Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Hernia merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai. Dapat terjadi karena congenital ataupun karena factor-faktor perdisposisi. Hernia umbilicalis merupakan salah satu penyakit hernia yang hampir sering dijumpai pada anak-anak dan tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa. Hernia berasal dari bahasa latin yaitu herniae yang artinya menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus. Kebanyakan hernia terjadi ketika ada sebagian usus yang keluar melalui dinding perut yang lemah, sehingga terlihat tonjolan yang dapat dirasakan & diraba. Hernia dapat terjadi didaerah pangkal paha, umbilicus ataupun bagian lain. Ada hernia yang sudah muncul sejak lahir, ada juga yang berkembang dalam hitungan bulan atau tahun, tetapi ada juga hernia yang muncul tiba-tiba. Hernia umbilicalis adalah suatu defek pada fasia cincin umbilicalis ( fasia richet) di dasar umbilicus yang memungkin terjadinya herniasi isi abdomen. Defek ditutupi oleh lapisan peritoneal ( kantong hernia) dan kulit. Cincin umbilical terbuka selama hamil. Cincin menjadi lebih kecil secara progresif seiring berkembangnya gestasi. Hernia umbilicalis disebabkan oleh kegagalan fasia cincin umbilical untuk menutup. Sebagian besar hernia umbilicalis terlihat pada bulan pertama kehidupan, dan hampir semuanya terlihat pada usia 6 bulan. Hernia umbilical juga bisa terjadi karena adanya daerah yang lemah didinding abdomen atau sekitar umbilical. apabila terdapat peningkatan tekanan intraabdomen secara terus menerus seperti batuk, obesitas, dan kehamilan multipara menyebabkan timbulnya penonjolan melalui umbilical. Hernia ini terdapat pada kira-kira 20% bayi dan angka ini lebih tinggi lagi pada bayi premature dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Terdapat insidensi yang lebih tinggi pada bayi keturunan Afrika dan Amerika. Hernia umbilicalis pada orang dewasa merupakan lanjutan hernia umbilicalis pada anak-anak. Perbandingan antara lelaki dan perempuan kira-kira 1:3.

1.2. Tujuan 1.2.1. Tujuan umum Tujuan umum penulisan makalah ini adalah mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang penyakit hernia umbilicalis sehingga dapat mengatasi kasus hernia umbilicalis dengan tepat dan cepat serta mampu mengedukasikan kepada pasien bagaimana mencegah terjadinya hernia umumnya serta henia umbilicalis khususnya. 1.2.2. Tujuan khusus Mahasiswa dapat mengetahui, memahami, dan mampu menjelaskan : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Definisi hernia umbilicalis Epidemiologi hernia umbilicalis Etiologi hernia umbilicalis Klasifikasi penyakit hernia umbilicalis Patogenesa hernia umbilicalis Patogenesa hernia umbilicalis Gejala dan tanda penyakit hernia umbilicalis Diagnosa hernia umbilicalis Pemeriksaan fisik hernia umbilicalis Pemeriksaan penunjang hernia umbilicalis Diagnosa Banding hernia umbilicalis Penatalaksanaan dan pengobatan hernia umbilicalis

1.3. Manfaat 1. Mendapatkan pengetahuan secara detail tentang hernia umbilicalis 2. Mengetahui teknik anamnesis terhadap pasien hernia umbilicalis 3. Mengetahui tentang pemeriksaan fisik dan penunjang yang dibutuhkan pada pemeriksaan hernia umbilicalis.

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1. Anamnesa 2.1.1 Identitas pasien Nama Umur Pekerjaan Jenis Kelamin Alamat : Ny. Ani : 40 tahun : Ibu rumah tangga : Perempuan : Jl. Bukit Tinggi Raya No.742 Siteba

2.1.2. Sumber informasi Informasi didapat dari pasien (autoanamnesa) dan dari keluarga pasien (alloanamnesa).

2.1.3. Keluhan utama - Rasa nyeri pada abdomen - Adanya benjolan pada abdomen

2.1.4. Riwayat penyakit sekarang Pasien dibawa ke rumah sakit dengan keluhan terdapat benjolan di abdomen area umbilicus. Benjolan ini menurut pasien dan keluarganya ada sejak 1 tahun yang lalu. Benjolan terutama jelas saat pasien batuk, bersin, mengedan dan bila diberdirikan. Tapi saat pasien berbaring, benjolan tersebut hilang atau tidak nampak. Pasien merasakan nyeri bila benjolan tersebut ditekan. Pasien menyatakan bahwa sering merasa mual bahkan muntah.

2.1.5. Riwayat penyakit dahulu - Pasien sebelumnya pernah di operasi dan menyatakan bahwa dirinya saat bayi pernah menderita hernia umbilicalis.

Sebelumnya menderita penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) sehingga menyebabkan sering batuk.

2.1.6. Riwayat keluarga Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.

2.1.7. Riwayat Psikososial Pasien merasa terganggu dengan adanya penyakitnya, pasien tidak dapat beraktivitas dengan bebas.

2.1.8. Riwayat pengobatan Pasien mengonsumsi analgesic (obat penghilang rasa nyeri).

2.1.9. Tinjauan sistem Rasa nyeri di perut Mual dan muntah

2.1.10. Kondisi umum Keadaan umum Kesadaran Tanda-tanda vital Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu : 110/70 mmHg : 80 x / menit : 18 x / menit : 38oC : Tampak sakit ringan : Compos mentis

2.2. Pemeriksaan fisik 2.2.1. Inspeksi Inspeksi abdomen seharusnya meliputi observasi seksama atas bentuk luar, jaringan parut, penonjolan setempat, peristalsis yang dapat dilihat, vena terdistensi, pengembungan flank dan penampilan umbilicus.
4

Pada inspeksi hernia umbilicalis yang sangat penting adalah memperhatikan regio umbilical. Apakah ada penonjolan atau tidak. Minta pasien untuk berbaring. Kemudian untuk mempermudah dalam penilaiannya, pada orang dewasa dengan meminta pasien untuk batuk, sedangkan pada bayi lebih mudah dilihat saat bayi dalam keadaan menangis. Tindakan ini dilakukan dengan maksud meningkatkan tekanan intra abdominal, dapat menyebabkan timbulnya benjolan secara tiba-tiba didaerah umbilicus. Jika pasien ini telah menjalani pembedahan, batuk dapat memperlihatkan benjolan di sepanjang parut abdominal yang berkaitan dengan hernia insisional. Pada penderita hernia umbilicalis, umbilicus tampak menonjol/ keluar dari umbilicus akibat adanya locus minores sehingga terbentuk kantong hernia yang berisi peritoneum ataupun usus.

2.2.2. Auskultasi Aukultasi bunyi usus dapat memberikan informasi mengenai gerakan udara dan cairan didalam saluran cerna. Pemeriksa melakukan auskultasi abdomen sebelum perkusi atau palpasi, berbeda dengan urutan yang biasa karena perkusi atau palpasi dapat mengubah motilitas usus. Pada hernia reponible, pada tonjolannya pemeriksa dapat mendengar bising usus. Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada hernia yang mengalami obstruksi usus (hernia inkarserasi). 2.2.3. Palpasi Palpasi dilakukan dalam keadaan ada benjolan hernia. Pemeriksaan seksama

untuk lokasi, ukuran dan bentuk massa, permukaannya, konsistensi, batas, mobilitas dan pemeriksa mencoba mendorong benjolan tersebut apakah benjolan dapat direposisi. Juga diperiksa apakah terasa nyeri jika ditekan. Jika nyeri mungkin terjadi hernia stangulata atau inkarserata.

2.2.4. Perkusi Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus dipikirkan kemungkinan hernia umbilical mengalami strangulasi. Terdengar hipertimpani dan terdengar pekak.

2.3. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan Hb: pada pemeriksaan Hb didapatkan Hb turun yang menyatakan pasien anemia Pemeriksaan Ht: pada pemeriksaan Ht didapatkan Ht meningkat yang menyatakan bahwa terjadi peningkatan cairan/ asites. Pemeriksaan sel darah putih: pada pemeriksaan didapatkan peningkatan leukosit.

2.4.Pemeriksaan penunjang Penggunaan sinar-x atau USG diperlukan untuk melihat apakah terjadi strangulasi atau inkarserasi. USG Digunakan untuk melihat apakah terjadi strangulasi atau inkarserasi. CT dan MRI Digunakan untuk melihat apakah terjadi strangulasi atau inkarserasi.

2.5.Diagnosis kerja Hernia dapat didiagnosa dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik

memperlihatkan suatu defek pada fasia abdominal setinggi umbilicus. Diperiksa apakah isi hernia dapat di reposisi kembali atau tidak. Penggunaan sinar-x atau USG diperlukan untuk melihat apakah terjadi strangulasi atau inkarserasi. Berdasar anamnesa dan pemeriksaan fisik maka diagnosis kerja pada kasus diatas adalah hernia umbilicalis.

2.6.Differensial diagnosa Omphalocele Tumor Keloid Hernia paraumbilicus Metastasis ke peritoneum pada pusar (nodulus sister joseph) Diastasis rekti abdominis
6

Lipoma Peritonitis Jaringan Kulit Lemak Fasia Otot Benjolan Kista sebasea/ epidemoid Lipoma Fibroma Tumor yang mengalami hernia melalui pembungkusnya Arteri Aneurisma

2.7.Penatalaksanaan 2.7.1. Konservatif Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Reposisi adalah tindakan memasukkan kembali isi hernia ketempatnya semula secara hati hati dengan tindakan yang lembut tetapi pasti. Tindakan ini hanya dapat dilakukan pada hernia reponible dengan menggunakan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan yang lain memasukkan isi hernia melalui leher hernia tadi. Tindakkan ini terkadang dilakukan pada hernia irreponible apabila pasien takut operasi, yaitu dengan cara bagian hernia dikompres dingin, penderita diberi penenang

valium 10 mg agar tertidur, pasien diposisikan trendelenberg. Setelah reposisi berhasil suntikkan zat yang bersifat sklerotik untuk memperkecil pintu hernia. 2.7.3. Farmakologi Terapi obat analgetik.

2.7.2. Operatif Terapi hernia umbilicalis pada orang dewasa hanya dengan pembedahan. Defek ditutup dengan mesh, dapat melalui operasi terbuka maupun operasi laparoskopi yang memberikan nyeri minimal dan pemulihan yang cepat pascaoperasi dibandingkan dengan
7

operasi terbuka. Pengobatan operatif dilakukan apabila adanya indikasi seperti hernia telah mengalami strangulasi atau inkarserasi. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. a. Herniotomi Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.

b. Hernioplasti mayo Perbaikan klasik untuk hernia umbilikalis adalah hernioplasti Mayo. Operasi terdiri dari imbrikasi vest-over-pants dari segmen aponeurosis superior dan inferior. Hernia umbilikalis besar, lebih suka ditangani dengan prosthesis (bagian alat tubuh yang hilang) yang mirip dengan perbaikan prostesis untuk hernia insisional.

Strepping dengan plester di atas hernia dengan ataupun tanpa uang logamyang dipertahankan selama 10-20 hari dan di ulang sampai 6-1 tahun, hal ini dapat mempercepat penyembuhan namun masih kontroversi. Indikasi dilakukan tindakan bedah: 1. Bila diameter cincin hernia < 1 cm pada umur 1 tahun, hernia mungkin sekali akan menutup spontan. Sebaiknya ditunggu sampai pasien berumur 3 tahun. 2. Bila diameter cincin hernia > 1 cm pada umur 1 tahun, kemungkinan menutup spontan kurang, tetapi tidak ada salahnya bila ditunggu hingga umur 3 tahun 3. Bila diameter cincin hernia 2 cm atau lebih, penutupan spontan hampir pasti tidak akan terjadi, pembedahan dapat dilakukan pada setiap saat dalam tahun ke-2 atau ke-3.

2.8. Komplikasi klinis Hernia umbilicalis dapat mengalami inkarserasi, tetapi sangat jarang terjadi. Kalau terjadi, kerusakan usus lebih cepat dibanding pada hernia inguinal karena cincin umbilicus kurang elastic dibanding hernia inguinal. Jika terjadi inkarserasi, aliran darah terganggu dan terputus sehingga menyebabkan jaringan mulai mati (nekrosis). Nekrosis jaringan bisa disertai dengan infeksi bakteri, sakit perut, muntah, dan shock. Komplikasi lain yang mungkin pada hernia Umbilicalis termasuk pecahnya kantung hernia, infeksi, perut kembung, pneumonia,
8

cairan di paru-paru(edema paru), perubahan warna kulit dari disfungsi hati (jaundice), perdarahan usus dan masalah ginjal. Umbilicus yang nyeri tekan, merah dan membengkak seharusnya memicu kecurigaan terjadinya omfalitis (infeksi umbilicus) yang disebabkan oleh adanya sisa omfalomesenterik paten. Manifestasi inkarserasi maupun omfalitis adalah massa yang nyeri tekan, selulitis dan demam. Dalam membedakan kedua keadaan tersebut, adanya drainase yang purulen maupun jernih merupakan tanda duktus omfalomesenterik paten. Massa harus diperiksa secara cermat untuk melihat apakah mengandung isi abdomen. Ultrasonografi dapat membantu menegakkan diagnosis.

2.9. Prognosa Hernia umbilicalis mempunyai prognosa yang baik. Insiden residif bergantung pada umur, letak hernia, teknik hernioplastik atau herniotomi yang dipilih. Hernia umbilicalis pada bayi sangat jarang residif. Penyebab hernia umbilicalis residif antara lain: Kelemahan pada saat melakukan identifikasi kantong hernia Terjadinya infeksi pada luka operasi Kondisi yang menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan intra abdominal

2.10. Pencegahan Kelainan kongenital yang menyebabkan hernia memang tidak dapat dicegah, namun langkah-langkah berikut ini dapat mengurangi tekanan pada otot-otot dan jaringan abdomen: Menjaga berat badan ideal Seseorang yang obesitas memiliki resiko lebih tinggi menderita hernia umbilicalis. Konsumsi makanan berserat tinggi. Buah-buahan segar, sayur-sayuran dan gandum baik untuk kesehatan. Makananmakanan tersebut kaya akan serat yang dapat mencegah konstipasi. Mengangkat benda berat dengan hati-hati atau menghindari dari mengangkat benda berat. Berhenti merokok. Selain meningkatkan resiko terhadap penyakit-penyakit serius seperti kanker dan penyakit jantung, merokok seringkali menyebabkan batuk kronik yang dapat menyebabkan hernia umbilicalis.
9

BAB III DISKUSI DAN PEMBAHASAN


3.1. Anatomi 3.1.1. Struktur dinding anterior abdomen Dinding anterior abdomen dibentuk oleh: 1. Kulit Garis garis lipatan alami berjalan konstan dan hampir horizontal disekitar tubuh. Secara klinis hal ini penting karena insisi sepanjang garis lipatan ini akan sembuh dengan sedikit jaringan parut sedangkan insisi yang menyilang garis-garis ini akan sembuh dengan jaringan parut yang menonjol.

2. Fascia superficialis Fascia superficialis dapat di bagi menjadi lapisan luar, panniculus adiposus (fascia Camperi) dan lapisan dalam, stratum membranosum (fascia scarpae). Panniculus adiposus berhubungan dengan lemak superficial yang meliputi bagian tubuh lain dan mungkin sangat tebal (3 inci [8cm] atau lebih pada pasien obesitas).

3. Fascia profunda Fascia profunda pada dinding anterior abdomen hanya merupakan lapisan tipis jaringan ikat yang menutupi otot-otot; fascia profunda terletak tepat di sebelah profunda stratum membranosum fascia superficialis.

4. Otot dinding anterior abdomen Otot-otot dinding anterior abdomen terdiri atas tiga lapisan otot yang lebar, tipis dan didepan berubah menjadi aponeurosis. Otot tersebut dari luar ke dalam yaitu M.obliquus externus abdominis, M. obliquus internus abdominis dan M. transverses abdominis.

10

5. Fascia transversalis Fascia transversalis merupakan lapisan fascia tipis yang membatasi M.transversus abdominis dan melanjutkan diri sebagai lapisan sama yang melapisi diaphragma dan M.iliacus.

6. Lemak extraperitoneal Lemak extraperitoneal merupakan selapis tipis jaringan ikat yang mengandung lemak dalam jumlah yang bervariasi dan terletak diantara fascia transversalis dan peritoneum parietale.

7. Peritoneum parietale Dinding abdomen dilapisi oleh peritoneum parietale. Lapisan ini merupakan membrana serosa tipis dan melanjutkan diri kebawah dengan peritoneum parietale yang melapisi rongga pelvis.

3.1.2. Anatomi hernia Hernia meliputi 3 unsur, yaitu: 1. Kantong hernia (peritoneum parietalis) 2. Isi (Viskus) Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia. 3. Cincin hernia Merupakan bagian locus minoris resitence yang dilalui kantong hernia. Isi kantong hernia bervariasi, tetapi yang paling sering adalah organ dalam. Pada abdomen isi terbanyak adalah usus halus dan omentum majus.

11

Gambar 1. Bagian-bagian Hernia

Gambar 2. Hernia umbilicalis

3.2. Definisi Hernia umbilicalis merupakan suatu defek dinding abdomen persis dipusat umbilicus, berupa herniasi isi abdomen yang hanya tertutup peritoneum dan kulit akibat penutupan yang inkomplet dan tidak adanya fasia umbilicalis. Omentum dan usus dapat masuk ke dalam kantong hernia,khususnya bila bayi menangis. 3.3. Epidemiologi Hernia ini terdapat pada kira-kira 20% bayi dan angka ini lebih tinggi lagi pada bayi premature dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Tidak ada perbedaan angka kejadian pada bayi laki-lakidan perempuan. Terdapat insidensi yang lebih tinggi pada bayi keturunan Afrika dan Amerika. Insiden hernia umbilicalis 8 kali lebih sering pada bayi kulit hitam dibanding bayi kulit putih. Hernia umbilicalis pada orang dewasa merupakan lanjutan hernia umbilicalis pada anakanak. Perbandingan antara lelaki dan perempuan kira-kira 1:3. Hernia ini lebih sering terjadi pada wanita di usia 50-60 tahun. Diagnosis mudah dibuat seperti halnya pada anak-anak. Inkarserasi lebih sering terjadi dibandingkan dengan anak-anak.

12

3.4. Etiologi Hernia umbilicalis pada bayi dan anak terjadi karena defek fasia di daerah umbilicus dan manifestasinya terjadi setelah lahir. Selama kehamilan, tali pusat melewati sebuah lubang di dinding perut bayi. Pembukaan ini harus menutup sebelum kelahiran, tetapi dalam beberapa kasus otot-otot tidak menutup sepenuhnya. Hal ini membuat titik lemah pada dinding otot sekitarnya (dinding perut). Burut dapat berkembang ketika jaringan lemak atau bagian dari usus pokes melalui ke daerah dekat pusar. Waktu lahir pada fasia terdapat celah yang hanya dilalui tali pusat. Setelah pengikatan, puntung tali pusat sembuh dengan granulasi dan epitelisasi terjadi dari pinggir kulit sekitarnya.Waktu lahir banyak bayi dengan hernia umbilikalis karena defek yang tidak menutup sempurna dan linea alba tetap terpisah. Pada bayi prematur defek ini lebih sering ditemukan. Defek ini cukup besar untuk dilalui peritoneum, bila tekanan intraabdomen meninggi, peritoneum dan kulit akan menonjol dan berdekatan. Terdapat dua faktor predisposisi utama hernia umbilicalis yaitu peningkatan tekanan intraabdomen dan melemahnya dinding abdomen. Tekanan yang meningkat pada abdomen terjadi karena: 1. Mengangkat beban berat 2. Batuk PPOK 3. Tahanan saat miksi BPH atau karsinoma 4. Tahanan saat defekasi konstipasi atau obstruksi usus besar 5. Distensi abdomen yang mungkin mengindikasikan adanya gangguan intraabdomen 6. Perubahan isi abdomen, misalnya : adanya asites, tumor jinak atau ganas, kehamilan, lemak tubuh. Kelemahan dinding abdomen terjadi karena : 1. Umur yang semakin bertambah

13

2. Malnutrisibaik makronutrien (protein, kalori) atau mikronutrien (misalnya: Vit. C) 3. Kerusakan atau paralisis dari saraf motorik 4. Abnormal metabolisme kolagen. Seringkali, berbagai faktor terlibat. Sebagai contoh, adanya kantung kongenital yang telah terbentuk sebelumnya mungkin tidak menyebabkan hernia sampai kelemahan dinding abdomen akuisita atau kenaikan tekanan intraabdomen sehingga menyebabkan isi abdomen memasuki kantong tersebut.

3.5. Klasifikasi Hernia umbilicalis dapat diklasifikasikan atas 3 yaitu: 1. Hernia umbililicalis congenital / omphalocele Omphalocele adalah herniasi atau tonjolan (protusi) isi abdomen ke dasar tali pusat. Berbeda dengan hernia umbilicalis yang lebih lazim, kantongnya tertutup oleh peritoneum tanpa penumpangan kulit. Besarnya kantong yang terletak di luar rongga abdomen bergantung pada isinya. Omphalocale terjadi karena sebagian usus tengah (midgut) gagal kembali ke dalam cavitas abdominalis dari selom extraembrional pada masa kehidupan janin. 2. Hernia umbilicalis infantile didapat Merupakan hernia kecil yang kadang-kadang terjadi pada anak-anak. Terjadi pada 5% bayi kulit putih dan 20% bayi kulit hitam. Disebabkan oleh kelemahan parut umbilicus pada line alba. Sebagian besar akan menjadi lebih kecil dan menghilang tanpa pengobatan seiring dengan membesarnya cavitas abdominalis. 3. Hernia umbilicalis didapat pada orang dewasa Hernia ini lebih sering terjadi pada wanita yang obesitas dan multipara. Lebih tepatnya dianggap sebagai hernia paraumbilicalis. kantong hernia tidak menonjol melalui parut umbilicalis, tetapi melalui linea alba pada daerah umbilicus. Hernia paraumbilicalis lambat laun bertambah besar dan tergantung ke bawah. Leher badan kantong sering berisis lengkung-lengkung usus halus dan usus besar dan omentum. Hernia paraumbilicalis jauh lebih sering pada perempuan daripada laki-laki. Incarserasi dan strangulasi sering terjadi dan harus ditangani sedini mungkin berupa pembedahan ( mayo principle).
14

Table 1 . umbilical hernia Omphalocale Age at onset Jenis kelamin (sex) Ras Incidence Penyebab Skin cover Other anomalies Ukuran leher hernia Incarserasi Strangulasi Pengobatan bayi (premature) Sama Sama Jarang Congenital Tidak ada Sering Besar Jarang Jarang Pembedahan Infatile bayi (premature) Sama Adult Muda hingga tua Wanita > laki-laki

Kulit hitam > kulit putih Sama Very common Congenital Lengkap Biasa Kecil hingga besar Jarang Jarang Observasi Biasa Wear and tear Lengkap Biasa Jarang kecil Sering Sering Pembedahan

3.6. Patogenesa Hernia umbilicalis pada bayi dan anak terjadi karena defek fasia di daerah umbilicus dan manifestasinya terjadi setelah lahir. Waktu lahir pada fasia terdapat celah yang hanya dilalui tali pusat. Setelah pengikatan, puntung tali pusat sembuh dengan granulasi dan epitelisasi terjadi dari pinggir kulit sekitarnya.Waktu lahir banyak bayi dengan hernia umbilicalis karena defek yang tidak menutup sempurna dan linea alba tetap terpisah. Pada bayi prematur defek ini lebih sering ditemukan. Defek ini cukup besar untuk dilalui peritoneum, bila tekanan intraabdomen meninggi, peritoneum dan kulit akan menonjol dan berdekatan. Selain itu, hernia umbilicalis berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia umbilicalis. Karena organ-organ selalu selalu
15

saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah. Akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka menyebabkan nyeri umbilical dan kerusakan jaringan. Jika bagian dari usus terperangkap atau tidak dapat direposisi sehingga suplai darah terhambat maka terjadi kematian jaringan (gangrene). Infeksi dapat menyebar ke seluruh rongga perut dan menyebabkan situasi berbahaya yang mengancam jiwa.

3.7. Gejala klinis Hernia umbilicalis umumnya tidak menimbulkan nyeri dan pada bayi sangat jarang terjadi inkarserasi. Diagnosis tidak sukar yaitu dengan adanya defek pada umbilicus. Sedangkan pada dewasa sering mengalami inkarserasi atau stangulasi. Jika isi hernia tidak dapat direposisi, maka penderita merasakan nyeri jika penonjolan tersebut ditekan. Gejala khususnya muncul berdasarkan berat-ringan hernia: 1. Reponible Benjolan di daerah umbilicus, tampak keluar masuk (kadang-kadang terlihat menonjol, kadang-kadang tidak). Benjolan ini membedakan hernia dari tumor yang umumnya menetap. Ini adalah tanda yang paling sederhana dan ringan yang bisa dilihat dari hernia eksternal. 2. Irreponible Benjolan yang ada sudah menetap di daerah umbilicus. Pada hernia umbilicalis, misalnya usus atau omentum (penggantungan usus) masuk ke dalam rongga yang terbuka kemudian terjepit dan tidak bisa keluar lagi. Di fase ini, meskipun benjolan sudah lebih menetap tapi belum ada tanda-tanda perubahan klinis pada anak maupun orang dewasa. 3. Incarcerata Benjolan sudah semakin menetap karena sudah terjadi sumbatan pada saluran makanan di bagian tersebut. Tak hanya benjolan, keadaan klinis penderita pun mulai berubah dengan munculnya mual, muntah, perut kembung, tidak bisa buang air besar, dan tidak mau makan.

16

4. Strangulata Ini adalah tingkatan hernia yang paling parah karena pembuluh darah sudah terjepit. Selain benjolan dan gejala klinis pada tingkatan incarcerata, gejala lain juga muncul, seperti demam dan dehidrasi. Bila terus didiamkan lama-lama pembuluh darah di daerah tersebut akan mati dan akan terjadi penimbunan racun yang kemudian akan menyebar ke pembuluh darah. Sebagai akibatnya, akan terjadi sepsis yaitu beredarnya kuman dan toxin di dalam darah yang dapat mengancam nyawa penderita. Sangat mungkin penderita tidak akan bisa tenang karena merasakan nyeri yang luar biasa.

Gambar 3 dan 4. Hernia umbilicalis pada bayi

Gambar 5. Hernia umbilicalis pada orang dewasa

17

BAB IV KESIMPULAN
Hernia adalah menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah membentuk suatu kantong dengan berupa cincin. Hernia umbilicalis adalah suatu defek pada fascia cincin umbilical di dasar umbilicus yang memungkin terjadinya herniasi isi abdomen. Defek ditutupi pleh lapisan peritoneal dan kulit. Hernia umbilicalis disebabkan oleh kagagalan fasia cincin umbilical untuk menutup dan juga bisa terjadi karena adanya peningkatan tekanan intraabdomen secara terus-menerus. Manifestasi klinis dari hernia umbilicalis adalah adanya massa atau tonjolan pada abdomen area umbilicus. Penderita jarang merasakan nyeri. Jika terjadi inkarserasi atau strangulasi, aliran darah terganggu dan terputus sehingga menyebabkan jaringan mulai mati (nekrosis). Nekrosis jaringan bisa disertai dengan infeksi bakteri, sakit perut, muntah, dan shock. Jika sudah terjadi strangulasi atau incarserasi penanganan segera adalah dengan operasi. Sebagian besar hernia umbilicalis pada bayi menutup secara spontan tanpa intervensi medis atau bedah pada usia 4 tahun.

18

BAB V SARAN
Anamnesis yang teliti merupakan bagian terpenting untuk mendapatkan diagnosa yang tepat terhadahap suatu penyakit. Pemeriksaan seksama untuk lokasi, ukuran dan bentuk massa, permukaannya, konsistensi, batas, mobilitas dan pemeriksa mencoba mendorong benjolan

tersebut apakah benjolan dapat direposisi. Juga diperiksa apakah terasa nyeri jika ditekan. Jika nyeri mungkin terjadi hernia stangulata atau inkarserata. Jika terjadi strangulata maka pemeriksa dapat merekomendasikan penderita untuk melakukan terapi pembedahan sedini mungkin untuk menghindari gangguan pada aliran darah yang dapat menyebabkan jaringan mati ( nekrosis). Disini penulis menyadari dalam penulisan karya ilmiah dalam penulisan karya ilmiah ini banyak mengalami kekurangan, dan penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, semoga karya ilmiah ini dapat memberikan informasi serta semangat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

19

DAFTAR PUSTAKA

Ellis, Harold, Sir Roy Calne, dkk. 2008. General Surgery 11th edition. Singapore: Blackwell Publishing. Gleadle, Jonathan. 2005. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Glynn, Thomas J.Mc, John W.Burnside. 1995. Adams Diagnosis Fisik Edisi 17. Jakarta: EGC. Greenberg. Michael I. 2007. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Jakarta: Erlangga. Manthey, D. Hernia. http://www.emedicinehealth.com/hernia/article_em.htm. (diakses tanggal 12 april 2007). Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta: EGC. Moore, Keith L, Anne M.R.Agur. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta: Hipokrates. Nelson, Waldo E. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Jakarta: EGC. Newell, Simon J, Jonathan C.Darling. 2008. Paediatrics 8th edition. Singapore: Blackwell Publishing. Sabiston, David C. 1994. Buku Ajar Bedah. Jakarta: EGC. Sjamsuhidajat, R, Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC. Sjamsuhidajat, R, Wim de Jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: EGC. Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta: EGC. Swartz, Mark H. 1995. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta: EGC. Wolf, Stewart. 1989. Diagnosis Abdomen. Jakarta: EGC.

20