Anda di halaman 1dari 23

1

Osteoporo sis

BAB I PENDAHULUAN
Tulang merupakan jaringan hidup yang terus bertumbuh. Tulang mempunyai struktur, pertumbuhan dan fungsi yang unik. Untuk mempertahankan kekuatannya, tulang terus menerus mengalami proses penghancuran dan pembentukan kembali. Tulang yang sudah tua akan dirusak dan digantikan oleh tulang yang baru dan kuat. Proses ini merupakan peremajaan tulang yang akan mengalami kemunduran ketika usia semakin tua. Kerapuhan tulang yang disebut sebagai penyakit osteoporosis merupakan kelainan metabolik tulang yang ditandai dengan pengurangan massa tulang, kemunduran mikroarsitektur tulang dan fragilitas tulang yang meningkat, sehingga resiko terjadinya fraktur menjadi lebih besar. Insiden osteoporosis lebih tinggi pada wanita dibandingkan laki laki dan merupakan problema pada wanita perimenopause dan pascamenopause. Pada masa ini terjadi penurunan densitas masa tulang yang sangat cepat, dimana wanita akan mengalami kehilangan kortex tulang 30-40 % dan 50 % trabekula sepanjang umurnya dan laki-laki akan kehilangan 15-20 % kortex dan 25-30 % trabekula Usia merupakan faktor penting menetukan densitas masa tulang dan berhubungan erat dengan resiko fraktur akibat osteoporosis. Sampai usia 30 tahun, densitas tulang akan meningkat, dan menurun secara kontinyu pada usia 50-60. Osteoporosis merupakan penyakit yang asimptomatik dan hanya memberikan gejala setelah terjadinya fraktur. Secara klinis osteoporosis diidentifikasi melalui kejadian fraktur non/minimal traumatik yang terjadi pada vertebra, hip, humerus proximal dan femur. Fraktur panggul mewakili konsekuensi paling berbahaya dari osteoporosis karena

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Osteoporo sis
memerlukan perawatan di rumah sakit dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas bermakna.

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Osteoporo sis

BAB II OSTEOPOROSIS
II.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI TULANG
Tulang merupakan suatu struktur jaringan yang tersusun oleh sel dan didominasi oleh matriks kolagen ekstraselular. Lapisan luar dari tulang disebut korteks (substantia compacta), dan bagian dalam yang berongga disebut trabekula tulang (substantia spongiosa), kedua lapisan ini dibungkus oleh periosteum. Struktur tulang terdiri dari substansi organik (30 %) dan substansi mineral yang paling banyak terdiri dari kristal hidroksiapatit (95 %) serta sejumlah mineral lainnya (5 %) seperti Mg, Na, K, F, Cl, dan Pb. Substansi organik terdiri dari sel tulang (2 %) seperti osteoblas, osteosit dan osteoklas dan matriks tulang (98 %) terdiri kolagen tipe 1 (95 %) dan protein nonkolagen (5 %) seperti osteokalsin, osteonektin, proteoglikan tulang, protein morfogenik tulang, proteolipid tulang dan fosfoprotein tulang. Tanpa adanya matriks tulang, proses mineralisasi tulang tidak mungkin dapat berlangsung. Matriks tulang merupakan makromolekul yang sangat bersifat anionik dan berperan penting dalam proses kalsifikasi dan fiksasi kristal hidroksiapatit pada serabut kolagen. Matriks tulang tersusun sepanjang garis dan beban mekanik sesuai dengan hukum Wolf, yaitu setiap perubahan fungsi tulang akan diikuti oleh perubahan tertentu yang menetap pada arsitektur internal dan penyesuaian eksternal sesuai dengan hukum matematika. Dengan kata lain, hukum Wolf dapat diartikan sebagai bentuk akan selalu mengikuti fungsi. Secara mikroskopis tulang memiliki susunan yg lamelar yaitu matrik tulang tersusun berlapis-lapis. Tulang kompakta tersusun atas osteon (system haversian). Sistem haversian

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Osteoporo sis

merupakan suatu system yang memiliki kanal vaskuler dan dikelilingi lamellar konsentris yang terdapat pada tulang kompak. Pada lamella, terdapat lacuna yang berisi osteosit.

Gambar 1 : struktur

mikroskopik tulang

Tulang secara periodik dan konstan memperbaharui diri melalui suatu proses yang disebut remodeling. Remodeling tulang merupakan suatu proses aktif dan dinamik yang mengandalkan pada keseimbangan yang benar antara penyerapan tulang oleh osteoklas, yang dirangsang oleh parathyroid hormone, dan deposisi tulang oleh osteoblas. Tulang dibentuk oleh sel yang bersifat osteogenik yaitu Osteoblas, yang merupakan sel pembentuk tulang, dan berfungsi mensintesis jaringan kolagen dan komponen organic matriks. Osteoblas dirangsang oleh hormone pertumbuhan, dan pada perkembangan selanjutnya menjadi osteosit, yang merupakan sel tulang dewasa.

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Osteoporo sis

Gambar 2 : Proses remodeling Tulang

Osteoblas dan osteoklas, keduanya sama-sama berasal dari sum-sum tulang. Osteoblas berasal dari sel stroma, yang merupakan suatu jenis sel jaringan ikat di sum-sum tulang, sementara osteoklas merupakan hasil diferensiasi dari makrofag. Osteoblas menghasilkan 2 signal kimiawi yang mempengaruhi aktivitas dan perkembangan osteoklas, yaitu RANK Ligand, dan Osteoprotegerin (OPG). Selain itu, osteoblas juga menghasilkan M-CSF (Makrofag-Colony stimulating factor). RANK Ligand meningkatkan aktivitas osteoklas. RANK Ligand bersama dengan M-CSF mengikat RANK (Receptors Activated NF B) yang terletak dipermukaan makrofag, dan kemudian menginduksi diferensiasi makrofag menjadi osteoklas dan mempertahankannya dengan cara menekan apoptosis Osteopretegerin (OPG) memiliki efek yang berlawanan dengan RANK Ligand, yaitu menekan aktivitas osteoklas. OPG bekerja dengan mengikat RANK Ligand, sehingga tidak dapat berikatan dengan RANK reseptor. Hal tersebut menyebabkan pembentukan matriks oleh osteoblas meningkat, sementara penghancuran oleh osteoklas terhambat.

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Osteoporo sis
Gambar 3 : Fungsi osteoblas dalam aktivitas osteoklas

Tulang menjalankan beberapa fungsi tertentu di dalam tubuh: Memberikan bentuk pada tubuh dan menopang tubuh. Menyimpan dan melepaskan beberapa jenis mineral yang dibutuhkan tubuh seperti kalsium, fosfat, magnesium, dan sodium saat dibutuhkan oleh tubuh Sum-sum tulang memproduksi dan menyimpan sel sel darah
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Osteoporo sis
Melindungi organ-organ dalam tubuh dan Pergerakan tubuh

II.2 DEFINISI
Osteoporosis adalah kelainan yang menyebabkan penurunan massa tulang yang termineralisasi secara normal akibat ketidakseimbangan antara aktivitas osteoklas dan aktivitas osteoblas. Osteoporosis ditandai dengan nilai bone mineral density (BMD) rendah dan degenerasi mikroarsitektur yang meningkatkan fragilitas dan risiko fraktur. Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan risiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).

II.3 EPIDEMIOLOGI
Osteoporosis sejauh ini merupakan penyakit metabolisme tulang yang terbanyak, dan diperkirakan mengenai lebih dari 200 juta orang didunia. Diperkirakan 75 juta orang di eropa, United states, dan jepang mengidap osteoporosis. Diperkirakan 1 dari 2 wanita dan 1 dari 5 pria berusia diatas 50 tahun pernah mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Osteoporosis lebih banyak diderita oleh wanita (female : male = 4:1). Berdasarkan NOF (National Osteoporosis Foundation), dari sekitar 10 juta orang amerika yang mengalami osteoporosis, 80% adalah wanita. Sementara pada pria, prevalensi terjadinya osteoporosis sekunder lebih tinggi, yaitu 45%-60% disebabkan oleh hipogonadisme, alkoholisme, kelebihan glukokortikoid.

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Osteoporo sis

II.4 ETIOLOGI dan FAKTOR RESIKO


Faktor Sosial Perokok memiliki faktor resiko tinggi terjadinya osteoporosis. Nikotin yang terkandung dalam rokok mempercepat penyerapan tulang. Selain itu, nikotin juga menurunkan kadar dan aktivitas hormon estrogen, kalsium, dan vitamin D dalam tubuh. Sex Wanita Postmenopause ,riwayat histerektomi dan oophorectomi memiliki factor resiko tinggi osteoporosis. Hilangnya estrogen merupakan faktor terjadinya penyakit secara dini. Penurunan kadar estrogen dalam tubuh menyebabkan menurunnya produksi OPG dan pada akhirnya meningkatkan aktivitas osteoklas, sehingga penghancuran tulang meningkat. Laki laki dengan hypogonadisme sekunder. Pada Hypogonadism sekunder akan didapatkan kadar androgen yang rendah . Diduga hormone ini mempunyai fungsi yang sama degan estrogen pada tulang. Rendahnya hormone testosterone juga dapat menyebabkan osteoporosis. Medikasi Misalnya obat-obatan seperti Glukortikoid, heparin, siklosporin dosis tinggi, methotrexat dan medroxyprogesteron dapat menyebabkan peningkatan resorpsi tulang. Pengobatan steroid sistemik seperti pada penyakit paru obstrukif kronik (PPOK), Lupus atau rheumatoid arthritis meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis. Steroid menyebabkan penekanan terhadap osteblas sehingga meghambat pembentukan tulang baru. Penyakit Hyperthiroid meningkatkan aktivitas resorbsi tulang, sehingga dapat menyebabkan osteoporosis jika tidak diobati. Pada hyperparathiroid,terjadi peningkatan mobilisasi kalsium dari tulang ke plasma, sehingga terjadi hiperkalsemi dan dapat terjadi juga osteoporosis.
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Osteoporo sis
Penyakit-penyakit pencernaan menyebabkan terganggunya penyerapan nutrient-nutrien

seperti vitamin D dan kalsium, sehingga memiliki resiko terjadinya osteoporosis. Vitamin D berfungsi membantu penyerapan kalsium dan fosfat dari saluran pencernaan, dimana dengan berkurangnya kadar vitamin D dapat menyebabkan menurunnya absorbsi kalsium, yang pada akhirnya meningkatkan aktivitas parathyroid hormone. Pada penderita diabetes mellitus, kepadatan tulang berkurang secara merata. Pada kaki terutama, perubahan mungkin cukup berat, sehingga dapat menyebabkan fraktur insufisiensi disekitar pergelangan kaki atau metatarsal. Pemakaian insulin dapat merangsang pengambilan asam amino ke sel tulang sehingga meningkatkan pembentukkan kolagen tulang, akibatnya orang yang kekurangan insulin atau resistensi insulin akan mudah terkena osteoporosis. Kontrol gula yang buruk juga akan memperberat metabolisme vitamin D dan osteoporosis.

Faktor resiko lainya : Ras kaukasia Umur 50 atau lebih tua Menopause dini atau menarche yang terlambat Amenorhea Post menopause Body mass index <19 Faktor Genetik, riwayat keluarga yang menderita osteoporosis Sedentary lifestyle Alkohol

II.5 KLASIFIKASI

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

10

Osteoporo sis
Osteoporosis dapat terjadi secara lokal pada tulang tertentu, misalnya pada disuse

osteoporosis, atau bisa general yaitu mengenai seluruh tulang. Osteoporosis general dapat bersifat primer, atau sekunder. Osteoporosis primer : Osteoporosis tipe I : merupakan postmenopause osteoporosis, terjadi pada wanita usia 50 65 tahun, ditandai dengan penurunan massa tulang yang berasal dari substantia spongiosa atau trabekula tulang. Pada wanita postmenopause, kemampuan ovarium memproduksi estrogen menurun. Estrogen berperan dalam proses mineralisasi tulang dan menghambat resorbsi tulang serta pembentukan osteoklas melalui produksi sitokin. Ketika kadar hormon estrogen darah menurun, proses pengeroposan tulang dan pembentukan mengalami ketidakseimbangan. Pengeroposan tulang menjadi lebih dominan. Osteoporosis tipe II (senile osteoporosis) : merupakan osteoporosis yang terjadi pada orang usia lanjut, baik pria maupun wanita. Terjadi pada orang tua diatas 70 tahun, ditandai dengan penurunan masa tulang yang terkait dengan umur. Osteoporosis terjadi akibat dari kekuragan kalsium berhubungan dengan makin bertambahnya usia. Osteoporosis tipe III (juvenile osteoporosis) : merupakan osteoporosis idiopatik yang tidak diketahui penyebabnya. Penyakit ini sering mengenai orang usia muda, pria maupun wanita, dengan onset umur 8-14 tahun. Cirri khas utama dari penyakit ini adalah rasa sakit pada tulang yang dating tiba-tiba, atau fraktur terkait trauma. Osteoporosis sekunder : osteoporosis sekunder terutama disebabkan oleh penyakitpenyakit tulang erosive, obat-obatan yang toksik untuk tulang, maupun gaya hidup yang tidak sehat. Penyakit endokrin : tiroid, hiperparatiroid, hipogonadisme.
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

11

Osteoporo sis
Penyakit saluran cerna yang menyebabkan absorbsi gizi kalsium, fosfor, vitamin D terganggu. Penyakit keganasan (kanker). Konsumsi obat obatan seperti kortikosteroid. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok dan kurang gerak

Gambar 4 : klasifikasi Osteoporosis primer

II.6 PATOGENESIS
Osteoporosis terjadi karena 3 hal utama : ketidakseimbangan pembentukan tulang oleh osteoblas, resobsi oleh osteoklas, dan pengaturan aktivasi osteoklas oleh osteoblas.
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

12

Osteoporo sis

Osteoporosis Primer Setelah menopause maka resorpsi tulang akan meningkat, terutama pada dekade awal setelah menopause, sehingga insidens fraktur, terutama fraktur vertebra dan radius distal meningkat. Estrogen berperan menginduksi apoptosis osteoklas secara tidak langsung melaluiproduksi sitokin seperti TGF-. Pada keadaan dimana kadar estrogen rendah, terjadi produksi berbagai sitokin oleh bone marrow stromal cells dan sel sel mononuklear, seperti sel T, IL 1, IL 6, dan TNF yang berperan meningkatkan aktivitas osteoklas. Sel T juga memiliki peran dalam ketidakseimbangan remodeling tulang ini, yaitu dengan menginduksi apoptosis premature dan menghambat diferensiasi osteoblas, melalui kerja sitokin IL-7. Penurunan kadar estrogen akibat menopause akan meningkatkan aktivitas RANK-RANK Ligand, dan menurunkan OPG, sehingga aktivitas osteoblas menurun, dan aktivitas osteoklas meningkat. Untuk mengatasi keseimbangan negatif kalsium akibat menopause, maka kadar PTH akan meningkat pada wanita menopause, sehingga osteoporosis akan semakin berat. Pada menopause, kadangkala didapatkan peningkatan kadar kalsium serum, dan hal ini disebabkan oleh menurunnya volume plasma, meningkatnya kadar albumin dan bikarbonat, sehingga meningkatkan kadar kalsium yang terikat albumin dan juga kadar kalsium dalam bentuk garam kompleks. Peningkatan bikarbonat pada menopause terjadi akibat penurunan rangsang respirasi, sehingga terjadi relatif asidosis respiratorik.

Aktivitas fisik Kekuatan mekanik menstimulasi remodeling tulang, sehingga penurunan aktivitas fisik dapat menurunkan kepadatan tulang. Aktivitas fisik yang menurun pada orang lanjut usia juga dapat menginduksi terjadinya senile osteoporosis. Oleh karenanya weight training exercise sangat penting untuk meningkatkan kepadatan tulang. Penuaan
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

13

Osteoporo sis
Pada kasus penuaan, penurunan massa tulang terjadi karena penurunan progressive

supply osteoblast yang dibutuhkan oleh tubuh. Setelah decade ke-3 dari kehidupan, resobsi tulang akan meningkat, dan menyebabkan osteoporosis. Wanita selama masa hidupnya akan kehilangan 30-40% tulang korteks, dan 50% tulang trabekula, sementara pria selama masa hidupnya akan kehilangan 15-20% tulang kortikal, dan 25-30% tulang trabekular. Defisiensi kalsium Kalsium, vitamin D, dan PTH berperan dalam homeostasis tulang. Intake kalsium yang tidak adekuat, atau hal-hal yang menyebabkan terganggunya absorbs kalsium oleh system pencernaan dapat menyebabkan hiperparatiroid sekunder. PTH akan disekresi untuk merespon kadar kalsium serum yang rendah. PTH meningkatkan resorbsi kalsium dari tulang, menurunkan ekskresi kalsium oleh ginjal, dan meningkatkan produksi 1,25-dihidroksivitamin D (1,25[OH]2 D) bentuk aktif vitamin D yang meningkatkan absorbsi kalsium dan fosfat. Defisiensi Vitamin D Defisiensi vitamin D dapat menyebabkan terjadinya hiperparatiroid sekunder. Selain didapat dari makanan, Vitamin D dapat diproduksi sendiri oleh tubuh melalui kulit. dengan precursor 7-dehidrokolesterol, pada paparan sinar matahari. Vitamin D berfungsi meningkatkan absorbsi kalsium dan fosfat oleh saluran pencernaan. Defisiensi vitamin D pada akhirnya menyebabkan kadar PTH meningkat, dan meningkatkan resorbsi tulang. Osteoporotic fracture Fraktur dapat terjadi melalui 2 mekanisme : high energy trauma, dan low energy trauma. Karakteristik dari fraktur yang terjadi akibat osteoporosis merupakan fragility fracture, yaitu fraktur yang terjadi karena low energy trauma. Pada osteoporosis, tulang yang sering mengalami fraktur adalah collum femur, vertebra, dan radius distal.

II.7 GAMBARAN KLINIS


Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

14

Osteoporo sis
Osteoporosis dapat berjalan lambat selama beberapa dekade, hal ini disebabkan karena

osteoporosis belum menyebabkan gejala fraktur tulang. Tanda klinis utama dari osteoporosis adalah fraktur pada vertebra, pergelangan tangan, pinggul, humerus, dan tibia. Gejala yang paling lazim dari fraktur vertebra adalah nyeri pada punggung dan deformitas pada tulang belakang, berupa kifosis anguler yang dapat menekan medulla spinalis dan akhirnya menyebabkan paraparesis. Nyeri terjadi akibat kolaps vertebra terutama pada daerah dorsal atau lumbal, dan intensitasnya meningkat pada malam hari. Diagnosa osteoporosis dapat dipikirkan bila didapatkan : Patah tulang akibat trauma yang ringan. Tubuh makin pendek, kifosis dorsal bertambah, nyeri tulang. Gangguan otot (kaku dan lemah). Secara kebetulan ditemukan gambaran radiologik yang khas.

II.8 DIAGNOSA
Diagnosis osteoporosis umumnya secara klinis sulit dinilai, karena rasa nyeri baru akan terasa saat terjadinya patah tulang. Penderita osteoporosis biasanya tidak sadar akan penyakitnya sebelum terjadinya patah tulang. Anamnesa : Tinggi badan yang semakin menurun. Obat obatan yang diminum. Bagaimana keadaan haid selama masa reproduksi. Apakah sering beraktivitas di luar rumah, sering mendapat paparan matahari cukup.
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

15

Osteoporo sis
Asupan kalsium Merokok, minum alkohol. Riwayat penyakit keluarga

Pemeriksaan Fisik : Tinggi badan dan berat badan harus diukur pada setiap penderita osteoporosis. Demikian juga gaya berjalan penderita osteoporosis, deformitas tulang, nyeri spinal. Penderita dengan osteoporosis sering menunjukkan kifosis dorsal atau gibbus dan penurunan tinggi badan. Pemeriksaan Radiologi : Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yag lebih lusen. Hal ini akan tampak pada tulang tulang vertebra yang memberikan gambaran picture frame vertebra.

Gambar 5 : picture frame vertebra

Pemeriksaan Densitas Massa Tulang (Densitometri)


Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

16

Osteoporo sis

Indikasi utama penggunaan Bone Densitometry adalah :


Wanita berumur 65 tahun dan pria berumur 70 tahun Pasien postmenopause dengan usia lebih rendah atau pria berusia 50-70 tahun dengan factor resiko terjadinya patah tulang

Wanita perimenopause yang memiliki factor resiko terjadinya osteoporosis (berat badan rendah, medikasi)

Orang dewasa dengan fragility fracture Orang dewasa dengan kondisi yang berkaitan dengan rendahnya massa tulang (rheumatoid arthritis)

Orang dewasa yang menjalani pengobatan dengan obat-obatan yang dapat menurunkan massa tulang (misalnya, glucocorticoid, prednisone 5mg per hari)

Menilai respon pengobatan osteoporosis

Teknik pemeriksaan densitas massa tulang : Single energy X-Ray Absorpsiometry Quantitative Ultrasonography Quantitative computed tomography Dual Energy X-ray Absorptiometry (DEXA)

T-Score dan Z-Score: Densitas massa tulang berhubungan dengan kekuatan tulang dan resiko fraktur untuk menilai hasil pemeriksaan densitometri tulang, digunakan kriteria kelompok kerja WHO (T-Score) yaitu :
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

17

Osteoporo sis
Normal : densitas massa tulang di atas 1 SD Osteopenia : densitas massa tulang diantara 1 SD dan - 2,5 SD Osteoporosis : densitas massa tulang dibawah 2,5 SD Osteoporosis berat : densitas masa tulang dibawah -2.5 SD yang disertai dengan fragility fracture

Gambar 6 : T-Score

Untuk setiap SD penurunan pada BMD, terjadi peningkatan resiko patah tulang sebanyak 1.5-3 kali. Penggunaan diagnosis T-Score ini sebaiknya tidak digunakan pada wanita premenopause, pria dengan usia dibawah 50 tahun, dan anak-anak. Z-Score Merupakan perbandingan antara densitas tulang seseorang dengan nilai rata rata dari orang yang berumur dan berjenis kelamin sama. Nilai Z-Score ( dibawah 2,0) merupakan pertanda bahwa seseorang mempunyai masa tulang yang lebih sedikit daripada yang diharapkan pada orang yang berumur sama.
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

18

Osteoporo sis

II.9 PENATALAKSANAAN
Empat tujuan utama dalam pengobatan osteoporosis meliputi :

Pencegahan fraktur, Stabilisasi atau pencapaian peningkatan massa tulang, Pengurangan gejala fraktur dan deformitas skeletal Maksimalisasi fungsi fisik. Terapi pada osteoporosis harus mempertimbangkan 2 hal, yaitu terapi pencegahan yang

pada umumnya bertujuan untuk menghambat hilangnya massa tulang, dan terapi farmakologis, untuk meningkatkan massa tulang. Terapi farmakologis meliputi hormon pengganti (estrogen dan progesteron dosis rendah). Kalsitrol, kalsitonin, bifosfat, raloxifene, dan nutrisi seperti kalsium serta senam beban. Pembedahan pada pasien osteoporosis dilakukan bila terjadi fraktur, terutama bila terjadi fraktur panggul.

Pencegahan Perawatan kesehatan skeletal dimulai sebelum lahir melalui nutrisi maternal dan gaya hidup maternal yang baik. Perawatan ini dilakukan seumur hidup. Akibat BMD pada dewasa yang dinyatakan oleh puncak massa tulang dan kecepatan kehilangan tulang maka setiap usaha seharusnya ditujukan kepada maksimalisasi puncak massa tulang dan minimalisasi kehilangan tulang di kemudian hari.

Asupan nutrisi yang baik, intake vitamin D dan kalsium adekuat


Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

19

Osteoporo sis
Nutrisi yang bagus dan diet seimbang dengan kalori adekuat sangat penting untuk

pertumbuhan normal. Asupan kalsium yang adekuat dipertimbangan sebagai faktor gaya hidup yang paling penting untuk mencapai dan menjaga massa tulang yang adekuat. Asupan yang dianjurkan pada usia produktif adalah 1000 mg kalsium perhari, dan 1200 mg per hari untuk orang lanjut usia. Vitamin D sangat penting untuk absorpsi kalsium di intestinal. Pada sebagian besar wanita tua, 25-hidroksivitamin D serum menurun sehingga diperlukan suplementasi. National Osteoporosis Foundation merekomendasikan asupan vitamin D3 harian sebesar 800-1000 IU.

Paparan sinar matahari Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Berjemur dibawah sinar matahari selama 20-30 menit, 3x/minggu dinilai cukup. Waktu yang baik adalah jika dilakukan pada pagi hari sebelum jam 9 dan sore hari sesudah jam 4.

Aktivitas fisik Aktivitas fisik diperlukan untuk pembentukan dan menjaga massa tulang sepanjang hidup. Latihan beban terbukti meningkatkan BMD dalam jumlah kecil, akan tetapi tidak pada semua skeletal. Efek menguntungkan olahraga terhadap osteogenik berasal dari olahraga yang melibatkan gaya beban tinggi. Regangan biomekanis yang dihasilkan dari kontraksi otot selama olahraga dapat meningkatkan massa tulang. Gaya hidup sehat Menghindari gaya hidup tidak sehat yang dapat menjadi factor resiko terjadinya osteoporosis. Penderita osteoporosis harus menghindari alkohol, kafein, dan merokok walaupun
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

20

Osteoporo sis

peran dari masing-masing faktor risiko tersebut sangat sulit ditentukan. BMD pada perokok lebih rendah dibandingkan bukan perokok dan seiring pertambahan usia peokok lebih sering mengalami abnormalitas vertebra dibandingkan bukan perokok.

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

21

Osteoporo sis

BAB III KESIMPULAN


1. Osteoporosis merupakan penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menyebabkan kerapuhan tulang dengan risiko terjadinya patah tulang. 2. Etiologi dan factor resiko osteoporosis diantaranya : Defisiensi estrogen Defisiensi kalsium, vitamin D Pengaruh obat-obatan yang mempengaruhi massa tulang (glukokortikoid, heparin, dll) Gaya hidup yang tidak sehat (merokok, alcohol) Aktivitas fisik yang rendah

3. Osteoporosis terbagi menjadi primer dan sekunder. Osteoporosis primer terdiri dari osteoporosis pascamenopause, osteoporosis senile, dan juvenile osteoporosis. Osteoporosis sekunder biasanya disebabkan oleh penyakit-penyakit tulang yang erosive. 4. Gejala klinis yang bisa dialami adalah nyeri tulang, yang biasanya berhubungan dengan fraktur vertebra, dan deformitas berupa kifosis anguler. 5. Terapi osteoporosis terdiri dari pencegahan dan tatalaksana farmakologis, dengan tujuan terapi : a. Pencegahan fraktur, b. Stabilisasi atau pencapaian peningkatan massa tulang, c. Pengurangan gejala fraktur dan deformitas skeletal d. Maksimalisasi fungsi fisik.
Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

22

Osteoporo sis
6. Pencegahan osteoporosis meliputi : Asupan nutrisi adekuat, intake kalsium dan vitamin D adekuat Paparan sinar matahari Aktivitas fisik dan Gaya hidup sehat

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

23

Osteoporo sis

BAB IV DAFTAR PUSTAKA


1. 2. 3. 4. Appley AG,Solomon L.: Appleys System of Orthopaedics and Fractures. 8 th Ed. Rasjad Chairuddin, MD, Ph.D. Pengantar Ilmu bedah orthopedic. 3 rd ed. Sherwood, Lauralee. Human physiology from cell to system. 7 th ed. Canada. Robert B. Salter.. Generalized and disseminate Disorder of bone: Textbook of Oxford. Butterworh-Heinemann. 2001,.105-116 Jakarta. Yarsif watampone. 2007,.185-188 Yolanda Cossio. 2010,.726-738 Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. 3 rd Ed. Baltimore Lippincott Williams&Wilkins. 1999 ,. 183-193

5.
6. 2007 7. 8.

WEBMD,

2011.Osteoporosis

Medication.

Available

at:http://www.webmd.com/osteoporosis/tc/osteoporosis-medications17.
Kemp walter, burn dennis K, Brown Travis G. The Big Picture McGraw-Hills. Kumar, Abbas, Fausto, Mitchelle. Robbins basic pathology. 8 th ed. http://emedicine.medscape.com/article/330598-workup#aw2aab6b5b3

Kepanitraan klinik ilmu Bedah | Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara