Anda di halaman 1dari 33

Perilaku delinkuensi berdasarkan atas, Identitas, Usia, Jenis kelamin khususnya laki-laki, Pengaruh teman sebaya berikut Keinginan

meniru dan ingin konfrom dengan lingkungannya, jadi tidak ada motivasi, kecemasan, atau konflik batin yang tidak dapat diselesaikan. Proses keluarga, pada umumnya berasal dari keluarga berantakan, tidak harmonis, dan mengalami banyak frustasi. Sebagai jalan keluarnya, remaja memuaskan semua kebutuhan dasarnya di tengah lingkungan kriminal. Dalam hal pola asuh menjadi bagian penting dari suatu terjadinya penyimpangan pada anak remaja. Dimana masa remaja ini masih membutuhkan perhatian yang besar dari lingkungan keluarga untuk mendapatkan kasih sayang, pendidikan agama maupun norma-norma yang berlaku dilingkungan masyarakat. Keberhasilan remaja dalam membentuk tingkah laku secara tepat di masyarakat adalah ditentukan oleh peranan lingkungan. keluarga khususnya orang tua dalam mengarahkan serta mengembangkan kemampuan anak membentuk tingkah lakunya. Mengenai hal ini Hurlock (1999) mengemukakan bahwa pengertian mengenai nilai-nilai tingkah laku serta kemampuan anak untuk membentuk tingkah laku dikembangkan dalam lingkungan.

Pola asuh orang tua adalah pola perilaku orang tua yang diterapkan pada anak yang bersifat relatif dan konsisten dari waktu kewaktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif maupun positif. Pada dasarnya pola asuh dapat diartikan dengan seluruh cara perlakuan orang tua yang diterapkan pada anak. Pengasuhan terhadap anak berupa suatu proses Interaksi antara orang tua dengan anak. Interaksi tersebut mancakup perawatan seperti dari mencukupi kebutuhan makan. Cara orang tua mendidik anaknya disebut sebagai pola pengasuhan dalam Interaksinya dengan orang tua, anak cenderung menggunakan cara-cara tertentu yang dianggap paling baik bagi dirinya. Pola asuh yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya umumnya dilakukan melalui pola asuh otoriter, demokratis, permisif, dan pola asuh

dialogis. Pola asuh otoriter dicirikan dengan orang tua yang cenderung menetapkan standart yang mutlak harus dituruti, biasanya bersamaan dengan ancaman-ancaman. Anak akan mengalami suatu penyimpangan apabila anak tersebut tidak merasa nyaman dalam keluarga sehingga anak tersebut harus melampiaskannya di luar rumah dengan mengikuti hal-hal atau kegiatan yang menjurus ke arah kenakalan remaja. Maka daripada itu, menghubungkan antara pola asuh dengan terjadinya tingkat Delinqency (kenakalan pada remaja). Sejauh mana pola asuh orang tua dapat mempengaruhi delinquency. Pola asuh yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya umumnya dilakukan melalui pola asuh otoriter, demokratis, permisif, dan pola asuh dialogis. Masingmasing pola asuh ini mempunyai karakter yang berbeda yang tentu akan membawa pengaruh yang berbeda pula terhadap pembentukan perilaku anak. Karena pembentukan perilaku ini terjadi melalui proses interaksi antar anggota keluarga dalam proses pengasuhan dengan demikian buruknya perilaku anak juga tergantung dari cara dan norma atau nilai yang

ditanamkan/dikenalkan oleh orangtua kepada anak-anaknya. Remaja adalah sosok yang unik dengan karakter yang khas, yang labil dan masih tergantung kepada orangtua sangat berbeda dengan orang dewasa. Perbedaan tersebut mengandung konsekuensi pada perbedaan tanggung jawab. Maka masa remaja adalah masa transisi dimana seorang remaja akan mencari identitas diri (siapa aku?), kurangnya perhatian dan kurang tepatnya pengasuhan dapat membuat sang remaja kurangnya dalam mengontrol diri. Sehingga rendahnya kontrol diri remaja yang dapat menyebabkan juga remaja jadi lebih sering ikut-ikutan dengan teman sebayanya.

perilaku delinkuensi adalah perilaku yang dipelajari secara negatif, berarti perilaku tersebut tidak diwarisi. Perilaku delinkuensi ini dipelajari dalam interaksi dengan orang lain, khususnya orang-orang dari kelompok terdekat seperti orang tua, saudara kandung, sanak saudara atau masyarakat di sekitar tempat tinggal. Keluarga sebagai unit sosial yang memberi

pengaruh besar terhadap perkembangan anak, seperti interaksi negatif antar saudara kandung dapat menjadi dasar munculnya perilaku negatif pada anak.

Faktor pribadi, seperti faktor bawaan yang mempengaruhi temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif, dan lain-lain), cacat tubuh, serta ketidakmampuan menyesuaikan diri. Santrock (2003), berdasarkan teori perkembangan identitas Erikson mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku delinkuensi pada remaja yaitu pengaruh orang tua dan keluarga. Seseorang berperilaku nakal seringkali berasal dari keluarga, di mana orang tua menerapkan pola disiplin secara tidak efektif, memberikan mereka sedikit dukungan, dan jarang mengawasi anakanaknya sehingga terjadi hubungan yang kurang harmonis antar anggota keluarga, antara lain hubungan dengan saudara kandung dan sanak saudara. Hubungan yang buruk dengan saudara kandung di rumah akan cenderung menjadi pola dasar dalam menjalin hubungan sosial ketika berada di luar rumah. Pola asuh orang tua adalah pola perilaku orang tua yang diterapkan pada anak yang bersifat relatif dan konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif maupun positif.

Tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua serta pengalaman sangat berpengaruh dalam mengasuh anak. Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Sebaliknya orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika lingkungan baru memberi jawaban yang tidak diinginkan atau

bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan terjadi dan semakin buruk.

C.Remaja

2.8 Definisi Remaja

Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pada masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi juga golongan dewasa atau tua.

Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan mendefinisikan masa remaja sebagai masa penuh kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat (Hurlock, 1993). Masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.

Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Hurlock (1990) membagi masa remaja awal dari 13 tahun 16 tahun atau 17 tahun, dan masa remaja akhir dari 17 tahun atau 18 tahun 20 tahun. Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh hurlock karena pada masa remaja akhir telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

2.9

Perkembangan Masa Remaja

2.9.1 Perkembangan fisik

Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanakkanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

2.9.2 Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir

abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).

Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang

memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.

Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

2.9.3 Perkembangan kepribadian dan sosial

Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

2.10 Ciri-ciri Masa Remaja

Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.

2.10.1

Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal

dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri

dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.

2.10.2 Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.

2.10.2

Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain.

Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.

2.10.3

Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak

menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.

2.10.4

Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi.

Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

2.11 Tugas perkembangan remaja

Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :

Memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan.

Memperoleh peranan sosial. Menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif.


o o

Memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya. Mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri.

Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).

Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif sifatnya non-ekperimental, karena peneliti tidak memberi perlakuan (kontrol) terhadap sampel penelitian. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Karlinger (dalam Arikunto 2006) bahwa penelitian non-eksperimental dilakukan ketika variable bebasnya tidak dapat dikontrol secara langsung. Hakikat variable tersebut menutup kemungkinan untuk dimanipulasi. Berdasarkan tujuan penelitian, penelitian ini termasuk dalam penelitian korelasional, karena ingin mengetahui hubungan antar variable, yaitu antara variable pola asuh dan variable delinquency pada remaja yang mengikuti tawuran di SMA-X Jakarta Barat.

3.1

Variable Penelitian

Terdapat dua variable dalam penelitian ini yaitu variable Pola Asuh dan Variable delinquency pada remaja yang mengikuti tawuran.

1. Pola Asuh

Definisi konseptual dari pola asuh adalah perilaku yang patut dicontoh menurut Baumrind (1997) memberikan arti setiap perilakunya tidak sekedar perilaku yang bersifat mekanik, tetapi harus

didasarkan pada kesadaran bahwa perilakunya akan dijadikan lahan peniruan dan identifikasi bagi anak-anaknya. Sementara itu kesadaran diri orangtua juga harus ditularkan pada anakanaknya dengan mendorong mereka agar perilaku kesehatannya taat kepada nilai-nilai moral. Oleh karena itu, orang tua senantiasa membantu mereka agar mampu melakukan observasi diri melalui komunikasi dialogis, baik secara verbal maupun non verbal tentang perilaku. Tidak kalah pentingnya yang perlu disiapkan oleh orangtua menurut Baumrind (1997) adalah pola komunikasi orangtua, dimana komunikasi dialogis yang terjadi antara orang tua dan anakanaknya, terutama yang berhubungan dengan upaya membantu mereka untuk memecahkan masalahnya. Pendidikan dalam keluarga memiliki nilai strategis dalam pembentukan kepribadian anak. Semua sikap dan perilaku anak yang telah dipolesi dengan sifat/pola asuh dari orang tua akan mempengaruhi perkembangan jiwa anaknya. Pola asuh orang tua berhubungan dengan masalah tipe kepimpinan orang tua dalam keluarga. Tipe kepimpinan orang tua dalam keluarga itu bermacam-macam, sehingga pola asuh orang tua bersifat demokratis / otoriter. Pada sisi lain, bersifat campuran antara demokratis & otoriter.

Definisi operasional pola asuh merupakan skor total yang didapat dari pengukuran indikator pola asuh pada variasi asuh otoriter, demokratis, permisif, dan pola asuh dialogis. Semakin tinggi skor pada dimensi berarti pola asuh yang sangat mempengaruhi delinquency pada remaja yang mengikuti tawuran.

1. Delinquency Definisi konseptual dari delinquency adalah Perilaku delinkuensi merupakan suatu bentuk perilaku ilegal yang mencerminkan peran kenakalan yang terus-menerus, dimana perilaku tersebut oleh masyarakat dianggap sebagai penyimpangan yang sangat serius. Perilaku

menyimpang tersebut diartikan oleh orang lain sebagai ancaman terhadap norma legitimasi masyarakat.(Bynum & Thompson, 1996) .

Definisi operasional dari delinquency adalah Definisi operasional Delinquency ini ialah merupakan skor total yang didapat dari pengukuran indikator delinquency pada dimensi status offenses dan index offenses. yang menunjukan semakin tinggi skor maka terlihat delinquency yang negatif. Sebaliknya, semakin rendah skor maka semakin positif delinquencynya.

3.3 Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2009). Penelitian ini akan meneliti mengenaik hubungan antara pola asuh dengan delinquency pada remaja yang mengikuti tawuran di SMA-X Jakarta barat. Oleh karena itu, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA-X Jakarta Barat.

1. Karakteristik Sampel

Adapun yang menjadi kriteria sampel dalam penelitian ini adalah remaja yang berstatus siswa SMA-X Jakarta Barat Kelas XI dan XII. Remaja laki-laki yang masuk dalam kategori remaja tengah (13-17 tahun).

1. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sample yang dilakukan adalah menggunakan Probability Sampling dengan teknik Simple Random Sampling. Simple Random Sampling adalah teknik pengambilan sampel secara acak dari anggota populasi untuk dijadikan sample penelitian tanpa memperhatikan strata (sugiyono,2009). Sample yang digunakan dalam penelitian adalah seluruh siswa SMA-X di Jakarta Barat.

3.4 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat duaalat ukur, yaitu alat ukur pola asuh dan alat ukur delinquency remaja yang mengikuti tawuran.

1. Pola Asuh

Metode pengumpulan data yang digunakan berbentuk kuestioner. Kuestioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisiensi bila peneliti tahu dengan pasti variable yang diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden (Sugiyono,2009). Pada pola asuh alat ukurnya menggunakan teori dari Baumrind (1997) berdasarkan skala likert. Kuestioner ini berisi 108 item, terdiri dari 54 item favorable dan 54 item unfavorable.

Item-item tersebut berisikan pernyataan-pernyataan berdasarkan empat variasi yaitu asuh otoriter, demokratis, permisif, dan pola asuh dialogis.

1. Teknik Skoring Skala Pola Asuh

Dalam pengukuran pola asuh pada penelitian ini menggunakan skala pola asuh dari likert, yaitu jawaban setiap item instrumen mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif,

yang dapat berupa kata-kata sangat sesuai, sesui,ragu-ragu,tidak sesuai sampai sangat tidak sesuai (Sugiyono,2009).

Rentang penilaian disetiap pernyataan, disediakan sejumlah alternatif tanggapan yang berjenjang atau bertingkat. Namun dalam penelitian ini skala yang digunakan tidak menggunakan pilihan jawaban yang bersifat ragu-ragu, dengan maksud untuk menghindari kecendenrungan untuk memilih pilihan yang berada ditengah-tengah atau netral.

Terdapat empat pilihan alternatif jawaban dalam setiap pernyataan, yaitu: sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai dengan diri anda (STS). Jawaban Sangat Sesuai (SS) dipilih bila subyek sepenuhnya mengalami dan merasakan isi pernyataan serta menggambarkan keadaan dirinya. Jawaban Sesuai (S) dipilih bila mengalami dan merasakan sebagian besar isi pernyataan. Jawaban Tidak Sesuai (TS) bila tidak mengalami dan merasakan sebagian besar isi pernyataan. Jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS) bila sepenuhnya tidak mengalami dan tidak merasakan isi pernyataan tersebut serta tidak menggambarkan keadaan dirinya.

Penilaian terhadap item favorable adalah SS (Sangat Sesuai) = 4, S (Sesuai) = 3, TS (Tidak Sesuai) = 2, STS (Sangat Tidak Sesuai) = 1. Penilaian terhadap item unfavorable adalah SS (Sangat Sesuai) = 1, S (Sesuai) = 2, TS (Tidak Sesuai) = 3, STS (Sangat Tidak Sesuai = 4. Skor pola asuh adalah skor total dari seluruh dimensi pola asuh. Semakin tinggi skornya berarti subjek tersebut memiliki pola asuh yang positif. Sebaliknya, semakin rendah skornya berarti subyek memiliki pola asuh yang negatif. Skoring skala pola asuh dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini :

Tabel 3. 1 Skoring Skala Pola Asuh

Respon Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Sangat Tidak Sesuai

Favorable 4 3 2 1

Unfavorable 1 2 3 4

2. Kisi-Kisi Skala Pola Asuh

Skala Pola Asuh berisi 108 item yang terdiri dari 54 item favorable yang menunjukkan pernyataan positif dan 54 item unfavorable yang menunjukkan pernyataan negatif. Berikut ini kisi-kisi skala pola asuh pada tabel 3.2.

Tabel.3.2 Kisi-kisi Skala Pola Asuh

Variasi Otoriter

Aspek -Tuntutan

Deskriptor -Menentukan

Fav 1,2,3

Unfav

Total

29,30,31 6

terhadap tingkah tingkah laku yang laku matang. yang harus anak dilakukan

-Kendali

dari -Orangtua ketat

yang dalam

orang tua.

mengontrol anak

4,5

32,33

-Menggunakan hukuman membentuk perilaku anak. 6,7 34,35 4 dalam

-Komunikasi berpusat orangtua Komunikasi -Orang antara orang tua cenderung menjaga 8,9,10 dan anak. jarak dengan anak. -Cara -Orang tua kurang pengasuhan atas responsif terhadap pemeliharaan kebutuhan anak. orang terhadap anak tua 11,12 39,40 4 36,37,38 6 tua pada

13,14

41,42

Demokratis -Tuntutan

-Menghargai anak

15,16,17

43,44,45 6

terhadap tingkah keputusan laku matang.

yang untuk mandiri dan mengharapkan anak laku bertingkah yang

bertanggung jawab.

-Kendali orang tua.

dari -Membuat yang konsisten penjelasan.

aturan jelas, 18,19 disertai 46,47

-Orang mendorong,

tua

20,21 mengawasi untuk peraturan telah bersama. anak mematuhi yang ditetapkan

48,49

-Komunikasi

-Orang

tua

antara orang tua mendengar dan anak. pendapat anak dan mengikutsertakan 22,23,24 anak dalam diskusi. 50,51,52

-Cara

Orang

tua 4

mendukung minat

pengasuhan atau dan kegiatan anak. pemeliharaan - Pendekatan pada orang terhadap anak. memilih melakukan pendekatan anak hangat. dan suatu pada bersifat 27,28 55,56 tua anak untuk 25,26 53,54 4

Permisif

-Tuntutan

-Orang tua tidak 57,58,59 anak

83,84,85 6

terhadap tingkah menuntut laku matang. yang untuk menampilkan perilaku

tertentu

dan anak dibiarkan menentukan sendiri apa yang

dianggapnya baik.

-Toleran -Kendali orang tua dari perilaku

terhadap dan 4

kehendak anak 60,61 -Orangtua menuruti 4 kehendak perilaku anak. dan 86,87

-komunikasi lebih 62,63 berpusat pada anak.

88,89

6 -Komunikasi

antar orang tua -Orang dan anak

tua

menerima anak apa 64,65,66 adanya. 90,91,92 4

-Cara pengasuhan atau -Orang tua kurang pemeliharaan orang terhadap anak. berminat tua aktivitas pada dan 67,68 pengalaman anak. 93,94 4

69,70

95,96

Dialogis

-Tuntutan

-Menghargai anak

71,72,73

97,98,99 6

terhadap tingkah keputusan laku matang

yang dan melatih anak untuk

menyelesaikan persoalan.

-Orang -Kendali tua.

tua

ikut 6

orang serta meyelesaikan persoalan dalam 74,75,76 100,101,

kehidupan anak. 102 -Orang tua saling berdialog -Komunikasi antara orang -orang tuadan anak. mengajak -Cara agar anak 105 terbiasa 6 pengasuhan atau menerima pemeliharaan orang terhadap anak. konsekuensi secara 80,81,82 tua logis dalam setiap tindakannya. 108 106,107, tua 77,78,79 103,104, anak. dengan 6

-orang tua melatih anak untuk dapat menyelesaikan persoalan .

Jumlah

54

54

108

1. Delinquency

Metode pengumpulan data yang digunakan berbentuk kuestioner. Metode pengumpulan data yang digunakan berbentuk kuestioner. Kuestioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisiensi bila peneliti tahu dengan pasti variable yang diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden (Sugiyono,2009). Pada delinquency alat ukurnya menggunakan teori dari .(Bynum & Thompson, 1996) berdasarkan skala likert. Kuestioner ini berisi 60 item, terdiri dari 30 item favorable dan 30 item unfavorable.

Item-item tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan berdasarkan Variable delinquency terdiri dua dimensi yaitu Index Offenses dan Status Offensis, memiliki lima aspek yaitu Violen Offenses,Property Crimes, Drug/ liquor and Public, Runaway and Truancy, dan

Ungovernability, underage liquor Violations and Miscellaneous category.

1. Teknik Skoring Skala Delinquency

Dalam pengukuran Delinquency pada penelitian ini menggunakan skala Delinquency dari likert, yaitu jawaban setiap item instrumen mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata sangat sesuai, sesui,ragu-ragu,tidak sesuai sampai sangat tidak sesuai (Sugiyono,2009).

Rentang penilaian disetiap pernyataan, disediakan sejumlah alternatif tanggapan yang berjenjang atau bertingkat. Namun dalam penelitian ini skala yang digunakan tidak menggunakan pilihan jawaban yang bersifat ragu-ragu, dengan maksud untuk menghindari kecendenrungan untuk memilih pilihan yang berada ditengah-tengah atau netral.

Terdapat empat pilihan alternatif jawaban dalam setiap pernyataan, yaitu: sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai dengan diri anda (STS). Jawaban Sangat Sesuai (SS) dipilih bila subyek sepenuhnya mengalami dan merasakan isi pernyataan serta menggambarkan keadaan dirinya. Jawaban Sesuai (S) dipilih bila mengalami dan merasakan sebagian besar isi pernyataan. Jawaban Tidak Sesuai (TS) bila tidak mengalami dan merasakan sebagian besar isi pernyataan. Jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS) bila sepenuhnya tidak mengalami dan tidak merasakan isi pernyataan tersebut serta tidak menggambarkan keadaan dirinya.

Penilaian terhadap item favorable adalah SS (Sangat Sesuai) = 4, S (Sesuai) = 3, TS (Tidak Sesuai) = 2, STS (Sangat Tidak Sesuai) = 1. Penilaian terhadap item unfavorable adalah SS (Sangat Sesuai) = 1, S (Sesuai) = 2, TS (Tidak Sesuai) = 3, STS (Sangat Tidak Sesuai = 4. Skor Delinquency adalah skor total dari seluruh dimensi Delinquency. Semakin tinggi skornya berarti subjek tersebut memiliki Delinquency yang positif. Sebaliknya, semakin rendah skornya berarti

subyek memiliki pola asuh yang negatif. Skoring skala delinquency dapat dilihat pada tabel 3.3 berikut ini :

Tabel 3. 3 Skoring Skala Delinquency

Respon Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Sangat Tidak Sesuai

Favorable 4 3 2 1

Unfavorable 1 2 3 4

1. Kisi-Kisi Skala Delinquency

Skala delinquency berisi 60 item yang terdiri dari 30 item favorable yang menunjukkan pernyataan positif dan 30 item unfavorable yang menunjukkan pernyataan negatif. Berikut ini kisi-kisi skala Delinquency pada tabel 3.4.

Tabel.3.4 Kisi-kisi Skala Delinquency

Dimensi

Aspek

Deskriptor

Fav

Unfav

Total 12

1.Violent Offenses Yang menimbulkan Index korban fisik Offenses pada lain orang

1,2,3,4,5,6 13,14,15,

16,17,18

2. Property Crimes Kenakalan yang

7,8,9,10,

19,20,21,

12

11,12, menimbulkan korban materi 3.Drug/ liquor and Kenakalan Public sosial tidak menimbulkan korban di yang 28,29,30 25,26,27

22,23,24

37,38,39,

12

40,41,42

pihak orang

Lain 1. Runaway and Mengingkari 31,32,33, status 34,35,36 sebagai pelajar dan 46,47,48 43,44,45, 12

Truancy Status Offenses

mengingkari status orang tua 2.Ungovernability, Melanggar underage liquor aturan atau 52,53,54 58,59,60 49,50,51, 55,56,57, 12

tata Violations and

tertib

sekolah dan Miscellaneous aturan category orang tua Jumlah 30 30 60

E. Data Penunjang

Pada penelitian ini alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuestioner penelitian ini dilakukan dengan teknik skala untuk mengambil data penelitia.Data yang akan di ambil :

1) Usia, munculnya tingkah laku antisosial di usia dini (anak-anak) berhubungan dengan perilaku delinkuensi yang lebih serius nantinya di masa remaja.

2) Jenis kelamin (laki-laki), anak laki-laki lebih banyak melakukan tingkah laku antisosial daripada anak perempuan.

3) Pekerjaan Orang tua, yang terdiri dari pekerjaan ayah dan ibu, untuk mengetahui siswa berasal dari orang tua yang berlatarbelakang jenis pekerjaan seperti apa karena akan mempengaruhi pola asuh terhadap anak.

4)Pendidikan Orang tua, yang terdiri dari pendidikan ayah dan ibu, untuk mengetahui siswa berasal dari orang tua yang berlatarbelakang pendidikan seperti apa karena akan mempengaruhi pola asuh terhadap anak.

F. Pengujian Alat Ukur

Sebelum digunakan alat ukur harus memiliki kualitas yang baik. Kualitas alat ukur yang dapat diketahui dari validitas dan reliabilitasnya. Berikut adalah penjebaran mengenai teknik validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini :

1. Uji Validitas

Kuesioner sebelum digunakan untuk memperoleh data-data penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji coba agar diperoleh alat ukur yang valid dan reliabel. Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2009).

Validitas yang digunakan adalah Validitas Konstruksi ( Construct Validity ) karena untuk menguji validitas konstruksi, dapat digunakan pendapat dari ahli (judgement experts). Dalam hal ini setelah instrumen dikonstruksikan tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandasan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang disusun itu (Sugiyono, 2009). Untuk menguji validitas kuesioner digunakan rumus statistika Koefisien Korelasi Product Moment dari Pearson dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

r = Indeks Korelasi

x = Skor Item Alat Ukur

y = Skor Total

N = Jumlah Seluruh Subjek Penelitian Besarnya korelasi untuk dianggap suatu item dikatakan valid adalah r 0,3. Jadi jika korelasi antara item pernyataan dengan skor kurang dari 0,3 maka item pernyataan tersebut dinyatakan tidak valid (Sugiyono, 2007). Uji validitas ini akan menggunakan alat bantu uji statistik progam SPSS versi 15.0.

2. Uji Reliabilitas

rxx =

Si

k-1

Sx

Uji reliabilitas dimaksudkan untuk melihat sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Pengujian reliabilitas ini dimaksudkan agar instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2007). Rumus yang digunakan untuk menguji reliabilitas adalah Cronbach Alpha, dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan :

rxx

= Koefisian Reliabilitas

= Jumlah Item

Si

= Varians Skor Item

Sx Si

= Varians Skor Total

= Jumlah Varians Skor Item

Menurut Murphy dan Davidshofer (Yulianto,2005) suatu alat ukur dapat dikatakan memiliki koefisien yang tinggi jika nilai koefisiennyadiatas 0,90 antara 0,80 hingga 0,90, termasuk kategori sedang, reliabilitas rendah apabila koefisien yang diperoleh sekitar 0,70 dan tidak reliable jika nilai koefisiennya di bawah 0,60.

Tabel 3.5 Kaidah Klasifikasi Uji Reliabilitas

NILAI >0.90 0.70-0.90 0.40-0.70 0.20-0.40 <0.20

KRITERIA Sangat Reliabel Reliabel Cukup Reliabel Kurang Reliabel Tidak Reliabel

DAFTAR PUSTAKA

Bynum dan Thompson. 1996. Artikel Perilaku Delinquency. Http://google.com. Di download pada Maret 2012.

Feldman, Papalia Old.2008. Human Development Edisi 10. Jakarta : Salemba Humanika.

http://alumni.unair.ac.id/kumpulanfile/1672827018_abs.pdf

http://aminurs-catatanpribadi.blogspot.com/2009/02/makalah-kenakalan-remaja.html)

http://eprints.undip.ac.id/13551/1/2004MH5961.pdf

http://library.um.ac.id/free-contents/download/pub/pub.php/33290.pdf)

Hurlock,

E.B.

1991.

Psikologi

Perk

(Edisi kelima). Terjemahan : Penerbit Erlangga.

Santrock. John W.2002. Life-Span Development Edisi Kelima . Jakarta : Erlangga.

Sugiyono. 2009. Metodelogi Penelitian Bisnis. Bandung : CV. Alfabeta.

This entry was posted in Uncategorized by . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website

CAPTCHA Code *

Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Proudly powered by WordPress