai anak bosan. Berikan juga kesempatan untuk berpikir sendiri mengeluarkan ide-ide mereka dalam kegiatan belajar seperti siswa membuat presentasi secara berkelompok.(KD 4)

5.

Menyeimbangkan Fungsi Kerja Otak Kanan Dan Otak Kiri Dalam Pembelajaran Membaca Secara neurobiologis, otak manusia terdiri atas miliaran sel saraf atau neuron yang menyebar di keseluruhan otak manusia. Seperti yang dikemukakan oleh seorang neurolog, Gerald Edelman, pemenang hadiah nobel, dibutuhkan
8

lebih dari 32 juta tahun untuk menghitung semua sinaps di dalam otak manusia dengan kecepatan satu sinaps per detik. Jika dipusatkan perhatian pada kemungkinan jumlah hubungan saraf di dalam otak, maka didapati jumlah yang sangat menakjubkan yaitu 10 diikuti sejuta angka nol. Setiap saraf otak itu saling berhubungan dan berkomunikasi melalui satu hubungan atau lebih (Restak, 2004:5). Walaupun demikian, setiap saraf yang ada dalam otak mempunyai tanggung jawab dan fungsi masing-masing. Misalnya, kegiatan membaca mengaktifkan area oksipital dan frontal. Mendengarkan musik dengan mata terpejam mengaktifkan area temporal, frontal dan serebelum. Di samping itu, secara garis besar, otak otak manusia terbagi atas kerja otak belahan otak kanan, tetapi aktifitas kerja kedua otak tersebut tidak terpisah. Aktivitas kedua otak itu saling menyatu dan juga saling membangun. Seperti yang kita ketahui bahwa metode pembelajaran konvensional yang pada umumnya digunakan oleh pendidik dalam belajar bahasa cenderung menekankan pada pola kerja otak kiri, seperti latihan yang menitik beratkan pada rangsangan dengar (otak kiri) berupa latihan-latihan, pengulangan, kurang melibatkan proses pemecahan suatu masalah. Sementara itu, dengan kemajuan teknologi, anak-anak sekarang terfokus pada acara-acara yang disiarkan oleh televisi, sehingga yang lebih banyak melakukan aktivitas adalah belahan otak kanan. Oleh karena itulah, masalah pembelajaran menjadi tidak efektif.

1. Hubungan Otak dengan Bahasa Otak memegang peranan yang sangat penting dalam berbahasa. Telah diutarakan sebelumnya bahwa saraf-saraf tertentu dalam otak berkaitan dengan fungsi berbahasa baik lisan maupun tulisan. Ini dapat dibuktikan bahwa terdapat gangguan berbahasa bagi orang yang mengalami kerusakan otak atau kecelakaan yang mengenai kepala, selain itu juga dilakukan eksperimen terhadap saraf-saraf di otak bagi orang yang sehat. Saraf-saraf dalam otak berkaitan dengan fungsi berbahasa adalah daerah broca, daerah Wernicke, dan daerah korteks ujaran superior atau daerah motorsuplementer. Berdasarkan tiga daerah saraf tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat bagian-bagian tertentu pada saraf-saraf di otak kiri manusia yang mempengaruhi manusia untuk menghasilkan ujaran untuk berbahasa dan berkomunikasi dengan sesama.

2. Fungsi Otak Kanan dan Otak Kiri DePorter (2004:36) mengungkapkan bahwa proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Otak kiri berdasarkan realitas mampu
9

melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikir sesuai untuk tugastugas teratur, ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi audiotorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme. Untuk belahan otak kanan cara berpikirnya bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi. Selanjutnya, Restak (2004:97) juga mengemukakan bahwa otak kiri berfungsi menjelaskan sesuati secara verbal atau tulisan. Belahan otak kiri cenderung memecah segala sesuatu ke dalam bagian-bagian dan lebih mengenali perbedaan dari pada menemukan kesamaan ciri. Di samping itu menurut Restak, belahan otak kiri memproses dunia dengan cara yang linear dan runut. Sebalinya, belahan otak kanan kurang mengandalkan kata-kata dan bahasa, belahan otak kanan lebih bisa melihat gambar secara keseluruhan dengan memperhatikan dan menggabungkan menjadi sebuah gambaran umum. Belahan otak kanan terlibat dalam proses penyetaraan yang melibatkan banyak operasi sekaligus. Hal yang sama tentang fungsi otak kiri juga dikemukakan oleh Maksan (1993:55) bahwa tugas-tugas kebahasaan dikoordinasikan oleh otak kiri. Otak kiri berkaitan dengan akademik maka otak kanan berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika. Merupakan pusat otak yang dominan untuk berbahasa lisan dan tulisan. Berperan dalam proses berpikir yang logis, analitis, linier dan bertindak yang rasional. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika. Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi. Para ahli banyak yang mengatakan otak kiri sebagai pengendali IQ (Intelligence Quotient), sementara otak kanan memegang peranan penting bagi perkembangan EQ (Freed 1997 dalam Soepalarto http://ykai.net/index/php).

3. Bagaimana Kedua Belahan Otak Bekerja Setiap belahan otak, baik otak kiri maupun otak kanan pada hakikatnya mempunyai mempunyai tanggung jawab dan fungsi masing-masing. Misalnya, Otak kiri berkaitan dengan akademik, seperti perbedaan, angka, urutan, tulisan,
10

bahasa, hitungan dan logika, sedangkan Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Namun, aktifitas kerja kedua otak tersebut tidak terpisah. Aktivitas kedua otak itu saling menyatu dan juga saling membangun. Sebagai contoh, ketika melihat beberapa pohon dengan dedaunannya yang berguguran, tanah yang kering, dan cuaca yang teramat panas. Kita akan memerikan, menganalisis, dan menggeneralisasikan semua hal tersebut dengan belahan otak kanan. Setelah hal tersebut dilakukan oleh otak kanan, maka belahan otak kirilah kemudian yang mengkomunikasikannya secara verbal. Misalnya, ketika kita berkata, dedaunan itu banyak berguguran, tanah yang disekitarnya kering, dan ternyata sekarang adalah musim kemarau. Belahan otak kirilah yang bertanggung jawab terhadap pengolahan bahasa dan mengutarakan konsep-konsep yang ada dalam persepsi seseorang. Namun, semua merupakan hasil dari penggeneralisasian yang dilakukan oleh belahan otak kanan. (Restak, 2004:97) Dengan contoh di atas, dapat disimpulkan sebenarnya dalam setiap aktivitas otak yang dilakukan oleh manusia selalu melibatkan dua fungsi otak, yaitu belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Otak kiri untuk melakukan pemikiran, persepsi, sedangkan otak kanan untuk memberikan gambaran secara visual. Jika seseorang hanya mengaktifkan salah satu belahan otaknya dalam beberapa aktivitas, terjadi ketidakseimbangan fungsi kerja otak pada manusia, maka orang tersebut akan mudah menghadapi kesulitan terutama kesehatan mental yang kurang baik. Seperti yang dikemukakan DePorter (2004: 38). Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pentingnya menyeimbangkan fungsi kedua belah otak dalam melakukan aktivitas yang memang membutuhkan kerja otak, sehingga tercapai tujuan yang optimal.

4. Alternatif yang Dapat Dilakukan untuk Menyimbangkan Otak kanan dan Otak Kiri dalam Pembelajaran Membaca Guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah hendaknya mengetahui dan memahami bahwa pentingnya memanfatkan kedua belah otak untuk belajar. Belajar jadi mudah jika guru dapat menyeimbangkan kedua fungsi otak dalam proses pembelajaran. Otak kanan sebagai kreativitas dan imajinasi dan juga merupakan faktor nonkebahasaan dapat memberikan ide bagi otak kiri dalam melahirkan kata-kata dan bahasa. Kreativitas dan imaginasi sangatlah penting dalam proses pembelajaran bahasa. Kreatifitas dan imajinasi perlu dikembangkan. Jika kreatifitas dikembangkan dalam proses pembelajaran, maka pembelajaran akan menjadi suatu proses yang
11

menyenangkan bagi siswa. Implikasinya pada diri siswa akan terbentuk pola pembelajaran yang kreatif dan tidak tergantung pada orang lain. Ini akan menjadikan siswa lebih siap dan mampu menyesuaikan diri dengan segala perubahan dan tuntutan yang terjadi dalam lingkungannya.

B. PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIK DALAM MANAJEMEN KEBIDANAN


Sesuai anjuran WHO yang menyarankan, untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan setiap tenaga kesehatan harus menggunakan pendekatan proses pengambilan keputusan klinis berdasarkan evidance based dalam praktiknya. 1. Pengertian dan Kegunaan Pengambilan keputusan klinis yang dibuat oleh seorang tenaga kesehatan sangat menentukan kualitas pelayanan kesehatan. Pengambilan keputusan klinis dapat terjadi mengikuti suatu proses yang sistemetis, logis dan jelas. Proses pengambilan keputusan klinis dapat dijelaskan, diajarkan dan dipraktikkan secara gamblang. Kemampuan ini tidak hanya tergantung pada pengumpulan informasi, tetapi tergantung juga pada kemampuan untuk menyusun, menafsirkan dan mengambil tindakan atas dasar informasi yang didapat saat pengkajian. Kemampuan dalam pengambilan keputusan klinis sangat tergantung pada pengalaman, pengetahuan dan latihan praktik. Ketiga faktor ini sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan klinis yang dibuat sehingga menentukan tepat tidaknya tindakan yang petugas kesehatan berikan pada klien. Seorang tenaga klinis apabila dihadapkan pada situasi dimana terdapat suatu keadaan panik, membingungkan dan memerlukan keputusan cepat (biasanya dalam kasus emergency ) maka 2 hal yang dilakukan : a. Mempertimbangkan satu solusi berdasarkan pengalaman dimasa lampau.

12

b. Meninjau simpanan pengetahuan yang relevan dengan keadaan ini dalam upaya mencari suatu solusi. Apabila tidak ada pengalaman yang dimiliki dengan situasi ini dan simpanan pengetahuan belum memadai , maka tenaga klinis tersebut akan mengalami kebingungan dan tidak mampu memecahkan masalah yang ada. Oleh karena itu tenaga kesehatan harus terus menerus memperbaharui pengetahuannya, sambil melatih terus keterampilannya dengan memberikan jasa pelayanan klinisnya. Pengambilan keputusan klinis ini sangat erat kaitannya dengan proses manajemen kebidanan karena dalam proses manajemen kebidanan seorang Bidan dituntut untuk mampu membuat keputusan yang segera secara tepat dan cepat agar masalah yang dihadapi klien cepat teratasi. Dalam pengambilan keputusan klinis langkah-langkah yang ditempuh sama dengan langkah-langkah manajemen kebidanan karena keduanya menggunakan pendekatan pemecahan masalah.

2.

Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan klinis a. Penilaian ( Pengumpulan Informasi ) Langkah pertama dalam pengambilan keputusan klinis adalah menilai / menggali keluhan utama klien , keluhan utama ini mengarah kepada masalah yang lebih penting atau merupakan dasar dari masalahnya.

contohnya : a. Seorang ibu hamil usia kehamilan 9 bulan datang dengan keluhan : susah tidur dan mata berkunang-kunang b. Ibu datang hamil 9 bulan mengeluh mules dan keluar lendir sejak 6 jam yang lalu.

13

Dalam kasus-kasus lain misalnya dalam pemeriksaan kesehatan reproduksi , tenaga kesehatan menemukan masalah, sedangkan kliennya tidak

menyadarinya. contohnya : Ibu datang hamil 8 bulan dengan keluhan pusing-pusing, nafsu makan biasa, keluhan diatas tidak menggambarkan masalah, namun keluhan ini belum tentu menggambarkan keluhan yang sebenarnya agar petugas dapat menemukan keluhan utama yang ada perlu menggali informasi dan melakukan pemeriksaan langsung contoh : anamnesa ; pusingnya dirasakan sejak kapan ? dalam kondisi yang bagaimana ? apakah sebelum hamil mendapat tekanan darah tinggi, dilanjutkan dengan pemeriksaan tekanan darah ? Hb? edema ? setelah menemukan data-data diatas secara lengkap petugas dapat menemukan keluhan yang sebenarnya. Oleh karena itu untuk mengidentifikasi masalah secara tepat, tenaga kesehatan perlu mengumpulkan informasi dan proses mengenai keadaan kesehatannya . Hal ini akan membantu pembuatan diagnose yang tepat untuk menangani masalah yang ada. Informasi dapat diperoleh dari riwayat, pemeriksaan fisik, pengujian diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium dan sebagainya, seperti contoh kasus diatas. Pada pengunpulan informasi ini sering terjadi terlalu banyak pengumpulan informasi yang tidak relevant atau tidak dapat membedakan antara informasi yang relevan dan mana yang tidak, sehingga waktu yang dibutuhkan terlalu banyak dan mengganggu pelayanan, menimbulkan ketidakpuasan atau dapat membahayakan jiwa klien apabila dalam kondisi kegawatdaruratan. misalnya :

pada saat ibu hamil 8 bulan mengeluh pusing, ditanyakan mengenai HPHT, riwayat penyakit keluarga, penyakit keturunan, contoh pengkajian ini sangat

14

tidak relevan, karena tidak ada hubungan antara pusing dengan penyakit keluarga (penyakit keturunan). Agar tenaga kesehatan dapat melakukan proses pengumpulan data dengan efektif, maka harus menggunakan format pengumpulan informasi yang standar. Tenaga yang berpengalaman akan menggunakan standar ini dengan mengajukan pertanyaan yang lebih sedikit, lebih terarah dan pemeriksaan yang terfokus pada bagian yang paling relevan.

b. Diagnosis ( Menafsirkan Informasi / menyimpulkan hasil pemeriksaan) Setelah mengumpulkan beberapa informasi , tenaga kesehatan mulai merumuskan suatu diagnosis defferensial (diagnosa banding). Diagnosis defferensial ini merupakan kemungkinan kemungkinan diagnosa yang akan ditetapkan. contohnya: diagnosa banding pada kasus diatas, pada saat ibu mengeluh pusing diagnosa banding yang muncul kemungkinan ibu kurang tidur, kurang makan, stress, anemi atau pre eklamsi. Dari diagnosa differensial ini tenaga kesehatan mungkin perlu data tambahan atau hasil pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan penunjang lainnya. Untuk membantu menentukan diagnosis kerja dari kemungkinan diagnose yang ada. contoh : bila ditemukan hB < 8 gr, tensi 100/60, protein - , maka diagnosa yang dapat diambil : anemia, (diagnosa ini sudah merupakan diagnosa kerja). Untuk ketepatan merumuskan diagnose ini perlu pengalaman klinis sehingga tenaga kesehatan bisa melakukan dengan cepat dan tepat.

Salah satu contoh ;

15

seorang ibu yang mengalami perdarahan hebat paska persalinan. Dengan hanya mengetahui beberapa rincian tentang ibu ( misalnya graviditas , modus kelahiran serta lamanya persalinan ), anda bisa membentuk segera satu diagnosis differensial. Daftar diagnosis ini akan berisi: atonia uteri , laserasi vaginal atau sisa placenta. Sebagai seorang tenaga kesehatan yang berpengalaman, akan mengarahkan pemeriksaan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik kearah pengumpulan informasi yang terfokus untuk mengenyampingkan

kemungkinan-kemungkinan diagnosis-diagnosis di dalam daftar tersebut. Jika ditemukan bahwa ibu tersebut adalah seorang multipara yang tidak mengalami komplikasi dalam persalinannya, maka kemungkinan atonia uteri sebagai penyebabnya akan menjadi lebih besar. Pemeriksaaan fisik bisa dibuktikan adanya uterus yang lembek, data ini memperkuat kemungkinan bahwa perdarahan tersebut disebabkan atonia uteri. Akan tetapi , diagnosis kerja belum ditetapkan dan penilaian lebih lanjut masih diperlukan . Pemeriksaan placenta atau mencari tahu dari penolong persalinan mengenai placenta nya menjadi sangat penting untuk menentukan satu diagnosis kerja. Jika anda menyimpulkan bahwa si ibu mengalami atonia uteri , maka pilihan pengobatan yang didasarkan pada kondisi ibu, ketersediaan sumber daya dan faktor-faktor lain harus dipertimbangkan dalam langkah berikutnya.

c. Perencanaan ( Pengembangan Rencana ) Setelah memutuskan diagnose kerja , maka tenaga kesehatan akan memilih perencanaan pengobatan atau asuhan. Dalam perencanaan ini bisa ditemukan beberapa pilihan yang perlu dipertimbangkan risiko dan keuntungannya.

16

Beberapa

faktor

yang

dapat

mempengaruhi

pemilihan

prioritas

perencanaan adalah : Pengalaman tenaga kesehatan Penelitian dan bukti-bukti klinis (evidence based) Nilai-nilai yang dianut tenaga kesehatan bersangkutan Ketidak jelasan yang disebabkan tidak adanya atau tidak lengkapnya data. Contoh : Sebagai contoh, untuk ibu yang sedang mengalami perdarahan paska persalinan , anda akan memutuskan apakah langkah terbaik untuk pengobatannya adalah memberikan oxytocin, atau melakukan kompresi bimanual. Keputusannya akan didasarkan pada jumlah perdarahan , obatobat yang tersedia, keberhasilan pengobatan terdahulu yang menggunakan cara yang sama serta informasi informasi lainnya. Anda akan mempertimbangkan konsekuensinya yang positif, yang bisa timbul dari masing-masing alternatif pengobatan.

d. Intervensi ( Melaksanakan Rencana ) Langkah berikutnya dalam pengambilan keputusan klinis setelah merencanakan pilihan tindakan yang akan dilakukan adalah melaksanakan pengobatan atau asuhan yang telah ditentukan. Dalam melaksanakan langkah ini perlu mengacu pada protokol atau prosedur yang telah dibuat dan di standarisasi. Dalam melaksanalkan tindakan pada klien, perlu

memperhatikan reaksi / respon klien terhadap tindakan yang diberikan. Tindakan pemantauan tersebut akan menghasilkan data untuk langkah berikutnya.

e. Evaluasi ( Mengevaluasi Rencana Asuhan )

17

Dalam

langkah

evaluasi

pengambilan

keputusan

klinis,

rencana

tindakan/pengobatan yang dipilih untuk diagnosisnya harus dievaluasi untuk mengetahui apakah sudah efektif atau tidak. contoh dalam kasus diatas setelah diberikan oxytocin dievaluasi apakah kontraksi uterus menjadi baik sehingga perdarahan berkurang atau tetap.Jika belum efektif maka pilihan tindakan lain perlu dipertimbangkan dan perencanaan, intervensi dan evaluasi mengikuti satu pola yang bersifat sirkuler (berulang) yang banyak persamaannya dengan proses penilaian dan diagnosis bila tetap uterus lembek dan perdarahan banyak, maka tindakan lain diberikan, misalnya kompresi bimanual. Penilaian atas pengobatan bisa juga mengarahkan tenaga kesehatan ke pembentukan diagnosis akhir diagnosis kerja yang telah dipertegas oleh informasi objektif yang lebih banyak , jika diagnosis akhir ternyata sejalan dengan diagnosis kerja atau diagnosis sementara, maka tenaga kesehatan akan menggunakan rincian dari kasus tersebut didalam memori simpanan pengalaman klinisnya. Keberhasilan suatu intervensi dilihat apabila terjadi perubahan bukan hanya pada gejala tetapi pada penyebab masalahnya, misalnya bagi ibu yang mengalami perdarahan paska persalinan, jika perdarahan berkurang sedangkan uterusnya tetap lembek (yang

membuktikan bahwa atonia uteri yang menjadi penyebabnya masih belum terselesaikan), maka penanganannya tidak bisa dianggap berhasil.

C. EVIDENCE BASED MEDICINE 1. PENGERTIAN a. Evidence Based Medicine I

18

Dalam dua dekade terakhir telah terjadi perkembangan yang cukup dramatik dalam bidang kedokteran. Teknologi medik yang di tahun 1950an lebih banyak menggunakan pendekatan manual mulai tergeser dengan penggunaan teknologi canggih. Penegakan diagnosis yang semula lebih banyak melalui pendekatan klinik telah beralih ke alat-alat diagnosis yang lebih akurat, praktis, dan dapat diandalkan. Demikian pula halnya dengan teknologi terapetik yang telah sedemikian majunya sehingga berbagai jenis penyakit yang semula tidak dapat disembuhkan atau menimbulkan kecacatan dapat teratasi dengan temuan-temuan terapi baru yang lebih menjanjikan secara medik dan ilmiah. Dalam perkembangannya, pendekatan medik yang berbasis empirisme mulai dipertanyakan oleh karena prasat-prasat baru yang lebih efektif dan dengan risiko yang lebih minimal telah ditemukan dan senantiasa diperbaharui dari waktu ke waktu. Magnetic resonance imaging (MRI) dan Whole body CT-scan merupakan sedikit contoh dari teknologi diagnostik modern yang memiliki akurasi tinggi. Di bidang bedah, teknologi minimally access (invasive) surgery telah secara bertahap menggantikan teknologi laparotomi yang risikonya jauh lebih besar dan masih dilakukan di banyak negara. Perkembangan obat baru jauh lebih pesat, khususnya untuk terapi keganasan, penyakit-penyakit kardiovaskuler dan penyakit degenaratif. Jika disimak lebih jauh maka terlihat bahwa berbagai temuan dan hipotesis yang pada masa lampau diterima kebenarannya, secara cepat digantikan dengan hipotesis-hipotesis baru yang lebih sempurna. Sebagai contoh adalah episiotomi yang selama ini dilakukan sebagai salah satu prosedur rutin persalinan khususnya pada primigravida. Melalui studi meta analisis dan berbagai telaah sistematik, ternyata terbukti bahwa episiotomi secara rutin justru lebih merugikan bagi pasien. Demikian pula halnya dengan temuan obat baru yang dapat saja segera ditarik dari perederan hanya dalam

19

waktu beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena di populasi terbukti memberikan efek samping yang berat pada sebagian penggunanya. Di awal 1990an diperkenalkanlah suatu paradigma baru kedokteran yang disebut sebagai evidence based medicine (EBM) atau kedokteran berbasis bukti-bukti. Melalui paradigma baru ini maka setiap pendekatan medik barulah dianggap accountable apabila didasarkan pada temuan-temuan terkini yang secara medik, ilmiah, dan metodologi dapat diterima. Perlahan tapi pasti, EBM telah menjadi jiwa dari ilmu kedokteran dan para klinisi maupun praktisi medik di seluruh dunia segera mengadopsi EBM sebagai bagian dari implementasi pelayanan medik yang berbasis bukti. Dalam tulisan ini akan dibahas konsep-konsep dasar penggunaan evidence based medicine dalam pengambilan keputusan klinik.

b. Evidence Based Medicine II Menurut Sackett et al. (1996) Evidence-based medicine (EBM) adalah suatu pendekatan medik yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan penderita. Dengan demikian, dalam praktek, EBM memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik dengan buktibukti ilmiah terkini yang paling dapat dipercaya. Evidence based medicine (EBM) adalah proses yang digunakan secara sistematik untuk menemukan, menelaah/me-rewew, dan memanfaatkan hasilhasil studi sebagai dasar dari pengambilan keputusan klinik. Secara lebih rinci EBM merupakan keterpaduan antara (1) bukti-bukti ilmiah yang berasal dari studi yang terpercaya (best research evidence); dengan (2) keahlian klinis (clinical expertise) dan (3) nilai-nilai yang ada pada masyarakat (patient values). (1) Best research evidence. Di sini mengandung arti bahwa bukti-bukti ilmiah tersebut harus berasal dari studi-studi yang dilakukan dengan

20

metodologi yang sangat terpercaya (khususnya randomized controlled trial), yang dilakukan secara benar. Studi yang dimaksud juga harus menggunakan variabel-variabel penelitian yang dapat diukur dan dinilai secara obyektif (misalnya tekanan darah, kadar Hb, dan kadar kolesterol), di samping memanfaatkan metode-meiode pengukuran yang dapat menghindari risiko bias dari penulis atau peneliti. (2) Clinical expertise. Untuk menjabarkan EBM diperlukan suatu

kemampuan klinik (clinical skills) yang memadai. Di sini termasuk kemampuan untuk secara cepat mengidentifikasi kondisi pasien dan memperkirakan diagnosis secara cepat dan tepat, termasuk

mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang menyertai serta memperkirakan kemungkinan manfaat dan risiko (risk and benefit) dari bentuk intervensi yang akan diberikan. Kemampuan klinik ini hendaknya juga disertai dengan pengenalan secara baik terhadap nilai-nilai yang dianut oleh pasien serta harapan-harapan yang tersirat dari pasien. (3) Patient values. Setiap pasien, dari manapun berasal, dari suku atau agama apapun tentu mem-punyai nilai-nilai yang unik tentang status kesehatan dan penyakitnya. Pasien juga tentu mempunyai harapan-harapan atas upaya penanganan dan pengobatan yang diterimanya. Hal ini harus dipahami benar oleh seorang klinisi atau praktisi medik, agar setiap upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan selain dapat diterima dan didasarkan pada bukti-bukti ilmiah juga mempertimbangkan nilai-nilai subyektif yang dimiliki oleh pasien. (4) Mengingat bahwa EBM merupakan suatu cara pendekatan ilmiah yang digunakan untuk pengambilan keputusan terapi, maka dasar-dasar ilmiah dari suatu penelitian juga perlu diuji kebenarannya untuk mendapatkan hasil penelitian yang selain update, juga dapat digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.

21

2. Tujuan EBM a. Evidence Based Medicine III Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian maka salah satu syarat utama untuk memfasilitasi pengambilan keputusan klinik yang evidence-based, adalah dengan

menyediakan bukti-bukti ilmiah yang relevan dengan masalah klinik yang dihadapi serta diutamakan yang berupa hasil meta-analisis, review sistematik, dan randomised controlled trial (RCT). llmu Kedokteran berkembang sangat pesat. Temuan dan hipotesis yang diajukan pada waktu yang lalu secara cepat digantikan dengan temuan baru yang segera menggugurkan teori yang ada sebelumnya. Sementara hipotesis yang diujikan sebelumnya bisa saja segera ditinggalkan karena muncul pengujian-pengujian hipotesis baru yang lebih sempurna. Sebagai contoh, jika sebelumnya diyakini bahwa episiotomi merupakan salah satu prosedur rutin persalinan khususnya pada primigravida, saat ini keyakinan itu digugurkan oleh temuan yang menunjukkan bahwa episiotomi secara rutin justru sering menimbulkan berbagai permasalahan yang kadang justru lebih merugikan bagi quality of life pasien. Demikian pula halnya dengan temuan obat baru yang dapat saja segera ditarik dan perederan hanya dalam waktu beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena di populasi terbukti memberikan efek samping yang berat pada sebagian penggunanya. Pada waktu yang lampau dalam menetapkan jenis intervensi pengobatan, seorang dokter umumnya menggunakan pendekatan abdikasi

22

(didasarkan pada rekomendasi yang diberikan oleh klinisi senior, supervisor, konsulen maupun dokter ahli) atau induksi (didasarkan pada pengalaman din sendiri). Kedua pendekatan tersebut saat ini (paling tidak, dalam 10 tahun terakhir) telah ditinggalkan dan digantikan dengan pendekatan EBM, yaitu didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang ditemukan melalui studi-studi yang terpercaya, valid, dan reliable. Efek dan khasiat obat yang ditawarkan oleh industri farmasi melalui duta-duta farmasinya (detailer) umumnya unbalanced dan cenderung misleading atau dilebih-lebihkan dan lebih berpihak pada kepentingan komersial. Penggunaan informasi seperti ini juga termasuk dalam pendekatan abdikasi, yang jika diterima begitu saja akan sangat berisiko dalam proses terapi. Secara ringkas, ada beberapa alasan utama mengapa EBM diperlukan: 1. Bahwa informasi up-date mengenai diagnosis, prognosis, terapi dan pencegahan sangat dibutuhkan dalam praktek sehari-hari. Sebagai contoh, teknologi diagnostik dan terapetik selalu disempurnakan dari waktu ke waktu. 2. Bahwa informasi-informasi tradisional (misalnya yang terdapat .dalam text-book) tentang hal-hal di atas sudah sangat tidak adekuat pada saat ini; beberapa justru sering keliru dan menyesatkan (misalnya informasi dari pabrik obat yang disampaikan oleh duta-duta farmasi/cfete//er), tidak efektif (misalnya continuing medical education yang bersifat didaktik), atau bisa saja terlalu banyak sehingga justru sering membingungkan (misalnya journal-journal biomedik/ kedokteran yang saat ini berjumiah lebih dari 25.000 jenis). 3. Dengan bertambahnya pengalaman klinik seseorang maka

kemampuan/ketrampilan untuk mendiagnosis dan menetapkan bentuk terapi (clinical judgement) juga meningkat. Namun pada saat yang

23

bersamaan, kemampuan ilmiah (akibat terbatasnya informasi yang dapat diakses) serta kinerja klinik (akibat hanya mengandalkan pengalaman, yang sering tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah) menurun secara signifikan. 4. Dengan meningkatnya jumlah pasien, waktu yang diperlukan untuk pelayanan semakin banyak. Akibatnya, waktu yang dimanfaatkan untuk meng-up date ilmu (misalnya membaca journal-journal kedokteran) sangatlah kurang.

3. Penerapan EBM di Pusat pelayanan Kesehatan a. Evidence Based Medicine V Untuk dapat menerapkan pola pengambilan keputusan klinik yang berbasis pada bukti ilmiah terpercaya diperlukan upaya-upaya yang sistematik, terencana, dan melibatkan seluruh klinisi di bidang masing-masing. Pelatihan Evidence-based medicine perlu didukung dengan perangkat lunak dan perangkat keras yang memadai. Pada saat ini informasi-informasi ilmiah dapat diperoleh secara mudah dari journal-journal biomedik melalui internet. Oleh sebab itu sudah selayaknya setiap rumah-sakit melengkapi diri dengan fasilitas-fasilitas untuk searching dan browsing yang dapat diakses secara mudah oleh para klinisi. Pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas

masalah-masalah klinik hendaknya difasilitasi dengan sumber-sumber informasi yang memadai. Untuk ini diperlukan staf pendukung yang mampu secara kontinvu men-down load full text paper dari berbagai journal biomedik. Informasi-informasi yang ada kemudian dapat digunakan untuk mem-back-up keputusan-keputusan klinik agar dapat berbasis pada bukti ilmiah yang terpercaya.

24

Sudah saatnya pula dilakukan sosialisasi secara sistematik kepada seluruh jajaran pelayanan kesehatan untuk memanfaatkan hasil-hasil studi biomedik dalam pengambilan keputusan klinik. Pusat-pusat pelayanan kesehatan dapat bekerjasama dengan pusat-pusat pendidikan tinggi, khususnya Fakultas-fakultas kedokteran dalam memverifikasi dan

menetapkan hasil-hasil penelitian yang valid yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan klinik.

b. Evidance Based Ilmu-Ilmu Kebidanan 1). Kajian literatur mengenai asuhan antenatal : a. Pre-eklampsia dan Eklamsi Strategi untuk mencegah eklamsia - Asuhan antenatal dan mengenali hipertensi, - Identifikasi dan perawatan pre-eklamsia oleh penolong yang terampil, - Kelahiran tepat waktu. b. Penatalaksanaa hipertensi dalam kehamilan (hasil penelitian): Pilihan Pengobatan Tirah baring (dirumah atau dirumah sakit) Pengobatan anti-hipertensif untuk hipertensi ringan Status Bukti Ilmiah Tidak ada bukti tentang nilainya. Terbukti bermanfaat. Mencegah peningkatan tekanan darah lebih lanjut. Mengurangi lama opname dirumah sakit, persalinan induksi dan gawat darurat. Penggunaan zat anti platelet untuk mencegah IUGR Hasil awal menjanjikan, tetapi studi lebih banyak lagi

25

menjanjikan. Anti konvulsi digunakan untuk mencegah kejadian eklampsia Kenyataan terakhir menunjukkan tidak ada manfaat studi. Multicenter sedang dilakukan. diuretik Tidak ada bukti yang jelas mengenai manfaatnya

c.

Penggunaan magnesium sulfat - Guankan magnesium sulfat pada : Wanita dengan eklamsia dan wanita preeklamsia berat yang bayinya harus dilahirkan. - Mulailah magnesium sulfate setelah keputusan melahirkan telah dibuat. - Lanjutkan terapi hingga 24 jam setelah melahirkan atau konvulsi terakhir.

d.

HIV pada Kehamilan Dampak HIV pada kehamilan (hasil penelitian) Hasil kehamilan Hubungannya dengan inveksi HIV Data terbatas, tapi ada bukti penelitian tentang kemungkinan peningkatan risiko.

Aborsi spontan

Lahir mati

Ada bukti penelitian tentang peningkatan risiko pada negara berkembang.

Mortalitas perinatal

Ada bukti penelitian tentang peningkatan risiko pada negara berkembang.

26

Mortalitas bayi

Ada bukti penelitian tentang peningkatan risiko pada negara berkembang.

Pertumbuhan janin

Ada bukti penelitian tentang peningkatan risiko.

BBLR (<2500gr)

Ada bukti penelitian tentang peningkatan risiko.

Kelahiran prematur

Ada bukti penelitian tentang peningkatan risiko pada negara berkembang, terutama pada penyakit stadium lanjut.

2). Evidance based persalinan - Hypno Birhting Rasa nyeri saat melahirkan bisa disebabkan oleh ketakutan. Namun, rasa nyeri itu kini dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali. Lewat sebuah proses latihan relaksasi dan metode hypnobirthing, Lanny Kuswandi memperkenalkan cara melahirkan tanpa rasa sakit. Menurut Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp. KJ, rasa cemas pada banyak orang dewasa sekarang adalah akibat dari rekaman getaran kehidupan mereka sejak dalam kandungan. Padahal, bayi di dalam kandungan perlu mendapat ketenangan dan kedamaian dari ibunya. Getaran seperti itulah yang akan terekam sampai usia dewasa. Dalam bukunya, Super Baby, Dr. Sarah Brewer

mengungkapkan bahwa kecemasan dan stres yang berlebihan pada saat hamil sama berbahaya dengan ibu hamil yang perokok. Keadaan itu bisa berakibat bayi lahir prematur, kesulitan belajar, anak menjadi hiperaktif, atau bahkan mengalami autisme. Menurut Dr. Sarah lagi, stres yang berlebihan pada ibu hamil akan mengakibatkan kadar pregnanolone dalam tubuh tidak mencukupi.

27

Untuk

mengatasi

kecemasan

itu

Lanny

Kuswandi

mengembangkan teknik relaksasi dan hypnobirthing yang disadapnya dari berbagai pusat latihan di Amerika Serikat. Menurut Lanny, persalinan yang normal selayaknya

berlangsung lancar. Pada beberapa penelitian di negara Barat membuktikan, ibu hamil yang mengikuti latihan mengalami lebih sedikit komplikasi dibandingkan dengan yang tidak terbiasa

melakukan relaksasi secara teratur. Adanya rasa nyeri yang berlebihan lebih disebabkan adanya rekaman di alam bawah sadarnya. Bayangkan saja, semua orang selalu mengatakan bahwa melahirkan itu sakit sekali, ujar wanita lulusan pendidikan kebidanan RS St. Carolus Jakarta ini. Katanya lagi, kontraksi otot pada saat persalinan adalah sebagai upaya membantu terbukanya jalan lahir. Karena kontraksi itu, leher rahim akan menjadi lunak, menipis, dan mendatar, kemudian menarik leher rahim. Saat itulah kepala janin menekan mulut rahim sehingga membuka. Bila si ibu sudah terbiasa relaksasi, jalan lahir akan lebih mudah terbuka. Keuntungan lain dari teknik ini adalah mencegah kelelahan yang berlebihan saat persalinan. Program Positif Hypnobirthing adalah relaksasi dengan penambahan sugesti melalui usapan. Tangan menjadi sarana untuk mengusap daerah bawah payudara hingga perut. Sebenarnya cara ini telah dilakukan secara natural oleh ibu-ibu hamil saat janinnya meronta dalam kandungan. Ketika itu ibu akan mengusap perut sambil membisikkan kata-kata lembut yang menenangkan. Untuk mengikuti program yang diajarkan Lanny, ada empat langkah yang harus dijalankan. Pertama, kepala dimiringkan di atas bahu kanan kemudian diputar sampai di atas bahu kiri, kembali ke bahu kanan sampai delapan kali hitungan. Setelah itu jari kanan di atas bahu diputar ke belakang sebanyak delapan kali. Lalu tangan tetap di atas bahu diputar ke depan sebanyak delapan kali pula.

28

Langkah kedua adalah relaksasi otot. Berbaring santai, lengan di samping kanan dan kiri, telapak kanan menghadap ke atas. Lalu tegangkan telapak kaki hingga merambat ke betis, paha, pinggul, dan dada. Pundak ditarik ke atas dan kedua telapak tangan dikepal kuat-kuat. Dahi dikerutkan, lidah ditarik ke arah langit-langit. Langkah ketiga berupa relaksasi pernapasan. Dalam keadaan berbaring, otomatis napas akan terdorong ke arah perut. Tarik napas panjang melewati hidung sambil hitung sampai 10. Kemudian embuskan napas perlahan-lahan lewat mulut, lakukan 10 kali. Langkah keempat relaksasi pikiran, langkah ini diwakili oleh indra mata. Setelah mata terpejam sejenak, buka mata perlahan-lahan sambil memandang satu titik tepat di atas mata, makin lama kelopak mata makin rileks, berkedip, dan hitungan kelima mata akan menutup.

- Lotus Birth / Nonseverance umbilical Lotus Birth, atau tali pusat yang tidak dipotong, adalah membiarkan tali pusat yang tidak diklem dan lahir secara utuh (jadi setelah bayi lahir, tali pusat tidak dilakukan pengekleman dan setelah plasenta lahir, plasenta beserta talipusatnya dibiarkan saja hingga nanti saatnya puput) Segera setelah bayi lahir ada sebuah proses fisiologis normal dalam perubahan Wharton's jelly yang menghasilkan

pengkleman internal alami pada plasenta (sisi maternal) dalam 10-20 menit pasca persalinan.

Dalam lotus birth plasenta dibiarkan dan Tali pusat kemudian Kering dan akhirnya lepas dari umbilicus. Pelepasan tersebut umumnya terjadi 3-10 hari setelah lahir. Organisasi Kesehatan Dunia(WHO) menekankan pentingnya penyatuan atau penggabungan pendekatan untuk asuhan ibu dan bayi,
29

dan menyatakan dengan jelas (dalam Panduan Praktis Asuhan Persalinan Normal:, Geneva, Swiss, 1997) "Penundaan Pengkleman (atau tidak sama sekali diklem) adalah cara fisiologis dalam perawatan tali pusat, dan pengkleman tali pusat secara dini merupakan intervensi yang masih

memerlukan pembuktian lebih lanjut."

Lotus Birth jarang dilakukan di rumah sakit tetapi umumnya dilakukan di klinik dan rumah bersalin, sampai saat ini di Indonesia baru BALI (Yayasan Bumi Bali Sehat, Nyuh Kuning, Ubud, BALI) yang sudah menerapkan Lotus birth. Lotus birth memungkinkan terjadinya proses bonding attachment antara ibu dan bayi, hal ini tentunya bermanfaat bagi ibu dan bayi yang baru lahir. Gambaran mekanismenya adalah, Sementara segera setelah bayi lahir penolong persalinan langsung melakukan penilaian APGAR Score, membersihkan /menghisap lendir dan mengeringkan tubuh bayi (kecuali kaki dan tangan), lalu melakukan IMD (inisiasi Menyusu Dini) peran ayah disini adalah ayah/pendamping persalinan menjadi bayi dan membantu melakukan rangsangan putting susu atau melakuakn pemijatan di beberapa titik di tubuh si ibu untuk merangsang oksitosin alami keluar sehingga membantu mencegah persarahan dan membantu pelepasan plasenta. Hanya dengan memegang tali pusat, penolong mencoba untuk melakukan penegangan tali pusat terkendali untuk menilai apakah plasenta udah lepas atau belum. sedangkan prosedur yang lebih lanjut ditunda terlebih dahulu sampai satu jam setelah melahirkan. Pada Lotus Birth, kelebihan cairan yang dikeluarkan plasenta disimpan dalam mangkuk atau waskom terbuka atau dibungkus kain, lalu didekatkan dengan bayi. Kain yang digunakan untuk menutupi plasenta atau wadah yang digunakan harus

30

memungkinkan terjadinya pertukaran udara, sehingga plasenta mendapatkan udara dan mulai mengering serta tidak berbau busuk.

Garam laut sering digunakan untuk mempercepat proses pengeringan plasenta. Kadang-kadang minyak esensial, seperti lavender, atau bubuk tumbuh-tumbuhan seperti goldenseal, neem, bersama dengan lavender juga digunakan untuk tambahan antibacterial. Apabila tindakan pengeringan plasenta tidak

diterapkan dengan baik plasenta akan memiliki bau yang berbeda, bau tersebut dapat diatasi dengan penanaman plasenta secara langsung atau didinginkan setelah minggu pertama pasca persalinan. Sampai sekarang belum ada penelitian lebih lanjut mengenai adanya kehilangan berat badan bayi dan penyakit kuning karena tindakan Lotus Birth. Referensi mengenai Lotus Birth ini terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, serta Kristen dan Yahudi. Karena adanya praktek budaya yang berbeda maka proses pengawetan plasenta dilakukan dalam berbagai cara yang berbeda. Beberapa orang lebih memilih untuk menyimpan plasenta sehingga dapat menguburkannya dengan anak di akhir kehidupan anak tersebut. Sedangkan yang lainnya membiarkan plasenta sampai mengerut dan mengering secara alami dan kemudian dikuburkan. Salah satu contohnya adalah Orang-orang Igbo di Nigeria, mereka menguburkan plasenta setelah lahir dan sering menanam pohon diatas kuburan plasenta tersebut. Berbicara tentang budaya, di Bali memiliki berbagai tradisi dan ritual mengenai proses kelahiran. Setiap kelahiran membawa cerita yang baru dan berbeda untuk dijadikan sebuah pelajaran. Setiap wanita menyanyikan lagu kelahiran sendiri untuk bayinya. Ada banyak sukacita dan perayaan pada saat kelahiran. Para peneliti kebidanan di Bali mempraktekkan pendekatan hands-off
31

yaitu praktek yang meminimalisir intervensi yang dilakukan terhadap ibu hal tersebut memungkinkan seorang ibu untuk mampu meyakinkan dirinya dengan didukung oleh suami atau anggota keluarganya, dengan terus-menerus menentramkan hati bahwa ia mampu melahirkan bayinya dengan tubuhnya yang sebenarnya telah dirancang untuk mampu melahirkan secara alami. Setiap anak Hindu lahir, orang-orang bali menyanyikan mantra gayatri untuk menyambut kelahiran bayi ke dunia. Seperti halnya orang muslim menyambut kelahiran bayi dengan pujian kepada Allah SWT. Selain menyayikan mantra gayatri, aspek kelahiran yang indah dan menyentuh yang dilakukan orang Bali adalah Lotus Birth. Ini adalah ketika tali pusat utuh setelah lahir dari satu jam sampai beberapa hari. Bayi dan plasenta tetap satu unit sampai orang tua memutuskan untuk memotong tali pusatnya. Tali pusat

merupakan organ tubuh bayi, dan pemotongan secara tiba-tiba dapat mengejutkan bayi secara fisik, dan emosi, oleh karena itu dilakukan Lotus Birth. Lotus Birth juga merupakan cara agar ibu dan bayi untuk beristirahat bersama-sama, skin-to-skin kontak, menyusui dan bonding attachment, sejak bayi bergerak. Salah satu cara yang kadang-kadang dilakukan untuk memisahkan plasenta dari bayi adalah dengan cara pembakaran tali pusat (burning cord). Menurut kepercayaan orang Bali, pembakaran tali pusat menarik semua energi daya hidup dari plasenta ke bayi, sehingga memungkinkan bayi untuk merasa lengkap walaupun kehilangan organ penting. Selama proses pembakaran tali pusat orang Bali tetap menyanyikan mantra gayatri sampai tali pusat habis dibakar. Setelah lepas plasenta kemudian segera diambil oleh ayah untuk dikubur di halaman rumah keluarga, sehingga anak akan selalu dapat menemukan cara atau jalan ke rumah keluarga

tersebut. Praktek penundaan pengekleman dan pemotongan tali pusat serta burning cord selain di Bali juga dilakukan di BidanKita yang mana setiap persalinan selalu dilakukan penundaan pengekleman dan pemotongan talipusat atau burning cord tentunya sebelumnya selalu ada informed coice dan inform consent nya ke klien dan keluarga.
32

Penghormatan terhadap integritas pikiran, jasmani dan rohani dari ibu dan bayi, adalah penting untuk perdamaian di bumi. Bila hal tersebut dillakukan maka akan memperkuat kasih sayang yang sangat diperlukan untuk manusia bertahan hidup. Mengapa Lotus Birth? Setiap ibu memiliki alasan sendiri. Berikut ini adalah beberapa alasan ibu untuk memilih Lotus Birth:

1. Tidak ada keinginan ibu untuk memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat. 2. Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu yang tepat. 3. Merupakan suatu penghormatan terhadap bayi dan plasenta. 4. 100% menjamin bahwa bayi mendapatkan volume darah optimal dan spesifik yang diperlukan bagi bayi. 5. Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh. 6. Mengurangi kematian bayi karena pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga plasenta telah lepas. 7. Alasan rohani atau emosional. 8. Tradisi budaya yang harus dilakukan. 9. Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat. 10. Kemungkinan menurunkan risiko infeksi (Lotus Birth memastikan sistem tertutup antara plasenta, tali pusat, dan bayi sehingga tidak ada luka terbuka) 11. Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka membutuhkan jika tidak ada waktu luka, untuk waktu

penyembuhan.sedangkan

penyembuhan akan minimal) Hanya karena tali pusat telah berhenti berdenyut tidak berarti tali pusat menjadi tidak berguna lagi. Ada yang masih mengalir ke dalam darah bayi. Setelah mencapai volume darah optimal pada bayi, sisa dari jaringan akan menutup secara aktif. Penutupan semua jaringan TIDAK terjadi ketika tali pusat tampak berhenti

33

berdenyut. Tali pusat dapat terus berdenyut sekitar 2 hingga 3 jam. Langkah dilakukannya Lotus Birth. Beberapa hal yang dilakukan dalam Lotus Birth diantaranya : 1. Bila bayi lahir, biarkan tali pusat utuh. Jika tali pusat berada sekitar leher bayi, cukup angkat tali tersebut. 2. Tunggu lahirnya plasenta secara alami. 3. Ketika plasenta lahir, tempatkan pada mangkuk di dekat ibu. 4. Tunggu transfusi penuh darah dari pusat ke bayi sebelum menangani plasenta. 5. Hati-hati dalam mencuci plasenta yaitu dengan menggunakan air hangat dan tepuk-tepuk sampai kering. 6. Tempatkan plasenta di tempat yang kering. 7. Letakkan plasenta pada bahan yang menyerap seperti sebuah popok atau kain kemudian letakkan dalam tas plasenta. Permukaan plasenta akan berubah setiap hari bahkan lebih cepat jika sering terjadi rembesan. Alternatif lain untuk mempercepat pengeringan plasenta yaitu dengan menaburkan garam pada bagian plasenta. 8. Gendong bayi dan beri makan sesuai kebutuhannya. 9. Pakaikan bayi menggunakan pakaian yang longgar. 10. bayi dapat dimandikan seperti biasa, biarkan plasenta bersamanya. 11. Meminimalisir pergerakan bayi.

(Literatur

imiah

lainnya

akan

kami

lampirkan

setelah

pembahasan teori)

34