Anda di halaman 1dari 18

Hepatitis C Oleh Anggrainy Treeseptiani Obiraga 10 2009 091 Kelompok B4 Email : avo612ls@yahoo.co.

id Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Terusan Arjuna no. 6, Jakarta Barat 2011 BAB I PENDAHULUAN Hepatitis adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyarakan kondisi organ hati (liver) yang sedang kena radang atau nekrosis (kematian sebagian atau semua sel dalam suatu organ atau jaringan). Penyakit Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan serta merusak sel-sel organ hati manusia. Hepatitis diketegorikan dalam beberapa golongan, diantaranya hepetitis A,B,C,D,E,F dan G. Di Indonesia penderita penyakit Hepatitis umumnya cenderung lebih banyak mengalami golongan hepatitis B dan hepatitis C.

BAB II PEMBAHASAN I. Anamnesis Di awal anamnesis, informasi yang didapat tidak selalu lengkap, untuk melengkapinya perlu anamnesis ulang jika ditemukan tanda objektif pada pemeriksaan. Pada anamnesis penyakit hepatitis, yang perlu kita tanyakan adalah :

Kalau ada demam, perlu ditanyakan tipe demam dan lamanya nyeri perut kanan atas mual, muntah air seni seperti teh mata kuning riwayat kontak penyakit kuning : keluarga, lingkungan, sosial ekonomi riwayat konsumsi obat-obatan riwayat alkoholisme riwayat suntik riwayat transfusi

II.

Pemeriksaan Fisik Ikterik Hepatomegali Deskripsi pemeriksaannya : nyeri tekan, ukuran tepi tajam --> hepatitis akut, tepi tak rata --> sirosis, hepatoma, tepi tumpul --> hepatitis kronis, permukaan licin --> hepatitis, permukaan berbenjol --> hepatoma, konsistensi lunak/kenyal --> akut, konsistensi keras --> ganas). Pemeriksaan Penunjang1,2 A. Tes Serologi Dilakukan untuk memeriksa kadar antigen dan antibody terhadap virus penyebabnya. Tujuannya untuk memastikan diagnosis hepatitis dan mengetahui virus penyebabnya. Hal ini penting karena menyangkut jenis terapi yang akan diberikan kepada pasien, sehingga dibedakan untuk hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C.

III.

Kepastian seseorang mengidap VHC ditentukan dengan pemeriksaan molekuler dan menilai antibodi, sehingga partikel virus dapat terlihat. Sekitar 30% pasien hepatitis C tidak dijumpai adanya anti-HCV (antibodi terhadap VHC) yang positif pada empat minggu pertama infeksi. Sementara 60% baru terdeteksi positif anti-HCV setelah 5-8 minggu terinfeksi VHC bahkan ada yang setelah 12 bulan. Sekitar 80% pasien VHC menjadi kronis dan hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya enzim ALT dan meningkatnya AST. Pemeriksaan molekuler dimaksudkan untuk mendeteksi RNA VHC. Ada dua jenis yaitu yang kualitatif dan kuantitatif. Tes kualitatif menggunakan tekhnik PCR (polymerase chain reaction) yang dapat mendeteksi kurang dari 100 kopi per millimeter darah. Tes kualitatif juga untuk konfirmasi adanya VHC dalam darah, juga menilai respons terapi. Selain itu tes ini juga dimanfaatkan untuk pasien yang anti-HCV-nya negative tetapi menampilkan gejala klinis hepatitis C atau tidak teridentifikasi jenis virusnya. Tes kuantitatif adalah untuk menilai derajat perkembangan penyakit dan derajat viremia (adanya VHC dalam darah). Dilakukan biopsy untuk mengetahui derajat dan tipe kerusakan sel-sel hati. B. Tes Biokimia Hati Pemeriksaan biokimia hati menggunakan beberapa parameter sebagai berikut. 1) Aspartat aminotransferase Tujuan : Untuk membantu mendeteksi dan mendapatkan diagnosis banding penyakit hati akut. Untuk memantau perkembangan pasien dan prognosis pada penyakit jantung dan hati. Untuk membantu diagnosis infark miokard dalam hubungannya dengan kadar kreatinin kinase dan laktat dehidrogenase. Kadar AST berkisar antara 8 sampai 46 U/L pada lelaki dan antara 7 sampai 34 U/L pada perempuan. Nilai normal pada bayi secara khas kadarnya lebih tinggi. 2) Alanin Aminotransferase Tujuan : Untuk menilai dan mendeteksi pengobatan penyakit hati akut, khususnya hepatitis dan serosis tanpa ikterik. Untuk membedakan antara kerusakan miokard dan jaringan hati (digunakan bersama-sama dengan aspartat aminotransferase). Untuk menilai hepatoksisitas dari beberapa macam obat.

Kadar ALT serum normal berkisar antara 8 sampai 50 IU / L. 3

3) Alkali fosfatase Tujuan : menunjukkan Untuk mendeteksi dan menunjukkan penyakit tulang rangka yang utamanya dicirikan oleh aktivitas osteoblastik. Untuk mendeteksi lesi local hati yang menyebabkan obstruksi biliar seperti tumor atau abses. Untuk menilai respons terhadap vitamin D pada terapi riketsia. Untuk memberikan informasi tambahan terhadap pemeriksaan fungsi hati lainnya dan uji enzim usus. Kadar ALP total normalnya berkisar antara 30 sampai 85 IU/ml (SI, 42 sampai 128 U/L) 4) Leusin aminopeptidase Tujuan : Untuk memberikan informasi mengenai penyakit hati, pancreas dan biliar yang dicurigai. Untuk membedakan penyakit tulang rangka dari penyakit hepatobiliar atau penyakit pancreas. Untuk menilai ikterik neonatal.

Nilai normal adalah 80 sampai 200 U / mL (SI, 80 sampai 200 kU/L) pada lelaki dan 75 sampai 185 U/ml (SI, 75 sampai 185 kU/L) pada perempuan. 5) Gama glutamil transferase Tujuan : Untuk memberikan informasi mengenai penyakit hepatobilier, untuk menilai fungsi hati, dan untuk mendeteksi ingesti alcohol. Untuk membedakan antara penyakit tulang rangka dan penyakit hati bila kadar alkali fosfatase dalam serum tinggi (kadar CGT yang tinggi mengarah ke dugaan adanya penyakit tulang rangka). Kadar CGT dalam serum berkisar sebagai berikut : Lelaki : usia 16 tahun dan lebih tua, 6 sampai 38 U/L (SI, 0,10 sampai 0,46 Kat/L) Perempuan : usia 16 sampai 45 tahun, 4 sampai 27 U/L (SI, 0,08 sampai 0,46 Kat/L); usia 45 tahun dan lebih tua, 6 sampai 37 U/L (SI 0,10 sampai 0,63 Kat/L). Anak-anak : 3 sampai 30 U/L (SI, 0,05 sampai 0,51 Kat/L)

IV.

Diagnosis Kerja2-5 Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (VHC). Proses penularannya melalui kontak darah {transfusi, jarum suntik (terkontaminasi), serangga yang menggiti penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya}. Dalam perkembangan penyakit Hepatitis C, hati penderita akan mengalami sirosis (pengerasan hati) yang kemudian akan berlanjut menjadi kanker hati (hepatoselulerkarsinoma). Penyakit Hepatitis C tahap lanjut, resiko terjadinya kematian sangat besar. Gejala Hepatitis C Penderita Hepatitis C sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak menunjukkan gejala, walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Namun beberapa gejala yang samar diantaranya adalah ; Lelah, Hilang selera makan, Sakit perut, Urin menjadi gelap dan Kulit atau mata menjadi kuning yang disebut "jaundice" (jarang terjadi). Pada beberapa kasus dapat ditemukan peningkatan enzyme hati pada pemeriksaan urine, namun demikian pada penderita Hepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan normal.

Hepatitis C menular terutama melalui darah. Sebelumnya, transfusi darah bertanggung jawab atas 80% kasus hepatitis C. Kini hal tersebut tidak lagi terjadi berkat kontrol yang lebih ketat dalam proses donor dan transfusi darah. Virus ditularkan terutama melalui penggunaan jarum suntik untuk menyuntikkan obat-obatan, pembuatan tato dan body piercing yang dilakukan dalam kondisi tidak higienis. Penularan virus hepatitis C (HCV) juga dimungkinkan melalui hubungan seksual dan dari ibu ke anak saat melahirkan, tetapi kasusnya lebih jarang. Seperti halnya pada hepatitis B, banyak orang yang sehat menyebarkan virus ini tanpa disadari. Gejala hepatitis C sama dengan hepatitis B. Namun, hepatitis C lebih berbahaya karena virusnya sulit menghilang. Pada sebagian besar pasien (70% lebih), virus HCV terus bertahan di dalam tubuh sehingga mengganggu fungsi liver.

Evolusi hepatitis C tidak dapat diprediksi. Infeksi akut sering tanpa gejala (asimtomatik). Kemudian, fungsi liver dapat membaik atau memburuk selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun. Pada sekitar 20% pasien penyakitnya berkembang sehingga menyebabkan sirosis. V. Diagnosis Banding5,6 Hepatitis biasanya disebutkan menggunakan salah satu dari dua istilah, akut atau kronis. Penyakit akut mempengaruhi seseorang untuk waktu yang singkat dan bisa sembuh dalam beberapa minggu tanpa efek berkelanjutan. Penyakit kronis berlangsung lama, kadang-kadang seumur hidup seseorang. Hepatitis A

Hepatitis A adalah satu-satunya hepatitis yang tidak serius dan sembuh secara spontan tanpa meninggalkan jejak. Penyakit ini bersifat akut, hanya membuat kita sakit sekitar 1 sampai 2 minggu. Virus Hepatitis A (HAV) yang menjadi penyebabnya sangat mudah menular, terutama melalui makanan dan air yang terkontaminasi oleh tinja orang yang terinfeksi. Kebersihan yang buruk pada saat menyiapkan dan menyantap makanan memudahkan penularan virus ini. Karena itu, penyakit ini hanya berjangkit di masyarakat yang kesadaran kebersihannya rendah. Hepatitis A dapat menyebabkan pembengkakan hati, tetapi jarang menyebabkan kerusakan permanen. Anda mungkin merasa seperti terkena flu, mual, lemas, kehilangan nafsu makan, nyeri perut dan jaundis (mata/kulit berwarna kuning, tinja berwarna pucat dan urin berwarna gelap) atau mungkin tidak merasakan gejala sama sekali. Virus hepatitis A biasanya menghilang sendiri setelah beberapa minggu. Untuk mencegah infeksi HAV, ada vaksin hepatitis A untuk menangkalnya. 6

Hepatitis B

Hepatitis B adalah jenis penyakit liver berbahaya dan dapat berakibat fatal. Virus Hepatitis B (HBV) ditularkan melalui hubungan seksual, darah (injeksi intravena, transfusi), peralatan medis yang tidak steril atau dari ibu ke anak pada saat melahirkan. Pada 90% kasus HBV menghilang secara alami, tetapi pada 10% kasus lainnya virus tersebut tetap bertahan dan mengembangkan penyakit kronis, yang kemudian bisa menyebabkan sirosis atau kanker hati. Banyak bayi dan anak-anak yang terkena hepatitis B tidak betul-betul sembuh, sehingga mendapatkan masalah liver di usia dewasa. Anda perlu berhati-hati dengan virus HBV karena dapat ditularkan oleh orang yang sehat (yang tidak mengembangkan penyakit hepatitis B) tetapi membawa virus ini. Hepatitis B seringkali tidak menimbulkan gejala. Bila ada gejala, keluhan yang khas dirasakan adalah nyeri dan gatal di persendian, mual, kehilangan nafsu makan, nyeri perut, dan jaundis. Hepatitis B dapat ditangkal dengan vaksin. Anak-anak biasanya mendapatkan vaksin ini sebagai bagian dari program vaksinasi anak.

Hepatitis D

Hepatitis D, juga disebut virus delta, adalah virus cacat yang memerlukan pertolongan virus hepatitis B untuk berkembang biak sehingga hanya ditemukan pada orang yang terinfeksi hepatitis B. Virus hepatitis D (HDV) adalah yang paling jarang tapi paling berbahaya dari semua virus hepatitis. Pola penularan hepatitis D mirip dengan hepatitis B. Diperkirakan sekitar 15 juta orang di dunia yang terkena hepatitis B (HBsAg +) juga terinfeksi hepatitis D. Infeksi hepatitis D dapat terjadi bersamaan (koinfeksi) atau setelah seseorang terkena hepatitis B kronis (superinfeksi). Orang yang terkena koinfeksi hepatitis B dan hepatitis D mungkin mengalami penyakit akut serius dan berisiko tinggi mengalami gagal hati akut. Orang yang terkena superinfeksi hepatitis D biasanya mengembangkan infeksi hepatitis D kronis yang berpeluang besar (70% d- 80%) menjadi sirosis. Tidak ada vaksin hepatitis D, namun dengan mendapatkan vaksinasi hepatitis B maka otomatis Anda akan terlindungi dari virus ini karena HDV tidak mungkin hidup tanpa HBV. Hepatitis E

Hepatitis E mirip dengan hepatitis A. Virus hepatitis E (HEV) ditularkan melalui kotoran manusia ke mulut dan menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Tingkat tertinggi infeksi hepatitis E terjadi di daerah bersanitasi buruk yang mendukung penularan virus. Hepatitis E menyebabkan penyakit akut tetapi tidak menyebabkan infeksi kronis. Secara umum, penderita hepatitis E sembuh tanpa penyakit jangka panjang. Pada sebagian
8

sangat kecil pasien (1-4%), terutama pada ibu hamil, hepatitis E menyebabkan gagal hati akut yang berbahaya. Saat ini belum ada vaksin hepatitis E yang tersedia secara komersial. Anda hanya dapat mencegahnya melalui penerapan standar kebersihan yang baik.
Amebiasis Hati Amebiasis hati merupakan komplikasi ekstra intestinal dari infeksi oleh entamuba histolitika. Penyakit ini masih sering dijumpai, terutama di negara tropis. Dulu penyakit ini lebih dikenal sebagai abses tropik, karena disangka hanya terdapat di daerah tropik atau subtropik saja. Ternyata sangkaan tersebut tidak benar, karena kemudian ditemukan juga tersebar di seluruh dunia. Sering kali diagnosis ditegakkan dengan cara Exjuvantibus karena keterbatasan sarana. Namun dengan cara serologis (Indirect hemaaglutination test untuk Entamuba histolitika positif 95% dari penderita). Keluhan yang timbul dapat bermacam-macam. Gejala dapat timbul secara mendadak (bentuk akut), atau secara perlahanlahan (bentuk kronik). Dapat timbul bersamaan dengan stadium akut dari amebiasis intestinal, atau berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah keluhan intestinal sembuh. Pada bentuk akut, gejalanya lebih nyata dan biasanya timbul dalam masa kurang dari 3 minggu. Keluhan yang sating diajukan yaitu rasa nyeri di perut kanan atas. Rasa nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk dan panas, demikian nyerinya sampai perut dipegang terutama kalau berjalan sampai membungkuk ke depan kanan. Dapat juga timbul rasa nyeri di dada kanan bawah, yang mungkin disebabkan karena iritasi pada pleura diafragmatika. Pada akhirnya dapat timbul tanda-tanda Pleuritis. Rasa nyeri Pleuropulmonal lebih sering timbul pada abses hepatis jika dibandingkan dengan hepatitis. Rasa nyeri tersebut dapat menjalar ke punggung atau skapula kanan. Pada saat timbul rasa nyeri di dada dapat timbul batuk - batuk. Keadaan serupa ini timbul pada waktu terjadinya perforasi abses hepatis ke paru-paru. Batuk disertai dengan sputum berwarna coklat susu. Sebagian penderita mengeluh diare. Hal seperti ini memperkuat diagnosis yang dibuat. Pada pemeriksaan didapatkan penderita tampak kesakitan. Kalau jalan membungkuk ke depan kanan sambil memegang perut kanan atas yang sakit, badan teraba panas hati membesar dan bengkak. Pada tempat abses teraba lembek dan nyeri tekan. Di bagian yang ditekan dengan satu jari terasa nyeri, berarti tempat tersebutlah tempatnya abses. Rasa nyeri tekan dengan satu jari mudah diketahui terutama bila letaknya di interkostal bawah lateral. Ini menunjukkan tanda Ludwig positif dan merupakan tanda khas abses hepatis. Lokalisasi abses yang terbanyak ialah di lobos kanan, jarang di lobus kiri. Batas paru-paru hati meninggi. Ikterus jarang sekali ditemukan 9

VI.

Patofisiologi7 Reaksi cytotoxic T-cell (CTL) spesifik yang kuat diperlukan untuk terjadinya eliminasi menyeluruh VHC pada infeksi akut. Pada infeksi kronik, reaksi CTL yang relative lemah masih mampu merusak sel-sel hati dan melibatkan respon inflamasi dalam hati tetapi tidak bisa menghilangkan virus maupun menekan evolusi genetic VHC sehingga kerusakan sel hati berjalan terus menerus. Kemampuan CTL tersebut dihubungkan dengan aktivitas limfosit sel T-helper (Th) spesifik VHC. Adanya pergeseran dominasi aktivitas Th 1 menjadi Th 2 berakibat pada reaksi toleransi dan melemahnya respons CTL. Reaksi inflamasi yang dilibatkan melalui sitokin-sitokin pro-inflamasi seperti TNF-, TGF-1, akan menyebabkan rekrutmen sel-sel inflamasi lainnya dan menyebabkan aktivasi sel-sel stelata di ruang disse hati. Sel-sel yang khas ini sebelumnya dalam keadaan tenang kemudian berproliferasi dan menjadi aktif menjadi sel-sel miofibroblas yang dapat menghasilkan matriks kolagen sehingga terjadi fibrosis dan berperan aktif dalam menghasilkan sitokin-sitokin proinflamasi. Mekanisme ini dapat timbul terus menerus karena reaksi inflamasi yang terjadi tidak berhenti sehingga fibrosis semakin lama semakin banyak dan sel-sel hati yang ada semakin sedikit. Proses ini dapat menyebabkan kerusakan hati lanjut dan sirosis hati. Etiologi8 Penyakit hepatitis C adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV) yang sering menyebabkan pembengkakan hati.

VII.

gambar 1. Virus hepatitis C

Virus hepatitis C termasuk dalam family Flaviviridae berbentuk ikosahedral yang mendapatkan selubungnya dari membrane sel hospes. Virus ini merupakan virus RNA untai tunggal dengan polaritas positif. Ukuran partikel virus sekitar 30-60 nm, sedangkan panjang genom virus sekitar 9.600 pasang basa, yang mengkode 10 jenis protein viral. Struktur poliprotein virus hepatitis C terdiri dari protein structural yaitu protein C (core), protein E (envelope) dan protein M (membrane) serta beberapa protein nonstructural yaitu NS1, NS2, NS3, dan NS4.

10

VIII.

Epidemiologi5,7 Infeksi VHC didapatkan di seluruh dunia. Dilaporkan lebih kurang 170 juta orang di seluruh dunia terinfeksi virus ini. Prevalensi VHC berbeda-beda di seluruh dunia. Di Indonesia belum ada data resmi mengenai infeksi VHC tetapi dari laporan pada lembaga transfuse darah didapatkan lebih kurang 2% positif terinfeksi oleh VHC. Pada studi populasi umum di Jakarta prevalensi VHC kurang lebih 4%. Karena Hepatitis C menular dari orang ke orang melalui kontak dengan darah yang terinfeksi virus Hepatitis C, aktivitas yang meningkatkan kontak dengan darah tersebut perlu dipertimbangkan sebagai faktor resiko. Faktor resiko yang paling umum adalah pengguna obat bius suntik dan darah serta produk transfusi darah sebelum tahun 1992 Faktor resiko lain seperti tato dan tindik tubuh. Tinta atau jarum tato yang digunakan untuk membuat tato atau menindik dapat menjadi pembawa virus Hepatitis C dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya, jika pelaku tidak melakukan sterilasasi pada perlengkapannya. Faktor resiko lainnya adalah luka tertusuk jarum, terutama pada pekerja kesehatan, hemodialisis dan transplantasi organ sebelum tahun 1992. Luka karena jarum suntik, yang seringkali terjadi pada petugas kesehatan, dapat menjadi alat penularan virus Hepatitis C. Probabilitas penularan virus Hepatitis C melalui jarum suntik lebih besar dibanding dengan virus HIV. Sekarang ini, pada penderita HIV ada protokol standar dalam penanganan jarum suntik untuk mengurangi resiko tertular HIV atau AIDS. Sayangnya, tidak ada protokol yang sama untuk penanganan pada penderita Hepatitis C untuk menghindari penularan melalui jarum suntik. Pengguna Obat Bius Suntik Dua pertiga pengguna obat bius suntik mengidap Hepatitis C. Orang yang menggunakan obat bius suntik, walaupun sekali, memiliki resiko tinggi tertular Hepatitis C. Sekarang ini, resiko terinfeksi virus Hepatitis C melalui obat bius suntik lebih tinggi dibandingkan terinfeksi HIV sekitar 60% hingga 80% yang terinfeksi Hepatitis C sedangkan yang terinfeksi HIV sekitar 30%.

11

Virus Hepatitis C mudah sekali menyebar melalui berbagi jarum, jarum suntik dan perlengkapan lain pengguna obat bius suntik. Hubungan Seksual Meskipun Hepatitis tidak mudah menular melalui hubungan seksual, prilaku seksual yang beresiko, terutama yang memilki pasangan seksual lebih dari satu, menjadi pemicu meningkatnya resiko terinfeksi virus Hepatitis C. Sekitar 15 % infeksi Hepatitis C ditularkan melalui hubungan seksual. Penularan melalui hubungan seksual pada Hepatitis C tidak setinggi pada Hepatitis B. Walaupun demikian, prilaku seks yang beresiko tinggi berhubungan dengan peningkatan resiko tertular Hepatitis C. Faktor resiko dari penularan Hepatitis C melalui hubungan seksual meliputi

Memiliki lebih dari satu pasangan Pengguna jasa PSK Luka karena seks (kurangnya pelicin pada vagina dapat meningkatkan resiko penularan melalui darah)

Melakukan hubungan seksual sewaktu menstruasi. Pada pasangan yang menikah, resiko penularan meningkat sejalan dengan lamanya perkawinan. Hal ini berkaitan dengan hubungan seksual dan berbagi perlengkapan (seperti sikat gigi, silet cukur, gunting kuku dan sebagainya). Jika anda memiliki hubungan seksual dengan orang yang memiliki faktor resiko terinfeksi Hepatitis C, anda sebaiknya menjalankan tes untuk Hepatitis C juga.

IX.

Komplikasi5 Hepatitis C kronis salah satu bentuk penyakit Hepatitis paling berbahaya dan dalam waktu lama dapat mengalami komplikasi, apalagi bila tidak diobati. Penderita Hepatitis kronis beresiko menjadi penyakit hati tahap akhir dan kanker hati. Sedikit dari penderita Hepatitis kronis, hatinya menjadi rusak dan perlu dilakukan transplantasi hati. Kenyataannya, penyakit hati terutama Hepatitis C penyebab utama pada transplantasi hati sekarang ini. Sekitar sepertiga kanker hati disebabkan oleh Hepatitis C. Hepatitis C yang menjadi kanker hati terus meningkat di seluruh dunia karena banyak orang terinfeksi Hepatitis C tiap tahunnya.

12

Penderitaan pengidap kanker hati Walaupun Hepatitis C tidak menunjukkan gejala, kerusakan hati terus berlanjut dan menjadi parah seiring waktu. Saat hati menjadi rusak (sebagai contoh, karena Hepatitis C) hati tersebut akan memperbaiki sendiri yang membentuk parut. Bentuk parut ini sering disebut fibrosis. Semakin banyak parut menunjukkan semakin parahnya penyakit. Sehingga, hati bisa menjadi sirosis (penuh dengan parut). Struktur sel hati mulai pecah, sehingga hati tidak lagi berfungsi normal. Kerusakan hati yang disebabkan Hepatitis C biasanya terjadi secara bertahap selama 20 tahun, tetapi beberapa faktor dapat membuat perkembangan penyakit lebih cepat, seperti alkohol, jenis kelaminnya pria, umur dan infeksi HIV. Karena infeksi Hepatitis C dapat menyebabkan kerusakan hati tanpa gejala, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan sedini mungkin dan bicarakan pilihan pengobatan dengan dokter anda. Penelitian menunjukkan pasien yang diobati sebelum hatinya rusak secara signifikan memiliki respon yang lebih baik terhadap pengobatan dibandingkan pada pasien yang menunda pengobatannya.

X.

Tatalaksana5,7 Pengobatan Hepatitis C sedini mungkin sangatlah penting. Meskipun tubuh anda telah melakukan perlawanan terhadap infeksi, tetapi hanya 15% yang berhasil, pengobatan tetap diperlukan untuk mencegah Hepatitis C kronis dan membantu mengurangi kemungkinan hati menjadi rusak. 13

Kadangkala, pengobatan Hepatitis C memerlukan waktu yang lama, dan tidak dapat membantu. Tetapi karena penyakit ini dapat menjadi parah sepanjang waktu, sangatlah penting untuk mencari pengobatan yang tepat dari dokter anda. Diagnosa dan pengobatan awal sangatlah mendesak dan penting. Persentase yang signifikan dari orang yang melakukannya dapat sembuh dari Hepatitis C dan menunjukan perbaikan hatinya. Tujuan pengobatan dari Hepatitis C adalah menghilangkan virus dari tubuh anda sedini mungkin untuk mencegah perkembangan yang memburuk dan stadium akhir penyakit hati. Kebanyakan bentuk interferon alfa hanya dapat bertahan satu hari tetapi dapat dimodifikasi melalui proses pegilasi untuk membuatnya bertahan lebih lama. Meskipun interferon alfa dapat digunakan sebagai obat Hepatitis C tunggal termasuk pegylated interferon, penelitian menunjukkan lebih efektif bila dikombinasi dengan anti virus ribavirin. 3 senyawa digunakan dalam pengobatan Hepatitis C adalah:

Interferon alfa Adalah suatu protein yang dibuat secara alami oleh tubuh manusia untuk meningkatkan sistem daya tahan tubuh/imunitas dan mengatur fungsi sel lainnya. Obat yang direkomendasikan untuk penyakit Hepatitis C kronis adalah dari inteferon alfa bisa dalam bentuk alami ataupun sintetisnya.

Pegylated interferon alfa Dibuat dengan menggabungkan molekul yang larut air yang disebut "polyethylene glycol (PEG)" dengan molekul interferon alfa. Modifikasi interferon alfa ini lebih lama ada dalam tubuh, dan penelitian menunjukkan lebih efektif dalam membuat respon bertahan terhadap virus dari pasien Hepatitis C kronis dibandingkan interferon alfa biasa.

Ribavirin Adalah obat anti virus yang digunakan bersama interferon alfa untuk pengobatan Hepatitis C kronis. Ribavirin kalau dipakai tunggal tidak efektif melawan virus Hepatitis C, tetapi dengan kombinasi interferon alfa, lebih efektif daripada inteferon alfa sendiri.

14

Pengobatan ini telah diterima berdasarkan kemampuannya dalam menghasilkan respon melawan virus pada penderita penyakit Hepatitis C kronis. Penderita dikatakan memiliki respon melawan virus jika jumlah virus Hepatitis C begitu rendah sehingga tidak terdeteksi pada tes standar RNA virus Hepatitis C dan jika level tersebut tetap tidak terdeteksi selama lebih dari 6 bulan setelah pengobatan selesai. XI. Pencegahan Kita dapat mencegah penularan Hepatitis C. Cara penyebaran yang paling efesien Hepatitis C adalah melalui suntikan yang terkontaminasi oleh darah, misalnya di saat memakai obat suntik. Jarum suntik dan alat suntik sebelum digunakan harus steril dengan demikian menghentikan penyebaran penyakit Hepatitis C di antara pengguna obat suntik. Meskipun resiko penularan melalui hubungan seksual kecil, anda seharusnya menjalankan kehidupan seks yang aman. Penderita Hepatitis C yang memiliki lebih dari satu pasangan atau berhubungan dengan orang banyak harus memproteksi diri (misalnya dengan kondom) untuk mencegah penyebaran Hepatitis C. Jangan pernah berbagi alat seperti jarum, alat cukur, sikat gigi, dan gunting kuku, dimana dapat menjadi tempat potensial penyebaran virus Hepatitis C. Bila melakukan manicure, tato dan tindik tubuh pastikan alat yang dipakai steril dan tempat usahanya resmi. Orang yang terpapar darah dalam pekerjaannya, seperti pekerja kesehatan, teknisi laboratorium, dokter gigi, dokter bedah, perawat, pekerja ruang emergensi, polisi, pemadam kebakaran, paramedis, tentara atau siapapun yang hidup dengan orang yang terinfeksi, seharusnya sangat berhati-hati agar tidak terpapar darah yang terkontaminasi. Juga termasuk menggunakan peralatan tajam dan jarum dengan benar, mencuci tangan secara teratur dan menggunakan sarung tangan dalam pekerjaannya. Jika anda pernah mengalami luka karena jarum suntik, anda harus melakukan tes ELISA atau RNA HCV setelah 4-6 bulan terjadinya luka untuk memastikan tidak terinfeksi penyakit Hepatitis C. Pernah sembuh dari salah satu penyakit Hepatitis tidak mencegah penularan penyakit Hepatitis lainnya. Orang yang menderita penyakit Hepatitis C dan juga menderita penyakit Hepatitis A

15

memilki resiko tinggi terkena penyakit hepatits fulminant, suatu penyakit hati yang mematikan dan perkembangannya sangat cepat. Dengan demikian, ahli kesehatan sangat merekomendasikan penderita penyakit Hepatitis C juga melakukan vaksinasi Hepatitis A dan Hepatitis B. XII. Prognosis Prognosis baik apabila hepatitis C cepat ditangani dan tidak menjadi kronik.

16

BAB III PENUTUP

Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (VHC). Proses penularannya melalui kontak darah {transfusi, jarum suntik (terkontaminasi), serangga yang menggiti penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya}. Dalam perkembangan penyakit Hepatitis C, hati penderita akan mengalami sirosis (pengerasan hati) yang kemudian akan berlanjut menjadi kanker hati (hepatoselulerkarsinoma). Penyakit Hepatitis C tahap lanjut, resiko terjadinya kematian sangat besar. Oleh karena itu pengobatan secara tepat dan tepat terhadap penyakit ini dapat mencegah penyebaran virus yang akan menyebabkan hepatitis C menjadi kronik.

17

DAFTAR PUSTAKA 1) Williams L, Wilkins. Enzim-enzim dan protein hati. Buku pegangan uji diagnostic. Ed. III. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2003. 2) Budhi MP, dr. 100 Questions and Answer Hepatitis. PT Elex Media Komputindo. Jakarta. 2011. 3) Robbins, Cotran. Hepatitis C. Buku saku dasar patologi penyakit. Ed. V. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2001. 4) Penyakit Hepatitis. Dunduh dari www.infopenyakit.com, tanggal 17 Juni 2011. 5) Hepatitis C. Diunduh dari www.medicastore.com, tanggal 17 Juni 2011. 6) Amebiasis hati. Diunduh dari www.kalbe.co.id, tanggal 17 Juni 2011. 7) Rino A. Gani. Hepatitis C. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed. V. Interna Publishing. Jakarta. 2009. 8) Radji M. Infeksi virus pada hati. Imunologi dan Virologi. PT. ISFI Penerbitan. Jakarta. 2010.

18