Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI BLOK 24 (PERCOBAAN ANASTESI LOKAL)

DAVID KALIM 102010158 MADE WIDHIA 102010159 DICKY TARUNA 102010189 KSATRIA PUTRA 102010213 BEATRIX FLORA 102010220 FLAVIANUS 102010237 VIEN STEFANI 102010238 SONYA LEONARDY LOW 102010260 DESRAINY INHARDINI 102010261

FALKUTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA 2013

Pendahuluan Setelah mahasiswa mempelajari teori farmakologi obat-obat anestesi lokal, maka dipandang perlu untuk memperlihatkan bagaimana efek anestesi lokal, misalnya mula kerja (onset of action), hilangnya rasa nyeri/rasa sentuhan halus, serta lama kerja (duration of action) dari berbagai anestesi lokal, serta mempraktekkan sendiri cara pemberian anestesi lokal,misalnya anestesi permukaan, anestesi infiltrasi, anestesi blok dan anestesi spinal. Tentunya tidak semua pengamatan ini dapat dilakukan pada manusia, dalam hal ini orang percobaan, maka dipakailah hewan coba, seperti kodok (tapi dalam praktikum kali ini tidak dilakukan). Dalam praktek sehari-hari nanti, sering kita temui kondisi atau penyakit yang memerlukan tindakan pembedahan. Dalam hal tindakan pembedahan besar, kita memerlukan anestesi menyeluruh, yang dilakukan dengan pemberian anestesi umum. Namun untuk melakukan tindakan bedah minor: seperti ekstirpasi kista, kuku atau tindakan eksisi, cukup dilakukan dengan pemberian obat-obat anestesi lokal, yang akan menghilangkan rasa nyeri secara lokal, pada tempat yang akan dilakukan bedah minor.

Persiapan 1. Hewan coba: tiap kelompok/meja mendapat 2 ekor kodok Rana. Orang percobaan: tiap meja menyiapkan 2 orang percobaan, tidak perlu puasa. 2. Alat-alat: o tensimeter, stetoskop o alat penggantung kodok dan alat pengrusak otak kodok o papan fiksasi kodok dan jarum pentul o minor set; gunting, pinset, dll o gelas beaker 400 ml dan 25 ml o semprit steril 1 ml, kapas 3. Obat: 4. Zat: Larutan prokain steril 0,5% dan 1% Larutan lidokain 0,5% dan 1% Adrenalin 0,1% dalam ampul

Larutan alkohol 70% Larutan ringer Larutan HCL 1 N (HCL dilutus)

Tatalaksana 1. anestesi permukaan pada orang percobaan Orang percobaan diminta untuk mengeringkan lidah, serta menjulurkan lidahnya keluar dengan ditahan oleh gigi geliginya. Kemudian lakukanlah penggoresan dengan kapas dan ujung jarum steril pada lidah sebelah kiri sebanyak 5 kali, untuk menguji rasa raba dan nyeri. Agar lebih obyektif mintalah orang percobaan menutup matanya selagi dilakukan penggoresan dan member tanda bahwa ia merasa adanya rasa raba halus dan nyeri. Lakukanlah hal ini 2 kali dan ambil rata-ratanya sebagai nilai parameter dasar. Selanjutnya dengan menggunakan pipet bersih teteskan satu tetes larutan prokain 1% pada lidah sebelah kiri tadi, kemudian lakukan perabaan dengan kapas atau sentuhan jarum sebanyak lima kali, tiap 2 menit. Catatlah waktu penetesan dan waktu dimana 3 dari lima goresan tidak dirasa oleh orang percobaan, ini adalah waktu mulai kerja obat (onset of action) kemudian percobaan diteruskan sampai ke-5 goresan tidak terasa, lanjutkan lagi sampai dari lima goresan terasa kembali 3, waktu dari mulai kerja sampai saat 3 dari lima goresan terasa kembali adalah lama kerja (duration of action) obat anestesi (dalam hal ini prokain). Lakukanlah seluruh prosedur tadi pada lidah sebelah kanan, yang diteteskan larutan lidokain 1%. Bandingkan mula kerja dan lama kerja antara prokain dan lidokain. Catatan: anda harus benar-benar bekerja secara cermat, jangan sampai liur orang percobaan membasahi lidah apalagi setelah penetesan obat anestesi, yang akan mengencerkan obat tersebut, sehingga hasil percobaan menjadi tidak sahih.

2. Anestesi infiltrasi pada orang percobaan Yang dimaksud dengan anestesi infiltrasi ialah menyuntikkan obat anestesi lokal secara intradermal sehingga terbentuk gelembung kecil (intradermal wheal). Lakukanlah pengukuran tekanan darah, dan denyut nadi orang percobaan yang dipilih, kemudian lengan kiri bagian voler dibersihkan dengan kapas yang dibasahi

dengan alkohol 70%, tunggu sampai kering, lakukanlah goresan dengan ujung jarum yang steril sebanyak 5 kali dan mintalah orang percobaan menutup mata untuk memastikan bahwa ia merasakan ke-5 goresan tadi bukan melihat. Kemudian pada daerah yang tidak dekat dengan pembuluh darah suntikkan 0,25 ml larutan prokain 0,5% secara intradermal. Berilah tanda dengan ballpoint atau spidol pada gelembung yang terjadi akibat suntikkan intradermal tadi. Lalu goreslah diatas gelembung tadi 5 kali, dan mintalah orang percobaan menghitung berapa goresan yang ia rasakan, biasanya orang percobaan segera tidak merasakan ke-5 goresan tadi, jadi catatlah ini sebagai mula kerja obat, lakukan hal yang sama setiap 2 menit, sampai orang percobaan member tanda bahwa ia merasakan 3 dari ke-5 goresan, dan ini menandakan berakhirnya kerja anestesi lokal, dalam hal ini prokain. Lakukanlah hal yang sama pada lengan bagian voler kanan, dengan larutan lidokain 5%, catat hasilnya. Bandingkan mula kerja dan lama kerja kedua jenis obat anestesi lokal ini. Tanyakan apakah orang percobaan mengalami reaksi efek samping seperti pusing, gatal-gatal, dll.

HASIL PENGAMATAN 1. Hasil pengamatan anestesi permukaan pada orang percobaan

PEMBAHASAN Berikut pembahasan mengenai obat-obat yang digunakan dalam praktikum: PROKAIN 2.1 Defenisi Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural, merupakan obat standart untuk perbandingan potensi dan toksisitas terhadap jenis obat-obatan estetik lokal lain. 2.2 Pengkajian 2.2.1. Indikasi Diberikan intarvena untuk pengobatan aritmia selama anestesi umum, bedah jantung, atau induced hypothermia.

2.2.2. Kontraindikasi Pemberian intravena merupakan kontraindikasi untuk penderita miatemia gravis karena prokain menghasilkan derajat blok neurimuskuler. Dan prokain juga tidak boleh diberikan bersama-sama dengan sulfonamide. 2.2.3. Bentuksediaanobat Sediaan suntik prokain terdapat dalam kadar 1-2% dengan atau tanpa epinefrin untuk anesthesia infiltrasi dan blockade sarafdan 5-20% untuk anestesi spinal.sedangkan larutan 0,1-0,2 % dalam garam faali disediakan untuk infuse IV. Untuk anestesi kaudal yang terus menerus, dosis awal ialah 30 ml larutan prokain 1,5%. 2.2.4. Diagnosis Kelas therapy Sub kelas therapy Nama obat dagang Nama obat generik : obat anastesi : anestesi local : novokain, etokain, gerovital : prokain

2.3. Perencanaan 2.3.1. Mekanisme kerja obat Pemberian prokain dengan anestesi infiltrasi maximum dosis 400 mg dengan durasi 30-50, dosis 800 mg, durasi 30-45. Pemberian dengan anestesi epidural dosis 300900, durasi 30-90, onset 5-15 menit. Pemberian dengan anestesi spinal : preparatic 10%, durasi 30-45 menit. 2.3.2. Efek therapy Pada penyuntikan prokain dengan dosis 100-800 mg, terjadi analgesia umum ringan yang derajatnya berbanding lurus dengan dosis. Efek maksimal berlangsun 10-20

menit, dan menghilang sesudah 60 menit. Efek ini mungkin merupakan efek sentral atau mungkin efek dari dietalaminoetanol yaitu hasil hidrolisis prokain.

2.3.3. Efeksamping Efek samping yang serius adalah hipersensitasi, yang kadang-kadang pada dosis rendah sudah dapat mengakibatkan kolaps dan kematian. Efek samping yang harus dipertimbangkan pula adalah reaksi alergi terhadap kombinasi prokain penisilin. Berlainan dengan kokain. Zat ini tidak mengakibatkan adiksi.

2.4. Pelaksanaaan 2.4.1. Cara pemberianobat. Cara pemberian obat bius prokain diberikan secara injeksi interavena pada atau sekitar jaringan yang akan di anestesi, sehingga mengakibatkan hilangnya rasa di kulit dan di jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya: pada praktek THT atau pencabutan gigi. 2.4.2. Dosis pemberian obat Dosis 15 mg/kgbb. Untuk infiltrasi: larutan 0,25-0,5 dosis maksimum 1000 mg. onset : 2-5 menit, durasi 30-60 menit. Bisa ditambah adrenalin (1 : 100.000). Dosis untuk blok epidural (maksimum) 25 ml larutan 1,5%. Untuk kaudal : 25 ml larutan 1,5%. Spinal analgesia 50-200 mg tergantung efek yang di kehendaki, lamanya 1 jam. 2.4.3. Farmakokinetik Absorpsi berlangsung cepat dari tempat suntikan dan untuk memperlambat absorpsi perlu ditambahkan vasokonstriktor. Sesudah diabsorpsi, prokain cepat dihidrolisis esterase dalam plasma menjadi PABA dan dietilaminoetanol. PABA di eksresi dalam

urine, kir-kira 80% dalam bentuk utuh dan bentuk konjugasi. 30% dietilaminoetanol dalam urine, dan selebihnya mengalami degradasi lebih lanjut. 2.4.4. Interaksiobat Prokain dan anestetik lokal lain dalam badan dihidrolisi menjadi PABA Prokain dan anestetik local lain dalam badan dihidrolisis menjadi PABA (Para Amino Benzoic Acid), yang dapat menghambat daya kerja sulfonamide. Oleh karena itu sebaiknya prokain dan anastetik lokal lain tidak diberikan bersamaan dengan terapi sulfonamide. Prokain dapat membentuk garam atau konjugat dengan obat lain sehingga memperpanjang masa kerja obat tersebut. Misalnya garam prokain penisilin dan prokain heparin. 2.5. Evaluasi Sebagai anestetik lokal, prokain pernah digunakan untuk anesthesia infiltrasi, anesthesia blok saraf, anesthesia spinal, anesthesia epidural dan anesthesia kaudal. Namun karena potensinya rendah, mula kerja lambat serta masa kerjanya pendek, maka penggunaannya sekarang ini hanya terbatas untuk anesthesia blok saraf. Di dalam tubuh, prokain akan dihidrolisis menjadi PABA, yang dapat menghambat kerja sulfonamide.

LIKODAIN Lidokain adalah anestetik local kuat yang luas digunakan secara luas dengan pemberian topical dan suntikan. Anesthesia terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain pada konsentrasi yang sebanding. Lidokain merupakasn aminoetilamid dan merupakan prototype dari anestetik local golongan amida. Larutan lidokain 0,5% digunakan untuk anstesi infiltrasi sedangkan larutan 1,0 -2% untuk anesthesia blok dan topical. Anestetik ini efektif bila digunakan tanpa vasokonstriktor, tetapi kecepatan absorbs dan

toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya lebih pendek. Lidokain merupakan obat yang dipilih bagi mereka yang hipersensitif anestetik local golongan ester. Lidokain dapat menimbulkan kantuk. Sediaan berupa larutan 0,5-5% dengan atau tanpa epinefrin (1:50.000 sampai 1: 200.000). Farmakokinetik Lidokain cepat diserap dari tempat suntikan, saluran cerna dan saluran pernapasan serta dapat melewati sawar otak. Kadarnya dalam plasma fetus dapat mencapai 60% kadar dalam darah ibu. Dalam hati,lidokain mengalami dealkilasi oleh enzim oksidase fungsi ganda (mixed function oxidases) membentuk monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid, yang kemudian dapat dimetabolisme lebih lanjut menjadi etilglisin dan xilidid. Kedua metabolit monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid ternyata masih memiliki efek anestetik local. Pada manusia , 75% dari xilidid akan di eksresikan bersama urine dalam bentuk metabilit akhir, 4 hidroksi 2-6 dimetil aniline. Efek samping Efek samping lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP, misalnya mengantuk, pusing, parastesia, kedutan otot, gangguan mental, koma dan bangkitan. Mungkin sekali metabolit monoetilglisin xilidid dan glisin

xilididmempunyai peran dalam efek samping ini. Lidokain dalam dosis berlebihan akan menyebabkan kematian oleh fibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung. Indikasi Lidokain sering digunakan secara suntikan untuk anestesi infiltrasi, blokase saraf, anastesia spinal, anastesia epidural maupun anastesia kaudal dan secara setempat untuk anesthesia selaput lendir. Pada anesthesia infiltrasi biasanya dapat digunakan larutan 0,25-0,50% dengan atau tanpa epinefrin. Tanpa epinefrin dosis total tidak boleh lebih dari 200 mg dalam waktu 24 jam, dan dengan epinefrin tidak boleh melebihi 500mg untuk jangka waktu yang sama. Dalam bidang kedokteran gigi biasanya digunakan larutan 1-2% dangan epinefrin untuk anesthesia infiltrasi dengan mula kerja 5 meni dan masa kerja kira-kira 1 jam dibutuhkan dosis 0,5-1,0 ml. untuk blockade saraf digunakan 1-2 ml. Lidokain dapat pula digunakan untuk anesthesia permukaan, untuk anesthesia rongga mulut, kerongkongan dan anesthesia saluran pencernaan bagian atas digunaka larutan 1-4% dengan dosis maksimal 1 gram perhari dibagi dalam beberapa dosis. Pruritus di daerah anogenital atau atau rasa sakt yag menyertai wasir dapat dihilangkan dalam bentuk supositoria atau bentuk salep dan krim 5%. Untuk

anesthesia sebelumndilakukan tindakan sistokopi atau kateterisasi uretra digunakan lidokain gel 2% dan sebelum dilakuak bronkoskopi atau pemasngan pipa endotrakeal biasanya digunakan semprotan dengan kadar 2-4%. Aritmia Jantung. Lidokain juga dapat menurunkan iritabilitas jangtung, karena itu juga digunakan sebagai anti aritmia.

Data percobaan

OP 1 (Made) Tekanan darah: 120/90 Frekuensi nadi: 66 kali/menit Frekuensi pernapasan: 20 kali/menit Suhu kulit: 36,3

Waktu Awal 2 menit 4 menit 6 menit 8 menit 10 menit 12 menit 14 menit 16 menit

Lidokain 5 4 3 3 2 2 3 3 4

Prokain 5 5 5 5 4 4 2 3 5

Mula kerja lidokain: 4 menit Lama kerja lidokain: 8 menit Mula kerja prokain: 12 menit Lama kerja prokain: 2 menit

OP 2 (Dicky) Tekanan darah: 110/70 Frekuensi nadi: 70 kali/menit

Frekuensi pernapasan: 10 kali/menit Suhu kulit: 35,8

Waktu Awal 2 menit 4 menit 6 menit 8 menit 10 menit

Kapas 2 3 4 3 4 4

Jarum 1 1 1 1 3 4

Mula kerja lidokain: 10 detik Lama kerja lidokain: 8 menit

Pembahasan

Anestesi permukaan dilakukan pada lidah dengan OP Made mendapatkan hasil yang seperti di atas. Percobaan ini bertujuan untuk membandingkan awal kerja dan lama kerja pada golongan amida dengan prototype Lidokain dan golongan ester dengan prototype Prokain. Hasil di atas sesuai dengan teori anestesi yakni golongan amida memiliki awal kerja yang sangat cepat dan lama kerja yang cukup lama. Sedangkan golongan ester memiliki awal kerja yang sangat lama dan lama kerja yang cukup singkat. Golongan amida lebih disukai karena selain dari mula kerja dan lama kerjanya juga tidak menimbulkan syok anafilaktik seperti Prokain yang mempunyai reseptor PABA. Mula kerja yang cepat pada golongan amida bergantung pada pKa, semakin pKa mendekati pH tubuh (7,6 - 8,1) maka onset yang ditimbulkan pada obat anestesi tersebut semakin cepat.

Dari hasil percobaan di atas terlihat pula mula kerja pada anestesi permukaan lebih lama daripada anestesi infiltrasi. Hal ini sesuai dengan teori anastesi yang ada.

Anastesi infiltrasi dilakukan

pada I per 3 voler bagian bawah dari OP Dicky

mendapatkan hasil seperti yang ada di atas. Percobaan ini untuk membandingkan

onset of action dari cara pemberian intradermal dan topical yaitu pada cara pemberian intradermal( infiltrasi) lebih cepat dibandingkan dengan cara pemberian topikal. Selain itu juga membandingkan masing-masing obat anastesi golongan amida dan golongan ester. Namun prokain yang tergolong golongan ester tersebut tidak digunakan pada anastesi infiltrasi karena dapat menyebabkan syok anafilatik.

Daftar Pustaka: 1.