Anda di halaman 1dari 17

BAB I DASAR TEORI

Hubungan oklusal gigi geligi pertama kali diperkenalkan oleh Edward Angle pada tahun 1899. Oklusi menjadi topik yang menarik dan banyak didiskusikan pada tahun-tahun awal kedokteran gigi modern mulai mengembangkan restorasi dan penggantian gigi geligi. Kata oklusi memiliki konsep yang lebih luas daripada hanya sekedar susunan gigi geligi. Dalam arti luas, oklusi adalah hubungan biologis yang dinamis dari komponen-komponen sistem mastikasi untuk mengontrol kontak gigi selama fungsi dan disfungsi. Dengan kata lain, oklusi merupakan aksi terintegrasi dari otot-otot rahang, sendi temporomandibular dan gigi geligi. Kontak pada gigi geligi asli dapat terjadi pada permukaan datar, marginal ridges, ujung cusp, lereng cusp dan juga pada fossa. Kontak ini dapat berupa kontak titik atau kontak bidang. Kontak antara gigi geligi akan menghasilkan tekanan vertikal dan horizontal. Tekanan ini dapat menyebabkan gigi miring atau rotasi, yang berarti posisi gigi tidak stabil. Jika kontak interproximal gigi terpelihara dengan baik, maka stabilitas lengkung gigi akan baik. Sedangkan stabilitas gigi geligi antar-rahang diperoleh dari kontak bilateral antara gigi yang berlawanan pada posisi intercuspal. Tekanan yang berasal dari kontak antar gigi yang berlawanan terjadi dalam waktu yang relatif singkat, dan tekanan-tekanan lain yang berasal dari lidah dan atau otot-otot wajah dapat mempengaruhi ligamen periodontal dan serat-serat transceptal tulang alveolar. Hal ini akan mempengaruhi stabilitas gigi untuk jangka panjang. Gerakan utama mandibula terdiri dari gerakan membuka, menutup, gerakan rahang ke kiri, gerakan rahang ke kanan, protrusi dan retrusi. Gerakan mandibula dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : (1). Condylar guidance, yaitu inklinasi dari jalur (pathway) yang dilalui oleh condyle selama gerakan rahang kontralateral atau protrusif. (2). Incisal guidance atau anterior

guidance, yang ditentukan oleh hubungan gigi anterior, yaitu besarnya overbite (vertical overlap) dan overjet (horizontal overlap)diantara gigi anterior. Selain itu, Anterior guidance juga ditentukan oleh estetik, fonetik dan condylar border movement. Anterior guidance mempengaruhi arah gerakan mandibula dan jika anterior guidance hilang, maka seluruh tekanan fungsional ditransmisikan ke gigi-gigi posterior. (3). Posterior guidance, yang ditentukan oleh hubungan gigi posterior, terutama hubungan gigi molar yang berlawanan. (4) Otot dan ligamen. Ada tiga tipe hubungan gigi posterior yang dapat terjadi selama gerakan lateral mandibula yaitu : (1). group function, yaitu oklusi dimana beban oklusal pada lateral excusion didistribusikan melalui paling sedikit dua pasang gigi pada sisi kerja (working side). Pada group function, terjadi kontak cusp bukal gigi posterior pada sisi kerja, dan tidak ditemukan kontak gigi pada sisi keseimbangan. Tipe oklusi group function tidak mudah ditemukan pada semua gigi geligi asli karena adanya variasi bentuk dan posisi gigi. (2). mutually protected occlusion atau yang dikenal dengan canineguidance, yaitu hanya gigi anterior atau gigi kaninus saja yang berkontak pada saat gerakan excursive mandibula. Seluruh tekanan lateral ditahan hanya oleh gigi kaninus. Gigi kaninus mencegah injuri tonjol bukal gigi posterior selama gerakan lateral. Dengan kata lain, pada canine guidance, gigi kaninus mencegah gigigeligi lain berkontak pada gerakan excursive mandibula sehingga dapat mengurangi atrisi normal pada gigi. Canine guidance dan group function merupakan bentuk oklusi terapeutik pada gigi geligi asli. (3). Oklusi seimbang atau balanced occlusion merupakan oklusi dengan kontak simultan pada permukaan oklusal seluruh atau beberapa gigi baik pada sisi kerja dan sisi keseimbangan pada semua posisi mandibula. Menurut Schuyler,oklusi seimbang penting untuk stabilitas gigi tiruan penuh, tetapi kontak ini menyebabkan trauma pada gigi asli, gangguan pada sendi temporomandibular, keterlibatan periodontal dan aus yang berlebihan pada gigi. Oklusi seimbang juga digunakan pada konstruksi implant di kedua lengkung (full arch). Hal ini dikarena oklusi seimbang dapat meminimalkan beban lokal dan

memaksimalkan stabilitas gigi tiruan. Tetapi jika konstruksi berupa implant tunggal yang berukuran kecil, maka pola oklusal yang lebih dipertimbangkan adalah group function daripada canine guidance. Hal ini bertujuan untuk menghindari beban lokal yang besar, yang dapat menyebabkan fraktur pada mahkota, komponen penghubung ( linking component ) atau bahkan fraktur pada implant. Oklusi seimbang, canine protection dan group function dikategorikan ke dalam anterior guidance. Gerakan mandibula dapat terjadi karena adanya keterlibatan sendi temporomandibular dan otot otot. Hal ini menyebabkan mandibula bergerak dalam tiga bidang, yaitu sagital, horizontal dan frontal. Kontak gigi juga akan terjadi bersamaan dengan gerakan mandibula. (1).Gerakan protrusif mandibula, terjadi jika mandibula bergerak lebih ke depan dari posisi intercuspal. Pada hubungan oklusal yang normal, di anterior terjadi kontak antara incisal edge insisif bawah dan area fosa lingual atau incisal edge insisif atas. (2). Gerakan lateral mandibula, gigi posterior bawah kanan dan kiri bergerak melewati gigi antagonisnya dalam arah yang berbeda. Pada gerakan lateral mandibula dikenal dua sisi, yaitu : (a). Sisi mediotrusive (sisi keseimbangan), merupakan sisi rahang yang bergerak ke arah midline (medial). Sisi keseimbangan disebut juga nonworking side, karena pada sisi ini tidak terjadi proses pengunyahan. (b). Sisi laterotrusive (Sisi kerja), merupakan sisi rahang yang bergerak ke lateral menjauhi midline pada gerakan rahang. Sisi ini disebut juga sisi kunyah, karena pada sisi ini terjadi proses pengunyahan. Berdasarkan jumlah dan keadaan gigi geligi yang berkontak pada gerakan rahang laterotrusive atau lateral , dikenal beberapa istilah, antara lain : (a). disklusi, yaitu tidak berkontaknya gigi geligi pada gerak lateral rahang. (b). disklusi kaninus, yaitu disklusi yang hanya melibatkan gigi kaninus. (c). disklusi anterior, yaitu disklusi yang melibatkan gigi insisif dan kaninus. (d). disklusi posterior, yaitu disklusi yang melibatkan gigi geligi posterior, gigi molar dan atau gigi premolar. (e). group function, yaitu disklusi yang melibatkan gigi geligi anterior dan posterior.

(3). Gerakan retrusif mandibula, yaitu gerakan yang terjadi ketika mandibula bergerak ke posterior dari posisi intercuspal. Jika dibandingkan dengan gerakan mandibula yang lain, gerakan retrusif itu lebih kecil dan hanya berjarak 12 mm dari IC ( intercuspal contact). Gerakan retrusif dibatasi oleh struktur ligamen. Selama gerakan retrusif, tonjol bukal bawah bergerak ke distal melewati permukaan oklusal pada gigi atas antagonisnya. Area kontak terjadi antara lereng distal tonjol bukal bawah dan lereng mesial pada marginal ridge dan fosa gigi antagonisnya. Penilaian pada gigi geligi merupakan bagian dari rencana perawatan pada restorative dentistry. Analisis oklusal mencakup penilaian kontak gigi pada retruded contact position ( RCP ), median occlusal position ( MOP ), dan lateral and protrusive jaw excursion. Perubahan kontak gigi pada ketiga posisi rahang ini dapat diindikasikan untuk perawatan restoratif, misalnya occlusal adjustment dan selective grinding. Oklusi merupakan hubungan gigi baik statis maupun dinamis yang dihasilkan oleh aksi terintegrasi antara otot-otot rahang dan sendi temporomandibular, karena itu dibutuhkan penilaian komprehensif , meliputi: (1). penilaian hubungan gigi geligi dan kontak gigi antar rahang pada posisi sentrik dan eksentrik. (2). pengukuran mobilitas rahang untuk menentukan fungsi sendi temporomandibular. (3). palpasi otot-otot rahang. Penilaian hubungan gigi geligi akan memberikan pemahaman tentang hubungan gigi secara spesifik yang berhubungan dengan fungsi dan parafungsi, dan akan menjadi dasar dalam menentukan rencana perawatan. Menurut Ferrario (2002), Jumlah kontak gigi pada lengkung berhubungan langsung dengan aktivitas otot rahang. Hal ini penting untuk menentukan rencana perawatan dan prognosis, serta meningkatkan rasa percaya diri dokter gigi untuk memenuhi harapan dan keinginan pasien. Penilaian kontak gigi secara klinis menggunakan ultrafine marking tapes dengan kualitas yang baik, misalnya GHM foil untuk menentukan kontak gigi dan hubungan rahang yang akurat. Selain itu, penilaian kontak gigi dapat menggunakan beberapa metode lain,

misalnya menggunakan bahan cetak, occlusal indicator wax, articulating paper, dental floss atau penilaian langsung secara visual.

BAB II TABEL PENGAMATAN

1.3.1 Pemeriksaan Oklusi Gigi-geligi 1.3.1.1. Pemeriksaan Oklusi Statik Jenis Kelamin Orang Coba Perempuan Cusp to marginal ridge Cusp to fossa 15 16 17 45 46 47 24 25 34 35 27 37 Posisi Oklusi Sisi Kanan Sisi Kiri

1.3.1.2. Pemeriksaan Oklusi Sentrik Jenis kelamin orang coba Perempuan Hubungan gigi geligi posterior Pada gigi posterior, terjadi kontak antara tonjolan gigi rahang bawah terhadap tonjolah gigi rahang atas 1.3.1.3 Pemeriksaan overbite dan overjet Jenis Kelamin Orang Coba P L 1.3.1.4 Pemeriksaan Oklusi Ideal Gerakan Oklusi sentrik Orang coba Perempuan normal hambatan -

Overbite 0,4 cm 0,3 cm

Overjet 0,2 cm 0,1 cm

Relasi sentris ke oklusi sentris Pergerakan mandibular ke anterior

Perempuan Perempuan

Jenis kelamin Orang Coba Perempuan Perempuan Perempuan

Gerakan Oklusi ICP RCP PCP

Gigi Geligi yang mengalami kontak premature (ditandai spot yang tebal) , , , , ,

1.3.2 Pemeriksaan Hubungan Mandila Terhadap Maksila 1.3.2.1 Pemeriksaan Relasi sentrik Jenis kelamin orang coba Perempuan Jarak gigit saat oklusi sentries 4 mm Jarak gigi saat relasi sentris 6 mm

Jenis kelamin orang coba Perempuan

Jarak pergeseran dari posisi ICP ke RCP (mm)

6mm

1.3.2.2 Pemeriksaan Physiological Rest Position Jenis kelamin orang coba Perempuan Free way space (mm) 2,2

1.3.2.3 Pemeriksaan Oklusi Dinamik / Artikulasi Jenis Kelamin Orang Coba Perempuan (I) Perempuan (II) Oklusi gigi pada sisi kerja + Oklusi gigi pada keseimbangan + +

Jenis kelamin orang coba

Pola Oklusi (BBO/UBO/MBO/tidak dapat diklasifikasikan)

Perempuan (I) Perempuan (II)

MBO BBO

PERTANYAAN

(1) Apakah setelah RCP rahang masih dapat digerakkan ke posisi lebih posterior? Tidak, karena RCP merupakan titik dimana RB dalam posisi paling posterior (posterior maksimum) terhadap RA,sehingga hanya dapat digerakkan ke samping saja, tanpa mampu digerakkan ke posisi lebih posterior lagi.

(2) Pada keadaan normal tanda ada pergerakan rahang oklusi umumnya terjadi kontak gigi geligi RA dan RB yang bagaimana? Pada keadaan normal yang sehat, posisi gigi geligi dalam keadaan baik, dimana gigi geligi kontak dalam keadaan ideal. Saat oklusi static terjadi,gigi geligi dalam keadaan cusp to marginal maupun cusp to fossa. Sedangkan gigi anterior kontak antara insisal gigi RB anterior dengan singulum RA anterior (over bite,over jet). Pada oklusi dinamik gigi geligi kontak dalam keadaan seimbang dalam pergerakannya. (3) Hubungan terbanyak antara gigi rahang atas dan rahang bawah adalah kontak yang bagaimana? Retruded Contact Position (RCP), yaitu kontak maksimal antara gigigeligi pada saat mandibula bergerak lebih ke posterior dari ICP, namun RB masih mampu bergerak secara terbatas ke lateral (4) Pada orang normal oklusi terbanyak adalah? Mutually Protected Occlusion, dijumpai kontak ringan pada gigi geligi anterior, sedang pada gigi posterior tidak kontak (5) Berapa besar Free way space normal? Besar free way space normal 2- 4 mm. Pengukuran free way space pasien dimaksudkan untuk mengetahui berapa besar jarak in-terocclusal pasien pada saat

posisi istirahat. Ini berguna untuk menentukan ketebalan bite plane jika diperlukan pada perawatan nanti. (6) Gigi-gigi posterior manakah yang mengalami Cusp to margin? Gigi-gigi posterior yang mengalami Cusp to margin adalah gigi premolar (7) Gigi-gigi posterior manakah yang mengalami Cusp to fossa? Gigi-gigi posterior yang mengalami Cusp to fossa adalah gigi molar (8) Untuk mencapai posisi working side, dimana posisi cusp gigi posterior RB? Untuk mencapai posisi working side, posisi cusp gigi posterior RB berkontak dengan cusp gigi posterior RA, dimana cusp mesio-bukal gigi posterior pada RB berkontak dengan gigi posterior RA pada posisi mesio-bukalnya.

10

BAB III PEMBAHASAN

2.3.1.1 Pemeriksaan Oklusi Statik Pada pemeriksaan oklusi statik, orang coba memposisikan giginya seperti dalam keadaan saat dia diam (tidak ada pergerakan antara RA dan RB). Diketahui bahwa di sisi kiri RB dan RA posterior, oklusi cusp to marginal ridge pada orang coba adalah gigi premolar 1 dan premolar 2. Sedangkan gigi molar 2 mengalami oklusi cusp to fossa, dengan keadaan gigi molar 1 atas yang sudah diekstraksi sehingga tidak terjadi kontak, dan gigi molar 3 yang belum tumbuh. Di sisi kanan, hanya terjadi oklusi cusp to marginal ridge saja pada gigi premolar 1, premolar 2 dan molar 1 RA dan RB, dan gigi posterior lainnya tidak terjadi oklusi. Pemeriksaan tersebut merupakan hubungan gigi geligi rahang atas (RA) dan rahang bawah (RB) dalam keadaan tertutup dan daerah kunyah gigi geligi dalam keadaan tidak berfungsi (statik) yang dialami oleh orang coba. Sehingga dapat dikatakan bahwa gigi-geligi dalam keadaan oklusi sentrik dan terjadi kontak maksimal antara gigi geligi dengan antagonisnya (ICP). Hal ini menunjukkan orang coba dalam kondisi oklusi normal, dimana kontak gigi geligi RA dan RB dalam posisi seimbang, dan keadaan over jet serta over bite gigi anterior dalam keadaan normal, dimana kontak itu terjadi antara bidang insisal RB dengan singulum RA. Sedangkan hubungan antar gigi posterior sedikit mengalami pergeseran, dimana gigi geligi bagian posterior RB (premolar 1), kontak dengan premolar RA dan seterusnya, sehingga posisi kontak lebih ke belakang.

2.3.1.2 Pemeriksaan Oklusi Sentrik Berdasarkan hasil percobaan, pada gigi posterior, terjadi kontak antara tonjolan gigi rahang bawah terhadap tonjolah gigi rahang atas. Namun, posisi gigi RB yang lebih ke belakang maksimal pada orang coba, menyebabkan cups gigi Premolar maupun Molar RA tidak berkontak dengan tepat di dalam fossa gigi

11

geligi posterior pada RB . Sehingga dapat dikatakan bahwa gigi geligi berada dalam keadaan tidak sentrik, karena kondisi gigi geligi tidak berada dalam posisi bilateral simetris di dalam fossanya saat pertama berkontak. Hal ini dapat disebabkan karena gigi mengalami supra-posisi atau overhanging restoration.

2.3.1.3 Pemeriksaan overbite dan overjet Overjet adalah jarak horizontal antara gigi insisivus atas dan bawah pada keadaan oklusi diukur pada ujung insisivus atas. Nilai rata-rata overjet pada oklusi normal kurang lebih 2mm atau 1mm sampai 3mm. Overjet tergantung pada inklinasi dari gigi-gigi insisivus dan hubungan antero-posterior dari lengkung gigi. Pada sebagian besar individu, ada overjet positif, misalnya sewaktu insisivus atas terletak di depan insivus bawah pada keadaan oklusi, namun overjet juga bisa kebalikan, atau edge to-edge. Overbite adalah jarak vertical antara ujung gigi insisivus atas dan bawah. Dipengaruhi oleh derajat perkembangan vertikal dari segmendento-alveolar anterior. Idealnya, gigi insisivus bawah harus berkontak dengan sepertiga permukaan palatal dari insisivus atas atau 2-3 mm, pada keadaan oklusi. Namun bisa juga terjadi suatu keadaan di mana jarak menutupnya bagian insisal insisivus maksila terhadap insisal insisivus mandibula dalam arah vertikal melebihi 1/3 (deep bite). Bisa juga terjadi keadaan adanya ruangan oklusal atau insisal dari gigi saat rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan oklusi sentrik (openbite). Bisa juga terjadi edge to edge atau permukaan insisal insisivus rahangatas berkontak dengan insisivus rahang bawah. Overjet dan overbite pada laki-laki dan perempuan mengalami perbedaan, tetapi perbedaan ini tidak bermakna secara signifikan. Besar kecilnya overjet dan overbite bisa disebabkan oleh faktor skeletal, dental atau kombinasi keduanya. Sesuai hasil pengamatan pada orang coba, didapati overbite sebesar 4 mm (melebihi 1/3 atau deep bite) dan overjet sebesar 2 mm. Sehingga dapat dikatakan

12

bahwa orang coba dalam kondisi overbite dan overjet yang normal, walaupun jarak overbite kurang ideal.

2.3.1.4 Pemeriksaan Oklusi Ideal Oklusi sentrik adalah posisi kontak maksimal dari gigi geligi pada waktu mandibula dalam keadaan sentrik, yaitu kedua kondisi berada dalam posisi bilateral simetris di dalam fossanya. Pada percobaan yang dilakukan oleh orang coba, didapatkan pemeriksaan gerakan oklusi sentrik dalam keadaan normal, gerakan relasi sentries ke oklusi sentris dalam keadaan normal, dan pergerakan mandibula ke anterior juga dalam keadaan normal. Ketiganya tidak mengalami hambatan. Sentris atau tidaknya posisi mandibula ini sangat ditentukan oleh panduan yang diberikan oleh kontak antara gigi pada saat pertama berkontak. Keadaan ini akan mudah berubah bila terdapat gigi supra posisi ataupun overhanging restoration. Sementara itu, pada percobaan yang dilakukan oleh orang coba perempuan mengenai gerakan oklusi Intercupal Contact Position (ICP) yaitu kontak maksimal antara gigi-geligi dengan antagonisnya, yang mengalami kontak premature adalah gigi-geligi insisiv sentral. Gerakan oklusi Retruded Contract Position (RCP), yaitu kontak maksimal gigi geligi pada saat mandibula bergerak lebih ke posterior dari ICP, namun rahang bawah masih mampu bergerak secara terbatas ke lateral, yang mengalami kontak premature adalah gigi geligi premolar, molar pertama, dan molar kedua. Sedangkan gerakan oklusi Protrusif Contact Position (PCP), yaitu kontak gigi geligi anterior pada saat rahang bawah digerakkan ke anterior, yang mengalami kontak premature adalah gigi geligi insisiv sentral. 2.3.2.1 Pemeriksaan Relasi Sentrik Dari praktikum yang telah kami lakukan yaitu pemeriksaan relasi sentrik pada orang coba yang berjenis kelamin perempuan didapatkan jarak gigit saat oklusi sentries adalah 4mm, dan jarak gigi saat relasi sentries sebesar 6mm. Yang mana dalam keadaan sentrik ini kondisi kontak dari gigi-geligi pada posisi

13

bilateral simetris di dalam fossanya. Untuk pengamatan dari posisi ICP ke RCP pada orang coba didapatkan 6mm. Pada pengamatan, orang coba menggerakkan mandibula ke belakang ke posisi yang paling posterior sejauh 1cm dari keadaan oklusi. Didapatkan 6 mm, yaitu selisih dari keadaan kontak yang maksimal ke posterior dikurangi dengan kontak maksimal dari gigi-geligi antagonisnya. 10 mm dikurangkan 4 mm. Dan pemeriksaan kali ini juga untuk melihat sentris atau tidaknya posisi mandibula, yang sangat ditentukan oleh panduan yang diberikan oleh kontak antara gigi pada saat pertama kontak. 2.3.2.2 Pemeriksaan Physiological Rest Position Dari praktikum yang telah kami lakukan yaitu pemeriksaan physiological rest position pada orang coba yang berjenis kelamin perempuan didapatkan free way space 2,2 mm. Free way space sendiri adalah celah yang terdapat antara rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan istirahat yang merupakan selisih antara relasi vertikal istirahat dan relasi vertikal oklusi. Hal ini dapat dikatakan normal apabila free way space-nya yaitu 2-4 mm. Pengukuran free way space pasien dimaksudkan untuk mengetahui berapa besar jarak in-terocclusal pasien pada saat posisi istirahat. Ini berguna untuk menentukan ketebalan bite plane jika diperlukan pada perawatan nanti. Sehingga berdasarkan hasil pengamatan, orang coba memiliki free way space yang normal. 2.3.2.3 Pemeriksaan Oklusi Dinamik/Artikulasi Oklusi dinamik merupakan hubungan antara gigi geligi rahang atas dan rahang bawah pada saat seseorang melakukan gerakan mandibula ke arah lateral (samping) ataupun ke depan (antero-posterior). Oklusi yang terjadi karena pergerakan mandibula ini sering disebut artikulasi. Pada gerakan ke lateral akan ditemukan sisi kerja (working side) yang ditunjukan dengan adanya kontak antara cusp bukal rahang atas dan cusp molar rahang bawah; dan sisi keseimbangan (balancing side). Working side dalam oklusi dinamik digunakan sebagai panduan oklusi (oklusal guidance), bukan pada balancing side.

14

Pada pemeriksaan oklusi dinamik atau artikulasi kali ini, digunakan dua orang coba yang berbeda namun dengan jenis kelamin yang sama. Pada orang coba pertama diperoleh data bahwa oklusi gigi geligi pada sisi kerja tidak terjadi kontak sedangkan oklusi gigi pada sisi keseimbangannya terjadi kontak. Sementara itu, pada orang coba kedua, oklusi gigi geligi pada sisi kerja terjadi kontak dan oklusi geligi pada sisi keseimbangan juga terjadi kontak. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa orang pertama termasuk dalam pola oklusi MBO ( Mutually balanced Occlusion) yaitu dijumpai kontak ringan atau tidak kontak pada gigi geligi anterior, sedang pada gigi posterior tidak terjadi kontak. Sedangkan pola oklusi orang kedua adalah BBO (Bilateral Balanced Occlusion) dimana gigi geligi posterior pada sisi kerja dan sisi keseimbangan, keduanya dalam keadaan kontak.

15

BAB IV KESIMPULAN

Oklusi adalah hubungan biologis yang dinamis dari komponen-komponen sistem mastikasi untuk mengontrol kontak gigi selama fungsi maupun disfungsi, dengan melibatkan suatu struktur yang terintegrasi antar sistem otot-otot mastikasi, sistem neuromuskuler, TMJ, dan juga gigi geligi. Oklusi gigi dapat dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu oklusi statik (dalam keadaan tidak berfungsi) dan oklusi dinamis (dalam keadaan berfungsi). Seseorang dapat dikatakan dalam kondisi oklusi yang normal, apabila kontak gigi geligi RA dan RB dalam posisi seimbang, dan keadaan over jet serta over bite gigi anterior dalam keadaan normal, dimana kontak itu terjadi antara bidang insisal RB dengan singulum RA dengan nila rata-rata 2-3 mm. Sementara itu jarak in-terocclusal seseorang pada saat posisi istirahat dinamakan free way space dengan nilai normalnya sebesar 24 mm.

16

DAFTAR PUSTAKA

Gros, Martin D; Mahtews, J.D. 1991. Oklusi Dalam Kedokteran Gigi Restoratif. Surabaya : Airlangga University Press. Foster, T.D. 1997. Buku Ajar Ortodonsi Ed.3. Jakarta: EGC Thomson, Hamish. 2007. Oklusi. Jakarta: EGC

17