Anda di halaman 1dari 32

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Luka bakar adalah luka yang disebabkan karena pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Luka bakar karena api atau akibat tidak langsung dari api, misalnya tersiram air panas, banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Luka bakar juga bisa timbul akibat kulit terpajan ke suhu tinggi, syok listrik atau bahan kimia.1 Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, radiasi atau kimia. Selain itu, luka bakar juga diklasifikasikan berdasarkan kedalaman menjadi derajat 1, derajat 2, derajat 3 dan derajat 4 dan berdasarkan luas daerah yang terbakar. Wallace membagi bagian tubuh dengan kelipatan dari 9 yang terkenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace. Bagian tubuh tersebut termasuklah kepala dan leher 9%, lengan 18%, badan depan 18%, badan belakang 18%, tungkai 36% dan genitalia/perineum 1%.1,3 Di Amerika di laporkan sekitar 2 sampai 3 juta penderita setiap tahunnya dengan jumlah kematian 5-6 ribu kematian pertahun, sedangkan di Indonesia belum ada laporan tertulis. Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo Jakarta pada tahun 1998 dilaporkan 107 kasus luka bakar yang dirawat, dengan angka kematian 37,38 sedangkan di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya pada tahun 2000 dirawat 106 kasus luka bakar, kematian 26,41%.4 Pada penanganan penderita dengan trauma luka bakar, seperti pada penderita trauma-trauma lainnya, harus ditangani secara teliti dan sistematik.6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

LUKA BAKAR

2.1.1. Definisi Luka bakar adalah luka yang timbul akibat kulit terpajan ke suhu tinggi, syok listrik, atau bahan kimia. Menurut R. Sjamsuhidajat dan Wan de Jong, luka bakar adalah luka yang terjadi karena terbakar api langsung maupun tidak langsung, juga pajanan suhu tinggi dan matahari, listrik, maupun bahan kimia.1,2

2.1.2. Epidemiologi Di Amerika di laporkan sekitar 2 sampai 3 juta penderita setiap tahunnya dengan jumlah kematian 5-6 ribu kematian pertahun, sedangkan di Indonesia belum ada laporan tertulis. Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo Jakarta pada tahun 1998 dilaporkan 107 kasus luka bakar yang dirawat, dengan angka kematian 37,38 sedangkan di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya pada tahun 2000 dirawat 106 kasus luka bakar, kematian 26,41%.3

2.1.3. Etiologi Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Kulit dan mukosa saluran nafas atas merupakan lokasi destruksi jaringan. Jaringan yang dalam, termasuk organ visera, dapat mengalami kerusakan karena luka bakar elektrik atau kontak yang lama dengan agen penyebab (burning agent). 1 Berdasarkan penyebab luka bakar, luka bakar dibedakan atas beberapa jenis penyebab, antara lain : 1,2

1. Luka bakar karena api 2. Luka bakar karena bahan kimia 3. Luka bakar karena listrik, petir dan radiasi 4. Luka bakar karena sengatan sinar matahari. 5. Luka bakar karena air panas, tungku panas, udara panas 6. Luka bakar karena ledakan bom. 2.1.4. Patofisiologi Setelah cedera termal terjadi, pada daerah luka bakar akan terjadi koagulasi protein dan kematian sel zona tersebut disebut sebagai zona nekrosis. Dalam cedera luka bakar full-thickness, semua elemen kulit hancur, sedangkan luka bakar yang partial-thickness ditandai dengan nekrosis kulit yang tidak lengkap. Zona nekrosis yang meluas secara radial dan ditandai kerusakan seluler disebut sebagai zona st-asis dan hiperemia. Zona stasis ditandai oleh aliran darah mikrovaskuler yang menurun, yang dapat dikembalikan ke normal dengan resusitasi perfusi yang memadai, mencegah kulit kering dan infeksi.3 Cedera termal minimal menginduksi zona hiperemis yang ditandai dengan respon inflamasi segera dan meningkatnya aliran darah mikrovaskuler. Perubahan histopatologis awal pada titik kontak termal digambarkan sebagai zona jaringan konsentris. Koagulasi nekrosis pada kulit dan pelengkap kulit mengakibatkan hilangnya fungsi kulit normal, lapisan penghalang

antimikroba hancur, kontrol evaporasi udara hilang, dan pengaturan suhu tubuh terganggu.3,4

Mekanisme Pembentukan Edema Setelah diikuti cedera termal, pembentukan edema yang paling hebat pada luka bakar dan jaringan yang belum terbakar adalah pada 6 jam pertama dan diikuti perluasan edema yang lebih kecil pada 24 jam berikutnya. Kontriksi kapiler vena menyebabkan tekanan hidrostatik meningkat dan mengakibatkan

edema interstisial pada awal post-injury. Pada percobaan luka bakar pada hewan, tekanan hidrostatik negative yang kuat pada cairan interstisial terjadi dalam waktu 30 menit. Durasi dan luasnya tekanan hidrostatik negatif sebanding dengan besarnya lukabakar. Perubahan karakteristik fisik dari jaringan yang terbakar yang diikuti dengan pembentukan edema disebabkan oleh meningkatnya permeabilitas mikrovaskular yang disebabkan oleh faktor humoral yang dilepas oleh jaringan yang terbakar dan sitokin yang diproduksi oleh leukosit yang teraktivasi.4

Respon Sistem Kardiovaskular Pada Luka Bakar Pada masa resusitasi, respon kardiovaskular pada luka bakar dimanifestasikan oleh penurunan curah jantung dan peningkatan resistensi vaskular perifer yang diikuti oleh peningkatan progresif pada curah jantung dan penurunan resistensi vaskular perifer pada masa aliran hipermetabolik. Penurunan curah jantung setara dengan ukuran luka bakar dan disebabkan oleh hilangnya cairan dan protein intravascular ke ekstravaskular kompartmen. Peningkatan resistensi vaskular perifer disebabkan oleh respon neuro-hormonal pada hipovolemik.4,5

Respon Sistem Pernafasan Pada Luka Bakar Pada cedera termal walaupun tidak diikuti inhalasi asap, akan terjadi perubahan fisik pada fungsi paru. Segera setalah luka bakar terjadi, pernafasan akan dapat bertambah cepat sebagai hasil dari anxietas dan hiperventilasi yang diinduksi nyeri. Dengan adanya inisiasi resusitasi cairan, laju nafas dan volume tidal meningkat secara progresif, yang berakibat peningkatan menit ventilasi menjadi satu setengah kali normal. Peningkata ini bergantung kepada luasnya luka dan dianggap merefleksikan hipermetabolisme pasca injuri.3,4 Resistensi vaskular paru meningkat cepat pada luka bakar, dan

peningkatan tersebut lebih lama daripada peningkatan resistensi vaskular.

Pada saat meningkatnya resistensi vaskular paru, terjadi pelepasan vasoaktif amin dan mediator lain yang akan memberikan efek protektif saat resusitasi cairan dengan cara menurunkan tekanan hidrostatik yang akan mencegah edema paru.4

Respon Ginjal Pada Luka Bakar Respon ginjal berparalel dengan respon kardiovaskular. Segera setelah periode postburn, aliran darah ginjal dan laju infiltrasi glomerulus akan menurun sesuai dengan proporsi luka bakar dan besarnya defisit volume intravaskular. Keterlambatan resusitasi cairan akan menyebabkan perfusi ginjal yang tidak adekuat dan menyebabkan akut tubular nekrosis dan gagal ginjal akut.4

Sindroma Respon Inflamatori Sistemik/Sistemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), Sindroma Disfungsi Organ Multi-sistem/Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS), dan Sepsis SIRS adalah suatu bentuk respon klinik yang bersifat sistemik terhadap berbagai stimulus klinik berat akibat infeksi ataupun noninfeksi seperti trauma, luka bakar, reaksi autoimun, sirosis, pankreatitis, dan lain-lain.3,4 Respon ini merupakan dampak dari pelepasan mediator-mediator inflamasi (proinflamasi) yang mulanya bersifat fisiologik dalam proses penyembuhan luka, namun oleh karena pengaruh beberapa faktor predisposisi dan faktor pencetus, respon ini berubah secara berlebihan (mengalami eksagregasi) dan menyebabkan kerusakan pada organ-organ sistemik, menyebabkan disfungsi dan berakhir dengan kegagalan organ terkena menjalankan fungsinya; MODS (Multi-system Organ Disfunction Syndrome) bahkan sampai kegagalan berbagai organ (Multi-system Organ Failure/MOF).3,4

SIRS dan MODS merupakan penyebab utama tingginya angka mortalitas pada pasien luka bakar maupun trauma berat lainnya. Dalam penelitian dilaporkan SIRS dan MODS keduanya menjadi penyebab 81% kematian pasca trauma; dan dapat dibuktikan pula bahwa SIRS sendiri mengantarkan pasien pada MODS.3,4 Ada 5 hal yang bisa menjadi aktivator timbulnya SIRS, yaitu infection, injury, inflamation, inadequate blood flow, dan ischemia-reperfusion injury. Kriteria klinik yang digunakan, mengikuti hasil konsensus American College of Chest phycisians dan the Society of Critical Care Medicine tahun 1991, yaitu bila dijumpai 2 atau lebih menifestasi berikut selama beberapa hari, yaitu:3,4 Hipertermia (suhu > 38C) atau hipotermia (suhu < 36C) Takikardi (frekuensi nadi > 90x/menit) Takipneu (frekuensi nafas > 20x/menit) atau tekanan parsial CO2 rendah (PaCO2< 32 mmHg) Leukositosis (jumlah lekosit > 12.000 sel/mm3), leukopeni (< 4000 sel/mm3) atau dijumpai > 10% netrofil dalam bentuk imatur (band).

Bila diperoleh bukti bahwa infeksi sebagai penyebab (dari hasil kultur darah/bakteremia), maka SIRS disebut sebagai sepsis. SIRS akan selalu berkaitan dengan MODS karena MODS merupakan akhir dari SIRS.4 Pada dasarnya MODS adalah kumpulan gejala dengan adanya gangguan fungsi organ pada pasien akut sedemikian rupa, sehingga homeostasis tidak dapat dipertahankan tanpa intervensi. Bila ditelusuri lebih lanjut, SIRS sebagai suatu proses yang berkesinambungan sehingga dapat dimengerti bahwa MODS menggambarkan kondisi lebih berat dan merupakan bagian akhir dari spektrum keadaan yang berawal dari SIRS.3

2.1.5. Klasifikasi Derajat Luka Bakar Klasifikasi dari derajat luka bakar yang banyak digunakan di dunia medis adalah jenis "Superficial Thickness", "Partial Thickness" dan "Full Thickness" dimana pembagian tersebut didasarkan pada kedalaman luka bakar tersebut. Pengklasifikasian luka ini digunakan untuk panduan pengobatan dan memprediksi prognosis. Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung pada derajat panas sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan tubuh penderita.3,4,5

Derajat Derajat 1 -

Karakteristik kerusakan epitel kecil dari epidermis ada. Kemerahan, nyeri, dan rasa sakit. Blistering tidak terjadi. Penyembuhan terjadi setelah beberapa hari tanpa bekas luka.

Karena penghalang epidermal tetap utuh, respon metabolik dan risiko infeksi yang minimal.

Penyebab paling umum dari luka bakar tingkat pertama adalah sunburns.

Derajat 2

Terbagi 2, yaitu ketebalan superfisial parsial dan ketebalan mendalam parsial. a. Ketebalan superficial parsial (superficial partial-thickness): melibatkan epidermis dan dangkal (papillary) dermis, sering

mengakibatkan berdinding tipis, berisi cairan lepuh. Luka-luka bakar tampak merah muda, lembab, dan lembut ketika disentuh oleh tangan bersarung. Mereka sembuh dalam sekitar 2-3 minggu, biasanya tanpa bekas luka, dengan hasil dari tunas epitel dari unit pilosebasea dan kelenjar keringat yang berada di dermis papiler dan retikuler.

b. Ketebalan mendalam parsial (Deep partial-thickness): meluas ke dermis reticular. Warna kulit biasanya campuran merah putih dan pucat, dan pengisian kapiler lambat. Melepuh yang berdinding tebal dan sering pecah.

Derajat 3

Luka bakar tingkat tiga penuh-ketebalan luka bakar yang merusak baik

epidermis dan dermis. Jaringan kapiler dermis benar-benar hancur. Warna kulit menjadi putih atau kasar dengan underlying kapal bergumpal dan anestesi. Kecuali luka bakar tingkat tiga cukup kecil untuk sembuh dengan kontraksi (<1 cm), pencangkokan kulit selalu diperlukan untuk melapisi daerah luka. Contoh penyebab luka bakar tingkat 3 adalah Immersion luka bakar, luka bakar api, dan kimia dan tegangan tinggi cedera listrik.

Derajat 4

menyebabkan penghancuran kulit dan jaringan subkutan, dengan keterlibatan fasia yang mendasarinya, otot, tulang, atau struktur lainnya. Cedera ini memerlukan debridement yang luas dan rekonstruksi kompleks jaringan khusus dan selalu mengakibatkan cacat berkepanjangan.

Luka bakar tingkat 4 ini hasil dari kontak yang terlalu lama penyebab

10

biasa luka bakar tingkat tiga.

11

Luas Luka Bakar Dikarenakan formula resusitasi berdasarkan berat badan dan persentasi luas permukaan tubuh total, pasien harus ditimbang dan diperkirakan derajat luka bakarnya. Untuk mengukur luas permukaan tubuh yang terbakar menggunakan rule of nine, dimana setiap regio anatomi yang spesifik menggambarkan 9-18% dari luas permukaan tubuh. Area dari telapak tangan dan jari-jari tangan digambarkan 1% dari luas permukaan tubuh seseorang.3,5 Bayi dan anak-anak memiliki distribusi luas permukaan tubuh yang berbeda dengan dewasa, dimana kepala yang lebih besar dan ekstermitas yang lebih pendek. Ketika memperkirakan luas permukaan tubuh untuk anak usia dibawah 10 tahun menggunakan diagram Lund and Browder.4,5

12

13

14

2.1.6. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Manifestasi klinis: Semua luka bakar didiagnosa berdasarkan temuan pemeriksaan fizik dan juga pemeriksaan laboratorium.2,3

1. Keracunan Karbon Monoksida (CO) : Ditandai dengan kekurangan oksigen dalam darah, lemas binggung, mual, muntah, koma bahkan meninggal 2. Distress pernafasan : Ditandai dengan sesak, dan ketidakmampuan menangani sekresi 3. Cedera Pulmonal : Ditandai dengan pernafasan cepat atau sulit, krakles, stridor, dan batuk 4. Gangguan hematologik : Tanda yang ditemukan adalah kenaikan hematokrit, penurunan SDP, leukosit meningkat, penurunan trombosit 5. Gangguan elektrolit : Tanda yang ditemukan adalah penurunan kalium, kenaikan natrium dan klorida, serta kenaikan BUN 6. Gangguan ginjal : Tanda yang ditemukan adalah peningkatan keluaran urine dan mioglobinuria 7. Gangguan metabolik : Tanda yang ditemukan adalah hipermetabolisme dan kehilangan berat badan

Khusus untuk luka bakar dengan trauma inhalasi adalah terdapat gejala seperti sesak napas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap (jelaga). Kecurigaan adanya trauma inhalasi bila pada penderita luka bakar terdapat 3 atau lebih dari keadaan berikut : 3,4 1. Riwayat terjebak dalam rumah/ ruangan terbakar 2. Sputum tercampur arang

15

3. Luka bakar perioral, hidung, bibir, mulut atau tenggorokan. 4. Penurunan kesadaran. 5. Tanda distress napas, rasa tercekik, tersedak, malas bernapas dan adanya 6. Wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau tenggorokan (iritasi mukosa) 7. Gejala distress napas/takipnea 8. Sesak atau tidak ada suara. Pada pasien luka bakar juga dilakukan pemeriksaan penunjang: 4 1. Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah 2. Urinalisis 3. Pemeriksaan keseimbangan elektrolit 4. Analisis gas darah 5. Radiologi jika ada indikasi ARDS 6. Pemeriksaan lain yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis SIRS dan MODS Pemeriksaan tambahan khusus untuk luka bakar inhalasi merupakan: 4 1. Kadar karboksihemoglobin (COHb) Pada trauma inhalasi, kadar COHb 35-45% (berat), bahkan setelah 3 jam dari kejadian, kadar COHb pada batas 20-25%. Bila kadar COHb lebih dari 15% setelah 3 jam kejadian bukti kuat terjadi trauma inhalasi.

2. Gas Darah PaO2 yang rendah (kurang dari 10 kPa pada konsentrasi oksigen 50%, FiO2 = 0,5) mencurigakan adanya trauma inhalasi. PaO2 biasanya normal pada fase awal, tetapi dapat meningkat pada fase lanjut.

3. Foto Toraks

16

biasanya normal pada fase awal

4. Bronkoskopi Fiberoptic Bila terdapat sputum beraran, edema mukosa, adanya bintik bintik pendarahan dan ulserasi

5. Tes Fungsi paru

2.1.7. Penatalaksanaan Penanganan Prehospital Perhatian utama di lokasi kecelakaan adalah menghentikan proses pembakaran. Pembakaran dan pakaian yang membara harus dipadamkan. Kemudian seperti dengan semua pasien trauma, perhatian utama selama penilaian awal adalah pemeliharaan fungsi kardiopulmonari. Patensi jalan nafas dan kecukupan ventilasi harus dijaga dan pemberian oksigen tambahan yang diperlukan. Jika tidak adanya trauma mekanik yang terkait atau kebutuhan untuk resusitasi kardiopulmonari, penempatan kanula intravena tidak diperlukan jika transportasi ke fasilitas pengobatan dapat dicapai dalam waktu kurang dari 45 menit.8 Penerapan es atau air dingin membasahi akan menghilangkan rasa sakit pada daerah luka bakar derajat dua. Jika terapi dingin dimulai dalam waktu 10 menit dari pembakaran, kandungan jaringan panas juga berkurang, dan kedalaman kecederaan termal dapat berkurang. Jika terapi dingin digunakan, perawatan harus diambil perhatian untuk menghindari hipotermia. Air dingin atau es hanya boleh digunakan pada pasien dengan luka bakar kurang dari 10% dari permukaan tubuh dan pada waktu hanya untuk

memproduksi analgesia. Setelah es atau air dingin rendam dialihkan, pasien

17

harus ditutup dengan kain lembaran bersih dan selimut untuk melestarikan panas tubuh dan meminimalkan kontaminasi luka bakar selama transportasi ke rumah sakit.6,8 Pada pemeriksaan yang akan dilakukan penderita diwajibkan memakai sarung tangan yang steril, bebaskan penderita dari baju yang terbakar, penderita luka bakar dapat pula mengalami trauma lain, misalnya bersamaan dengan trauma abdomen dengan adanya internal bleeding atau mengalami patah tulang punggung / spine. Mekanisme trauma perlu diketahui karena ini penting, apakah penderita terjebak dalam ruang tertutup sehingga kecurigaan adanya trauma inhalasi yang dapat menimbulkan obstruksi jalan napas. Kapan kejadiannya terjadi, serta ditanyakan penyakit penyakit yang pernah di alami sebelumnya.6,8 Luka bakar diperiksa apakah terjadi luka bakar berat, luka bakar sedang atau ringan. Luka bakar ditentukan luas luka bakar dengan menggunakan Rule of Nine. Kemudian kedalaman luka bakar ditentukan dengan derajat kedalaman luka bakar.6

Penanganan Emergensi Kondisi pasien luka bakar itu berubah secara dramatis selama cedera. Awal periode postkebakaran ditandai oleh ketidakstabilan kardiopulmonari

disebabkan oleh perpindahan cairan dan kecederaan akibat asap yang langsung masuk ke jalan nafas. Dengan terjadinya peradangan luka intens, imunosupresi, dan infeksi, parameter fisiologis dan metabolik berubah secara substansial dari yang terlihat pada awalnya. Karena itu pengobatan harus didasarkan pada pemahaman yang jelas tentang perubahan-perubahan dari waktu ke waktu.6,8 Ketidakstabilan kardiopulmonari menunjukkan ciri fase resusitasi. Masalah jalan napas dan pernapasan merupakan hal yang mengancam jiwa saat ini, dengan ditambah keracunan karbon monoksida, edema jalan nafas

18

atas, dan efek langsung dari cedera inhalasi asap yang paling sering terjadi. Tahap awal ini juga ditandai dengan hipovolemia karena volume plasma yang hilang ke dalam jaringan terbakar. Luka bakar itu sendiri kurang diperhatikan dahulu, karena pengobatan awal paru dan peredaran darah kelainan merupakan prioritas pertama. Kesalahan manajemen awal akan menyebabkan peningkatan dramatis dalam morbiditas dan mortalitas selama fase cedera berikutnya. Ini adalah sangat penting untuk mengingatkan bahwa pasien luka bakar adalah pasien trauma dengan potensi mengalami cedera lainnya. Pendekatan standar untuk resusitasi trauma harus diikuti, termasuk penilaian untuk tulang belakang leher dan cedera kepala, trauma paru dan abdomen, fraktur, dan sebagainya. Pengelolaan masalah ini adalah sama seperti pada pasien trauma lainnya.6,7 Setibanya di rumah sakit, penilaian patensi jalan napas dan kecukupan pernapasan harus diulangi dan intubasi endotrakeal dilakukan jika diperlukan. Resusitasi cairan intravena dimulai dengan pemberian larutan garam fisiologis, misalnya, larutan Ringer laktat, melalui kanula intravena ukuran besar. Urutan preferensi untuk tempat kanulasi intravena adalah vena perifer mendasari kulit yang tidak terbakar, vena perifer yang mendasari terbakar, dan terakhir, vena sentral.6,8 Riwayat terdahulu harus diperoleh, dan penting untuk pengobatan cedera selanjutnya, riwayat penyakit terdahulu, alergi dan obat-obatan, dan penggunaan obat-obatan terlarang atau alkohol sebelum cedera. Pemeriksaan fisik lengkap harus dilakukan dan cedera terkait diidentifikasi. Data laboratorium harus mencakup analisa gas darah dan analisis pH, elektrolit serum, nitrogen urea, kreatinin, dan glukosa, dan pemeriksaan darah lengkap. Jika tersedia, penentuan oksimetri transkutan dari saturasi oksigen harus dimulai pada pasien dengan dicurigai cedera inhalasi atau luka bakar yang luas.6,8 kulit

19

Berikut terdapat beberapa langkah penanganan emergensi luka bakar :


6

1. Diwajibkan memakai sarung tagan steril ketika melakukan pemeriksaan. 2. Bebaskan pakaian penderita yang terbakar. 3. Dilakukan pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh untuk memastikan adnya trauma lain yang menyertai. 4. Bebaskan jalan napas. Pada luka bakar dengan distress jalan napas dapat dipasang endotracheal tube. Tracheostomy dilakukan hanya bila ada indikasi. 5. Pemasangan intraveneous kateter yang cukup besar dan tidak dianjurkan pemasangan scalp vein. Diberikan cairan ringer Laktat dengan jumlah 30-50 cc/jam untuk dewasa dan 20-30 cc/jam untuk anak anak di atas 2 tahun dan 1 cc/kg/jam untuk anak dibawah 2 tahun. 6. Dilakukan pemasangan Foley kateter untuk monitor jumlah produksi urine. Dicatat jumlah urine/jam. 7. Dilakukan pemasangan nosogastrik tube untuk gastric dekompresi dengan intermitten pengisapan. 8. Untuk menghilangkan nyeri hebat dapat diberikan morfin intravena dan jangan secara intramuskuler. 9. Diberikan tetanus toksoid bila diperlukan. Pemberian tetanus toksoid booster bila penderita tidak mendapatkannya dalam 5 tahun terakhir. 10. Pencucian luka bakar di kamar operasi dalam keadaan pembiusan umum. Luka dicuci debridement dan di disinfektsi dengan salvon 1 : 30. Setelah bersih tutup dengan tulle kemudian olesi dengan Silver Sulfa Diazine (SSD) sehingga tebal. Rawat tertutup dengan kasa steril yang tebal. Pada hari ke 5 kasa di buka dan penderita dimandikan dengan air dicampur Salvon 1 : 30. 11. Eskarotomi adalah suatu prosedur atau membuang jaringan yang mati (eskar)dengan teknik eksisi tangensial berupa eksisi lapis demi lapis jaringan nekrotik sampai di dapatkan permukaan yang berdarah. Fasiotomi dilakukan

20

pada luka bakar yang mengenai kaki dan tangan melingkar, agar bagian distal tidak nekrose karena stewing. 12. Penutupan luka dapat terjadi atau dapat dilakukan bila preparasi bed luka telah dilakukan dimana didapatkan kondisi luka yang relative lebih bersih dan tidak infeksi. Luka dapat menutup tanpa prosedur operasi. Secara persekundam terjadi proses epitelisasi pada luka bakar yang relative superficial. Untuk luka bakar yang dalam pilihan yang tersering yaitu split tickness skin grafting. Split tickness skin grafting merupakan tindakan definitive penutup 10 luka yang luas. Tandur alih kulit dilakukan bila luka tersebut tidak sembuh sembuh dalam waktu 2 minggu dengan diameter > 3 cm.

Prinsip Penanganan Luka Bakar Kelainan pada ventilasi dan oksigenasi paling sering terjadi secara langsung pada periode posttrauma. Beberapa proses penyakit kritis harus dievaluasi dan ditangani secara agresif. Suhu yang tinggi atau panas menghasilkan cedera langsung pada mukosa saluran nafas, sehingga menimbulkan edema, eritema, dan ulserasi. Meskipun perubahan mukosa secara anatomis dapat terjadi setelah kejadian, perubahan fisiologis tidak akan hadir sehingga edema menghasilkan bukti klinis gangguan patensi saluran napas bagian atas. Ini tidak mungkin terjadi selama 12 sampai 18 jam.7 Kejadian luka bakar pada tubuh memperbesar efek cedera saluran napas yang kadar langsung dengan ukuran dan kedalaman luka bakar kulit. Jumlah besar cairan diberikan adalah sebagian dari tanggung jawab. Luka bakar pada wajah atau leher akan menekankan masalah ini ditandai dengan menghasilkan distorsi anatomi dan, dalam kasus luka bakar pada leher yang mendalam, kompresi eksternal laring. Edema jalan nafas dan edema luka bakar eksternal memiliki selang waktu tertentu sehingga pada waktu itu gejala edema saluran napas muncul, eksternal dan internal distorsi anatomi yang sangat luas. Edema lokal biasanya menyembuh dalam 4 sampai 5 hari.4,7

21

Inspeksi orofaring untuk jelaga atau bukti cedera panas harus rutin dilakukan pada setiap korban luka bakar. Banyak teknik telah digunakan untuk menilai tingkat kecederaan dan menentukan kebutuhan untuk intubasi endotrakeal. Bronkoskopi atau laringoskopi fiberoptik menunjukkan apakah ada bukti fisik cedera pada mukosa faring atau laring. Laringoskopi akan menunjukkan adanya iritasi mukosa dan memberikan informasi tentang perlunya intubasi endotrakeal. Namun begitu, tidak satupun dari tes ini dapat memprediksi tingkat keparahan pernafasansecara akurat karena edema berlangsung selama 18 sampai 24 jam pertama. Pemeriksaan ulang untuk gangguan jalan napas dapat dilakukan pada pasien tanpa luka bakar pada wajah. Namun, dengan adanya luka bakar yang besar, yang terbaik adalah untuk melanjutkan dengan intubasTYi jika ada indikasi.6,7 Keputusan awal mengenai kebutuhan untuk intubasi saluran napas sangat penting. Bila ada keraguan, lebih aman untuk intubasi. Pasien dengan kecederaan inhalasi dan luka bakar pada wajah yang dalam biasanya harus dikelola oleh intubasi endotrakeal awal. Ada indikasi lain untuk intubasi pada pasien luka bakar selain daripada edema saluran napas, seperti ketidakstabilan hemodinamik dan penurunan kesadaran. Orotracheal tube dengan ukuran yang besar (setidaknya 7 mm dengan diameter internal) harus digunakan pada orang dewasa karena sekresi yang dihasilkan sangat padat. Jika orotracheal tube awalnya terlalu kecil, maka akan berbahaya sekali untuk menggantikan karena edema masif pada wajah dan saluran napas terjadi.4,7 Resusitasi cairan harus dimulai sesegera mungkin setelah cedera termal. Umumnya, luka bakar yang melibatkan lebih dari 25% dari luas permukaan tubuh memerlukan resusitasi cairan intravena karena ileus menghalangi resusitasi oral. Pasien dengan luka bakar kecil tidak membentuk ileus harus memiliki akses liberal untuk elektrolit yang mengandung cairan, seperti jus buah atau susu,tetapi asupan yang berlebihan dari elektrolit-bebas air harus dihindari untuk mencegah hiponatremia.6,7

22

Yang paling utama adalah volume cairan yang dibutuhkan tergantung pada berat badan pasien dan tingkat kecederaan luka bakar. Kebanyakan sering disarankan bahwa setengah dari kebutuhan yang dihitung diberikan selama 8 jam pertama setelah kejadian, yaitu, pada waktu permeabilitas pembuluh darah maksimal, sisa volume 24 jam pertama resusitasi disampaikan selama 16 jam ke depan. Subkelompok tertentu pasien memerlukan resusitasi volume secara signifikan lebih besar daripada yang diperkirakan oleh rumus. Sebuah keterlambatan dalam memulai resusitasi cairan, cedera inhalasi, dan keracunan etanol sering dikaitkan dengan lebih besar dari kebutuhan cairan yang diprediksi.7,8 Kita harus menyadari bahwa setiap rumus resusitasi hanya untuk membantu dalam inisiasi terapi cairan. Jumlah yang sebenarnya cairan resusitasi disesuaikan dengan respon fisiologis setiap pasien, sering dengan penilaian ulang dan penyesuaian kadar infus yang diperlukan untuk JVmelestarikan perfusi organ vital. Kegagalan untuk sering mengevaluasi kembali respon pasien untuk resusitasi secara teratur dapat menyebabkan kelebihan atau kekurangan resusitasi. Hal ini sering terlihat ketika volume cairan diberikan hanya berdasarkan perkiraan awal. Dengan administrasi berlebihan dari cairan infus akan mengakibatkan edema pada luka bakar, paru dan otak. Komplikasi yang paling jelas terlihat dari hari ketiga hingga keenam posttrauma, ketika permeabilitas pembuluh darah telah kembali ke "normal," resistensi vaskular telah menurun, dan edema luka bakar sedang diserap.7 Secara umum, cairan yang mengandung setidaknya garam sebanyak kandungan di dalam plasma sesuai dalam resusitasi. Pemulihan natrium yang hilang ke dalam luka bakar sangat penting. Cairan harus bebas dari glukosa (kecuali dalam pengobatan anak-anak kecil) karena karekteristik intoleransi glukosa akan muncul. Volume darah dapat dipulihkan dengan lebih efektif karena kebocoran menurun pada sekitar 24 sampai 36 jam. Volume infus di

23

atas jumlah yang diperlukan untuk perfusi yang memadai dapat menonjolkan edema yang berhubungan dengan komplikasi adalah nyata.7,8 Jumlah kristaloid isotonik yang diperlukan dalam 24 jam pertama disesuaikan berdasarkan parameter yang digunakan untuk memantau kecukupan resusitasi. Jika menggunakan solusi hipertonik, tingkat natrium serum seharusnya tidak diperbolehkan untuk melebihi 160 mEq / L. Oleh karena tampak permeabilitas jaringan tanpa luka bakar kembali cepat setelah cedera, dan karena hypoproteinemia mungkin terjadi pada edema jaringan tanpa luka bakar, restorasi awal protein bermula sekitar 8 sampai 12 jam dengan albumin 6% tampaknya tepat jika edema dalam jaringan tanpa cedera dan persyaratan cairan total harus diminimalkan. Penggunaan fresh frozen plasma harus disediakan untuk koreksi kelainan pembekuan yang

didokumentasikan. Karena tidak ada tanda awal defisit sel darah merah dengan luka bakar saja (kecuali hemolisis parah terjadi), pengganti darah biasanya tidak diperlukan. Bantuan inotropik untuk melengkapi cairan diindikasikan jika perfusi yang memadai tidak dapat dipertahankan tanpa pemberian cairan yang berlebihan.8

2.1.8. Komplikasi Antara komplikasi yang bias terjadi pada pasien dengan luka bakar adalah: 6 a. Setiap luka bakar dapat terinfeksi sehingga menyebabkan cacat lebih lanjut atau kematian. b. Lambatnya aliran darah dapat menyebabkan pembentukan bekuan darah sehingga timbul cerebrovascular accident, infark miokardium, atau emboli paru. c. Kerusakan pam akibat inhalasi asap atau pembentukan embolus. Dapat terjadi kongesti paru akibat gagal jantung kiri atua infark miokardium, serta sindrom distress pernafasan pada orang dewasa.

24

d. Gangguan elektrolit dapat menyebabkan disaritmia jantung. e. Syok luka bakar dapaat secara irreversibel merusak ginjal sehingga timbul gagal ginjal dalam 1 atau 2 minggu pertama setelah luka bakar. Dapat terjadi gagal gnjal akibat hipoksia ginjal atau rabdomiolisis (obstruksi mioglobin pada tubulus ginjal akibat nekrosis otot yang luas). f. Penurunan aliran darah ke saluran cerna dapat menyebabkan hipoksia selsel penghasil mukus sehingga terjadi ulkus peptikum. g. Dapat terjadi koagulasi intravaskular diseminta (DIC) karena destruksi jarngan yang luas. h. Pada luka bakar yang luas akan menyebabkan kecacatan, trauma psikologis dapat menyebabkan depresi, pencegahan keluarga, dan keinginan untuk bunuh diri. Gejala-gejala psikologis dapat timbul setiap saat setelah luka bakar. Gejala-gejala dapat datang dan pergi berulnag-ulang kapan saja seumur hidup. i. Beban biaya pada keluarga pasien pengidap luka bakar yang luas sangatlah besar. Apabila pasiennya orang dewasa, yang hilang tidak saja penghasilan tetapi perawatan pasien tersebut juga harus terus-menerus mahal.

25

BAB 3 STATUS PASIEN 3.1. Identitas Pribadi Nama : Nurhayati Putri

Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 13 tahun

Suku Bangsa : Indonesia, Jawa Agama Alamat Status Pekerjaan : Islam : Dusun IV Desa Silau Jawa Kab.Asahan : belum kawin : Pelajar

Tanggal Masuk : 21 Maret 2013 pada pukul 17:31

3.2.

Riwayat Perjalanan Penyakit Keluhan Utama : Luka bakar Telaah : Hal ini dialami pasien sejak 4 bulan yang lalu. Hal ini diawali ketika os bermain di dekat orangtua os yang sedang berjualan bensin. Kemudian bensin tumpah, dan tidak sengaja seseorang lewat dan menjatuhkan puntung rokok di tumpahan bensin tersebut. Seketika juga terbentuk kobaran api, dan os yang sedang bermain ikut terbakar. Pasien mengalami cedera pada lengan atas dan bawah pada kedua tangan, dan pada kedua kaki. Sesak nafas (+), mual (-). Kemudian os dibawa oleh orangtuanya ke rumah sakit di Kisaran dan di rawat, namun orangtua os keberatan dan membawa pulang kembali os untuk dirawat di rumah. Hingga sampai sekarang, keadaan os semakin memburuk, hal ini lah yang menyebabkan os dibawa ibunya ke rumah sakit HAM

Riwayat Penyakit Terdahulu Riwayat penggunaan obat

::-

26

3.2.1. Pemeriksaan Fisik Primary Survey B1 (Breathing) : Airway clear, snoring (-), gargling (-), crowing (-), RR: 29x/menit, SP: vesikuler +/+, ST: -/-, Riwayat sesak/asma/batuk/alergi (+/-/-), JMH > 6 cm, Gerak leher : bebas. B2 (Blood) : Akral: D/P/K, TD: 80/60 mmHg, HR: 108 x/menit, reguler, T/V: lemah B3 (Brain) : Sens : apatis, pupil isokor, 4mm/4mm, RC -/-, kejang (-) B4 (Bladder) B5 (Bowel) : Kateter terpasang, UOP 10 cc, warna kuning pekat : Abdomen soepel, peristaltik (+) normal, mual (-), muntah (-) B6 (Bone) : Oedem (-), fraktur (-), luka bakar (+) pada punggung, kedua tangan dan kaki. BB : 20 kg Skor Mallampatti: I,

Secondary Survey Kepala dan leher Punggung Dada atas Lengan atas : dbn : dbn : dbn : luka bakar grade 2A-B 1,5% (kanan), luka bakar grade 2A-B 3,5% (kiri) Tungkai bawah : luka bakar grade 2A-B 16% (kanan-kiri)

3.2.2. Pemeriksaan Laboratorium (07/03/13) Jenis Pemeriksaan Hb/Leu/Ht/Plt Ur/Cr Hasil 5,4 gr/dl | 8,27x103/mm3 | 18,10% | 161x103/mm3 19,8 mg/dl | 0,37 mg/dl

27

KGD ad random Na/ K/ Cl PT/APTT/TT/INR

74 mg/dl 129 mEq/L | 4,4 mEq/L | 112 mEq/L 14,0(12,7) | 24,2(32,0) | 23,5(18.5) | 1,13

Pemeriksaan Foto Toraks (21/03/13)

Kesan : dekstrokardi dengan kesan semua segmen dan corakan pembuluh darah Normal

3.3.

Diagnosis : Flame burn grade 2A-B 24,5%, ASA 2E

3.4

Pengobatan sementara : - IVFD Ringer Laktat 490cc (8 jam pertama)

28

- IVFD Ringer Laktat 490cc (16 jam kedua) - Inj. Ceftriaxone 500 mg/12 jam IV - Inj. Ranitidin 20mg/12 jam IV - Inj. Ketorolac 10mg/8 jam

3.5.

Rencana tindakan : Debridement emergency, GA-ETT

29

30

BAB 4 KESIMPULAN

Luka bakar adalah luka yang disebabkan karena pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Luka bakar karena api atau akibat tidak langsung dari api, misalnya tersiram air panas, banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga. Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, radiasi atau kimia. Selain itu, luka bakar juga diklasifikasikan berdasarkan kedalaman menjadi derajat 1, derajat 2, derajat 3 dan derajat 4 dan berdasarkan luas daerah yang terbakar. Wallace membagi bagian tubuh dengan kelipatan dari 9 yang terkenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace. Mengingat kasus luka bakar merupakan suatu cidera berat yang memerlukan penanganan dan penatalaksanaan yang sangat komplek dengan biaya yang cukup tinggi serta angka morbiditas dan mortalitas karena beberapa faktor penderita, faktor pelayanan petugas, faktor fasilitas pelayanan dan faktor cederanya. Untuk penanganan luka bakar perlu perlu diketahui fase luka bakar, penyebab luka bakar, derajat kedalaman luka bakar, luas luka bakar. Pada penanganan luka bakar seperti penanganan trauma yang lain ditangani secara teliti dan sistematik. Penatalaksanaan sejak awal harus sebaik baiknya karena pertolongan pertama kali sangat menentukan perjalanan penyakit ini.

31

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat

R,

de Jong W., editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.

Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005; hal. 73-5 2. Sukasah C.L, Luka Bakar, Departemen Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009, pg 21 24 3. Kartohatmodjo S., dalam Luka Bakar (Combustio); pg 16 18 4. Bongard. F.S, Sue. D.Y, Vintch. J.R.E. in Current Diagnosis & Treatment: Critical Care 3rd Edition. 2008. McGraw-Hill:Lange. 5. Hettiaratchy.S, Dziewulski. ABC OF BURNS. BMJ 2004; 329: 504-6. 6. Edlich.R.F, in Thermal Burns. 2010. Accessed from :

www.emedicine.medscape.com/ article/1278244. 7. David S. Perdanakusuma. 2006. University Press. 8. Hall J.B., Schmidt G.A., Wood L.D.H., in Principles of Critical Care. In : Burns: Resucitation Phase (0 to 36 hours). 3rd edition. pg 1457-1466. Penanganan Luka Bakar. Airlangga

32