Anda di halaman 1dari 17

F. VIAL 1. Formula Asli Injeksi Vial 2.

Rancangan Formula Nama Formula : BISIPLEX injeksi Jumlah Produk : 7 vial @ 10 ml Tgl Formulasi : 3 Juni 2013 Tgl Produksi No. Reg No. Batch Komposisi : 3 Juni 2014 : DKL 1399001046 A1 : N 3060010 : Tiap 10 ml mengandung: Tiamin HCL Riboflavin Nikotinamid As. Pantotenat Piridoksin HCl Cianokobalamin As. Askorbat Benzalkonium HCl Na2EDTA NaCl API 3. Master Formula DIPRODUKSI OLEH PT. Kelompok II KODE BAHAN 01-T TGL. FORMULASI 3 Juni 2013 TGL. PRODUKSI 3 Juni 2014 DIBUAT OLEH Kelompok II DISETUJUI OLEH Siti Nurjahidah ad 25 mg 40 mg 500 mg 100 mg 50 mg 300 mg 50 mg 0,01% 0,1% 10,5 ml

NAMA BAHAN Tamin HCl

KEGUNAAN Zat Aktif

PERBOTOL PERBATCH 25 mg 175 mg

02-R 03-N 04-P 05-Py 06- Cn 07-C 08-BeC 09-EDTA 10-NC 11-API

Ribovlafin Nikotinad As. Pantotenat Piridoksin HCl Cianokobalamin As. Askorbat Benzalkonium Cl Na2EDTA NaCl API

Zat Aktif Zat Aktif Zat Aktif Zat Aktif Zat Aktif Zat Aktif Pengawet Pengkhelat Pengisotonis Pelarut

40 mg 500 mg 100 mg 50 mg 300 mg 50 mg 2 mg 10 mg Ad 10,5 ml

280 mg 3500 mg 700 mg 350 mg 2100 mg 350 mg 14 mg 70 mg Ad 73,5 ml

4. Alasan Pembuatan Produk Vitamin adalah senyawa-senyawa organik tertentu yang diperlukan dalam jumlah kecil dalam diet seseorang tetapi sangat esensial untuk reaksi metabolisme dalam sel dan penting untuk melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara kesehatan. Defisiensi asam nikotinad dapat menyebabkan pelagra (kulit kasar). Penyakit ini mengenai usus, kulit, dan sistem saraf. Defisiensi Tiamin dapat menyebabkan penyakit beri-beri, rusaknya alat pencernaan makanan yang disertai muntah-muntah dan diare. Defisiensi riboflavin dapat menyebabkan keilosis (terjadi kerak pada sudut mulut yang berwarna merah). Defisiensi piridoxine HCl bisa menyebabkan hambatan pertumbuhan, badan lemah, gangguan mental, ermenia, dermatitis. Defisiensi kobalamin menyebabkan anemia pernisiosa, pucat dan menjadi kurus, anoreksia (kehilangan nafsu makan), gangguan neurologis, depresi mental. Defisiensi asam pantotenat bisa menyebabkan kehilangan selera makan, depresi mental, insomnia, mudah terjadi infeksi pernapasan. Defisiensi asam askorbat (vitamin C) adalah perdarahan gusi, mudah terjadi luka dan infeksi tubuh dan kalau terjadi sukar disembuhkan, hambatan pertumbuhan pada bayi & anak-anak, kulit mudah mengelupas.

Vitamin yang larut lemak atau minyak, jika berlebihan tidak dikeluarkan oleh tubuh, melainkan akan disimpan. Sebaliknya, vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin B-complex dan vitamin C, tidak disimpan, melainkan akan dikeluarkan oleh sistem pembuangan tubuh. Akibatnya, selalu dibutuhkan asupan vitamin tersebut setiap hari. Injeksi adalah larutan obat atau pembwa yang cocok dengan atau tanpa bahan tambahan dikemas untuk penggunaan parenteral yang dikemas sebagai injeksi yang dapat dikemas sebagai satuan dosis tunggal atau ganda. Vial sebagai satu wadah yang digunakan pada sediaan steril dosis ganda dengan kapasitas volume 0,5 ml-100 ml dapat berupa takaran tunggal ataupun ganda. Untuk mewadahi serbuk suspensi dengan volume 5 ml.

5. Alasan Penggunaan Zat Aktif a. Vitamin B-complex Manifestasi klinis dari defisiensi beberapa vitamin B-kompleks seperti beri-beri, neuropati perifer, lesi pelagra,. (Vitamin & Mineral Requirements In Human Nutrition) Kelompok vitamin B termasuk B1 (Tamin dan turunannya), B2 (riboflavin), B6 (piridoksin & turunannya), dan B12 (sianokibalamin). Selain itu, asam nikotinat dan turunannya dan asam folat, serta asam pantotenat. (Martindale 36th. 2009; 1976) 1. Thiamin Thiamin berguna untuk pengobatan berbagai uritis yang disebabkan oleh defisiensi Thiamin, misalnya pada (1) neuritis alkoholik yang terjadi karena sumber kalori hanya alkohol saja; (2) wanita hamil yang kurang gizi; atau (3) pasien genesis gravidarum. Pada trigerminal neuralgia, neuritis yang menyertai anemia, penyakit infeksi pada pemakaian obat tertentu. Tiamin juga digunakan untuk pengobatan penyakit jantung dan gangguan saluran cerna yang dasarnya defisiensi Thiamin.

Sediaan dan indikasi: Thiamin HCl tersedia dalam tablet 5-500 mg, larutan steril 100-200 mg untuk penggunaan parenteral. Thiamin diindikasikan pada pencegahan dan pengobatan defisiensi thiamin dengan dosis 2-5 mg/hari untuk pencegahan defisiensi dan 5-10 mg tiga kali sehari untuk pengobatan defisiensi. 2. Riboflavin Penggunaannya yang utama adalah untuk pencegahan dan terapi defisiensi vitamin B2 yang sering menyertai pelagra atau defisiensi vitamin B kompleks lainnya, sehingga riboflavin sering diberikan bersama vitamin lain. Dosis untuk pengobatan adalah 5-10 mg/hari. 3. Asam Nikotinat Defisiensi masin menyebabkan pelagra. Gejala gangguan SSP berupa sakit kepala, insomnia, bingung, halusinasi, dan sebagainya. Sediaan untuk injeksi mengandung 50 atau 100 mg niasin/ml. Untuk pengobatan pelagra pada keadaan akut dianjurkan dosis oral 50 mg, atau 25 mg niasin 2-3 kali sehari secara intravena. 4. Piridoksin Kebutuhan manusia akan piridoksin berhubungan dengan konsumsi protein yaitu kira-kira 2 mg/100 mg protein. Defisiensi pada manusia dapat menimbulkan: (1) kelainan kulit; (2) kelainan SSP berupa rangsangan kejang; dan (3) gangguan sistem eritropoetik. Piridoksin tersedia sebagai larutan steril 100 mg/ml piridoksin HCl untuk injeksi. Vitamin ini juga diberikan bersama vitamin B lainnya atau sebagai multivitamin untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin B-kompleks. 5. Asam Pantotenat Asam pantotenat dapat diberikan dalam bentuk larutan steril untuk injeksi dengan kadar 50 mg/ml. Dalam tubuh, asam pantotenat mmebentuk koenzim A yang sangat penting dalam metabolisme,

karena bertindak sebagai katalisator pada reaksi-reaksi transferasi gugus asetil. b. Vitamin C Vitamin C bekerja sebagai satu koenzim pada keadaan tertentu merupakan reduktor dan antioksidan. Pada jaringan, fungsi utama vitamin C adalah dalam sintesis kolagen, proteoglikan zat organik matriks antar sel lainnya misalnya pas tulang, gigi, endotel kapiler. Vitamin C diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan skorbut. Selain itu vitamin C digunakan untuk berbagai penyakit yang tidak ada hubungannya dengan defisiensi vitamin C. Kebanyakan sediaan multivitamin mengandung vitamin C. Untuk sediaan suntik didapatkan larutan yang mengandung vitamin C 100-500 mg (Tan Hoan Tjay. 1995; 777).

6. Alasan Penambahan Bahan a. Dinatrium EDTA Dinatrium EDTA digunakan sebagai pengkhelat dalam

formulasi dengan konsentrasi 0,05-0,1% (Excipient. 2008; 243). Na2EDTA ditambahkan untuk meningkatkan aktivitas

kuarterner juga sebagai pengkhelat (DOM Martin; 896). Dinatrium EDTA adalah bahan pengkhelat untuk logam (Ansel; 544). Zat pembentuk helat ditambahkan untuk mengikat bentuk tidak terionisasi sejumlah kecil logam berat yang tereksitasi dari tutup karet bisa diikat dengan adanya zat pembentuk khelat mengurangi

kemungkinan reaksi dengan bahan dalam formula tersebut (Lachman. 1986; 1316). b. API Air steril untuk injeksi merupakan air untuk injeksi yang disterilkan dan dikemas dalam cara yang sesuai, mengandung bahan antimikroba. (Gennaro, AR. 1989; 1395)

Sejauh ini pembawa yang paling sering digunakan untuk produk steril adalah air, karena airmerupakan pembawa untuk semua cerna tubuh. Keunggulan kualitas yang disyaratkan untuk penggunaan tersebut diuraikan dalam monograf tentang air untuk injeksi (Water for Injection). (Lachman. 1986; 1294) Pelarut yang banyak dan secara luas digunakan untuk pembuatan sediaan steril adalah API atau larutan untuk injeksi. Air harus jernih, tidak berbau, tidak berwarna, dan mempunyai pH pada rentang 5,0-7,0. (SDF; 83)

7. Uraian Bahan a. Vitamin B1 (Martindal Ed 36; 1976) Nama resmi Nama lain RM/BM RB Pemerian Kelarutan Stabilitas pH Penyimpanan : THIAMINE HYDROCHLORIDA : Tiamin HCl : C17H17ClN4O5.HCl/337,3 : : Putih atau hampir putih, bubuk kristal atau kristal tidak berwarna

: Mudah larut dalam air, larut dalam alkohol, dapat larut dalam glisero

: Tiamin HCl steril pada larutan pH 4 akan kehilangan aktivitasnya, te : larutan dalam air memiliki pH 2,7-3,3 : simpan dalam wadah nonmetal. Terlindung dari cahaya

b. Vitamin B2 (Martindal Ed 36; 1977) Nama resmi Nama lain RM/BM : RIBOFLAVIN : Riboflavin : C17H20N4O6/376,4

RB Pemerian

: : Bubuk kristal kuning atau kuning-Orange. Polimorfis

Kelarutan

: sedikit larut dalam air, praktis tidak larut dalam alkohol

Stabilitas

: wadah kedap udara. Terlindung dari cahaya

c. Vitamin B3 (Martindal Ed 36; 1957) Nama resmi Nama lain RM/BM : NICOTINAMIDE : asam nikotinad, niacinamide : C6H6N2O/ 122,1

RB Pemerian Kelarutan dehidrasi pH Penyimpanan

: : putih atau hampir putih, bubuk kristal : sangat mudah larut dalam air dan alkohol

: dalam 5% larutan air, pH 6,0-7,5 : wadah kedap udara

Perhatian

: Harus diberikan secara hati-hati pada pasien dengan riwayat ulkus peptikum, dan bagi penderita diabetes, asam urat, atau gangguan hati

Incomp

: Statin, aspirin, resin

d. Vitamin B5 (Martindal Ed 36; 1959) Nama resmi Nama lain RM/BM RB : PANTHOTHENIC ACID : asam pantotenat : C9H17NO5/ 219,2 :

e. Vitamin B6 (Martindal Ed 36; 1978) Nama resmi Nama lain RM/BM RB : PYRIDOXINE HYDROCHLORIDE : Piridoksin klorida : C8H11NO3 . HCl/ 205,6 :

Pemerian Kelarutan pH Penyimpanan

: putih atau hampir putih, bubuk kristal : mudah larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol : dalam 5% larutan air pH 2,4-3,0 : wadah terlindung dari cahaya

f. Vitamin B12 ( Martindale Ed 36; 1980)

Nama resmi Nama lain RM/BM

: CYANOCOBALAMIN : Cianokibalamin : C63H88CoN14O14P/ 1355,4 :

RB

Pemerian

: Cristal merah tua atau amorf atau bubuk kristal merah. Dalam bentuk akhirat sangat higroskopis, ketika terkena udara mungkin menyerap sekitar 12 % air

Kelarutan

: Larut dalam 80 bagian air, larut dalam alkohol, larut dalam aseton, dalam kloroform, dan dalam eter

Penyimpanan

: Wadah kedap udara. Terlindung dari cahaya

g. Vitamin C (Martindal Ed 36; 1983) Nama resmi Nama lain RM/BM RB : ASCORBIC ACID : asam askorbat : C6H8O6/ 176,1 :

Pemerian

: bubuk kristal putih atau hampir atau kristal tidak berwarna dan akan berwarna jika terpapar udara dan kelembaban

Kelarutan pH Penyimpanan

: mudah larut dalam air, larut dalam alkohol : dalam 5% air pH 2,1-2,6 : wadah non metal. Terlindung dari cahaya

h. Benzalkonium Clorida (Dirjen POM.1995; 130) (Excipient 6th; 56) Nama resmi Nama lain RM/BM : BENZALKONII CHLORIDUM : alkilbenzil dimetil amonium klorida : [C6H5CH2N(CH3)2R]Cl / 2360

RB

Pemerian

: gel kental atau potongan seperti gelatin, putih atau putih kekuningan. Biasanya berbau aromatik lemah. Larutan dalam air berasa pahit, jika dikocok sangat berbusa dan biasanya sedikit alkali

Kelarutan

: sangat mudah larut dalam air dan etanol, bentuk akhirat mudah larut dalam benzena dan agak sukar larut dalam eter

pH Penyimpanan

: 5-8 : wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, logam. Simpan ditempat kering dan sejuk

Range Kegunaan Incomp

: 0,01-0,02 % : Pengawet : aluminium, alkali, sabun, surfaktan anionik, sitrat, kapas

Sterilisasi

: autoklaf

i. Na2EDTA (Excipient 6th; 242) Nama resmi Nama lain RM/BM : DISODIUM EDETATE : Sodium EDTA : C10H18N2Na (dihidrat)/ 372,2 (dihidrat)

RB

Pemerian

: kristal putih, tidak berbau bedak atau sedikit berbau asam

Kelarutan

: praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, sedikit larut dalam etanol (95%)

Stabilitas

: kehilangan air dari proses kristalisasi jika dipanaskan pada suhu 1200 C

Incomp

: bereaksi dengan asam lemak seperti CO2 dari karbonat dan bereaksi dengan ion logam dan hidrogen, agen pengoksida kuat, ion logam dan atau ion campuran

Penyimpanan

: wadah tertutup rapat, tempat sejuk dan kering

Kegunaan Sterilisasi Range

: pengkhelat : autoklaf : 0,05-0,1%

j. API (Dirjen POM.1995; 112) Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian Stabilitas Penyimpanan : AQUA STREILE PRO INJECTION : Aqua steril : H2O / 18,02 : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau : memenuhi uji sterilitas pada Aqua destilla : wadah tertutup rapat. Jika disimpan dalam wadah tertutup rapat harus digunakan maksimal 3 hari setelah pembuatan Kegunaan Sterilisasi : pelarut : Autoklaf

8. Perhitungan a. Perhitungan Tonisitas * =* ( ( )+ = -16, 15 (hipertonis) b. Perhitungan pervial 1. Tiamin HCl 2. Riboflavin 3. Nikotinamid 4. Panthotenat 5. Piridoksin HCl 6. Cianokobalamin 7. Vitamin C = 25 mg = 40 mg = 500 mg = 100 mg = 50 mg = 300 mg = 50 mg )+

8. Benzalkonium Klorida 9. Na2EDTA 10. API c. Perhitungan Perbatch 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tiamin HCl Riboflavin Nikotinamid Panthotenat Piridoksin HCl Cianokobalamin Vitamin C

= = 10 mg = ad 10,5 ml

= 25 mg x 7 = 175 mg = 40 mg x 7 = 280 mg = 500 mg x 7 = 3500 mg = 100 mg x 7 = 700 mg = 50 mg x 7 = 350 mg = 300 mg x 7 = 2100 mg = 50 mg x 7 = 350 mg

Benzalkonium Klorida= 2 mg x 7 = 14 mg Na2EDTA = 10 mg x 7 = 70 mg = ad 73,5 ml

10. API

9. CARA KERJA a. Disiapkan alat dan bahan b. Wadah vial dan alat gelas dibebas alkalikan dengan merendam wadah dengan larutan HCl panas 0,1 N selama 30 menit lalu dibilas dengan aquades. c. Alat-alat karet dibebas sulfurkan dengan cara dipanaskan sleama 15 menit dalam 2 % Natrium karbonat yang mengandung 0,1% deterjen (na. Lauryl sulfat). Lalu dibilas dengan aquades. d. Alat-alat yang digunakan dibebas pirogenkan sesuai metode masingmasing e. Masing-masing vitamin B dan vitamin C dilarutkan dengan API secukupnya. f. Ditambahkan benzalkonium klorida dan Na2EDTA g. Larutan kemudian dibebas pirogenkan dengan cara menambahakan arang aktif 0,1% (telah diaktifkan pada pemanasan suhu 500C - 900C). Kemudian ditutup dengan gelas arloji yang disisipkan batang pengaduk.

h. Larutan kemudian disaring dengan kertas sari gang telah dibasahi dengan API i. Dicukupkan dengan API j. Dimasukkan dalam vial k. Dibungkus bagian atas dengan aluminium Oil dan diikat l. Disterilkan dengan autoklaf dengan suhu 1210C selama 15 menit m. Diberi etiket dan brosur

LAMPIRAN

Tiap 10 ml mengandung: Tiamin HCl 25 mg, Riboflafin 40 mg, Niasinamid 500 mg, Asam pantotenat 100 mg, Piridoksin HCl 50 mg, Cianokobalamin 300 mg, Asam askorbat 50 mg. Indikasi: Defisiensi vitamin B kompleks Dosis: 1-2 ml sehari disuntikkan intramuskular Penyimpanan: Simpan di tempat sejuk di bawah 25C. Lindungi dari cahaya. Jangan dibekukan.
HARUS DENGAN RESEP

No. Reg : DKL 1399001046 A1 No. Batch : N3060010

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI: Jakarta. Ganiswara, S.B. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Bagian Farmakologi FK-UI: Jakarta. Gennaro, A R. 1998. Rhemingtons Pharmaceutical Science 18th Edition. Marck Publishing Co:USA Hardjosaputra Purwaniro, dkk. 2002. Data Obat di Indonesia. PT.Mudiapura Jayaterbit: Jakarta Howard, C Ansel. 2008. Pengatar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi V. UI-Press: Yogyakarta Jenkins, G.L. 1969. Scovilles: The Art of Compounding. Burgers Publishing Co: USA Kibbe, A.H. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipient. The Pharmaceutical Press: London Lachman, et all. 1986. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy Third Edition. Lea & Feblinger: Philadelphia Raymond, Row C. 2008. Handbook of Phaemaceutical excipient Sixth Edition. Pharmaceutical Press: London Sweetman, Seon C. 2009. Martindale Thirsty-Sixth. Lambeth Hiro Street: London.