Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR II

INDEKS BIAS LARUTAN (PERCOBAAN {OP2})

Disusun oleh Nama NIM Fakultas / Jurusan Kelompok Tanggal praktikum Nama Asisten

: AKHMAD REZA FATHAN : 115090801111001 : MIPA / FISIKA : 6 : 27 April 2012 : Amrin Fathoni

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

TUJUAN PERCOBAAN

Setelah menyelesaikan percobaan ini diharapkan peserta praktikum fisika dasar II dengan judul indeks bias larutan dapat menjelaskan prinsip kerja refraktometer abbe, membuat hubungan antara indeks bias dengan konsentrasi larutan gula dan menentukan kadar gula dalam suatu larutan yang tidak diketahui konsentrasinya.

1.2.

DASAR TEORI

Ketika gelombang mengenai perbatasan, sebagian energi dipantulkan dan sebagian diteruskan atau diserap. Ketika gelombang dua atau tiga dimensi yang merambat pada satu medium menyebrangi perbatasan ke medium dimana kecepatannya berbeda, gelombang yang ditransmisikan bisa merambat dengan arah yang berbeda dari gelombang datang. Fenomena ini dikenal sebagai pembiasan (Giancoli.2001).
Gambar 1

Kecepatan gelombang pada medium 2 lebih kecil daripada medium 1. Pada kasus ini, arah gelombang membelok sehingga ia merambat lebih hampir tegak lurus terhadap batas. Jadi, sudut pembiasan , lebih kecil dari sudut datang . Dari kejadian ini dapat

diperlihatkan dengan persamaan :

Dengan membagi kedua persamaan ini didapatkan bahwa

Hukum Snell berbunyi rasio dari sinus dari sudut insiden ke sinus dari sudut bias adalah konstan, untuk setiap dua medium. Hukum ini dapat menjadi suatu persamaan :

Hukum Snell ditemukan oleh matematikawan Belanda, Willebroad Snell pada tahun 1621. Dengan mengaplikasikan hukum geometri, persamaan bisa diperlihatkan antara sinar

dan batas masing-masing dengan kecepatan cahaya di medium 1 dan kecepatan cahaya di medium 2 (Harris.1980).

Persamaan

disebut indeks bias medium 1 dan persamaan

disebut indeks bias

medium 2. Indeks bias dari suatu larutan tidak terpengaruh oleh sinar datang, tetapi dari karakteristik suatu larutan dan panjang gelombang cahaya yang ditransmisikan (Harris.1980).

Tabel nilai indeks bias di berbagai substansi Substansi Larutan 20 Bensin Karbon disulfida Karbon tetraklorin Etil alkohol Gliserin Air Es (-8 ) Substansi Gas 0 , 1 atm Udara Karbondioksida 1,000 293 1,000 45 1,501 1,628 1,461 1,361 1,473 1,333 1,31 Indeks Bias Indeks Bias

(Serway.2009)

Dengan frekuensi tertentu dan kejadian pada titik batas antara medium satu dan medium dua, frekuensi dimana gelombang melewati titik batas pada pengamat dalam medium 2 harus sama dengan frekuensi dimana sinar datang tiba. Frekuensi harus tetap sama dengan sinar cahaya datang dari satu medium ke medium lain (Serway.2009). Kelajuan gem (termasuk di dalamnya cahaya) ketika di vakum, sesuai dengan persamaan Maxwell, adalah . Nilai kelajuan itu berbeda pada medium yang dan di vakum ,

berbeda. Untuk benda bening berpermeabilitas magnet permitivitas listrik permeabilitas magnet dan di vakum

pada tetapan dielektrik k dan tetapan

, maka kelajuan cahaya (v) di medium itu menjadi : (Murdeka.2010)

Didefinisikan adanya parameter baru yaitu indeks bias (n) sebagai hasil perbandingan antara kelajuan cahaya di vakum (c) dengan ketika di medium bening yang lain (v) yaitu :

Dimana Kenyataan menunjukan bahwa k bergantung pada frekuensi medan listrik terdapat pada cahaya sebagai gem (Murdeka.2010).

BAB II METODOLOGI

2.1.

ALAT DAN BAHAN

Alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan fisika dasar II dengan judul indeks bias larutan adalah refraktometer abbe, sebuah lampu pijar, gula, gelas ukur, air, tisu, pengaduk, dan neraca.

2.2.

TATA LAKSANA PERCOBAAN

Dalam praktikum ini hal yang pertama kali dilakukan adalah mempelajari dan mengkalibrasi refraktometer abbe. Diteteskan air murni diatas prisma refraktometer abbe, ditutup dan dicatat indeks bias yang dapat diukur dalam refraktometer abbe. Perhitungan air murni ini diulangi sebanyak tiga kali. Dibuat larutan gula dengan persentase berat 50 % (5 gram gula dalam 5 ml air), 60 % (6 gram gula dalam 4 ml air), 40 % (4 gram gula dalam 6 ml air), 30 % (3 gram gula dalam 7 ml air), 20 % (2 gram gula dalam 8 ml air), 10 % (1 gram gula dalam 9 ml air). Dihitung massa gula sesuai takaran dengan neraca. Dimasukan ke dalam gelas ukur dan diberi air murni sesuai takaran. Larutan dikocok agar gula dapat larut dan bercampur dengan pengaduk. Ditetes larutan gula dengan berbagai konsentrasi satu per satu. Ditutup dan dicatat indeks biasnya. Pengukuran ini dilakukan sebanyak tiga kali. Dibuat sebuah larutan gula dengan konsentrasi yang belum diketahui. Dalam larutan ini dibuat dengan 7 gram gula dan 3 ml air. Diteteskan larutan gula yang belum diketahui konsentrasinya ini diatas prisma refraktometer abbe. Ditutup dan dicatat indeks biasnya (n).

2.3.

GAMBAR/SET ALAT PERALATAN

BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1.

DATA HASIL PERCOBAAN


PROSENTASE LARUTAN (%) 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% Belum diketahui INDEKS BIAS (n) 1 0,384 0,985 1,435 1,435 0,885 0,384 0,985 0,584 2 0,784 0,985 1,235 1,435 0,885 0,584 1,435 0,784 3 0,584 0,734 1,235 1,485 0,985 0,884 1,435 0,784

3.2.

PERHITUNGAN

3.2.1. Prosentase larutan 0 % sampai 60 % a) 0 %


NO 1 2 3 Jumlah Rata-rata INDEKS BIAS (n) 0,384 0,784 0,584 1,752 0,584 |n-n|2 0,04 0,04 0 0,08 0,026667

b) 10 %
NO 1 2 3 Jumlah Rata-rata INDEKS BIAS (n) 0,985 0,985 0,734 2,704 0,901333333 |n-n|2 0,007 0,007 0,028 0,042001 0,014

c) 20 %
NO 1 2 3 Jumlah Rata-rata INDEKS BIAS (n) 1,435 1,235 1,235 3,905 1,301666667 |n-n|2 0,017778 0,004444 0,004444 0,026667 0,008889

d) 30 %
NO 1 2 3 Jumlah Rata-rata INDEKS BIAS (n) 1,435 1,435 1,485 4,355 1,451666667 |n-n|2 0,000278 0,000278 0,001111 0,001667 0,000556

e) 40 %
NO 1 2 3 Jumlah Rata-rata INDEKS BIAS (n) 0,885 0,885 0,985 2,755 0,918333333 |n-n|2 0,001111 0,001111 0,004444 0,006667 0,002222

f) 50 %
NO 1 2 3 Jumlah Rata-rata INDEKS BIAS (n) 0,384 0,584 0,884 1,852 0,617333333 |n-n|2 0,054444 0,001111 0,071111 0,126667 0,042222

g) 60 %
NO 1 2 3 Jumlah Rata-rata INDEKS BIAS (n) 0,985 1,435 1,435 3,855 1,285 |n-n|2 0,09 0,0225 0,0225 0,135 0,045

h) Rata-rata
NO 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah Rata-rata INDEKS BIAS (n) 0,584 0,901 1,301 1,451 0,918 0,617 1,285 7,057 1,008142857 |n-n|2 0,179897 0,01148 0,085765 0,196122 0,008126 0,152993 0,07665 0,711033 0,101576

3.2.2. Prosentase larutan tak diketahui

NO 1 2 3 Jumlah Rata-rata

INDEKS BIAS (n) 0,584 0,784 0,784 2,152 0,717333333

|n-n|2 0,017778 0,004444 0,004444 0,026667 0,008889

3.3.

ANALISIS GRAFIK

3.4.

ANALISA HASIL

3.4.1. FUNGSI ALAT DAN BAHAN


Dalam percobaan fisika dasar II dengan judul indeks bias larutan dibutuhkan peralatan-peralatan dan bahan-bahan. Peralatan yang digunakan adalah refraktometer abbe, lampu pijar, gelas ukur, tisu, pengaduk, dan neraca. Refraktometer abbe merupakan alat yang berfungsi untuk menghitung nilai indeks bias dari suatu larutan. Lampu pijar digunakan sebagai pemberi cahaya pada pengamatan dengan refraktometer abbe. Gelas ukur digunakan sebagai tempat pembuatan larutan dan sebagai pengukur volume air. Tisu digunakan untuk membersihkan sisa air di prisma refraktometer abbe. Pengaduk digunakan untuk mengaduk gula dan air agar larut dan neraca digunakan untuk menimbang berat gula. Bahan-bahan yang digunakan adalah gula dan air. Gula dan air dibutuhkan untuk membuat larutan gula. Gula dipilih karena mudah untuk larut, mudah didapat dan ketika menjadi larutan pekat, kekentalannya terlihat jelas.

3.4.2. FUNGSI PERLAKUAN


Dalam percobaan ini dilakukan suatu prosedur-prosedur. Dan didalam prosedur inilah dibutukan perlakuan-perlakuan yang baik dan benar agar hasil yang didapat akurat. Pada percobaan indeks bias larutan ini yang dijadikan bahan uji adalah air murni dan larutan gula. Larutan gula digunakan karena mudah dibuat, bahannya mudah didapat dan memiliki kekentalan yang terlihat jelas. Sedangkan air murni digunakan untuk pembanding. Larutan gula yang digunakan memiliki konsentrasi yang berbeda-beda, karena percobaan ini ingin mengetahui pengaruh konsentrasi larutan terhadap indeks bias. Yang pertama kali dilakukan adalah mengenal dan mengkalibrasi refraktometer abbe. Ada dua lensa, diatas dan dibawah. Lensa diatas untuk menempatkan lensa pada objek larutan sedangkan yang bawah untuk mengukur nilai indeks bias. Refraktometer telah dikalibrasi, dituangkan air murni pada prisma refraktometer abbe. Dinyalakan lampu pijar untuk memberikan cahaya. Pada lensa atas, tempatkan tanda X pada area yang gelap dan pada lensa bawah hitung skala nilai indeks bias. Pengamatannya harus dengan ketelitian tinggi agar hasil yang didapat akurat. Pengamatan air murni selesai, dibersihkan sisa air dari prisma refraktometer abbe. Dibuat larutan gula dengan konsentrasi 60%, 50%, 40%, 30%, 20%, 10%. Ditimbang gula dengan neraca sesuai dengan takaran, 60 % (6 gram gula dalam 4 ml air), 40 % (4 gram gula dalam 6 ml air), 30 % (3 gram gula dalam 7 ml air), 20 % (2 gram gula dalam 8 ml air), 10 % (1 gram gula dalam 9 ml air). Ditempatkan pada gelas ukur dan diaduk dengan pengaduk sampai gula larut agar larutan menjadi homogen. Ditetskan setiap larutan berbeda konsentrasinya di prisma refraktometer abbe satu per satu. Pengamatan ini dilakukan tiga kali agar adanya variasi data dan memperkecil ralat. Dibuat juga larutan dengan konsentrasi belum diketahui (dalam percobaan ini 7 gram gula dan 3 ml air).

3.4.3. ANALISA HASIL


Indeks bias pada medium didefinisikan sebagai perbandingan antara kecepatan cahaya didalam ruang hampa udara dengan cepat rambat cahaya pada suatu medium. Secara matematis indeks bias dapat ditulis :

Dimana n adalah indeks bias, c kecepatan cahaya pada ruang hampa dan rambat cahaya pada suatu medium. Bila dari suatu indeks bias tidak pernah lebih kecil dari satu atau

adalah cepat

. Indeks bias

suatu zat adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara terhadap kecepatan cahaya dalam zat tersebut atau perbandingan sinus sudut datang terhadap sudut sinus bias. Hanya suatu indeks bias berubah-ubah tegantung pada panjang gelombang cahaya dan suhu. Ketika gelombang mengenai perbatasan, sebagian energi dipantulkan dan sebagian diteruskan atau diserap. Ketika gelombang dua atau tiga dimensi yang merambat pada satu medium menyebrangi perbatasan ke medium dimana kecepatannya berbeda, gelombang yang ditransmisikan bisa merambat dengan arah yang berbeda dari gelomban datang. Fenomena ini dikenal sebagai pembiasan. Gambar 1

Anda mungkin juga menyukai