Anda di halaman 1dari 10

AUDIT LINGKUNGAN A.

Pengertian Audit Lingkungan Audit lingkungan menurut Bratasida (1996) didefinisikan sebagai alat pemeriksaan komprehensif dalam sistem manajemen lingkungan, yang selanjutnya digunakan untuk memverifikasi upaya manajemen lingkungan secara objektif dan dapat membantu mencari langkah-langkah perbaikan guna meningkatkan performasi lingkungan, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Menurut United States Environmental Protection Agency (US EPA), Audit Lingkungan adalah suatu pemeriksaan yang sistematis, terdokumentasi secara periodik dan objektif berdasarkan aturan yang ada terhadap fasilitas operasi dan praktek yang

berkaitan dengan pentaatan kebutuhan lingkungan (Tardan dkk, 1997). Sedangkan menurut Amin Widjaja Tunggal (2000), audit lingkungan adalah proses menentukan apakah semua tingkat atau tingkat yang dipilih dari suatu organisasi menaati persyaratan peraturan dan kebijakan serta standar internal, terbukti merupakan suatu komponen yang berkekuatan dari program manajememn lingkungan. Adapun Wiku Adisasmito (2008) memberikan definisi audit lingkungan sebagai suatu instrumen untuk menguji penaatan suatu kegiatan rumah sakit terhadap peraturan perundang undangan dan peraturan lingkungan, standar, dan baku mutu lingkungan. Audit lingkungan juga merupakan suatu instrumen untuk mendapatkan informasi sejauh mana potensi permasalahan ketidaktaatan (non-compliance) yang ada pada suatu rumah sakit. Audit lingkungan adalah proses yang terdokumentasi, sistematik, dan mandiri untuk memperoleh bukti audit dan mengevaluasinya secara objektif untuk menentukan sampai sejauh mana kriteria audit dipenuhi (SNI 19-19011-2005). UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 49 menyatakan bahwa bagi suatu usaha dan atau kegiatan yang berisiko tinggi bagi lingkungan hidup dan bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang menunjukkan ketidaktaatan terhadap peraturan perundang-undangan diwajibkan melakukan audit lingkungan. Adapun yang termasuk dalam katagori kegiatan berisiko tinggi adalah usaha dan/atau kegiatan yang jika terjadi kecelakaan dan/atau keadaan darurat menimbulkan

dampak yang besar dan luas terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup seperti petrokimia, kilang minyak dan gas bumi, serta pembangkit listrik tenaga nuklir. Dari definisi tersebut, dapat diambil poin penting tentang audit lingkungan sebagai berikut : 1. Audit lingkungan merupakan bagian dari sistem manajemen, sekaligus digunakan sebagai alat untuk mengatur dari setiap unit kerja yang berhubungan dalam menilai kinerja lingkungan. 2. Audit lingkungan harus sistematis, didokumentasikan, berkala, dan obyektif. 3. Audit lingkungan meningkatkan kinerja / performa. 4. Tujuan audit lingkungan adalah memberi kontribusi untuk penjamin dan pengaman kondisi lingkungan. 5. Audit lingkungan berhubungan dengan menilai kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan persyaratan peraturan, akan tetapi juga dengan standar yang sesuai menurut pandangan manajemen. 6. Penerapan audit lingkungan dilakukan secara sukarela, tetapi diwajibkan bagi kegiatan yang beresiko tinggi dan secara nyata melakukan perusakan lingkungan baik sengaja maupun tidak sengaja. Dengan demikian, dalam penyusunan dokumen audit lingkungan wajib memuat informasi yang meliputi tujuan dan proses pelaksanaan audit, temuan audit, kesimpulan audit, rekomendasi dan tindak lanjut audit, serta data dan informasi pendukung. B. Dasar Audit Lingkungan Pelaksanaan audit lingkungan di Indonesia dilandasi oleh UU No.32 Tahun 2009 tentang PPLH, Pasal 48 s/d Pasal 51 yang mengatur tentang audit lingkungan hidup. Selain itu, telah diterbitkan pula Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.17 Tahun 2010 tentang audit lingkungan hidup. Adapun sebagai panduan dalam pelaksanaan audit lingkungan dapat mengacu pada ISO 14010 tentang Panduan audit lingkungan, prinsip umum.

ISO 14011: Panduan audit lingkungan, prosedur audit, audit sistem managemen lingkungan. dan ISO 14012: Panduan audit lingkungan, kriteria kualifikasi auditor lingkungan. ISO 14000 series ini merupakan pedoman untuk sistem manajemen lingkungan secara umum.

C. Manfaat dan Alasan Penerapan Audit Lingkungan Adapun pelaksanaan audit lingkungan sendiri memiliki manfaat sebagai berikut : a. Memastikan dan mengkonfirmasi ditaatinya persyaratan peraturan perundangundangan lingkungan hidup; b. Menentukan tingkat kinerja pengelolaan lingkungan hidup; c. Membuktikan tanggungjawab dan komitmen manajemen terhadap perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; d. Memastikan resiko lingkungan telah dikelola dan dikendalikan dengan baik; e. Mengidentifikasi peluang penghematan sumberdaya dan biaya, perbaikan/peningkatan kinerja proses, mencegah kehilangan/kerugian (loss prevention) dan peningkatan efi siensi; f. Menyediakan informasi yang objektif dan mandiri yang dibutuhkan oleh pihakpihak yang berkepentingan. Sebuah organisasi meerapkan audit lingkungan, karena beberapa alasan diantaranya adalah : a. Keinginan dari dewan direksi untuk mendapatkan kepastian bahwa perusahaan bertanggungjawab dan secara memadai menangani lingkungannya. b. Adanya inisiatif dari manajemen tingkat bawah atau menengah untuk memperbaiki aktivitas pengelolaan lingkungan dan mengejar apa yang perusahaan lain lakukan. c. Dimotivasi oleh kejadian dari masalah atau kecelakaan lingkungan. D. Tipe Audit Menurut Grant Ledgerwood dan kawan-kawan (1992) tipe audit termasuk : a. Audit korporat (Corporate audits), yang mempertimbangkan pekerjaan dari korporasi secara keseluruhan. b. Audit aktivitas (Activity audits), yang mempertimbangkan satu aktivitas dari korporasi. c. Audit tempat (site audits), yang mempertimbangkan satu instalasi tunggal. d. Audit ketaatan (compliance audits), yang menguji ketaatan industri terhadap lingkungan yang relevan dan standar keamanan. e. Audit resiko (risk audits), yang memepertimbangkan keamanan, kesehatan,

operasional, resiko terhadap karyawan dan publik.

f. Audit produksi (production audits), yang menelusuri energy dan/atau material dari masuknya material tersebut kedalam perusahaan sampai keluar. g. Audit akuisisi (acquisition atau divesture audits), yang menguji liabilitas lingkungan yang dapat timbul aktivitas tersebut. Namun secara luas, audit dapat dibagi dalam 2 kategori, yaitu: a. Program pemeriksaan siklikal (cylical auditing programs), yaitu audit yang terjadi dalam siklus kejadian yang dijadwalkan. Bentuk audit ini merupakan produk sentral dari suatu unit lingkungan. Audit demikian dapat dilakukan oleh spesialis dalam perusahaan atau kosultan luar. b. Audit tunggal untuk maksud khusus (single audits for special purposes), audit demikian lebih cocok dilakukan oleh konsultan luar. E. Para Pihak dalam Audit Ada tiga pihak yang saling berinteraksi dalam proses audit, yaitu: a. Klien, pihak yang memerintahkan audit. b. Auditi, pihak yang di-audit. c. Auditor, pihak yang melaksanakan audit. Sangat penting memahami peran masing-masing pihak dalam proses audit, karena dalam penerapan audit lingkungan para pihak dapat berbeda-beda, tergantung pada jenis audit yang dilakukan, apakah audit lingkungan sukarela atau audit lingkungan yang diwajibkan. Khusus untuk jenis audit lingkungan yang diwajibkan (Pasal 49 UU No.32 Tahun 2009), yang dimaksud Klien adalah KLH. Dua hal penting berkaitan dengan para pihak ini yang patut diperhatikan dalam proses audit jenis apapun adalah Auditor bertanggung jawab kepada Klien, dan Auditor harus mandiri terhadap Auditi. Pasal 51 Ayat (2) UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa auditor lingkungan hidup wajib memiliki sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup yang berlaku mulai tanggal 3 Oktober 2010. Kriteria untuk memperoleh sertifikasi auditor lingkungan hidup meliputi kemampuan: a. b. Memahami prinsip, metodologi, dan tata laksana audit lingkungan hidup Melakukan audit lingkungan hidup yang meliputi tahap perencanaan,pelaksanaan, pengambilan kesimpulan dan pelaporan;

c.

Merumuskan rekomendasi langkah perbaikan sebagai tindak lanjut audit lingkungan hidup. Selain persyaratan kompetensi yang ditunjukkan oleh sertifi kat kompetensi Auditor

Lingkungan, seorang Auditor hendaknya memiliki dan mampu memperagakan seperangkat atribut personal berikut dalam melaksanakan proses audit: Ber-etika (ethical); adil, jujur, mengungkapkan kebenaran, dan bijaksana Berpikiran terbuka (open minded); bijak dalam mempertimbangkan ide atau pendapat alternatif Diplomatis (diplomatic); bijak dalam berkomunikasi dan berhadapan dengan orang lain Pemerhati keadaan sekitar (observant); selalu aktif memperhatikan kegiatan dan kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya Cerdas (perceptive); peduli dan mampu memahami berbagai situasi Luwes (versatile); mampu beradaptasi pada berbagai situasi yang berbeda Gigih (tenacious); memiliki kegigihan & berfokus untuk mencapai tujuan Tegas (decisive); mampu menyimpulkan sesuatu dengan cepat berdasarkan alasan dan analisa yang logis Percaya diri (self reliant); mampu bertindak dan bekerja secara mandiri sekaligus berinteraksi secara efektif dengan yang lainnya Dalam menjalankan profesinya, seorang Auditor hendaknya menerapkan dan memelihara etika profesi Auditor sebagai berikut: Cerdas, jujur, objektif dalam setiap menjalankan tugas pekerjaan. Tidak memuat pernyataan dalam laporan audit yang dipercaya tidak benar atau menyesatkan yang disebabkan oleh kurangnya informasi. Jika menjumpai kegiatan Auditi yang melanggar hukum (ilegal) atau berpotensi bahaya hendaknya segera menginformasikan kepada wakil Auditi, dan kegiatan tersebut diberikan perhatian khusus, dan pemberitahuan tersebut harus dilakukan secara tertulis. Tidak membuka rahasia hasil audit atau informasi apapun kepada pihak ketiga tanpa persetujuan tertulis dari Klien, kecuali bila dipersyaratkan dan ditentukan oleh hukum. Tidak melaksanakan kontrak atau tugas yang diketahui diluar kemampuan dan kapabilitas profesionalnya.

Tidak menerima apapun dan berapapun nilainya dari pihak-pihak yang dapat menyebabkan keberpihakan atau diasumsikan akan mempengaruhi keberpihakan penilaian profesionalnya.

Informasi dari Auditi, Klien atau organisasi lainnya tidak akan digunakan tanpa melakukan verifikasi dan validasi. Seluruh proses audit akan dilaksanakan sesuai dengan standar dan acuan yang berlaku. Akan memelihara rekaman (log sheet) dari seluruh pekerjaan audit yang dilakukan dan pelatihan yang diikuti. Akan selalu terus menerus berupaya meningkatkan kemampuan, efektifi tas, dan mutu dari jasa profesionalnya. Tidak akan berpartisipasi dalam audit yang tidak mampu dilakukan karena tidak fasih dalam bahasa yang disepakati dalam audit.

F. Tahapan Pelaksanaan Audit Pelaksanaan audit lingkungan mengikuti kaidah dan azas proses audit pada umumnya, yaitu terdiri dari 3 (tiga) tahap kegiatan utama, yaitu: a. Persiapan dan perencanaan audit (pre-audit), merupakan tahap awal kegiatan audit yang terdiri dari serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mempersiapkan dan

merencanakan kegiatan audit lapangan agar dapat terlaksana dengan efektif dan efisien, serta tercapainya tujuan audit. b. Kegiatan audit lapangan (site audit), merupakan kegiatan pengumpulan dan verifikasi data dan/atau informasi di lapangan untuk memperoleh bukti audit yang objektif. c. Pelaporan audit (post audit), merupakan tahap akhir dari kegiatan audit, yang terdiri dari kegiatan penyusunan dan penyelesaian laporan audit, distribusi laporan audit, dan pendokumentasian rekaman audit. Pada prinsipnya kegiatan audit dinyatakan berakhir setelah laporan audit diterima dan disetujui oleh Klien. Dengan demikian, proses tindak lanjut hasil audit termasuk penyusunan, pelaksanaan, dan pengawasan rencana tindakan perbaikan dan pencegahan (corrective and preventive action) merupakan kegiatan di luar lingkup proses audit. Kegiatan persiapan dan perencanaan audit merupakan suatu kegiatan perancangan kegiatan audit, oleh karenanya harus mampu menjawab pertanyaan apa yang diaudit? dimana audit dilaksanakan? kapan audit dilakukan? bagaimana mengumpulkan data

dan/informasi? dan siapa saja yang terlibat dalam proses audit?. Dengan merancang kegiatan audit dengan baik akan diperoleh manfaat tambahan bagi pelaksanaan audit lapangan, dalam hal biaya, tenaga, dan waktu yang efektif dan efisien. Hasil akhir dari kegiatan persiapan perencanaan audit adalah dokumen kerangka acuan audit atau dikenal pula dengan rencana audit (audit plan). Pencapaian tujuan audit sangat bergantung pada efektifi tas pelaksanaan kegiatan audit lapangan. Oleh karenanya, faktor berikut hendaknya diperhatikan dan dipertimbangkan dalam melaksanakan audit lapangan, yaitu: a. efektifitas waktu; b. pencapaian tujuan audit; dan c. keamanan dan keselamatan tim audit. Audit lapangan dilaksanakan dengan sistemik sesuai dengan rencana audit yang telah disepakati antara Auditor dan Auditi. Berikut adalah kegiatan yang hendaknya dilakukan Tim Audit pada kegiatan audit lapangan : a. Kegiatan audit lapangan diawali dengan pertemuan pembukaan antara Tim audit dengan wakil manajemen Auditi, dan dihadiri pula oleh personil Auditi lainnya yang bertanggung jawab untuk fungsi atau proses yang akan diaudit (opening meeting). b. Tim audit didampingi oleh wakil Auditi sebaiknya melakukan observasi singkat lapangan secara menyeluruh. Kegiatan ini penting dilakukan sebelum audit lapangan dilakukan, utamanya bila Tim Audit baru pertama kali berkunjung ke tapak usaha/kegiatan Auditi, atau pada saat tahap kegiatan preaudit tidak dilakukan kunjungan pendahuluan (initial site-visit). c. Pengumpulan dan verifikasi fakta dan bukti audit yang sesuai dengan tujuan dan lingkup audit. Pengumpulan fakta/informasi dilakukan dengan pencuplikan (sampling) sesuai metode yang telah direncanakan pada rencana audit. Dengan adanya pencuplikan, maka terdapat unsur ketidakpastian (uncertaintly), yang hendaknya menjadi perhatian Tim audit saat mengevaluasi dan menetapkan kesimpulan audit. Dalam mengumpulkan dan memverifikasi fakta dan/atau informasi, Tim audit dapat menggunakan beberapa metide seperti pengkajian/evaluasi dokumen dan/atau rekaman, observasi/pengamatan, dan wawancara. d. Selama kegiatan audit lapangan, sangat penting dilakukan komunikasi diantara Tim audit, dan antara Tim audit dengan Auditi dan Klien. Tim audit hendaknya berkomunikasi dan

berdiskusi secara berkala pada waktu tertentu selama audit lapangan berlangsung, untuk pertukaran informasi, mengevaluasi kemajuan audit, dan kesesuaian tugas dan peran diantara anggota Tim audit sesuai situasi dan kebutuhan lapangan. Diskusi Tim audit dapat dilaksanakan pada setiap kesempatan istirahat atau jeda, atau pada setiap akhir hari kegiatan audit lapangan. e. Seluruh fakta/informasi yang terkumpul hendaknya divalidasi dan didiskusikan dalam hal keakuratan, kehandalan, kecukupan, dan kesesuaiannya untuk memenuhi tujuan audit. Ketua Tim audit hendaknya mengidentifikasi konsekuensi dari keterbatasan informasi yang diperoleh selama kegiatan audit lapangan, dan hal ini hendaknya dikomunikasikan kepada Klien secepatnya. Demikian pula jika diperoleh informasi berharga di luar lingkup audit, namun dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan audit, maka informasi tersebut sebaiknya dikomunikasikan pula kepada Klien. Bukti audit yang telah terverifikasi hendaknya dievaluasi terhadap kriteria audit yang telah ditetapkan untuk menghasilkan temuan audit. Temuan audit adalah hasil penilaian dan evaluasi terhadap buktibukti audit yang terkumpul setelah membandingkan dengan kriteria audit yang disepakati. Temuan audit dapat berupa ketaatan/kesesuaian (compliance/conformity) atau ketidaktaatan/ ketidaksesuaian (incompliance/non-conformity). Bila tercakup dalam tujuan dan lingkup audit, maka temuan audit dapat pula mengidentifikasi peluang peningkatan atau penyempurnaan kinerja pengelolaan lingkungan (area of concern atau area for improvement). f. Laporan hasil audit lapangan merupakan laporan sementara, bukan merupakan laporan fi nal (akhir). Laporan ini umumnya berupa laporan ringkas, hanya memuat proses audit lapangan yang dilakukan, temuan audit, kesimpulan audit sementara, dan keterbatasan audit (bila ada). g. Sebelum meninggalkan tapak kegiatan Auditi dan mengakhiri kegiatan audit lapangan, Tim audit hendaknya melaksanakan pertemuan penutup. Tujuan dari pertemuan penutup ini adalah untuk memaparkan temuan dan kesimpulan audit sementara kepada Auditi, serta memperoleh kesepakatan Auditi atas hasil audit lapangan. Kegiatan penyusunan, pengesahan, dan penyampaian laporan audit merupakan kegiatan akhir dalam proses audit. Keseluruhan proses audit dan hasil audit diperagakan dalam laporan audit. Laporan audit yang akurat dan handal diperlukan untuk menjadi landasan bagi Klien dalam mengambil keputusan. Untuk itu, seyogyanya laporan audit disusun berlandaskan bukti objektif dan terverifikasi.

G. Kasus Audit Lingkungan PT. Barito Pasific Timber Tbk, dan PT. Binajaya Roda Karya telah memperoleh akreditasi ISO 14001, standar internasional untuk sistem manajemen lingkungan (EMS).

Akreditasi diberikan pada tanggal 20 maret 2000 dan berlaku selama 3 tahun dari tanggal tersebut sesuai dengan implementasi berkesinambungan yang memuaskan dari sistem manajemen operator (BVQIISO 14001 Sertifikat 66596). BVQI (Bureau Verlitas

Quality Internasional) melaksanakan audit sertifikasi dan akan terus melaksanakan auditaudit eksternal EMS pada interval 6 bulanan. Audit berikutnya dijadwalkan pada bulan February 2001. Sebagai bagian dari proses ISO 14001, perusahaan ini memperbaiki penyelanggaraan lingkungan perusahaannya dan menyusun prosedur kerja untuk mencapai tujuan ini. Juga sebagai bagian dari proses tersebut, perusahaan telah melaksanakan dan akan terus melaksanakan audit internal untuk memastikan EMS diimplementasikan secara efektif,

untuk mengidentifikasi cara-cara yang menjamin perbaikan yang berkesinambungan dari penyelenggaran lingkungan perusahaan. Meskipun tinjauan lingkungan awal (Initial Environmental Review) yang dilaksanakan sebagai bagian dari proses ISO 14001, departemen lingkungan perusahaan mengeluarkan laporan foto yang memperinci contoh-contoh dari kegiatan manajemen tidak baik yang mendapat perhatian selama pemeriksaan. Laporan ini didistribusikan kepada kepala-kepala departemen dengan instruksi agar memperbaiki keadaan ini. Audit internal dilaksanakan bulan Juli 2000 yang berlaku sebagai mekanisme untuk menjamin bahwa semua perbaikan telah dilakukan dan mengidentifikasi perbaikan yang masih belum selesai atau baru. Tujuannya adalah untuk membuat laporan foto lanjutan berdasarkan audit bulan Juli. Tetapi sejauh ini belum tercapai. Selama audit juga banyak contoh pelaksanaan manajemen tidak bagus yang didapat dari laporan foto, ternyata masih dijumpai di lingkungan perusahaan. BVQI melaksanakan audit eksternal EMS selama bulan Agustus 2000, dan selama itu ada beberapa poin persoalan yang mendapat perhatian, yaitu: Kontrol debu yang tidak layak, Total Padatan Tersuspensi (TSS) di log pond masih terlalu tinggi. Rencana-rencana kerja untuk mengurangi polusi logpond perlu diperbaiki, Mengurangi limbah kayu dan memperbaiki tingkat pemulihan kayu di areal utama yang memerlukan perbaikan segera, dan

Tidak adanya bukti pengawasan emisi cerobong asap, bau atau pengawasan vibrasi. Semenjak audit eksternal telah ada tinjauan internal dari persoalan-persoalan ini, yang

menghasilkan saran perbaikan dan mengidentifikasi orang-orang yang bertanggung jawab melaksanakan perbaikan tersebut. Masih belum ada tindakan sampai sekarang dan persoalanpersoalan ini masih terbuka. Penerimaan ISO 14001 seharusnya dipandang sebagai langkah positif dalam menjamin peningkatan penyelenggaraan lingkungan PT. Barito Pacific TimberTbk. dan PT. Binajaya Roda karya. Namun demikian, yang harus dilaksanakan untuk menjaga akreditasi adalah mengambil langkah untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan manajemen di lapangan secara berkesinambungan,terutama di tempat- tempat dimana limbah kayu menjadi perhatian.

Daftar Pustaka Rustiawan, Anis. 2010. Panduan Praktis Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup. Kementerian Lingkungan Hidup : Jakarta. Adisasmito, Wiku. 2008. Sistem Kesehatan. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta. Amin Widjaja Tunggal. 2000. Internal Auditing (Suatu Pengantar). Jakarta : Harvarindo. Bratasida, L. 1996. Prospek Pengembangan Sistem Manajemen Lingkungan di Indonesia. BAPEDAL : Jakarta. Tardan, M. Agus M., dkk. 1997. Audit Lingkungan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta. Panitia Teknis 207S dan Panitia Teknis 176S. 2004. SNI 19-19011-2005 : SNI 19-190112005. Badan Standarisasi Nasional : Jakarta.