Anda di halaman 1dari 8

patogenesis SLE

Pembentukan autoantibodi
Gen -C14,C2,C4, -HLA, DR,3,8,MBL,Fc2A, 3A,2B,IL-10MCP-1 Lingkungan -Sinar UV -Infeksi? -EBV(Eipstein Barr Virus)

-Ekpresi respon imun abnormal -Aktivasi innate imunity(dendrtik sel -penurunan clearence dari sel apoptotik -penurunan batas ambang aktivasi sel imun adaptif(antigen spesifik T dan B-Limfosit) -Regulasi dan inhibisi yang tidak efektif dari sel TCD4+ dan CD8+

Antigen masuk

Dendritik sel

B cell

T cell Aktivasi sistem komplemen abnormal

Produksi autoantibodi (ANA)terus menerus

Pelepasan bahanseperti: -Bahan vasoaktif; Vasodilatasi jaringan vaskular sehingga antibodi autoreaktif gampang masuk -Chemocine -Chitokine= Manifestasi klinis demam

Kerusakan organ target: -Tergantung dimana antibodi autoreaktif terakumulasi Manifestasi berlangsung lama akibat regulasi dan inhibisi sel T. Organ yang paling sering terkena adalah organ seperti jantung, ginjal dan paru-paru, -dsb

proses kerusakan organ target Aktivasi komplemen

Autoantibodi terus menerus

Pelepasan bahan vasoaktif

Vasospasme pembuluh darah Infiltrasi ke organ target Regulasitas dan inhibisi sel T CD 4+ dan CD8

Kerusakan organ target : -Tergantung dimana antibodi autoreaktif terakumulasi -Biasanya yang menjadi organ sasaran yang paling tersering adalah jantung, renal, paru dan kulit -Pada organ jantung; Yang paling tersering adalah katup jantung akibat dari akumulasi ANA, sehingga terjadi peradangan dan yang paling tersering adalah infiltrasi sel mononuklear, jaringanparut dan jaringan nekrosis sehingga terjadi penyakit jantung -Pada organ paru biasanya sering akibat reaksi peradangan,emboli paru, hipertensi pulmonal sehingga terjadi hemoptisis paru -Manifestasi renal Biasanya sering terjadi setelah 5 tahun menderita SLE,puncak insiden pada usia 20-30 thn Biasanya yang sering adalah akibat nefritis -Pada gastrointestinal Tidak spesifik, menggambarkan keterlibatan berbagai organ pada SLE atau sebagai akibat pengobatan Gangguan seperti disfagia akibat gangguan motilitas, nyeri abdomen akibat mesentric vasculitis, pankreatitis, penyakit hati, dispepsia(50% pada pasien) akibat dari konsumsi glukokortikoid

diagnosis SLE
Kriteria diagnosis SLE ACR (American College of Rheumatology) 1. Ruam malar
Eritema tetap, datar, atau meninggi, melebihi tonjolan malar, cenfrung tidak mengenai lipatan nasolabialis.

2. Ruam diskoid

Bercak eritematosa menonjol dengan skuama keratosis dan sumbatan folikel; parut atrofi dapat muncul pada lesi yang lebih lama.

3. Fotosensitifitas

Ruam yang timbul akibat reaksi yang tidak biasa terhadap cahaya matahari, berdasarkan riwayat pasien atau pengamatan dokter Ruam yang timbul akibat reaksi yang tidak biasa terhadap cahaya matahari, berdasarkan riwayat pasien atau pengamatan dokter. Ulserasi mulut atau nasofaring, biasanya tidak nyeri, diamati oleh dokter. Artritis nonerosif yang mengenai 2 sendi perifer. Pleuritis adanya riwayat nyeri atau gesekan pleura yang menyakinkan yang didengar oleh dokter atau bukti adanya efusi pleura atau Perikarditis diperhatikan melalui EKG atau adanya gesekan atau adanya efusi perikard.

4. Fotosensitifitas

5. Ulkus mulut 6. Artritis 7. Serositis

8. Gangguan ginjal Proteinuria persisten (>0,5 g/dl atau >3+ bila tidak dengan
protein kuantitatif atau Silinder sel dapat berupa SDM, Hb, granula, tubulus, atau campuran. Kejang tanpa adanya gangguan akibat obat atau gangguan metabolik yang diketahui (misalnya urema, ketoasidosis, atau ketidakseimbangan elktrolit) atau Psikosis tanpa adanya gangguan akibat obat atau gangguan metabolik yang diketahui (misalnya urema, ketoasidosis, atau ketidakseimbangan elktrolit) Anemia hemolitik disertai retikulosis atau

9. Gangguan neurologis

10. Gangguan

hamatologi

Leukopenia (<4 x 109/L = 4000/mm3) total pada 2 atau lebih pemeriksaan. Limfopenia (<1,5 x 109/L = 1500/mm3) pada 2 atau lebih pemeriksaan Trombositopenia (<100 x 109/L = 100.000/mm3) tanpa adany aobat yang mengganggu. Ab anti-DNA terhadap DNA asal dalam titer abnormal atau Anti-Sm (Ab terhapat Ag nukleus Sm) atau Ab anti-fosfolipid positif berdasarkan pada: o Kadar Ab antikardiolipin IgG atau IgM serum yang abnormal o Uji positif antikoagulan lupus menggunakan uji standar o Uji serologis sifilif positif keliru yang diketahui positif paling tidak 6 bulan dan dikonfirmasi dengan

11. Gangguan imunologi

imunomobilisasi Treponema pallidum atau uji absorpsi Ab treponema fluoresen yang negatif. Titer

12. Antibodi antinuklar

ANA

abnormal

melalui

imunofluoresensi

atau

pemeriksaan sebanding pada setiap waktu dan tidak adanya obat yeng diketahui berkaitan dengan sindrom lupus yang diinduksi obat.

Algoritma diagnosis dan terapi awal SLE


Diagnosis: gejala mengarah ke SLE (< 4 gejala klinis ACRtanpa penjelasan)

Permitaan dilakukan PP: ANA, hitung darah lengkap, urinalisis

Semua tes norma Gejala yang ada mereda atau didapatkan penjelasan yang kuat (melawan SLE) untuk manifestasi klinis yang ada

Semua tes normal Gejala persisten atau tidak didapatkan penjelasan yang kuat (melawan SLE) untuk manifestasi klinis yang ada

ANA positif (titer 1:40)

4 kriteria yang ACR

< 4 kriteria ACR

Mengulang tes ANA, ditambahkan tes anti-dsDNA, anti-Ro Bukan SLE

Definite SLE

Semua negatif

Beberapa positif

Possible SLE atau incomplete SLE

Terapi Bukan SLE

Bagan berikutnya

Terapi

tidak mengancam organ atau nyawa

mengancam organ atau nyawa

Kualitas hidup: Acceptable

Kualitas hidup: Not-acceptable

Glukokortikoid dosis tinggi, biasanya ditambahkan second agent

Terapi konservatif

Terapi konservatif plus glukokortikoid dosis rendah

Mycophenolate mefotil

Cyclophosphamid e

Tidak berespon

Berespon

Jika berespon, hentikan cyclosphosphamide; terapi pemeliharaan dengan mycophenolate atau azathioprine

Terapi ekperimental

Taper dose of all agents

Hipersensitivitas tipe III


Merupakan kerusakan yang terjadi akibat aktivasi komplemen atau aktivasi sel efektor yang menyertai proses pengendapan komples imun yang terbentuk saat antibodi bertemu antigen pada berbagai organ dan jaringan

Mekanisme reaksi :
Pemaparan antigen dalam jangka panjang Merangsang pembentukan antibodi (umumnya IgG)

Membentuk kompleks Antigen-antibodi

Antibodi bereaksi dengan Antigen bersangkutan

Mengendap pada jaringan tubuh

Menimbulkan reaksi inflamasi

Mengaktivasi sistem komplemen Penglepasan anafilatoksin (C3a dan C5a)

Merangsang penglepasan berbagai mediator (ex: vasoactive amine) dan faktor kemotaktik oleh mastosit dan basofil

Vasodilatasi dan akumulasi PMN yang menghancurkan kompleks

Merangsang PMN sehingga sel-sel tersebut melepaskan isi granula berupan enzim-enzim proteolitik (proteinase, kolagenase dan enzim pembentuk kinin)

Merusak jaringan

Kompleks imun dapat menyulut berbagai jenis proses inflamasi, karena : 1. Kompleks imun berinterkasi dengan sistem komplemen dan menghasilkan C3a dan C5a (anafilatoksin). Fragmen-fragmen komplemen ini merangsang penglepasan vasoactive amine (termasuk histamin) dan faktor khemotaktik yang berasal dari mastosit dan basofil. C5a juga merupakan faktor khemotaktik bagi basofil, eosinofil, dan neutrofil 2. Makrofag distimulasi untuk melepaskan sitokin, khususnya TNF dan IL-1 yang mempunyai peran penting pada inflamasi 3. kompleks imun segera merinteraksi dengan basofil dan trombosit melaluirseptor Fc dan menghasilkan vasoactive amine. Substansi ini menyebabkan retraksi sel endotel , dengan demikian meningkatkan permeabilitas vaskuler, memberi kesempatan untuk pengendapan kompleks imun pada dinding pembuluh darah dan endapan kompleks imun itu kemudian membentuk C3a dan C5a selanjutnya. Sel-sel PMN ini ditarik ke tempat bersangkutan dan seharusnya dapat menelan kompleks imun tetaspi hal itu sulit dilakukan karena kompleks imun melekat pada dinding pembuluh darah. Untuk mengatasi hal itu, PMN melepaskan enzim lisosom dengan cara eksositosis untuk menghancurkan deposit kompleks imun, tetapi karena fagosit menempel pada kompleks imun yang melekat erat pada jaringan pembuluh darah, maka enzim lisosom sekaligus dapat merusak jaringan.