Anda di halaman 1dari 10

Fraktur Terbuka Tibia Aditya Wicaksono Putra 102011372 E9 26 Maret 2013 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat korespondensi: aditya_wicaksono_putra@yahoo.com Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510

Pendahuluan
Membahas tentang fraktur terbuka pada regio cruris 1/3 dextra tengah yang di alami seorang laki-laki berusia 30 tahun. Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. beberapa hal yang penting untuk dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan segera, secara hati-hati, debrideman yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat. Pembahasan Anamnesis Anamnesis adalah wawancara terhadap pasien. Hal pertama yang perlu ditanyakan kepada pasien adalah mengenai identitas pasien (tanyakan nama lengkap dan cocokkan dengan tabel nama, tanyakan tanggal lahir atau umur, jenis kelamin, nama orang tua atau suami atau istri atau penanggung jawab, pendidikan, pekerjaan, alamat, suku bangsa dan

agama) dan pastikan bahwa setiap rekam medis, catatan, hasil tes, dan sebagainya memang milik pasien tersebut. Tahap berikutnya adalah anamnesis keluhan utama. Anamnesis keluhan utama biasanya memberikan informasi terpenting untuk mencapai diagnosis banding, dan memberikan wawasan vital mengenai gambaran keluhan yang menurut pasien paling penting.1 Riwayat penyakit sekarang juga sangat penting untuk ditanyakan kepada pasien. Riwayat penyakit sekarang merupakan cerita yang kronologis yang berkaitan dengan keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang berobat. Anamnesis selanjutnya mengenai riwayat penyakit dahulu, obat dan alergi. Anamnesis bagian ini memberikan kita informasi mengenai semua masalah medis yang pernah timbul sebelumnya dan terapi yang pernah diberikan terhadap pasien, obat apa yang sedang atau sudah dikonsumsi pasien, apakah pasien alergi terhadap sesuatu, dan apakah pasien merokok ataupun mengkonsumsi alkohol. Setelah itu, seorang dokter juga penting untuk menanyakan riwayat pribadi pasien yang mencakup data-data sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebiasaan. Selain riwayat pribadi, riwayat keluarga dan sosial serta riwayat bepergian juga sangat penting untuk ditanyakan kepada pasien. Anamnesis ini membuat kita mendapat informasi mengenai penyakit apa saja yang pernah diderita oleh kerabat pasien, latar belakang pasien serta pengaruh penyakit yang mereka derita terhadap hidup dan keluarga mereka.1 Identitas Keluhan utama : Seorang laki-laki umur 30 tahun : Fraktur terbuka pada region cruris dextra 1/3 tengah bagian ventral

Pemeriksaan fisik pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis untuk menghindari kesalahan. Jika mungkin, gunakan rungan yang cukup luas sehingga pasien dapat bergerak bebas saat pemeriksaan gerakan atau berjalan. Tehnik inspeksi dan palpasi di lakukan untuk mengevaluasi integritas tulang, postur tubuh, fungsi sendi, kekuatan otot, cara berjalan dan kemampuan pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Dasar pengkajian bergantung pada keluhan fisik pasien dan riwayat kesehatan dan semua petunjuk fisik yang ditemukan. Pemeriksaan harus melakukan eksplorasi lebih lanjut. Hasil pemeriksaan fisik harus didokumentasikan dengan cermat. Hal-hal yang perlu dikaji pada skelet tubuh yaitu adanya deformitas dan ketidakkesejajaran yang dapat disebabkan oleh penyakit sendi pertumbuhan tulang abnormal, hal ini dapat disebabkan oleh adanya tumor tulang, pemendekan

ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak sejajar secara anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang, gerakan pada titik bukan sendi, teraba krepitasi pada titik gerakan abnormal menunjukan ada nya patah tulang. 2 Pemeriksaan penunjang Sinar-X Pemeriksaan sinar-X penting untuk mengevaluasi kelainan musculoskeletal. Sinar-X menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, erosi dan perubahan hubungan tulang. Sinar-X multiple di perlukan untuk pengkajian paripurna struktur yang sedang diperiksa. Sinar-X korteks tulang dapat menunjukan adanya pelebaran, penyempitan dan tanda iregularitas. Sinar-X sendi dapat menunjukan adanya cairan, iregularitas, penyempitan dan perubahan struktur sendi. Pemeriksaan sinar-X tulang tidak memerlukan persiapan khusus bagi pasien. 2 CT Scan Computed tomography (CT scan) merupakan prosedur yang menunjukan rincian bidang tertentu dari tulang yang sakit dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cedera ligament atau tendon. Pemeriksaan ini di gunakan untuk mengidentifikasi fikasi lokasi dan panjangnya patah tulang di daerah yang sulit di evaluasi misalnya asetabulum. Pemeriksaan dilakukan dengan atau tanpa zat kontras dan berlangsung sekitar 1 jam. Pasien perlu diberikan penjelasan bahwa akan terdengar suara mesin CT scan, dan bunyi ini tidak berbahaya sehingga pasien tidak merasa takut saat pemeriksaan dilakukan. 2 MRI Magnetic resonance imaging (MRI) adalah teknik pencitraan khusus yang noninvasif, menggunakan medan magnet, gelombang radio dan computer untuk melihat abnormalitas berupa tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak, seperti otot, tendon dan tulang rawan. Oleh karena yang di gunakan electromagnet, pasien yang mengenakan implant logam, brace atau pacemaker tidak dapat menjalanin pemeriksaan ini. Perhiasan harus di lepas, pasien yang menderita klaustrofobia biasanya tidak mampu menghadapi rungan tertutup pada peralatan MRI tanpa penerangan.2 Penyebab fraktur tulang

penyebab fraktur tulang yang paling sering adalah trauma, terutama pada anak-anak dan dewasa. Jatuh dan cedera olahraga adalah penyebab umum fraktur traumatic. Pada anak, penganiayaan harus dipertimbangkan ketika mengevaluasi fraktur, terutama apabila terdapat riwayat fraktur sebelumnya atau apabila riwayat fraktur saat ini tidak meyakinkan. Beberapa fraktur dapat terjadi setelah trauma minimal atau tekanan ringan apabila tulang lemah. Hal ini disebut fraktur patologis. Porosis atau individu yang mengalami tumor tulang, infeksi atau penyakit lain. Fraktur stress dapat terjadi pada tulang normal akibat stress tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang. Fraktur stress yang juga disebut fraktur keletihan (fatigue fracture), biasanya menyertai peningkatan yang cepat tingkat latihan atlet atau permulaan aktivitas fisik yang baru. Karena kekuatan otot meningkat lebih cepat dari pada kekuatan tulang, individu dapat merasa mampu melakukan aktivitas melebihi tigkat sebelumnya walaupun tulang mungkin tidak mampu menunjang peningkatan tekanan. 3 Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring. Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari

tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan. Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi, kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan. 3 Patofisiolgi ketika tulang patah, sel tulang mati. Perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat tulang yang patah dan ke dalam jaringan lunak di sekitar tulang tersebut. Jaringan lunak biasanya mengalami kerusakan akibat cedera. Reaksi inflamasi iang intens terjadi setelah patah tulang. Sel darah putih dan sel mast berakumulasi sehingga menyebabkan peningkatan aliran darah ke area tersebut. Fagositosis dan pembersihan debris sel mati di mulai. Bekuan fibrin (hematoma fraktur) terbentuk di tempat patah dan berfungsi sebagai jala untuk melekatnya sel-sel baru. Aktivitas osteoblas segera terstimulasi dan bentuk tulang baru imatur, yang disebut kalkus. Bekuan fibrin segera di reabsorbsi dan sel tulang baru secara perlahan mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan kalus dan secara perlahan mengalami klasifikasi. Penyembuhan memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan (fraktur pada anak sembuh lebih cepat). Penyembuhan dapat

terganggu atau terlambat apabila hematoma fraktur atau kalus rusak sebelum tulang sejati terbentuk, atau apabila sel tulang baru rusak selama kalsifikasi dan pengerasan. 3 komplikasi yang dapat terjadi seperti delayed union atau mal-union tulang dapat terjadi yang menimbulkan deformitas atau hilangnya fungsi. Sindrom kompartemen dapat terjadi di tandai oleh kerusakan atau destruksi saraf dan pembuluh darah yang disebabkan oleh pembengkakan dan edema fraktur. Dengan pembengkakan interstisial dan yang itens, tekanan pada pembuluh darah yang menyuplai daerah tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah tersebut kolaps. Hal ini menimbulkan hipoksia jaringan dan dapat menyebabkan kematian saraf yang mempesarafi daerah tersebut, embolus lemak dapat timbul setelah patah tulang, terutama tulang panjang. Emboli lemak dapat timbul akibat pajanan sumsunm tulang atau dapat terjadi akibat aktivitas sistem saraf simpatis yang menimbulkan stimulasi mobilisasi asam lemak bebas setelah trauma. Embolus lemak yang timbul setelah patah tulang panjang sering tersangkut di sirkulasi paru dan dapat menimbulkan gawat napas dan gagal napas.3 Jenis fraktur

Fraktur dapat dibagi menjadi dua macam yaitu, fraktur tertutup ( closed ), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan hubungan dunia luar dan fraktur terbuka ( Open / Compound ), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan dikulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat yaitu derajat I, Luka < 1 cm, Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk, Fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau kominutif ringan, Kontaminasi minimal. Derajat II, Laserasi > 1 cm, Kerousakan jaringan lunak, tidak luas, fraktur kominutif sedang, kontaminasi sedang sedangkan derajat III, terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur komplet patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. Fraktur tidak komplet patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang. Fraktur tertutup fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit. Fraktur terbuka fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.4 1) Greenstick : Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya membengkok.

2) Tranversal : Fraktur sepanjang garis tengah tulang. 3) Oblik : Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang. 4) Spiral : Fraktur memuntir seputar batang tulang 5) Kominutif : Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen 6) Depresi : Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam 7) Kompresi : Fraktur dimana tulang mengalami kompresi 8) Patologik : Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit 9) Avulsi : Tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendon pada perlekatannya 10) Epifiseal : Fraktur melalui epifisis 11) Impaksi : Fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

Fraktur tibia

tibia terpapar terhadap banyak jenis trauma kendaraan, industry, dan atletik. Karena permukaan anterior tibia terletak subkutis diseluruh panjangnya, maka fraktur tibia sering merupakan cedera terbuka. Juga karena lokasinya subkutis, maka suplai darah ke tibia kurang dari pada untuk tulang lain, serta infeksi dan penyatuan tertunda dan non-union lebih lazim ditemukan. Untuk fraktur korpus tibia yang tertutup, reduksi dicapai secara manual di bawah anestesi umum atau spinalis serta imobilisasi yang diberikan oleh gips tungkai yang panjang. Fluoroskopi membantu tercapainya reduksi. Reposisi bertujuan mendapatkan kembali panjang serta mengoreksi keselarasan rotasi dan sudut. Dengan reduksi memuaskan, maka memikul berat badan dapat di mulai dalam 3-4 minggu atau bila ada kalus fraktur yang adekua. Penyembuhan padat bisa timbul dini 12 sampai 14 minggu pada pasien muda, tetapi penyatuan sampai 6 bulan tidak jarang ditemukan. Untuk fraktur korpus tibia terbuka, debridement segera, irigasi dan antibiotika diperlukan. Penutupan luka primer biasanya tidak diindikasikan. Kehilangan kulit tidak jarang ditemukan pada pada trauma keras, serta

penutupan tertunda dengan graft sebagian ketebalan kulit, graft seluruh ketebalan kulit atau flap otot rotasi mungkin di perlukan. Kebutuhan untuk perawatan luka ini bisa membuat penatalaksanaan gips sulit di lakukan. Fiksasi dapat dicapai dengan pin rangka transversa di atas dan di bawah fraktur yang diletakan ke rangka luar yang memungkinkan jalan ke luka. fiksasi bedah pada fraktur tibia diindikasikan bila reduksi adekuat tidak dapat dicapai atau dipertahankan dengan metode tertutup dan bila perawatan pasien keseluruhan akan dipermudah dengan ambulasi dini. Plat dan batang intramedulla telah digunakan untuk fiksasi interna. Intervasi bedah untuk fraktur tertutup memberikan resiko infeksi dan harus di pertimbangkan terhadap resiko terapi tertutup. Karena pasien fraktur tibia dapat dimobilisasi segera menggunakan tongkat ketiak, maka intervensi bedah kurang direkomendasikan.5

Penatalaksanaan

Untuk fraktur lengan atau tungkai, tindakan kedaruratan terdiri atas pembidaian anggota gerak diatas dan di bawah bagian yang dicurigai mengalami fraktur, pembidaian ini bertujuan untuk imobilisasi, kompres dingin untuk mengurangi rasa nyeri dan edema, elevasi anggota gerak tersebut untuk megurangi rasa nyeri dan edema, penanganan fraktur berat yang menyebabkan kehilangan darah meliputi, penekanan langsung untuk mengendalikan pendarahan, penggantian cairan dengan memasanginfus secepat mungkin untuk mencegah atau mengatasi syok hipovoemik. Sesudah memastikan diagnosi fraktur, penanganan dimulai dengan reposisi. Reposisi tertutup meliputi, manipulasi manual, anestesi lokal (lidokain [xylocaine]), obat analgenik (seperti penyuntikan morfin IM), obat relaksan otot (seperti diazepam [valium] IV ) atau sedatif (seperti midazolam [versed]) untuk memudahkan perengangan otot yang diperlukan untuk meuruskan tulang yang patah, kalau raposis tertutup tudak memungkinkan dikerjakan maka tindaka reposisi terbuka dengan pembedahan meliputi, imobilisasi fraktur dengan bantuan paku, plat atau skup dan pemasangan gips, terapi profilaksis tetanus,terapi profilaksis antibiotic, pembedahan untuk memperbaiki kerusakan pada jaringan lunak, pembersihan atau debridemen luka secara cermat, fisioterapi sesudah gips dilepas untuk memulihkan mobilitas anggota gerak, kalau pemasangan bidai tidak berhasil mempertahankan reposisi maka kita dapat melakukan imobilisasi yang memerlukan traksi kulit atau skeletal dengan menggunakan beban dan katrol. Tindakan ini dapat meliputi, pemasangan pembalut elastis dan tutup kulit domba untuk memasang alat traksi kulit pasien (traksi kulit), pemasangan pen atau kawat pada ujng tulang di sebelah

distal fraktur yang kemudian disambung dengan beban untuk memungkinkan traksi dalam waktu lama ( traksi skeletal). Pertimbangan khusus awasi timbulnya tanda-tand syok pada pasien fraktur terbuka tulang panjang yang parah, seperti fraktur terbuka femur, pantau tandatanda vital dan waspadai khususnya denyut nadi yang cepat, tekanan darah yang memurun, pasien yang tampak pucat, serta kulit yang teraba dingin dan basah. Semua gejala ini dapat menunjukan bahwa pasien berada dalam keadaan syok, beri infus cairan, tenteramkan kekhawatiran pasien yang mungkin merasa takut dan nyeri, redakan rasa nyeri dengan obat analgetik jika diperlukan, bantu pasien menetapkan tujuan pemulihan yang realistis. Jika fraktur tersebut memerukan imobilisasi yang lama dengan pemasangan traksi, atur kembali posisi tubuh pasien dengan sering untuk meningkatkan kenyamannanya dan mencegah dekubitus. Bantu pasien melakukan latihan otot untuk mencegah atrofi. Dorong pasien agar mau bernafas dalam dan batuk untuk menghindari peneumonia hipostatik. Anjurkan pasien agar mau minum dengan cukup untuk mencegah stasis urine dan konstipasi. Awasi kemungkinan timbul tanda-tandan batu ginjal (sakit pinggang, mual dan muntah). Lakukan perawatan gips yang baik dan sangga anggota gerak yang di gips itu dengan bantal, dorong dan bantu pasien untuk secapat mungkin mulai bergerak menurut kemampuanya, sesudah gips dibuka, rujuk pasien kepada petugas fisioterapi untuk memuihkan mobilitas anggota gerakan.6 Komplikasi Dini Komplikasi dini berupa Compartment syndrome, terutama terjadi pada fraktur proksimal tibia tertutup. Komplikasi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan vaskularisasi tungkai bawah yang dapat mengancam kelangsungan hidup tungkai bawah. Yang paling sering terjadi yaitu anterior compartment syndrome. Penanganannya dalam waktu kurang dari 12 jam harus dilakukan fasiotomi. Lanjut 1. Malunion: Biasanya terjadi pada fraktur yang komunitif sedang imobilisasinya longgar, sehingga terjadi angulasi dan rotasi. Untuk memperbaikinya perlu dilakukan osteotomi. 2. Delayed union:

Terutama terjadi pada fraktur terbuka yang diikuti dengan infeksi atau pada fraktur yang komunitif. Hal ini dapat diatasi dengan operasi tandur alih tulang spongiosa. 3. Non union: Disebabkan karena terjadi kehilangan segmen tulang tibia disertai dengan infeksi. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan bone grafting menurut cara Papineau. 4. Kekakuan sendi: Hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang terlalu lama. Pada persendian kaki dan jari-jari biasanya terjadi hambatan gerak. Hal ini dapat diatasi dengan fisioterapi. Prognosis Prognosis dari fraktur region cruris untuk kehidupan adalah baik. Pada sisi fungsi dari kaki yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke perfoma semula,namun hal ini sangat tergantung dari gambaran frakturnya, macam terapi yang dipilih, dan bagaimana respon tubuh terhadap pengobatan.

Penutup
Kesimpulan Fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi adalah fraktur pada tibia yang bisa disebabkan oleh benturan keras oleh kecelakaan. Fraktur terbuka pada tibia termasuk luka kompleks, sehingga tentunya penanganannya juga tidak sederhana. Sebagai dokter umum, anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap diperlukan jika terjadi fraktur. Selain itu, pemeriksaan radiologis juga penting .Penatalaksanaan dari fraktur tergantung dari kondisi frakturnya, bisa dengan operatif maupun non operatif.

Daftar Pustaka

1. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga, 2007.h.116. 2. Suratun, Heryati, Manurung S. Klien gangguan sistem musculoskeletal. Jakarta. EGC. Cetakan 1; 2008. h. 18-26.

3. Corwin EJ. Patofisologi. Jakarta. EGC. Edisi 3. Cetakan 1; 2009. h. 336-8 4. Patel RP. Radiologi. Jakarta. Penerbit Erlangga. Edisi kedua; 2006. h. 222 5. David C. Buku ajar bedah. Jakarta. EGC. Cetakan pertama; 2005. h. 385 6. Kowalak JP, Welsh W, Mayer B. Buku ajar patofisiologi. Jakarta, EGC, Cetakan pertama; 2011. h. 403-6

Anda mungkin juga menyukai