Anda di halaman 1dari 44

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak semua orang yang perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak. Hidup dengan sehat merupakan suatu kebutuhan yang penting dari kondisi secara fisik mapun psikis yang memungkinkan seseorang hidup lebih produktif. Untuk itu perlu dilakukan upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat yaitu dengan meningkatkan kesadaran hidup sehat, upaya pencegahan dan penyembuhan penyakit, serta pengobatan yang dilakukan sesuai dengan anjuran petugas kesehatan yang profesional. Menurunya derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas) diakibatkan oleh meningkatnya angka kesakitan pada keluarga sasaran khususnya keluarga rawan, keluarga yang rentan terhadap masalah kesehatan. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor antara lain meningkatnya suatu penyakit di masyarakat, kurangnya kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas, kurang akuratnya data yang tersedia dan lingkungan yang tidak sehat dan bersih. Dewasa ini, penyakit degeneratif yang banyak terjadi di masyarakat dan mempunyai tingkat mortalitas yang cukup tinggi serta mempengaruhi kualitas hidup dan produktifitas seseorang salah satunya adalah penyakit hipertensi. Menurut Marliani (2007) bahwa hipertensi atau tekananan darah tinggi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140 / 90 mmHg. Prevalensi hipertensi di dunia pada tahun 2006 menurut WHO di seluruh dunia terdapat 972 juta orang atau 26,4% penghuni bumi mengalami kejadian hipertensi. Angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 juta sisanya berada di negara sedang berkembang, temasuk Indonesia (Andra, 2007). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2007 prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari total jumlah penduduk dewasa. Hipertensi merupakan penyebab kematian utama ketiga di Indonesia untuk semua umur (6,8%), setelah stroke (15,4%) dan tuberkulosis (7,5%). Prevalensi hipertensi di Jawa dan Sumatera memiliki prevalensi yang lebih tinggi dari prevalensi

nasional. Angka kejadian hipertensi di Indonesia paling banyak terjadi di daerah Jawa Barat yaitu mencapai 47,8% (Departemen Kesehatan RI, 2009). Penyakit hipertensi merupakan salah satu penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Namun menurut Yogiantoro (2006) bahwa hipertensi esensial merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi dan sisanya hipertensi sekunder yaitu tekanan darah tinggi yang penyebabnya dapat diklasifikasikan, diantaranya adalah kelainan organik seperti penyakit ginjal, kelainan pada korteks adrenal, pemakaian obat-obatan sejenis kortikosteroid, dan lain-lain. Kejadian hipertensi dengan bertambahnya usia selalu mengalami peningkatkan sehingga perlu diwaspadai dan ditangani dengan tepat karena risikonya yang dapat menyebabkan kematian. Menurut Sustrani (2006) hipertensi mengakibatkan jantung bekerja lebih keras sehingga proses perusakan dinding pembuluh darah berlangsung dengan lebih cepat. Hipertensi meningkatkan resiko penyakit jantung dua kali dan meningkatkan resiko stroke delapan kali dibanding dengan orang yang tidak mengalami hipertensi. Selain itu hipertensi juga menyebabkan terjadinya payah jantung, gangguan pada ginjal dan kebutaan serta yang paling parah adalah efek jangka panjangnya yang berupa kematian mendadak. Menurut Crea (2008) menyatakan bahwa pada umumnya penderita hipertensi adalah orangorang yang berusia 45 tahun ke atas namun pada saat ini tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang berusia muda. Beberapa hal yang dapat memicu penyakit hipertensi adalah ketegangan, kekhawatiran, status sosial, kebisingan, gangguan dan kegelisahan. Pengendalian pengaruh dan emosi negatif tersebut tergantung juga pada kepribadian masing-masing individu. Hipertensi dapat dipengaruhi oleh gaya hidup (merokok, minum kopi, minum alkohol, olah raga) dan juga kepribadian. Gaya hidup dan kepribadian merupakan faktor yang sangat penting untuk dikaji karena kedua faktor tersebut merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat yang pada akhirnya akan tercapai atau tidaknya derajat kesehatan masyarakat tersebut. Menurut Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa derajat kesehatan masyarakat berkaitan dengan status kesehatan masyarakat ini dapat diukur dari beberapa aspek salah satunya adalah dari segi health behaviour. Health behaviour merupakan perilaku nyata dari anggota masyarakat yang secara langsung berkaitan dengan kesehatan masyarakat itu sendiri. Artinya bahwa penyakit hipertensi yang berkembang di masyarakat ini dapat disebabkan oleh perilaku masyarakat itu sendiri dalam hal ini adalah gaya hidup dan kepribadian masyarakat. Berdasarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka tahun 2011 kejadian hipertensi yaitu 45.187 kejadian terdiri dari 41.981 (92,9%) hipertensi primer dan 3.206 (7,1%) hipertensi sekunder. Sementara kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka dari tahun ke tahun pun

mengalami peningkatan. Jumlah pasien baru hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka menunjukan kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun 2009 tercatat terdapat 1.671 kasus hipertensi, sedangkan pada tahun 2010 kejadian hipertensi meningkat menjadi 2.632 kasus dan pada tahun 2011 terjadi lagi peningkatan kasus hipertensi menjadi 3.412 kasus. Peningkatan kasus hipertensi yang terjadi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari petugas kesehatan dan apabila dibandingkan dengan puskesmas lainnya angka kejadian hipertensi ini lebih tinggi salah satunya dengan UPTD Puskesmas Panyingkiran yaitu sebesar 3.006 kejadian. Tingginya kejadian hipertensi di tengah-tengah masyarakat perlu dikaji secara mendalam dan diketahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hal ini akan berkontribusi positif bagi keperawatan komunitas dalam menggali dan mengetahui fenomena perilaku masyarakat yang secara langsung berdampak pada meningkatnya kejadian hipertensi. Pentingnya kajian mengenai hipertensi ini maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan gaya hidup dan kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012. 1.2 Rumusan Masalah Kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka dari tahun ke tahun mengalami peningkatan pada tahun 2009 tercatat sejumlah 1.671 kasus, tahun 2010 sejumlah 2.632 kasus dan tahun 2011 sejumlah 3.412 kasus. Bila dibandingkan dengan Puskesmas Panyingkiran maka angka kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka lebih tinggi. Peningkatan tersebut diduga timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor. Berdasarkan hal tersebut, maka yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah Apakah ada hubungan antara gaya hidup dan kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012?. 1.3 Ruang Lingkup Penelitian Pada penelitian ini dibatasi pada faktor gaya hidup dan kepribadian, serta hubungan antara kedua faktor tersebut dengan kejadian hipertensi. Subjek penelitian ini adalah penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli tahun 2012. Alasan penelitian ini dilakukan karena kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Jenis penelitian ini akan menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan case control.

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum Diketahuinya hubungan antara gaya hidup dan kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012.

1.4.2 Tujuan Khusus 1) Diketahuinya gambaran kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka

Kabupaten Majalengka Tahun 2012. 2) Diketahuinya gambaran gaya hidup di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012. 3) Diketahuinya gambaran kepribadian di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012. 4) Diketahuinya hubungan antara gaya hidup dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012. 5) Diketahuinya hubungan antara kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja

UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi UPTD Puskesmas Majalengka Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan masukan mengenai perilaku kesehatan masyarakat khususnya gaya hidup dan kepribadian di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka sehingga menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat untuk mencegah hipertensi melalui perilaku hidup sehat. 1.5.2 Bagi Pasien Hipertensi Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan wawasan mengenai kebiasaankebiasaan masyarakat yang dapat menimbulkan penyakit hipertensi.

1.5.3 Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan ilmiah yang bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya tentang penyakit hipertensi. 1.5.4 Bagi Peneliti Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan wawasan tentang penyakit hipertensi dan faktor-faktor yang menjadi penyebabnya serta menambah pengalaman dalam melakukan penelitian di lapangan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi 2.1.1 Pengertian Hipertensi Beberapa definisi tentang hipertensi telah diungkapkan oleh beberapa ahli atau penulis buku tentang hipertensi diantaranya menurut Marliani (20070 menyatakan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140 / 90 mmHg. Menurut Crea (2008) hipertensi adalah istilah medis untuk penyakit tekanan darah tinggi dan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak diderita di dunia termasuk di Indonesia. Hipertensi termasuk penyakit umum, tanpa disertai gejala khusus dan biasanya dapat ditangani secara mudah, namun bila dibiarkan tanpa penanganan dapat menyebabkan bebagai komplikasi yang lebih parah berupa penyakit jantung dan pembuluh darah seperti aterosklerosis, infark miokard, gagal jantung, gangguan fungsi ginjal dan kematian dini. Menurut Shanty (2011) menyatakan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit yang umum terjadi dalam masyarakat kita. Keadaan itu terjadi jika tekanan darah pada arteri utama didalam tubuh terlalu tinggi. Hipertensi kini semakin sering dijumpai pada orang lanjut usia. Berdasarkan beberapa pengertian hipertensi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah salah satu penyakit yang biasanya gangguan terjadi pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140 / 90 mmHg 2.1.2 Etiologi Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi atas hipertensi esensial dan hipertensi sekunder yaitu sebagai berikut (Setiawati dan Bustami, 2005): 1) Hipertensi esensial, juga disebut hipertensi primer atau idiopatik, adalah hipertensi yang

tidak jelas etiologinya. Lebih dari 90% kasus hipertensi termasuk dalam kelompok ini. Kelainan hemodinamik utama pada hipertensi esensial adalah peningkatan resistensi perifer. Penyebab hipertensi esensial adalah mulitifaktor, terdiri dari factor genetic dan lingkungan. Factor keturunan bersifat poligenik dan terlihat dari adanya riwayat penyakit kardiovaskuler dari keluarga. Faktor predisposisi genetic ini dapat berupa sensitivitas pada natrium, kepekaan terhadap stress, peningkatan reaktivitas vascular

(terhadap vasokonstriktor), dan resistensi insulin. Paling sedikit ada 3 faktor lingkungan yang dapat menyebabkan hipertensi yakni, makan garam (natrium) berlebihan, stress psikis, dan obesitas. 2) Hipertensi sekunder. Prevalensinya hanya sekitar 5-8 % dari seluruh penderita hipertensi.

Hipertensi ini dapat disebabkan oleh penyakit ginjal (hipertensi renal), penyakit endokrin (hipertensi endokrin), obat, dan lain-lain. Hipertensi renal dapat berupa: a. Hipertensi renovaskular, adalah hipertensi akibat lesi pada arteri ginjal sehingga menyebabkan

hipoperfusi ginjal. b. Hipertensi akibat lesi pada parenkim ginjal menimbulkan gangguan fungsi ginjal. Sementara menurut Sutanto (2009), penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan-perubahan pada : 1) Elastisitas dinding aorta menurun 2) Katub jantung menebal dan menjadi kaku 3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. 4) Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi 5) Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

2.1.3 Klasifikasi Hipertensi Klasifikasi hipertensi menurut JNC (Joint National Committee On Prevention, Detection, Evaluation, And The Treatment Of High Blood Pressure), yang dikaji oleh 33 ahli hipertensi nasional Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan bahwa nilai tekanan darah yang sebelumnya dipertimbangkan normal ternyata dapat menyebabkan peningkatan resiko komplikasi kardiovaskuler. Sehingga mendorong pembuatan klasifikasi baru pada JNC 7, yaitu terdapat pra hipertensi dimana tekanan darah sistol pada kisaran 120-139 mmHg, dan tekanan darah diastole pada kisaran 80-89 mmHg. Hipertensi level 2 dan 3 disatukan menjadi level 2. Tujuan dari klasifikasi JNC 7 adalah untuk mengidentifikasi individu-individu yang dengan penanganan awal berupa perubahan gaya hidup, dapat membantu menurunkan tekanan darahnya ke level hipertensi yang sesuai dengan usia.

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC VII

Klasifikasi tekanan darah Normal Prehipertensi Hipertensi stadium 1 Hipertensi stadium 2


(Sumber: Crea, 2008:8)

Tekanan darah Sistol (mmHg) < 120 120-139 140-159 > 160

Tekanan darah Diastol (mmHg) Dan < 80 Atau 80-89 Atau 90-99 Atau > 100

WHO dan ISHWG (International Society Of Hypertension Working Group) mengelompokkan hipertensi ke dalam klasifikasi optimal, normal, normal-tinggi, hipertensi ringan, hipertensi sedang, dan hipertensi berat yaitu sebagai berikut: Tabel 2.2 Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO

Kategori Optimal Normal Normal - tinggi Tingkat 1 (hipertensi ringan) Sub grup: perbatasan Tingkat 2 (hipertensi sedang) Tingkat 3 (hipertensi berat) Hipertensi sistol terisolasi Sub-gruo: perbatasan
(Sumber: Crea, 2008:9)

Sistol < 120 < 130 130 139 140 159 140 149 160 179 180 140 140 - 149

Diastol < 80 < 85 85 89 90 99 90 94 100 109 110 < 90 < 90

Perhimpunan Hipertensi Indonesia pada januari 2007 meluncurkan pedoman penanganan hipertensi di Indonesia, yang diambil dari pedoman Negara maju dan Negara tetangga. Dan klasifikasi hipertensi ditentukan berdasarkan ukuran tekanan darah sistolik dan diastolic dengan merujuk hasil JNC 7 dan WHO yaitu sebagai berikut: Tabel 2.3 Klasifikasi Hipertensi Hasil Consensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia

Kategori tekanan darah Normal Prehipertensi Hipertensi stadium 1 Hipertensi stadium 2

Tekanan darah Sistol (mmHg) < 120 120 139 140 159 > 160

Tekanan darah Diastol (mmHg) Dan < 80 Atau 80-89 Atau 90-99 Atau > 110

Hipertensi sistol terisolasi


(Sumber: Crea, 2008:9)

140

< 90

2.1.4 Patofisiologi Patofisiologi hipertensi masih belum jelas, banyak faktor yang saling berhubungan terlibat dalam peningkatan tekanan darah pada pasien hipertensi esensial. Namun, pada sejumlah kecil pasien penyakit ginjal atau korteks adrenal (2% dan 5%) merupakan penyebab utama peningkatan tekanan darah (hipertensi sekunder) namun selebihnya tidak terdapat penyebab yang jelas pada pasien penderita hipertensi esensial. Beberapa mekanisme fisiologi turut berperan aktif pada tekanan darah normal dan yang terganggu. Hal ini mungkin berperan penting pada perkembangan penyakit hipertensi esensial. Terdapat banyak faktor yang saling berhubungan terlibat dalam peningkatan tekanan darah pada pasien hipertensi (Crea, 2008). Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu

dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Crea, 2008). Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Crea, 2008).

Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan struktural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Rohaendi, 2008).

2.1.5 Gejala Hipertensi Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala khusus. Menurut Sutanto (2009), gejala-gejala yang mudah diamati antara lain yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Gejala ringan seperti pusing atau sakit kepala Sering gelisah Wajah merah Tengkuk terasa pegal Mudah marah Telinga berdengung Sukar tidur Sesak napas Rasa berat ditengkuk

10) Mudah lelah 11) Mata berkunang-kunang 12) Mimisan (keluar darah dari hidung). Menurut Crea (2008) gejala hipertensi adalah sakit kepala bagian belakang dan kaku kuduk, sulit tidur dan gelisah atau cemas dan kepala pusing, dada berdebar-debar dan lemas, sesak nafas, berkeringat, dan pusing.

2.1.6 Komplikasi Hipertensi Hipertensi dapat berpotensi menjadi komplikasi berbagai penyakit diantaranya adalah stroke hemorragik, penyakit jantung hipertensi, penyakit arteri koronaria anuerisma, gagal ginjal, dan ensefalopati hipertensi (Shanty, 2011). 1) Stroke

Stroke adalah kerusakan jaringan otak yang disebabkan karena berkurangnya atau terhentinya suplai darah secara tiba-tiba. Jaringan otak yang mengalami hal ini akan mati dan tidak dapat berfungsi lagi. Kadang pula stroke disebut dengan CVA (cerebrovascular accident). Hipertensi menyebabkan tekanan yang lebih besar pada dinding pembuluh darah, sehingga dinding pembuluh darah menjadi lemah dan pembuluh darah rentan pecah. Namun demikian, hemorrhagic stroke juga dapat terjadi pada bukan penderita hipertensi. Pada kasus seperti ini biasanya pembuluh darah pecah karena lonjakan tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan atau faktor emosional. Pecahnya pembuluh darah di suatu tempat di otak dapat menyebabkan sel-sel otak yang seharusnya mendapat pasokan oksigen dan nutrisi yang dibawa melalui pembuluh darah tersebut menjadi kekurangan nutrisi dan akhirnya mati. Darah yang tersembur dari pembuluh darah yang pecah tersebut juga dapat merusak sel-sel otak yang berada disekitarnya. 2) Penyakit Jantung

Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah dari ventrikel kiri, sebagai akibatnya terjadi hipertropi ventrikel untuk meningkatkan kekuatan kontraksi. Kebutuhan oksigen oleh miokardium akan meningkat akibat hipertrofi ventrikel, hal ini mengakibat peningkatan beban kerja jantung yang pada akhirnya menyebabkan angina dan infark miokardium. Disamping itu juga secara sederhana dikatakan peningkatan tekanan darah mempercepat aterosklerosis dan arteriosclerosis. 3) Penyakit Arteri Koronaria

Hipertensi umumnya diakui sebagai faktor resiko utama penyakit arteri koronaria, bersama dengan diabetes mellitus. Plak terbentuk pada percabangan arteri yang ke arah aterikoronaria kiri, arteri koronaria kanan dan agak jarang pada arteri sirromflex. Aliran darah kedistal dapat mengalami obstruksi secara permanen maupun sementara yang di sebabkan olehakumulasi plak atau penggumpalan. Sirkulasi kolateral berkembang di sekitar obstruksiarteromasus yang menghambat pertukaran gas dan nutrisi ke

miokardium. Kegagalan sirkulasikolateral untuk menyediakan supply oksigen yang adekuat ke sel yang berakibat terjadinya penyakit arteri koronaria. 4) Aneurisme

Pembuluh darah terdiri dari beberapa lapisan, tetapi ada yang terpisah sehingga memungkinkan darah masuk. pelebaran pembuluh darah bisa timbul karena dinding pembuluh darah aorta terpisah atau disebut aorta disekans. kejadian ini dapat menimbulkan penyakit aneurisma diamana gejalanya adalah sakit kepala yang hebat, sakit di perut sampai ke pinggang belakang dan di ginjal. aneurisme pada perut dan dada penyebab utamanya pengerasan dinding pembuluh darah karena proses penuaan (aterosklerosis) dan tekanan darah tinggi memicu timbulnya aneurisme.

2.1.7 Pencegahan Hipertensi Agar terhindar dari komplikasi fatal hipertensi, harus diambil tindakan pencegahan yang baik (stop High Blood Pressure), antara lain menurut (Crea, 2008), dengan cara sebagai berikut: 1) Mengurangi konsumsi garam. Pembatasan konsumsi garam sangat dianjurkan, maksimal 2 g garam dapur untuk diet setiap hari. 2) Menghindari kegemukan (obesitas). Hindarkan kegemukan (obesitas) dengan menjaga berat badan (b.b) normal atau tidak berlebihan. Batasan kegemukan adalah jika berat badan lebih 10% dari berat badan normal. 3) Membatasi konsumsi lemak. Membatasi konsumsi lemak dilakukan agar kadar kolesterol darah tidak terlalu tinggi. Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya endapan kolesterol dalam dinding pembuluh darah. Lama kelamaan, jika endapan kolesterol bertambah akan menyumbat pembuluh nadi dan menggangu peredaran darah. Dengan demikian, akan memperberat kerja jantung dan secara tidak langsung memperparah hipertensi. 4) Olahraga teratur. Menurut penelitian, olahraga secara teratur dapat meyerap atau menghilangkan endapan kolesterol dan pembuluh nadi. Olahraga yang dimaksud adalah latihan menggerakkan semua sendi dan

otot tubuh (latihan isotonik atau dinamik), seperti gerak jalan, berenang, naik sepeda. Tidak dianjurkan melakukan olahraga yang menegangkan seperti tinju, gulat, atau angkat besi, karena latihan yang berat bahkan dapat menimbulkan hipertensi. 5) Makan banyak buah dan sayuran segar. Buah dan sayuran segar mengandung banyak vitamin dan mineral. Buah yang banyak mengandung mineral kalium dapat membantu menurunkan tekanan darah. 6) Tidak merokok dan minum alkohol. 7) Latihan relaksasi atau meditasi. Relaksasi atau meditasi berguna untuk mengurangi stress atau ketegangan jiwa. Relaksasi dilaksanakan dengan mengencangkan dan mengendorkan otot tubuh sambil membayangkan sesuatu yang damai, indah, dan menyenangkan. Relaksasi dapat pula dilakukan dengan mendengarkan musik, atau bernyanyi. 8) Berusaha membina hidup yang positif. Dalam kehidupan dunia modern yang penuh dengan persaingan, tuntutan atau tantangan yang menumpuk menjadi tekanan atau beban stress (ketegangan) bagi setiap orang. Jika tekanan stress terlampau besar sehingga melampaui daya tahan individu, akan menimbulkan sakit kepala, suka marah, tidak bisa tidur, ataupun timbul hipertensi. Agar terhindar dari efek negative tersebut, orang harus berusaha membina hidup yang positif. Beberapa cara untuk membina hidup yang positif adalah sebagai berikut: a. b. c. Mengeluarkan isi hati dan memecahkan masalah Membuat jadwal kerja, menyediakan waktu istirahat atau waktu untuk kegiatan santai. Menyelesaikan satu tugas pada satu saat saja, biarkan orang lain menyelesaikan bagiannya.

d. Sekali-sekali mengalah, belajar berdamai. e. f. Cobalah menolong orang lain. Menghilangkan perasaan iri dan dengki.

2.1.8 Penatalaksanaan Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah target tekanan darah yatiu < 140/90 mmHg dan untuk individu berisiko tinggi seperti diabetes melitus, gagal ginjal target tekanan darah adalah < 130/80 mmHg, penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler dan menghambat laju penyakit ginjal. Pada umumnya penatalaksanaan pada pasien hipertensi meliputi dua cara yaitu (Yogiantoro, 2006): 1. Non Farmakologis Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan merokok, menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol berlebih, asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur. a. Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi. b. Meningkatkan aktifitas fisik Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50% daripada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit sebanyak > 3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi. c. Mengurangi asupan natrium Apabila diet tidak membantu dalam 6 bulan, maka perlu pemberian obat anti hipertensi oleh dokter. d. Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol Kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi. 2. Farmakologis Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh JNC VII yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau

calcium antagonist, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/ blocker (ARB).

2.2 Konsep Perilaku Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif maupun aktif (melakukan tindakan) (Maulana, 2009). Perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktifitas dari manusia itu sendiri, yang mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpikir, persepsi dan emosi. Perilaku juga dapat diartikan sebagai aktifitas organisme, baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Notoatmodjo, 2007). Perilaku dan gejala yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik dan hidup terutama perilaku manusia. Faktor keturunan merupakan konsep dasar atau modal untuk perkembangan perilaku makhluk hidup itu selanjutnya, sedangkan lingkungan merupakan kondisi atau lahan untuk perkembangan perilaku tersebut (Sudarma, 2008). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa banyak perilaku yang melekat pada diri manusia baik secara sadar maupun tidak sadar. Salah satu perilaku yang penting dan mendasar bagi manusia adalah perilaku kesehatan. 2.2.1 Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan menurut Skinner dalam Notoatmodjo (2007) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, minuman dan lingkungan. Becker (1979) dalam Notoatmodjo (2007), membuat klasifikasi tentang perilaku kesehatan yang terdiri dari: 1. Perilaku Hidup Sehat Perilaku hidup sehat adalah perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya yang mencakup antara lain: a. Makan dan menu seimbang (appropriate diet)

b.

Olahraga teratur

c. Tidak merokok d. Tidak minum-minuman keras dan narkoba e. f. g. Istirahat yang cukup Mengendalikan stress Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya tidak berganti-ganti

pasangan dalam hubungan seks. 2. Perilaku sakit (IIInes behaviour) Perilaku sakit ini mencakup respons seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang gejala dan penyebab penyakit, dan sebagainya. 3. Perilaku peran sakit (the sick role behaviour) Orang sakit (pasien) mempunyai hak dan kewajiban sebagai orang sakit, yang harus diketahui oleh orang sakit itu sendiri maupun orang lain (terutama keluarganya). Perilaku ini disebut perilaku peran sakit (the sick role) yang meliputi: a. Tindakan untuk memperoleh kesembuhan b. c. Mengenal / mengetahui fasilitas atau sarana pelayanan/penyembuhan penyakit yang layak. Mengetahui hak (misalnya : hak memperoleh perawatan, memperoleh pelayanan kesehatan,

dan sebagainya) dan kewajiban orang sakit (memberitahukan penyakitnya kepada orang lain terutama kepada dokter/petugas kesehatan, tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain, dan sebagainya). 2.2.2 Bentuk-Bentuk Perilaku Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2007), seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Berdasarkan rumus teori Skinner tersebut maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Perilaku tertutup (covert behavior)

Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. 2. Perilaku terbuka (overt behavior) Perilaku terbuka ini terjadi bila respon terhadap stimulus sudah berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau observable behavior. Dari penjelasan di atas dapat disebutkan bahwa perilaku itu terbentuk di dalam diri seseorang dan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu : a. Faktor eksternal, yaitu stimulus yang merupakan faktor dari luar diri seseorang. Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, maupun non-fisik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi maupun politik. b. Faktor internal, yaitu respon yang merupakan faktor dari dalam diri seseorang. Faktor internal yang menentukan seseorang merespon stimulus dari luar dapat berupa perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi, sugesti dan sebagainya. Dari penelitian-penelitian yang ada faktor eksternal merupakan faktor yang memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk perilaku manusia karena dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya dimana seseorang itu berada (Notoatmodjo, 2007).

2.2.3 Teori Health Belief Model (HBM) Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi. Sering tidak disadari bahwa interaksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan perilaku tertentu. Karena itu amat penting untuk dapat menelaah alasan dibalik perilaku individu, sebelum mampu mengubah perilaku tersebut (Machfoedz, 2006). Health Belief Model (HBM) adalah suatu model kepercayaan penjabaran dari model sosiopsikologis. Munculnya model ini didasarkan pada kenyataan bahwa masalah-masalah kesehatan ditandai oleh kegagalan orang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider. Kegagalan ini akhirnya memunculkan teori yang menjelaskan perilaku pencegahan penyakit menjadi model kepercayaan kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

Health Belief Model (HBM) dikembangkan sejak tahun 1950 oleh kelompok ahli psikologi sosial dalam pelayanan kesehatan masyarakat Amerika. Model ini digunakan sebagai upaya menjelaskan secara luas kegagalan partisipasi masyarakat dalam program pencegahan atau deteksi penyakit dan sering kali dipertimbangkan sebagai kerangka utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan manusia yang dimulai dari pertimbangan orang-orang tentang kesehatan (Maulana, 2009). Menurut teori HBM derajat kesehatan masyarakat yang ditentukan oleh perilaku sehat masyarakatnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu 1) variabel demografi yaitu umur, jenis kelamin, latar belakang budaya), 2) variabel sosio-psikologis yaitu kepribadian, kelas sosial (gaya hidup), tekanan sosial, dan 3) variabel struktural yaitu pengetahuan dan pengalaman sebelumnya. 2.3 Gaya Hidup Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktifitas, minat dan opininya. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya (Sakinah, 2002). Menurut Lisnawati (2006) gaya hidup sehat menggambarkan pola perilaku sehari-hari yang mengarah pada upaya memelihara kondisi fisik, mental dan sosial berada dalam keadaan positif. Gaya hidup sehat meliputi kebiasaan tidur, makan, pengendalian berat badan, tidak merokok atau minum-minuman beralkohol, berolahraga secara teratur dan terampil dalam mengelola stres yang dialami. Sejalan dengan pendapat Lisnawati, Notoatmojo (2005) menyebutkan bahwa perilaku sehat (healthy behavior) adalah perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan. Untuk mencapai gaya hidup yang sehat diperlukan pertahanan yang baik dengan menghindari kelebihan dan kekurangan yang menyebabkan

ketidakseimbangan yang menurunkan kekebalan dan semua yang mendatangkan penyakit. Hal ini juga didukung oleh pendapat Maulana (2009) yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan kesehatan yang prima jalan terbaik adalah dengan merubah gaya hidup yang terlihat dari aktifitasnya dalam menjaga kesehatan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan gaya hidup adalah pola perilaku individu sehari-hari yang diekspresikan dalam aktifitas, minat dan opininya untuk mempertahankan hidup sedangkan gaya hidup sehat dapat disimpulkan sebagai serangkaian pola perilaku atau kebiasaan hidup sehari-hari untuk memelihara dan menghasilkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit serta melindungi diri untuk sehat secara utuh.

2.3.1 Kebiasaan Merokok Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. Dalam penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari Brigmans and Womens Hospital, Massachussetts terhadap 28.236 subyek yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang perhari (Rahyani, 2007). Telah ditemukan 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan 40 jenis diantaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), dimana bahan racun ini lebih banyak didapatkan pada asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas (asap samping), misalnya karbon monoksida (CO) 5 kali lipat lebih banyak ditemukan pada asap samping daripada asap utama, benzopiren 3 kali, dan amoniak 50 kali. Nikotin dan CO pada rokok selain meningkatkan kebutuhan oksigen, juga mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard) sehingga merugikan kerja miokard. Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh lainnya (Marliani, 2007). Hubungan antara rokok dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. Selain dari lamanya, risiko merokok terbesar tergantung pada jumlah rokok yang dihisap perhari. Seseorang lebih dari satu pak rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok. Zat-zat kimia beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida yang diisap melalui rokok, yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi (Marliani, 2007). Nikotin dalam tembakau merupakan penyebab meningkatnya tekanan darah segara setelah isapan pertama. Seperti zat-zat kimia lain dalam asap rokok, nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil didalam paru-paru dan diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa detik nikotin sudah mencapai otak. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. Setelah merokok dua batang saja maka baik tekanan sistolik maupun diastolik akan meningkat 10 mmHg. Tekanan darah akan tetap pada

ketinggian ini sampai 30 menit setelah berhenti mengisap rokok. Sementara efek nikotin perlahan-lahan menghilang, tekanan darah juga akan menurun dengan perlahan. Namun pada perokok berat tekanan darah akan berada pada level tinggi sepanjang hari (Crea, 2008).

2.3.2 Kebiasaan Minum-minuman Beralkohol Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan. Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun, diduga peningkatan kadar kortisol, dan peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah berperan dalam menaikan tekanan darah. Alkohol hanya mengandung energi tanpa mengandung zat gizi lain, kebiasaan minum alkohol dapat mengakibatkan kurang gizi, penyakit gangguan hati, kerusakan saraf otak dan jaringan serta dapat mengakibatkan hipertensi apabila konsumsi terlalu banyak (Setiawati dan Bustami, 2005). Orang-orang yang minum alkohol terlalu sering atau terlalu banyak, akan cenderung memiliki tekanan darah yang tinggi dari pada individu yang tidak mengkonsumsi alkohol. Berlebihan mengkonsumsi alkohol ( > 2 gelas bir/wine/whiskey/hari) merupakan faktor risiko hipertensi (Sustrani, 2006). Peminum alkohol berat cenderung hipertensi meskipun mekanisme timbulnya hipertensi belum diketahui secara pasti. Orang-orang yang minum alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak memiliki tekanan yang lebih tinggi dari pada individu yang tidak minum atau minum sedikit. Menurut Ali Khomsan konsumsi alkohol harus diwaspadai karena survei menunjukkan bahwa 10 % kasus hipertensi berkaitan dengan konsumsi alkohol. Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun diduga, peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah merah berperan dalam menaikkan tekanan darah (Yogiantoro, 2006). Diperkirakan konsumsi alkohol berlebihan menjadi penyebab sekitar 5-20% dari semua kasus hipertensi. Mengkonsumsi tiga gelas atau lebih minuman berakohol per hari meningkatkan risiko mendapat hipertensi sebesar dua kali. Bagaimana dan mengapa alkohol meningkatkan tekanan darah belum diketahui dengan jelas. Namun sudah menjadi kenyataan bahwa dalam jangka panjang, minumminuman beralkohol berlebihan akan merusak jantung dan organ-organ lain (Shanty, 2011). 2.3.3 Kebiasaan Minum Kopi Konsumsi kopi yang berlebihan dalam jangka yang panjang dan jumlah yang banyak diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit Hipertensi atau penyakit Kardiovaskuler. Beberapa penelitian

menunjukan bahwa orang yang mengkonsumsi kafein (kopi) secara teratur sepanjang hari mempunyai tekanan darah rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan didalam 2-3 gelas kopi (200-250 mg) terbukti meningkatkan tekanan sistolik sebesar 3-14 mmHg dan tekanan diastolik sebesar 4-13 mmHg pada orang yang tidak mempunyai hipertensi (Crea, 2008). Mengkonsumsi kafein secara teratur sepanjang hari mempunyai tekanan darah rata-rata lebih tinggi di bandingkan dengan kalau mereka tidak mengkonsumsi sama sekali. Kebiasaan mengkonsumsi kopi dapat meningkatkan kadar kolesterol darah dan meningkatkan risiko terkena penyakit jantung (Sustrani, 2006). Menurut Rohaendi (2008) kebiasaan minum kopi diklasifikasikan menjadi: a. Minum kopi ringan bila konsumsi kopi kurang dari 200 mg perhari (1-2 gelas sehari ) atau kurang dari 4 sdm perhari b. Minum kopi sedang bila konsumsi kopi 200-400 mg perhari (3-4 gelas sehari) atau konsumsi 4-8 sdm perhari c. Minum kopi berat bila konsumsi lebih dari 400 mg perhari (> 5 gelas sehari) atau konsumsi lebih dari 8 sdm perhari

2.3.4 Kebiasaan Berolahraga Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu. Peningkatan intensitas aktivitas fisik, 30 45 menit per hari, penting dilakukan sebagai strategi untuk pencegahan dan pengelolaan hipertensi. Olah raga atau aktivitas fisik yang mampu membakar 800-1000 kalori akan meningkatkan high density lipoprotein (HDL) sebesar 4.4 mmHg (Khomsan, 2004). Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri. Latihan fisik berupa berjalan kaki selama 30-60 menit setiap hari sangat bermanfaat untuk menjaga jantung dan peredaran darah. Bagi penderita

tekanan darah tinggi, jantung atau masalah pada peredaran darah, sebaiknya tidak menggunakan beban waktu jalan. Riset di Oregon Health Science kelompok laki-laki dengan wanita yang kurang aktivitas fisik dengan kelompok yang beraktifitas fisik dapat menurunkan sekitar 6,5% kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) faktor penting penyebab pergeseran arteri (Rohaendi, 2008). Ketidakaktifan fisik meningkatkan resiko penyakit jantung koroner (CHD) yang setara dengan hiperlipidemia atau merokok, dan seseorang yang tidak aktif secara fisik memiliki resiko 30-50% lebih besar untuk mengalami hipertensi. Selain meningkatkanya perasaan sehat dan kemampuan untuk mengatasi stress, keuntungan latihan aerobik yang teratur adalah meningkatnya kadar HDL-C, menurunnya kadar LDL-C, menurunnya tekanan darah, berkurangnya obesitas, berkurangnya frekuensi denyut jantung saat istirahat dan konsumsi oksigen miokardium (MVO2), dan menurunnya resistensi insulin (Price, 2005).

2.4 Kepribadian 2.4.1 Pengertian Kepribadian adalah karakteristik seseorang yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku (Pervin, 2010). Banyak teori kepribadian yang ditinggalkan oleh para ilmuwan psikologi dunia. Baik yang secara khusus bicara tentang struktur kepribadian, atau yang membahas panjang lebar tentang tahap perkembangan manusia. Seiring berkembang waktu teori-teori itupun mengalami perkembangan, sampai pada masa bermunculan ilmuwan psikologi yang berbicara tentang pembagian tipe kepribadian manusia dengan penetapan dimensi-dimensi sebagai tolok ukur. Kepribadian merupakan sejumlah pola tingkah laku yang aktual dan potensial yang ditentukan oleh bawaan dan lingkungan yang dihubungkan melalui interaksi fungsional dari aspek kognitif dan afektif ke dalam pola tingkah laku. Sadli (2004) mengemukakan bahwa kepribadian adalah proses be coming, yaitu suatu proses dinamis yang berkelanjutan dimulai sejak individu dilahirkan sampai ia meninggal. Oleh karena itu setiap insan yang normal memiliki ciri-ciri kepribadian yang membedakan individu yang satu dengan yang lain. Walaupun perbedaan itu tampak jelas, namun tidak berarti berbeda peranan dalam aspek atau komponen yang terdapat pada pribadi yang bersangkutan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah keseluruhan tingkah laku baik aktual maupun potensial dari individu yang bersifat khas, dinamis dalam hubungannya dengan lingkungan, yang diperoleh individu melalui interaksinya dengan dunia sekitar.

2.4.2 Kepribadian Introvert dan Esktrovert Pembagian tipe kepribadian manusia dalam sifat introvert dan ekstrovert merupakan teori Jung yang sangat populer. Jung menyatakan bahwa kepribadian introvert dan ekstrovert terbentuk berdasarkan sikap jiwa. Sikap jiwa adalah arah energi psikis umum atau libido yang menjelma dan orientasi manusia terhadap dunianya. Arah aktivitas fisik ini dapat ke luar atau ke dalam dan demikian pula arah orientasi manusia dapat ke luar atau ke dalam (Parkinson, 2004). Jung menyatakan bahwa ekstrovert diartikan sebagai keramahan, terus terang, cepat akrab, berakomodasi secara natural dan mudah menyesuikan diri dengan berbagai situasi, jarang was-was, sering berspekulasi dan sembrono pada situasi yang belum dikenal. Introvert sebaliknya, berhubungan dengan keragu-raguan, reflektif defensif, menarik dari obyek, dan senang bersembunyi dibalik rasa ketidakpercayaan (Parkinson, 2004). Eysenck menyatakan bahwa orang introvert cenderung mengembangkan gejala-gejala ketakutan dan depresi yang ditandai dengan kecenderungan obsesi, mudah tersinggung, apatis, syaraf otonom mereka labil, gampang terluka, mudah gugup, rendah diri, mudah melamun, sukar tidur. Sedangkan orang ekstrovert memperlihatkan kecenderungan untuk mengembangkan gejala-gejala histeris, sedikit energi, perhatian sempit, sejarah kerja yang kurang baik, hipokondriosis (Ahmadi, 2005). Jung menyatakan apabila orientasi seseorang terhadap sesuatu itu sedemikian rupa sehingga keputusan-keputusan dan tindakannya tidak dikuasai oleh pendapat subyektifitas melainkan ditentukan oleh faktor-faktor obyektif atau faktor luar, maka orang yang demikian itu mempunyai orientasi ekstrovert. Apabila orientasi ini menjadi kebiasaan, maka orangnya dikatakan tipe ekstrovert. Sebaliknya apabila seseorang menghadapi sesuatu, faktor-faktor yanng berpengaruh adalah faktor subyektif atau yang berasal dari dunia batin sendiri, maka orang tersebut mempunyai orientasi introvert (Ahmadi, 2005). Parkinson (2004), menyatakan orang introvert biasanya kaku, suka menyendiri, hati-hati dan terkontrol. Orang dengan kepribadian ekstrovert biasanya impulsif, suka menuruti dorongan hati, mudah berubah, mudah dipengaruhi dan terangsang, agresif, mudah gelisah, tersinggung dan mudah marah. Introvert dan ekstrovert dimaksudkan sebagai derajat mana orientasi seseorang ditujukan ke dalam, pada diri seseorang atau ditujukan keluar dunia luar. Pada ujung introvert pada skala terdapat individu yang pemalu dan lebih suka bekerja sendirian, mereka cenderung menarik diri ke dalam diri mereka sendiri terutama pada saat mereka mengalami stres, emosional atau konflik. Pada ujung ekstrovert terdapat individu yang peramah dan suka bergaul, menyukai pekerjaan yang memungkinkan mereka bekerja secara langsung dengan orang lain, pada saat stres mereka mencari kawan (Parkinson, 2004).

2.4.3 Penilaian Kepribadian Introvert dan Ekstrovert Karakteristik komponen untuk menilai kepribadian introvert dan ekstrovert adalah activity, sociability, risk taking, impulsiveness, expresiveness, reflexiveness, dan responsibility. Ketujuh aspek ini digunakan oleh Eysenck sebagai tolak ukur tentang tingkat ekstrovert dan introvert dari penelitian. Tujuh aspek ini merupakan komponen obyek sikap yang dapat diukur. Karakteristik tersebut berpengaruh terhadap tindakan dalam kesehariannya yang akan berdampak pada derajat kesehatan seseroang (Ahmadi, 2005). Dalam activity diukur bagaimanakah subyek melakukan aktivitasnya, aktif dan energik atau sebaliknya, bagaimana mereka menikmati pekerjaannya dan jenis pekerjaan atau aktivitas apakah yang dipilih atau disukainya. Sociability mengukur bagaimana orang melakukan kontrak sosial, apakah orang tersebut memiliki banyak teman, suka bergaul, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan mudah berbicara atau sebaliknya, merasa minder, tidak banyak teman, menyukai kesepian dan lain-lain (Ahmadi, 2005). Risk taking mengukur bagaimana keberanian orang mengambil resiko dalam hidupnya. Impulsiveness digunakan untuk melihat perbedaan antara orang introvert dan ekstrovert dari segi orang itu impulsif atau tidak. Orang impulsif akan terlihat tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, mudah berubah dan tidak dapat diramalkan. Orang dengan kepribadian ekstrovert biasanya impulsif daripada orang introvert (Ahmadi, 2005). Selanjutnya impulsiveness berhubungan dengan aspek expresiveness. Dalam expresiveness diukur bagaimana orang memperlihatkan gejala perasaannya seperti marah, benci, cinta, simpati dan rasa suka. Orang introvert biasanya pandai menguasai perasaannya, dingin dan terkontrol dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Reflexiveness mengukur ketertarikan pada dunia dan ide abstrak dan pertanyaan filosofis yang akan mendorong orang introvert untuk menjadi orang pemikir dan introspektif. Sebaliknya orang ekstrovert, mereka tertarik dalam melakukan sesuatu daripada memikirkannya. Responsibility adalah komponen untuk mengukur bagaimana individu bertanggung jawab terhadap aktivitas dan pekerjaannya (Ahmadi, 2005). Menurut Parkinson (2004) untuk mengukur kepribadian dapat menggunakan instrumen kepribadian The Mind Style Questionnaire (MSQ). MSQ adalah sebuah penilaian terhadap lima sifat utama yang disusun untuk mengukur kepribadian seseorang. Instrumen ini terdiri dari 88 pertanyaan dan untuk mengukur kepribadian introvert dan ekstrovert terdiri dari 12 pertanyaan masing-masing 6 pertanyaan kepribadian ekstrovert dan 6 pertanyaan kepribadian introvert.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati dan diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005). Dalam penelitian ini faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi yang diteliti adalah gaya hidup dan kepribadian. Hal tersebut diangkat dari teori perilaku bahwa kedua faktor tersebut merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan sesorang untuk mencapai derajat kesehatannya. Artinya bahwa penyakit hipertensi yang berkembang saat ini diakibatkan oleh gaya hidup dan kepribadian seseorang dalam berperilaku hidup sehat. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat dilihat pada diagram berikut: Variabel Bebas (Independen) Variabel Terikat (Dependen)

3.2 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang memiliki atau yang didapatkan oleh satuan-satuan penelitian tentang suatu konsep tertentu (Notoatmodjo, 2005). Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variable independen (variabel bebas) dan variable dependen (variabel terikat). Variabel independen dalam penelitian ini adalah gaya hidup dan kepribadian, sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian hipertensi. 3.3 Definisi Operasional Definisi operasional dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.1 Definisi Operasional Hubungan Gaya Hidup dan Kepribadian dengan Kejadian Hipertensi No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

1 1

2 Gaya hidup

3 Pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktifitas, minat dan opininya

7 Ordinal

Angket Kuisioner 0 = Berisiko, jika memiliki kebiasaan merokok/ minum beralkohol/ minum kopi/ kurang olah raga
1 = Tidak berisiko, jika tidak memiliki kebiasaan merokok, minum beralkohol, minum kopi dan kebiasaan olah raga teratur

1 2

Kepribadian Karakteristik

Kejadian Hipertensi

Angket Kuisioner 0 = Kepribadian seseorang yang introvert menyebabkan 1 = Kepribadian munculnya ekstrovert konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku Keadaan Angket Kuisioner 0 = Hipertensi, responden jika tekanan dengan darah >140/9 tekanan 0 mmHg darah > 140/90 1 = Tidak mmHg hipertensi, jika tekanan darah < 140/90 mmHg

Nominal

3.4 Hipotesis Penelitian 1) Ada hubungan antara gaya hidup dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD

Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012. 2) Ada hubungan antara kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD

Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012.

3.5 Metode Penelitian 3.5.1 Desain dan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan case control yaitu suatu penelitian dimana efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasikan pada saat ini, kemudian faktor resiko diindentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu (Notoatmodjo, 2005).

3.5.2 Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka tahun 2012. Populasi dalam penelitian ini terbagai menjadi dua kelompok yaitu populasi kontrol dan populasi kasus. Populasi kasus adalah penduduk yang mempunyai hipertensi. Sedangkan populasi kontrolnya adalah penduduk yang memiliki riwayat keluarga hipertensi tapi tidak hipertensi. 2. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Arikunto, 2006). Sampel dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 50 sampel terdiri dari 25 sampel kasus dan 25 sampel kontrol. 3. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara purposive sampling yaitu sampel ditentukan berdasarkan kriteria tertentu dan banyaknya sesuai dengan jumlah sampel yang ditetapkan. Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Kriteria inklusi Kriteria inklusi untuk kelompok kasus dan kontrol adalah responden merupakan penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka dan tidak sedang menjalani pengobatan penyakit tertentu (diet dan sebagainya).

b. Kriteria eksklusi Kriteria eksklusi untuk kelompok kasus dan kontrol adalah penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka yang tidak bisa membaca dan menulis atau memahami kuesioner.

3.5.3 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Puskesmas Majalengka bulan Juni-Juli tahun 2012.

3.5.4 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer yaitu berupa kuesioner untuk mengukur variabel dependen dan independen. Pengumpulan data dimulai pada bulan Juni 2012. Setelah didapatkan subjek penelitian, kemudian dilakukan pengumpulan data dengan teknik angket. Angket dan pengambilan kuesioner dilakukan pada subjek penelitian di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka.

3.5.5 Etika Penelitian Etika penelitian yang meliputi (Arikunto, 2006): 1) Informed Concent, diberikan sebelum melakukan penelitian. Informed concent adalah lembar persetujuan untuk menjadi responden. 2) Anonimity, berarti tidak perlu mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data

(kuesioner). Peneliti hanya menulis kode pada lembar pengumpulan data tersebut. 3) Confidentiality, kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan dalam hasil penelitian.

3.5.6 Pengolahan Data Langkah-langkah pengolahan data menurut Notoatmodjo (2003) adalah sebagai berikut: 1) Editing (pemeriksaan data), langkah ini dimaksudkan untuk melakukan pengecekan kelengkapan data, kesinambungan data dan keseragaman data. 2) Coding (pengkodean), tahap ini memudahkan dalam memasukan data dan pengolahan pemberian data, maka pertanyaan yang telah diajukan diberi tanda/ kode. 3) Transfering (pemindahan data), memindahkan data ke dalam tabel master penelitian. 4) Tabulasi data, dilakukan dengan mengelompokkan data sesuai dengan variabel yang diteliti, guna memudahkan dalam analisis. 5) Mengeluarkan informasi yang dibutuhkan.

2.5.7 Analisa Data 1. Analisa Univariat Analisis univariat yang dilakukan terhadap variabel-variabel, dari hasil yang diperoleh dalam penelitian, pada umumnya dari hasil analisis, menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabelvariabel yang ada, dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dengan distribusi proporsi (Sugiyono, 2009). Hasil analisis ini menghasilkan distribusi dari tiap variabel yang bertujuan untuk memperoleh distribusi dari tiap variabel dengan menggunakan rumus (Arikunto, 2006): 2. Analisa Bivariat Analisis ini bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Uji yang dipakai adalah chikemaknaan hubungan dengan cara membandingkan nilai ( value) dengan nilai = 0,05 pada taraf kepercayaan 95 % dengan kaidah keputusan sebagai berikut (Sugiyono, 2009): 1) Nilai ( value) < 0,05 maka HO ditolak, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara

variabel bebas dengan variabel terikat.

2)

Nilai ( value) > 0,05 maka Ho gagal ditolak, yang berarti tidak ada hubungan yang

bermakna antar variabel bebas dengan variabel terikat. Selain menentukan uji kemaknaan juga ditentukan nilai Odds Ratio (OR) yaitu ratio odds antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Perhitungan odds ratio dapat menggunakan tabel 2 x 2 sebagai berikut: Odds ratio yang merupakan perbandingan antara odds pemajanan pada kelompok kasus dengan odds pemajanan pada kelompok kontrol. Interpretasi dari nilai OR adalah sebagai berikut (Arikunto, 2006): OR > 1 artinya variabel tersebut merupakan faktor resiko OR = 1 artinya variabel tersebut tidak mempunyai efek OR < 1 artinya hanya sebagai efek protektif

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian mengenai hubungan gaya hidup dan kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 dengan jumlah sampel 50 responden terdiri dari 25 sampel kasus dan 25 sampel kontrol yang disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.

4.1.1 Analisis Univariat 1. Gambaran Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi berdasarkan Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja UPTD

Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012

Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak hipertensi Jumlah

f 25 25 50

% 50,0 50,0 100

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa setengahnya responden di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 yang mengalami hipertensi yaitu sebesar 25 responden (50,0%) dan setengahnya responden tidak mengalami hipertensi yaitu sebesar 25 responden (50,0%). 2. Gambaran Gaya Hidup di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten

Majalengka Tahun 2012

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi berdasarkan Gaya Hidup di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas

Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa kurang dari setengah responden di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 dengan gaya hidup berisiko yaitu sebesar 22 responden (44,0%) dan lebih dari setengah responden dengan gaya hidup tidak berisiko yaitu sebesar 28 responden (56,0%). 3. Gambaran Kepribadian di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten

Majalengka Tahun 2012 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi berdasarkan Kepribadian di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas

Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa lebih dari setengah responden di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 dengan kepribadian introvert yaitu sebesar 29 responden (58,0%) dan kurang dari setengah responden dengan kepribadian ekstrovert yaitu sebesar 21 responden (42,0%). 4.1.2 Analisis Bivariat 1. Hubungan antara Gaya Hidup dengan Kejadian Hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 Tabel 4.4 Hubungan antara Gaya Hidup dengan Kejadian Hipertensi di wilayah kerja UPTD

Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa dari 25 responden yang mengalami hipertensi terdapat lebih dari setengahnya responden dengan gaya hidup berisiko sebesar 60,0% dan kurang dari setengahnya dengan gaya hidup berisiko sebesar 40,0%. Sementara dari 25 responden yang tidak mengalami hipertensi terdapat kurang dari setengahnya responden dengan gaya hidup berisiko sebesar 28,0% dan lebih dari setengahnya dengan gaya hidup berisiko sebesar 72,0%.

Hasil penghitungan statistik menggunakan desain case control dengan = 0,05 diperoleh r value sebesar 0,046 (r value < ) sehingga hiptesis nol ditolak. Hal ini berarti ada hubungan antara gaya hidup dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012. Berdasarkan nilai OR diperoleh sebesar 3,857 (95%CI: 1,180 < OR < 12,606) yang berarti bahwa penduduk dengan gaya hidup yang berisiko mempunyai peluang 3,85 kali lebih besar akan mengalami hipertensi dibandingkan responden dengan gaya hidup yang tidak berisiko. 2. Hubungan antara Kepribadian dengan Kejadian Hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 Tabel 4.5 Hubungan antara Kepribadian dengan Kejadian Hipertensi di wilayah kerja UPTD

Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa dari 25 responden yang mengalami hipertensi terdapat lebih dari setengahnya responden dengan kepribadian introvert sebesar 76,0% dan kurang dari setengahnya dengan kepribadian ekstrovert sebesar 24,0%. Sementara dari 25 responden yang tidak mengalami hipertensi terdapat kurang dari setengahnya responden dengan kepribadian introvert sebesar 40,0% dan lebih dari setengahnya dengan kepribadian ekstrovert sebesar 60,0%. Hasil penghitungan statistik menggunakan desain case control dengan = 0,05 diperoleh r value sebesar 0,022 (r value < ) sehingga hiptesis nol ditolak. Hal ini berarti ada hubungan antara kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012. Berdasarkan nilai OR diperoleh sebesar 4,750 (95%CI: 1,406 < OR < 16,051) yang berarti bahwa penduduk dengan kepribadian introvert mempunyai peluang 4,75 kali lebih besar akan mengalami hipertensi dibandingkan responden dengan kepribadian ekstrovert.

4.1.2 Pembahasan 1. Gambaran Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa setengahnya responden di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 yang mengalami hipertensi yaitu sebesar 50,0%.

Hipertensi merupakan penyakit yang sudah dikenal di tengah-tengah masyarakat, namun tidak sedikit yang memahami dampak yang lebih parah dari penyakit hipertensi ini. Hipertensi dapat mengakibatkan jantung bekerja lebih keras sehingga proses perusakan dinding pembuluh darah berlangsung dengan lebih cepat yang mendorong terjadinya payah jantung, gangguan pada ginjal dan kebutaan serta yang paling parah adalah efek jangka panjangnya yang berupa kematian mendadak. Penyakit hipertensi merupakan salah satu penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Namun menurut Yogiantoro (2006) bahwa hipertensi esensial merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi dan sisanya hipertensi sekunder yaitu tekanan darah tinggi yang penyebabnya dapat diklasifikasikan, diantaranya adalah kelainan organik seperti penyakit ginjal, kelainan pada korteks adrenal, pemakaian obat-obatan sejenis kortikosteroid, dan lain-lain. Menurut Marliani (2007) bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140 / 90 mmHg. Sementara menurut Crea (2008) hipertensi adalah istilah medis untuk penyakit tekanan darah tinggi dan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak diderita di dunia termasuk di Indonesia. Hipertensi termasuk penyakit umum, tanpa disertai gejala khusus dan biasanya dapat ditangani secara mudah, namun bila dibiarkan tanpa penanganan dapat menyebabkan bebagai komplikasi yang lebih parah berupa penyakit jantung dan pembuluh darah seperti aterosklerosis, infark miokard, gagal jantung, gangguan fungsi ginjal dan kematian dini. Ada beberapa gejala yang bisa ditemukan dan dirasakan sebagai penyakit hipertensi. Menurut Crea (2008) menyatakan gejala hipertensi diantaranya sakit kepala bagian belakang dan kaku kuduk, sulit tidur dan gelisah atau cemas dan kepala pusing, dada berdebar-debar dan lemas, sesak nafas, berkeringat dan pusing. Hipertensi di masyarakat seiring dengan usia maka kejadiannya pun semakin meningkat, namun risiko akibat hipertensi ini dapat dikurangi diantaranya melalui cara hidup yang sehat seperti mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat, kebiasaan olah raga yang teratur dan memeriksakan diri secara rutin untuk mengetahui perkembangan tekanan darah terutama pada masyarakat yang merasakan gejala hipertensi. 2. Gambaran Gaya Hidup di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten

Majalengka Tahun 2012

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa kurang dari setengah responden di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 dengan gaya hidup berisiko yaitu sebesar 44,0%. Gaya hidup dalam penelitian ini merupakan kebiasaan masyarakat yang dapat berisiko terhadap penyakit hipertensi seperti kebiasaan merokok, kebiasaan minum minuman beralkohol, kebiasaan minum kopi dan keteraturan dalam berolah raga. Hasil penelitian ternyata masih banyak atau bahkan hampir setengahnya penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka yang masih mempunyai kebiasaan gaya hidup yang kurang baik. Dari pengumpulan data di lokasi penelitian ternyata penduduk yang mengalami hipertensi masih ada yang mempunyai kebiasaan merokok, minum minuman yang beralkohol, minum kopi dan tidak teratur berolah raga. Bahkan jumlah penduduk yang memiliki kebiasaan merokok, minum minuman yang beralkohol, minum kopi dan tidak teratur berolah raga lebih banyak terdapat pada penderita hipertensi dibandingkan yang tidak mengalami hipertensi. Gaya hidup dapat diartikan sebagai kebiasaan seseorang dalam kehidupan sehari-harinya sebagai salah satu bentuk perilaku. Kebiasaan yang positif atau baik yang merupakan upaya seseorang untuk hidup sehat maka termasuk kedalam perilaku hidup sehat. Sebagaimana teori Becker (1979) dalam Notoatmodjo (2007) yang membuat klasifikasi tentang perilaku kesehatan yang terdiri dari perilaku hidup sehat, perilaku sakit dan perilaku peran sakit. Perilaku hidup sehat adalah perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya yang mencakup antara lain makan dan menu seimbang (appropriate diet), olahraga teratur, tidak merokok, tidak minumminuman keras dan narkoba, istirahat yang cukup, mengendalikan stress termasuk gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya tidak berganti-ganti pasangan dalam hubungan seks.

Menurut Sakinah (2002) menyatakan bahwa gaya hidup merupakan pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktifitas, minat dan opininya. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan Lisnawati (2006) menyatakan gaya hidup sehat menggambarkan pola perilaku sehari-hari yang mengarah pada upaya memelihara kondisi fisik, mental dan sosial berada dalam keadaan positif. Gaya hidup sehat meliputi kebiasaan tidur, makan, pengendalian berat badan, tidak merokok atau minum-minuman beralkohol, berolahraga secara teratur dan terampil dalam mengelola stres yang dialami. Berdasarkan hal tersebut maka perlunya meningkatkan kesadaran terutama baik pada penderita hipertensi maupun yang tidak hipertensi untuk berperilaku hidup sehat yaitu dengan menjaga dan

memelihara gaya hidup yang sehat pula, dan bagi petugas kesehatan perlunya meningkatkan kegiatan penyuluhan dan pemberian informasi tentang gaya hidup sehat dalam mengurangi risiko yang lebih parah akibat penyakit hipertensi. 3. Gambaran Kepribadian di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten

Majalengka Tahun 2012 Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa lebih dari setengah responden di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 dengan kepribadian introvert yaitu sebesar 58,0%. Tipe kepribadian dalam berbagai literatur dapat dibedakan secara beragam. Namun pada penelitian ini, tipe kepribadian dibedakan berdasarkan tipe kepribadian introvert dan ekstrovert. Hal tersebut karena kedua tipe kepribadian ini berkaitan dengan perilaku seseorang dalam menyikapi permasalahan yang sedang dialaminya termasuk perilaku hidup sehat maupun sakit. Sebagaimana menurut teori Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2007) bahwa perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu perilaku tertutup (covert behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas karena masih dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus. Sementara perilaku terbuka (overt behavior) merupakan respon terhadap stimulus sudah berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau observable behavior. Kepribadian adalah karakteristik seseorang yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku (Pervin, 2010). Sementara menurut Sadli (2004) mengemukakan bahwa kepribadian adalah proses be coming, yaitu suatu proses dinamis yang berkelanjutan dimulai sejak individu dilahirkan sampai ia meninggal. Oleh karena itu setiap insan yang normal memiliki ciri-ciri kepribadian yang membedakan individu yang satu dengan yang lain. Walaupun perbedaan itu tampak jelas, namun tidak berarti berbeda peranan dalam aspek atau komponen yang terdapat pada pribadi yang bersangkutan. Pembagian tipe kepribadian manusia dalam sifat introvert dan ekstrovert merupakan teori Jung yang sangat populer. Jung menyatakan bahwa kepribadian introvert dan ekstrovert terbentuk berdasarkan sikap. Menurut Eysenck dalam Ahmadi (2005) bahwa orang introvert cenderung mengembangkan gejalagejala ketakutan dan depresi yang ditandai dengan kecenderungan obsesi, mudah tersinggung, apatis, syaraf otonom mereka labil, gampang terluka, mudah gugup, rendah diri, mudah melamun, sukar tidur. Sementara ekstrovert menurut Parkinson (2004) diartikan sebagai keramahan, terus terang, cepat akrab,

berakomodasi secara natural dan mudah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Berdasarkan hal tersebut maka tipe kepribadian ekstrovert dalam kehidupan keseharian perlu dikembangkan agar perilaku masyarakat dalam menyikap peran sakit lebih siap. Perlunya petugas kesehatan memberikan dorongan dan motivasi bagi penderita hipertensi dan yang tidak hipertensi untuk menumbuhkan keyakinan dan kesadaran menjaga kesehatan lebih penting untuk menghindari resiko yang lebih parah serta melakukan pemeriksaan rutin kepada petugas kesehatan untuk mengetahui perkembangan penyakit hipertensi yang dialaminya.

4. Hubungan antara Gaya Hidup dengan Kejadian Hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara gaya hidup dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 (r value = 0,046). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penduduk yang memiliki gaya hidup seperti kebiasaan merokok, minum kopi, minum alkohol dan kurang teratur dalam berolahraga lebih besar akan mengalami hipertensi. Hal tersebut juga dapat dilihat dari nilai OR yang diperoleh sebesar 3,857 (95%CI: 1,180 < OR < 12,606) yang berarti bahwa penduduk dengan gaya hidup yang berisiko mempunyai peluang 3,85 kali lebih besar akan mengalami hipertensi dibandingkan penduduk dengan gaya hidup yang tidak berisiko. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Health Belief Model (HBM) dalam Maulana (2009) menyatakan bahwa derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh perilaku sehat masyarakat yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu variabel demografi seperti umur, jenis kelamin, latar belakang budaya, variabel sosio-psikologis yaitu kepribadian, kelas sosial (gaya hidup), tekanan sosial, dan variabel struktural yaitu pengetahuan dan pengalaman sebelumnya. Berdasarkan teori HBM tersebut maka gaya hidup seseorang dalam hipertensi merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami penyakit hipertensi. Dalam hal ini perilaku sakit (illnes behaviour) dan perilaku peran sakit (the sick role behaviour) seseorang menyebabkan seseorang menderita suatu penyakit. Masyarakat yang mempunyai kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, minum kopi dan tidak teratur dalam berolah raga akan mengalami penyakit hipertensi lebih besar dibandingkan masyarakat yang tidak mempunyai kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, minum kopi dan teratur dalam berolah raga.

Banyak hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa meroko berkaitan dengan peninggian tekanan darah. Dalam penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari Brigmans and Womens Hospital, Massachussetts dalam Rahyani (2007) terhadap 28.236 subyek yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam penelitian tersebut yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang perhari. Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan. Menurut Sustrani (2006) bahwa orang-orang yang minum alkohol terlalu sering atau terlalu banyak, akan cenderung memiliki tekanan darah yang tinggi dari pada individu yang tidak mengkonsumsi alkohol. Berlebihan mengkonsumsi alkohol (> 2 gelas) merupakan faktor risiko hipertensi. Konsumsi kopi yang berlebihan dalam jangka yang panjang dan jumlah yang banyak diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit hipertensi. Beberapa penelitian dalam Crea (2008) menunjukan bahwa orang yang mengkonsumsi kafein (kopi) secara teratur sepanjang hari mempunyai tekanan darah rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan didalam 2-3 gelas kopi (200-250 mg) terbukti meningkatkan tekanan sistolik sebesar 3-14 mmHg dan tekanan diastolik sebesar 4-13 mmHg pada orang yang tidak mempunyai hipertensi. Menurut Rohaendi (2008) bahwa kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Riset di Oregon Health Science kelompok laki-laki dengan wanita yang kurang aktivitas fisik dengan kelompok yang beraktifitas fisik dapat menurunkan sekitar 6,5% kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) faktor penting penyebab pergeseran arteri. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Notoatmodjo (2005) menyebutkan bahwa perilaku sehat (healthy behavior) adalah perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan. Untuk mencapai gaya hidup yang sehat diperlukan pertahanan yang baik dengan menghindari kelebihan dan kekurangan yang menyebabkan

ketidakseimbangan yang menurunkan kekebalan dan semua yang mendatangkan penyakit. Hal ini juga didukung oleh pendapat Maulana (2009) yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan kesehatan yang prima jalan terbaik adalah dengan merubah gaya hidup yang terlihat dari aktifitasnya dalam menjaga kesehatan. Pada penelitian ini, berdasarkan hasil analisa data ternyata masih ada masyarakat dengan gaya hidup tidak berisiko tetapi mengalami hipertensi. Hal ini dapat dikarenakan adanya faktor lain yang dapat

mempengaruhi kejadian hipertensi. Selain gaya hidup dan kepribadian, faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian hipertensi diantaranya adalah usia, jenis kelamin, ras, tekanan sosial, pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hipertensi meskipun seseorang tidak memiliki kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, minum kopi dan teratur dalam berolah raga. Kebiasaan yang baik tersebut ternyata belum cukup jika pengetahuan tentang hipertensi rendah karena menyebabkan seseorang tidak memahami dengan baik mengenai penyakit hipertensi sehingga tidak mengetahui cara penanganan terhadap penyakit hipertensi. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dan teori yang sudah dikemukakan di atas, maka hasil penelitian ini tidak terdapat kesenjangan. Oleh karena itu maka bagi penderita hipertensi yang mempunyai kebiasaan merokok, minum minuman alkohol, minum kopi dan tidak teratur berolah raga perlu mendapatkan bimbingan dari petugas kesehatan serta dukungan keluarga agar merubah gaya hidup yang kurang baik tersebut ke arah gaya hidup sehat sehingga dapat mengurangi bahayanya penyakit hipertensi yang lebih parah. 5. Hubungan antara Kepribadian dengan Kejadian Hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 (r value = 0,022). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penduduk yang memiliki kepribadian introvert berisiko lebih besar akan mengalami hipertensi daripada kepribadian introvert. Hal tersebut pun dapat dilihat dari nilai OR yang diperoleh sebesar 4,750 (95%CI: 1,406 < OR < 16,051) yang berarti bahwa penduduk dengan kepribadian introvert mempunyai peluang 4,75 kali lebih besar akan mengalami hipertensi dibandingkan penduduk dengan kepribadian ekstrovert. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Health Belief Model (HBM) dalam Maulana (2009) menyatakan bahwa salah satu derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh perilaku sehat masyarakat yang dipengaruhi oleh sosio-psikologis yaitu kepribadian. Juga teori Ahmadi (2005) yang menyatakan bahwa karakteristik komponen untuk menilai kepribadian introvert dan ekstrovert adalah activity, sociability, risk taking, impulsiveness, expresiveness, reflexiveness, dan responsibility. Ketujuh aspek ini digunakan oleh Eysenck sebagai tolak ukur tentang tingkat ekstrovert dan introvert dari penelitian. Tujuh aspek ini merupakan komponen obyek sikap yang dapat diukur. Karakteristik tersebut berpengaruh terhadap tindakan dalam kesehariannya yang akan berdampak pada derajat kesehatan seseorang.

Menurut karakteristiknya maka masyarakat yang memiliki kepribadian introvert yang cenderung mengembangkan gejala-gejala ketakutan dan depresi yang ditandai dengan kecenderungan obsesi, mudah tersinggung, apatis, syaraf otonom mereka labil, gampang terluka, mudah gugup, rendah diri, mudah melamun dan sukar tidur dapat menjadi suatu kendala untuk mencapai derajat hidup sehat. Penduduk yang tidak terbuka dan tidak mau memeriksakan dirinya kepada petugas kesehatan dalam hipertensi ini maka tidak akan mengetahui dan menyadari bagaimana harus bersikap dan bertindak menghadapi penyakit hipertensi. Pada penelitian ini, berdasarkan hasil analisa data ternyata masih ada penduduk dengan kepribadian ekstrovert tetapi mengalami hipertensi. Hal ini dapat dikarenakan selain kepribadian, faktor lain seperti usia, jenis kelamin, ras, tekanan sosial, pengetahuan dan pengalaman juga dapat

mempengaruhi kejadian hipertensi. Dalam hal ini apabila seseorang mempunyai kepribadian ekstrovert namun belum pernah mengalami hipertensi sebelumnya dapat menyebabkan orang tersebut kurang peduli terhadap kesehatan dirinya. Pengalaman seseorang dapat menjadi sumber pengetahuan dan pendidikan dalam menghadapi suatu permasalahan termasuk dalam menyikapi penyakit hipertensi. Hasil penelitian ini tidak terdapat kesenjangan dengan teori yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dari itu penduduk yang menderita hipertensi dengan tipe kepribadian introvert perlu mendapatkan dorongan dan motivasi dari petugas kesehatan serta dukungan keluarga untuk terbuka menyampaikan keluhan penyakit yang sedang dialaminya serta mau memeriksakan diri kepada petugas kesehatan dengan rutin. Namun, hasil penelitian ini perlu dikembangkan lebih lanjut dengan memperhatikan faktor pengalaman sehingga menghasilkan hasil penelitian yang lebih luas dan akurat.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai hubungan gaya hidup dan kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Setengahnya penduduk di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten

Majalengka Tahun 2012 yang mengalami hipertensi sebesar 50,0%. 2. Kurang dari setengah penduduk di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 dengan gaya hidup berisiko sebesar 44,0%. 3. Lebih dari setengah penduduk di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 dengan kepribadian introvert sebesar 58,0%. 4. Ada hubungan antara gaya hidup dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD

Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 (r value = 0,046 dan OR = 3,857 dengan 95%CI: 1,180 < OR < 12,606). 5. Ada hubungan antara kepribadian dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja UPTD

Puskesmas Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2012 (r value = 0,022 dan OR = 4,750 dengan 95%CI: 1,406 < OR < 16,051).

5.2

Saran

5.2.1 Bagi UPTD Puskesmas Majalengka Disarankan agar petugas kesehatan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Majalengka lebih meningkatkan kegiatan penyuluhan dan pemberian informasi tentang gaya hidup sehat serta memberikan dorongan dan mitivasi bagi penduduk yang menderita hipertensi yang mempunyai kepribadian introvert. 5.2.2 Bagi Pasien Hipertensi

Perlu memeriksakan kesehatan secara rutin kepada petugas kesehatan agar diketahui perkembangan tekanan darahnya serta memperoleh informasi dari petugas kesehatan tentang hipertensi lebih luas lagi. 5.2.3 Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini perlu dikembangkan dan dijadikan sebagai salah satu sumber untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan tentang kejadian hipertensi dan faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi. 5.2.4 Bagi Peneliti Bagi peneliti lain agar memperhatian faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini sehingga menghasilkan ilmu yang lebih luas dan lebih akurat. LEMBAR PERMOHONAN MENJADI

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. M. 2005. Psikologi Perkembangan. Penerbit Renika Cipta. Andra. 2007. Ancaman Serius Hipertensi di Indonesia. http://www.majalah-farmacia.com, diakses 27 Maret 2012. Anggraini, A.D., dan Waren, A. 2009. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien yang berobat di Poliklinik Dwasa Puskemas Bangkiang periode Januari sampai Juni 2008. Http://yayanakhyar.wordpress.com, diakses tanggal 2 April 2012. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Crea, M. 2008. Hypertension. Jakarta: Medya. Departemen Kesehatan RI, 2009. Kendalikan Stress dan Hipertensi, Raih Produktivitas. http://www.depkes.co.id, diakses tanggal 28 Maret 2012. Elsanti, S. 2009. Panduan Hidup Sehat Bebas Kolesterol, Stroke, Hipertensi & Serangan Jantung. Yogyakarta: Araska. Irza, S. 2009. Analisis Faktor Risiko Hipertensi Pada Masyarakat Nagari Bungo Tanjung Sumatera Barat. Medan: Universitas Sumatera Utara. Kumar, 2005. Hipertensi Penyakit Vaskuler. http://www.medicine.com/, diakses tanggal 12 Maret 2012. Marliani, L. 2007. 100 Question & Answers Hipertensi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Gramedia. Mifbakhuddin. 2007. Hubungan antara Faktor Karakteristik, Konsumsi Garam dan Konsumsi Energi dengan Kejadian Hipertensi Penduduk Usia Lebih Dari 30 Tahun di Desa Pasar Banggi Rw 4 Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang. Semarang: Universitas Muhammdiyah. Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Parkinson, M. 2004. Test Yourself: Personality Questionnaires, Memahami Kuesioner Kepribadian. Solo: Tiga Seragkai. Price, L. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Rahyani. 2007. Epidemiologi Penderita Hipertensi Esensial yang Dirawat di Bagian Penyakit Dalam Perjan RS DR. M. Djamil Padang. Skripsi. Padang. Setiawati dan Bustami. 2005. Anti Hipertensi dalam Farmakologi dan Terapi. Jakarta: FKUI.

Shanty, M. 2011. Penyakit yang Diam-diam Mematikan. Yogyakarta: Javalitera. Sustrani, L. 2006. Hipertensi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sutanto. 2009. Awas 7 Penyakit Degeneratif. Yogyakarta: Paradigma Indonesia. Yogiantoro, M. 2006. Hipertensi Esensial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi IV. Jakarta: FKUI.

http://blogkumpulancontohskipsi.blogspot.com/2013/05/hubungan-gaya-hidup-dankepribadian.html