Anda di halaman 1dari 16

BITE MARK 1.

Pendahuluan Menurut William Eckert (1992), pola gigitan adalah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk luka, jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai pola akibat dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban. Menurut Bowers dan Bell (1955) mengatakan bahwa pola gigitan merupakan suatu perubahan fisik pada bagian tubuh yang disebabkan oleh kontak atau interdigitasi antara gigi atas dengan gigi bawah sehingga struktur jaringan terluka baik oleh gigi manusia maupun hewan. Menurut Sopher (1976) mengatakan bahwa pola gigitan yang ditimbulkan oleh hewan berbeda dengan manusia oleh karena perbedaan morfologi dan anatomi gigi geligi serta bentuk rahangnya. Menurut Curran et al (1680) mengatakan bahwa pola gigitan pada hewan buas yang dominan membuat perlukaan adalah gigi kaninus atau taring yang berbentuk kerucut. Menurut Levine (1976) mengatakan bahwa pola gigitan baik pola permukaan kunyah maupun permukaan hasil gigitan yang mengakibatkan putusnya jaringan kulit dan dibawahnya baik pada jaringan tubuh manusia maupun pada buah-buahan tertentu misalnya buah apel dapat ditemukan baik korban hidup maupun yang sudah meninggal. Sedangkan menurut Soderman dan OConnel pada tahun 1952 mengatakan bahwa yang paling sering terdapat pola gigitan pada buah-buahan yaitu buah apel,pear dan bengkuang yang sangat terkenal dengan istilah Apple Bite Mark.

Sedangkan menurut Lukman (2003) mengatakan bahwa pola gigitan mempunyai suatu gambaran dari anatomi gigi yang sangat karakteristik yang meninggalkan pola gigitan pada jaringan ikat manusia baik disebabkan oleh hewan maupun manusia yang masingmasing individu sangat berbeda.

2. Klasifikasi Pola gigitan mempunyai derajat perlukaan sesuai dengan kerasnya gigitan, pada pola gigitan manusia terdapat 6 kelas yaitu: 1. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi insisive dan kaninus. 2. Kelas II : pola gigitan kelas II seperti pola gigitan kelas I tetapi terlihat pola gigitan cusp bukalis dan palatalis maupun cusp bukalis dan cusp lingualis tetapi derajat pola gigitannya masih sedikit. 3. Kelas III : pola gigitan kelas III derajat luka lebih parah dari kelas II yaitu permukaan gigit insisive telah menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah dari pola gigitan kelas II. 4. Kelas IV : pola gigitan kelas IV terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit yang sedikit terlepas atau rupture sehingga terlihat pola gigitan irreguler. 5. Kelas V : pola gigitan kelas V terlihat luka yang menyatu pola gigitan insisive, kaninus dan premolar baik pada rahang atas maupun bawah. 6. Kelas VI : pola gigitan kelas VI memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari rahang atas, rahang bawah, dan jaringan kulit serta jaringan otot terlepas sesuai dengan kekerasan oklusi dan pembukaan mulut.

Berbagai jenis pola gigitan pada manusia Pola gigitan pada jaringan manusia sangatlah berbeda tergantung organ tubuh mana yang terkena, apabial pola gigitan pelaku seksual mempunyailokasi tertentu, pada penyiksaan anak mempunyai pola gigitan pada bagian tubuh tertentu pula akan tetapi pada gigitan yang dikenal sebagai child abuse maka pola gigitannya hampir semua bagan tubuh. 1. Pola gigitan heteroseksual. Pola gigitan pada pelaku-pelaku hubungan intim antar lawan jenis dengan perkataan lain hubungan seksual antara pria dan wanita terdapat penyimpangan yang sifatnya sedikit melakukan penyiksaan yang menyebabkan lawan jenis sedikit kesakitan atau menimbulkan rasa sakit. a. Pola gigitan dengan aksi lidah dan bibir.

Pola gigitan ini terjadi pada waktu pelaksanaan birahi antara pria dan wanita. b. Pola gigitan pada organ genital Pola gigitan ini bila terjadi pada pria biasanya dilakukan gigitan oleh orang yang dekat dengannya misalnya istrinya atau teman selingkuhnyanya yang mengalami cemburu buta. c. Pola gigitan pada sekutar organ genital. Pola gigitan ini terjadi akibat pelampiasan dari pasangannya atau istrinya akibat cemburu buta yang dilakukan pada waktu suaminya tertidur pulas setelah melakukan hubungan seksual. d. Pola gigitan pada organ genital. Pola gigitan ini modus operandinya yaitu pelampiasan emosional dari lawan jenis atau istri karena cemburu buta. Biasanya hal itu terjadi pada waktu korban tertidur lelap stelah melakukan hubungan intim. e. Pola gigitan pada mammae. Pola gigitan ini terjadi pada waktu pelaksanaan senggama atau berhubungan intim dengan lawan jenis. Pola gigitan ini baik disekitar papilla mammae dan lateral dari mammae. Oleh karena mammae merupakan suato organ tubuh setengah bulatan maka luka pola gigitan yang dominan adalah gigitan kaninus. Sedangkan pola gigitan gigi seri terlihat sedikit atau hanya memar saja.

f. Pola gigitan pada penyikasaan anak. Pola gigitan ini dapat terjadi pada seluruh lokasi atau di sekeliling tubuh anak-anak atau balita yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Hal ini disebabkan oleh suatu aplikasi dari pelampiasan gangguan psikis dari ibunya oleh karena kenakalan anaknya atau kerewelan anaknya ataupun kebandelan dari anknya.

Pola gigitan ini terjadi akibat faktor-faktor iri dan dengki dari teman ibunya, atau ibu anak tetangganya oleh karena anak tersebut lebih pandai, lebih lincah, lebih komunikatif dari anaknya sendiri maka ia melakukan pelampiasan dengan menggunakan gigitannya dari anak tersebut. Hal ini terjadi dengan rencana oleh

karena ditunggu pada waktu korban tersebut melewati pinggir atau depan rumahnya dan kemudian setelah melakukan gigitan itu, ibu tersebut melarikan diri. Lokasi pola gigitan pada bagian tubuh tertentu yaitu daerah punggung, bahu atas, leher. g. Pola gigitan hewan Pola gigitan hewan umumnya terjadi sebagai akibat dari penyerangan hewan peliharaan kepada korban yang tidak disukai oleh hewan tersebut. Kejadian tersebut dapat terjadi tanpa instruksi dari pemeliharanya atau dengan instruksi dari pemeliharanya. Beberapa hewan yang menyerang korban karena instruksi dari pemeliharanya biasanya berjenis herder atau doberman yang memang secara khusus dipelihara pawang anjing di jajaran kepolisian untuk menangkap pelaku atau tersangka. Pola gigitan hewan juga disebabkan sebagai mekanisme pertahanan diri maupun sebagai pola penyerangan terhadap mangsanya. a. Pola gigitan anjing biasanya terjadi pada serangan atau atas perintah pawangnya atau induk semangnya. Misalnya dijajaran kepolisian untuk mengejar tersangka atau pelaku dan selalu pola gigitan terjadi pada muka sama seperti hewan buas lainnya antara lain harimau, singa, kucing, serigala. b. Pola gigitan hewan pesisir pantai. Pola gigitan ini terjadi apabila korban meninggal di tepi pantai atau korban meninggal dibuang di pesisir pantai sehingga dalam beberapa hari atau beberapa minggu korban tersebut digerogoti oleh hewan-hewan laut antara lain kerang, tiram. c. Pola gigitan hewan peliharaan.

Pola gigitan ini terjadi karena hewan peliharaan tersebut tidak diberi makan dalam beberapa waktu yang agak lama sehingga ia sangat lapar sehingga pemeliharanya dijadikan santapan bagi hewan tersebut. h. Luka pada tubuh korban yang menyerupai luka pola gigitan. Luka-luka ini terjadi pada mereka yang menderita depresi berat sehingga ia secara nekat melakukan bunuh diri. Yang sebelumnya ia mengkonsumsi alkohol dalam jumlah overdosis. Gigitan bukan disebabkan oleh kecelakaan. Gigitan dapat disebabkan hewan maupun manusia, dewasa maupun anak-anak. Identifikasi mungkin bila tanda masih baru dan bersih. Gigitan binatang misalnya anjing atau kucing berakibat luka tusukan, memotong dan merobek kulit akibat gigi carnivora. Akhir-akhir ini, adanya serangan oleh binatang pada anak-anak harus ditangani dengan serius. Gigitan anjing harusnya dapat dicegah. Manusia adalah omnivora dan gigi serupa dalam ukuran, bentuk dan tonjolan tulang. Memar yang dihasilkan berbentuk bulan sabit dan bekas gigi dapat diidentifikasi pemiliknya jika luka masih baru. Bagaimanapun juga, bekas gigitan mungkin mengalami distorsi akibat kontur area gigitan dan gerakan saat tergigit. Penampilannya mungkin tidak sama pada beberapa area seperti jari tangan atau kaki. Bila gigitan terlalu agresif, kulit bisa robek. Untuk membedakan gigitan dewasa dengan anak di bawah 8 tahun harus diingat bahwa jarak intercaninus (jarak antara kedua gigi taring kiri dan kanan) lebih besar dari 3 cm pada dewasa atau anak yang sudah dewasa dan kurang dari 3 cm pada anak dengan gigi susu. Perbedaan jarak intercaninus di rahang atas baik pada orang dewasa dan anak-anak adalah 4.4 mm. Sedangkan perbedaan jarak tersebut pada rahang bawah pada keduanya adalah 2.5 mm.

Identifikasi pelaku dapat dibuat dengan pertolongan odontologis forensik. Foto serial, dimulai sejak luka teridentifikasi, harus diambil dalam waktu 24 jam dalam ukuran milimeter. Golongan darah pelaku dapat ditentukan dari pemeriksaan saliva washing yang diambil dari kulit bekas gigitan. Pada daerah tersebut terdapat sekitar 0,3 ml saliva dan sulit mendapatkan jumlah yang cukup dengan menggunakan swab. Gambar Gigitan Binatang

Gigitan Lintah

Gigitan Kura-Kura

Gigitan Piranha

Gigitan Ikan Hiu

Gigitan Anjing

Bekas gigitan yang dapat menimbulkan luka

Kejahatan seksual seperti pemerkosaan. Kekerasan dalam rumah tangga dan penyiksaan anak (oleh orang tua). Kasus kriminal lain, dimana korban menyerang pelaku untuk melindungi dirinya dengan cara menggigit. Modus kriminal lainnya.

Tipe-Tipe Gigitan Haemorage = titik perdarahan kecil. Abrasi = tidak ada bekas kerusakan kulit. Luka memar = pembuluh darah putus, memar, biru, lebam. Luka laserasi = tertusuk/sobek pada kulit. Pengirisan = tusukan yang rapi pada kulit. Avulsi = kulit terlepas. Artifact = digigit hingga bagian tubuh menjadi terpotong.

KLASIFIKASI KUAT GIGITAN Clearly Defined = Tekanan tergambar pada kulit. Obviously Defined = Tekanan gigitan tingkat satu (terdapat lekukan jelas pada kulit). Quite Noticeable = tekanan penuh kekerasan (terjadi luka). Lacerated = kulit ditekan dengan kasar sehingga rusak dari tubuh.

3. Identfikasi Bitemark merupakan pola yang dibuat oleh gigi pada kulit, makanan atau substrat yang lembut tetapi dapat tertekan. Kebanyakan bitemark pada bagian forensik adalah kontak antara gigi manusia dengan kulit dan analisis memperlihatkan keunikan gigi yang tercatat secara akurat pada kulit. Perempuan lebih sering digigit dibandingkan pada pria, dengan kebanyakan gigitan terjadi pada payudara (33%) dan lengan (19%). Terdapat beberapa prosedur yang dapat dilakukan untuk menjaga dan melindungi informasi dental forensik yaitu dengan melihat luka tersebut sebagai bitemark yang potensial; melakukan fotografi, membuat cetakan, dan dapat juga dilakukan eksisi serta mengawetkan bitemark tersebut. Kejelasan dan bentuk dari bitemark dapat berubah dalam waktu yang sangat singkat baik pada korban yang masih hidup maupun korban mati. Fotografi dapat dilakukan untuk mendokumentasikan bitemark karena fotografi menghasilkan informasi yang dapat dipercaya, tetapi fotografi memiliki kekurangan karena menggambarkan objek tiga dimensi dalam film dua dimensi. American Board of Forensik Odontology (ABFO) merekomendasikan untuk membuat cetakan pada daerah yang tergigit; bahan cetakan yang digunakan harus memenuhi spesifikasi ADA dan harus dipersiapkan berdasarkan instruksi pabrik. Bahan cetak yang biasa digunakan adalah hidrokoloid dan light-body vinyl polysiloxane (VPS). Polieter, dilaporkan memiliki keakuratan yang sangat baik, stabilitas jangka panjangnya baik, good elastic recovery, dan resisten terhadap basah. Hydrophilicity yang baik menjamin hasil cetakannya memiliki detail reproduksi yang baik pada permukaan basah, termasuk daerah yang sulit diakses. Prosedur identifikasi:

1. Kumpulkan bukti Misalkan terdapat 20 buah bitemark dan kemudian difoto dengan satu orang operator dengan menggunakan kamera digital (coolpix 2100 nikon) menggunakan skala ABFO No.2 dengan resolusi 300 dpi.

Gambar 1 Hasil Pemotretan bite mark

2. Pilih bahan cetak yang akan digunakan Bahan cetak yang digunakan biasanya polieter denngan konsistensi light-bodied dan heavy-bodied. Hanya satu cetakan dari bitemark yang diambil, untuk mencegah manipulasi, distorsi atau kehilangan barang bukti. Prosedur ini dilakukan untuk mempertahankan bekas gigitan karena bitemark memiliki kecenderungan untuk menghilang secara alami dikarenakan oleh regenerasi jaringan (pada korban yang masih hidup) atau membusuk (pada korban meninggal). Teknik monophase dilakukan berdasarkan rekomendasi pabrik dan sendok cetaknya dapat bertahan dalam air panas (60C) dengan lilin pink extra-hard. Dikarenakan ini adalah desain eksperimental, tidak dilakukan apusan DNA.

3. Cetak rahang pelaku yang dicurigai Buat model studi rahang pelaku yang dicurigai dengan menggunakan gips stone kuning tipe IV. Kemudian cetakan discan dengan menggunakan flatbed scanner dengan skala yang sama pada tiap rahangnya. Model cetak pertama (dental stone) : digunakan gips stone kuning tipe IV karena sifat fisiknya yang baik, seperti kemampuan untuk ekspansinya yang rendah, kekuatan kompresinya meningkat dari 55 menjadi 117 MPa hanya dalam 48 jam. Sifat inilah yang menjamin stabilitas dimensional dan daya tahannya. Rahang pelaku dicetak dua kali, cetakan yang pertama digunakan sebagai examination cast sedangkan setakan kedua sebagai untouched cast, yang diletakkan di daerah yang aman). Pemeriksaan model cetakan ini dengan menggunakan skala ABFO No.2. Model cetak kedua (model polyether) : cetakan positif dicampur dengan polieter yang berkonsistensi light-bodied dengan menggunakan kuas cat dan digetarkan sedikit untuk memastikan bergeraknya aliran polieter. 4. Membandingkan bitemark Terdapat dua cara yang dapat dilakukan untuk membandingkan bitemark, yaitu : a. Metode digital Fotografi digital pada bitemark kulit dan gambar dari model cetakan yang pertama dan kedua discan dan kemudian dibandingkan dengan menggunakan Adobe Photoshop 8.0 software dengan metode superimpose. Kemudian setelah dibandingkan, didapatkan kesimpulan apakah kedua cetakannya extreme-degree match, high-degree match, probable-degree match, poor-degree match, dan dissimilar-degree match.

Gambar 2 Rekonstruksi bite mark pada komputer

b. Metode manual Model cetakannya diposisikan pada bitemark yang telah dicetak dengan gips maupun polieter. Prosedur ini dilakukan untuk meminimalisasi pola penyimpangan pada kulit. Tekanan dengan jari dilakukan pada model polieter pada sisi lawan dari bitemark, sehingga melemahkan daerah yang luas. Pencocokan harus dapat dilakukan dengan mudah dan sebaiknya tidak ditekan (faktor akurasi). Metode lain untuk menganalisis bitemark Terdapat banyak metode tambahan untuk menganalisis bitemark. Salah satu metodenya adalah penemuan bakteri DNA. Penemuan DNA tidak selalu terjamin. Adanya nucleic acid-degrading enzyme dalam saliva dapat dengan cepat merusak DNA, terutama jika hal ini terjadi pada korban yang masih hidup. Kita bias menggunakan teknik Sweets double swab, teknik ini mengumpulkan DNA dalam sel epitel oral sebagai hasil rehidrasi, dibandingkan dengan hanya berdasarkan DNA pada saliva saja. Mulut manusia memiliki lebih dari 500 spesies bakteri, dan setiap individu memiliku kombinasi yang sangat berbeda, tergantung pada, sebagai contoh, status kesehatan mulut, status gigi geligi, dan adanya atau tidak adanya protesa.

Teknik fotografi dapat digunakan untuk menganalisis, menyesuaikan, dan mengabadikan gambar gigi.. Dan teknik ini cukup akurat dengan menggunakan bantuan computer. Metode ini membandingkan langsung antara cetakan studi pelaku dengan fotografi teraan gigitan, dan membandingkantes gigitan yang dilakukan pelaku dengan teraan gigitan yang sebenarnya.

Dapus

http://www.slideshare.net/blofoma/forensik-12275480 di akses tanggal 18 oktober 2012 http://www.knoxforensics.com/photo.php di akses tanggal 18 oktober 2012 http://www.nlm.nih.gov/visibleproofs/galleries/technologies/virtopsy.html di akses tanggal 18 oktober 2012