Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
Dalam ilmu kedokteran, reproduksi bermakna menghasilkan keturunan. Sedangkan kesehatan reproduksi (kespro) didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik, mental, sosial dalam segala hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi juga berkaitan dengan kemampuan untuk memiliki kehidupan seksual yang memuaskan dan aman, serta kemampuan untuk memiliki keturunan dan bebas menentukan waktu memiliki keturunan dan jumlah keturunan. Sebagian orang memandang bahwa kesehatan reproduksi hanya terkait pada organ reproduksi laki-laki dan perempuan, padahal hal itu tidak sepenuhnya benar karena cakupan kesehatan reproduksi sangat luas. Kespro memiliki tiga komponen yaitu kemampuan untuk prokreasi, mengatur tingkat kesuburan, dan menikmati kehidupan seksual; dampak kehamilan yang baik melalui angka harapan hidup dan pertumbuhan bayi dan balita yang meningkat; serta proses reproduksi yang aman. Adapun cakupan kesehatan reproduksi meliputi alat reproduksi, kehamilan dan persalinan, kespro remaja, pencegahan kanker leher rahim, metode kontrasepsi dan KB, kesehatan seksual dan gender, perilaku seksual yang sehat dan yang berisiko, pemeriksaan payudara dan panggul, impotensi, HIV/AIDS, infertilitas, kesehatan reproduksi laki-laki, perempuan usia lanjut, kesehatan reproduksi pengungsi, infeksi saluran reproduksi, safe motherhood, kesehatan ibu dan anak, aborsi, serta infeksi menular seksual. Islam sebagai pandangan hidup tentu saja memiliki kaitan dengan kesehatan reproduksi mengingat Islam berfungsi sebagai pengatur kehidupan manusia dalam rangka mencapai keadaan sesuai dengan definisi

kesehatan reproduksi itu sendiri. Islam mengatur kesehatan reproduksi manusia ditujukan untuk memuliakan dan menjunjung tinggi derajat manusia. Dan Islam sejak belasan abad yang lalujauh sebelum kemajuan ilmu kesehatan dan kedokteranmengaturnya sesuai dengan Quran, hadits, dan ijma para ulama, yang mencakup seksualitas, kehamilan, menyusui, kontrasepsi dan KB, dan aborsi, serta hal lain yang tidak dapat dijelaskan satu-satu persatu. Dan sebagai umat muslim kita wajib mengikuti aturanaturan yang telah ditetapkan Islam dalam rangka mencapai kesejahteraan sebagai umat manusia. 1.2. Rumusan Masalah 1. Apa konsep kesehatan reproduksi? 2. Bagaimana pandangan islam mengenai kesehatan refroduksi?

1.3. Tujuan 1. Untuk mengetahui konsep kesehatan refroduksi 2. Untuk mengetahui pandangan islam mengenai kesehatan refroduksi

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Konsep Kesehatan Refroduksi Sehat adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan hanyabebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistemreproduksi, fungsi serta prosesnya. (WHO, 1992). Kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap oranghidup produktif secara sosial dan ekonomi. (UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992). Kesehatan Reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh, yang tidaksemata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam semua hal yang berkaitan dengansistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. (Depkes, 2001). Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat mental, fisik dan kesejahteraan sosialsecara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi serta proses danbukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan serta dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak,bertakwa pada Tuhan yang Maha Esa, spiritual memiliki hubungan yang serasi, selaras,seimbang antara anggota keluarga dan antara keluarga dan masyarakat dan lingkungan.(BKKBN, 1996). 2.2. Kesehatan Reproduksi Wanita Dalam Islam Islam sebagai ad-Dn merupakan pedoman hidup yang mengatur dan membimbing manusia yang berakal untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Sisi-sisi kehidupan manusia sekecil apapun telah menjadi perhatian Islam, termasuk dalam hal ini yang berkaitan dengan kesehatan. Ia merupakan nikmat dari Allah SWT yang luar biasa nilainya, karena itu ia merupakan amanah yang menjadi kewajiban bagi setiap pribadi untuk menjaganya dengan memelihara kesehatan secara sungguh-sungguh. Kesehatan adalah sesuatu yang sangat vital sekali bagi kehidupan manusia, disamping kebutuhan sandang, pangan dan papan, karena kesehatan merupakan sarana dalam mencapai kehidupan yang bahagia. Kebutuhan hidup yang tersedia tidak akan berguna dan menjadi hambar apabila tidak diiringi dengan kesehatan badan. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda, sebagaimana hadis yang diriwayatkan an-Nasai dari Amr bin Maimun dalam kitab As-Sunan al-Kubr:

Perhatikanlah lima perkara ini sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu; kesehatanmu sebelum datang sakitmu; kekayaanmu sebelum datang kefakiranmu; kesempatanmu sebelum datang kesibukanmu; hidupmu sebelum datang kematianmu. Disamping itu setiap muslim yang sakit di perintahkan pula untuk berobat kepada ahlinya dan perbuatan tersebut juga bernilai ibadah sebagaimana yang pernah di sabdakan oleh Nabi s.a.w., . Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan suatu penyakit, kecuali telah diturunkan pula obatnya, selain kematian dan penyakit tua (pikun). (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Usamah bin Syarik) Islam mengajarkan prinsip-prinsip kesehatan, kebersihan dan kesucian lahir dan batin. Antara kesehatan jasmani dengan kesehatan rohani merupakan kesatuan sistem yang terpadu, sebab kesehatan jasmani dan rohani menjadi syarat bagi tercapainya suatu kehidupan yang sejahtera di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Sistem kesehatan dalam Islam tercermin dalam ajaran syariat yang mewajibkan perbuatan membersihkan diri dari kotoran (najis), dari hadats dan dari kotoran hati semua itu berada dalam satu paket ibadah seperti wudhu, mandi, shalat dan lain sebagainya. Kita sudah mengenal bahwa pangkal dari kesehatan adalah kebersihan, bahkan melalui ajaran-ajaran Rasulullah s.a.w., kita dituntun untuk senantiasa memperhatikan masalah kebersihan. Ada satu pernyataan populer di kalangan para mubaligh: Kesehatan jasmani sebaiknya diprioritaskan dari pada kesempurnaan agama, sementara kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Sebagaimana pernyatan ulama (bukan hadis Nabo s.a.w.) an-nadhfatu minal mn (kebersihan itu adalah sebagian dari iman). Simpulan sederhananya, kata para mubaligh, iman merupakan pokok ajaran untuk berbaktivitas secara sehat. Islam kata mereka menunjukkan kebersihan dan kesucian dalam lima bagian, kebersihan dan kesucian rumah dan perkarangan, badan, pakaian, makanan serta kebersihan dan kesucian ruh dan hati. Kesehatan baik jasmani atau ruhani merupakan nikmat dan rahmat Allah yang setinggi-tingginya, harta benda dan jabatan tidak ada gunanya apabila jasmani dan rohani sakit. Jasmani dan rohani yang sehat merupakan pangkal kebahagiaan dan kesenangan.

Secara lebih khusus, perhatian Islam terhadap masalah kesehatan reproduksi perempuan sedemikian besar, ini tercermin dalam hal: Pelarangan berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari Ibnu Abbas, Rasulullah s.a.w. bersabda:

Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan dan jangan pula melakukakan safar dengannya, kecuali jika ada mahramnya. Pelarangan ini merupakann tindakan preventif agar tidak terjadi perzinaan (hubungan seksual di luar pernikahan) yang merupakan perbuatan terlarang. Sebab dampak yang ditimbulkan dari perzinaan adalah dapat menyebabkan kehamilan yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy) yang ujungnya adalah aborsi sedangkan aborsi itu sendiri dapat menimbulkan berbagai penyakit, di antaranya kemandulan atau timbulnya berbagai macam penyakit kelamin salah satunya adalah AIDS. Yang banyak dirugikan adalah kaum perempuan itu sendiri. Pelarangan ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap kesehatan reproduksi perempuan, agar setiap orang menjaganya dengan baik sehingga seorang perempuan dapat menjalankan fungsi reproduksinya secara sehat dan bertanggung jawab. Menganjurkan pernikahan sebagai bentuk reproduksi menjadi sehat dan bertanggung jawab. perlindungan agar

Tidak berhubungan ketika isteri sedang haid (QS al-Baqarah [2]: 222). Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: Haidh itu adalah suatu kotoran. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[1] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[2]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Memberikan hak pada perempuan untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari semua pihak misalnya hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat hamil dan menyusui. Dalam saat seperti ini suami berkewajiban menjaga istrinya yang sedang hamil atau menyusui agar selalu dalam keadaan sehat, baik secara fisik maupun mental. Bahkan Allah swt

dalam al-Quran menegaskan kondisi perempuan yang hamil dalam keadaan lemah (QS Luqmn [31]: 13, Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. dan al-Ahqf [46]: 15), Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri. Oleh karena perhatian yang sangat besar terhadap kondisi tersebut, maka perempuan hamil dan menyusui tidak diwajibkan untuk beribadah puasa. Memberikan hak pada perempuan untuk mengatur kelahiran. Islam memberikan petunjuk kepada perempuan agar reproduksi dilakukan dengan mengatur jarak kelahiran. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan seperti meninggal ketika melahirkan karena lemah fisik atau badan tidak sehat. Dan juga untuk memenuhi kebutuhan bayi terhadap ASI, karena ASI itu sendiri sangat besar manfaatnya bagi kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan bayi. Isyarat tersebut ada di dalam QS alBaqarah [2]: 233, Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara maruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.

Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Para ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yangberkeinginan untuk menyempurnakan penyusuan kepada anaknya. Dalam QS al-Ahqf [46]: 15, Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri. Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan. Artinya jarak kelahiran bisa terjadi kurang lebih 3 tahun.

2.3 Islam dan Seksualitas Seksualitas dalam Islam dapat menjadi hal yang terpuji sekaligus tercela. Seksualitas menjadi hal yang terpuji jika dilakukan dalam lingkup hubungan yang sesuai syariat, yaitu hubungan pasangan laki-laki dan perempuanbukan antara pasangan sejenis (homoseksual) atau dengan binatang (zoofilia)yang telah menikah secara sah. Sebaliknya seksualitas dalam Islam dapat menjadi hal yang tercela jika hubungan dilakukan di luar pernikahan, antara pasangan sejenis, atau dengan binatang. Ayat Quran yang paling terkenal untuk menjelaskan hubungan lakilaki dan perempuan yang sesuai syariat adalah dalam surat Ar Ruum: 21 yang menyatakan tujuan pernikahan yaitu dijadikannya rasa cinta dan kasih sayang. Seorang ahli tafsir dalam kitab tafsir Al Futuhatul Ilahiyah menyatakan bahwa cinta berarti hubungan seksual, dan kasih sayang berarti hasil hubungan seksual yaitu seorang anak. Hal ini berarti Islam sangat mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam hal seksualitas adalah untuk kebaikan bersama secara fisik dan mental serta menghasilkan keturunan sebagai penerus diinul Islam, bukan hanya untuk kepuasan secara biologis saja.

Islam melarang hubungan seksual melalui dubur & mulut (anal & oral sex), homoseksualitas, sodomi, lesbianisme, dan perilaku seksual lain yang tidak wajar. Kekhawatiran Islam tentang hal ini sangat beralasan mengingat saat ini perilaku di atas banyak ditemukan di masyarakat di seluruh dunia yang berakibat pada timbulnya penyakit-penyakit menular seksual dan desakralisasi hubungan pernikahan dimana hanya mementingkan syahwat semata. Hubungan seksual juga dilarang untuk dilakukan saat menstruasi (lihat QS. Al Baqarah: 222), pasca melahirkan, penyakit berat, dan siang hari di bulan Ramadhan. Penelitian-penelitian di abad modern menunjukkan korelasi positif antara larangan tersebut dengan efek merugikan yang ditimbulkannya bila dilakukan. Dalam Islam hubungan seksual pranikah dan perselingkuhan dilarang dan dapat dihukum sesuai syariat. Bahkan negara kita juga telah memasukkan perihal ini dalam KUHP. Supaya umat manusia tidak terjebak pada perilaku tercela maka Islam mengaturnya dalam Quran surat Al Israa: 32 yaitu tentang larangan mendekati zina. Bukan hanya melakukan, mendekatinya saja dilarang dalam Islam seperti hubungan laki-laki dan perempuan bukan muhrim yang terlampau bebas. Hubungan seksual yang bebas (freesex) secara kedokteran dapat menyebabkan penyakit/ infeksi menular seksual, kehamilan tak diinginkan, aborsi dan kematian ibu, dan bayi tanpa ibu. Secara sosial maka akan menimbulkan nasab yang tidak jelas, sehingga kehidupan keluarga dan sosial budaya akan terganggu. Semua hal itu akan berujung pada penurunan kualitas generasi bangsa.

2.4 Islam dan Kehamilan Dr Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis dalam bukunya yang fenomenal La Bible Le Coran Et La Science (Bibel, Quran, dan Sains Modern) menyatakan bahwa sebelum ilmu kedokteran modern berkembang, para ilmuwan memiliki konsep yang salah tentang penciptaan manusia padahal Quran telah menyatakannya dengan sangat jelas sejak 14 abad yang lalu. Dalam surat Al Mukminun: 14 dan Al Hajj: 5, Quran telah menjelaskan tahap demi tahap perkembangan penciptaan manusia. Quran menyebutkan tempat-tempat mekanisme yang tepat dan menyebutkan tahap-tahap yang pasti dalam reproduksi, tanpa memberi bahan yang keliru sedikit jua pun. Semuanya diterangkan secara sederhana dan mudah dipahami oleh semua orang serta sangat sesuai dengan hal-hal yang ditemukan oleh sains di kemudian hari. Mari kita lihat kandungan surat Quran di bawah ini yang begitu menakjubkan: Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang,

lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik(QS. Al Muminun: 14) Hal yang dijelaskan Al Quran di atas sangat sejalan dengan ilmu kedokteran dan embriologi modern, termasuk diciptakannya pancaindera seperti tercantum dalam Surat As Sajadah: 9, yang berbunyi: "Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur."

2.5 Islam dan Kontrasepsi Hingga saat ini kontrasepsi sebagai sarana pengaturan jarak kehamilan masih menjadi perdebatan di kalangan ulama dan ilmuwan Islam. Ada kalangan yang menentang karena mereka beranggapan kontrasepsi atau keluarga berencana merupakan produk Yahudi dan kaum kafir untuk melemahkan kaum muslimin karena mereka takut kalau-kalau pertumbuhan umat Islam akan mengancam tujuan, dominasi/pengaruh dan kepentingan mereka. Kalangan yang menentang juga beranggapan bahwa KB bertentangan dengan anjuran Islam untuk memperbanyak keturunan. Ada pula kalangan yang membolehkan atau membolehkan dengan syarat. Kontrasepsi di dunia Islam memiliki sejarah panjang. Dasar penggunaan kontrasepsi di dalam Islam adalah hadits Rasulullah yang berbunyi, Kami pernah melakukan azl (senggama terputus) di zaman Rasulullah. Rasul mengetahui hal itu terapi tidak melarang kami melakukannya. Beberapa ulama menggunakan qyas, bila azl diperbolehkan, maka metode ikhtiar pengaturan kehamilan lainnya pun boleh, kecuali sterilisasi. Jarak kehamilan dalam Islam pun telah diatur melalui program menyusui. Kedokteran Islam sendiri telah mengembangkan kontrasepsi sejak awal dan memerintahkan Eropa untuk menggunakannya. Penggunaan kontrasepsi dilarang jika ditujukan untuk menyuburkan kolonialisme dan imperialism. Intinya ketentuan Islam yang berhubungan dengan kontrasepsi atau KB bergantung kepada niat. Kalau kita menggunakan kontrasepsi karena ingin anak sedikit, malas mengurus anak, takut kulit rusak, takut organ reproduksi atau fungsi seksual terganggu, atau takut miskin, tentunya menggunakan kontrasepsi bertentangan dengan anjuran Islam karena unsurnya hanyalah egoisme bukan hablumminallah atau hablumminannas. Tentunya berbeda kalau kita berupaya menjarangkan kehamilan itu karena ikhtiar untuk dapat mendidik anak dengan lebih sempurna atau karena kita takut lahir anak yang cacat bila usia kita sudah di atas 35 tahun. Ada baiknya kita renungkan ayat Quran berikut:

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS. An Nisaa: 9)

2.6 Usaha Mengatasi Masalah yang Berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi Pendidikan Kespro Remaja Perspektif Islam 1. Mengenal dan memahami karakter diri sebagai remaja. Ada dua permasalahan utama yang seringkali mendominasi kehidupan remaja seusiamuberkaitan dengan perkembangan dan pertumbuhanmu, yaitu dari masalah yang berkaitan dengansisi individunya dan dari sisi seksualitasnya.Dari sisi individunya, kamukamu biasanya sedang mengalami krisis identitas atau lebihmudahnya sedang bingung mencari jati diri, sehingga tidak heran kalau remaja senang mencobasegala sesuatu yang baru. Umumnya para remaja juga mulai "menarik diri" dari banyak nilaiyang selama ini sudah didapatkan dari lingkungan sekitarnya. Pada tahun-tahun "rawan" ini pararemaja malah mengambil nilai-nilai dari kelompok mainnya (peer group) dan budaya pop yangada disekitar hidupnya.Dalam hal seksualitas, remaja sedang mengalami perkembangan baik dari sisi biologis, fisik,maupun mental. Dari sisi biologis, remaja sedang mengalami perkembangan kemampuanreproduksi yang dari sisi fisiknya terlihat dengan adanya pertumbuhan tanda-tanda sekssekunder. Ketika perubahan dari masa anak-anak sebelumnya ini tidak difahami oleh orang tuadengan tetap bersikap menafikan keberadaan naluri seksual yang mulai disadari keberadaannyaoleh sang remaja tersebut, dengan mengacuhkannya atau malah menghindar untuk membicarakannya daripada berusaha memberikan pengarahan tentang pengaturan pemenuhannaluri seksual tersebut, maka bisa jadi langkah yang diambil orang tua tersebut hanya akanmenjadi langkah yang kontra produktif bagi proses pendidikan berikutnya. 3. Mengenali jati diri yang sesungguhnya. Di atas identitas apapun yang sekarang sedang diemban oleh anak remaja , apakah itu sebagaiseorang siswa, mahasiswa, anak, kakak, adik ataupun identitas lain, orang tua haruslah selalumenyadari bahwa anaknya adalah seorang hamba bagi penciptanya, yang telah memberikankesempatan hidup berikut seluruh fasilitas untuk menjalani hidupnya tersebut. Kehidupan anak remaja kita tersebut adalah hidup yang harus dipertanggungjawabkan kelak kepada Sang Pemilik Hidup, sehingga misi yang harus senantiasa diemban dalam hidupnya adalah

10

bagaimana bisa menjalani setiap episode hidupnya dengan benar sesuai dengan tujuan dihidupkan dan sesuai dengan aturan main yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Sehingga kesadaran inilah yang harussenantiasa ditanamkan oleh orang tua kepada remaja termasuk ketika hendak memenuhi kebutuhan naluri seksualnya, haruslah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan aturan main yang diberikan oleh Tuhannya sehingga kelak remaja mampu mempertanggungjawabkan semuakepada Tuhannya. Allah berfirman: Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyaat 56) 4. Mengenalai perubahan diri dn bagaimana menykapinya. Barangkali selama perjalanan perkembangan masa remaja, tidak ada fenomena yang sedramatisdan memiliki pengaruh besar sebagaimana perwujudan dari perkembangan perilaku seksual padaremaja. Pada periode perkembangan seksual, remaja mengalami dua jenis perkembangan utama,yaitu perkembangan seks primer yang mengarah pada matangnya organ seksual (ditandai oleh"mimpi basah" atau menstruasi); dan perkembangan seks sekunder yang mengarah padaperubahan ciri-ciri fisik. (misalnya timbulnya rambut-rambut pubis, perubahan kulit, otot, dada,suara, dan pinggul)

Kedua perubahan ini menuntut adanya proses penyesuaian/adaptasi, baik bagi remaja itu sendiri,maupun bagi orang lain di sekitar remaja tersebut. Menjadikan orang tua sebagai tempat terdekatmereka berbagi keresahan atau kegelisahan menghadapi masa puber ini adalah hal yang sangattepat. Tentu hal ini membutuhkan peran orang tua untuk bisa mengambil posisi tersebut. 5. Memehami bahwa naluri seksual yang kamu miliki adalah fitrah. Naluri seksual adalah fitrah bukan berarti bahwa menjadi hal yang wajar jika seorang remajaakhirnya melakukan sex before married sebagaimana yang sering dijadikan dalih oleh remajayang gemar free sex. Karena arti naluri seksual merupakan fitrah adalah bahwa sejak manusiadiciptakan oleh-Nya, telah tercakup di dalamnya keberadaan naluri seksual ini. Karena menjadibagian dari penciptaan manusia maka keberadaannya tidak bisa dihapuskan atau dinafikan(dianggap tidak ada). Akan tetapi hal itu bukan pula berarti bahwa keberadaan naluri seksual tersebut memaksa seseorang harus memenuhinya dengan main tubruk siapa saja yang disenanginya (dengan berzina atau memperkosa mislanya). Maka kecenderungan dalam dirikamu untuk berkelompok dan bergaul dengan sesama, suka dengan lawan jenismu adalahmerupakan suatu yang fitri.Dalam Islam memandang bahwa kecenderungan dan kebutuhan tersebut bukan untuk dinafikan/dihilangkan begitu saja, akan

11

tetapi ia boleh dipenuhi. Hanya saja bagaimana carapemenuhannya itulah yang kemudian diatur oleh Islam. Ketika manusia butuh makan, Islamtidak melarangnya untuk makan. Namun ketika manusia mau makan, mulai dari apa yangdimakan, bagaimana cara mendapatkan makanan hingga bagaimana cara makan itu ditentukanaturannya oleh Islam. Analog dengan hal tersebut, maka adanya dorongan manusia untuk bergauldan mencintai lawan jenis bukanlah untuk dihilangkan, namun bagaimana pemenuhannya diaturoleh Islam. 6. Pahami bagaimana cara mengendalikan naluri seksual yang kamu miliki. Mencegah terjadinya pemenuhan yang keliru (zina dan aktivitas pengantarnya) Mengingatrangsangan yang akan mebangkitkan naluri seksual adalah rangsangan yang bersifat eksternal,maka upaya mencegah bergejolaknya naluri seksual dan `merangsang bergejolaknya naluri seksual tersebutpada dirimu, kecuali di dalam kehidupan khusus (kehidupan pernikahan).Sementara dari sisi individu manusianya sebagai sub system dari system yang menaunginya jugaharus mencegah dirinya dari melakukan hal-hal yang akan membangkitkan naluri seksualnya diluar lembaga pernikahan.Islam menganjurkan bagi seseorang yang belum sanggup menikah dan berkeinginanmengendalikan gejolak naluri seksualnya, untuk berpuasa. Puasa ini dilakukan dalam kerangkameningkatkan self controll atau kemampuan mengendalikan diri yang dimiliki seseorang karenadorongan ketaqwaan yang dimilikinya. Hai sekalian generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah memiliki kemampuan (menanggung beban dan tuntutan pernikahan), maka hendaklah menikah. Karena hal itu lebihmenundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu, maka hendaklah berpuasa karena puasa adalah perisai baginya. (HR. Muttafaq alaih) 7. Pahami cara pemenuhan naluri seksual yang benar. Satu-satunya pemenuhan terhadap naluri seksual (hubungan seksual dan juga aktivitas lainterkait) yang diperbolehkan (dihalalkan) dalam Islam adalah yang terbingkai/dilakukan dalamsebuah lembaga pernikahan.Yakni aktivitas seksual yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Hal ini mencakup segalasegala aktivitas yang bersifat pribadi dan merupakan interaksi yang bersifat seksual (antara pria dan wanita), mulai dari sayang-sayangan, mesra-mesraan, rayu-rayuan, bercengkerama danungkapan kasih sayang lainnya. Dan tidak diperbolehkannya model interaksi yang bersifatdemikian ini secara mutlak kalau di luar lembaga pernikahan. Berkaitan dengan hal ini, sangatdianjurkan oleh Islam bagi seseorang yang sudah memiliki kemampuan (kesiapan) menikahuntuk segera menikah, dan sebaliknya menjadikan hidup membujang (tabattul) sebagai hal yangtidak dianjurkan (berhukum makruh). Dan merupakan kewajiban bagi wali dan juga Negarauntuk memudahkan proses pernikahan ini dan

12

bukannya malah mempersulitnya (ketika tidak adaalasan yang dibenarkan oleh syariat untuk mempersulit pernikahan tersebut) Hai sekalian generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah memiliki kemampuan (menanggung beban dan tuntutan pernikahan), maka hendaklah menikah. Karena hal itu lebihmenundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu, maka hendaklah berpuasa karena puasa adalah perisai baginya. (HR. Muttafaq alaih) Barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk menikah akan tetapi tidak melakukannya, makatidak termasuk golongan kami. (HR. Ad Darimiy) 7. Pahami bagaimana perilaku seksual yang benar Perilaku seksual yang benar adalah semua perilaku seksual yang sesuai dengan tuntunan syara(hukum Allah).

13

BAB III PENUTUP


3.1 KESIMPULAN 1. Kesehatan reproduksi merupakan hal yang sangat penting dan sangat marak dibicarakan akhir-akhir ini, begitu banyaknya fernomena yang terjadi karena kurangnya perhatian terhadappeningkatan mutu kesehatan reproduksi wanita di Indonesia dan meningkatnya kekerasanterhadap kaum wanita pemerkosaan, kehamilan yang tidak diinginkan yang mengakibatkanrentetan masalah yang berkepanjangan umumnya dikalangan wanita khususnya remaja. 2. Tindak kekerasan terhadap perempuan merupakan penghambat kemajuannya sertamenghalanginya menikmati hak asasi dan kebebasan, yang jug a menghambat tercapainyakesetaraan gender antara perempuan dan laki -laki. Tindak kekerasan terhadap perempuandianggap sebagai pelanggaran hak asasi dan telah disepakati. 3. Beberapa kalangan tidak menyetujui adanya pendidikan seks diberikan pada anak karenakhawatir akan semakin membuat anak ingin tahu dan melakukannya namun ada kalangan yangmenyetujui pendidikan seks diberikan sejak usia dini justru untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada anak mereka. 4. Sebagai generasi muda yang berkualitas, kita harus bisa memiliki keimanan yang tinggi danmengakar, memiliki pemahaman tentang Islam yang bagus dan memiliki komitmen yang kuatuntuk melaksanakan kebenaran yang sudah kamu pahami tersebut. 5. Hadis yang banyak dikutip para ulama tentang relasi suami dan istri lebih menekankankewajiban istri untuk melayani suami. Wacana yang dibangun sering kurang berimbang sehinggamenciptakan standar ganda dalam hubungan suami-istri. Yaitu di satu sisi, suami lebih seringditekankan tentang hak-hak atas istrinya; disisi lain, istri lebih sering ditekankan tentangtanggung jawab (kewajiban) terhadap suami. Implikasinya banyak istri yang tidak tahu bahwa iapun berhak menikmati hubungan seksual, memiliki keturunan, menentukan kehamilan, merawatanak, cuti reproduksi dan menceraikan pasangan.

3.2 SARAN Ada banyak hal yang bisa kita lakulan untuk mengtasi berbagai permsalahan kesehatanreproduksi antara laian adalahsebagai berikut : 1. Kesadaran akan pentingnya masalah kependudukan sudah dimulai sejak bumi dihuni olehratusan juta manusia untuk dapat menyelamatkan nasib manusia di muka bumi, masih terbukapeluang untuk meningkatkan kesehatan reproduksi melalui gerakan yang lebiih intensif. 2. Melakukan gerakan KB, Tanpa gerakan KB yang intensif, dikhawatirkan manusia akanterjebak dalam kemiskinan, kemelaratan, kebodohan yang

14

merupakan malapetakan bagi manusiayang sangat dahsyat dan mencekam. 3. Kematian dan kesakitan pada antenatal, postnatal dan neonatal sudah lama menjadi masalah,khusus di negara berkembang. Sekitar 20-50% kematian perempuan usia subur diakibatkan olehhal yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran. Oleh karena itu dilakukan gerkan sayang ibu4. Melakukan Pendektan social budaya ,dengan pemberian penyuluhan tentang kesehatanreproduksi, baik disekola-sekolah maupun di linhkungan masyarakat, , biasanya dilakukan dalamacara pengajian, pertunjukan seni dsb, untuk menarik perhatian target.

15

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/85578779/Pandangan-Islam-Tentang-KesproBahan-1 http://asroruddin.multiply.com/journal/item/33?&show_interstitial=1&u=% 2Fjournal%2Fitem http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/pandangan-islam-tentang-hak-hakreproduksi-perempuan/

16