Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Latar belakang Anak tunarungu (ATR) merupakan individu yang unik, pada umumnya memiliki potensi atau kekuatan yang dapat dikembangkan demi tercapainya keseimbangan, keserasian dan berintekrasi terhadap lingkungan, apakah itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Potensi tersebut akan dapat diarahkan dan dikembangkan seoptimal mung-kin. Hal ini tentu sangat erat keterkaitannya dengan bahasa yang digunakan .Bahasa merupakan sarana komunikasi yang sangat penting di dalam berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, dengan bahasa manusia dapat mengemukakan pendapatnya dan mengekspresikan perasaannya. Tuna rungu merupakan suatu kondisi kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat-alat pendengaran. Anak dengan tuna rungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehlangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa (Suryanah, 1996). Pendengaran merupakan alat sensoris utama untuk berbicara dan berbahasa. Kehilangan pendengaran sejak lahir atau sejak lahir atau sejak usia dini akan menyebabkan kesulitan dalam berbicara dan berkomunikasi sdengan orang lain secara lisan. Kehilangan pendengaran pada seorang anak juga berpengaruh pada perkembangan kognitifnya, karena anak tunarunggu mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang bersifat verbal terutama konsep-konsep yang bersifat abstrak yang memerlukan penjelasan. Pemahaman konsep dan proses pembentukan pengertian betapa pun sederhananya diperlukan keterampilan berbahasa yang memadai sebab bahasa merupakan alat berfikir. Anak tuna rungu mengalami kesulitan dalam berbahasa secara lisan, oleh karena itu anak tuna rungu mengalami kesulitan dalam mengikuti program pendidikan.

1|P S IK U NS R I P A LE MBA NG

Di dalam jurnal yang berjudul Pengaruh Penerapan Metode Jari Magic terhadap Hasil Belajar Siswa Tuna Rungu Kelas II SDLB-B Karya Mulia I Surabaya dijelaskan salah satu permasalahn pada anak tuna rungu yaitu minimnya pemahaman anak tuna rungu terhadap materi pelajaran, termasuk pada mata pelajaran matematika mengenai operasi hitung perkali karena kurang berfungsinya indera pendengaran. Sebagian siswa tunarungu mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal perkalian matematika, selain itu siswa tunarungu yang mampu menyelesaikan soal perkalian merasa bosan dengan cara penyelesaian yang lama. Siswa tunarungu mengalami hambatan dalam memahami hal-hal yang bersifat abstrak karena keterbatasan persepsi dengarnya. Hal ini yang menyebabkan siswa tunarungu mengalami kesulitan menyelesaikan soal-soal matematika yang bersifat abstrak. Diperkuat oleh pendapat Soedjadi dalam Heruman (2010:1) bahwa beberapa karakteristik yang dimiliki ilmu matematika yang perlu diketahui dan salah satunya adalah obyek yang dipelajari bersifat abstrak. Didalam jurnal ini peneliti mencoba mengajarkan terapi jari magic kepada anak tuna rungu untuk membantu anak tuna rungu memahami pelajaran matematika, dimana jarimagic ini memiliki kelebihan yang dapat membantu anak tuna rungu memahami soal perkalian. Dimana kelebihan dari jari magic diajarkan pada siswa tunarungu dapat membuat siswa tuna rungu merasa senang mengadakan kontak fisik dengan jari-jarinya sehingga siswa tidak bosan untuk menyelesaikan soal perkalian. Selain itu, jarimagic diajarkan kepada siswa dengan cara anak diajak belajar sambil bermain dengan menggunakan jari-jarinya sendiri yang asyik dan menyenangkan. Sehingga itu dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk mempelajari perkalian. Pernyataan tersebut bisa dibuktikan dengan peningkatan hasil tes yang telah

diberikan, dari hasil rekapitulasi pre tes dan post tes mengalami peningkatan pada saat pos tes setelah diberikan intervensi. Dengan demikian terbukti bahwa metode jari magic merupakan intervensi yang tepat untuk mengoptimalkan hasil belajar perkalian pada siswa tunarungu. Selain memiliki kelebihan jarimagic juga memiliki kelemahan yaitu di dalam aspek menghitung hasil menggunakan langkah-lamgkah jarimagic,ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan sehingga membutuhkan bantuan / instruksi. Sehingga dalam
2|P S IK U NS R I P A LE MBA NG

menerapkan jarimagic ini di butuhkan bantuan dan motivasi lebih dari guru untuk melatih secara berulang-ulang karena apabila tidak sering diulang-ulang siswa akan lupa sehingga materi atau metode yang disampaikan dapat diterima dan diserap oleh siswa secara maksimal. Proses memberikan terapi jari magic ini juga memiliki hambatan dalam penyerapan dan pemahaman metode jarimagic diajarkan. Dimana hasil belajar merupakan prestasi belajar yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar perkalian dapat dilihat dari 2 faktor yaitu faktor dari dalam diri siswa (internal) dan faktor dari luar diri siswa (ekstrenal). Faktor dalam diri siswa meliputi intelegensi/ kecerdasan, minat dan bakat serta motivasi. Hasil penelitian ditemukan bahwa siswa belum bisa menyelesaikan soal perkalian dengan cepat karena siswa belum terbiasa melakukan hitungan dengan cepat untuk menyelesaikan soal-soal perkalian, maka dari itu siswa perlu diberi latihan-latihan soal perkalian agar siswa terbiasa mengerjakan soal perkalian sehingga waktu pengerjaannya juga bisa lebih cepat. Sedangkan faktor yang berasal dari luar siswa meliputi faktor guru,metode,alat dan lingkungan. Dimana dibutuhkan guru, metode dan alat serta lingkungan yang mendukung dan apabila itu tidak mendukung akan menjadi hambatan dalam meberikan bantuan untuk melatih jarimagic ini. Melihat masih terdapatnya kekurangan dan hambatan dalam pelaksanaan metode ini, makan diperlukan perbaikan terhadap strategi pembelajarannya atau memberikan bantuan atau bimbingan kepada siswa dalam bentuk remidial agar siswa mendapatkan layanan khusus untuk memperbaiki hasil belajarnya. Selain itu, hal ini juga memberikan motivasi terhdap siswa agar siswa merasa lebih bersemangat untuk belajar dan dapat berprestasi juga seperti anak normal. Dari latar belakang di atas maka penulis menganalisis tentang asuhan keperawatan yang tepat terhadap anak dengan tuna rungu agar dapat meningkatkan kemampuannya dan tidak mengalami gangguan psikologi sosial di tengah masyarakat.

3|P S IK U NS R I P A LE MBA NG

BAB II ANALISIS KEKUATAN DAN HAMBATAN PADA TUNA RUNGU

2.1 Kekuatan (Strength) Berdasarkan jurnal penelitian di atas, maka kekuatan yang dimiliki oleh seorang tunarungu adalah sebagai berikut : a. Positive thinking (Berpikir positif) Tuna rungu merupakan suatu kondisi kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya alat-alat pendengaran. Tunarungu tidak akan pernah mendengar pengaruh buruk di masyarakat, baik dari interaksi social seperti cemoohan, gossip, kata-kata kasar maupun dari pengaruh media televisi sehingga pemikirannya tidak akan terkontaminasi. Hal ini merupakan kekuatan yang dimiliki oleh orang dengan kecacatan (impairment) selain tunarungu. Selain itu, perawat akan lebih mudah masuk ke dalam kehidupannya. b. Diam dan Lebih Banyak Berpikir Tunarungu memiliki keterbatasan kosa kata dikarenakan ketidakmampuan dalam menerima stimulus bahasa sejak masa anak. Tunarungu akan cenderung diam. Diam merupakan kesempatan yang besar baginya untuk berpikir. Sehingga, sebagian besar waktunya akan dihabiskan untuk memberikan kesibukan diri seperti belajar, membaca buku, browsing, dan sebagainya. Hal ini dapat mengasah otak kirinya yang salah satunya adalah kemampuan matematika. 2.2 Hambatan Hambatan yang dihadapi oleh seorang tunarungu adalah a. Sulit berkomunikasi Asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian sampai evaluasi. Meskipun saat pengkajian dapat dilakukan dengan pendekatan data dari orang terdekat, seperti orangtua, namun saat implementasi, perawat tetap berhadapan langsung dengan klien. Solusi yang dapat dilakukan adalah pelatihan khusus bagi perawat agar mampu

4|P S IK U NS R I P A LE MBA NG

berkomunikasi dengan tetap mempertahankan komunikasi teraupetik terhadap tunarungu dan hal ini tidak semua perawat dapat lakukan. 3. Cara Mengatasi a. Perawat yang melakukan intervensi adalah perawat yang telah mengikuti pelatihan khusus komunikasi seperti bahasa isyarat dengan tuna rungu b. Pendekatan yang bisa dilakukan saat melakukan proses keperawatan adalah pendekatan orang terdekat klien. Misalnya ibu atau ayah atau sanak saudara lain.

5|P S IK U NS R I P A LE MBA NG

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA ANAK TUNA RUNGU

2.1

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan anomaly kongenital, harapan yang tidak terpenuhi 2. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan perlambatan dalam pemenuhan tugas perkembangan danperilaku atau nilai sosial yang tidak diterima.

2.2

INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan 1 : Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan anomali congenital dan harapan yang tidak terpenuhi.

NOC : Harga diri Kriteria Hasil : 1. Mengungkapkan penerimaan diri 2. Komunikasi terbuka 3. Mengetahui kekuatan diri 4. Melakukan perilaku yang dapat meningkatkan kepercayaan diri

NIC : Peningkatan harga diri 1. Pantau frekuensi pengungkapan diri yang negatif 2. Ajarkan orang tua akan pentingnya ketertarikan dan dukungannya terhadap perkembangan konsep diri yang positif pada anak. 3. Hindari tindakan yang dapat melemahkan pasien. 4. Tekanan kekutan diri yang dapat diidentifikasi oleh pasien 5. Berikan penghargaan atau pujian terhadap perkembangan pasien dalam pencapain tujuan 6. Bantu pasien mengidentifikasi dampak teman sebaya terhadp perasaan penghargaan terhadap diri.

6|P S IK U NS R I P A LE MBA NG

Diagnosa Keperawatan 2 : Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan perlambatan dalam pemenuhan tugas perkembangan dan perilaku atau nilai sosial yang tidak diterima. NOC : Keterlibatan Sosial Kriteria Hasil : 1. Melaporkan adanya interaksi dengan teman dekat, tetangga, anggota keluarga. 2. Memulai berhubungan dengan orang lain. 3. Mengembangkan hubungan satu sama lain. 4. Mengembangkan keteramplan sosial yang dapat mengurangi isolasi. 5. Melaporkan adanya peningkatan dukungan sosial.

NIC : Peningkatan Sosialisasi 1. Dentifikasi dengan pasien faktor-faktor yang berpengaruh pada perasaan isolasi sosial. 2. Dukung hubungan dengan orang lain yang mempunyai ketertarikan dan tujuan yang sama. 3. Dukung usaha-usaha yang dilakukan pasien, keluarga dan teman-teman untuk berinteraksi. 4. Kurangi stigma isolasi dengan menghormati martabat pasien. 5. Berikan umpan balik tentang peningkatan dalam penampilan diri, atau aktivitas lainnya. 6. Anjurkan sabar dalam membangun hubungan baru 7. Anjurkan menghargai hak orang lain. 8. Gunakan teknik bermain peran untuk meningkatkan keterampilan dan teknik berkomunikasi. 9. Kaji pola interaksi pasien dengan orang lain.

7|P S IK U NS R I P A LE MBA NG

DAFTAR PUSTAKA

Suryanah.1996. Keperawatan Anak untuk Siswa SPK. Jakarta : EGC Wilkinson, Judith. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC.

8|P S IK U NS R I P A LE MBA NG

LAMPIRAN

9|P S IK U NS R I P A LE MBA NG

PENGARUH PENERAPAN METODE JARIMAGIC TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA TUNARUNGU KELAS III SDLB-B KARYA MULIA I SURABAYA

Maruli Andria Puspasari Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Lack of auditory functioning in students with hearing impairment caused delayed language development and contributes to the understanding of hearing impairment children on the subject matter, including the math multiplication on the count operation. Arithmetic multiplication operation is as important as other arithmetic operations that children need to learn in order to solve problems in daily life. In the completion of the count operation of abstract multiplication for hearing impairment children need special methods that suitable for the needs. The purpose of this study was to determine the effect of the application of the method fingermagic on multiplication learning outcomes of hearing impairment students in third grade SDLB-B Karya Mulia I Surabaya. Conclusion the ZH value = 2.08> 1.98, then the result can be concluded Ho is rejected and Ha accepted or there is significant influence between the application of fingermagic methods to multiplication learning outcomes of students with hearing impairment SDLB-B Karya Mulia I Surabaya.

Keywords: fingermagic, learning outcomes, students with hearing impairment

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan di Sekolah Dasar. Banyak siswa yang memandang matematika sebagai mata pelajaran yang paling sulit. Walau demikian matematika harus dipelajari karena matematika merupakan sarana untuk memecahkan masalah berhitung dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dalam bahasa,membaca dan menulis ( Abdurrahman dalam Bandi 2009:1). Banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan membosankan, namun di satu sisi beberapa siswa menilai bahwa matematika adalah mata pelajaran yang asyik dan menantang. Ada beberapa faktor tertentu yang mendasari pemikiran siswa terhadap mata pelajaran matematika. Pada umumnya siswa menyukai matematika karena faktor pola pengajaran guru atau orang tua yang menyenangkan dan kreatif.
10 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

Sebaliknya, siswa tidak suka belajar matematika karena malas menghafal sehingga nilainya menjadi jelek kemudian timbul trauma pada matematika. Selain itu kebanyakan para siswa kurang menyukai proses yang sistematis,mereka lebih suka cara praktis. Salah satu yang dipelajari dalam matematika yaitu operasi hitung. Operasi hitung yang dimaksud yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Yang diteliti dalam penelitian ini adalah operasi hitung perkalian. Perkalian merupakan operasi dasar berhitung utama yang harus dipelajari oleh siswa setelah mereka mempelajari operasi penambahan dan pengurangan. Perkalian adalah

penjumlahan berulang dengan angka yang sama. Operasi perkalian yang terdapat pada mata pelajaran matematika pada sekolah dasar, termasuk di sekolah luar biasa untuk siswa

tunarungu yang kurang memahami hal-hal yang bersifat abstrak. Hal ini ditegaskan pula oleh Runtukahu yang menyebutkan bahwa operasi perkalian sama dengan operasi hitung lainnya yang perlu dipelajari agar anak dapat memecahkan masalah berhitung dalam kehidupan nyata (1996:109). Dilihat dari usia perkembangan kognitif, siswa SD masih terikat pada objek konkret yang dapat ditangkap oleh panca indera. Dalam pembelajaran matematika yang abstrak, siswa memerlukan alat bantu berupa media dan alat peraga yang dapat memperjelas materi yang diberikan guru. Hal ini diperkuat oleh Ruseffendi yang menyatakan bahwa dalam menyelesaikan soal perkalian sebelum sampai pada angka-angka (model simbol) diperagakan dulu model kongkrit atau model gambarnya,baru kemudian di ubah dalam simbol (1990 : 38). Tujuannya yaitu agar siswa dapat memahami kalimat matematika yang ditulis dengan simbol tersebut. Menurut Somantri (2007:93) mengatakan bahwa tunarungu diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan dengar. Kurang berfungsinya indera pendengaran yang dialami anak tunarungu merupakan faktor utama minimnya pemahaman anak tuna rungu terhadap materi pelajaran, termasuk pada mata pelajaran matematika mengenai operasi hitung perkalian. Sebagian siswa tunarungu mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal perkalian matematika, selain itu siswa tunarungu yang mampu menyelesaikan soal perkalian mereka bosan dengan cara penyelesaian yang lama. Siswa tunarungu mengalami hambatan dalam memahami hal-hal yang bersifat abstrak karena keterbatasan persepsi dengarnya. Hal ini yang menyebabkan siswa tunarungu mengalami kesulitan menyelesaikan soal-soal matematika yang bersifat abstrak. Diperkuat oleh pendapat Soedjadi dalam Heruman (2010:1) bahwa beberapa karakteristik yang dimiliki ilmu matematika yang perlu diketahui dan salah satunya adalah obyek yang dipelajari bersifat
11 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

abstrak. Pembelajaran matematika yang baik adalah dimulai dari hal yang konkret menuju yang abstrak (konkret, semikonkret, semi abstrak,abstrak). Jarimagic diajarkan pada siswa tunarungu agar anak merasa senang mengadakan kontak fisik dengan jari-jarinya, dimana jarimagic merupakan teknik berhitung yang menyenangkan karena sifatnya yang teratur, sistematis, logis serta dinamis. Maksud jarimagic diajarkan kepada siswa yaitu anak diajak belajar sambil bermain dengan menggunakan jari-jarinya sendiri yang asyik dan menyenangkan. Dengan hambatan yang dialami siswa tunarungu dalam memahami hal yang bersifat abstrak,yang dalam hal ini perkalian matematika, serta pemahaman tentang materi yang diberikan dalam kegiatan belajar mengajar maka secara tidak langsung akan mempengaruhi hasil belajar anak tunarungu. Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai dalam penguasaan materi dan ilmu pengetahuan yang merupakan suatu kegiatan menuju terbentuknya kepribadian yang berkarakter. Pembelajaran yang berkarakter dalam hal ini misalnya siswa mau mencoba mengerjakan soal ke depan, siswa gigih dalam mengerjakan soal yang diberikan guru, serta teliti dalam menyelesaikan soal perkalian. Bila dilihat secara fisik, siswa tunarungu tidak berbeda dengan siswa normal lainnya. Mereka tidak memiliki masalah dalam menulis dan melihat,bedanya yaitu pada perkembangan bahasanya. Bahasa matematika tidaklah sama dengan bahasa konvensional. Sifat bahasanya praktis dan mudah dipahami. Hal itulah yang menjadikan peneliti yakin bahwa jarimagic mudah dipahami dan praktis. Siswa normal dapat menyerap informasi yang didengarnya, sedangkan siswa tunarungu kesulitan menyerap informasi yang didapat dari lingkungannya karena hambatan pada pendengarannya. Anak menyerap segala yang didengarnya dan segala sesuatu yang didengarnya itu merupakan suatu latihan berpikir, dalam penelitian ini dengan bahasa matematika akan melatih siswa untuk berfikir praktis. Akan tetapi, hal tersebut tidak dialami oleh siswa tunarungu maka peneliti memasukkan bahasa matematika dalam operasi hitung. Di samping itu, bahasa merupakan kunci masuknya berbagai ilmu pengetahuan sehingga keterbatasan dalam kemampuan berbahasa menghambat siswa tunarungu untuk memahami berbagai pengetahuan lainnya. Dari hasil pengamatan data lapangan di SDLB-B Karya Mulia I Surabaya melalui observasi, ditemukan bahwa hasil belajar yang diperoleh dalam mata pelajaran matematika dalam hal perkalian masih belum memuaskan. Hal ini dapat dilihat melihat rata-rata nilai ulangan harian matematika dengan materi perkalian kelas III yaitu 66,sedangkan batas minimum yang ditentukan sekolah 70. Dalam pembelajaran siswa dalam menyelesaikan perkalian matematika masih menggunakan penjumlahan beruntun sehingga memerlukan
12 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

waktu yang lama dalam penyelesaian soal perkalian. Mereka kurang mampu menerima dan memahami konsep dari materi pembelajaran tanpa adanya metode pembelajaran khusus. Metode jarimagic belum diterapkan di SDLB-B Karya Mulia I Surabaya khususnya dibidang mata pelajaran matematika,sebelumnya pernah menggunakan metode jarimatika namun belum mendapatkan hasil yang memuaskan karena materi yang diberikan langsung pada perkalian diatas bilangan 6 dan posisi jari berubah-ubah sehingga siswa cepat lupa. Berdasarkan teori dan fakta dilapangan maka perlu dilakukan penelitian ulang dan mengembangkan penemuan-penemuan yang sudah ada,maka peneliti akan melakukan penelitian tentang Pengaruh Penerapan Metode Jarimagic Terhadap Hasil Belajar Perkalian Siswa Tunarungu Kelas III SDLB-B Karya Mulia I Surabaya.

METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena data yang digunakan berupa angka matematis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen, khususnya jenis penelitian pra-eksperimen. Dalam rancangan pra eksperimen berupaya

untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat hanya dengan cara melibatkan satu kelompok subyek. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain one group pre test post test design. Yakni sebuah penelitian eksperimen yang dilaksanakan pada satu kelompok tanpa menggunakan kelompok control atau pembanding. Satu kelompok akan diberi pre test, intervensi dan post test dengan waktu yang ditentukan. Menurut Arikunto (2006 : 85), desain penelitian one group Pre-test adalah 01 X - 02. Tes yang dilakukan intervensi (01) disebut pre-test, tes yang dilakukan sesudah intervensi (02) disebut post-test. Perbedaan antara (01) dan (02) yaitu 01 02 diasumsikan sebagai efek dari eksperimen yang dilakukan atau pemberian treatment.Menurut Arikunto, (2006 : 85) rancangan one group pretest posttest design dengangambaransebagai berikut

O1 Pre-test

X Perlakuan

O2 Pos-test

Prosedurnya O1 = pre tes untuk mengukur hasil prestasi belajar sebelum subyek `menggunakan metode jarimagic dalam penyelesaian soal perkalian matematika. X = intervensi atau pemberian perlakuan menggunakan metode jarimagic untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam penyelesaian soal perkalian matematika O2 = post tes untuk

13 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

mengukur hasil prestasi belajar setelah subyek menggunakan metode jarimagic dalam penyelesaian soal perkalian matematika Adapun lokasi dalam penelitian ini yakni SDLB-B Karya Mulia 1 Surabaya. Sampel penelitian yang diambil yakni 6 siswa tunarungu kelas III SDLB-B Karya Mulia 1 Surabaya. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampel yang artinya sampel dipilih berdasarkan maksud dan tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh metode jarimagic terhadap peningkatan hasil belajar perkalian pada siswa kelas III SDLB-B Karya Mulia I Surabaya.

HASIL DAN PEMBAHASAN Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Metode tes,dalam penelitian ini metode tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar anak sebelum diberikan intervensi dan sesudah diberikan intervensi. Tes yang digunakan ada dua yaitu pre-test untuk mengetahui hasil belajar perkalian siswa tunarungu sebelun diberikan intervensi dengan menggunakan metode jarimagic. Kemudian post-test untuk mengetahui hasil belajar perkalian anak tunarungu setelah diberikan intervensi dengan menggunakan metode jarimagic. (2) Metode observasi,observasi dalam penelitian ini digunakan sebagai metode pendukung dalam memperoleh informasi demi kekakuratan data. Peneliti. Tujuan menggunakan observasi yakni untuk mendapatkan data aktual mengenai pelaksanaan metode jarimagic melalui lembar pengamatan. Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis data statistik non parametrik dengan data kuantitatif dan jumlah sampel penelitinya kecil yaitu n = 6. Maka rumus yang digunakan adalah Uji Tanda (Sign Test) . Pada tahap awal dilakukan pre tes hasil belajar perkalian siswa tuna rungu kelas III sebelum diberikan intervensi menggunakan metode jarimagic. Berikut hasil rekapitulasi nilai pre tes : Bentuk Soal Nama AL AF FA PT VT YZ
14 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

Total Skor 20 24 15 21 15 21

Nilai

I 5 4 5 6 5 6

II 15 20 10 15 10 15

III 0 0 0 0 0 0

40 48 30 42 30 42

Pada tahap akhir setelah pemberian intervensi dilakukan post tes hasil belajar perkalian siswa tunarungu kelas III menggunakan metode jarimagic. Berikut hasil rekapitulasi nilai post tes

Bentuk Soal Nama AL AF FA PT VT YZ I 9 10 7 8 10 9 II 20 20 20 15 15 20 III 9 11 11 21 10 13

Total Skor 38 41 38 44 35 42

Nilai

76 82 76 88 70 84

Setelah didapatkan hasil nilai pre test dan post test, kemudian direkapitulasi dalam tabel kerja untuk mengetahui perubahan nilai dan perubahan tanda yang terjadi setelah pemberian intervensi menggunakan metode jarimagic. Tabel kerja perubahan nilai sebagai berikut :

Nilai No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama AL AF FA PT VT YZ Pre tes (X) 40 48 30 42 30 42 38,67 Post tes (Y) 76 82 76 88 70 84 79,33

Perubahan Tanda

+ + + + + + X=6

Rata-rata

Berdasarkan pengamatan dan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan terhadap hasil belajar perkalian siswa tunarungu kelas III di SDLB-B Karya Mulia I Surabaya melalui metode jarimagic. Pernyataan tersebut bisa dibuktikan dengan peningkatan hasil tes yang telah diberikan, dari hasil rekapitulasi pre tes dan post tes
15 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

mengalami peningkatan pada saat pos tes setelah diberikan intervensi. Dengan demikian terbukti bahwa metode jarimagic merupakan intervensi yang tepat untuk mengoptimalkan hasil belajar perkalian pada siswa tunarungu. Dari hasil pengamatan psikomotor siswa dalam menggunakan metode jarimagic dalam menyelesaikan soal perkalian,dapat dilihat pada pertemuan I,III,V dan VII pada aspek ketepatan menentukan posisi jari mendapat nilai C presentase sebesar 100% artinya seluruh siswa masih memerlukan bantuan guru. Sedangkan pada pertemuan ke II,IV,VI dan VIII berubah mendapat nilai B dengan presentase 100% artinya seluruh siswa sudah mampu menentukan posisi jari tanpa bantuan guru. Untuk aspek ketepatan dalam menghitung hasil perkalian pada pertemuan I didapatkan nilai K dengan presentase 100% artinya seluruh siswa tidak dapat menghitung hasil dengan bantuan guru. Namun pada pertemuan ke II nilai B dan C sama-sama mendapat presentase 50% yang artinya sebagian siswa mampu menghitung hasil perkalian tanpa bantuan guru dan sebagian measih memerlukan bantuan guru. Pertemuan ke III nilai C dan K memndapatkan presentase sama yaitu 50% yang artinya sebagian siswa masih mampu menghitung hasil dengan bantuan guru dan sisanya tidak mampu menghitung hasil perkalian. Pertemuan ke IV prensentase nilai B lebih besar daripada nilai C yaitu 60% dibanding 40% artinya banyak siswa yang mampu menghitunghasil perkalian dengan bantuan guru. Pada pertemuan ke V banyak siswa yang masih kesusahan dalam menghitung hasil perkalian, ini dibuktikan dengan nilai K memperoleh presentase 60% daripada nilai C. Pada pertemuan ke VI terjadi peningkatan, ini dibuktikan dengan sebanyak 60% siswa mendapat nilai B.

Pertemuan ke VII nilai K dan C sama-sama mendapat presentase 50% yang artinya sebagian siswa masih memerlukan bantuan guru dan sebagian lagi tidak dapat menghitung hasil perkalian dengan bantuan guru sekalipun. Dan pada pertemuan ke VIII meningkat, nilai B dan C sama-sama mendapat presentase 50%. Analisa data pada hasil pengamatan pelaksanaan metode jarimagic dalam aspek menentukan posisi jari sesuai dengan formasi jari dalam jarimagic menunjukkan bahwa siswa tidak mengalami kesulitan dalam aspek tersebut. Namun dalam aspek menghitung hasil menggunakan langkah-lamgkah jarimagic,ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan sehingga membutuhkan bantuan / instruksi. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa siswa mengalami kesulitan menghitung hasil dalam materi perkalian jari 16-20. Hal ini terjadi karena siswa tunarungu belum paham dengan konsep perkalian jari 16-20. Dalam materi perkalian jari 16-20 tersebut dalam hal rumusan perkalian hampir sama dengan dengan materi perkalian jari 11-15, namun yang membedakan adalah simbolnya sehingga hasil perkalian
16 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

yang diperoleh belum tepat. Seperti yang dikemukakan oleh Hariwijaya (2009:19) agar mahir matematika, selain diberikan pemahaman tentang simbol yang berkaitan dengan matematika anak dianjurkan diajari juga konsep perubahan saat menghitung. Dalam hal ini siswa tunarungu perlu pemahaman konsep adanya perubahan simbol tambah (+) dan simbol kurang (-) dalam penyelesaian hasil perkalian jari 16-20. Sehingga ketika menyelesaikan hasil hitung perkalian menggunakan metode jarimagic siswa salah menghitung hasilnya. Hasil belajar merupakan prestasi belajar yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar perkalian dapat dilihat dari 2 faktor yaitu faktor dari dalam diri siswa (internal) dan faktor dari luar diri siswa (ekstrenal). Faktor dalam diri siswa meliputi intelegensi/ kecerdasa,minat dan bakat serta motivasi. Hasil penelitian ditemukan bahwa siswa belum bisa menyelesaikan soal perkalian dengan cepat karena siswa belum terbiasa melakukan hitungan dengan cepat untuk menyelesaikan soal-soal perkalian, maka dari itu siswa perlu diberi latihan-latihan soal perkalian agar siswa terbiasa mengerjakan soal perkalian sehingga waktu pengerjaannya juga bisa lebih cepat. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2001:2) bahwa hasil belajar tidak hanya menilai bagaimana kemampuan siswa setelah menempuh pengalaman belajarnya tetapi juga sebagai umpan balik sebagai upaya memperbaiki proses belajarnya. Misalnya memperbaiki strategi

pembelajarannya atau memberikan bantuan atau bimbingan kepada siswa dalam bentuk remidial agar siswa mendapatkan layanan khusus untuk memperbaiki hasil belajarnya. Selain itu dalam penelitian ini ditemukan ada satu siswa yang memang kurang aktif dalam pembelajaran namun dalam penyelesaian soal perkalian mendapat nilai yang bagus. Hal ini disebabkan siswa tersebut memang memiliki intelegensi yang tinggi diantara siswasiswa yang lain,namun memiliki sifat pendiam sehingg dalam proses pembelajaran kurang aktif. Faktor yang berasal dari luar siswa meliputi faktor guru,metode,alat dan lingkungan. Jarimagic merupakan metode hitung dengan menggunakan bantuan jari untuk menyelesaikan soal perkalian. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Prasetyo (2009:39) bahwa tanpa alat hitung kita juga dapat berhitung secara cepat dengan bantuan jari tangan,asalkan kita mengetahui dasar dan metode berhitung menggunakan jari. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa metode berhitung dengan bantuan jari yang disebut jarimagic dapat membantu siswa dalam menyelesaikan soal perkalian. Dengan memahami bentuk formasi jari dan langkah-langkah penyelesaian dalam metode jarimagic maka siswa akan merasa senang dan mudah belajar perkalian. Faktor luar lainnya seperti latihan yang berulang-ulang juga

17 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

merupakan salah satu pendukung keberhasilan suatu materi atau metode yang disampaikan oleh guru agar dapat diterima dan diserap siswa secara maksimal.

PENUTUP Dari hasil penelitian tentang pengaruh metode jarimagic terhadap hasil belajar perkalian siswa tunarungu kelas III SDLB-B Karya Mulia I Surabaya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : (1) Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan teknik analisis statistik non parametrik dengan rumus uji tanda diperoleh ZH = 2,08 sedangkan Ztabel = 1,96. Sehingga ZH > Ztabel , hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh antara variabel X dan variabel Y. Dengan demikian membuktikan bahwa metode jarimagic berpengaruh terhadap hasil belajar perkalian pada siswa tunarungu kelas III di SDLB-B Karya Mulia I Surabaya. (2) Berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada dua sisi yaitu pre tes dan pos tes, diperoleh rekapitulasi data hasil penilaian mengalami peningkatan. Dari perhitungan pre tes dan pos tes diperoleh tanda positif (+) sebanyak 6 sehingga X=6 menunjukkan bahwa setiap subyek mengalami peningakatan yang positif terhadap hasil penilaian pos tes. Hal ini membuktikan bahwa ada peningkatan hasil belajar perkalian pada siswa tunarungu kelas III di SDLB-B Karya Mulia I Surabaya melalui metode jarimagic. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode jarimagic dapat meningkatkan hasil belajar perkalian siswa tunarungu kelas III di SDLB-B Karya Mulia I Surabaya, untuk itu disarankan kepada (1) Guru,sebaiknya menggunakan metode jarimagic sebagai salah satu metode berhitung alternatif dalam menyelesaikan soal perkalian. (2) Orang tua, sebaiknya metode jarimagic digunakan sebagai salah satu metode berhitung alternatif khususnya perkalian pada anak untuk diterapkan di rumah. (3) Mahasiswa, hasil penelitian ini merupakan dasar dari penelitian yang telah ada untuk dilanjutkan sebagai pijakan atau sebagai salah satu bahan rujukan dalam sebuah penelitian lanjut baik tentang peningkatan hasil belajar matematika maupun metode jarimagic.

DAFTAR PUSTAKA Ariesta, W.D.2010. Peningkatan Kemampuan Berhitung Perkalian Cepat Melalui Metode Jarimagic Pada Siswa Kelas IV SDN Kesamben Blitar. Malang : Skripsi Sarjana Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah UNM. tidak ditertbitkan Arikunto, Suharsimi.2010. Rineka Cipta Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Bandung :

18 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

Auliya, M. Fajar.2009. Jarimagic Berhitung Dahsyat Dengan Jari Jarimagic Penjumlahan dan Pengurangan. Yogyakarta : Pustaka Widyatama Auliya, M. Fajar.2009. Jarimagic Berhitung Dahsyat Dengan Jari Jarimagic Perkalian dan Pembagian. Yogyakarta : Pustaka Widyatama Delphie, Bandi.2009. Matematika Untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Sleman : KTSP Delphie, Bandi.2009. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan Inklusi, Sleman : KTSP Hariwijaya.2009. Meningkatkan Kecerdasan Matematika. Yogyakarta : Tugu Heruman.2010. Model Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar. Bandung : Rosda Jihad, Asep dan Abdul Haris.2009. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Press Kurikulum Pendidikan Luarbiasa. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SDLBB. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Lutfiana, W.D.2010. Peningkatan Kemampuan Berhitung Perkalian Cepat Melalui Metode Jarimagic Pada Siswa Kelas IV SDN Kesamben Blitar. Malang : Skripsi Sarjana Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah UNM. Tidak diterbitkan Rasvianty, V.2009. Penerapan Polamatika Pada Operasi Perkalian Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Tunarungu. Bandung : Skripsi. Tidak diterbitkan Riyanto, Yatim.2007. Metode Penelitian dan Penilaian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif. Surabaya : Unesa University Press Rochyadi, Endang.2005. Pengembangan Program Pembelajaran Individu Bagi Anak Tunagrahita. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Saleh, Samsubar. 1996. Statistik Non Parametrik Edisi 2. Yogyakarta : BPFE Somantri, Sutjihati.2007. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung : Refika Aditama Sudjana, Nana.2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya Sudjana, Nana.2009. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru Algesindo Sunaryo.2007. Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Susilowati, Ina.2009. Penggunaan Math Trick Pada Operasi Perkalian Untuk Meningkatkan Kemampuan Hitung Anak Tunarungu. Bandung : Skripsi PLB UPI. Tidak diterbitkan Wahyudi, Ari, 2009. Metodelogi Penelitian Pendidikan Luar Biasa. Surabaya : Unesa University Perss.

19 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

20 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G

21 | P S I K U N S R I P A L E M B A N G