Anda di halaman 1dari 15

Tugas Makalah Transfusi

Disusun oleh : Denny Lesmana Putra 1301-1008-0123

Preceptor : Budiana Rismawan, dr., Sp.An, M.Kes

BAGIAN ANESTESI DAN TERAPI INTENSIF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. HASAN SADIKIN BANDUNG 2012

BAB I ABSTRAK

Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah umumnya berhubungan dengan kehilangan darah dalam jumlah besar yang disebabkan oleh trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Transfusi darah secara universal dibutuhkan untuk menangani pasien anemia berat, pasien dengan kelaian darah bawaan, pasien yang mengalami kecederaan parah, pasien yang hendak menjalankan tindakan bedah operatif dan pasien yang mengalami penyakit liver ataupun penyakit lainnya yang mengakibatkan tubuh pasien tidak dapat memproduksi darah atau komponen darah sebagaimana mestinya. Pada negaraberkembang, transfusi darah juga diperlukan untuk menangani

kegawatdaruratanmelahirkan dan anak-anak malnutrisi yang berujung pada anemia berat.

BAB II PENDAHULUAN

Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah umumnya berhubungan dengan kehilangan darah dalam jumlah besar yang disebabkan oleh trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Transfusi darah secara universal dibutuhkan untuk menangani pasien anemia berat, pasien dengan kelaian darah bawaan, pasien yang mengalami kecederaan parah, pasien yang hendak menjalankan tindakan bedah operatif dan pasien yang mengalami penyakit liver ataupun penyakit lainnya yang mengakibatkan tubuh pasien tidak dapat memproduksi darah atau komponen darah sebagaimana mestinya. Pada negara berkembang, transfusi darah juga diperlukan untuk menangani

kegawatdaruratan melahirkan dan anak-anak malnutrisi yang berujung pada anemia berat (WHO, 2007). Tanpa darah yang cukup, seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan bahkan kematian. Oleh karena itu, tranfusi darah yang diberikan kepada pasien yang membutuhkannya sangat diperlukan untuk menyelamatkan jiwa. Angka kematian akibat dari tidak tersedianya cadangan tranfusi darah pada negara berkembang relatif tinggi. Hal tersebut dikarenakan ketidakseimbangan perbandingan ketersediaan darah dengan kebutuhan rasional. Di negara berkembang seperti

Indonesia, persentase donasi darah lebih minim dibandingkan dengan negara maju padahal tingkat kebutuhan darah setiap negara secara relatif adalah sama. Indonesia memiliki tingkat penyumbang enam hingga sepuluh orang per 1.000 penduduk. Hal ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan sejumlah negara maju di Asia, misalnya di Singapura tercatat sebanyak 24 orang yang melakukan donor darah per 1.000 penduduk, berikut juga di Jepang tercatat sebanyak 68 orang yang melakukan donor darah per 1.000 penduduk. Indonesia membutuhkan sedikitnya satu juta pendonor darah guna memenuhi kebutuhan 4,5 juta kantong darah per tahunnya. Sedangkan unit transfusi darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) menyatakan bahwa pada tahun 2008 darah yang terkumpul sejumlah 1.283.582 kantong. Hal tersebut menggambarkan bahwa kebutuhan akan darah di Indonesia yang tinggi tetapi darah yang terkumpul dari donor darah masih rendah dikarenakan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia

untuk menjadi pendonor darah sukarela masih rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa kendala misalnya karena masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang masalah transfusi darah, persepsi akan bahaya bila seseorang memberikan darah secara rutin. Selain itu, kegiatan donor darah juga terhambat oleh keterbatasan jumlah UTD PMI di berbagai daerah, PMI hanya mempunyai 188 unit tranfusi darah (UTD). Mengingat jumlah kota/kabupaten di Indonesia mencapai sekitar 440.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Menurut kamus Dorland, transfusi adalah tindakan pemasukan darah lengkap atai komponen-komponen darah secara langsung ke dalam aliran darah atau sirkulasi WHO mengemukakan beberapa prinsip terkait transfusi, diantara lain : Transfusi hanyalah salah satu tindakan manjemen dalam menangani kondisi pasien Kehilangan darah akut harus ditanggulangi terlebih dahulu oleh penggantian cairan intravena Klinisi harus cermat menilai resiko transmisi penyakit perantaraan transfusi Transfusi dilakukan jika keuntungannya lebih besar dari kerugian Klinisi harus mencatat alasan transfusi dan memonitor pasien setelah infuse diberikan Indikasi umum pelaksanaan transfusi apabila terjadi pendarahan sampai Hb <8 gr% atau Ht < 30% atau bedah mayor kehilangan darah >20% volume darah

Komponen: 1. Whole blood Darah lengkap atau whole blood adalah darah yang tidak terpisah yang dikoleksi dalam suatu kontainer antikoagulan. Adapun beberapa larutan yang digunakan untuk mengawetkan darah, seperti pada tabel dibawah berikut :

Tindakan pengawetan tersebut akan mempengaruhi beberapa aspek biokimia pada darah, seperti pada tabeL dibawah berikut :

Adapun beberapa penjelasan dari whole blood, seperti yang terlihat pada table dibawah berikut :

2. Komponen darah Berikut komponen darah yang bisa digunakan transfusi : a. Konsentrat sel darah merah Konsentrat sel darah merah disebut juga packed red cell atau plasma-reduced blood. Komponen ini terbentuk dari hasil sentrifugasi atau disimpan pada suhu 2C-6C dibawah pengaruh gravitasi selama semalam. o Indikasi Pengganti sel darah merah pada pasien anemia Digunakan bersama pada pengganti cairan pada kehilangan darah akut b. Konsentrat platelet Konsentrat platelet dihasilkan dari sentrifugasi plasma dimana diharuskan mengandung sekurang-kurangnya 240 x 109 platelet/L dan disimpan pada suhu 20 - 24C. o Indikasi Pendarahan : trombositopenia, Defisit fungsi platelet

o Kontraindikasi TTP dan DIC

o Dosis 1 unit konsentrat/10 kg berat badan

o Komplikasi Non hemolitik febris dan urtikaria alergik

c. Fresh frozen plasma (FFP) FFP dipisahkan dari whole blood dengan sentrifugasi dan disimpan dibawah suhu < -25C selama 68 jam. o Indikasi Pengganti kekurangan factor pembekuan yang berganda Dissemanited intravascular coagulation (DIC) Thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP)

o Dosis Diawali 15 ml/kg

d. Cryoprecipitated Kriopresipitasi dibentuk dari fresh frozen plasma yang dibekukan yang mengandung 50% faktor VIII, 20-40% fibrinogen, von Willebrand factor (vWF) dan factor XIII. Cryoprecipitated harus disimpan dibawah suhu -25C o Indikasi Untuk menanggulangi kekurangan factor VII, XIII dan vWF

Untuk menanggulangi kekurangan fibrinogen pada kasus koagulopati, seperti Disseminated intravascular coagulation (DIC)

Adapun komponen darah lainnya yang bisa digunakan untuk transfusi dan merupakan turunan dari plasma, diantara lain : Human albumin solution Konsentrat factor VIII Konsentrat factor IX Konsentrat protrombin Immunoglobulin

Uji pre-transfusi Tentukan tipe golongan darah (sistem ABO dan Rh) Lakukan uji kompatibilitas (crossmatch) berdasarkan sistem ABO dan Rh

Efek samping Transfusi darah dapat menimbulkan beberapa reaksi, baik itu reaksi cepat (acute) atau reaksi lambat (delayed). Adapun penjelasannya sebagai berikut :

a. Acute Reaksi akut terjadi dalam waktu sekitar 24 jam setelah transfusi dilakukan. Berdasarkan tingkat keparahannya, reaksi akut dapat dibagi menjadi 3 kategori seperti yang dilihat di tabel berikut :

Secara umum, penanggulangan reaksi akut tersebut sebagai berikut : Hentikan transfusi Jika ada hipotensi, berikan larutan normal saline dan inotrop Berikan antihistamin dan prasetamol Beri kortikosteroid IV jika terdapat tanda anafilaktoid

Beri diuretic (furosemide) Jika ada tanda bakteremia, beri antibiotic spectrum luas

b. Delayed Reaksi lambat kemungkinan besar disebabkan penularan agen infeksi, seperti dibawah berikut : HIV Hepatitis B dan C Sifilis Penyakit Chagas Malaria Cytomegalo vrus Toxoplasmosis Infectious mononucleosis

Perhitungan Penggantian Darah Dalam prosedur operasi perlu diestimasi kehilangan darah yang diijinkan untuk diperbolehkan dilakukan transfuse dan memperkirakan volume darah yang akan diberikan. Adapun rumus Allowed blood loss (ABL) yaitu:

BAB IV KESIMPULAN

1.

Transfusi hanyalah salah satu tindakan manjemen dalam menangani kondisi pasien

2.

Kehilangan darah akut harus ditanggulangi terlebih dahulu oleh penggantian cairan intravena

3. 4. 5.

Klinisi harus cermat menilai resiko transmisi penyakit perantaraan transfusi Transfusi dilakukan jika keuntungannya lebih besar dari kerugian Klinisi harus mencatat alasan transfuse dan memonitor pasien setelah infuse diberikan

BAB V DAFTAR PUSTAKA

1. Leksana E. Terapi Cairan dan Elektrolit. Bagian Anestesi dan Terapi Intensif FK UNDIP Semarang. 2. Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. 2006. Clinical Anesthesiology. Fluid Management & Transfusion. McGraw-Hill. 3. Emmanuel JC. The Clinical Use of Blood. World Health Organization (WHO) 4. McPherson RA, Pincus MR. 2007. Henrys Clinical Diagnosis and Management by Laboratory Methods. Saunders: Elseviers

Anda mungkin juga menyukai