Anda di halaman 1dari 69

SISTEM KOMUNIKASI SATELIT

PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini kebutuhan manusia akan informasi sangatlah penting. Sehingga untuk mendapatkan informasi mereka harus saling berkomunikasi dengan yang lainnya. Dengan begitu sarana untuk

berkomunikasi juga semakin banyak ragamnya seiring dengan bertambah majunya teknologi saat ini. Teknologi komunikasi atau Telekomunikasi berkembang dengan pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang juga berkembang dengan cepat. Hal ini dapat dilihat dengan ditemukannya cara komunikasi dengan jarak yang cukup jauh dengan menggunakan media tertentu. Komunikasi data merupakan gabungan dua macam teknik, yaitu teknik komunikasi dan teknik pengolahan data. Adapun suatu komunikasi dapat terjadi apabila :

- Adanya informasi/ data yang akan dikirimkan/ diterima

- Adanya pemancar informasi

- Adanya media transmisi informasi

- Adanya penerima informasi

- Adanya kesepakatan/ protokol pengatur komunikasi

A. JENIS KOMUNIKASI

Secara mendasar, komunikasi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

a. Simplex Mode Dapat juga disebut komunikasi satu arah. Komunikasi jenis ini melibatkan kondisi dimana hanya ada satu pemancar dan satu penerima. Artinya, disaat pemancar sedang mengirim informasi, pemancar tersebut tidak bisa menerima kembali respon dari lawan komunikasinya. Begitupula disaat penerima menerima informasi dari pemancar, penerima tersebut juga tidak dapat mengirimkan kembali informasi kepada lawan komunikasinya. Dengan kata lain, terjadi pemindahan

informasi antara penerima dan pemancar, namun tidak ada timbal balik / respon dari masing-masing komponen tersebut. Contoh dari komunikasi jenis ini yaitu broadcast siaran televisi dan radio.

jenis ini yaitu broadcast siaran televisi dan radio. komunikasi simplex Broadcast televisi sebagai contoh

komunikasi simplex

broadcast siaran televisi dan radio. komunikasi simplex Broadcast televisi sebagai contoh komunikasi siplex b.

Broadcast televisi sebagai contoh komunikasi siplex

b. Half-Duplex Mode

Merupakan komunikasi dua arah. Berbeda dengan simplex mode, dalam Half- duplex mode, antara pemancar dan penerima dapat terjadi timbal balik / respon. Jadi, pada kondisi tertentu, antara pemancar dan penerima dapat saling bertukar informasi, dengan membalikkan kondisi dimana pemancar berperan menjadi penerima, begitupula penerima dapat menjadi pemancar. Namun, dalam sistem ini, antara pemancar dan penerima tidak bisa sekaligus saling bertukar informasi, dikarenakan hanya menggunakan satu jalur transmisi,sehingga harus bergantian dalam mengirimkan informasi. Contoh komunikasi jenis ini adalah radio komunikasi (HT)

Contoh komunikasi jenis ini adalah radio komunikasi (HT) Komunikasi half duplex R a d i o

Komunikasi half duplex

ini adalah radio komunikasi (HT) Komunikasi half duplex R a d i o H T s

Radio HT sebagai contoh Komunikasi half duplex

c. Full-Duplex Mode Full-duplex mode merupakan komunikasi dua arah pula, namun dalam sistem ini, yang membedakannya dengan sistem Half-duplex mode adalah sistem ini menggunakan dua jalur transmisi, dimana jalur transmisi pertama berfungsi untuk komunikasi dari media A ke B, sedangkan jalur transmisi kedua digunakan untuk komunikasi dari media B ke A. Sehingga, antara media yang satu dengan yang lainnya dapat terjadi pertukaran informasi langsung tanpa perlu bergantian menggunakan jalur transmisi. Contoh komunikasi ini adalah telepon, handphone, dll.

Contoh komunikasi ini adalah telepon, handphone, dll. Komunikasi full duplex Handphone sebagai contoh komunikasi

Komunikasi full duplex

ini adalah telepon, handphone, dll. Komunikasi full duplex Handphone sebagai contoh komunikasi full duplex B. SISTEM

Handphone sebagai contoh komunikasi full duplex

B. SISTEM TELEKOMUNIKASI

Sistem telekomunikasi yang berkembang pesat semakin memudahkan manusia dalam bertukar informasi. Adapun sistem komunikasi dapat digolongkan

sebagai berikut:

a. Berdasarkan Lokasi Komunikasi regional : adalah komunikasi yang digunakan di suatu daerah atau wilayah dalam suatu negara. Satelit dalam sisten ini digunakan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan dalam negeri

Komunikasi domestik : adalah komunikasi yang digunakan khusus untuk suatu negara atau komuniksai perbatasan antar dua negara. Komunikasi Internasional : adalah komunikasi antar negara-negar di seluruh dunia

b. Berdasarkan Media Trasmisi Komunikasi kabel (wired communication) : komunikasi yang menggunakan sebuah kawat (kabel) penghubung sebagai media transmisi, contoh : jaringan telepon, jaringan LAN lokal. Komunikasi tanpa kabel (wireless communication) : berbeda dengan komunikasi kabel, komunikasi jenis ini menggunakan gelombang radio sebagai media transmisi informasi. Dalam komunikasi ini, informasi dikirimkan melalui proses modulasi (penumpangan) ke suatu pembawa (dalam hal ini disebut sinyal carrier), sehingga dapat diterima dalam jarak yang jauh tergantung frekuensi gelombang radio yang digunakan. Contoh :

Wi-fi, WLAN, radio link, handphone, bluetooth, radio AM/FM, dan komunikasi satelit.

Dari penggolongan diatas, komunikasi tanpa kabel lebih banyak jenisnya, karena

memiliki

banyak

kelebihan-kelebihan

dibanding

komunikasi

dengan

kabel,

misalnya :

- Dapat diterima dalam jarak yang lebih jauh

- Lebih efisien dan fleksibel

- Instalasi yang lebih mudah dan ringkas

- Memiliki mobilitas lebih baik

Secara umum, komunikasi tanpa kabel (wireless) dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu :

1. Komunikasi Terestial

Komunikasi terestial adalah komunikasi wireless yang menggunakan repeater berupa stasiun repeater bumi. Repeater adalah suatu pengulang, dimana dalam suatu repeater terdapat pemancar (Tx) dan penerima (Rx) yang akan

meneruskan informasi ke tempat yang lebih jauh. Sebagai gambaran, perhatikan contoh berikut :

lebih jauh. Sebagai gambaran, perhatikan contoh berikut : Dimisalkan site 1 dan site 4 berada di

Dimisalkan site 1 dan site 4 berada di daerah yang saling berjauhan jaraknya, sedangkan daya jangkau site 1 tidak mencukupi untuk sampai ke site 4. Agar informasi yang dikirimkan oleh site 1 dapat diterima di site 4, maka sinyal informasi pertama kali dikirimkan ke stasiun repeater terlebih dahulu. Setelah itu, barulah informasi yang diterima repeater dari site 1 oleh repeater diteruskan ke site 4. Dengan demikian, konfigurasi dasar suatu repeater dapat digambarkan sebagai berikut :

ke site 4 . Dengan demikian, konfigurasi dasar suatu repeater dapat digambarkan sebagai berikut : Konfigurasi

Konfigurasi repeater

Dengan demikian, repeater dapat menambah daya jangkau sinyal yang dikirimkan agar dapat diterima dalam jarak yang lebih jauh. Hal inilah yang merupakan penyebab kenapa dalam komunikasi wireless yang menggunakan gelombang radio dapat lebih menguntungkan. Yang pasti, dalam sistem komunikasi terestial, repeater yang digunakan selalu berada di bumi.

2. Komunikasi Satelit

Berbeda dengan komunikasi terestial, pada komunikasi satelit, repeater yang digunakan untuk sistem ini adalah sebuah satelit yang berada di atmosfir bumi dengan ketinggian dan orbit tertentu. Satelit adalah sebuah stasiun pengulang yang diletakan pada ketinggian tertentu diatas permukaan bumi, jadi dapat dikatakan bahwa satelit sebagai repeater angkasa. Dengan prinsip suatu repeater digunakan agar dapat meneruskan informasi, komunikasi satelit digunakan untuk komunikasi dengan jarak yang sangat jauh. Sinyal informasi yang sudah dimodulasi dengan sinyal pembawa dipancarkan ke langit hingga diterima satelit, kemudian satelit kembali mengirimkan informasi tersebut kepada penerima yang dituju. Jenis komunikasi ini banyak digunakan untuk komunikasi internasional, dikarenakan satelit memiliki daya jangkau sebesar sepertiga bagian bumi. Terlebih lagi, komunikasi satelit sangat cocok digunakan pada daerah terpencil atau daerah yang terdiri dari pulau-pulau seperti Indonesia.

satelit sangat cocok digunakan pada daerah terpencil atau daerah yang terdiri dari pulau-pulau seperti Indonesia. 19

Sebenarnya, pada prinsipnya komunikasi satelit tidak jauh berbeda dengan komunikasi terestial, yang membedakannya hanyalah repeater yang digunakan. Konfigurasi yang digunakan dalam komunikasi satelit pun tidak banyak jauh berbeda dengan komunikasi terestial.

pun tidak banyak jauh berbeda dengan komunikasi terestial. Konfigurasi komunikasi satelit Adapun kemiripan fungsi

Konfigurasi komunikasi satelit

Adapun kemiripan fungsi repeater pada komunikasi terestial dengan komunikasi satelit antara lain :

- Sinyal input ke antenna Repeater (F in = F Rx) relative sangat lemah dan datang dari salah satu unit atau arah.

- Terjadi mixing dengan local oscillator sehingga menghasilkan translasi frekuensi (F out tidak sama dengan F in). Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi loopback, yaitu penerimaan frekuensi yang dipancarkan sendiri.

- F out atau F Tx repeater diperkuat dan difilter, lalu kemudian dengan daya yang relatif sangat kuat dipancarkan antena untuk arah atau daerah jangkauan yang jauh dan luas

- Memiliki bandwidth tertentu dengan alokasi kanal-kanalnya

- Letak/site repeater yang selalu ditempatkan pada ketinggian terjamin dan terselenggara. Dalam laporan ini, saya akan memfokuskan pokok bahasan pada sistem komunikasi satelit. Disini saya akan menjelaskan tentang jenis-jenis satelit, penggunaan frekuensi dalam komunikasi satelit, komponen-komponen yang digunakan dalam komunikasi satelit, serta penggunaan satelit sebagai VSAT (Very Small Aparture Terminal)

KOMUNIKASI SATELIT

A. KLASIFIKASI SATELIT

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, komunikasi satelit adalah komunikasi wireless yang menggunakan repeater berupa sebuah satelit yang berada di atas permukaan bumi. Secara teori, apabila kita berkomunikasi menggunakan sitem ini, dengan daya jangkau sepertiga bagian bumi, maka dengan tiga satelit saja maka kita sudah dapat berkomunikasi ke seluruh dunia. Namun, pada kenyataannya, satelit tidak selalu dimanfaatkan hanya untuk komunikasi. Ada satelit yang terletak pada orbit dan ketinggian tertentu yang dimanfaatkan untuk suatu pemakaian tertentu pula. Dan perlu diketahui, di angkasa terdapat banyak sekali satelit-satelit, dengan pemakaian dan fungsi tertentu. Oleh karena itu, satelit dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Menurut Orbit / bidang edar

Satelit Orbit Rendah ( LEO=Low Earth Orbit )

Satelit ini berada pada ketinggian 100-300 miles atau kurang lebih 2.000 Km, dan waktu yang diprlukan satelit ini untuk mengelilingi bumi adalah 1 kali dalam 1,5 jam. Jika kita melihat dari bumi maka satelit ini akan terlihat hanya dalam waktu ¼ jam perhari. Oleh karena itu, satelit ini jarang digunakan dalam telekomunikasi karena tidak menguntungkan.

- Ketinggian

: 750 - 2.500 km

- Periode

: 2 - 2,5 jam

Satelit Orbit Sedang (MEO=Medium Earth Orbit)

Satelit

miles,waktu untuk satu kali putaran mengelilingi bumi antara 5-12 jam dan hanyan dapat dilihat antara 2-4 jam/hari. Satelit ini kurang menguntungkan bagi komunikasi

ketinggian 6000-12000

ini

mempunyai

orbit

elips

dengan

- Ketinggian: 7.500 10.000 km

- Periode: 4,5 - 6 jam

Satelit Orbit Tinggi

Satelit ini mempunyai orbit dengan ketinggian 15.000 20.000 Km dari bumi.

Contoh pemanfaatan satelit ini adalah GPS (Global Positioning System)

- Ketinggian

: 15000-20000 km

- Periode

: 11-12 jam

Satelit Orbit Polar

Satelit jenis ini memiliki orbit melewati daerah kutub

Satelit Orbit Inklinasi

Satelit yang waktu rotasinya sama dengan bumi, namun tidak berada tepat di

khatulistiwa

Satelit Orbit Geo-Stasioner (satelit Geo-Synchronous)

-Ketinggian

: 36000 km

-Periode

: 24 jam

Satelit ini mempunyai orbit diatas ekuator dengan ketinggian 36.000 Km dari bumi (22.300 miles). Satelit yang mempunyai ketinggian seperti ini lintasannya akan mengelilingi bumi dengan waktu 24 jam, maka satelit ini akan selalu tampak diam terhadap suatu permukaan bumi. Hal ini dikarenakan waktu rotasinya sama dengan bumi. Satelit jenis ini paling menguntungkan dan banyak dipakai karena satelit ini selalu tampak diam terhadap suatu titik di permukaan bumi, maka biaya untuk mengontrol satelit ini rendah. Karena terlihat selama 24 jam, maka hubungannya tidak pernah terputus. Selain itu, jenis satelit inilah yang digunakan dalam komunikasi satelit, agar pengarahan antena pada satelit menjadi lebih mudah dilakukan. Contoh satelit komunikasi orbit geosynchronous : Intelsat, palapa, dsb.

2. Menurut fungsi :

Satelit mata-mata, termasuk satelit armed force and defense (militer)

Satelit Cuaca dan Navigasi

Satelit Penginderaan Jarak Jauh dan Pemetaan Bumi (remote sensing and earth mapping)

Satelit penyelidikan (research)

Satelit Komunikasi

3.

Menurut sistem stabilitas

Satelit spin

Satelit 3-axis

)  Satelit Komunikasi 3. Menurut sistem stabilitas  Satelit spin  Satelit 3-axis 23

B. Orbit satelit Geosynchronous (orbit geostasioner)

B. Orbit satelit Geosynchronous (orbit geostasioner) Pada tahun 1945,Arthur C. Clarke menyatakan bahwa: “Sebuah satelit

Pada tahun 1945,Arthur C. Clarke menyatakan bahwa:

“Sebuah satelit dengan orbit lingkaran pada bidang Ekuator dengan radius

35.864 km akan memiliki perioda (T) yang sama dengan perioda rotasi bumi”.

Telah kita ketahui bahwa satelit komunikasi terletak pada orbit geostasioner dengan ketinggian ± 36.000 Km di atas garis equator (khatulistiwa). Waktu rotasi yang dibutuhkan oleh satelit ini sama dengan waktu yang dibutuhkan bumi untuk berotasi (24 jam). Oleh karena itu, karena letaknya yang selalu tetap dan mengikuti perputaran bumi, maka digunakanlah satelit di orbit ini sebagai satelit komunikasi.

yang selalu tetap dan mengikuti perputaran bumi, maka digunakanlah satelit di orbit ini sebagai satelit komunikasi.

Posisi satelit yang selalu tetap tersebut dimaksudkan agar pada saat antena diarahkan ke satelit, arah antena tersebut dapat diketahui dengan pasti. Pada orbit geostasioner, lingkaran orbit yang yang terbentuk disebut cincin clarke. Cincin clarke ini merupakan orbit dimana satelit komunikasi berada. Satelit yang berada di orbit cincin clarke ini disebut satelit geosynchronous.

Sifat sifat satelit orbit geosynchronous :

Mengelilingi bumi selalu berada diatas khatulistiwa. Sifat – sifat satelit orbit geosynchronous : Berjarak sekitar 35.864 km dari permukaan bumi Kecepatan

Berjarak sekitar 35.864 km dari permukaan bumi: Mengelilingi bumi selalu berada diatas khatulistiwa Kecepatan dan arah orbit sama persis ( singkron )

Kecepatan dan arah orbit sama persis ( singkron ) dengan kecepatan dan arah rotasi bumikhatulistiwa Berjarak sekitar 35.864 km dari permukaan bumi Bila dipandang dari tempat manapun di bumi akan

Bila dipandang dari tempat manapun di bumi akan terlihat seperti sebuah titik yang diam diangkasa.persis ( singkron ) dengan kecepatan dan arah rotasi bumi Contoh satelit geosynchronous C. Spektrum frekuensi

bumi akan terlihat seperti sebuah titik yang diam diangkasa. Contoh satelit geosynchronous C. Spektrum frekuensi dalam

Contoh satelit geosynchronous

C. Spektrum frekuensi dalam sistem komunikasi satelit

Dalam komunikasi wireless, media transmisi yang digunakan adalah gelombang radio. Gelombang radio tersebut terklasifikasi menjadi suatu spektrum frekuensi. Berdasarkan spektrum frekuensi inilah gelombang radio di kelompokan dan digunakan untuk keperluan tertentu.

Band

Pengertian

Frekuensi

Panjang gelombang

ELF

Extremely Low Frequency

3 - 30 Hz

100,000 - 10,000 km

SLF

Super Low Frequency

30 - 300 Hz

10,000 - 1,000 km

ULF

Ultra Low Frequency

300 - 3000 Hz

1,000 - 100 km

VLF

Very Low Frequency

3

- 30 kHz

100 - 10 km

LF

Low Frequency

30

- 300 kHz

 

10

- 1 km

MF

Medium Frequency

300 - 3000 kHz

1

km - 100 m

HF

High Frequency

3 - 30 MHz

 

100 - 10 m

VHF

Very High Frequency

30 - 300 MHz

 

10 - 1 m

UHF

Ultra High Frequency

300 - 3000 MHz

1 m - 10 cm

SHF

Super High Frequency

3

- 30 GHz

 

10

- 1 cm

EHF

Extremely High Frequency

30

- 300 GHz

1

cm - 1 mm

Tabel spektrum frekuensi

Dalam komunikasi satelit, spektrum frekuensi yang digunakan tergolong dalam spektrum gelombang mikro (micro wave) dengan frekuensi sangat tinggi. Spektrum gelombang mikro ini memiliki range dari frekuensi SHF band hingga EHF.

Dalam komunikasi satelit, spektrum gelombang mikro yang digunakan adalah sebagai berikut:

IF (Intermediate Frequency): 52-88 MHz

C-band :

- LO (satelit) : 2225 MHz

- Uplink: 5925-6425 MHz

- Downlink : 3700-4200 MHz

L-band :

- Downlink (inverted) : 950-1450 MHz

- LO (LNB) : 5150 MHz

Extended C-band (Ex-C band)

- LO (satelit) : 3025 MHz

- Uplink: 6.425 6.650 MHz

- Downlink: 3.400 3.625 MHz

KU-band

- LO : 2050 MHz

- Uplink : 13.750 14.500 MHz

- Downlink : 11.700 12.750 MHz

X-band

- LO : 5600 MHz

- Uplink : 8120 8270 MHz

- Downlink : 2520 2670 MHz

KA-band

- LO : ± 10 GHz

- Uplink : ± 30 GHz

- Downlink : ± 20 Ghz

S-band

- Uplink : ± 1.9 GHz

- Downlink : ± 2.5 Ghz

Pada pembahasan ini, saya hanya akan menjelaskan secara mendetail mengenai band frekuensi IF, C-band, dan L-band, karena pada dasarnya, prinsip dan perhitungan yang digunakan nantinya untuk band frekuensi lain tidak jauh berbeda dengan band frekuensi tersebut.

Gambaran spektrum frekuensi dan band frekuensi komunikasi satelit 28

Gambaran spektrum frekuensi dan band frekuensi komunikasi satelit

D.

Transponder satelit

Transponder adalah suatu subsistem dari satelit yang terdiri atas alat penerima, penguat, pengubah frekuensi, serta pemancar ulang sinyal yang dikirimkan stasiun bumi. Dapat dikatakan bahwa satelit merupakan sekumpulan transponder-transponder. Sebuah transponder satelit memilki bandwidth sebesar 500 MHz. Pada umumnya, transponder satelit terbagi menjadi 24 kavling, yang terbagi atas 12 kavling transponder berpolarisasi vertikal dan 12 kavling transponder berpolarisasi horisontal. Masing-masing kavling transponder memiliki bandwidth sebesar 36 MHz, yang dibatasi dengan guard band sebesar 2 x 2 MHz (2 Mhz di sisi kanan dan 2 Mhz di sisi kiri). Guard band berfungsi untuk mencegah interferensi antara kavling transponder yang satu dengan yang lainnya.

Dalam transponder, ada beberapa frekuensi yang digunakan bersamaan dalam kavling transponder berpolarisasi vertikal dan kavling transponder berpolarisasi horisontal. Frekuensi ini disebut frekuensi Re-Use. Dengan pembedaan polarisasi, maka kavling transponder dapat dihemat hingga 500 MHz.

Untuk memahaminya, perhatikan penjelasan berikut:

Frekuensi kerja (range) RF C-band berkisar dari 5925 MHz 6425 MHz. Maka dapat dianalogikan besar bandwith suatu transponder yaitu:

Besar bandwidth transponder :

6425 - 5925= 500 Mhz

Besar bandwidth suatu kavling transponder adalah 36 MHz. Jika ditambahkan dengan guard band sebesar 2 x 2 MHz, maka besar satu kavling transponder secara total adalah :

Besar 1 kavling transponder (total) : 36 + (2 x 2) = 40 MHz

Seharusnya, jika ada 24 kavling transponder, maka besar bandwidth transponder seharusnya : 40 x 24= 960 MHz. Namun, dengan teknik pembedaan polarisasi,maka besar bandwidth transponder dapat dihemat menjadi 500 MHz saja.

Sebagai patokan, jika frekuensi paling awal suatu transponder adalah 5925 MHz, maka bila diberikan guard band sebesar 2 MHz, maka akan didapat batas frekuensi kavling transponder pertama sebesar 5927 MHz. Bila suatu kavling memiliki bandwidth sebesar 36 MHz, maka batas akhir fekuensi kerja tersebut adalah: 5927 + 36= 5963 MHz. Dari penjelasan tersebut,maka dapat diketahui bahwa range frekuensi kavling transponder pertama berkisar dari 5927- 5963 MHz.

Untuk memudahkan perhitungan, biasanya suatu transponder ditandai dengan memperhatikan center frequency nya. Center frequency adalah frekuensi yang berada tepat ditengah-tengah suatu range frekuensi. Jadi, bila kita ambil contoh diatas, dari range frekuensi kavling transponder pertama yang berkisar dari 5927- 5963 MHz, maka dapat kita ketahui nilai center frequency-nya yaitu 5945 MHz. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar dibawah :

maka dapat kita ketahui nilai center frequency-nya yaitu 5945 MHz. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar dibawah

Dalam transponder, transponder kavling pertama yang memiliki center frequency sebesar 5945 MHz ini memiliki polarisasi horisontal. Jika diteruskan, maka akan kita dapatkan center frequency transponder kedua dengan menambah 40 MHz, sehingga center frequency transponder kedua diketahui sebesar 5985 MHz, dst. (nb : satu kavling transponder memiliki jarak masing-masing 40 MHz).

Antara transponder berpolarisasi vertikal dan transponder berpolarisasi horisontal memiliki perbedaan fasa sebesar 90°, dan berjarak 20 MHz. Jadi, jika center frequency (CF) transponder polarisasi horisontal pertama (berikutnya akan kita sebut transponder 1H) adalah 5945 MHz, maka kita dapat ketahui CF transponder vertikal yang pertama (1V) adalah : 5945 + 20= 5965 MHz.

Sehingga sudah kita ketahui:

Kavling transponder 1 H : 5945 MHz

Kavling transponder 1 V : 5965 MHz

Untuk mengetahui suatu kavling transponder, misalkan 7 H, maka kita dapat gunakan rumus berikut:

Kavling transponder n (H/V) = FT 1 (H/V) + { (n-1) x Bt }

Keterangan : FT 1 = frekuensi transponder 1H / 1V Bt = jarak transponder, sebesar 40 MHz (konstanta)

Maka, penyelesaiannya adalah sebagai berikut :

Kavling transponder 7H

= 5945 + { (7-1) x 40 }

= 5945 + ( 6 x 40 )

= 5945 + 240

= 6185 MHz

Jika dilihat dari perhitungan tersebut, maka kavling-kavling transponder dapat dilihat seperti tabel di bawah ini :

Transponder

Center frequency

Transponder

Center frequency

1H

5945

1V

5965

2H

5985

2V

6005

3H

6025

3V

6045

4H

6065

4V

6085

5H

6105

5V

6125

6H

6145

6V

6165

7H

6185

7V

6205

8H

6225

8V

6245

9H

6265

9V

6285

10H

6305

10V

6325

11H

6345

11V

6365

12H

6385

12V

6405

NB:

Frekuensi transponder disini adalah frekuensi uplink (dalam MHz)6345 11V 6365 12H 6385 12V 6405 NB: Band frekuensi RF yang dipancarkan dan diterima antena

Band frekuensi RF yang dipancarkan dan diterima antena selalu menggunakan frekuensi C-band selalu menggunakan frekuensi C-band

Untuk mendapatkan frekuensi downlink, selalu kurangi frekuensi uplink dengan LO satelit (untuk sistem C-band: 2225 MHz)uplink (dalam MHz) Band frekuensi RF yang dipancarkan dan diterima antena selalu menggunakan frekuensi C-band 32

Gambaran frekuensi dan kavling-kavling pada transponder
Gambaran frekuensi dan kavling-kavling pada transponder

E. Perhitungan translasi frekuensi

Seperti yang telah djelaskan di bab awal, Transponder dapat berfungsi sebagai penerima, penguat, pengubah frekuensi, serta pemancar ulang. Dalam komunikasi satelit, perubahan frekuensi yang terjadi disebut translasi frekuensi.

Dalam sistem komunikasi satelit, sinyal informasi atau data diubah terlebih dahulu menjadi sinyal IF. Setelah menjadi IF, sinyal tersebut akan diubah menjadi sinyal RF dan dipancarkan melalui antena. Setelah diterima oleh satelit, maka satelit akan memancarkan kembali sinyal RF tersebut ke penerima yang dituju. Dalam proses inilah, terjadi translasi frekuensi. Dalam translasi frekuensi, ada beberapa spektrum frekuensi yang dapat digunakan. Disini saya akan membahas translasi dalam sistem C-band dan sistem L-band.

a. Translasi dalam sistem C-band Sebelumnya, kita telah mengetahui tentang perhitungan kavling frekuensi pada transponder. Dalam suatu kavling transponder, terdapat alokasi frekuensi yang digunakan untuk keperluan tertentu. Frekuensi yang digunakan pada kavling transponder tersebut dipengaruhi oleh frekuensi kerja IF yang kita gunakan. Perhatikan contoh berikut :

Dimisalkan anda akan menggunakan IF sebesar 55 MHz pada modem, dan transponder yang akan anda gunakan adalah transponder 5V. Maka ada beberapa point yang harus anda ketahui, yaitu :

1. frekuensi uplink yang digunakan

2. frekuensi downlink yang digunakan

Untuk menghitung frekuensi uplink, kita harus mengetahui berapa center frequency dari transponder yang kita gunakan. Dalam hal ini, transponder yang digunakan adalah transponder 5V. Maka center frequency-nya:

Kavling transponder 5V = 5965 + { (5-1) x 40 }

= 5965 + ( 4 x 40 ) =5965 + 160 = 6125 MHz

Perlu dipahami, bahwa range frekuensi IF (52-88 MHz) juga memiliki bandwith sebesar 36 MHz pula, sama dengan satu kavling transponder. Sehingga, dapat dikatakan posisi frekuensi IF sejajar dengan frekuensi transponder.

Bila frekuensi IF yang kita gunakan 55 MHz, maka dapat dikatakan frekuensi kerja kita bergeser ke arah kiri dari center frequency IF (70 MHz) sebesar 15 MHz. Jadi, frekuensi pada transponder juga terjadi demikian. Jika frekuensi kavling yang kita gunakan sebesar 6125 MHz, maka frekuensi kerja kita juga ikut bergeser sebesar 15 MHz, sehingga besar frekuensi uplink kita adalah :

6125 15= 6110 MHz

Untuk frekuensi downlink, yang perlu kita perhatikan adalah local oscilator (LO) satelit tersebut. Untuk sistem C-band, besarnya LO satelit adalah 2225 MHz. Frekuensi downlink didapat dengan mengurangi frekuensi uplink dengan local LO satelit. Maka, besar frekuensi downlink kita adalah : 6110 2225= 3885 MHz

Sebagai ilustrasi,translasi frekuensi diatas dapat digambarkan seperti di bawah ini :

MHz Sebagai ilustrasi,translasi frekuensi diatas dapat digambarkan seperti di bawah ini : Gambar translasi arah uplink

Gambar translasi arah uplink

Gambar translasi arah downlink Contoh lain : frekuensi kerja IF anda berada di 79 MHz

Gambar translasi arah downlink

Contoh lain : frekuensi kerja IF anda berada di 79 MHz dengan menggunakan transponder 8H. Maka :

Frekuensi pada transponder Kavling transponder 8H = 5945 + { (8-1) x 40 } = 5945 + ( 7 x 40 ) =5945 + 280 = 6225 MHz = 6225 MHz

Frekuensi uplink IF= 79 – 70 = (+9) Maka uplink= 6225 + 9 = 6234 MHz 70 = (+9) Maka uplink= 6225 + 9 = 6234 MHz

Frekuensi downlink Frekuensi uplink= 6234 MHz Maka downlink= 6234 – 2225 = 4009 MHz 2225 = 4009 MHz

Perhitungan translasi frekuensi ini nantinya digunakan untuk mengeset parameter pada modem dan ODU. Frekuensi yang kita hitung tersebut tidak boleh salah, karena bisa berakibat mengganggu pengguna satelit yang lain.

b. Translasi dalam sistem L-band Khusus untuk L-band, yang menggunakan spektrum inverted, translasi dilakukan dengan mengurangi LO dari perangkat (misal BUC atau LNB) dengan frekuensi L-band (950-1450 MHz) yang kita gunakan untuk mengubah frekuensi L-band menjadi C-band (ingat, frekuensi yang dipancarkan antena selalu menggunakan C-band). Kebanyakan, LO yang digunakan dalam sistem L-band adalah sbb:

- LO BUC (inverted spectrum) sebesar 7375 MHz

- LO LNB / LNC (inverted spectrum) sebesar 5150 Mhz Contoh: jika kita menggunakan modem L-band, frekuensi kerja kita berada di 1100 MHz, dan kita menggunakan BUC dengan LO 7375 MHz, dan menggunakan sebuah LNB. Maka :

Frekuensi uplink = LO BUC – frekuensi kerja = 7375 – 1100 = 6275 MHz LO BUC frekuensi kerja = 7375 1100 = 6275 MHz

Frekuensi downlink = frekuensi uplink – LO satelit = 6275 – 2225 = 4050 MHz = frekuensi uplink LO satelit = 6275 2225 = 4050 MHz

Frekuensi receive L-band = LO LNB – frekuensi downlink = 5150 – 4050 = 1100 MHz LO LNB frekuensi downlink = 5150 4050 = 1100 MHz

Gambar translasi dalam mode L-band arah uplink Gambar translasi dalam mode L-band arah downlink Perlu

Gambar translasi dalam mode L-band arah uplink

Gambar translasi dalam mode L-band arah uplink Gambar translasi dalam mode L-band arah downlink Perlu diketahui

Gambar translasi dalam mode L-band arah downlink

Perlu diketahui bahwa contoh tersebut hanyalah salah satu gambaran umum untuk memahami translasi frekuensi dalam sistem L-band. Namun, pada pengaplikasiannya, LO yang digunakan pada masing-masing BUC berbeda-beda, tergantung dari setelan produsen (contohnya pada BUC NJRC, yang menggunakan LO sebesar 4900 MHz) . Namun, perhitungan yang digunakan pada umumnya tidak jauh berbada dari konsep perhitungan pada contoh yang dijelaskan tersebut

Penggunaan satelit sebagai VSAT

A. Pengertian VSAT

VSAT merupakan kependekan dari Very Small Aparture Terminal. VSAT adalah sebuah terminal point to point yang digunakan dalam komunikasi data, suara, atau video menggunakan satelit. Suatu Komsat dapat digolongkan VSAT apabila terjadi suatu komunikasi antara dua site stasiun bumi yang dihubungkan (full duplex mode), sehingga dapat dikatakan broadcast TV berbayar bukanlah VSAT.

Adapun stasiun bumi dapat digolongkan sebagai berikut :

1. Menurut ukuran antena-nya :

- Stasiun Bumi Besar

- Stasiun Bumi Sedang

- Stasiun Bumi Kecil

- Stasiun Bumi Mini / mikro

- Stasiun Bumi Transportable

2. Menurut fungsi / kedudukan :

- Stasiun Bumi Induk/Hub

- Stasiun Bumi Utama / gateway

- Stasiun Bumi Pengendali /TT & C

- Stasiun Bumi Reference pada stasiun bumi system digital

- Stasiun Bumi Biasa, termasuk stasiun bumi VSAT

VSAT termasuk ke dalam jenis stasiun bumi mini / mikro, karena ukuran antena yang digunakan kecil. Konfigurasi VSAT juga dapat terhubung ke sebuah hub station, sehingga membentuk suatu jaringan satelit dengan topologi tertentu. Beberapa topologi VSAT yang sering digunakan adalah :

Star

Semua site dapat saling berkomunikasi satu sama lain dengan suatu perantara

yang disebut HUB station.

sama lain dengan suatu perantara yang disebut HUB station.  Mesh Antara site yang satu dengan

Mesh

Antara site yang satu dengan yang lainnya dapat saling berkomunikasi point to

point tanpa menggunakan hub.

 Mesh Antara site yang satu dengan yang lainnya dapat saling berkomunikasi point to point tanpa

Hybrid Merupakan kombinasi dari topologi star dan mesh

 Hybrid Merupakan kombinasi dari topologi star dan mesh B. Komponen-komponen stasiun bumi Dalam VSAT, terjadi

B. Komponen-komponen stasiun bumi

Dalam VSAT, terjadi komunikasi antara suatu stasiun bumi tertentu dengan stasiun bumi lainnya. Di bab ini, kita akan membahas tentang komponen- komponen yang ada dalam stasiun bumi.

Secara umum, komponen VSAT terbagi menjadi :

- DTE (Data Terminal Equipment)

- IDU (Indoor Unit)

- ODU (Outdoor Unit)

Kedua stasiun bumi, baik pemancar (TX) ataupun penerima (RX) memiliki konfigurasi yang sama. Keseluruhan perangkat tersebut pada prinsipnya berfungsi untuk mengubah sinyal informasi menjadi gelombang radio (RF) ataupun sebaliknya. DTE (Data Terminal Equipment) merupakan suatu terminal yang memproses informasi. Suatu informasi dapat berbentuk suara, data, gambar / video, dl. Informasi disini akan dikirimkan ke IDU yang nantinya sinyal informasi disini akan dirubah menjadi sinyal IF yang termodulasi. Kemudian sinyal IF dari IDU akan dikirimkan ke ODU dan akan dikonversi menjadi sinyal RF (C-band),

kemudian dipancarkan ke satelit. Setelah satelit mengirim kembali sinyal RF, maka sinyal RF tersebut akan diterima oleh antena penerima dan dikirimkan kepada ODU. Disini, ODU akan mengkonversi sinyal RF menjadi sinya IF. Sinyal IF tersebut kemudian dikirimkan ke IDU dan akan dirubah kembali menjadi data dengan proses demodulasi, dan data akan diproses di DTE penerima.

Perangkat VSAT link secara garis besar dapat digolongkan sebagai berikut:

1. IDU (Indoor Unit),yang terbagi dari:

- Modem

- Interface

- Multiplexer

2. ODU (Outdoor Unit), yang terbagi dari :

- LNA/B/C (Low Noise Amplifier/Block/Converter)

- OMT (Ortho Mode Transducer),biasa disebut Feedhorn

- Up Converter*

- Down Converter*

- SSPA (Solid State Power Amplifier)*

3. Antena

- Reflektor antena

- Mounting antena

Uraian mengenai komponen-komponen tersebut akan dibahas dan dijelaskan pada halaman berikutnya.

Blok diagram tipikal sebuah stasiun bumi
Blok diagram tipikal sebuah stasiun bumi

1.

IDU (Indoor Unit)

a. Modem (Modulator-demodulator) Modem berfungsi untuk memodulasi sinyal digital (data) menjadi sinyal IF yang akan dikirimkan serta men-demodulasi sinyal IF yang diterima menjadi sinyal digital. Adapula jenis modem dengan output frekuensi L-band.

digital. Adapula jenis modem dengan output frekuensi L-band. Contoh modem IF (Radyne DMD-20) Contoh modem L-band

Contoh modem IF (Radyne DMD-20)

output frekuensi L-band. Contoh modem IF (Radyne DMD-20) Contoh modem L-band (SATNET SIT-5100) Prinsip kerja modem

Contoh modem L-band (SATNET SIT-5100)

Prinsip kerja modem dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pada Saat Transmit Pada saat transmit data masuk melalui back panel dan diberi clocking pada modem tersebut kemudian data melalui beberapa proses yaitu, descramble, diencode diferential dan diencode convolutional. Modulator dapat mengencode FEC (Forward Error Correction) data dengan kode convolutional yang sesuai dengan spesifikasi dari jenis FEC yang terdapat pada modem tersebut.Data yang sudah diproses kemudian masuk ke block digital matched filter, kemudian di modulasikan menggunakan metode Phase Shift Keying (PSK) ataupun jenis modulasi lainnya,untuk memodulasi sinyal carrier IF. Sinyal IF tersebut akan

melalui control power dan di kirimkan ke port output TX. Terakhir sinyal tersebut akan melalui saklar on/off untuk mengaktifkan atau memutuskan carrier output.

2) Pada Saat Receive Pada saat receive sinyal Rx IF dari ODU akan masuk ke blok filter IF,kemudian ke AGC Amplifier. Blok AGC ini mempunyai dinamik range yang cukup besar dan mengontrol sinyal output agar tetap pada level yang optimal. Dari AGC amplifier sinyal IF masuk blok demodulator dan dirubah dari bentuk analog menjadi bentuk digital yang kemudian dapat dimonitor melalui perangkat multimedia seperti Personal Komputer (PC).

Agar dapat terjadi komunikasi, antara modem di TX dan di RX harus disamakan parameternya. Kondisi dimana kedua modem terhubung disebut kondisi Synch (singkron). Perlu diketahui, modulasi yang digunakan pada sistem komunikasi satelit ini adalah modulasi digital, bukan seperti modulasi analog (AM/FM).

b. Interface Interface adalah komponen elektrikal yang menghubungkan antara DTE (Data Terminal Equipment) dengan modem. Contohnya:

V-35 full E-1

G703 balanced

Internet Protocol (IP) base

RS 232, dll

Interface yang dimaksudkan disini adalah bagaimana bentuk elektrikal data tersebut, bukan berfokus pada fisik. Jadi, bisa dikatakan bahwa suatu konektor yang sama belum tentu memiliki penggunaan interface yang sama pula. Masing- masing interface memiliki data rate tertentu yang berbeda-beda pula.

Berikut contoh konektor yang sering ditemui untuk interface:

Berikut contoh konektor yang sering ditemui untuk interface: Penggunaan suatu interface tergantung dari pemakaiannya.

Penggunaan suatu interface tergantung dari pemakaiannya. Misal, jika kita mau menggunakan RS-232 sebagai interface, maka banyak pilihan yang bisa kita gunakan, dan tergantung dari konektor interface yang ada pada perangkat. Misalkan pada DTE memiliki slot interface DB-9 female, kemudian pada modem memiliki slot interface DB-25 female, maka jenis konektor interface yang kita gunakan adalah DB-9 male to DB-25 male

c. Multiplexer Komponen multiplexer digunakan untuk membagi atau menyatukan suatu sinyal inputan. Komponen ini banyak digunakan pada sistem MCPC yang melibatkan banyak inputan.

Secara prinsip, Multiplexer terbagi dari 2 jenis,yaitu :

1. Combiner : untuk menggabungkan beberapa input menjadi satu output

2. Divider / splitter : untuk membagi satu input menjadi beberapa output

Adapula multiplexer yang memiliki DC block, fungsinya untuk memonitoring lewat spektrum analyzer (NB: spektrum analizer tidak boleh dialiri tegangan DC, karena dapat merusak spektrum analyzer tersebut).

Bentuk dan tipe multiplexer tergantung dari banyaknya cabang yang akan digunakan dan tipe konektor yang digunakan. Misal, jika kita akan menggabungkan 2 sinyal input dengan menggunakan konektor tipe N, maka multiplexer yang digunakan adalah Combiner 1:2 tipe N (female).dst Sekarang ini, biasanya suatu multiplexer memiliki dua fungsi langsung, artinya dia bisa digunakan langsung sebagai combiner atau divider, tergantung kebutuhan. Berikut macam-macam multiplexer yang banyak tersedia di pasaran:

macam-macam multiplexer yang banyak tersedia di pasaran: Dibawah ini adalah contoh konektor yang sering dipakai untuk

Dibawah ini adalah contoh konektor yang sering dipakai untuk mentransmisikan sinyal IF dan RF:

tersedia di pasaran: Dibawah ini adalah contoh konektor yang sering dipakai untuk mentransmisikan sinyal IF dan

2.

ODU (Outdoor Unit)

a. LNA/LNB/LNC (Low Noise Amplifier/Block/Converter) Pada dasarnya, LNA/B/C berfungsi sebagai receiver. LNA/B/C menerima

dan memperkuat sinyal RF C-Band yang berasal dari antena (downlink) atau merubahnya menjadi sinyal L-Band. Adapun perbedaan secara umum antara ketiga alat tersebut adalah:

LNA : dapat digunakan hanya untuk C-band

LNB : khusus sebagai receiver L-band (memiliki LO sebesar 5150)

LNC : dapat bekerja pada C-band dan L-band, dan menggunakan sistem bandwith limiter pada sistem penerimaannya

Disamping gain yang dihasilkan oleh amplifikasinya, ada sedikit pengimbuhan Noise yang terjadi dalam prosesnya. Semakin kecil Noise Temperatur LNA/B/C maka akan semakin baik. Umumya, spesifikasinya sebesar sekitar 45 derajat Kelvin

Umumya, spesifikasinya sebesar sekitar 45 derajat Kelvin b. OMT (Orthogonal Mode Transducer) OMT (feedhorn) adalah

b. OMT (Orthogonal Mode Transducer) OMT (feedhorn) adalah alat yang memancarkan sinyal RF ke antena

sekaligus menerima sinyal RF dari satelit dua jenis,yaitu:

yang telah diterima antena. OMT ada

1. OMT polarisasi linear (vertikal / horisontal)

2. OMT polarisasi circular (RHCP / LHCP)

Dalam OMT terdapat jalur transmit dan receive. Perangkat LNA/B/C juga

terpasang pada sisi receive perangkat ini. Antara jalur transmit dan jalur receive

dipisah dengan suatu alat yang dinamakan reject filter.

Pengaturan polarisasi pada OMT dimaksudkan agar polarisasi transmit kita

sesuai dengan kavling transponder yang kita gunakan.contohnya, jika kita

menggunakan frekuensi 5950 (nb:frekuensi re-use), maka jika kita akan

menggunakan transponder berpolarisasi horisontal (1H), maka arah polarisasi

OMT kita juga harus diset pada pola polarisasi horisontal pula.

kita juga harus diset pada pola polarisasi horisontal pula. Bentuk fisik OMT OMT yang sudah dipasangi

Bentuk fisik OMT

diset pada pola polarisasi horisontal pula. Bentuk fisik OMT OMT yang sudah dipasangi LNB dan ter-mounting

OMT yang sudah dipasangi LNB dan ter-mounting pada antena

c. Up converter Up converter berfungsi merubah sinyal IF (TX) dari modem menjadi sinyal RF. Selain itu, up converter juga memperkuat sinyal yang akan dipancarkan, meskipun tidak sebesar penguatan pada SSPA. Pada antena-antena besar, biasanya up converter yang digunakan adalah up converter jenis rack mounting. Sedangkan untuk antena kecil, biasanya up converter telah digabung dalam BUC (nantinya akan dijelaskan pada pembahasan BUC)

dalam BUC (nantinya akan dijelaskan pada pembahasan BUC) Up converter tipe rack mounting Radyne SFC-6400A d.

Up converter tipe rack mounting Radyne SFC-6400A

d. Down converter

Berbeda dengan up converter, down converter dapat dikatakan sebagai kebalikan up converter. Down converter berfungsi merubah sinyal RF downlink yang diterima dari LNA/B/C menjadi sinyal IF (RX) dan mengirimkannya ke demodulator pada modem. Down converter juga memperkuat sinyal IF. Sama seperti up converter, dalam penggunaannya pada antena kecil, down converter ini juga biasanya tergabung pada BUC.

antena kecil, down converter ini juga biasanya tergabung pada BUC. Down converter tipe rack mounting Radyne

Down converter tipe rack mounting Radyne SFC-4200A

e. SSPA (Solid State Power Amplifier) SSPA Berfungsi menguatkan daya / power sinyal RF dari up converter agar dapat dikirim ke satelit melalui antena. Adapun selain SSPA, ada pula yang menggunakan HPA (High Power Amplifier), yang berbasis penguat tabung, namun sudah jarang digunakan secara umum. Penggunaan SSPA ini juga sama seperti up converter dan down converter. Pada antena yang menggunakan daya besar, biasanya digunakan SSPA jenis rack mounting, sedangkan untuk daya kecil, biasanya sudah tergabung dalam BUC.

untuk daya kecil, biasanya sudah tergabung dalam BUC. Contoh SSPA rack mounting 400 watt VERTEX RSI

Contoh SSPA rack mounting 400 watt VERTEX RSI

biasanya sudah tergabung dalam BUC. Contoh SSPA rack mounting 400 watt VERTEX RSI Contoh SSPA outdoor

Contoh SSPA outdoor 10 watt ANACOM

f. BUC (Block Up Converter)

BUC (Block Up Converter) merupakan suatu perangkat RF (RF unit) single packet yang terdiri dari Up converter, Down converter, dan SSPA yang dijadikan langsung dalam satu blok. Biasanya BUC ini diletakkan di luar ruangan, tidak seperti tipe mounting rack yang diletakkan di dalam suatu ruang kontrol. Selain itu, pemasangan juga lebih ringkas dan lebih efisien.

Selain itu, pemasangan juga lebih ringkas dan lebih efisien. BUC ANASAT 10 watt BUC ANASAT 100

BUC ANASAT 10 watt

juga lebih ringkas dan lebih efisien. BUC ANASAT 10 watt BUC ANASAT 100 watt Kelebihan BUC

BUC ANASAT 100 watt

Kelebihan BUC adalah perangkat ini dapat menggunakan redundant system, dimana dua buah BUC digabungkan menjadi satu dan digunakan secara bergantian. Sistem ini diatur oleh sebuah protection switch controler.

Sistem ini diatur oleh sebuah protection switch controler. Contoh penggunaan redundant BUC Protection switch controler

Contoh penggunaan redundant BUC

ini diatur oleh sebuah protection switch controler. Contoh penggunaan redundant BUC Protection switch controler BUC 52

Protection switch controler BUC

3.

Antena Antena berfungsi untuk memfokuskan sinyal yang dipancarkan ke satelit

dan sinyal yang diterima dari satelit. Adapun antena secara umum terbagi dari 2 bagian,yaitu :

a. Reflektor / dish

b. Mounting

dari 2 bagian,yaitu : a. Reflektor / dish b. Mounting Semakin besar ukuran antena, maka daya

Semakin besar ukuran antena, maka daya pancar dan penguatan (gain) antena juga semakin besar. Dalam komunikasi satelit, ada tiga jenis antena yang sering digunakan,yaitu :

a. Prime focus feed

b. Offset feed

c. Cassegrain / gregorian feed

ada tiga jenis antena yang sering digunakan,yaitu : a. Prime focus feed b. Offset feed c.
ada tiga jenis antena yang sering digunakan,yaitu : a. Prime focus feed b. Offset feed c.

a. Jenis-jenis antena komunikasi satelit

Prime focus feed Antena ini memiliki efisiensi yang bagus, namun kekurangannya terletak pada kesulitan pengaturan polarisasi OMT. Karena itu, antena ini lebih sering digunakan pada antena berdiameter kecil (< 4,5 M)

pengaturan polarisasi OMT. Karena itu, antena ini lebih sering digunakan pada antena berdiameter kecil (< 4,5

Offset feed Efisiensi antena ini lebih baik dari tipe prime focus, karena berkurangnya blocking. Selain itu antena ini lebih praktis dan mudah dalam melakukan pointing atau mengubah pengaturan

berkurangnya blocking. Selain itu antena ini lebih praktis dan mudah dalam melakukan pointing atau mengubah pengaturan

Cassegrain / Gregorian feed Antena jenis ini biasa dipakai pada antena berukuran besar (>4,6 M), karena lebih aman dan mudah dalam pengaturan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Antena ini biasanya menggunakan sistem motorize dalam pengaturan azimuth dan elevasi. Biasanya antena ini digunakan pada hub station. Ciri khusus antena ini adalah antena ini selalu menggunakan sub-reflector pada OMT-nya

ini digunakan pada hub station. Ciri khusus antena ini adalah antena ini selalu menggunakan sub-reflector pada

56

b. Tracking / pointing antena ke satelit Pada saat digunakan, tentunya antena harus diarahkan ke satelit yang

dituju dan digunakan. Pengarahan antena ini disebut tracking antena atau pointing antena. Pada saat tracking, beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :

Posisi satelit

Azimuth antena

Elevasi antena

Polarisasi pada OMT

Azimuth antena  Elevasi antena  Polarisasi pada OMT Berikut penjelasan dari parameter tersebut : 

Berikut penjelasan dari parameter tersebut :

Posisi satelit Posisi antena akan diarahkan. umumnya terdiri dari parameter azimuth dan elevasi. Perlu diketahui, tiap daerah memiliki posisi azimuth dan elevasi yang berbeda-beda. Parameter tersebut dapat diketahui dengan menggunakan software yang memiliki database satelit, misalnya SATMASTER PRO

Parameter tersebut dapat diketahui dengan menggunakan software yang memiliki database satelit, misalnya SATMASTER PRO 57

Berikut contoh dari penggunaan SATMASTER PRO. Dari data lengkap satelit, umumnya, yang perlu diketahui adalah azimuth dan elevasi antena. Dapat dilihat pada satelit PALAPA C2, antara Jakarta dan Bandung memiliki azimuth dan elevasi berbeda:

elevasi antena. Dapat dilihat pada satelit PALAPA C2, antara Jakarta dan Bandung memiliki azimuth dan elevasi
elevasi antena. Dapat dilihat pada satelit PALAPA C2, antara Jakarta dan Bandung memiliki azimuth dan elevasi
elevasi antena. Dapat dilihat pada satelit PALAPA C2, antara Jakarta dan Bandung memiliki azimuth dan elevasi
elevasi antena. Dapat dilihat pada satelit PALAPA C2, antara Jakarta dan Bandung memiliki azimuth dan elevasi
elevasi antena. Dapat dilihat pada satelit PALAPA C2, antara Jakarta dan Bandung memiliki azimuth dan elevasi

Azimuth antena

Azimuth adalah besar sudut simpang yang selalu positif dihitung tepat

besar sudut simpang yang selalu positif dihitung tepat mulai dari arah Utara. Nilai 0 selalu dihitung

mulai dari arah Utara. Nilai 0 selalu dihitung dengan patokan arah utara, dan

semakin besar berlawanan arah jarum jam. Sehingga dapat dikatakan arah barat

arah jarum jam. Sehingga dapat dikatakan arah barat memiliki sudut simpang 90 , selatan 180 ,
arah jarum jam. Sehingga dapat dikatakan arah barat memiliki sudut simpang 90 , selatan 180 ,
arah jarum jam. Sehingga dapat dikatakan arah barat memiliki sudut simpang 90 , selatan 180 ,

memiliki sudut simpang 90 , selatan 180 , dan timur 270 .

Utara

Utara Timur Selatan Barat Utara

Timur

Utara Timur Selatan Barat Utara

Selatan

Utara Timur Selatan Barat Utara

Barat

Utara Timur Selatan Barat Utara

Utara

90°

180°

270°

360°

Azimuth diukur dengan menggunakan kompas. Dengan berpatokan antena

menghadap ke depan dan indikator garis lurus pada kompas sejajar dengan

elevation driver pada antena, maka arah azimuth pada antena dapat diatur dengan

memutar Azimuth-Elevation (Az-El) positioner pada antena.

memutar Azimuth-Elevation (Az-El) positioner pada antena. Kompas untuk mengukur sudut azimuth Elevation driver sebagai

Kompas untuk mengukur sudut azimuth

positioner pada antena. Kompas untuk mengukur sudut azimuth Elevation driver sebagai patokan arah antena Mengatur

Elevation driver sebagai patokan arah antena

mengukur sudut azimuth Elevation driver sebagai patokan arah antena Mengatur azimuth dengan memutar azimuth positioner 59

Mengatur azimuth dengan memutar azimuth positioner

Elevasi antena

Elevasi adalah besar sudut yang dihitung mulai dari arah horisontal. Besar

sudut elevasi maksimum adalah 90°.

Horisontal

Besar sudut elevasi maksimum adalah 90°. Horisontal 0° Vertikal 90° Adapun elevasi diukur dengan menggunakan

Vertikal

90°

Adapun elevasi diukur dengan menggunakan inklinometer / level angle.

Dengan berpatokan pada spar antena, besar elevasi pada antena dapat diatur

dengan memutar Elevation driver pada antena.

dapat diatur dengan memutar Elevation driver pada antena. Beberapa macam bentuk inklinometer Spar antena sebagai
dapat diatur dengan memutar Elevation driver pada antena. Beberapa macam bentuk inklinometer Spar antena sebagai

Beberapa macam bentuk inklinometer

driver pada antena. Beberapa macam bentuk inklinometer Spar antena sebagai patokan sudut elevasi Mengatur elevasi

Spar antena sebagai patokan sudut elevasi

Beberapa macam bentuk inklinometer Spar antena sebagai patokan sudut elevasi Mengatur elevasi pada elevation driver 60

Mengatur elevasi pada elevation driver

Polarisasi OMT

Polarisasi ditentukan dengan memutar OMT. Besar perbedaan sudut antara

polarisasi vertikal dengan horisontal sebesar 90°. Hal ini dilakukan apabila jenis

OMT yang digunakan adalah OMT linear. Pengaturan polarisasi tergantung dari

transponder yang digunakan, apabila transponder H yang kita gunakan, maka arah

polarisasi pada OMT kita atur pula ke arah horisontal, begitupun sebaliknya.

Pengaturan polarisasi pada OMT dimaksudkan agar polarisasi transmit kita

sesuai dengan kavling transponder yang kita gunakan.contohnya, jika kita

menggunakan frekuensi 5950 (nb:frekuensi re-use), maka jika kita akan

menggunakan transponder berpolarisasi horisontal (1H), maka arah polarisasi

OMT kita juga harus diset pada pola polarisasi horisontal pula.

kita juga harus diset pada pola polarisasi horisontal pula. Mengatur polarisasi dengan merubah arah OMT Arah

Mengatur polarisasi dengan merubah arah OMT

horisontal pula. Mengatur polarisasi dengan merubah arah OMT Arah polarisasi horisontal Arah polarisasi vertikal

Arah polarisasi

horisontal

dengan merubah arah OMT Arah polarisasi horisontal Arah polarisasi vertikal Tambahan: Pada antena-antena besar

Arah polarisasi

vertikal

Tambahan:

Pada antena-antena besar yang berdiameter >6 meter, ada prosedur khusus yang dinamakan patterning antena. Patterning antena dimaksudkan untuk meminimalisasikan ASI (Assigment Satellite Interference), yaitu interferensi sinyal terhadap satelit lain agar didapat pengoperasian optimal. Patterning antena memerlukan teori khusus, karena itu tidak bisa saya bahas disini.

c. Settingan parameter pada IDU dan ODU

Parameter IDU (Modem) Ada beberapa parameter utama yang perlu disetting di modem, agar antara pemancar dan penerima dapat saling berkomunikasi (synch) diantaranya:

- Frekuensi (IF)

- Jenis FEC (Forward Error Correction)

- Tipe modulasi (BPSK, QPSK, 8PSK)

- Data rate

- Interface

Pengaturan dapat dilakukan dengan menekan tombol fungsi yang ada pada

modem

atau

melalui

software,baik

software

bawaan

pabrik

maupun

hyper

terminal.

bawaan pabrik maupun hyper terminal. Pengaturan melalui tombol panel modem Contoh penggunaan

Pengaturan melalui tombol panel modem

hyper terminal. Pengaturan melalui tombol panel modem Contoh penggunaan hyper terminal untuk consoling modem 62

Contoh penggunaan hyper terminal untuk consoling modem

Parameter ODU

Adapun pada ODU, parameter utama yang harus diperhatikan adalah :

- Frekuensi TX

- Frekuensi RX

- Level gain transmit

- Level gain receive

- TX switch (on / off)

ODU juga dapat disetting melalui software atau menggunakan handheld console. Khusus untuk pengaturan pada handheld, ada handheld yang langsung mengeset melalui tombol kontrol tertentu, dan adapula yang menggunakan perintah-perintah khusus.

kontrol tertentu, dan adapula yang menggunakan perintah-perintah khusus. Handheld terminal dan pemasangannya pada ODU 63
kontrol tertentu, dan adapula yang menggunakan perintah-perintah khusus. Handheld terminal dan pemasangannya pada ODU 63

Handheld terminal dan pemasangannya pada ODU

Contoh penggunaan software consoling ANASAT SUPERVISOR 64

Contoh penggunaan software consoling ANASAT SUPERVISOR

C.

Instrumen pengukuran

Dalam perencanaan komunikasi satelit, digunakan alat ukur yang berfungsi untuk

mengetahui suatu besaran tertentu. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat mengetahui dan mengatasi berbagai macam masalah yang timbul. Berikut beberapa alat ukur yang sering kita temui dan digunakan dalam perencanaan komunikasi satelit :

Multimeter Multimeter digunakan untuk mengukur besarnya tegangan, arus, dan hambatan. Ada dua jenis multimeter, yaitu multimeter digital dan multimeter analog.

multimeter, yaitu multimeter digital dan multimeter analog. Digital Analog Multimeter sering digunakan untuk mengetahui

Digital

yaitu multimeter digital dan multimeter analog. Digital Analog Multimeter sering digunakan untuk mengetahui tegangan

Analog

Multimeter sering digunakan untuk mengetahui tegangan dan arus listrik AC ataupun DC, mengecek konektivitas kabel, serta mengetahui nilai hambatan suatu benda / objek ukur.

Spektrum analyzer Spektrum analyzer berfungsi untuk mengukur sinyal dan melihat bentuk gelombang, serta mengetahui level suatu gelombang. Seiring dengan kemajuan teknologi, spektrum analyzer kini ada yang bersifat compact dan lebih kecil

analyzer kini ada yang bersifat compact dan lebih kecil  Power meter Power meter berfungsi untuk
analyzer kini ada yang bersifat compact dan lebih kecil  Power meter Power meter berfungsi untuk

Power meter Power meter berfungsi untuk mengukur besarnya daya (power) output suatu perangkat. Power meter selalu dilengkapi dengan power sensor. Biasanya alat ini digunakan untuk mengukur level output dari modem atau ODU, atau perangkat- perangkat lainnya.

digunakan untuk mengukur level output dari modem atau ODU, atau perangkat- perangkat lainnya. Power meter Power

Power meter

digunakan untuk mengukur level output dari modem atau ODU, atau perangkat- perangkat lainnya. Power meter Power

Power sensor

Bit Error Rate Test

BER-test berfungsi sebagai generator data. Selain itu, BER test juga digunakan untuk menghitung jumlah bit error yang dihasilkan dari suatu perangkat. Seperti spektrum analyzer, kini BER-test juga ada yang berbentuk compact pula.

kini BER-test juga ada yang berbentuk compact pula. Selain instrumen ukur yang disebutkan diatas, ada pula
kini BER-test juga ada yang berbentuk compact pula. Selain instrumen ukur yang disebutkan diatas, ada pula

Selain instrumen ukur yang disebutkan diatas, ada pula simulator dan generator yang sering digunakan dalam pengukuran, misalnya:

- frequency counter : untuk menghitung berapa frekuensi output yang dihasilkan dari suatu perangkat

- signal generator (Sig-Gen) : digunakan untuk menghasilkan suatu sinyal IF atau RF

- Noise generator : untuk menghasilkan noise pada saat perhitungan loss atau EbNo, sehingga mirip dengan saat sinyal dipancarkan ke satelit.

- Translator : digunakan untuk mensimulasi satelit, dimana alat ini menghasilkan LO dan mentranslasi sinyal seperti transponder satelit.

PERENCANAAN SUATU SISTEM KOMUNIKASI SATELIT Suatu satelit memiliki bandwidth, power dan waktu akses yang pada dasarnya memiliki keterbatasan tertentu. Karena itulah para penyedia, penyelenggara maupun pengguna selalu berusaha sebisa mungkin meningkatkan efisiensi dalam siskomsat. Untuk itu digunakan berbagai macam metode guna mengefisiensikan penggunaan satelit komunikasi. Dalam sistem komunikasi satelit, ada dua metode akses yang paling sering digunakan, yaitu FDMA dan TDMA. Pada bab ini, saya akan menjelaskan mengenai metode akses yang sering digunakan dalam sistem komunikasi satelit.

A. Metode Pemberian Alokasi Frekuensi

Ada dua metode pemberian alokasi frekuensi,yaitu :

PAMA (Permanent Assignment Multiple Access) Alokasi frekuensi diberikan kepada pemakai secara permanen, baik itu dipakai atau tidak. Hal ini hanya efektif untuk pemakaian sarana komunikasi yang lalu lintasnya padat atau hotline services

DAMA (Demand Assignment Multiple Access) Alokasi frekuensi akan diberikan kepada pemakai saat diperlukan, sehingga disediakan satu pool frekuensi yang dapat digunakan bersama-sama. Bila ada pemakai yang ingin melakukan komunikasi, maka pada saat itu dia akan diberikan alokasi frekuensi. Jika sudah selesai, dikembalikan ke dalam pool sehingga bisa dipakai oleh yang lain. Di sini alokasi frekuensi tidak perlu disediakan sebanyak jumlah pemakai, sehingga pemakaian frekuensi menjadi lebih efisien

B. Metode Akses

Dalam penggunaannya, sistem komunikasi satelit banyak menggunakan metode akses FDMA (Frequency Division Multiple Access) dan TDMA (Time

Division Multiple Access).

a. FDMA (Frequency Division Multiple Access) Prinsip dasar sistem FDMA, yaitu tiap stasiun bumi diberi bandwidth tertentu sehingga total dari seluruh penggunaan bandwidth dapat memenuhi bandwidthnya pada transponder satelit yang digunakan.

bit rate R c time 1 2 3 L wasted satelite frequency capacity 1 active
bit rate R c
time
1
2 3
L
wasted
satelite
frequency
capacity
1
active
2 3
L
no trafic
active
active

Kekurangan dari system ini adalah mudah terjadi gangguan atau distorsi intermodulasi karena terdapatnya frekuensi beda masuk dalam penguat. Sedangkan keuntungan utamanya adalah investasi pertamanya yang murah, reabitinya (keandalannya) cukup baik, pemeliharaanya yang mudah.sistem FDMA mempunyai efisiensi yang baik untuk terminal yang ber traffic rendah. Tetapi pada system ini , memilki kriteria yang harus dijalankan dengan baik antara lain yaitu :

- Komunikasi point to point antara lain untuk hot line

- Kepadatan komunikasi sangat ringan (1-2 channel).

- Manajemen mantap dan disiplin para pengguna dapat dipertanggung jawabkan.

Dalam penggunaan sistem FDMA ini, ada dua metode penggunaan kanal frekuensi, yaitu :

Metode SCPC (Single Channel Per carrier) Satu carrier frekuensi (gelombang pembawa) memodulasi dan membawa satu kanal data

(gelombang pembawa) memodulasi dan membawa satu kanal data MODEM RF INTERFACE SATELIT UNIT RF MODEM INTERFACE
MODEM RF INTERFACE SATELIT UNIT
MODEM
RF
INTERFACE
SATELIT
UNIT
RF MODEM INTERFACE UNIT SATELIT
RF
MODEM
INTERFACE
UNIT
SATELIT

MCPC (Multi Channel Per Carrier) Satu carrier frekuensi (gelombang pembawa) memodulasi beberapa kanal suara atau data

pembawa) memodulasi beberapa kanal suara atau data MULTI MODEM RF PLEXER SATELIT UNIT RF MODEM MULTI
MULTI MODEM RF PLEXER SATELIT UNIT
MULTI
MODEM
RF
PLEXER
SATELIT
UNIT
RF MODEM MULTI UNIT SATELIT PLEXER
RF
MODEM
MULTI
UNIT
SATELIT
PLEXER

b. TDMA (Time Division Multiple Access) Sistem TDMA mempergunakan satu gelombang pembawa untuk layani sejumlah stasiun bumi. Gelombang carrier didalam spektrum satelit dipergunakan menurut pembagian waktu oleh tiap-tiap stasiun bumi. Stasiun bumi hanya dapat mengirimkan sinyal yang berupa burst pada waktu yang diberikan untuknya. Jadi pada waktu dan kesempatan yang tepat atau pada saat gilirannya stasiun bumi dapat melakukan transmit.

70

L bit rate R c 3 2 1 TDMA frame duration time wasted satellite capacity
L
bit rate R
c
3
2
1
TDMA frame
duration
time
wasted satellite capacity
frequency
1
active
2 3
L
active
active
no trafic

Keuntungan system ini adalah dapat menggunakan power output dari transponder secara penuh tanpa takut akan timbulnya draw intermodulasi, hal ini disebabkan hanya menggunakan satu sinyal carrier saja, selain itu system TDMA lebih fleksibel dalam penyediaan multiple access terhadap satelit karena perubahan posisi kanal pada base-band tidak menyebabkan perubahan terhadap alat-alat pemancar dan penerima seperti yang terjadi pada FDMA. Sedangkan kekurangan sistem ini adalah investasi awal yang mahal., serta sinkronisasi burst yang mahal untuk semua stasiun dalam system TDMA.

ini adalah investasi awal yang mahal., serta sinkronisasi burst yang mahal untuk semua stasiun dalam system

71

Selain dua sistem metode akses yang disebutkan di atas, adapula jenis metode akses lain, yaitu :

CDMA (Code Divison Multiple Access) Dalam system CDMA ini semua stasiun memancar pada frekuensi dan waktu yang sama. Keistimewaan system ini adalah, system ini dirancang sedemikian rupa sehingga masing-masing stasiun mentransmitkan sinyal informasinya dengan menggunakan kodenya sendiri-sendiri dan hanya terminal yang mempunyai kode sama yang dapat menerimanya. Keuntungan system ini adalah tidak mungkin terjadi interfrensi. Sedangkan kekurangannya adalah biaya yang sangat mahal untuk system ini hanya digunakan pada system khusus misalnya dalam keperluan militer yang memerlukan kerahasiaan dan keamanan.

Unslotted ALOHA Ini adalah suatu metoda yang lebih tepat bila dikatakan rebutan dari para penggiliran karena pada metode ini setiap terminal akan memancarkan sinyal informasi setiap kali terminal tersebut memerlukannya tanpa perlu tahu apakah kanal informasi tersebut kosong atau tidak. Kelemahan sistem ini mudah terjadi tabrakan antar informasi yang satu dengan yang lainnya bila digunakan pada traffic yang tinggi, efisiensi penggunaan kanal hanya 17-18 % setiap kali penggunaan.

Slotted ALOHA Ini adalah suatu metoda yang boleh dikatakan metode perbaikan dari metoda unslotted ALOHA diatas. Pada metoda ini kemungkinan tabrakan antar sinyal informasi yang satu dengan yang liannya dapat dikutrangi dengan cara bila ada terminal yang sedang memancarkan informasi hanya boleh selalu ditempatkan pada wall slot, berarti respon timenya lebih besar dibandingkan metode unslotted ALOHA. Efisiensi penggunaan kanal naik sampai 37 % dalam setiap kali penggunaan.

72

C.

Perhitungan Link Budget

Link budget adalah perhitungan dari rugi-rugi transmisi (transmission losses) dan noise. Perhitungan ini digunakan untuk menentukan parameter- parameter supaya mendapatkan kualitas link dari satu Earth Station ke Earth Station lain via satelit yang bebas error. Pada pembahasan ini, saya tidak membahas secara mendetail mengenai link budget, karena hal ini memerlukan pembahasan khusus. Saya hanya akan menjelaskan apa saja parameter yang diperhitungkan dalam link budget.

Parameter Link budget adalah sbb :

1. EIRP (Effective Isotropic Radiated Power) dan SFD (Saturated Flux Density) dari transponder.

2. Nilai G/T (Gain Over Temperature) satelit (sensitivitas transponder)

3. Bandwidth dari transponder.

4. Output Back Off dari transponder

5. Input Back Off dari transponder

6. Latitude dan longitude dari uplink dan downlink stasiun bumi

7. Information rate / data rate (kbps).

8. Tipe Modulasi (BPSK, QPSK, 8-PSK)

9. Tipe forward error correction rate (1/2 , 3/4, 7/8 )

10. Frekuensi Uplink and Downlink

11. Diameter Antena yang digunakan

12. Efisiensi uplink dan downlink antena

13. Minimum digital signal strength (EB/No) sesuai dengan Bit Error Rate (BER) yang diinginkan

73

Gangguan dalam komunikasi satelit Dalam komunikasi satelit, ada berbagai macam gangguan transmisi, yang berupa interferensi (gangguan yang berasal dari sistem atau alat yang digunakan) dan impairment (gangguan yang berasal dari alam). a. Interferensi

Interferensi karena imbas pointing Terjadi karena adanya frekuensi dari stasiun bumi lain. Karena setiap carrier dari stasiun bumi berbeda EIRP-nya maka akan terjadi imbas-mengimbas antara tiap carrier. Karena itu sangatlah penting melakukan tracking antena untuk memperoleh arah antena yang tepat. Bila pengarahan atau pointing kita tidak tepat, maka bukan hanya transmit kita saja yang tidak maksimal tetapi juga akan mengganggu sinyal stasiun lainnya dan transmit dari stasiun lain juga akan mengganggu sinyal kita.

transmit dari stasiun lain juga akan mengganggu sinyal kita.  Interferensi dari satelit lain (ASI) Terjadi

Interferensi dari satelit lain (ASI) Terjadi apabila suatu stasiun bumi memancarkan suatu carrier yang memiliki power terlalu besar, sehingga akan menyebabkan carrier akan masuk ke satelit lain. Interferensi ini disebut ASI (Assigment Satelite Interference). Untuk mengatasi hal ini, maka dilakukanlah patterning dan pengaturan level yang disesuaikan.

74

Interferensi karena intermodulation Gangguan ini muncul pada saat suatu stasiun bumi mengirimkan beberapa carrier. Dalam pengoperasiannya banyak stasiun bumi yang meng-UpLink beberapa carrier yang di kombinasikan dan diaplikasikan dengan sebuah SSPA. Karenanya, akan timbul suatu frekuensi anakan yang disebut frekuensi sporius. Besarnya sporius ini minimal harus berada dibawah 28 dBc, agar tidak menggangu transponder yang bersangkutan. Untuk mengatasinya, maka SSPA diberikan back-off sebesar 6 dB

mengatasinya, maka SSPA diberikan back-off sebesar 6 dB b. Impairment  Rain fade Adalah redaman gelombang

b. Impairment

Rain fade Adalah redaman gelombang gelombang yang disebabkan oleh hujan. Hujan dapat menimbulkan absorsi, difraksi, dan refraksi terhadap carrier sehingga efisiensi dan mutu pemancaran antena menurun karenanya. Hal ini dkarenakan mylard pada OMT tergenang oleh air hujan tadi. Selain itu, bila reflektor antena kurang dilubangi maka air hujan akan menggenangi reflektor antenna. Interferensi karena rain fade ini tidak dapat dicegah, karena sifatnya tergantung pada alam.

Sun outage terjadi saat posisi satelit dan matahari berada dalam satu garis lurus, sehingga menaikkan noise thermal LNA/B/C, sehingga satelit tidak dapat digunakan sama sekali selama terjadinya sun outage. Kemungkinan terjadinya sun

75

outage hanya dua kali dalam setahun yaitu bulan Maret dan September tergantung dimana letak stasiun buminya. Hal ini hanya terjadi beberapa menit saja.

stasiun buminya. Hal ini hanya terjadi beberapa menit saja.  Scintillation Scintillation terjadi karena adanya

Scintillation Scintillation terjadi karena adanya perubahan komposisi di atmosfir yang menyebabkan naik turunnya level pada sinyal. Akan tetapi gangguan ini sangat jarang terjadi.

Pergeseran orbit satelit Dalam peredarannya mengelilingi bumi 24 jam setiap hari diangkasa, satelit ini akan mengalami banyak gangguan alami seperti misalnya gaya tarik menarik benda langit, rotasi bumi pada porosnya walaupun kecil tetapi terdapat deviasinya,kemudian satelit itu sendiri mempunyai kecendrungan untuk melambat.Namun dengan adanya system penjagaan stasiun (stasiun keeping) maka satelit dapat dikontrol dari bumi. Pergerakkan satelit dibatasi pada suatu orbital box sekitar 0,05 atau peak to peak 0,10 busur derajat saja.

bumi. Pergerakkan satelit dibatasi pada suatu orbital box sekitar 0,05 atau peak to peak 0,10 busur

76

Keuntungan dan kerugian dalam penggunaan komunikasi satelit Dalam pemanfaatannya, sistem komunikasi satelit banyak membantu dalam kehidupan sehari-hari. Namun, disamping itu ada pula kerugian dari sistem ini

A. KEUNTUNGAN KOMUNIKASI SATELIT

1. Jangkauan cakupannya yang luas baik nasional, regional maupun global.

2. Pembangunan infrastrukturnya relatif cepat dan murah untuk daerah yang luas, dibanding teresterial.

3. Komunikasi dapat dilakukan baik titik ke titik maupun dari satu titik ke banyak titik secara broadcasting, multicasting

4. Kecepatan bit akses tinggi dan bandwidth lebar. VSAT bisa dipasang dimana saja selama masuk dalam jangkauan satelit,

5. Handal dan bisa digunakan untuk koneksi voice, video dan data, dengan menyediakan bandwidth yang lebar

6. Jika ke internet jaringan akses langsung ke ISP router dengan keandalannya mendekati 100%

7. Sangat baik untuk daerah yang kepadatan penduduknya jarang dan belum mempunyai infrastuktur telekomunikasi.

8. Cepat dan Mudah Instalasi selama tidak tidak ada penghalang ke arah satelit (obstackle)

9. Mempunyai kemampuan teknologi informasi terbaru dan bersifat upgradable.

10. Sangat baik untuk aplikasi broadcast dan multicast

11. Kemudahan untuk dimonitor dan dikontrol

12. Tingkat Security Tinggi

13. Sangat kompatibel dengan PSTN (Jaringan Kabel) dan Jaringan Wireless

14. Sangat ekonomis untuk negara kepulauan dan memiliki daratan yang luas.

77

B. KERUGIAN KOMUNIKASI SATELIT

1. Untuk melewatkan sinyal TCP/IP, besarnya throughput akan terbatasi karena delay propagasi satelit geostasioner. Kini berbagai teknik protokol link sudah dikembangkan sehingga dapat mengatasi problem tersebut. Diantaranya penggunaan Forward Error Correction yang menjamin kecilnya kemungkinan pengiriman ulang.

2. Waktu yang dibutuhkan dari satu titik di atas bumi ke titik lainnya melalui satelit adalah sekitar 700 milisecond, sementara dalam komunikasi terestial hanya butuh waktu sekitar 40 milisecond. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh oleh data yaitu dari bumi ke satelit dan kembali ke bumi. Satelit geostasioner sendiri berketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan bumi.

3. Rapuh terhadap curah hujan yang tinggi: Semakin tinggi frekuensi sinyal yang dipakai maka akan semakin tinggi redaman karena curah hujan. Saat ini band frekuensi yang banyak dipakai untuk aplikasi broadcasting adalah S-band, C- Band dan Ku-Band. Untuk daerah seperti Indonesia dengan curah hujan yang tinggi penggunaan Ku-band akan sangat mengurangi availability link satelit yang diharapkan. Sedangkan untuk daerah daerah sub tropis dengan curah hujan yang rendah penggunaan Ku-Band akan sangat baik. Pemilihan frekuensi ini akan berpengaruh terhadap ukuran terminal yang akan dipakai oleh masing- masing pelanggan.

4. Sun Outage yang menyebabkan sistem komunikasi satelit tidak berfungsi

5. Harga sewa transponder yang relatif mahal

6. Delay propagasi yang cukup tinggi ±250 ms

78

ANTENA STASIUN BUMI TRANSPORTABLE Teknologi VSAT sangat banyak digunakan dalam industri telekomunikasi. Untuk beberapa keperluan, dirancanglah suatu stasiun bumi yang bersifat dapat berpindah-pindah lokasi. Stasiun bumi transportable ini biasanya digunakan pada kendaraan-kendaraan tertentu seperti mobil dan kapal laut. Biasanya, desain antena yang digunakan khusus dan bersifat compact, dengan pemasangan dan pembongkaran yang lebih mudah. Berikut macam-macam antena pada stasiun bumi transportable yang sering digunakan:

A. Antena Fly-away

bumi transportable yang sering digunakan: A. Antena Fly-away Antena fly-away hampir mirip seperti antena fixed biasa,
bumi transportable yang sering digunakan: A. Antena Fly-away Antena fly-away hampir mirip seperti antena fixed biasa,

Antena fly-away hampir mirip seperti antena fixed biasa, hanya saja struktur konstruksinya dibuat sedemikian rupa sehingga lebih mudah dipasang dan dibongkar. Antena jenis ini biasanya berukuran kecil, sekitar ± 1,2 meter. Antena jenis ini biasa digunakan untuk keperluan militer ataupun stasiun televisi.

79

B. Antena SNG

Antena ini didesain khusus agar saat disimpan tidak memakan banyak

tempat, pemasangan dan pengaturannya pun juga sangat mudah. Jenis antena ini

banyak digunakan oleh stasiun televisi.

Jenis antena ini banyak digunakan oleh stasiun televisi. Bentuk konstruksi antena SNG Cara mengatur azimuth Pada

Bentuk konstruksi antena SNG

oleh stasiun televisi. Bentuk konstruksi antena SNG Cara mengatur azimuth Pada antena SNG Cara mengatur elevasi

Cara mengatur azimuth Pada antena SNG

televisi. Bentuk konstruksi antena SNG Cara mengatur azimuth Pada antena SNG Cara mengatur elevasi Pada antena

Cara mengatur elevasi Pada antena SNG

80

C.

Antena CMOV

Ciri khusus CMOV adalah antena satelit yang selalu tergabung langsung dalam kendaraan. Berbeda dengan SNG dan fly-away, antena jenis ini biasanya sudah langsung terpasang. Biasanya digunakan oleh stasiun televisi, polisi, militer, dan stasiun radio. Antena ini ada dua jenis, yaitu yang menggunakan manual adjusment dan motorize adjustment. Namun kebanyakan yang dijumpai adalah tipe motorize adjusment, karena tidak sulit dan lebih mudah pengaturannya. Selain itu, ada pula yang menggunakan antena yang bersifat auto tracking, artinya antena tersebut dapat mencari dan mengarahkan dirinya ke satelit yang dituju secara otomatis.

mencari dan mengarahkan dirinya ke satelit yang dituju secara otomatis. CMOV manual adjustment CMOV manual adjustment
mencari dan mengarahkan dirinya ke satelit yang dituju secara otomatis. CMOV manual adjustment CMOV manual adjustment

CMOV manual adjustment

mencari dan mengarahkan dirinya ke satelit yang dituju secara otomatis. CMOV manual adjustment CMOV manual adjustment
mencari dan mengarahkan dirinya ke satelit yang dituju secara otomatis. CMOV manual adjustment CMOV manual adjustment

CMOV manual adjustment

81

D.

Antena ORBIT

Jenis antena khusus ini banyak digunakan pada kapal laut. Antena ini tergolong

dalam jenis dual offset gregorian

tracking. Selain itu, antena ini juga terkoneksi dengan GPS. Khusus untuk

Pengaturan elevasi antena jenis ini, antena ini menggunakan dual axis (X-Y)

Antena ini juga dilengkapi dengan fitur auto-

axis (X-Y) Antena ini juga dilengkapi dengan fitur auto- Bentuk struktur konstruksi antena ORBIT Antena ORBIT

Bentuk struktur konstruksi antena ORBIT

dengan fitur auto- Bentuk struktur konstruksi antena ORBIT Antena ORBIT yang telah dipasangi radome pelindung 82

Antena ORBIT yang telah dipasangi radome pelindung

82