Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN Kelainan refraksi merupakan kelainan pembiasan sinar pada mata yang mengakibatkan bayangan tidak jatuh tepat

pada retina. Hal ini diakibatkan oleh kelainan pada media refraksi mata, yaitu: kornea, aqueus humor, lensa mata, dan corpus vitreum atau pada panjangnya bola mata. ANATOMI MATA

Kornea Kornea adalah bagian permukaan bola mata yang tembus pandang, sehingga cahaya dapat masuk ke dalam mata. Kornea berkekuatan 43 dioptri. Densitas ujung saraf yang terdapat pada kornea lebih tinggi dibandingkan dengan bagian lain dari tubuh, sehingga ada sebagian orang yang tidak dapat terbiasa mengenakan lensa kontak. Iris Iris mempunyai dua buah otot, yaitu otot dilator yang menyebabkan pupil melebar dan otot sfingter yang menyebabkan pupil mengecil. Iris adalah bagian berwarna pada mata, yang mengatur jumlah sinar yang masuk ke dalam mata. Pupil Pupil adalah bagian yang terbuka di bagian tengah iris. Pupil berwarna hitam pekat, karena sebagian besar cahaya yang masuk diserap oleh jaringan di dalam mata. Pupil dapat berubah ukuran dari 2mm menjadi 8mm. 1

Badan siliar Badan siliar adalah suatu jaringan berbentuk cincin yang memegang lensa. Badan siliar terbentuk dari otot polos yang mengontrol bentuk lensa dan membantu proses akomodasi. Lensa Normal lensa jernih, bentuk bikonveks dengan diameter 10mm. Lensa mempunyai kekuatan 19 dioptri. Lensa mata berperan dalam proses akomodasi ketika melihat dekat. Lensa akan menjadi kaku dengan bertambahnya umur dan mengganggu proses akomodasi. Retina Retina mengandung sel batang dan sel kerucut. Bayangan benda masuk melalui lensa mata dan difokuskan pada retina. Retina kemudian mengubah bayangan tersebut menjadi impuls listrik dan mengirimnya ke otak melalui nervus optik. Bagian tengah retina disebut makula, bagian tengah dari makula disebut fovea sentralis yang hanya mengandung sel kerucut. Retina mengandung suatu senyawa kimia yaitu rhodopsin. Fungsi dari rhodopsin adalah mengubah cahaya menjadi impuls listrik.

Saraf optik Saraf optik meneruskan impuls listrik dari retina ke korteks visual dalam otak untuk diintepretasi.

AKOMODASI Akomodasi adalah kemampuan mata untuk menambah daya bias lensa dengan kontraksi otot siliar, yang menyebabkan penambahan tebal dan kecembungan lensa sehingga bayangan benda pada jarak yang berbeda-beda akan terfokus pada retina. Rangsangan untuk terjadinya akomodasi ditimbulkan oleh aberasi kromatik dan kesadaran terhadap benda-benda yang tampak kabur. Penyesuaian mata untuk rangsangan memerlukan waktu. Untuk melihat benda dekat yang tidak bergerak diperlukan waktu 0,34 detik sedangkan untuk benda yang bergerak dari jauh ke dekat diperlukan waktu sebesar 0,64 detik. Daya akomodasi diukur dengan satuan dioptri. Teori akomodasi Hemholtz : zonula zinn kendor akibat kontraksi otot siliar sirkuler lensa yang elastis menjadi cembung dan diameter menjadi kecil. Teori akomodasi Tsernig : nukleus lensa tidak dapat berubah bentuk, yang dapat berubah bentuk adalah bagian lensa superfisial atau korteks lensa. Pada waktu akomodasi terjadi tegangan pada zonula zinn sehingga nukleus lensa terjepit dan bagian lensa superfisial di depan nukleus akan mencembung. Mata akan berakomodasi bila bayangan difokuskan di belakang retina. Jika kelainan refraksi hipermetropia, mata akan berakomodasi terus menerus. Anak-anak dapat berakomodasi dengan kuat sekali sehingga memberikan kesukaran pada pemeriksaan kelainan refraksi. Daya akomodasi kuat pada anak-anak dapat mencapai +12.0 18.0 D. Akibatnya pada anak-anak yang sedang dilakukan pemeriksaan kelainan refraksinya untuk melihat jauh, mungkin terjadi koreksi miopia yang lebih tinggi. Untuk memeriksa kelainan refraksi pada anak diberikan sikloplegik atau sulfas atropin selama 3 hari yang dapat melumpuhkan otot akomodasi. Pada keadaan bertambahnya usia, maka akan berkurang pula daya akomodasi akibat berkurangnya elastisitas lensa sehingga lensa sukar mencembung. Keadaan berkurangnya elastisitas lensa daya akomodasi pada usia lanjut disebut presbiopia.

PEMERIKSAAN REFRAKSI Pemeriksaan refraksi bertujuan untuk mengukur kemampuan seseorang untuk melihat suatu objek pada jarak tertentu. Pemeriksaan refraksi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : Obyektif Subyektif : Oftalmoskop, Retinoskop, dan Keratometer (Oftalmometer). : Optotipi Snellen dan Trial Lenses.

Oftalmoskopi langsung Bila terdapat kelainan refraksi, fundus tak dapat terlihat jelas, kecuali jika diputar lensa koreksi. Besarnya lensa koreksi menentukan jenis dan besar kelainan refraksi secara kasar, tapi harus diperhitungkan pula keadaan refraksi pemeriksa. Bila pemeriksa emetrop atau ametrop yang telah dikoreksi dengan kacamata dapat melihat fundus dengan jelas, maka pasien emetrop. Bila pasien hipermetrop, papil kecil, fundus yang tampak kabur dapat dilihat jelas setelah dimasukkan lensa koreksi yang konveks (S+). Pada miopia, papil tampak besar, fundus baru tampak jelas bila diberi lensa koreksi konkaf (S-). Pada astigmatisma yang ringan tak menimbulkan perubahan pada gambaran fundus, pada derajat yang tinggi, papil tampak lonjong dengan aksis yang panjang sesuai dengan aksis dari lensa silinder yang mengoreksinya. Retinoskopi Pemeriksaan dilakukan dalam kamar gelap. Jarak pemeriksa dengan pasien 1m. Sumber cahaya terletak diatas pasien agak kebelakang agar muka pasien dalam keadaan gelap. Cahayanya ditujukan pada pemeriksa yang memegang cermin, oleh cermin ini cahaya dipantulkan kearah pupil pasien, sehingga pemeriksa melalui lubang yang ada ditengah cermin, dapat melihat refleks fundus di pupil pasien. Kemudian cermin digerakkan, perhatikan gerakan refleks fundus pasien. Arah gerak cermin sama dengan arah gerak refleks fundus, didapatkan pada hipermetrop, emetrop, miopia < 1 D. Gerak refleks fundus yang berlawanan dengan arah gerak dari cermin pada miopia > 1 D. Refleks yang terang, pinggir tegas, dan gerak cepat menunjukkan kelainan ringan. Bila refleks suram, pinggir tak tegas, dan gerak lambat terdapat pada kelainan refraksi tinggi.

Bila pinggir tegak, tanda astigmatisma, sedang pada hipermetrop, miop, dan emetrop mempunyai pinggir melengkung. Kemudian di depan mata pasien diletakkan lensa koreksinya yang dapat menimbulkan gerakan yang sebaliknya pada jarak pemeriksaan 1m. Untuk jarak tak terhingga ditambahkan -1 D untuk semua hasil akhir. Jadi untuk miopia menjadi bertambah kuat 1 D sedang hipermetropia berkurang 1 D. Keratometer Merupakan alat untuk mengukur besarnya astigmatisma kornea. Juga dipakai untuk menentukan radius lengkung kornea anterior untuk lensa kontak. Dapat pula untuk diagnostik kelainan kornea seperti keratokonus. Pemeriksaan Optotipe Snellen

Jarak pemeriksaan sebaiknya adalah 5-6 meter dari kartu Snellen. Memeriksa tajam penglihatan mata satu persatu, satu mata kemudian ditutup. Pasien disuruh membaca kartu Snellen dari atas ke bawah. Bila kemampuan baca barada pada huruf terkecil pada baris yang menunjukkan angka 20, maka tajam penglihatan tanpa kacamata 6/20. selanjutnya ditambah lensa sferis +0.5 D untuk menghilangkan akomodasi pasien.

Bila penglihatan bertambah jelas, mungkin terdapat kelainan hipermetropia. Pada mata perlahan ditambah kekuatan lensa (+) dan ditanya apakah penglihatan tambah baik atau terlihat huruf di baris lebih bawah. Lensa (+) ditambah kekuatannya sehingga tajam penglihatan menjadi 6/6. Lensa (+) ditambah sampai

pada satu saat pasien mengatakan penglihatannya berkurang. Pada hipermetropia berikan lensa (+) terkuat yang memberikan tajam penglihatan 6/6. Bila penglihatan bertambah kabur, mungkin miopia. Pada mata pasien ditambahkan lensa (-) yang makin dikurangi secara perlahan, terlihat huruf di kartu Snellen pada baris yang menunjukkan tajam penglihatan 6/6. Pada pasien miopia berikan lensa (-) terkecil yang memberikan tajam penglihatan 6/6 tanpa akomodasi. Bila setelah pemeriksaan tetap tidak tercapai tajam penglihatan maksimal, mungkin pasien astigmatisma. Dilakukan uji pengaburan (fogging technique). Uji fogging technique (cara pengabur) Setelah pasien dikoreksi untuk hipermetropia atau miopia, maka tajam penglihatannya dikaburkan dengan lensa (+) sehingga tajam penglihatan berkurang 2 baris pada kartu Snellen, misal dengan menambah lensa sferis +3. Pasien diminta melihat kisi-kisi juring astigmat dan ditanyakan garis mana yang paling jelas terlihat. Bila garis juring pada 90 yang jelas, maka tegak lurus padanya ditentukan sumbu lensa silinder, atau lensa silinder ditempatkan dengan sumbu 180. Perlahan kekuatan lensa silinder (-) dinaikkan sampai garis juring kisi-kisi astigmat vertikal sama tegasnya atau kaburnya dengan juring horizontal atau semua juring sama jelasnya bila dilihat dengan lensa silinder ditentukan yang ditambahkan. Kemudian pasien diminta melihat kartu Snellen dan perlahan ditaruh lensa (-) sampai pasien melihat jelas pada kartu Snellen. Uji pinhole Uji ini dilakukan untuk mengetahui berkurangnya tajam penglihatan karena kelainan refraksi atau kelainan pada media penglihatan atau kelainan retina lainnya. Pasien yang telah diperiksa tajam penglihatannya dengan koreksi kacamata terbaik diminta untuk terus menatap baris paling bawah pada kartu Snellen. Pada mata dipasang lempeng pinhole. Melalui lubang tersebut pasien disuruh membaca. Bila ketajaman penglihatan bertambah berarti pasien tersebut kelainan refraksi yang belum dikoreksi baik. Bila ketajaman berkurang berarti pasien ada kekeruhan media penglihatan atau retina yang mengganggu penglihatan.

KELAINAN REFRAKSI Yang dimaksud dengan kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tidak terfokus pada retina (makula lutea). Pada orang normal, kornea dan lensa akan membelokkan sinar pada titik fokus yang tepat pada makula lutea. Pada kelainan refraksi sinar tidak tepat dibiaskan pada makula lutea, tetapi dapat di depan, di belakang makula lutea, atau tidak terletak pada satu titik yang tajam. Dikenal 2 buah titik pada sistem refraksi mata, yaitu titik dekat dan titik jauh. Titik dekat atau yang dikenal juga sebagi pungtum proksimum merupakan titik terdekat dimana masih dapat melihat dengan jelas dengan akomodasi kuat. Titik jauh atau disebut pungtum remotum merupakan titik terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas tanpa akomodasi. Kelainan refraksi dapat diakibatkan oleh: 1. Kelainan kurvatur atau kelengkungan o Kornea. o Lensa. 2. Indeks bias atau refraktif Pada lensa matur, indeks bias berkurang sehingga menjadi hipermetropia. 3. Kelainan aksial atau sumbu mata o Panjang pada miopia. o Pendek pada hipermetropia. Mata yang normal dsebut Emetropia, sedangkan Ametropia adalah kelainan refraksi pada mata yang dalam keadaan tanpa akomodasi atau istirahat memberikan bayangan sinar sejajar pada fokus yang tidak terletak pada retina.

Ametropia dibagi menjadi : a. Ametropia aksial Ametropia yang terjadi karena sumbu optik bola mata lebih panjang/pendek sehingga bayangan difokuskan di depan/belakang retina. b. Ametropia refraktif Ametropia akibat kelainan sistem pembiasan sinar di dalam mata. Bila daya bias kuat, maka bayangan terletak di depan lensa dan bila daya bias kurang maka bayangan benda akan terletak di belakang retina. Yang termasuk Ametropia adalah: o Miopia (rabun jauh). o Hipermetropia (rabun dekat). o Astigmatisma (silinder). Kelainan lain pada pembiasan mata adalah gangguan daya akomodasi akibat berkurangnya elastisitas lensa yang biasa terdapa pada usia lanjut yang disebut presbiopia. MIOPIA Adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar sumbu utama yang datang dari jarak tak terhingga dibiaskan oleh mata istirahat di depan retina, sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan kabur. Kemampuan melihat jauh berkurang, tetapi dapat melihat dekat dengan baik.

Pada miopia panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. Dikenal beberapa bentuk miopia seperti : o Miopia aksial, miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal. o Miopia retraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia bias atau miopia indeks, miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat. Menurut derajat beratnya, miopia dibagi menjadi: 1. Miopia ringan, derajat miopia antara 1-3 D 2. Miopia sedang, derajat miopia antara 3-6 D 3. Miopia berat/tinggi, derajat miopia >6 D Menurut perjalanannya, miopia dikenal dalam bentuk: 1. Miopia stasioner/simpleks/fisiologik, yaitu miopia yang menetap setelah dewasa. Timbul pada umur masih muda, kemudian berhenti. Dimana tidak terlihat adanya kelainan patologik dalam mata. Besar dioptrinya kurang dari 6 D. Tajam penglihatan dengan koreksi yang sesuai dapat mencapai keadaan normal.

2. Miopia progresif, yaitu miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambahnya panjangnya bola mata. Dapat ditemukan pada semua umur dan mulai sejak lahir. Kelainan mencapai puncaknya waktu masih remaja, bertambah terus sampai umur 25 tahun atau lebih. Besar dioptrinya melebihi 6 D. 3. Miopia maligna, yaitu miopia progresif yang lebih ekstrim. Berjalan progresif dan dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa/miopia degeneratif. Biasanya miopia > 6 D disertai kelainan pada fundus okuli dan panjangnya bola mata.

Tanda obyektif o Bola mata yang mungkin lebih menonjol, bilik mata depan dalam. o Pupil yang relatif lebih lebar, predisposisi untuk ablasi retina. o Iris tremulans yang menyertai cairnya badan kaca. o Kekeruhan badan kaca (vitreous floaters), kekeruhan di polus posterior lensa. o Stafiloma posterior, fundus trigoid di polus posterior retina. o Atrofi koroid berupa kresen miopia atau annular patch disekitar papil warna putih. o Perdarahan, terutama di daerah makula yang mungkin masuk ke badan kaca. o Proliferasi sel epitel pigmen di daerah makula (Foster Fuchs black spot). Tanda subyektif Lekas capai, pusing, silau, mengantuk, melihat kilatan cahaya. Penyulit Strabismus divergens, ablasi retina, dan perdarahan badan kaca. Prognosis Miopia simpleks dengan koreksi yang baik, prognosisnya baik. Miopia progresif yang disertai penyulit yang gawat, membutuhkan pengurangan bahkan penghentian dari pekerjaan dekat. Miopia maligna prognosisnya buruk. 10

Koreksi Koreksi untuk seorang miopia adalah dengan memberikan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Sebab dengan lensa sferis negatif (lensa cekung), ia tanpa harus berakomodasi akan membiaskan sinar-sinar sejajar tepat di retina.

11

HIPERMETROPIA Pasien dengan hipermetropia mendapat kesukaran untuk melihat dekat akibat sukarnya berakomodasi. Keluhan akan bertambah dengan bertambahnya umur yang diakibatkan melemahnya otot siliar untuk akomodasi dan berkurangnya kekenyalan lensa.

Sebab hipermetropia Keadaan dimana kekuatan pembiasan sinar pada mata tidak cukup kuat untuk memfokuskan sinar pada makula lutea, sehingga bayangan jatuh di belakang makula lutea. o Hipermetropia aksial/sumbu akibat bola mata terlalu pendek o Hipermetropia kurvatur kelengkungan kornea atau lensa berkurang o Hipermetropia indeks refraktif indeks bias kurang Bentuk hipermetropia 1. Hipermetropia total, hipermetropia yang ukurannya didapatkan sesudah diberikan siklopegik. 2. Hipermetropia manifest, ialah hipermetropia yang dapat dikoreksi dengan kacamata positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Hipermetropia ini didapatkan tanpa siklopegik dan dapat dilihat dengan koreksi kacamata. Hipermetropia ini terdiri atas hipermetropia absolut ditambah dengan hipermetropia fakultatif. 3. Hipermetropia absolut, dimana kelainan refraksi tidak diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kacamata untuk melihat jauh. 4. Hipermetropia fakultatif, dimana kelainan hipermetropia dapat diimbangi dengan akomodasi ataupun dengan kacamata positif. 5. Hipermetropia laten, ialah hipermetropia tanpa siklopegik diimbangi seluruhnya dengan akomodasi. Hipermetropia laten hanya dapat diukur bila diberikan siklopegik. 12

Tanda obyektif o Bilik mata depan dangkal, miosis, fundus okuli hiperemis. o Papil hiperemia (pseudopapilitis atau pseudoneuritis). Tanda subyektif o Sakit kepala terutama daerah frontal. o Kabur melihat dekat, esotropia. o Matanya lelah dan sakit asthenopia akomodatif. o Margo palpebra dan konjungtiva merah. o Lakrimasi, fotofobia ringan. o Mata terasa panas, berat, dan kabur pada penglihatan dekat. Penyulit Glaukoma dan strabismus konvergens. Koreksi Mata hipermetropia memerlukan lensa cembung untuk mematahkan sinar lebih kuat ke dalam mata. Pengobatan dengan diberikan koreksi hipermetropia manifest dimana tanpa siklopegik didapatkan ukuran lensa positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Bila terdapat esotropia, diberikan kacamata koreksi hipermetropia total. Bila terdapat tanda eksotropia maka diberikan kacamata koreksi positif kurang. Bila terlihat tanda ambliopia diberikan koreksi hipermetropia total.

13

ASTIGMATISMA Merupakan suatu keadaan terdapatnya variasi kurvatur atau kelengkungan kornea atau lensa pada meridian yang berbeda yang mengakibatkan sinar tidak terfokus pada satu titik.

Penyebab astigmatisma 1. Kelainan kornea dengan atau tanpa pemendekan/pemanjangan bola mata. Pada astigmatisma, kelengkungan jari-jari pada suatu meridian kornea lebih panjang daripada jari-jari meridian yang tegak lurus terhadapnya. Astigmatisma kornea dapat diperiksa dengan tes placido, dimana gambaran kornea terlihat tidak teratur, kelainan kornea merupakan penyebab utama (90%) astigmatisma. 2. Kelainan lensa, berupa kekeruhan lensa biasanya katarak insipien atau imatur. 3. Pembiasan sinar pada mata tidak sama di semua meridian. 4. Keadaan dimana terjadi rabun jauh pada salah satu sumbu dibanding sumbu lainnya. 5. Umumnya akibat kornea berbentuk lonjong. Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kornea yang bulat atau sferis di dalam perkembangannya terjadi keadaan apa yang disebut astigmatisme with the rule (lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang vertikal bertambah atau jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang horizontal. Pada keadaan ini diberikan lensa silinder (-) dengan sumbu 180. Pada usia pertengahan kornea menjadi lebih sferis kembali sehingga astigmatisma menjadi against the rule (tidak lazim). Pada keadaan ini dikoreksi dengan lensa silinder(-) dengan sumbu tegak lurus (60-120) atau dengan silinder (+) sumbo horizontal (30-150)

14

keadaan ini terjadi akibat kelenkungan kornea pada meridian horizontal lebih kuat dibanding vertikal. Sering ditemukan pada usia lanjut. Bentuk Astigmatisma Astigmatisma reguler kekuatan pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu meridian ke meridian berikutnya. Bayangan dapat berbentuk lonjong, garis atau lingkaran. Dikenal 5 macam astigmatisma reguler, yaitu : astigmatisma miopikus simpleks, astigmatisma miopikus kompositus, astigmatisma hipermetropikus simpleks, astigmatisma hipermetropikus kompositus, dan astigmatisma mikstus. Astigmatisma irreguler tidak mempunyai 2 meridian yang saling tegak lurus akibat kelengkungan kornea pada meridian yang sama berbeda, sehingga bayangan menjadi irreguler. Penyebabnya antara lain akibat infeksi kornea, trauma dan distrofi, kelainan pembiasan pada meridian lensa yang berbeda. Pemeriksaan Astigmatisma Pemeriksaan astigmatisma dapat dilakukan dengan menggunakan kipas astigmatisma, astigmatisma. yang digunakan untuk pemeriksaan subjektif kelainan refraksi

Dasar: Pada mata dengan kelainan refraksi astigmatisma didapatkan 2 bidang utama dengan kekuatan pembiasan pada satu bidang lebih besar dibanding dengan bidang yang lain. Biasanya kedua bidang utama ini saling tegak lurus. Koreksi

15

Dengan menggunakan lensa yang mempunyai dua kekuatan yang berbeda. Astigmatisma ringan tidak perlu diberi kacamata, pada yang berat diberikan lensa silinder setelah terlebih dahulu diperiksa tajam penglihatannya dengan kartu snellen. PRESBIOPIA Presbiopia adalah suatu keadaan dimana kemampuan akomodasi lensa untuk melihat dekat perlahan-lahan berkurang, yang disebabkan berkurangnya kekenyalan lensa mata dan berkurangnya kemampuan kontraksi otot akomodasinya. Terjadi penurunan amplitudo akomodasi sehingga pungtum proksimum menjadi semakin jauh. Hal ini biasa terjadi pada usia di atas 40 tahun, sehingga pada umumnya seseorang akan memerlukan kacamata bifokus, yaitu kacamata untuk melihat jauh dan dekat.

Gejala subjektif Oleh karena adanya gangguan akomodasi, maka pasien akan memberikan keluhan setelah membaca atau melakukan pekerjaan dekat berupa mata lelah, pedas, dan berair. Jarak baca semakin jauh, tidak mampu melakukan pekerjaan dekat dan memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca. Uji presbiopia Biasanya dilakukan pada pasien berusia lebih dari 40 tahun. Pasien disuruh memegang kartu baca dekat atau Jaeger dalam jarak baca pasien. Pasien disuruh membaca, kemudian lensa sferis +1 D diletakkan bila pasien telah dapat membacanya maka derajat presbiopia pasien adalah +1. Bila belum dapat membaca huruf pada Jaeger 1, maka lensa + dinaikkan 0.25 perlahan-lahan, sehingga tajam penglihatan bertambah baik pada pembacaan kartu Jaeger. Penambahan ini umumnya disesuaikan dengan umur

16

dan tidak pernah melebihi S +3 D, karena biasanya jarak baca adalah 30cm. Pada waktu melakukan pemeriksaan ini dipakai kacamata jauh pada pasien yang mempunyai kelainan refraksi untuk jauh. Koreksi Koreksi presbiopia adalah untuk membantu daya akomodasi lensa mata dengan lensa positif untuk membaca dekat. Perbedaan dioptri antara koreksi jauh dengan koreksi dekat total diketahui sebagai addisi. Addisi berikut ditentukan sebagai rata-rata untuk tingkat usia tertentu: o 40 tahun +1,00 D o 45 tahun +1,50 D o 50 tahun +2,00 D o 55 tahun +2,50 D o 60 tahun +3,00 D Maksimal diberikan S+3 supaya orang masih dapat mengerjakan pekerjaan dekat pada jarak yang enak tanpa melakukan konvergensi yang berlebihan. Kalau diberikan S+4 maka jarak baca menjadi 25cm, sedang jarak baca yang baik 33cm jadi orang ini harus melakukan konvergensi yang berlebihan. Kadang-kadang diberikan lensa yang disesuaikan dengan kebutuhan. Misal musisi membutuhkan jarak 50cm untuk pekerjaan dekatnya. Sehingga dia butuh kacamata yang lebih ringan. Pada umumnya keadaan demikian diberikan setengah dari koreksi yang dibutuhkan untuk penglihatan dekat biasa. Penderita presbiopia harus dikoreksi dulu penglihatan jauhnya baru kemudian diberikan kacamata presbiopi yang sesuai dengan usianya untuk kedua mata dengan kekuatan yang sama. Pemeriksaan presbiopia menggunakan tes Jaeger.

17

DAFTAR PUSTAKA

1. 2001 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, edisi ketiga. Balai Penerbit FKUI. Ilyas, Sidarta. Dasar-Teknik Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata. FKUI. Edisi kedua. Jakarta. 2000 Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, edisi kedua. Balai Penerbit FKUI. 2003 Ilyas, Sidarta dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata, edisi kedua. Balai Penerbit FKUI. 2000 Vaughaan, Daniel; Asbury, Taylor; Riordan-Eva, Paul. Oftalmologi Umum. Edisi 14. KDT. 2000 http://en.wikipedia.org/wiki/Snellen_chart http://www.emedicine.com/OPH/topic666.htm http://www.mayoclinic.com/mmhe/sec20/ch226/ch226a.html

18

DISKUSI REFRAKSI

Pembimbing: Dr. Widowati S.W Indrakesuma, Sp.M

Penyusun: Aditya Anandito Putra 030.00.266

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD BUDHI ASIH PERIODE 12 MARET 14 APRIL 2007 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA

19