Anda di halaman 1dari 49

1

VAKSINASI

Seorang anak berumur 3 hari mandapat vaksinasi BCG di lengan kanan atas untuk
mencegah penyakit dan mendapatkan kekebalan. Empat minggu kemudian bayi tersebut
dibawa kembali ke RS karena timbul benjolan di ketiak kanan. Setelah Dokter melakukan
pemeriksaan didapatkan pembesaran nodus limfatikus di regio aksila dekstra. Hal ini
disebabkan adanya reaksi terhadap antigen yang terdapat dalam vaksin tersebut dan
menimbulkan respon imun tubuh.










































2

STEP 1
( Clarify Unfamiliar Term(s) )


1. Vaksinasi : Memasukkan vaksin ke dalam tubuh untuk menghasilkan kekebalan

2. Kekebalan : Keadaan menjadi imun,perlindungan terhadap suatu infeksi yang

diberikan oleh respon imun dan ditimbulkan oleh imunisasi atau

infeksi terlebih dahulu atau faktor non imunologis lainnya.

3. Nodus limfatikus : organ bersimpai berbentuk bulat atau ginjal terdiri dari jaringan
limfoid atau kelenjar getah bening.

4. Antigen : Zat perangsang pembentukan Antibodi

5. Regio aksila dekstra: Lipatan ketiak bagian kanan

6. Respon imun : Respon yang diberikan tubuh terhadap antigen






























3

STEP 2
( Define Problem )

1. Apa kontraindikasi dari vaksin?
2. Mengapa reaksi Antigen bisa menimbulkan respon imun?
3. Apa tujuan vaksinasi?
4. Apa saja jenis jenis vaksin?
5. Apa saja reaksi tubuh yang muncul terhadap pemberian vaksin?
6. Kapankah suatu zat dikatakan sebagai antigen?
7. Sistem imun apa saja yang berperan dalam tubuh?
8. Apa saja selain vaksin untuk mendapatkan kekebalan?
9. Berapa lama vaksin BCG bertahan dalam tubuh?






































4

STEP 3
( Brainstorm possible explanation(s) for the problem )


1. - Orang dengan imunitas rendah
- Orang dengan reaksi alergi terhadap jenis vaksin tertentu
- Orang dengan penderita leukimia
2. Merangsang limfosit untuk membentuk antibodi
3. Untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu
4. Buatan : BCG,DPT,Polio,MMR,campak,hepatitis,varisella,HIB (meningitis)
Alami : ASI
5. Demam,alergi.pusing,nyeri,bengkak
6. - Jika beratnya > 6000 kilodalton
- Jika suatu zat menginduksi suatu respon imun spesifik dan bereaksi dengan
produk respon tersebut yakni dengan antibodi spesifik / limfosit T
7. - Spesifik : humoral (limfosit B) & selular (limfosit T)
- Non spesifik
8. Serum,ASI,makanan bergizi
9. 5-10 tahun































5

STEP 4
( Hypothesis )


Vaksinasi adalah memasukkan vaksin ke dalam tubuh untuk menghasilkan
kekebalan.Jenis jenis vaksin yaitu
BCG,DPT,Polio,MMR,campak,hepatitis,varisella,HIB (meningitis),dan ASI. Reaksi
tubuh yang ditimbulkan dari pemberian vaksin yaitu demam,alergi,pusing,nyeri,dan
bengkak. Vaksin BCG dapat bertahan 5 10 tahun. Suatu zat dikatakan antigen jika
suatu zat menginduksi suatu respon imun spesifik dan bereaksi dengan produk
respon tersebut,yakni dengan antibodi spesifik / limfosit T. Sistem imun yang
berperan yaitu spesifik (limfosit B & T) dan non spesifik.






































6

STEP 5
( Define Learning Objectives )


I. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopik dan Mikroskopik Organ Limfoid
1.1 Menjelaskan Anatomi Makroskopik Organ Limfoid
1.2 Menjelaskan Anatomi Mikroskopik Organ Limfoid

II. Memahami dan Menjelaskan kekebalan sistem imun
2.1 Menjelaskan kekebalan alami (aktif & pasif)
2.2 Menjelaskan kekebalan spesifik & nonspesifik

III. Memahami dan Menjelaskan Antigen
3.1 Menjelaskan definisi antigen
3.2 Menjelaskan sifat sifat antigen
3.3 Menjelaskan macam antigen
3.4 Menjelaskan fungsi antigen

IV. Memahami dan Menjelaskan Antibodi
4.1 Menjelaskan definisi Antibodi
4.2 Menjelaskan struktur antibodi
4.3 Menjelaskan sifat antibodi
4.4 Menjelaskan kelas antibodi

V. Memahami dan Menjelaskan Vaksin dan Imunisasi
6.1 Menjelaskan definisi Vaksin dan Imunitas
6.2 Menjelaskan macam-macam vaksin dan imunisasi
6.3 Menjelaskan pandangan menurut ajaran Islam

VI. Memahami dan menjelaskan komplemen dan aktivasi




















7

STEP 6
( Gather Information and Individual study )










































8

STEP 7


I. ANATOMI MAKROSKOPIK & MIKROSKOPIK ORGAN LIMFOID

1. Anatomi makroskopik organ limfoid


Sel-sel system imun ditemukan dalam jaringan dan organ yang disebut SISTEM LIMFOID.
Sistem tersebut terdiri atas limfosit, sel epitel dan stroma yang tersusun dalam organ dengan
kapsul atau berupa kumpulan jaringan limfoid yang difus. Organ limfoid yang berupa
kumpulan nodul kecil yang mengandung banyak limfosit, merupakan tempat awal terjadinya
respon imun spesifik terhadap antigen protein yang dibawa melalui sistem limfoid. Organ
limfoid dapat dibagi dalam organ limfoid primer dan sekunder.






























Gambar Organ dan jaringan limfoid


9

Limfosit diproduksi organ limfoid primer (sumsum tulang dan pematangan sel T di timus)
bermigrasi ke organ limfoid sekunder dan jaringan untuk menghadapi infeksi mikroba.
MALT bersama sel limfoid di sub-epitel (lamia propria) saluran napas, cerna dan kemih
merupakan sebagian besar dari jaringan limfoid dalam tubuh.


A. Organ Limfoid Primer

Organ limfoid primer atau sental diperlukan untuk pematangan, diferensiasi dan
proliferasi sel T dan Sel B sehingga menjadi limfosit yang dapat mengenal antigen.
Karena itu organ tersebut berisikan limfosit dalam berbagai fase diferensiasi.
Ada 2 organ limfoid primer utama yaitu :
1. Kelenjar timus
2. Bursa Fbricius atau sejenisnya seperti sumsum tulang.
Organ limfoid lainnya disebut organ limfoid sekunder yang mempunyai fungsi untuk
menangkap dan mempresentasikan antigen dengan efektif, proliferasi dan diferensiasi
limfosit yang disensitasi oleh antigen spesifik dan merupakan tempat utama produksi
antibodi.

B. Organ Limfoid Sekunder

Organ limfoid sekunder utama adalah MALT yang meliputi jaringan limfoid
ekstranodul yang berhubungan dengan mukosa di berbagai lokasi, seperti SALT di kulit,
BALT di bronkus, GALT di saluran saluran cerna, mukosa hidung, mamae dan serviks
uterus.

1. Skin-Associated Lymphoid Tissue

SALT, merupakan alat tubuh terluas yang berperan dalam sawar fisik terhadap
lingkungan. Kulit juga berpartisipasi dalam pertahanan pejamu, dalam reaksi imun dan
inflamasi lokal. Banyak antigen asing masuk tubuh melalui kulit dan banyak respons
imun sudah diawali di kulit.

2. Mucosal Associated Lymphoid Tissue Sistem Imun Sekretori

Imunitas di tempat khusus seperti saluran napas dan saluran cerna disebut juga
imunitas lokal. System imun mukosa merupakan agrerat jaringan limfoid atau limfosit
dekat permukaan mukosa saluran napas, cerna dan urogenital. Baik antibody local (IgA
sekretori) maupun sel limfoid (T) berperan dalam respons imun spesifik. IgA sekretori
yang diproduksi di saluran cerna dapat bereaksi dengan makanan atau alergen lain yang
dicerna, lapisan epitel mukosa berperan sebagai sawar mekanis.
MALT ditemukan di jaringan mukosa saluran napas bagian atas, saluran cerna,
saluran urogenital dan kelenjar mamae berupa jaringan limfoid tanpa kapsul,
mengandung sel limfosit dan APC, mengawali respons imun terhadap antigen yang
terhirup dan termakan. Epitel mukosa yang merupakan sawar antara lingkungan internal
dan eksternal juga merupakan tempat masuknya mikroba.
Jaringan-jaringan limfoid tersebut berperan dalam pertahanan imun local dan regional
yang kontak langsung dengan antigen asing. Oleh karena itu, berbeda dari jaringan
limfoid yang berhubungan dengan kelenjar limfoid, limpa dan timus.

10

















Gambar Sistem Imun Sekretori

a. Respons Imun Oral

Ludah tidak hanya membilas rongga mulut, tetapi juga mengandung berbagai
molekul seperti lisozim dan IgA sekretori yang ikut melindungi rongga mulut. Sel
PMN berperan dalam melindungi jaringan gusi dan periodontium. Di samping IgA,
respons imun humoral yang lain juga berperan. Kontribusi relative Th1 dan Th2
dalam respons imun terhadap bakteri pathogen juga penting pada penyakit
periodontal. Subyek dengan defisiensi imun sering disertai infeksi mukosa yang
meningkat oleh mikroorganisme oportunistik seperti Kandida albikans. Reaksi
hipersensitivitas Tipe II, III dan IV dapat menimbulkan periodontis progresif kronis.
Vaksin diharapkan dapat dikembangkan di masa mendatang dalam pencegahan atau
mengontrol karies gigi dan penyakit periodontal. Namun penyakit yang kompleks
menyulitkan penyembuhan.
Lapisan epitel mukosa merupakan sawar mekanisme terhadap antigen asing
dan mikroorganisme. Sistem imun khusus kadang disebut CMIS yang terletak di
permukaan epitel. Sistem imun mukosa terdiri atas IgA sekretori yang diproduksi sel
plasma di lamina propria dan kemudian diangkut melalui sel epitel dengan bantuan
reseptor poliimunoglobulin. Baik sel T dan T ditemukan di lapisan mukosa epitel
sebagai limfosit intraepitel, juga di lamina propria mukosa.
Respons imun terhadap antigen oral berbeda dari respons imun terhadap
antigen yang diberikan parenteral. Toleransi oral dapat juga terjadi terhadap beberapa
antigen protein yang dicerna, tetapi respons mukosa lokal dengan produksi kadar IgA
tinggi dapat terjadi setelah pemberian vaksin terpilih seperti vaksin polio Sabin.
b. Bronchial Associated Lymphoid Tissue
Belum banyak hal yang sudah diketahui mengenai respons imun mukosa
saluran napas dibanding saluran cerna, namun diduga bahwa respons imunnya adalah
serupa. Struktur sebagai cincin banuak ditemukan di berbagai temapt, berisikan nodul
yang terletak sekitar bronkus dab berhubungan dengan epitel berupa plak sel limfoid.
Sel plasma ditemukan di bawah epitel. Sel-sel BALT memiliki kemampuan
penggantian yang tinggi dan nampaknya tidak memproduksi IgG. Sel-sel BALT
diduga bermigrasi dari daerah limfoid lain. BALT berperan dalam respons terhadap
antigen kuman yang terhirup.
11


c. Gut Associated Lymphoid Tissue
GALT adalah sebutan untuk MALT yang tersebar di mukosa saluran cerna.
Saluran cerna orang dewasa mempunyai luas permukaan sekitar 400m
2
. permukaan
yang luas tersebut selalu terpajan dengan berbagai mikroba dan makanan yang
mungkin dapat menerangkan mengapa 2/3 seluruh sistem imun ada di saluran cerna.
Secara fungsional, GALT terdiri atas dua komponen, yang terorganisasi dan yang
difus.

i. Microfold Cell
Microfold cell atau sel M adalah sel epitel saluran cerna yang pinositik aktif,
berperan dalam mengantarkan kuman dan bahan makromolekul dari lumen
intestinal ke plak Peyer. Sel tersebut bukanlah APC, ditemukan di lapisan epitel
plak Peyer yang berperan dalam penyampaian antigen. Sel tersebut memiliki
permukaan relative besar dengan lipatan-lipatan mikro yang menempel pada
mikroorganisme dan permukaan makromolekular.




















Gambar Sel M
Penangkapan antigen melewati sawar usus terjadi di tempat-tempat yang
dikenal sebagai daerah induktif oleh sel pengangkut khusus yang disebut sel M.
Morfologi sel M unik karena adanya suatu kantong besar pada membrane
basolateral yang berisikan limfosit dan makrofag. Sel secara terus-menerus
menghantarkan antigen dari lumen saluran cerna ke sel imun yang ditemukan
dalam kantong tersebut. Limfosit dan makrofag yang menangkap antigen tersebut
meninggalkan sel M untuk seterusnya berpindah menuju folikel limfoid setempat.

ii. Sistem Imun Mukosa yang Terorganisasi

Jaringan limfoid mukosa yang terorganisasi terdiri atas plak Peyer di usus
kecil, tonsil faring dan folikel limfoid yang terisolasi, berperan pada fase nduksi
respons imun. Di sekitar tenggorok ditemukan 3 golongan tonsil yaitu tonsil
12

palatine, tonsil lingual dan tosil faringeal atau adenoid yang merupakan cincin
jaringan limfoid sekitar faring yang disebut cincin Waldeyer.
Tonsil faring juga merupakan folikel limfoid mukosa yang analog dengan plak
Peyer. Respons imun terhadap antigen oral berbeda dari respons imun terhadap
antigen di tempat lain. Perbedaan utama disebabkan oleh adanya produksi kadar
IgA yang tinggi di jaringan mukosa dan kecenderungan terjadinya imunisasi oral
dengan antigen protein yang menginduksi toleransi. Induksi respons imun tehadap
antigen tertentu di saluran cerna, dapat menimbulkan disiminasi limfosit ke
jaringan mukosa lain seperti saluran napas atas dan bawah, saluran kelenjar
mamae atau saluran genital untuk selanjutnya memberikan respons terhadap
antigen setempat.
Seperti halnya dengan folikel limfoid di limpa dan kelenjar getah bening, regio
sentral plak Peyer diisi sel B. Plak Peyer juga mengandung sel CD4
+
. Beberapa
sel epitel yang menutupi plak Peyer mengandung sel M yang khusus.
Palk Peyer merupakan agregat folikel limfoid di mukosa gastrointestinal yang
ditemukan di seluruh jejunum dan ileum (terbanyak di ileum terminal). Plak Peyer
merupakan tempat prekursor sel B yang dapat melakukan pengalihan untuk
memproduksi IgA. Sel T naif juga terpajan dengan alergen di plak Peyer dan
berkembang menjadi sel T memori yang kemudian bermigrasi ke mukosa lebih
distal dan tempat-tempat nonmukosal.
Limfosit B dan T di plak Peyer yang antigen reaktif, keluar melalui limfatik
eferen dan bermigrasi ke kelenjar getah bening mesentrik, lalu ke duktus torasikus
dan akhirnya ke pembuluh darah. Selanjutnya sel-sel tersebut mencari tempat-
tempat tertentu (homing) di berbagai tempat terutama di lamina propria berbagai
jaringan mukosa.


















Gambar Kompleks limfoid sepanjang saluran cerna

Volume cincin menunjukan jumlah relatif jaringan limfoid




13

iii. Sistem Imun Mukosa Difus

Sistem imun mukosa difus terdiri atas limfosit ntraepital dan limfosit di lamina
propria.
Limfosit intraepitel ditemukan dalam epitel mukosa dan di atas lamina
propria. Sel-sel tersebut tersebar difus di jaringan mukosa dan tidak memiliki
struktur jelas seperti yang didapat pada sistem imun mukosa yang terorganisasi.
Limfosit intraepitel terbanyak adalah sel T (>90%), yang dapat berupa CD8
+
atau
CD8
-
.
Lamina propria terletak tepat di bawah epitel yang strukturnya longgar. Fungsi
efektor lamina propria adalah sekresi antibodi terutama IgA yang merupakan hasil
sejumlah besar sel plasma. IgA diangkut dari lamina propria ke sel epitel melalui
reseptor imunoglobulin polimerik untuk selanjutnya disekresi ke lumen. Lamina
propria mengandung banyak sel CD4
+
dan CD8
+
(CD4
+
2x lebih banyak CD8
+
),
juga sel B, terbanyak dengan ekspresi IgM dan hanya sebagian kecil dengan
ekspresi IgA. Meskipun hanya sedikit jumlah sel B yang ada di lamina propria,
tetapi jumlah sel B tersebut dapat meningkatkan produksi IgG dengan cepat bila
diperlukan.

3. Kelenjar Getah Bening

Kelenjar getah bening adalah agregat nodular jaringan limfoid yang terletak sepanjang
jalur limfe di seluruh tubuh. Cairan dari semua epitel, jaringan ikat dan organ parenkim
terbanyak dialirkan ke saluran limfe. Cairan ini disebut cairan limfe. Jadi limfe
mengandung bahan campuran dari hasil penyerapan epitel dan jaringan. Saat cairan inni
melalui pembuluh limfe, APC dalam kelenjar ini membawa antigen dari mikroba yang
mungkin memasuki tubuh melalui epitel ke dalam jaringan. Di samping itu sel dendritik
juga membawa antigen mikroba dari epitel dan menghantarkannya ke kelenjar getah
bening. Akhirnya antigen yang masuk epitel atau mengkolonisasi jaringan
dikonsentrasikan di sistem kelenjar getah bening.

4. Limpa

Limpa merupakan tempat respons imun utama terhadap antigen asal darah. Seperti
halnya dengan kelenjar getah bening, limpa terdiri dari zona sel T (senter germinal) dan
zona sel B (zona folikel). Arteriol berakhir dalam sinusoid vaskular yang mengandung
sejumlah eritrosit, makrofag, sel dendritik, limfosit dan sel plasma. Antigen yang dibawa
APC masuk ke dlam limpa melalui sinusoid vaskular.
Limpa juga merupakan saringan untuk darah. Mikroba dalam darah dibersihkan
makrofag dalam limpa. Limpa merupakan ttempat utama fagosit memakan mikroba yang
dilapisi antibodi (opsonisasi). Individu tanpa limpa akan menjadi rentan terhadap infeksi
bakteri berkapsul seperti pneumokok dan meningokok, oleh karena mikroba tersebut
biasanya hanya disingkirkan melalui opsonisasi dan fungsi fagositosis akan terganggu
bila limpa tidak ada.





14

2. Anatomi mikroskopik organ limfoid

System limfoid
Terdiri atas sel-sel dan organ-organ yang direncanakan untuk melindungi lingkungan
interna dari invasi dan kerusakan oleh zat-zat asing. System ini terutama terdiri atas sel-
sel yang bergerak dan menetap. Limfosit dan makrofag merupakan sel-sel utama yang
bergerak, sedangkan retikuloendotel dan sel-sel plasma adalah unsur-unsur utama sel
yang menetap. Organ-organ limfatik umumnya terdiri atas jaringan penyambung yang
diliputi jala-jala sel dan serabut serabut retikuler dimana didalamnya terdapat limfosit,
sel-sel plasma, makrofag, dan dalam arti yang lebi sempit,sel-sel imunokompeten lannya.

Jaringan limfoid
Dapat ditemukan terisolasi dalam jaringan penyambung jarang beberapa jaringan,
terutama dalam lamina propia saluran pencernaan, saluran pernapasan bagian atas dan
saluran kemih.

Kelenjar limfe
Organ berkapsul yang berbentuk bulat atau ginjal yang terdiri atas jaringan limfoid.
Tersebar diseluruh tubuh.

Limfonodus
Terdiri atas kumpulan limfosit yang diselingi sinus-sinus limfatik, ditunjung kerangka
serat retikular dan dikelilingi oleh simpai jaringan ikat. Terdiri atas korteks & medula.
Korteks limfonodus megandung kelompok limfosit yang membentuk limfonuduli atau
juga disebut dengan noduli kortkal pada banyak nodul kortikal , tampak pusatnya yang
lebih pucat. Daerah pucat ini adalah pusat germinal, tempat proliferatiflimfosit. Didalam
medula limfonodus, limfosit tersusun berupa korda jaringan limfatik tidak teratur, yaitu
korda medularis yang mengandung makrofag, sel plasma, dan limfosit kecil.


15


Gambar Limfonodus

Tonsila Palatina
Permukaannya ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi/kriptus
tonsila. Banyak limfonodus terletak dibawah jaringan ikat & tersebar sepanjang kriptus.
Limfonoduli tebenam didalam sitroma jaringan ikat retikular & jaringan limfatik difus.
Noduli sering saling menyatu & umumnya memperlihatkan pusat germinal.



16




Kelenjar timus
Organ limfoid yang berlobul-lobul diliputi oleh kapsul jaringan ikat tempat banyak
trabekula berasal. Trabekula meluas dan membagi kelenjar timus menjadi lobulus yang
tidak utuh. Setiap lobulus terdiri atas korteks & medula. Korteks setiap lobulus
mengandung limfosit lebih sedikit, tetapi mempunyai sel retikuler epitel yang lebih
banyak. Medula juga mengandung badan hassal yang menjadi ciri yang sangat
karakteristik pada kelenjar timus.


17




Limpa
Dibungkus sebuah simpai, jaringan ikat padat yang menunjukkan trabekula jaringan
ikat kebagian dalam limpa. Pada trabekula tedapat arteri trabekularis dan vena
trabekularis.

Pulpa Putih
Tda jar. Limfoid yg menyelubungi A. sentralis dan nodulus limfatikus . Sel2 limfoid yg
mengelilingi A. sentralis terutama Limfosit T dan membentuk selubung periarteri.
Nodulus limfatikus terutama limfosit B. Diantara pulpa putih dan pulpa merah tdp
ZONA MARGINALIS.
18



ZONA MARGINALIS :
tda banyak sinus dan jar.ikat longgar.
tdp sedikit limfosit dan banyak makrofag yg aktif
Banyak mengandung antigen darah peran utama dlm aktivitas imunologis
limpa
Pulpa merah


19




II. SISTEM IMUN

1. Alami (aktif dan pasif)
Kekebalan alami aktif
Adalah kekebalan yang didapat secara alami. Aktif terjadi apabila stimulus yang
menghasilkan Ab dan kekebalan seluler biasanya bertahan lebih lama dibanding pasif.
Contoh : Bila anak mendapat infeksi kemudia sembuh, dengan sendirinya ia akan
kebal terhadap penyakit yang menyerang . Anak itu mempunyai kekebalan.
Kekebalan alami adalah kekebalan terkuat. Tetapi harus diingat bahwa bahwa anak
tersebut belum mendapat kekebalan , ia harus berjuang melawan penyakit . Anak
tersebut menderita penyakit yang berat , mungkin sembuh dengan cacat, mungkin
meninggal dsamn mungkin juga sehat kembali dengan mendapat kekebalan.


20

Kekebalan alami pasif
Adalah pemberian Antibodi yang berasal dari manusia dengan tujuan memberi
perlindungan terhadap penyakit infeksi yang bersifat sementara karena kadar antibodi
akan berkurang setelah beberapa minggu / bulan
Contoh : Kekebalan ini terdapat pada bayi yang baru lahir sampai umur 5 bulan.
Kekebalan tersebut didapat dari ibunya melalui ari-ari (placenta), misalnya penyakit
campak ( morbilli) dan diphtheria.
2. Spesifik dan Non spesifik

I. Non Spesifik
Mekanisme fisiologik imunitas nonspesifik berupa komponen normal tubuh yang selalu
ditemukan pads individu sehat dan siap mencegah mikroba masuk tubuh dan dengan
cepat menyingkirkan mikroba tersebut. Jumlahnya dapat ditingkatkan oleh infeksi,
misalnya jumlah sel darah putih meningkat selama fase akut pada banyak penyakit.
Disebut nonspesifik karma tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada dan siap
berfungsi sejak lahir.

A. Pertahanan fisik/mekanik
Dalam sistem pertahanan fisik atau mekanik, kulit, selaput lendir, silia saluran
napas,batuk dan bersin,merupakan garis pertahanan terdepan terhadap infeksi.
B. Pertahanan biokimia
Kebanyakan mikroba tidak dapat menembus kulit yang sehat, namun beberapa
dapat masuk tubuh melalui kelenjar sebaseus dan folikel rambut. pH asam
keringat dan sekresi sebaseus, berbagai asam lemak yang dilepas kulit mempunyai
efek denaturasi terhadap protein membran sel sehingga dapat mencegah infeksi
yang terjadi melalui kulit.



















21

Mekanisme imunitas nonspesifik terhadap bakteri pada tingkat sawar
fisik seperti kulit atau permukaan mukosa

1. Bakteri yang bersifat simbiotik atau komensal yang ditemukan pada kulit
menempati daeral: terbatas pada kulit dan menggunakan hanya sedikit nutrien,
sehingga kolonisasi olei: mikroorganisme patogen sulit terjadi
2. Kulit merupakan sawar fisik efektif dan pertumbuhan bakteri dihambat
sehingga agen patoger yang menempel akan dihambat oleh pH rendah dari
asam laktat yang terkandung dalam sebum yang dilepas kelenjar keringat
3. Sekret dipermukaan mukosa mengandung enzim destruktif seperti lisozim yang
menghancurkan dinding sel bakteri
4. Saluran napas dilindungi oleh gerakan mukosiliar sehingga lapisan mukosa
secara terus menerus digerakkan menuju arah nasofaring
5.Bakteri ditangkap oleh mukus sehingga dapat disingkirkan dari saluran napas
6.Sekresi mukosa saluran napas dan saluran cerna mengandung peptida
antimikrobial yang dapat memusnahkan mikroba patogen
6 & 7. Mikroba patogen yang berhasil menembus sawar fisik dan masuk ke
jaringan dibawahnya dapat dimusnahkan dengan bantuan komplemen dan
dicerna oleh fagosit


Lisozim dalam keringat, ludah, air mata dan air susu ibu, melindungi tubuh
terrhadap berbagai kuman positif-Gram oleh karena dapat menghancurkan lapisan
peptidoglikan dinding bakteri. Air susu ibu juga mengandung laktooksidase dan
asam neuraminik yang mempunyai sifat antibakterial terhadap E.koli dan
stafilokok. Saliva mengandung enzim seperti laktooksidase yang merusak dinding
sel mikroba dan menimbulkan kebocoran sitoplasma dan juga mengandung
antibodi serta komplemen yang dapat berfungsi sebagai opsonin dalam lisis sel
mikroba.
Asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik, antibodi dan empedu dalam
usus halus membantu menciptakan lingkungan yang dapat mencegah infeksi
banyak mikroba. pH yang rendah dalam vagina, spermin dalam semen dan
jaringan lain dapat mencegah tumbuhnya bakteri positif gram. Pembilasan oleh
urin dapat mengeliminasi kuman patogen. Laktoferin dan Transferin dalam serum
mengikat besi yang merupakan metabolit esensial untuk hidup beberapa jenis
mikroba seperti pseudomonas.
Bahan yang disekresi mukosa saluran napas (enzim dan antibodi) dan telinga
berperan pula dalam Pertahanan tubuh biokimiawi. Mukus yang kental
melindungi sel epitel mukosa, dapat menangkap bakteri dan bahan lainnya yang
selanjutnya dikeluarkan oleh gerakan silia. asap rokok, alkohol dapat me
rusak meka nisme tersebut sehingga memudahkan terjadinya infeksi oportunistik



C. Pertahanan humoral
1. Komplemen
Berbagai bahan dalam sirkulasi seperti komplemen, interferon, CRP dan
kolektin berperan dalam pertahanan humoral. Serum normal dapat memusnahkan
dan menghancurkan beberapa bakteri negatif-Gram. Hal itu disebabkan oleh
22

adanya kerja sama antara antibodi dan komplemen, keduanya ditemukan dalam
serum normal. Komplemen rusak oleh pemanasan pada 56C selama 30 menit.
2. Interferon
Interferon adalah sitokin berupa glikoprotein yang diproduksi makrofag yang
diaktifkan, set NK dan berbagai set tubuh yang mengandung nukleus dan dilepas
sebagai respons terhadap infeksi virus. IFN mempunyai sifat antivirus dan dapat
menginduksi sel-sel sekitar set yang terinfeksi virus menj adi resisten terhadap
virus.
3.Protein fase akut
Selama terjadi infeksi, produk bakteri seperti LPS mengaktifkan makrofag dan
sel lain untuk melepas berbagai sitokin seperti IL- 1 yang merupakan pirogen
endogen, TNF dan IL- 6. Sitokin-sitokin tersebut merangsang hati untuk
mensintesis dan melepas sejumlah protein plasma yang disebut protein fase akut
seperti CRP yang dapat meningkat 1000 kali, MBL dan komponen amiloid serum
(Tabel 2)




Tabel 2. protein fase akut

Reaktan Fase Akut Peran
Peningkatan kadar sangat tinggi:
CRP
MBL
Asam glikoprotein al
Komponen amiloid P serum

Mengikat komplemen, opsonin
Mengikat komplemen, opsonin
Transpor protein
Prekursor komponen amiloid
Peningkatan kadar sedang:
Inhibitor proteinase al
Antikimotripsin al
C3, C9, faktor B
Seruloplasmin
Fibrinogen
Angiotensin
Haptoglobin
Fibronektin

Mencegah protease bakteri
Mencegah protease bakteri
Meningkatkan fungsi komplemen
O2 scavenger atau bangkai
Koagulasi
Tekanan darah
Mengikat hemoglobin
Mengikat sel


4.Kolektin
Kolektin adalah protein yang fungsi sebagai opsonin yang dapat mengi ikat
hidrat arang pada permukaan kuman Kompleks yang terbentuk diikat
reseptor fagosit untuk dimakan. Selanjutnya komplemen juga dapat diaktifkan.

5.Pertahanan selular
a.Fagosit
Fagositosis yang efektif pada invasi dini akan dapat mencegah timbulnya infeksi.
Dalam kerjanya, sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun
spesifik.
b. Makrofag
23

Monosit ditemukan dalam sirkulasi, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit
dibanding neutrofil. Monosit bermigrasi ke jaringan dan di sana berdiferensiasi
menjadi makrofag yang seterusnya hidup dalam jaringan sebagai makrofag
residen. Sel Kupffer adalah makrofag dalam hati
c. Sel NK
Limfosit terdiri atas sel B, sel T (Th. CTL) dan sel NK. Yang akhir adalah
golongan limfosit ketiga sesudah sel dan sel B. Jumlahnya sekitar 5-15% dari
limfosit dalam sirkulasi dan 45% dari limfosit dalam jaringan. Sel tersebut
berfungsi dalam imunitas nonspesifik terhadap virus dan sel tumor.
d.Sel mast
Sel mast berperan dalam reaksi alergi dan juga dalam pertahanan pejamu,
jumlahnya menurun pada sindrom imunodifisiensi Sel mast juga berperan pada
imunitas terhadap parasit dalam uses dan terhadap invasi bakteri














24




















Gambar Perbedaan Mekanisme Sistem imun Non Spesifik dan Spesifik



Tabel 1. Perbedaan sifat-sifat sistem imun nonspesifik dan spesifik

Nonspesifik Spesifik
Resistensi Tidak berubah
Oleh infeksi
Membaik oleh infeksi
berulang (=memori)
Spesifitas Umumnya efektif
terhadap semua mikroba
Spesifik untuk mikroba
yang sudah mensensitasi
sebelumnya
Sel yang penting Fagosit
Sel NK
Sel mast
Eosinofil
Th, Tdth, Tc, Ts
Sel B
Molekul yang penting Lisozim
Komplemen
APP
Interferon
CRP
Kolektin
Molekul adhesi
Antibodi
Sitokin
Mediator
Molekul adhesi



D. Pertahanan selular
Fagosit, makrofag dan sel NK berperan dalam sistem imun nonspesifik selular.
25

1. Fagosit

Meskipun berbagai sel dalam tubuh melakukan fagositosis, tetapi sel
utama yang berperan dalam pertahanan spesifik adalah sel mononuklear
monosit dan makrofag) serta sel poli mornofonuklear atau granulosit. Sel-sel
ini berperan sebagai sel yang menangkap antigen. mengolah dan selanjutnya
mempresentasikannya kepada sel T, yang dikenal sebagai sel penyaji atau
APC. Kedua sel tersebut berasal dari sel asal hemopoietik. Granulosit hidup
pendek, mengandung granul yang berisikan enzim hidrolitik. Beberapa granul
berisikan laktoferin yang bersifat bakterisidal.
Fagositosis yang efektif pada invasi dini akan dapat mencegah
timbulnya infeksi. Dalam kerjanya, sel fagosit juga berinteraksi dengan
komplemen dan sistem imun spesifik. Penghancuran kuman terjadi dalam
beberapa tingkat sebagai berikut, kemotaksis, menangkap, fagositosis,
memusnahkan dan mencerna semua fase, kecuali fase 2 memelurkan tenaga
dari fagosit, sedang mikroba menempel pada fagosit terjadi melalui tenaga
kimiawi antara reseptor dipermukaan sel dan bakteri atau molekul yang
diikatnya (misalnya komplemen, antibodi). Mekanisme untuk fase 5 menjadi
oksidatif atau non tergantung perlu tidaknya sumber oksigen.
Kemotaksis adalah gerakan fagosit ke tempat infeksi sebagai respons terhadap
berbagai faktor seperti produk faktor biokimiawi yang di lepas pada aktivasi
komplemen. Jaringan yang rusak atau mati dapat pula melepas faktor
kemotaktik. Sel polimorfonuklear bergerak cepat dan sudah berada di tempat
infeksi dalam 2-4 jam, sedang monosit bergerak lebih lambat dan memerlukan
waktu 7-8 jam untuk sampai di tempat tujuan.










Gambar Tahapan-tahapan pematangan fagosit mononuklear











Gambar Reseptor dan respons fagosit


26

Antibodi seperti halnya dengan komplemen (C3b) dapat meningkatkan fagositosis
(opsonisasi). Opsonin adalah molekul besar yang diikat permukaan mikroba dan dapat
dikenal oleh reseptor permukaan neutrofil dan makrofag, sehingga meningkatkan
efisiensi fagositosis. Contoh-contoh opsonin adalah IgG yang dikenal Fc7-R pada
fagosit dan fragmen komplemen yang dikenal oleh reseptor komplemen tipe 1 (CRI,
CD35) dan integrin Mac-1 pada leukosit.
Antibodi seperti IgG yang dikenal Fcy-R pada permukaan fagosit diikat
mikroba. Sinyal dari Fcy-R meningkatkan fagositosis mikroba yang diopsonisasi dan
mengaktifkan makrofag untuk menghancurkan mikroba.
Destruksi mikroba intraselular terj adi oleh karena di dalam sel fagosit,
monosit dan polimorfonuklear, terdapat berbagai bahan antimikrobial seperti lisosom,
hidrogen peroksida (H2O2) dan mieloperoksidase. Tingkat akhir fagositosis adalah
pencernaan protein, polisakarida, lipid, dan asam nukleat di dalam sel oleh enzim
lisosom. Sel polimorfonuklear lebih sering ditemukan pada inflamasi akut, sedang
monosit pada inflamasi kronik.

2. Makrofag

Monosit ditemukan dalam sirkulasi, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit
dibanding neutrofil. Monosit bermigrasi ke jaringan dan di sana berdiferensiasi
menjadi makrofag yang seterusnya hidup dalam jaringan sebagai makrofag residen.
Sel Kupffer adalah makrofag dalam hati. histiosit dalam jaringan ikat, makrofa
alveolar di paru, sel glia di otak dan sel Langerhans di kulit.
Makrofag dapat hidup lama, mempunyai beberapa granul dan melepas
berbagai bahan, antara lain lisozim komplemen, interferon dan sitokin yan` semuanya
memberikan kontribusi dalar pertahanan nonspesifik dan spesifik.



















Gambar Petanda permukaan monosit/makrofag




27

3. Sel NK

Limfosit terdiri atas sel B, sel T (Th. CTL) dan sel NK. Yang akhir adalah
golongan limfosit ketiga sesudah sel dan sel B. Jumlahnya sekitar 5-15% dari limfosit
dalam sirkulasi dan 45% dari limfosit dalam jaringan. Sel tersebut berfungsi dalam
imunitas nonspesifik terhadap virus dan sel tumor. Secara morfologis sel NK
merupakan limfosit dengan granul besar. Ciri-cirinya yaitu memiliki banyak sekali
sitoplasma (limfosit T dan B hanya sedikit mengandung sitoplasma). Granul
sitoplasma azurolik, pseudopodia dan nukleus eksentris. Oleh karena itu sel NK
sering pula disebut LGL.

4. Sel mast

Sel mast berperan dalam reaksi alergi dan juga dalam pertahanan pejamu,
jumlahnya menurun pada sindrom imunodifisiensi Sel mast juga berperan pada
imunitas terhadap parasit dalam uses dan terhadap invasi bakteri. Berbagai faktor
nonimun seperti latihan jasmani, tekanan, trauma, panas dan dingin dapat pula
mengaktifkan dan degranulasi sel mast. Sel mast dibahas lebih lanjut dalam Bab
Reaksi Hipersensitivitas dan Bab Imunitas Infeksi

II. Spesifik

berbeda dengan sistem imun nonspesifik, sistem imun spesifik mempunyai
kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing
yang pertama kali muncul dalam badan segera dikenal oleh sistem imun spesifik
sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imun tersebut. Benda asing yang sama, bila
terpajan ulang akan dikenal lebih cepat, kemudian dihancurkan. Oleh karena sistem
tersebut hanya dapat menyingkirkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya,
maka sistem itu disebut spesifik. Untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya
bagi tubuh, sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun
nonspesifik. pada umumnya terjalin kerja sama yang baik antara anti bodi-
komplemen-fagosit dan antara sel T-makrofag.
Pada imunitas humoral, sel B akan melepas antibodi untuk menyingkirkan
mikroba ekstraselular. Pada imunitas selular, sel T akan mengaktifkan makrofag
untuk menghancurkan mikroba atau mengaktifkan sel Tc untuk memusnahkan sel
terinfeksi.


Gambar Perkembangan sel B dan sel T
28


A. Sistem imun spesifik humoral
Pemeran utama dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau set
B. Humor berarti cairan tubuh. Sel B berasal dari set asal multipoten di sumsum
tulang. Pada unggas, set yang disebut Bursal cell atau sel B akan bermigrasi dan
berdiferensiasi menjadi set B yang matang dalam slat yang disebut Bursa Fabricius
yang terletak dekat kloaka. Pads manusia difcrensiasi tersebut terjadi dalarn sumsum
tulang.
Bila set B dirangsang oleh bends asing, set tersebut akan berproliferasi,
berdiferensiasi dan berkembang menjadi set plasma yang memproduksi antibodi.
Antibodi yang dilepas dapat ditemukan dalam serum. Fungsi utama antibodi in] ialah
pertahanan terhadap infeksi ekstraselular, virus dan bakteri serta menetralisasi
toksinnya.

B. Sistem imun spesifik selular
Limfosit T atau set T berperan pada sistem imun spesifik selular. Sel tersebut
juga berasal dari sel asal yang lama seperti sel B. Pada orang dewasa, sel T dibentuk
di dalam sumsum tulang tetapi proliferasi dan diferensiasinya terjadi di dalam
kelenjar timus atas pengaruh berbagai faktor anal timus. 90-95% dari semua set T
dalam timus tersebut coati dan hanya 5-10% menjadi matang dan meninggalkan timus
untuk masuk ke dalam sirkulasi.

Faktor timus yang disebut timosin dapat ditemukan dalam peredaran darah
sebagai hormon asli dan dapat mempengaruhi diferensiasi set T di perifer. Berbeda
dengan set B, set T terdiri atas beberapa sel subset dengan fungsi yang berlainan yaitu
set Thl, Th2, Tdth, CTL atau Tc, Ts atau set Tr atau Th3. Fungsi utama sistem imun
spesifik selular ialah untuk pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraselular, virus,
jamur, parasit dan keganasan. Yang berperan pada imunitas selular adalah set CD4+
yang mengaktifkan sel Thl yang selanjutnya mengaktifkan makrofag untuk
menghancurkan mikroba dan set CDB+ yang memusnahkan set terinfeksi. Perbedaan
imunitas spesifik humoral dan selular terlihat pada Tabel 4.

Imunitas Humoral dan selular
A. Imunitas Humoral (Antibodi-mediated)
a. Pembentukan antibodi oleh sel plasma.
- Sebelum terpajan dengan antigen spesifik, klon limfosit B tetap dalam
keadaan dormant (tidur) di dalam jaringan limfoid.
- Limfosit B spesifik yang terpajan dengan antigen akan membesar dan tampak
seperti gambaran limfoblas.
- Beberapa limfoblas berdiferensiasi lebih lanjut untuk membentuk plasmablas,
yang merupakan prekursor dari sel plasma.
- Sel plasma yang matur (dewasa) kemudian menghasilkan antibodi gamma
globulin dengan kecepatan tinggi ( kira-kira 2000 molekul per detik untuk
setiap sel plasma).
29

- Antibodi yang disekresikan kemudian masuk kedalam cairan limfe (kelenjar
getah bening) dan diangkut ke sirkulasi darah.
- Proses ini berlanjut terus selama beberapa hari atau beberapa minggu sampai
sel plasma kelelahan dan mati.

b. Pembentukan sel memori.
- Beberapa limfoblas yeng terbentuk oleh pengaktifan suatu klon limfosit B,
tidak berlanjut membentuk sel plasma, melainkan membentuk sel limfosit B
baru yang sifatnya serupa pada klon asal.
- Limfosit B yang baru ini juga bersirkulasi ke seluruh tubuh untuk mendiami
seluruh jaringan limfoid, tetapi secara immunologis, mereka tetap dalam
keadaan dormant sampai diaktifkan kembali oleh sejumlah antigen baru yang
sama.
- Limfosit B yang baru ini disebut dengan sel memori.

c. Respon primer untuk pembentukan antibodi yang terjadi saat pajanan pertama
oleh suatu antigen spesifik.
- Ketika individu terpapar antigen untuk pertama kali, antibodi yang melawan
antigen tersebut dideteksi dalam serum dalam waktu beberapa hari atau
beberapa minggu.
- Antibodi yang pertama terbentuk adalah IgM, diikuti oleh IgG, IgA atau
keduanya.
30

- Kadar IgM cenderung turun lebih cepat daripada kadar IgG.
d. Respon sekunder yang terjadi setelah pajanan kedua oleh antigen yang sama.
- Pada kejadian terpapar antigen yang sama untuk kedua kalinya (beberapa
bulan atau beberapa tahun setelah respon primer), respon antibodi lebih cepat
dan jauh labih kuat dari pada selama respon primer.
- Perubahan respon ini dibantu oleh keberadaan sel memori.
- Pada respon sekunder, jumlah IgM yang diproduksi hampir sama dengan yang
diproduksi pada respon primer.
- Produksi dan kadar IgG cenderung menetap lebih lama dibandingkan yang
terjadi pada respon primer.

e. Sistem komplemen.
- Sistem komplemen termasuk protein serum dan protein yang terikat membran
yang berfungsi baik dalam sistem imunitas tubuh penjamu yang didapat
maupun imunitas alamiah.
- Komplemen mempunyai beberapa pengaruh yaitu: (1) melisis sel (misalnya
bakteri dan sel tumor), (2) produksi mediator yang berperan dalam inflamasi
dan menarik fagosit, dan (3) penguatan respon yang diperantarai antibodi.
- Pemeran utama dalam sistem ini adalah 11 protein yang ditandai dengan C1
sampai C9, B dan D.
- Fragmen yang lebih kecil ditambahkan dengan huruf a (misalnya C4a),
sedangkan fragmen yang lebih besar ditambahkan huruf b (misalnya C5b).
31

- Efek biologis utama komplemen meliputi :
- Opsonisasi : sel, kompleks antigen-antibodi dan partikel-partikel yang lain
difagosit lebih efisien dengan adanya C3b karena adanya reseptor C3b
pada permukaan banyak fagosit (Neutrofil dan Makrofag).
- Kemotaksis : C5a menstimulasi gerakan neutrofil.
- Pengaktifan sel Mast dan basofil (Anafilatoksin) : fragmen C3a, C4a dan
C5a mengaktifkan sel Mast dan basofil, sehingga menyebabkan sel-sel
tersebut melepaskan histamin, heparin dan substansi lainnya kedalam
cairan setempat.
- Sitolisis : Insersi kompleks C5b6789 ke permukaan sel menyebabkan mati
atau lisisnya banyak tipe sel termasuk eritrosit, bakteri dan sel tumor.

B. Imunitas Selular (Cell-mediated).
a. Pelepasan sel T yang teraktifasi dari jaringan limfoid.
- Pada waktu terpapar dengan antigen yang sesuai, limfosit T dari klon jaringan
limfoid spesifik akan berproliferasi dan melepaskan benyak sel T yang
teraktifasi.
- Selanjutnya, sel-sel T ini akan dilewatkan kedalam sirkulasi dan disebarkan
keseluruh tubuh, melewati dinding kaapiler masuk kedalam ruang jaringan,
sekali lagi kembali masuk kedalam cairan limfe dan darah, dan bersirkulasi
bolak-balik diseluruh tubuh, kadang-kadang berakhir sampai berbulan-bulan
atau bahkan bertahun-tahun.
b. Pembentukan sel memori.
- Pembentukanya melalui cara yang sama seperti pembentukan sel memori B.
- Bila ada suatu klon limfosit T diaktifkan oleh suatu antigen, maka banyak
limfosit yang baru terbentuk ditambahkan kedalam jaringan limfoid dan
menyebar keseluruh jaringan limfoid diseluruh tubuh.
c. Jenis-jenis dan fungsi sel T.
- Sel T sitotoksik (T
c
) berfungsi menghasilkan racun (toxin) yang akan
menghancurkan mikroba, sel kanker atau sel yang sedang terinfeksi virus.
Reseptor spesifik antigen pada T
c
adalah protein yang disebut dengan CD8.
- Sel T pembantu ( T
H
). Sel ini juga memiliki reseptor spesifik antigen yang
disebut CD4. Limfosit T
H
juga menghasilkan lymphokinase (enzim) seperti
32

Interleukin-2 hingga Interleukin-6. Lymphokinase memiliki fungsi pengaturan
spesifik berupa:
o Perangsangan pertumbuhan dan poliferasi sel T Sitotoksik dan sel T
Supresor.
o Perangsangan pertumbuhan dan differensiasi sel B untuk membentuk sel
plasma dan Antibodi.
o Aktivasi sistem Makrofag.
- Sel T supresor (T
S
) mempunyai kemampuan untuk menekan fungsi sel T
sitotoksik dan sel T pembantu. Fungsi sel ini menyebabkan pengaturan
aktivitas sel-sel lain , menjaganya agar jangan menyebabkan reaksi imun yang
berlebihan yang mungkin saja sangat merusak tubuh.





C. Kerja sama antara sistem imun nonspesifik dan spesifik

Sistem imun nonspesifik dan sistem imun spesifik berinteraksi dalam
menghadapi infeksi. Sistem imun nonspesifik bekerja dengan cepat dan wring
diperlukan untuk merangsang sistem imun spesifik. Mikroba ekstraselular
mengaktifkan komplemen melalui jalur lektin.
Kompleks antigen-antibodi mengaktifka.-komplemen melalui jalur klasik.
Virus intraselular merangsang sel yang diinfeksinya untuk melepas IFN yang
mengerahkan dan mengaktiflcan sel NK. Sel dendritik yang memakan antigen
bermigrasi kelenjar getah bening dan mempreser.tasikan antigen yang dimakannya ke
sel T. Sel T yang diakti tkan bermigrasi tempat infeksi dan memberikan bantua-ke set
NK dan makrofag.


33

III. ANTIGEN
1. Definisi
Istilah antigen mengandung dua arti. Pertama untuk menggambarkan molekul yang
memacu respon imun dan kedua untuk menunjukkan molekul yang dapat beraksi dengan
antibodi atau sel T yang sudah disensitasi. Secara fungsional antigen dibagi menjadi
imunogen dan hapten. Bahan kimia ukuran kecil seperti dinitrofenol dapat diikat antibodi,
tetapi bahan tersebut sendiri tidak dapat mengaktifkan sel B (tidak imunogenik). Untuk
memacu respon antibodi, bahan kecil tersebut perlu diikat oleh molekul besar. Kompleks
yang terdiri atas molekul kecil (hapten) dan molekul besar (molekul pembawa) dapat
berperan sebagai imunogen. Molekul pembawa sering digabung denganhapten dalam usaha
memperbaiki imunisasi. Hapten membentuk epitop pada molekul pembawa yang dikenal
sistem imun dan merangsang pembentukan antibodi.

2. Sifat
- Non self (asing)
- Berat molekul tinggi ( >6000 dalton)
- Memiliki struktur kompleks (protein,polisakarida,nukleoprotein,lipoprotein yang
ditentukan oleh sifat genetik.Contoh polisakarida imunogenik bagi orang dewasa dan
mencit tapi tidak imunogenik bagi kelinci dan marmot

3. Macam dan Fungsi Antigen

1. Pembagian antigen menurut epitop
a. Unideterminan, univalen. Hanya satu jenis determinan/epitop pada satu
molekul.
b. Unideterminan, multivalen. Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih
determinan tersebut ditemukan pada satu molekul.
c. Multideterminan, univalen. Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi
hanya satu dari setiap macamnya.
d. Multideterminan, multivalent. Banyak macam determinan dan banyak dari
setiap macam pada satu molekul.















Gambar Berbagai antigen dan epitop
34

2. Pembagian antigen menurut spesifisitas
a. Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies.
b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki pleh spesies tertentu.
c. Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individu dalam satu spesies
d. Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu.
e. Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri.

3. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T
a. T dependen, yang memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk
dapat menimbulkan respons antibody. Kebanyakan antigen protein termasuk
dalam golongan ini.
b. T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk
membentuk antibody. Kebanyakan antigen golongan ini berupa molekul besar
polimerik yang dipecah di dalam tubuh secara perlahan-lahan, misalnya
lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan dan flagelin polimerik bakteri.
4. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi
a. Hidrat arang (polisakarida). Hidrat arang pada umumnya imunogenik.
Glikoprotein yang merupakan bagian permukaan sel banyak mikroorganisme
dapat menimbulkan respons imun terutama pembentukan antibody. Contoh
lain adalah respons imun yang ditimbulkan golongan darah ABO, sifat antigen
dan spesifitas imunnya berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah
merah.
b. Lipid. Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat
protein pembawa. Lipid dianggap sebagai hapten, contohnya adalah
sfingolipid.
c. Asam nukleat. Asam nukleat tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi
imunogenik bila diikat protein molekul pembawa. DNA dalam bentuk
heliksnya biasanya tidak imunogenik. Respons imun terhadap DNA terjadi
pada penderita dengan LES.
d. Protein. Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya
multideterminan dan univalen.

IV. ANTIBODI
1. Definisi
Antibodi merupakan zat anti, immunoglobulin dengan urutan asam amino spesifik, hanya
bereaksi dengan antigen yang merangsang pembentukannya atau antigen yang mirip.

2. Struktur
Antibodi (imonoglobulin) adalah glikoprotein yang terdiri dari rantai-rantai polipeptida
ringan (light L) dan berat (heavy, H) istilah ringan dan berat menunjukan beratjenis
molekul. Rantai ringan mempunyai berat molekul 2.500 , sedangkan rantai berat
mempunyai berat molekul 50.000-70.000. Molekul antibodi paling sederhana
mempunyai bentuk Y dan terdiri dari 4 rantai polipeptisa, 2 rantai H dan 2 rantai L .
Keempat rantai dihubungkan dengan ikatan disulfida kovalen. Suatu molekul antibodi
selalu mempunyai rantai-rantai H yang identik dan rantai-rantai L yang identik.
Rantai L dan H dibagi menjadi regio variabel dan regio konstan ( CL1 ). Kebanyakan
rantai H terdiri dari satu domain variabel ( VH ) dan 3 domain konstan ( Ch ). IgG dan
IgA mempunya 3 domain CH, sedangkan Igm dan IgE mempunya 4 domain CH . Setiap
35

domain terdiri dari sekitar 110 asam amino . Regio Variabel berfungsi untuk peningkatan
antigen , sedangkan Regio konstan berfungsi untuk berbagai fungsi biologis, seperti
aktifasi komplemen dan pengikatan pada reseptor permukaan sel.

Perbedaan 5 klas imunoglobulin terletak pada rantai- H, tetapi semua klas imunoglobulin
mempunyai rantai- k atau ( didalam satu molekul selalu hanya satu macam saja).
o Rantai H dari IgG rantai - ( gamma)
o Rantai H dari IgA rantai - o ( alpha)
o Rantai H dari IgM rantai - (mu)
o Rantai H dari IgD rantai - o ( delta)
o Rantai H dari IgE rantai -c ( epsilon)


Gambar Unit dasar antibodi















36

3. Sifat
Antibodi merupakan zat anti, immunoglobulin dengan urutan asam amino spesifik, hanya
bereakasi dengan antigen yang merangsang pembentukkannya atau antigen yang mirip.

Imonoglobulin yang merupakan golongan protein yang dibentuk oleh sel plasma yang
berasal dari proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen.

4. Kelas
- Imunoglobulin G (Ig G)
Merupakan komponen utama imunoglobulin serum. Brat molekul : 160000 dalton,
kadar dalam serum 13 mg/ml,75% dari semua imunoglobulin. Ditemukan pada :
darah, LCS dan urin . Dapat menembus plasenta masuk ke fetus dan berperan pada
imunitas bayi dengan umur 6-9 bulan, sehingga kadarnya banyak pada neonatus.
- Imunoglobulin A ( Ig A)
Merupakan komponen terbanyak kedua dalam serum setelah Ig G.Berat molekul :
165.000 dalton. Ditemukan pada : cairan sekresi saluran napas, cerna dan kemih,air
mata, keringat, ludah dan dalam air susu ibu berupa sIgA. Fungsi : - sIgA melindungi
tubuh dari patogen karena bereaksi (imunitas neonatus) dengan molekul adhesion dari
patogen, mencegah terjadinya kontak antara toksin atau virus dengan sel sasaran.
- Imunoglobulin M (Ig M)
Merupakan imunoglobulin terbesar.Berat molekul : 900.000 dalton. Tidak dapat
menembus plasenta.
Kebanyakan sel B mengandung Ig M pada permukaan selnya sebagai reseptor
.Antigen pada respon imun primer sebagai petunjuk adanya infeksi dini. Kebanyakan
antibodi alamiah seperti isoaglutinin, golongan darah ab, antibodi heterofil adalah
IgM
- Imunoglobulin D (Ig D)
Merupakan komponen terendah dalam sirkulasi karena tidak dilepas sel plasma dan
rentan terhadap degradasi sel proteolitik.Ig D tidak mengikat komplemen, mempunyai
aktifitas antibodi terhadap antigen berbagai makanan dan autoantigen seperti
komponen nukleus. Fungsinya sebagai reseptor permukaan limfosit. Sebagai antibody
terhadap inti sel. Terdapat pada permukaan sel limfosit dalam tali pusar

- Imunoglobulin E (Ig E)
Merupakan komponen yang jumlahnya sangat sedikit dalam serum, selain itu mudah
mengikat sel mast dan basofil. Ditemukan pada alergi, infeksi cacing, skistosomiasis,
penyakit hidatid, trikinosis, berperan pada imunitas parasit. Apabila disuntikkan ke
dalam kulit akan terikat pada mast cells. Mast cell menghasilkan histamin sehingga
dapat menimbulkan alergi. Kontak dengan antigen akan menyebabkan degranulasi
dari mast cell dengan pengeluaran zat amin yang vaso-aktif.





37

V. IMUNISASI DAN VAKSIN
1. Definisi
Vaksinasi adalah memasukkan vaksin dalam tubuh untuk menghasilkan kekebalan
Vaksin adalah suspensi mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan (bakteri, virus,
ricketsia, tungau, protein antigenik dari mikroorganisme tadi) diberikan untuk mencegah
atau meringankan atau mengobati penyakit menular
Imunitas adalah keadaan kebal terhadap penyakit
Imunisasi adalah tindakan induksi proses imunologis yang mengakibatkan peningkatan
reaktivitas terhadap antigen

2. Macam macam imunisasi dan vaksin

A. Peptide sintetik
Peptide sintetik hanya mengandung epitop dari antigen protektif. Bagian lain dari
protein yang menimbulkan efek supresif terhadap system imun, efek toksik atau
bereaksi silang dengan protein endogen sudah dihilangkan. Kebanyakan peptide
menginduksi respons imun yang potensinya tergantung dari jenis MHC. Hasil yang
optimal hanya dapat diperoleh pada sebagian populasi

B. Vaksin Rekombinan

Vaksin rekombinan dapat diproduksi dalam jumlah besar. Keuntungan
penggunaannya bebas dari fragmen-fragmen pathogen yang tidak diinginkan atau
berbahaya yang dapat menimbulkan efek samping seperti halnya dengan vaksin
konvensional. Teknologi rekombinan DNA telah memungkinkan untuk menyandi
epitop tertentu penjamu seperti virus atau bahteri. Epitop khusus yang protektif dapat
digunakan dalam vaksin. Bagian virulen tertentu dari mikroba seperti gliko- protein D
(gly D) virus harpes, merangsang CTL yang menimbulkan proteksi dan tidak
dikhawatirkan penjamu akan menjadi sakit seperti seperti yang mungkin terjadi pada
pemberian vaksin virus yang dilemahkan. Pendekatan ini juga dapat dilakukan untuk
memberikan proteksi humoral (anti bodi) terhadap mikroba. Baik epitop sel B (bagian
dari antibody yang mengikat agens infeksi), maupun epitop sel T (peptide yang
mengikat molekul MHC-II untuk merangsang sel CD4) dapat digunakan. Contoh
vaksin rekombinan yang sudah lama digunakan adalah vaksin hepatitis B yang dibuat
dengan memasukan gen segmen virus hepatitis B kedalam gen sel ragi. Contoh vaksin
lain adalah vaksin S. tifi (Ty 21a)



C. Vaksin DNA

Vaksin DNA merupakan vaksin yang terakhir dikembangkan. Gen yang menyandi
antigen patogenik yang diinginkan, diklon kemudian disuntikan. Penggunaan DNA
yang menyandi antigen dapat digunakan sebagai vaksin yang potensial. Naked cDNA
yang menyandi hemaglutinin virus influenza. Dapat diinokulasikan kejaringan otot
yang merangsang baik prodiksi antibodymaupun respons CTL yang spesifik untuk
protein influenza. Vaksin DNA memiliki beberapa keuntungan potensial dibanding
vaksin tradisional. Hal tersebut menyangkut spesifisitas, induksi Th 1 yang poten dari
38

respons Tc. Seperti yang terlihat pada vaksin yang dilemahkan tetapi tanpa potensi
menjadi virulen.

D. Sitokin , pembawa vaksin

Menambahkan sitokin pembawa vaksin diduga akan merupakan cara efesien untuk
mendapatkan lingkungan/ milieu sitokin yang benar dalam mengarahkan respons
imun yang diharapkan. Efek sitokin adalah untuk meningkatkan efesien sel APC.
IFN- dan IL-4 meningkatkan ekspresi molekul MHC-II. Penggunaan sitokin efektor
tersebut sedang di pertimbangkan sebagai ajuvan pada vaksinasi, mengingat polarisasi
system imun jalur Th1 atau Th2 lebih menguntungkan pada berbagai hal misalnya
respons Th1 diperlukan terhadap tuberculosis sedang respons Th2 diperlukan pada
proteksi terhadap polio. Oleh karena respons Th1 dan Th2 saling mencegah,
menipulasi respons tersebut membuka jalan untuk intervensi yang selektif.

Tabel vaksin virus


Vaksin
Kini Dalam percobaan
Dilemahkan Vaksinia, Campak,
Campak, rubella, yellow
fever, adeno varisela-zoster
CMV,Hepatitis A,
Influenza, Dengue, Rota,
RSV
Dimatikan Polio (IPV), Influenza,
Japanese ensefalitis
Hepatitis A, Rabies
Subunit Hepatitis B Influenza
Kombinasi Campak, rubella(MMR)

Tabel vaksin bakteri

vaksin
Kini Dalam percobaan
Dilemahkan BCG,S.tifi V. lapreae, S. tifi (aro A)
Dimatikan V.kolera, B.pertusis (p),tifi M. lapreae dengan/ tanpa
BCG
Subunit H.influenza,
N. meningintidis, S.
pnemoni, B.pertusis,
(aseluler) (ap)
S. tifi(Vi polys)
Konjugat H.influenza(Hib) Pneumokok, meningokok
Toksoid Tetanus(T),difteri(D)
Kombinasi Difteri,
tetanus,pertusis.(DTP atau
Dtap)






39

Contoh Vaksin Virus

a. vaksin rubella (German measles)
Mengandung virus yang dilemahkan atau dimatikan, berasal dari virus dengan antigen
tunggal yang ditumbuhkan dalam biakan human diploid cell line. Kepada wanita yang
seronegatif perlu diberikan imunisasi sebelum pubertas dengan virus yang
dilemahkan. Hal tersebut diperlukan mengingat rubella dapat menimbulkan mal
formasi pada janin.
Guru-guru wanita dan perawat dokter rumah sakit anak dapat terpajan dengan rubella.
Juga staf paramedic yang bekerja diklinik antenatal dapat terinfeksi dan
menularkannya kepada ibu ibu hamil muda. Kepada mereka yang seronegatif perlu
diberikan vaksinasi. Vaksin tidak boleh diberikan kepada wanita yang sedang hamil.
Bila vaksin diberikan kepada wanita yang belum mengandung, dianjurkan untuk tidak
hamil dahulu selama 2 bulan.

b. vaksin virus influenza
penyakit influenza disebabkan virus famili ortomiksoviridae, yang terdiri atas virus
tipe A,B,dan C berdasarkan hemaglutinin permukaan (H) dan antigen neuraminidase
(N). wabah influenza sebetulnya terjadi setiap tahun, meskipun berat dan besarnya
bervariasi. Virus A paling sering menimbulkan epidemic/pandemic dan virus tipe B
kadang menimbulkan epidemic dan pandemic regional. Virus C hanya menimbulkan
infeksi sporadic yang ringan. 90 % kematian oleh influenza terjadi pada usia 65 tahun
atau lebih. Wabah terbesar disebabkan influenza tipe A oleh karena antigen nya yang
dapat berubah. Wabah influenza tipe B tidak begitu berat oleh karena antigenya yang
bersifat stabil.
Dalam alam, antigen virus tipe A dapat mengalami 2 jenis perubahan/ mutasi yang
antigenic drift bila mutasi tersebut terjadi perlahan dan antigenic shift yang terjadi
mendadak. Virus B lebih stabil dibandingkan virus A dan hanya menimbulkan
antigenic drift. Adanya antigenk drift/shift tersebut memungkinkan virus untuk lolos
dari pengawasan system imun pejamu, sehingga manusia selalu rentan terhadap
infeksi virus untuk seumur hidupnya. Antibody yang dibentuk terhadap infeksi
terdahulu, tidak lagi dapat mengenal virus penyebab infeksi baro. Oleh karena itu
komposisi vaksin disesuaikan setiap tahun dengan antigenic shift/drift yang ada. Ada
dua jenis vaksin yaitu yang dimatikan, diinaktifkan , dalam formalin atau
propiolakton (parenteral) dan yang hidup atau dilemahkan (oral/nasal). Yang
dilemahkan dapat terdiri atas seluruh virion (seluruh partikel virus) yang mempunyai
imunogenitas yang baik, tetapi efek samping yang besar. Vaksin split partikel
menggunakan fragmen partikel virus (mengandung RNA dan protein M ) dengan
imonogenitas yang baik dan efek samping yang kurang. Vaksin subunit mempunyai
bentuk mirip dengan split vaksin dengan imonogenitas yang kurang dan efek samping
yang sedikit. Vaksin diberikan kepada golongan diatas 60 tahun, penderita penyakit
kardiovaskular dan golongan dengan resiko. Tipe A,B, atau disrupted (split) virus
ditumbuhkan dalam embrio ayam.

c. Vaksin campak
vaksin campak adalah vaksin hidup yang dilemahkan dari galur virus dengan antigen
tunggal yang dibiakan dalam embrio ayam. Measles, Mumps, dan Rubella (MMR)
adalah vaksin yang dimatikan dan diberikan dalam suntikan tunggal, untuk
pencegahan penyakit campak, mumps (gondong) dan rubella.

40

d. vaksin poliomyelitis
diperoleh dalam 2 bentuk: masin- masing polivalen yang terdiri atas 3 tipe:

i. Vaksin virus dimatikan (inactivated polio vaccsin/IPV, Salk)
vaksin salk diproduksi dari virus yang ditumbuhkan dalam biakan atau dalam ginjal
kera yang kemudian diinaktifkan dengan formalin atau sinar ultra violet. Vaksin
tersebut memberikan imunitas terhadap paralisa atau penyakit sistemik, tetapi tidak
terhadap infeksi intestinal oleh polio.

ii. Vaksin oral (oral polio vaccine/OPV, Sabin)
vaksin sabin dibuiat dari virus yang juga ditumbuhkan dalam biakan (ginjal kera,
human diploid cells) yang dilemahkan dan memberikan proteksi terhadap infeksi
intestinal dan penyakit paralise.
Meskipun OPV telah berhasil membebaskan berbagai Negara dari polio(Amerika,
pasifik barat dan eropa), tetapi dilaporkan bahwa OPV dapat menimbulkan efek
samping berupa poliomyelitis paralitik. Atas dasar hal itu telah dikembangkan
perbaikan dalam produksi vaksin yang dimatikan dari galur sabin (sabin inactivated
polio vaccine/S-IPV) yang lebih baik dibanding dengan IPV konvesional yang
diproduksi dari virus virulen. Efek samping S-IPV yang dilaporkan hanya berupa
reaksi local. Oleh karena itu, banyak yang menganjurkan untuk memberikan vaksin
IPV-OPV secara berurutan.

e. Vaksin hepatitis B
vaksin Hepatitis B terdiri atas partikel antigen permukaan hepatitis B yang
diinaktifkan (HBsAg)) dan diabsorbsi dengan tawas, dimurnukan dari plasma
manusia/ karier hepatitis. Vaksin rekombinan HBsag (rHBsAg) diproduksi dengan
rekayasa genetic galur Saccharomyces cerevisiae yang mengandung plasmid/gen
untuk antigen HBsAg. Produksi vaksin hepatitis B dari jamur dengan teknik
rekombinan, merupakan cara yang lebih mudah untuk memproduksi vaksin dalam
jumlah besar dan aman dibanding dengan yang diproduksi dari serum.

f. Vaksin hepatitis A
Vaksin Hepatitis A terdiri atas virus dimatikan yang cukup efektif, diberikan kepada
orang dengan resiko misalnya dalam perjalanan/mengunjungi Negara dengan resiko.

g. Vaksin varisela
Digunakan untuk mencegah varisela, merupakan vaksin yang dilemahkan, biasanya
tidak diberikan kepada anak-anak sampai igG asal ibu sudah hilang (sekitar usia 15
bulan ). Varisela yang dilemahkan diberikan kepada penderita dengan
leukemialimfosit akut.

h. Vaksin virus retro
Dapat mencegah kematian pada bayi akibat diare. Vaksin mengandung 4 tipe antigen
virus yang berhubungan dengan penyakit pada manusia.

i. Vaksin Rabies
Diperoleh dalam dua bentuk: vaksin dimatikan yang digunakan pada manusia dan
vaksin hidup yang dilemahkan yang digunakan pada hewan. Ada dua bentuk vaksin
untuk manusia: yang satu dibiakan dalam embrio bebek dan memiliki beberapa efek
ensefalitogenik, sedang yang lain dibiakan dalam sel human diploid.
41

Contoh Vaksin Bakteri

a.Vaksin polisakarida
dibuat dari polisakarida kapsul bakteri, terdiri atas dinding polisakarida bakteri yang
merupakan vaksin sub-unit.

Contoh vaksin polisakarida adalah:
i. Vaksin pneumokok yang terdiri atas polisakarida kapsul 23 tipe antigen
streptokok pneumoni dan dianjurkan untuk golomngan tertentu seperti usia diatas
60 tahun, penyakit paru krinis atau mereka tanpa limpa. Vaksin memberikan
sampai 90% terhadap galur pneumokok yang dapat menjangkiti manusia.
ii. Vaksin hemofilus influenza berupa polisakarida tipe b (Hib) yang dikonjugasi
dengan toksoid atau protein. Vaksin tidak memberikan perlindungan terhadap
infeksi H. influenza tanpa kapsul. Hidrat arang yang dimurnikan(poliribitol)
secara antigenic sangat buruk untuk anak dibawah dua tahun dan imunigenitas
hanya diperoleh bila diikat protein pembawa. Vaksin diberikan kepada anak anak
usia 2-3 tahun dipusat-pusat penitipan anak anak (day-care center) dan penderita
sesudah splenektomi. Hib conjugate Vaccine yang menjadi sangat efektif telah
menurunkan 99% penyakit Hib yang berat pada anak-anak dibawah usia lima
tahun di amerika. Vaksin tersebut belum banyak digunakan dinegara-negara lain
karena harganya yang tinggi. Di Indonesia dewasa ini sedang dikembangkan
vaksin pentavalen yang terdiri atas vaksin DTP-HepB-Hib.
iii Vaksin Neseria meningitidis Terdiri atas beberapa golongan polisakarida,
digunakan untuk mencegah infeksi meningitis pada anggota tentara dan anak-anak
di Negara-negara dengan resiko tinggi. Vaksin terdiri atas membrane hidrat arang
dari 4 galur: A,Y,Cdan W-135. pada manusia ada 2 jenis genus neseria pathogen
yaitu NM dan N. gonokok (NG). di Indonesia infeksi NM amat jarang sehingga
belum diketahui kekebalan terhadap NM. Serogruop A dan C merupakan antigen
yang sangat virulen. Pada musim haji ditanah suci berkumpul jutaan jemaah dari
berbagai Negara, salah satunya dari afrika yang merupakan daerah endemis NM.
Jemaah haji yang pada umunya belum mempunyai kekebalan terhadap NM akan
beresiko tertular NM melalui jamaah haji asal Negara lain seperti afrika.
iv. Vaksin S. tifi (Typhim Vi) berupa vaksin polisakarida dan pemberian boster tidak
menimbulkan respons peningkatan. Untuk meningkatkan respons dibuat vaksin
konjugasi dengan menggabungkan polisakarida S. tifi dengan protein. Vaksin
demam tifoid klasik dibuat dari seluruh sel yang dimatikan. Vaksin tersebut mudah
didapat dan murah, tetapi tidak ditelolir dengan baik. Dewasa ini sudah
dikembangkan vaksin yang sudah dilemahkan (galur Ty21a).


b. Vaksin Bacille Calmette-Guerin (BCG)

vaksin galur Mikobakterium bovis yang dilemahkan, digunakan pada manusia
terhadap pencegahan tuberculosis dihampir seluruh penjuru dunia. BCG tidak
diberikan secara rutin diamerika oleh karena tidak menganggap tes kulit dapat
digunakan sebagai tanda pajanan dengan kuman tuberculosis.




42

c. Streptokokus pneumonia

vaksin polivalen yang terbuat dari kapsul polisakarida beberapa galur, diberikan
kepada penderita penyakit kardiovaskular, sesudah splenektomi, anemia sel sabit,
kegagalan ginjal, sirosis alkohol dan diabetes militus.

3. Menurut ajaran Islam

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelah

Menimbang .
1. bahwa anak bangsa, khususnya Balita, perlu diupayakan agar terhindar dari penyakit
Polio, antara lain melalui pemberian vaksin imunisasi;
2. bahwa dalam program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tahun 2002 ini terdapat
sejumlah anak Balita yang menderita immunocompromise (kelainan sistim kekebalan
tubuh) yang memerlukan vaksin khusus yang diberikan secara injeksi (vaksin jenis
suntik, IPV);
3. Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang
berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi, dan
belum ditemukan IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut;
4. bahwa oleh karena itu, Komisi Fatwa MUI memandang perlu menetapkan fatwa
tentang status hukum penggunaan IPV tersebut, sebagai pedoman bagi pemerintah,
umat Islam dan pihak-pihak lain yang memerlukannya.
Mengingat .
1. Hadis-hadis Nabi. antara lain: "Berobatlah, karena Allah tidak membuat penyakit
kecuali membuat pula obatnya selain satu penyakit, yaitu pikun"(HR. Abu Daud dari
Usamah bin Syarik). "Allah telah menurunkan penyakit dan obat, serta menjadikan
obat bagi setiap penyakit; maka, berobatlah dan jariganlah hero hat dengan berzda
yang haram "(HR. Abu Daud dari Abu Darda ). "Sekelompok orang dari sukcu 'Ukl
atau 'Urainah datang dan tidak cocok dengan udara Madinah (sehingga mereka
jatuh sakit); maka Nabi s.a.w. memerintahkan agar mereka diberi unta perah dan
(agar mereka) meminum air kencing dari unta tersebut... "(HR. al-Bukhari dari Anas
bin Malik). "Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan (pula)
obatnya. " (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah). Sabda Nabi s.a.w. yang melarang
penggunaan benda yang terkena najis sebagaimana diungkapkan dalam hadis tentang
tikus yang jatuh dan mati (najis) dalam keiu : "Jika keju itu keras (padat), buanglah
tikus itu dan keju sekitarnya, dan makanlah (sisa) keju tersebirt: namun jika keju itu
cair, tumpahkaf7lah (HR alBukhari, Ahmad, dan Nasa'i dari Maimunah isteri Nabi
s.a.w.
2. . Kaidah-kaidah fiqh : "Dharar (bahaya) harus dicegah sedapat mungkin. "
"Dharar (bahaya) harus dihilangkan. "
"Kondisi hajah menempati kondisi darurat. "
"Darurat membolehkan hal-hal yang dilarang. "
"Sesuatu yang dibolehkan karena darurat dibatasi sesuai kadar (kebutuhan)-nya. "
3. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga MUI periode 2000-2005.
4. Pedoman Penetapan Fatwa MUI.
43

Memperhatikan :
1. Pendapat para ulama; antara lain : Imam Zuhri (w. 124 H) berkata , Tidak
halal meminum air seni manusia karena suatu penyakit yang diderita , sebab
itu adalah najis ; Allah berfirman :...Dihalalkan bagimu yang baik-baik
(suci)...... (QS. Al-Matidah [5]: S); dan Ibnu Masud (w 32 H) berkata
tentang sakar (minuman keras) , Allah tidak menjadikan obatmu sesuatu yang
diharamkan atasmu (Riwaayat Imam al-Bukhori)
2. Surat Menteri Kesehatan RI nomor: 11 92/MENKES/ IX/2002, tangga124
September 2002, serta penjelasan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit
Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan,
Direktur Bio Farma, Badan POM, LP. POM-MUI, pada rapat Komisi Fatwa,
Selasa, 1 Sya'ban 1423/8 Oktober 2002; antara lain :
1. Pemerintah saat ini sedang berupaya melakukan pembasmian penyakit
Polio dari masyarakat secara serentak di seluruh wilayah tanah air
melalui program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dengan cara
pemberian dua tetes vaksin Polio oral (melalui saluran pencernaan).
2. Penyakit (virus) Polio, jika tidak ditanggulangi, akan menyebabkan
cacat fisik (kaki pincang) pada mereka yang menderitanya.
3. Terdapat sejumlah anak Balita yang menderita immunocompromise
(kelainan sistim kekebalan tubuh) yang memerlukan vaksin khusus
yang diberikan secara injeksi (vaksin jenis suntik, IPV).
4. Jika anak-anak yang menderita immunocompromise tersebut tidak
diimunisasi, mereka akan menderita penyakit Polio serta sangat
dikhawatirkan pula mereka akan menjadi sumber penyebaran virus.
5. Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya
menggunakan enzim yang berasal dari porcine (babi), namun dalam
hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi.
6. Sampai saat ini belum ada IPV jenis lain yang dapat menggantikan
vaksin tersebut dan jika diproduksi sendiri, diperlukan investasi (biaya,
modal) sangat besar sementara kebutuhannya sangat terbatas.
3. Pendapat peserta rapat Komisi Fatwa d tersebut; antara lain:
1. Sejumlah argumen keagamaan (adillah diniyyah: al-Qur'an, hadits, dan
qawa'id fiqhiyyah) dan pendapat para ulama mengajarkan; antara lain :
4. setiap penyakit dan kecacatan yang diakibat-kan penyakit adalah dharar
(bahaya) yang harus dihindarkan (dicegah) dan dihilangkan (melalui
pengobatan) dengan cara yang tidak melanggar syari'ah dan dengan obat yang
suci dan halal;
5. setiap ibu yang baru melahirkan, pada dasarnya, wajib memberikan air susu
yang pertama keluar (colostrum, al-liba'-- kepada anaknya dan dianjurkan pula
memberikan ASI sampai dengan usia dua tahun. Hal tersebut menurut para
ahli kesehatan dapat memberi-kan kekebalan (imun) pada anak;
6. Dalam proses pembuatan vaksin tersebut telah terjadi
persenyawaan/persentuhan (ilhtilath antara porcine yang najis dengan media
yang digunakan untuk pembiakan virus bahan vaksin dan tidak
dilakukanpenyucian dengan cara van2 dibenarkan syari'ah (tathhir syar'an Hal
itu menyebabkan media dan virus tersebut menjadi terkena najis (mutanadjis).
7. Kondisi anak-anak yang menderita immunocompromise, jika tidak diberi
vaksin IPV, dipandang telah berada pada posisi hajah dan dapat pula
menimbulkan dharar bagi pihak lain
44

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
1. FATWA TENTANG PENGGUNAAN VAKSIN POLIO KHUSUS
2. Pertama : KetentuanHukum
1. Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari --
atau mengandung--benda naj is ataupun benda terkena naj is adalah haram.
2. Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita
immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis
lain yang suci dan halal.
3. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian
hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diperbaiki dan disempurnakan
sebagaimana mestinya.
3. Pertama . Rekomendasi (Taushiah)
1. Pemerintah hendaknya mengkampanyekan agar setiap ibu memberikan ASI,
terutama colostrum secara memadai (sampai dengan dua tahun).
2. Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO
dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan
umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan yang suci dan halal.
Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 0 1 Sya'ban 1423 H. 08 Oktober 2002 M
VI. SISTEM KOMPLEMEN DAN AKTIVASI
Definisi sistem komplemen
Komplemen merupakan sistem yang terdiri atas sejumlah protein yang berperan penting
dalam pertahann pejamu. Beberapa protein ditemukan dalam plasma, sedang yang
lainnya diikat membrane. Komplemen merupakan salah satu system enzim serum yang
berfungsi dalam inflamasi, opsonisasi dan kerusakan (lisis) membrane pathogen. Dewasa
ini diketahui ada sekitar 20 jenis protein yang berperan. Selainn itu juga komplemen di
artikan campuran zat protein yang terdapat dalam plasma dan serum semua binatang dan
manusia. Aktivitasnya memerlukan ion Ca dan Mg dan tergantung pada pH 7,2 7,4 dan
suhu 30
O
C 37
O
C.

Macam-macam sistem komplemen

Ada 9 komponen dasar dalam komplemen yaitu C1 sampai C9 yang bila diaktifkan,
dipecah menjadi bagianbagian yang besar dan kecil (C3a, C4a dan sebagainya), yang
pertama C1 terdiri dari 3 fraksi yang di sebut C1q, C1r dan C1s. Fragmen yang besar
dapat berupa enzim tersendiri dan mengikat serta mengaktifkan molekul lain. Fragmen
tersebut dapat juga berinteraksi dengan inhibitor yang menghentikan reaksi selanjutnya.
Komplemen sangat sensitive terhadap sinyal kecil, misalnya jumlah bakteri yang sangat
sedikit sudah dapat menimbulkan reaksi beruntun yang biasanya menimbulkan respon
lokal.



45
















Gambar Aktivasi komplemen
C1qrs Meningkatkan permeabilitas vascular
C2 Mengaktifkan kinin
C3a dan C5a Kemotaksis yang mengerahkan lekosit dan juga berupa anafilatosin yang
dapat merangsang sel mast melepas histamine dan mediator mediator lainnya.
C3b Opsonin dan adherens imun
C4a anafilatoksin lemah
C4b Opsonin
C5-6-7 Kemotaksis
C8-9 Melepas sitolisin yang dapat menghancurkan sel (lisis)

Fungsi dan Pengaturan Sistem Komplemen
Berbagai fragmen yang dilepas aktivasi jalur alternative dan klasik ikut berperan dalam
pertahanan imun. Disamping penglepasan fragmen proteolitik, aktivasi komplemen baik
jalur klasik maupun alternative dapat menghasilkan membrane attack complex di
permukaan sel bakteri.

a. Inflamasi
Sebagai langkah pertama untuk menghancurkan benda asiang and mikroorganisme
serta membersihkan jaringan yang rusak, tubuh mengerakkan elemen-elemen system
imun ketempat benda asing dan mikroorganisme yang masuk tubuh atau jaringan yang
rusak tersebut. Fagositosis merupakan komponen penting pada inflamasi. Dalam
proses inflamasi ada tiga hal yang terjadi yaitu peningkatan pasokan darah ketempat
benda asing dan mikroorganiusme atau jaringan yang rusak, peningkatan permeabilitas
kapiler yang dibutuhkan oleh pengerutan sel endotel yang memungkinkan molekul
yang lebih besar seperti antibody dan fagosit bergerak keluar pembuluh darah menuju
ketempat benda asing (diapedesis), mikroorganisme atau jaringan yang rusak.
Leukosit, terutama fagosit polimorfonuklear dan monosit dikerahkan dari sirkulasi dan
bergerak menuju ketempat tersebut.
Peningkatan permeabilitas vaskuler yang lokal terjadi atas pengaruh anafilatoksin
(C3a, C4a, C5a). Aktifasi komplemen C3 dan C5 menghasilkan fragmen kecil C3a dan
C5a yang merupakan anafilatoksin yang dapat memacu degranulasi sel mast dan
basofil melepas histamine. Histaminyang dapat dilepas sel mast atas pengaruh
komplemen, meningkatkan permeabilitas vascular dan kontraksi otot polos dan
memberikan jalan untuk migrasi sel-sel leukosit dan keluarnya plasma yang
46

mengandung banyak antibodi, opsonin dan komplemen-komplemen ke jaringan.

b. Kemokin
Kemokin adalah molekul yang dapat menarik dan mengerahkan sel-sel fagosit. C3a,
C5a dan C5-6-7 merupakan kemokin yang dapat mengerahkan sel-sel fagosit baik
mononukulear maupun polimorfonukulear ketempat terjadi infeksi. C5a adalah
kemoatraktan untuk neutrofil yang juga merupakan anafilatoksin.
Monosit yang merusak jaringan menjadi makrofag dan fagositosisnya diaktifkan
opsonin dan antibodi. Makrofag yang diaktifkan melepas berbagai mediator yang ikut
berperan dalam reaksi inflamasi.

c. Fagositosis Opsonin
C3b dan C4b mempunyai sifat opsonin. Opsonin adalah molekul yang dapat diikat di
satu pihak oleh partikel (kuman) dan di lain pihak oleh reseptornya pada fagosit
sehingga memudahkan fagositosis bakteri atau sel lain. C3 yang banyak diaktifkan
pada aktivasi komplemen merupakan sumber opsonin utama (C3b). Molekul C3b
dalam bentuk inaktif (iC3b), juga berperan sebagai opsonin dalam fagositosis oleh
karena fagosit yang juga memiliki reseptor untuk CiC3b .
IgG juga berfungsi sebagai opsonin, bila berkaitan dengan reseptor Fc pada
permukaan fagosit. Oleh karena fagosit tidak memiliki resptor Fc untuk IgM,
opsonisasi yang dibantu komplemen merukan hal yang sangat penting selma terjadi
respons antibodi primer yang di dominasi IgM yang merupakan aktifator komplemen
poten. CRP juga berfungsi sebagai opsonin.

d. Adherens Imun
Adherens imun merupakan fenomena dari partikel antigen yang melekat pada berbagai
permukaan (misalnya permukaan pembuluh darah), kemudian dilapisi antibodi
mengaktifkan komplemen. Akibatnya antigen akan mudah difagositosis. C3b
berfungsi dalan adherens imun tersebut.

e. Eliminasi Kompleks Imun
C3a atau iC3b dapat diendapkan di permukaan kompleks imun dan merangsang
eliminasi kompleks imun. Baik sel darah merah dan neutrofil memiliki CR1-R dan
mengikat C3b dan iC3b. C3 dan C4 ditemukan dalam kompleks imun yang larut dan
diikat oleh CR1-R pada sel darah merah yang mengangkutnya ke organ yang
mengandung banyak fixed fagosit seperti hati dan limpa. Melalui repseptor
komplemen dan Fc, fagosit-fagosit tersebut menyingkirkan dan menghancurkan
kompleks imun dari sel darah merah. Pada proses ini, sel darah sendiri tidak dirusak .
Neutrofil dapat mengeliminasi kompleks imun kecil dalam sirkulasi. Bila antigen tidak
larut yang diikat anti bodi dan dibentuk dalam darah atau jaringan tidak disingkirkan,
akan memacu iflamasi dan dapat menimbulkan penyakit kompleks imun. Kompleks
besar tidak larut sulit untuk di singkirkan dari jaringan; sejumlah besar C3 yang
diaktifkan dapat melarutkan kompleks tersebut.
Pasien dengan defisiensi kompemen beresiko tinggi terhadap penyakit yang di
timbulkan kompleks imun seperti lupus eritemtosus sistemik.

f. Lisis osmotik bakteri
Aktifasi C3 (jalur alternatif atau klasik) akan mengaktifkan bagian akhir dari kaskade
komponen komplemen C5-C9. Aktifasi komplomen yang terjadi di permukaan sel
bakteri akan membentuk membrane Attack Complex (MAC) dan akhirnya
47

menimbulkan lisis osmotik sel atau bakteri. C5 dan C6 memiliki aktifitas enzim, yang
memungkinkan C7,C8 dan C9 memasuki membran plasma dari sel sasaran. Sekitar 10-
16 melekul C9 menimbulkan lubang-lubang kecil dalam membran plasma langsung
menyerang patogen sepertihalnya dengan perforin pada sel NK.

g. Aktifitas sitolitik
Eosinofil dan sel polimorfonukklear mempunyai repseptor untuk C3b dan IgG
sehingga C3b dapat meningkatkan sitotoksisitas sel efektor Antibody Dependent Cell
mediated Cytotoxicity (ADCC) yang kerjanya bergantung pada IgG. Disamping itu, sel
darah merah yang ikat C3b dapat di hancurkan juga melalui kerusakan kontak
(contactual damage). Seperti sudah disebut terdahulu, C8-C9 merusak membran
membentuk saluran-saluran dalam membran sel yang menimbulkan lisis osmotik.



Klasifikasi aktivasi sistem komplemen

A. Jalur klasik
Hanya IgG dan IgM yang dapat mengaktifkan atau memfiksasi komplemen
melalaui jalur klasik. Dalam kelompok IgG, hanya subkelas IgG 1, 2, dan 3 yang
memfiksasi komplemen; IgG 4 tidak bisa. C1, yang berikatan dengan suatu tempat di
region fc, terdiri dari tiga protein yaitu C1q, C1r, dan C1s. C1q merupakan suatu
agregrat polipeptida yang berikatan dengan bagian fc IgG dan IgM.
Kompleks antibody-antigen yang berikatan dengan antigen akan berikatan
dengan C1 akan mengaktifkan C1s, yang memecah C4 dan C2 yntuk membentuk C4b
dan C2b. C4b dan C2b merupaka C3 konvertase yang aktif, yang memecah molekul
C3 menjadi dua fragmen yaitu C3a dan C3b. C3a meupakan anafilatoksin .C3b
membentuk komleks dengan C4b2b yang menghasilkan enzim baru yaitu C5
konvertase, yang memecah C5 menjadi C5a dan C5b.
C5a adalah suatu anafilatoksin dan factor kemotaktik. C5b mengikat C6 dan
C7 untuk membentuk suatu kompleks yang masuk ke dalam membran ganda.
Kemudian C8 berikatan dengan C5b/C6/C7, diikuti dengan polimerasi enam belas
molekul C9 untuk menghasilkan suatu saluran atau pori-pori pada membran dan
menyebabkan sitolisis dengan cara memungkinkan air melewati membran sel secara
bebas.
B. Jalur alternative
Banyak zat yang tidak terkait, mulai dari zat kimia kompleks (misal,
endotoksin) sehingga agen infeksius (misal, parasit), dapat mengaktifkan jalur
berbeda. C3 dipecah dan C3 konvertase dihasilkan melalui kerja faktor B, D dan
properdin. C3 konvertase alternatif (C3bBb) menghasilkan lebih banyak C3b. C3b
tanbahan berikatan dengan C3 konvertase untuk membentuk C3bBbC3b, yang
merupakan jalur alternatif C5 konvertase yang menghasilkan C5b, menyebabakan
terbentuknya kompleks serangan membran yang telah dijelaskan sebelumnya.
C. Jalur manna-binding lektin (MBL)
Dalam tahun-tahun belakangan, telah berkembang konsep jalur aktifasi
komplemen yang lain; jalur lektin MB. Konstituen utamanya adalah protein plasma
yang disebut MBL, yang merupakan kependekan dari mannan-binding lectin. MBl
berikatan dengan residu gula seperti mannosa mikroba seperti LPS. Keseluruhan jalur
lektin MB sama seperti jalur klasik aktifasi komplemen, kecuali bahwa jalur ini dapat
teraktifasi tanpa adanya antibodi.
48



















49

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja. Karnen garna. 2006.imunologi dasar edisi 7.Jakarta : FKUI

Kamus Kedokteran Dorland

Jawetz, Melnick, & Adelbergs.2001.Mikrobiologi Kedokteran .Jakarta : Salemba Medika

Guyton, Arthur C dan Hall, John E. 1997. Guyton & Hall Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Jakarta : EGC.
Sudoyo AW, dkk.2006.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi IV, Jilid I.Jakarta : FKUI
http://www.mediastore.com

http://www.mui.or.id

www.studentconsult.com