Anda di halaman 1dari 25

PENGUNGKAPAN: LAPORAN KEUANGAN INTERIM, PELAPORAN EMITEN BEPROSES IPO, LAPORAN YANG DISIAPKAN UNTUK IPO, RIGHT ISSUES

Kelompok 5: Gita Ayu Farani 12030112220041

Precilia Prima Queena 12030112220044 Vonny Marlen 12030112220051

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS DIPONEGORO 2013-2014

A. LAPORAN INTERIM
Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang disajikan untuk satu periode interim. Yang dimaksud dengan periode interim adalah suatu periode keuangan yang lebih pendek daripada periode satu tahun buku penuh. PSAK 3 mengatur mengenai standar penyusunan laporan keuangan interim untuk entitas yang diwajibkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, misalnya pasar modal dan bursa efek. Sedangkan untuk jenis usaha tertentu, seringkali diatur cara penyusunan dan pelaporan laporan interim tersendiri oleh regulator dibidang usaha tertentu, misalnya perbankan yang harus tunduk pada peraturan yang ditentukan oleh Bank Indonesia seba gai Bank Sentral di Indonesia. Konsep laporan keuangan interim yaitu bagian integral atau tak terpisahkan dari laporan tahunan, berarti prinsip, metode pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan laporan keuangan interim haruslah sesuai dan berkisnambungan dengan laporan keungan tahunan. Dalam PSAK 3 laporan interim menerapkan dua prinsip dasar: 1. Prinsip kebijakan akuntansi yang sama, dimana suatu perusahan diwajibkan untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dalam laporan keuangan interimnya sebagaimana diterapkan untuk laporan keuangan tahunannya. 2. Prinsip year to date (Laporan interim harus mencakup periode awal sejak awal tahun buku sampai dengan periode interim terakhir yang dilaporkan) dimana frekuensi pelaporan yang dilakukan suatu perusahaan tidak boleh mempengaruhi pengukuran hasil tahunan PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO.3 (REVISI 2010): LAPORAN KEUANGAN INTERIM Secara umum perbedaan antara ED PSAK 3 (revisi 2010): Laporan Keuangan Interim dengan PSAK 3 (1994): Laporan Keuangan Interim adalah sebagai berikut: PERIHAL Ruang lingkup ED PSAK NO.3 (REV.2010) PSAK 3 (1994) -Tidak menentukan entitas Perusahaan yang diwajibkan yang harus menerapkan PSAK oleh peraturan perundangan ini. yang berlaku. - Entitas yang diwajibkan atau memilih untuk menyajikan laporan keuangan interim harus mengikuti ketentuan dalam PSAK ini.

Pandangan terkait laporan keuangan interim

Tidak dijelaskan

Isi Laporan Keuangan Interim

Komponen minimal laporan keuangan interim Format dan isi laporan keuangan interim

Catatan penjelasan tertentu dan kepatuhan terhadap SAK

Periode laporan keuangan interim komparatif

Perubahan estimasi signikan pada periode interim terakhir

Pendapatan musiman, siklusan, dan tidak teratur Beban yang tidak beraturan

Laporan keuangan interim Lengkap atau laporan keuangan interim ringkas. Laporan posisi keuangan ringkas dan laporan laba rugi komprehensif ringkas. -Laporan keuangan interim lengkap mengikuti PSAK 1. - Laporan keuangan interim ringkas minimal mencakup judul dan subjudul dalam laporan keuangan tahunan dan catatan penjelasan. -Penjelasan mengenai catatan penjelasan tertentu dan informasi minimalnya. - Pengungkapan kepatuhan terhadap SAK. -Laporan posisi keuangan per periode interim dengan tahun buku sebelumnya. - Laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas komparatif dengan periode interim sebelumnya. Perubahan estimasi signikan yang diterjadi pada periode interim terakhir harus diungkapkan dalam laporan keuangan tahunan Pedapatan musiman, siklusan, dan tidak teratur dapat diantisipasi atau ditangguhkan Beban yang tidak beraturan dapat diantisipasi atau ditangguhkan

Laporan keuangan interim merupakan bagian integral dengan laporan keuangan tahunan. Tidak dijelaskan

Tidak dijelaskan

Tidak dijelaskan

Tidak dijelaskan

Tidak dijelaskan

Tidak dijelaskan

Tidak dijelaskan

Tidak dijelaskan

Perbedaan ED PSAK 3 (revisi 2010): Laporan Keuangan Interim dengan IAS 34 Interim Financial Reporting per 1 Januari 2009 ED PSAK 3 (revisi 2010): Laporan Keuangan Interim mengadopsi seluruh IAS 34 Interim

Financial Reporting per 1 Januari 2009, kecuali: 1. IAS 34 paragraf 1 yang menjadi ED PSAK 3 (revisi 2010) tentang ruang lingkup dengan menghilangkan anjuran untuk entitas yang menjual efeknya ke publik untuk menyajikan laporan keuangan interim. Hal ini sudah diatur oleh peraturan yang berlaku. 2. IAS 34 paragraf 14 tentang interaksi antara laporan keuangan interim dengan laporan keuangan interim, tidak diadopsi. Hal ini disesuaikan dengan pengaturan laporan keuangan konsolidasian dalam PSAK 4 (revisi 2009): Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri.. 3. IAS 34 paragraf 46 yang menjadi ED PSAK 3 (revisi 2010) tentang tanggal efektif dengan menghilangkan penerapan dini. Pertimbangannya penerapan dini hanya dapat dilakukan dengan tepat jika seluruh pengaturan dalam IFRSs diadopsi secara bersamaan menjadi SAK. Adopsi IFRSs menjadi SAK di Indonesia dilakukan secara bertahap. 4. IAS 34 paragraf 47 dan 48 tentang tanggal efektif untuk dampak amandemen IFRSs, tidak diadopsi. Hal ini tidak relevan karena IFRSs yang diamandemen belum diadopsi sebelumnya. 5. IAS 34 appendix B paragraf B31-B33 yang menjadi ED PSAK 3 lampiran B paragraf B31B33 tentang pelaporan keuangan interim pada ekonomi hiperinflasi dengan menghilangkan rujukan ke PSAK, karena ekonomi hiperinasi belum diatur dalam PSAK tersendiri. Format dan Isi Laporan Keuangan Interim PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan menetapkan laporan keuangan lengkap meliputi: a. laporan posisi keuangan pada akhir periode b. laporan laba rugi komprehensif selama periode c. laporan perubahan ekuitas selama periode d. laporan arus kas selama periode e. catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lain

f. laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali secara retrospektif dari pos-pos dalam laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasi kasi pos-pos dalam laporan keuangannya. Terdapat dua pilihan bagi entitas dalam menyajikan laporan keuangan interim yaitu: 1. Laporan Keuangan Interim Lengkap Jika entitas menerbitkan laporan keuangan interim lengkap, maka format dan isi laporan keuangan interim harus disusun sesuai dengan ketentuan dalam PSAK 1,

PeraturanBapepam dan LK X.K. 2. Menetapkan bahwa dalam menyajikan LKTT, emiten wajib menyajikan laporan keuangan interim secara lengkap. Dengan demikian format dan isi laporan keuangan interim tersebut harus sesuai dengan pengaturan dalam dalam PSAK 1, kecuali terkait dengan periode perbandingan mengikuti pengaturan dalam PSAK 3. Laporan keuangan interim ringkas jika entitas memilih menerbitkan laporan keuangan interim ringkas, maka PSAK 3 mengatur komponen minimum laporan keuangan interim sebagai berikut: a. Laporan posisi keuangan (neraca) ringkas b. Laporan laba rugi komprehensif ringkas c. Laporan perubahan ekuitas ringkas d. Laporan arus kas ringkas e. Catatan atas laporan keuangan pilihan atau tertentu Komponen Minimal Laporan Keuangan Interim Laporan keuangan interim minimal mencakup komponen berikut: a. Laporan posisi keuangan ringkas b. Laporan laba rugi komprehensif ringkas, yang disajikan (i) Dalam satu laporan laba rugi komprehensif ringkas (ii) Dalam satu laporan laba rugi ringkas terpisah dan satu laporan L/R komprehensif ringkas

Jika entitas menyajikan komponen laba rugi dalam laporan laba rugi terpisah sebagaimana dijelaskan di PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan paragraf 78, maka entitas menyajikan informasi interim ringkas dari laporan laba rugi terpisah tersebut. Periode Laporan Keuangan Interim yang Disyaratkan untuk Disajikan Laporan interim mencakup laporan keuangan (ringkas atau lengkap) untuk periode-periode sebagai berikut: a. Laporan posisi keuangan per akhir periode interim berjalan dan laporan posisi keuangan komparatif per akhir tahun buku sebelumnya. b. Laporan laba rugi komprehensif untuk periode interim berjalan dan secara kumulatif untuk tahun buku berjalan sampai tanggal interim, dengan laporan laba rugi komprehensif komparatif untuk periode interim yang dapat dibandingkan (periode berjalan dan awal tahun buku sampai tanggal pelaporan) dari tahun buku sebelumnya. Sebagaimana diperkenankan oleh PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan, laporan keuangan interim untuk setiap periode dapat menyajikan satu laporan laba rugi komprehensif, atau satu laporan laba rugi terpisah dan satu laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukkan pendapatan komprehensif lain (laporan laba rugi komprehensif). c. Laporan perubahan ekuitas secara kumulatif untuk tahun buku berjalan sampai dengan tanggal interim, dengan laporan perubahan ekuitas komparatif untuk periode awal tahun buku sampai tanggal pelaporan interim dari tahun keuangan sebelumnya. d. Laporan arus kas secara kumulatif untuk tahun buku berjalan sampai dengan tanggal interim, dengan laporan arus kas komparatif periode awal tahun buku sampai tanggal pelaporan interim dari tahun buku sebelumnya. Pengakuan dan Pengukuran PSAK 3 mensyaratkan suatu perusahaan untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dalam laporan keuangan interimnya sebagaimana kebijakan yang diterapkan dalam laporan keuangan tahunannya. Namun, untuk perubahan kebijakan akuntansi yang dilakukan setelah tanggal laporan keuangan terkini yang akan tercermin dalam laporan keuangan tahunan berikutnya, maka kebijakan akuntansi yang baru tersebut harus diterapkan untuk laporan interim di tahun berjalan. Hal ini demi untuk menjaga konsistensi antara laporan keuangan interim tahun berjalan dengan laporan keuangan berikutnya.

PSAK 3 memberikan syarat bahwa pengukuran untuk tujuan laporan keuangan interim harus dilakukan dengan dasar periode awal tahun buku sampai dengan periode interim terakhir yang dilaporkan, karena laporan keuangan interim merupakan bagian dari laporan keuangan tahunan yang lebih luas dan juga agar frekuensi pelaporan interim suatu perusahaan (semesteran atau triwulanan) tidak mempengaruhi pengukuran hasil tahunan. Di dalam laporan interim harus mengakui perubahan estimasi year to date dan juga dapat diestimasi berbeda dengan laporan keuangan interim sebelumnya tahun tersebut. namun, prinsip pengakuan asset, liabilities, pendapatan dan beban harus sesuai dengan laporan keuangan tahunan. Pengungkapan dalam Laporan Tahunan Jika estimasi atas jumlah yang dilaporkan dalam periode interim berubah secara signifikan selama periode interim terakhir dari tahun buku tetapi laporan keuangan terpisah tidak diterbitkan untuk periode interim terakhir tersebut, maka sifat dan jumlah dari perubahan estimasi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan tahunan untuk tahun buku tersebut. PSAK 25 (revisi 2009): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan mensyaratkan pengungkapan sifat dan (jika dapat dipraktikkan) jumlah perubahan estimasi yang memiliki baik dampak material dalam periode berjalan maupun diperkirakan memiliki dampak material dalam periode selanjutnya. Contohnya termasuk perubahan estimasi dalam periode interim terakhir yang berkaitan dengan penurunan persediaan, restrukturisasi, atau rugi penurunan nilai yang dilaporkan dalam periode interim yang lebih awal dalam tahun buku tersebut. Pengungkapan yang disyaratkan oleh paragraf sebelumnya konsisten dengan persyaratan PSAK 25(revisi 2009) dan dimaksudkan untuk mempersempit ruang lingkup hanya terkait dengan perubahan estimasi. Entitas tidak disyaratkan untuk memasukkan informasi keuangan periode interim tambahan dalam laporan keuangan tahunan.

B. PELAPORAN EMITEN BEPROSES IPO DAN LAPORAN YANG HARUS DISIAPKAN UNTUK IPO
Pengertian Initial Public Offering (IPO) Penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) merupakan salah satu tahapan terpenting dalam proses perusahaan untuk menuju pasar modal atau go public. IPO merupakan Pasar Perdana bagi suatu perusahaan untuk menawarkan efeknya (saham, obligasi,dan surat-surat

berharga lainnya) kepada publik. Bagi suatu perusahaan (Eminten) IPO secara financial merupakan sarana untuk memproleh modal untuk pengembangan bisnis perusahaan dan sarana lainnya sebagai parameter bahwa perusahaan tersebut telah menjalankan keterbukaandalam pengelolaan perusahaan yang dampaknya dapat memperoleh citra perusahaan. Pengaturan IPO sendiri diatur dalam Undang-Undang No. 25 tahun 2007 mengenai Penanaman Modal yang ditetapkan pada tanggal 26 April 2007 (Sebagai pengganti Undang-Undang No. 8 tahun 1985 tentang Pasar Modal) dan Keputusan Menteri Keuangan serta peraturan-peraturanyang di keluarkan oleh BAPEPAM dan Bursa Efek. Tujuan dari IPO adalah: 1. Memperoleh dana dari IPO untuk melakukan pengembangan, perluasan dan ekspansi bisnis perusahaan 2. Meningkatkan likuiditas perusahaan, terutama pemegang saham 3. Membangun reputasi dan membuat perusahaan semakin mempunyai nilai di mata public Proses IPO (Penawaran Umum Perdana) Dalam proses IPO (Proses Emisi), Emiten harus menempuh serangkaian tahap yang cukup panjang. Secara garis besar proses IPO dapat dibagi menjadi 3 tahapan yaitu: Sebelum emisi, Selama emisi dan Sesudah emisi. 1) Sebelum Emisi a. Persiapan emisi efek Sebelum emisi, rencana manajemen perusahaan mencari dana melalui go public dan dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) untuk dimintakan persetujuan. Setelah persetujuan diperoleh, emiten kemudian harus mencari dan menunjuk pihak-pihak tertentu untuk menjamin emisi dan membantu menyiapkan kelengkapan dokumen emisi. Pihak-pihak yang terlibat tersebut meliputi: perusahaan efek, profesi penunjang dan lembaga penunjang. Perusahaan efek dapat pula berfungsi sebagai penjamin pelaksana emisi, penjamin emisi, sekaligus agen penjual. Persiapan dokumen emisi sendiri terdiri dari surat pengantar pernyataan terdaftar, prospectus lengkap, iklan, brosur, edaran, dokumen lain yang diwajibkan, rencana jadwal emisi, konsep surat efek, laporan keuangan, rencana penggunaan dana yang dirinci per tahun, proyeksi jika dicantumkan di dalam prospectus, legal audit, legal opinion, riwayat hidup komisaris dan

direksi, perjanjian penjamin emisi, perjanjian agen penjualan, perjanjian penanggungan (untuk emisi obligasi), perjanjian perwali amanatan (untuk emisi obligasi), perjanjian dengan bursa efek, kontrak pengelolaan saham, kesanggupan emiten untuk menyerahkan semua laporan yang diwajibkan perundang-undangan pasar modal, dan informasi lainnya yang bukan bagian dari pernyataan pendaftaran yang diminta oleh BAPEPAM. b. Pendaftaran Pernyataan Emisi Setelah dokumen yang diperlukan untuk emisi telah lengkap, maka emiten mengadakan kontrak pendahuluan dengan bursa efek dan menandatangani perjanjian-perjanjian emisi. Khusus penawaran obligasi atau efek hutang lainnya, emiten harus mendapatkan terlebih dahulu peringkat dari lembaga pemeringkat efek. Kemudian emiten bersama-sama penjamin emisi menyampaikan pernyataan pendaftaran beserta dokumen-dokumen kepada BAPEPAM dan juga melakukan ekspose terbatas di BAPEPAM. Di BAPEPAM, semua dokumen emisi yang telah diterima kemudian diperiksa kelengkapannya dan juga dievaluasi, baik dari segi kelengkapannya, kecukupan, kejelasan informasi, keterbukaan maupun aspek hukum, akuntansi, keuangan dan manajemen. Dalam waktu maksimum 45 hari kerja jika BAPEPAM tidak menyampaikan komentar, permintaan perubahan atau tambahan informasi maka pernyataan pendaftaran emiten dianggap emiten. 2) Selama Emisi a. Selama Masa Penawaran Efek Pada tahap ini, emiten melakukan aktivitas penawaran efek pada pasar perdana yang sering disebut IPO (Initial Public Offering), melaksanakan penjualan saham perdana, sampai mencatat efek yang di lepas ke public ke Bursa Efek sehingga Investor dapat memperjual belikan efek yang dimilikinya. Selama masa periode emisi dibedakan menjadi periode pasar perdana dan pasar sekunder. b. Penawaran Umum Efek Periode pasar perdana, mencakup periode mulai dari efek ditawarkan kepada pemodal oleh sindikasi penjamin emisi melalui para agen penjual yang ditunjuk, penjatahan oleh sindikasi penjamin emisi dan emiten, hingga penyerahan efek kepada investor. Jadi sesudah Bapepam menyatakan pernyataan pendaftaran efektif, emiten mulai menyediakan prospectus lengkap untuk publik dan calon pembeli dan memuat prospectus ringkas tersebut dalam sebuah surat kabar harian atau lebih yang berbahasa Indonesia dan tersebar secara nasional. Pemasangan

prospectus ringkas tersebut dilakukan tiga hari kerja sebelum masa penawaran umum agar calon pembeli dapat mempelajari terlebih dahulu penawaran emiten. Pada masa penawaran umum, calon investor yang tertarik dapat mulai mengajukan pesanan kepada penjamin emisi melalui agen penjualan yang ditunjuknya. Masa ini berlangsung tiga hari kerja dan selesai 60 hari setelah efektifnya pernyataan pendaftaran. Berakhirnya masa penawaran disusul dengan penjatahan efek. Penjatahan efek adalah pengalokasian efek para investor sesuai dengan jumlah yang tersedia. Jika kemudian ternyata jumlah permintaan efek selama masa penawaran umum melebihi jumlah efek yang ditawarkan, diadakan penjatahan khusus oleh manajer penjatahan. c. Pencatatan Efek di Bursa Periode pasar sekunder yaitu periode pencatatan efek di bursa sampai perdagangan sekunder dimulai. Bapepam mensyaratkan bahwa pencatatan harus dilaksanakan selambatlambatnya 90 hari sesudah dimulainya masa penawaran umum atau 30 hari sesudah ditutupnya masa penawaran umum tersebut, tergantung mana yang lebih dahulu. Persyaratan pencatatan saham 1. Laporan keuangan diaudit akuntan terdaftar di Bapepam dengan pendapat Wajar Tanpa Kualifikasi (WTK) untuk tahun buku terakhir. 2. Minimal jumlah saham yang dicatatkan sebanyak 1 juta saham 3. Jumlah pemegang saham minimal 200 pemodal 4. Emiten wajib mencatatkan seluruh sahamnya yang telah ditempatkan dan distor penuh sepanjang tidak bertentangan dengan kepemilikan asing (maksimal 49% dari jumlah saham yang tercatat di bursa) 3) Sesudah Emisi Pelaporan Emisi Efek Sesudah efek diperdagangkan di pasar sekunder, emiten diwajibkan memberikan pelaporan kepada BEI dan BAPEPAM. Pelaporan kepada kedua Institusi ini terdiri dari tiga jenis, yaitu: 1. Laporan rutin yaitu berupa laporan keuangan tahunan, laporan keuangan tengah tahunan atau laporan triwulanan (laporan keuangan interim). Laporan rutin kepda BAPEPAM tidak hanya meliputi laporan keuangan saja tetapi juga mencakup beberapa laporan lainnya, seperti laporan penggunaan dana hasil emisi. 2. Laporan berkala yaitu laporan mengenai terjadinya setiap kejadian penting dan relevan

3. Laporan lainnya, yaitu mencakup laporan mengenai perubahan anggaran dasar, rencana RUPS/RUPSLB, perubahan susunan direksi dan komisaris, dan mengenai penyimpangan proyeksi yang dipublikasikan lebih dari 10%. Seluruh laporan yang disampaikan emiten kepada bursa akan dipublikasikan kepada para investor melalui pengumuman di lantai bursa maupun melalui papan informasi. Dengan demikian investor, terutama investor publik, sebagai pihak yang tidak memiliki akses langsung kepada emiten, dapat mengetahui perkembangan performa emiten sehingga dapat mengambil tindakan yang menguntungkan bagi kegiata investasinya. Peraturan Bapepam LK Untuk IPO Peraturan-Peraturan Bapepam LK yang Mengatur Mengenai IPO yaitu IX. A. 1-14 dan IX.C.1-11 1) Peraturan Nomor IX.A.1 mengenai ketentuan umum pengajuan pernyataan pendaftaran persyaratan penyampaian pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum (IPO) oleh Emiten atau Perusahaan Publik 2) Peraturan Nomor IX.A.2 mengenai tata cara pendaftaran dalam rangka penawaran umum (IPO) 3) Peraturan Nomor IX.A.3 mengenai Tata cara untuk meminta perubahan dan atau tambahan informasi atas pernyataan pendaftaran (IPO) 4) 5) 6) Peraturan Nomor IX.A.4 mengenai Prosedur penangguhan penawaran umum Peraturan Nomor IX.A.5 mengenai Penawaran yang bukan merupakan penawaran umum Peraturan Nomor IX.A.6 mengenai Pembatasan atas saham yang diterbitkan sebelum penawaran umum 7) Peraturan Nomor IX.A.7 mengenai Tanggung jawab manajer penjatahan dalam rangka pemesanan dan penjatahan efek dalam penawaran umum 8) 9) Peraturan Nomor IX. A.8 mengenai Prospektus awal dan info memo Peraturan Nomor IX.A.9 mengenai Promosi pemasaran efek termasuk iklan, brosur, atau komunikasi lainnya kepada publik 10) Peraturan Nomor IX. A.10 mengenai Penawaran umum sertifikat penitipan efek Indonesia (Indonesian Depositary Receipt).

11)

Peraturan Nomor IX. A. 11 mengenai Penawaran umum efek bersifat utang dalam denominasi mata uang selain rupiah

12) 13) 14)

Peraturan Nomor IX.A.12 mengenai penawaran umum oleh pemegang saham Peraturan Nomor IX.A.13 mengenai penerbitan efek syariah Peraturan Nomor IX.A.14 mengenai akad-akad yang digunakan dalam penerbitan efek syariah di pasar modal

15)

Peraturan Nomor IX.C.1 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum

16)

Peraturan Nomor IX.C. 2 merupakan ringkas dalam penawaran umum

pedoman mengenai bentuk dan isi prospectus

17)

Peraturan Nomor IX.C. 3 merupakan

pedoman mengenai bentuk dan isi prospectus

ringkas dalam penawaran umum (peraturan revisi tahun 2000) 18) Peraturan Nomor IX.C. 4 mengenai pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum reksa dana berbentuk persero 19) Peraturan Nomor IX.C. 5 mengenai pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif 20) Peraturan Nomor IX.C. 6 merupakan pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum reksa dana 21) Peraturan Nomor IX.C. 7 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil 22) Peraturan Nomor IX.C. 8 merupakan pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil 23) Peraturan Nomor IX.C. 9 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum efek beragun asset (Asset Backed Securities) 24) Peraturan Nomor IX.C. 10 merupakan pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum efek beragun asset (Asset Backed Securities) 25) Peraturan Nomor IX.C. 11 mengenai pemeringkatan efek bersifat utang dan atau sukuk Peraturan Bapepam LK Mengenai Penyajian Laporan Keuangan (Peraturan Nomor: VIII.G.7) Dalam peraturan ini Bapepam LK mengatur mengenai:

1) Bentuk, isi, dan persyaratan dalam penyajian laporan keuangan yang harus disampaikan oleh Emiten atau Perusahaan Publik, baik untuk keperluan penyajian kepada masyarakat maupun untuk disampaikan kepada Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). 2) Bentuk, isi dan persyaratan dalam penyajian laporan keuangan yang tidak diatur dalam peraturan ini, harus mengikuti Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan praktik akuntansi lainnya yang lazim berlaku di Pasar Modal. 3) Laporan keuangan dalam ketentuan ini adalah sesuai dengan pengertian laporan keuangan yang termuat dalam PSAK yang diterbitkan oleh IAI, yaitu meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan dan data yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut terbuka dan tersedia untuk publik.

C. LAPORAN YANG HARUS DISIAPKAN UNTUK IPO


Laporan yang harus disiapkan untuk IPO mengenai ketentuan umum pengajuan pernyataan pendaftaran Nomor kep-111/PM/1996 keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan pendoman mengenai bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum menurut keputusan ketua Badan pengawas Pasar modal nomor Kep- 51/PM/1996. Sebagai berikut: KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR KEP-111/PM/1996 KETENTUAN UMUM PENGAJUAN PERNYATAAN PENDAFTARAN 1. Pernyataan Pendaftaran serta semua dokumen pendukungnya harus diajukan kepada Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) secara lengkap, walaupun informasi tertentu seperti harga penawaran dan tanggal Efektif belum dapat ditentukan pada saat penyampaian Pernyataan Pendaftaran. 2. Pengajuan Pernyataan Pendaftaran tersebut pada butir 1 Peraturan ini wajib dilaksanakan oleh Emiten atau Perusahaan Publik. 3. Emiten atau Perusahaan Publik bertanggung jawab sepenuhnya atas ketelitian, kecukupan, dan kebenaran serta kejujuran pendapat dari semua informasi yang ada dalam Pernyataan Pendaftaran serta semua dokumen lainnya yang diajukan kepada Bapepam. Apabila ketentuan mengenai keterbukaan dalam peraturan atau formulir Bapepam tidak

relevan bagi Emiten, Perusahaan Publik, atau Penawaran Umum tertentu, maka hal tersebut tidak perlu diungkapkan dalam Pernyataan Pendaftaran. 4. Di samping keterangan dan dokumen yang secara khusus wajib disertakan dalam Pernyataan Pendaftaran, Pihak yang mengajukan Pernyataan Pendaftaran harus pula menyertakan informasi yang material lainnya yang diperlukan untuk memastikan bahwa para pemodal telah memperoleh informasi yang cukup tentang keadaan keuangan dan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dan bahwa pengungkapan yang diwajibkan tersebut tidak menyesatkan. 5. Penjamin Pelaksana Emisi Efek, Profesi Penunjang Pasar Modal serta Pihak lain yang memberikan pendapat atau keterangan dan atas persetujuannya dimuat dalam Pernyataan Pendaftaran, bertanggung jawab atas pernyataan dan pendapat yang diberikannya sebagaimana tercantum dalam dokumen yang disampaikan kepada Bapepam. 6. Pengajuan Pernyataan Pendaftaran dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud pada butir 1 Peraturan ini harus dalam rangkap 4 (empat), masing-masing harus dijilid atau disatukan dengan cara lain sebagai satu kesatuan atau terdiri atas beberapa bagian. 7. Sekurang-kurangnya satu naskah Pernyataan Pendaftaran dan dokumen lainnya harus ditandatangani secara langsung oleh Pihak yang namanya disebut dalam Pernyataan Pendaftaran dan dibubuhi meterai yang cukup. 8. Pernyataan Pendaftaran harus diajukan pada kertas berwarna terang yang berkualitas baik, berukuran kurang lebih 21 X 30 sentimeter. Tabel, grafik, laporan keuangan dan dokumen lainnya dapat berukuran lebih besar, namun harus dilipat sehingga menjadi kurang lebih 21 X 30 sentimeter. Prospektus dapat berukuran lebih kecil dari Pernyataan Pendaftaran apabila dikehendaki. 9. Pernyataan Pendaftaran dan semua dokumen lain yang diajukan harus dicetak (jika mungkin), diketik atau dipersiapkan dengan cara proses lain yang sama, sehingga isinya jelas, mudah dibaca serta mudah untuk difotokopi dan disimpan. 10. Pernyataan Pendaftaran harus dalam bahasa Indonesia. Jika dokumen penunjang menggunakan bahasa lain, terjemahannya dalam bahasa Indonesia (disahkan oleh penterjemah resmi) harus disertakan. 11. Surat pengantar untuk Pernyataan Pendaftaran dan dokumen lain yang diajukan harus diberi nomor secara berurutan, di samping penomoran interen dari bagian yang berdiri

sendiri, seperti Prospektus dan dokumen lain yang diwajibkan. Jumlah dari seluruh halaman yang diserahkan harus dinyatakan pada surat pengantar Pernyataan Pendaftaran. 12. Setiap dokumen pendukung dari Pernyataan Pendaftaran baik secara langsung diberikan maupun dalam rangka memenuhi permintaan Bapepam, yang tidak merupakan bagian dari Pernyataan Pendaftaran serta bersifat rahasia, harus dipisahkan dari dokumen yang diwajibkan dalam rangka Pernyataan Pendaftaran dimaksud dan diberi tanda secara jelas dengan permintaan supaya tidak terbuka untuk umum. Apabila hal tersebut tidak dipenuhi, terhadap dokumen bersangkutan berlaku Pasal 89 ayat (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

D. RIGHT ISSUES
Pengumuman penerbitan saham baru (right issue) merupakan berita yang disampaikan oleh pihak manajemen perusahaan yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai perusahaan. Investor akan merespon informasi tersebut sebagai sinyal terhadap adanya peristiwa (event) tertentu yaitu berupa sinyal positif (good news) atau berupa sinyal negatif (bad news). Apabila dana dari penerbitan saham baru (right issue) digunakan untuk ekspansi usaha atau perbaikan struktur modal, maka kinerja perusahaan akan lebih baik di masa depan. Sehingga informasi yang dihasilkan memberikan sinyal positif bagi investor yang selanjutnya akan meningkatkan harga saham perusahaan. Tetapi jika dana dari penerbitan saham baru (right issue) akan digunakan untuk tujuan perluasan investasi yang mempunyai nilai sekarang bersih (net present value) nol atau negatif dan untuk membayar utang yang telah jatuh tempo sehingga menyebabkan kondisi laba di masa depan menurun, maka informasi yang diperoleh investor memberi sinyal yang negatif. Sinyal tersebut akan direspon oleh investor yang tercermin dengan perubahan harga saham dan tingkat likuiditas saham di seputar pengumuman penerbitan saham baru (right issue) yang dilakukan oleh perusahaan. Right issue merupakan hak bagi pemodal membeli saham baru yang dikeluarkan emiten. Karena merupakan hak, maka investor tidak terikat harus membelinya. Ini berbeda dengan saham bonus atau dividen saham yang otomatis diterima oleh pemegang saham. Misalnya PT X melakukan right issue 2:1 ini berarti setiap pemegang dua lembar saham PT X berhak membeli satu saham baru PT X (hasil right issue). Bagi mereka yang tidak ingin membeli saham baru dapat menjual bukti right tersebut. Karena penawaran tersebut hanya dibatasi kepada

pemegang saham lama, maka penawaran tersebut disebut sebagai penawaran terbatas (Linier offering). Agar pemegang saham lama berminat membeli saham baru tersebut, perusahaan menawarkan saham dengan harga (jauh) lebih murah dari harga saham saat ini. Sebagai hak beli saham yang diterbitkan kepada para pemegang saham, bukti right biasanya menetapkan harga beli per-saham, jumlah saham yang dapat dibeli, tanggal kadaluwarsa atau masa berlakunya bukti right, dan informasi penting lainnya. Biasanya manajemen harus terlebih dahulu mengumumkan kepada para pemegang saham akan adanya rencana penerbitan bukti right, sebelum bukti right pada akhirnya benar-benar diterbitkan. Bukti right biasanya bernilai ekonomis, karena dapat digunakan untuk membeli saham perusahaan dengan harga tertentu di bawah harga pasarnya. Bukti right tidak digunakan sampai dengan akhir batas waktu yang telah ditetapkan, praktis tidak lagi bernilai ekonomis. Penerbitan bukti right mengakibatkan timbulnya kewajiban bagi perusahaan untuk menyediakan sejumlah cukup sertifikat saham yang dapat dibeli oleh para pemegang bukti right. Penerbitan bukti right dapat dipandang sebagai suatu bentuk komitment, yang bisa jadi berakibat pada terjadinya pengeluaran kas di kemudian hari (dalam hal jumlah saham yang sudah diotorisasi tetapi belum diterbitkan tidak mencukupi jumlahnya). Pengaukuan akan adanya komitment untuk menyediakan sertifikat saham dalam jumlah yang mencukupi tersebut sebagai UTANG atau KEWAJIBAN memang tidak atau belum diperlukan pada saat penerbitan bukti right. Namun demikian, informasi akan adanya komitment atau kewajiban untuk menyedakan sertifikat saham dalam jumlah yang cukup tersebut harus diungkapkan dengan cara lain, seperti misalnya : catatan kaki di dalam batang tubuh laporan keuangan (neraca), atau dalam bentuk catatan atas laporan keuangan. Oleh karena itu, pencatatan yang diperlukan atas penerbitan bukti right cukup dilakukan dalam bentuk catatan memorial. Penggunaan bukti right untuk membeli saham dicatat sebagaimana halnya pada transaksi penerbitan atau penjualan saham, dan catatan memorial akan berkurangnya jumlah bukti right yang beredar. TUJUAN RIGHT ISSUES Tujuan perusahaan melakukan right issue adalah untuk menambah modal kerja perusahaan. Untuk memperoleh tambahan dana sebenarnya perusahaan dapat saja menerbitkan saham baru untuk ditawarkan kepada publik. Namun apabila cara ini ditempuh umumnya perusahaan harus menggunakan jaza penjamin (yang akan menjamin bahwa bahwa penerbitan tersebut akan terjual

semua) atau menawarkan saham baru dengan harga yang lebih rendah dari harga saham saat ini ke publik. Apabila harga saham baru ditawarkan dengan harga yang sama dengan harga saham lama, maka para pemodal mungkin akan berpikir untuk apa membeli saham baru di pasar perdana kalau dapat membeli saham yang sama dengan harga yang sama di pasar sekunder. Oleh karena itu umumnya harga saham baru akan lebih murah dari harga saham lama. Kedua pilihan tersebut akan mengakibatkan perusahaan menanggung biaya, pilihan yang pertama mengakibatkan perusahaan harus membayar fee kepada pihak penjamin (under writer) dan yang kedua berarti distribusi kemakmuran kepada pemegang saham yang baru. Sehingga dengan dilakukannya right issue perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar dan tidak terjadi distribusi kemakmuran kepada pemegang saham yang baru serta perubahan persentase hak suara dalam perusahaan tidak terjadi. DAMPAK RIGHT ISSUES
Adanya right issue maka akan berdampak pada bertambahnya jumlah saham yang beredar. Umumnya dengan adanya penambahan jumlah lembar saham yang beredar di pasar maka akan meningkatkan frekuensi perdagangan saham tersebut atau dengan kata lain meningkatkan likuiditas saham. Disisi lain dengan bertambahnya jumlah saham yang beredar akan mengakibatkan jumlah dividen yang akan diterima pemegang saham menjadi lebih kecil atau lebih sedikit, hal tersebut terjadi apabila perolehan laba perusahaan stabil dan prosentase pembayaran dividen (deviden pay out ratio) tetap. Dengan adanya penurunan dividen per lembar saham dapat menimbulkan dampak yang negatif, karena dividen per lembar saham yang kecil akan mengurangi minat investor untuk membeli saham tersebut, akibatnya harga saham menjadi turun. Penurunan harga saham setelah right issue juga dipengaruhi oleh harga pelaksanaan right issue yang selalu lebih rendah dari harga pasarnya. Apabila pemegang saham tidak melakukan haknya dalam right issue maka pemegang saham tersebut akan mengalami apa yang dikenal dengan istilah (dilution) yaitu penurunan prosentase kepemilikan saham, sehingga investor harus melakukan penghitungan yang akurat untuk menentukan keputusan dalam melaksanakan haknya dalam right issue agar keputusan yang diambil tersebut akan memberikan keuntungan kepada investor.

LAPORAN YANG DISIAPKAN UNTUK RIGHT ISSUES

Bapepam LK menerbitkan lima peraturan untuk right issues yaitu peraturan nomor IX.D.1IXD5, sebagai berikut: 1) Peraturan Bapepam LK No. IX.D.1 Dalam peraturan ini dijelaskan pengertian Right Issues (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) yaitu hak yang melekat pada saham yang memungkinkan para pemegang saham yang ada untuk membeli Efek baru, termasuk saham, Efek yang dapat dikonversikan menjadi saham dan waran, sebelum ditawarkan kepada Pihak lain. Hak tersebut wajib dapat dialihkan. Selain itu pengertian Waran yaitu Efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang memberi hak kepada pemegang Efek untuk memesan saham dari perusahaan tersebut pada harga tertentu untuk jangka waktu 6 (enam) bulan atau lebih sejak diterbitkannya Waran tersebut Apabila suatu perusahaan yang telah melakukan Penawaran Umum saham atau Perusahaan Publik bermaksud untuk menambah modal sahamnya, termasuk melalui penerbitan Waran atau Efek konversi, maka setiap pemegang saham wajib diberi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atas Efek baru dimaksud sebanding dengan persentase pemilikan mereka. Jika perusahaan tersebut mempunyai lebih dari satu jenis saham, dan jika jumlah saham dalam setiap jenis ditambah secara proporsional, maka para pemegang saham yang ada wajib mempunyai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebanding dengan persentase pemilikan mereka dalam masing-masing jenis saham. Jika perusahaan tersebut mempunyai lebih dari satu jenis saham tetapi penambahan hanya terjadi pada satu jenis saham saja, atau jumlah penambahan dari setiap jenis saham tidak sebanding, atau jika Penawaran Umum terdiri dari Efek yang dapat ditukar dengan saham, maka semua pemegang saham wajib mempunyai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebanding dengan persentase pemilikan dalam perusahaan. Penawaran Umum dimaksud wajib disetujui oleh pemegang saham yang mewakili sebagian besar saham dalam setiap jenis saham. Dalam yang menerbitkan Waran, maka jumlah Waran yang diterbitkan dan Waran yang telah beredar tidak melebihi 35% (tiga puluh lima perseratus) dari jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh pada saat Pernyataan Pendaftaran disampaikan. Dalam hal ini perusahaan tersebut jika bermaksud untuk menambah modal sahamnya melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau melalui Penawaran Umum Waran atau Efek konversi wajib mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham untuk mempertimbangkan dan menyetujui rencana

penawaran dimaksud dan menyediakan Prospektus bagi pemegang saham, selambat-lambatnya 28 (dua puluh delapan) hari sebelum Rapat Umum Pemegang Saham dilaksanakan. Setiap perubahan atau penambahan informasi mengenai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu wajib tersedia bagi pemegang saham paling lambat pada saat Rapat Umum Pemegang Saham dilaksanakan. Untuk dapat melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham dalam rangka Penawaran Umum dengan Hak Memesan Efek, perusahaan atau emiten wajib mengajukan Pernyataan Pendaftaran dan dokumen pendukungnya kepada Bapepam dalam bentuk serta mencakup informasi yang ditetapkan untuk Penawaran Umum dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Persyaratan untuk memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu ini tidak berlaku jika perusahaan mengeluarkan saham sebagai hasil kapitalisasi dari laba yang ditahan dan atau modal disetor lainnya seperti dividen saham atau saham bonus. 2) Peraturan Bapepam LK No. IX.D.2 Peraturan ini berisi pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (Right Issues). Dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk Right Issues sekurang-kurangnya terdiri dari: a. b. c. i. ii. Surat pengantar Pernyataan Pendaftaran Prospektus Dokumen lain yang diperlukan sebagai bagian dari Pernyataan Pendaftaran dalam rangka penerbitan hak memesan saham terlebih dahulu. Dokumen lain tersebut terdiri dari: Rencana jadwal Penawaran Umum Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu Perjanjian yang menetapkan pembelian Efek yang tidak dipesan melalui penawaran Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (jika ada) iii. iv. v. vi. vii. viii. Perjanjian perwaliamanatan (jika ada) Perjanjian penanggungan (jika ada) Informasi penggunaan dana dari hasil Penawaran Umum sebelumnya Laporan Keuangan Laporan Akuntan berkaitan dengan laporan keuangan yang disajikan Menyajikan laporan keuangan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun terakhir

i. ii. iii. iv. v. vi.

Laporan Keuangan terdiri dari: Neraca Laporan laba rugi Laporan perubahan Ekuitas Laporan arus kas Catatan atas laporan keuangan Laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan jika dipersyaratkan, seperti laporan komitmen dan kontinjensi untuk Emiten atau Perusahaan Publik yang bergerak dalam bidang perbankan.

Dalam hal efektifnya Pernyataan Pendaftaran melebihi 180 (seratus delapan puluh) hari dari laporan keuangan terakhir, maka laporan keuangan tahunan terakhir harus dilengkapi dengan laporan keuangan interim yang telah diaudit, sehingga jangka waktu antara tanggal efektif Pernyataan Pendaftaran dan tanggal laporan keuangan interim tidak melampaui 180 (seratus delapan puluh) hari. d. Surat dari Akuntan (comfort letter) sehubungan dengan perubahan keadaan keuangan Emiten atau Perusahaan Publik yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan yang diaudit oleh Akuntan e. f. Surat pernyataan dari Emiten atau Perusahaan Publik di bidang akuntansi Keterangan lebih lanjut tentang prakiraan dan atau proyeksi, jika dicantumkan dalam Prospektus g. h. Kebijakan dividen serta riwayat pembayaran dividen Laporan pemeriksaan dan pendapat dari segi hukum (sehubungan dengan perubahan yang terjadi setelah tanggal dikeluarkannya pendapat hukum sebelumnya dan hal yang berkaitan dengan penggunaan dana hasil Penawaran Umum) i. Surat pencabutan pembatasan-pembatasan (negative covenant) yang dapat merugikan kepentingan pemegang saham publik dari kreditur 3) Peraturan Bapepam LK No. IX.D.3 Peraturan ini berisi pedoman mengenai bentuk dan isi prospektus dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu, yaitu: a) Suatu Prospektus harus mencakup semua rincian dan Informasi atau Fakta Material mengenai Penawaran Umum dari Emiten atau Perusahaan Publik, yang dapat mempengaruhi

keputusan pemodal, yang diketahui atau layak diketahui oleh Emiten atau Perusahaan Publik. Prospektus harus dibuat sedemikian rupa sehingga jelas dan komunikatif. Faktafakta dan pertimbanganpertimbangan yang paling penting harus dibuat ringkasannya dan diungkapkan pada bagian awal Prospektus. Urutan penyampaian fakta pada Prospektus ditentukan oleh relevansi fakta tersebut terhadap masalah tertentu, bukan urutan sebagaimana dinyatakan pada peraturan ini. b) Emiten atau Perusahaan Publik harus berhati-hati apabila menggunakan foto, diagram, atau tabel pada Prospektus, karena bahan-bahan tersebut dapat memberikan kesan yang menyesatkan kepada masyarakat. Emiten atau Perusahaan Publik juga harus menjaga agar penyampaian informasi penting tidak dikaburkan dengan informasi yang kurang penting yang mengakibatkan informasi penting tersebut terlepas dari perhatian pembaca. c) Emiten atau Perusahaan Publik dapat melakukan penyesuaian atas pengungkapan Informasi atau Fakta Material tidak terbatas hanya pada Informasi atau Fakta Material yang telah diatur dalam ketentuan ini. Pengungkapan atas Informasi atau Fakta Material tersebut harus dilakukan secara jelas dengan penekanan yang sesuai dengan bidang usaha atau sektor industrinya, sehingga Prospektus tidak menyesatkan. Emiten atau Perusahaan Publik serta Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal bertanggung jawab untuk menentukan dan mengungkapkan fakta tersebut secara jelas dan mudah dibaca. 4) Peraturan Bapepam LK No. IX.D.4 Peraturan ini mengatur mengenai penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu. Emiten atau Perusahaan Publik dapat menambah modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu kepada pemegang saham, sepanjang ditentukan dalam anggaran dasar, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Jika dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun, penambahan modal tersebut sebanyakbanyaknya 5 % (lima perseratus) dari modal disetor 2) Jika tujuan utama penambahan modal adalah untuk memperbaiki posisi keuangan perusahaan yang mengalami salah satu kondisi sebagai berikut: Bank yang menerima pinjaman dari Bank Indonesia atau lembaga pemerintah lain yang jumlahnya lebih dari 200% (dua ratus perseratus) dari modal disetor atau kondisi lain yang dapat mengakibatkan restrukturisasi bank oleh instansi Pemerintah yang berwenang.

Perusahaan selain bank yang mempunyai modal kerja bersih negatif dan mempunyai kewajiban melebihi 80% (delapan puluh perseratus) dari aset perusahaan tersebut pada saat RUPS yang menyetujui penambahan modal.

Perusahaan yang gagal atau tidak mampu untuk menghindari kegagalan atas kewajibannya terhadap pemberi pinjaman yang tidak terafiliasi dan jika pemberi pinjaman tersebut atau pemodal tidak terafiliasi menyetujui untuk menerima saham atau obligasi konversi perusahaan untuk menyelesaikan pinjaman tersebut.

5)

Peraturan Bapepam LK No. IX.D.5 Peraturan ini memuat mengenai saham bonus. Saham Bonus adalah saham yang dibagikan

secara cuma-cuma kepada pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang dimiliki, pembagian Saham Bonus harus proporsional dengan kepemilikan saham dari setiap pemegang saham. Pelaksanaan pembagian Saham Bonus harus telah selesai dilakukan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari setelah pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham yang menyetujui pembagian Saham Bonus tersebut. Emiten atau Perusahaan Publik wajib menyampaikan kepada Bapepam laporan penjatahan Saham Bonus yang telah diperiksa oleh Akuntan yang terdaftar di Bapepam sebanyak 2 (dua) eksemplar selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah pembagian Saham Bonus dilaksanakan. Saham Bonus yang merupakan Dividen Saham, berasal dari kapitalisasi Saldo Laba. Saham Bonus yang bukan merupakan Dividen Saham, berasal dari kapitalisasi: a. b. Agio Saham Unsur ekuitas lainnya. Jumlah saham yang dibagikan dalam rangka Saham Bonus yang merupakan Dividen Saham ditentukan berdasarkan hal-hal sebagai berikut: a. Dalam hal harga pasar saham pada penutupan perdagangan 1 (satu) hari sebelum Rapat Umum Pemegang Saham di bawah nilai nominal saham, maka jumlah saham yang dibagikan ditentukan berdasarkan sekurang-kurangnya pada nilai nominal saham. b. Dalam hal harga pasar saham sama atau lebih tinggi dari nilai nominal saham, maka jumlah saham yang dibagikan ditentukan berdasarkan harga pasar saham pada penutupan perdagangan 1 (satu) hari sebelum Rapat Umum Pemegang Saham. Pembagian Saham Bonus hanya dapat dilaksanakan apabila asal Saham Bonus tersebut telah dimuat dalam Laporan Keuangan Tahunan terakhir yang telah diaudit oleh Akuntan yang

terdaftar di Bapepam. Dalam hal Saham Bonus berasal dari kapitalisasi Agio Saham maka nilai yang dapat dikapitalisasi adalah jumlah Agio Saham setelah dikurangi biaya emisi Efek ekuitas. Emiten atau Perusahaan Publik atau pelaku Pasar Modal lainnya dalam hubungan dengan para pemodal dilarang memberikan informasi yang menyesatkan mengenai rencana pembagian Saham Bonus oleh Emiten atau Perusahaan Publik tertentu. Jumlah saham yang dibagikan dalam rangka Saham Bonus yang bukan merupakan Dividen Saham ditentukan berdasarkan nilai nominal saham.

KASUS PENGUNGKAPAN INFORMASI MATERIAL PERUSAHAAN GAS NEGARA (PT. PGN) TBK
Kasus yang dialami oleh PT. Perusahaan Gas Negara, Tbk di indikasikan bermula dari jatuhnya penjualan saham perusahaan tersebut di Bursa Efek, dimana terjadi penurunan secara signifikan harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk di Bursa Efek Jakarta, yaitu dari Rp 9.650,00 (harga penutupan pada tanggal 11 januari 2006) menjadi Rp 7.400,00 per lembar saham pada tanggal 12 januari 2007. Adanya dugaan insider trading pada kasus ini karena Jatuhnya harga saham tersebut dilihat tidak wajar, karena merujuk pada harga sebelumnya Rp 9.650,00 berarti telah jatuh sebanyak 23,36%. Melihat dengan jatuhnya harga saham dalam penjualan di bursa efek, patut diduga bahwa adanya kesalahan atau pun kesengajaan dalam hal transaksi yang dilakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Saat itu, saham PGN merosot hingga 23,36% atau Rp 2.250 menjadi Rp 7.400 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 9.650. Sebanyak 186,2 juta saham ditransaksikan. Selain itu pada masa periode tersebut, yaitu 12 September 2006 sampai dengan 11 Januari 2007 terdapat adanya perdagangan saham yang dilakukan oleh para pihak orang dalam perusahaan. Selain dugaan terjadinya praktek haram insider trading pada transaksi saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk, terdapat juga indikasi terjadinya pelanggaran prinsip keterbukaan informasi PT. Gas Negara Tbk pada saat penjualan di bursa efek. Penurunan harga saham yang signifikan tersebut sangat erat hubungannya dengan siaran pers yang dilakukan manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk sehari sebelum (11 januari 2007). Dalam siaran pers tersebut dinyatakan bahwa terjadi koreksi atas rencana besarnya volume gas yang akan dialirkan, yaitu mulai dari (paling sedikit) 150 MMSCFD menjadi 30 MMSCFD. Dan terdapat pernyataan bahwa tertundanya gas ini yang semula akan dilakukan

pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007. Penundaan proyek komersialisasi pemipaan gas PT.PGN Tbk dari Sumatera Selatan sampai Jawa Barat dan yang membuat informasi ini berhubungan erat dengan kasus anjloknya harga saham PT.PGN Tbk, yaitu manajemen perusahaan PT.PGN Tbk baru menjelaskan penundaan komersialisasi gas pada 11 Januari 2007, padahal informasi tentang adanya penundaan tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh manajemen PT. PGN Tbk sejak tanggal 12 September 2006 (informasi tentang penurunan volume gas) dan sejak tanggal 18 Desember. Terdapat dugaan bahwa beberapa pelaku pasar telah mengetahui informasi penting mengenai penundaan komersialisai gas tersebut sebelum diumumkan secara resmi oleh manajemen PT. PGN Tbk. Dalam arti lain, tidak semua pelaku pasar mengetahui informasi penting tersebut. Sehingga bagi mereka yang mengetahui informasi penting tersebut, langsung mengambil langkah yang dapat menguntungkan mereka sendiri, dengan menjual saham PT.PGN Tbk lebih dulu dibanding investor lainnya. Puncaknya pada tanggal 12 Januari 2007, para investor lainnya ikut menjual saham PGN secara besar besaran, yang mengakibatkan jatuhnya harga saham PGN 23,36% dari harga Rp9.650 menjadi Rp 7.400.

PEMBAHASAN KASUS PT PGN, Tbk


Bapepam - LK mengumukan hasil pemeriksaan terhadap pelanggaran peraturan perundangundangan di bidang pasar modal yang dilakukan oleh PT.PGN Tbk, sebagai berikut : 1. Bapepam LK telah melakukan pemeriksaan terhadap dokumen dan pihak pihak terkait dengan pelanggaran pasal 86 UU Pasar Modal dan Peraturan No.X-K1 tentang keterbukaan informasi yang harus segera diumumkan kepada publik yang dilakukan oleh PT. PGN Tbk dan tentang pemberian keterangan secara material tidak benar sebagaimana dimaksud dalam pasal 93 UU Pasar Modal 2. Atas pelanggaran pasal 86 UU Pasar Modal dan Peraturan No.X.K-1 dan pelanggaran pasal 93 UU Pasar Modal yang dilakukan oleh PT.PGN Tbk ditemukan bukti bukti sebagai berikut: a) Terdapat keterlambatan pelaporan keterbukaan informasi atas penundaan proyek pipanisasi yang dilakukan oleh PT PGN Tbk selama 35 hari b) Terdapat pemberian keterangan yang secara material tidak benar, yakni memberikan keterangan tentang rencana volume gas yang dapat dialirkan melalui proyek SSWJ

yang tidak sesuai dengan fakta bahwa telah terjadi perubahan awal tersebut. Fakta tersebut telah diketahui atau sepatutnya diketahui oleh direksi yang seharusnya disampaikan saat keterangan itu diberikan kepada publik 3. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka Bapepam-LK menetapkan: a) Sanksi denda sebesar Rp 35.000.000,00 kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk atas pelanggaran Pasal 86 Undang-undang Pasar Modal dan Peraturan Nomor X.K.1 b) Sanksi denda sebesar Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) kepada Direksi PT.PGN Tbk yang menjabat pada periode bulan juli 2006 atas pelanggaran pemberian keterangan yang secara material tidak benar sebagaimana dimaksud dalam pasal 93 Undang-undang Pasar Modal

REFERENSI
http://imahido-rochimawati.blogspot.com/2010/04/laporan-keuangan-interim.html, diakses 27 Juni 2013 http://www.bapepam.go.id/old/old/hukum/peraturan/emiten/IX.A.1.htm, diakses 27 Juni 2013 www.bapepam.go.id, diakses 26 Juni 2013