Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pencampuran merupakan suatu unit operasi di mana campuran yang seragam

diperoleh dari 2 komponen atau lebih, yaitu dengan cara mendispersikan satu komponen ke komponen lainnya. Komponen yang lebih besar disebut fase kontinu dan komponen yang lebih kecil disebut juga fase terdispersi. Pencampuran tidak memiliki efek pengawetan, melainkan hanya dilakukan untuk mempermudah pemrosesan, serta meningkatkan karakteristik sensori dari suatu produk Kriteria pencampuran yang berhasil dapat dilihat dari kualitas produk yang sesuai dengan yang dikehendaki ( ditinjau dari segi sensori, fungsi, homogenitas, dan sebagainya), memiliki keamanan yang cukup, desain yang higienis, sesuai dengan standar komposisi untuk produk tersebut, efisien dalam proses dan energi, serta fleksibel terhadap perubahan selama proses pencampuran. 1.2 Tujuan Dapat menghitung indeks pencampuran untuk bahan berbentuk granula dan dapat menjelaskan hubungan antara waktu dengan indeks pencampuran bahan berbentuk granula.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pencampuran Pencampuran adalah unit operasi yang menyeragamkan dua bagian yang

berbeda atau lebih, dengan mengedarkan salah satu bagian dalam bagian lainnya. Bagian terbesar dari suatu campuran biasa disebut dengan continuous phase dan bagian terkecil biasa disebut dengan dispersed phase. Proses pencampuran sesungguhnya tidak bertujuan untuk pengawetan, tetapi lebih ditujukan untuk meningkatkan eating quality dari suatu makanan. Pencampuran sudah diaplikasikan secara luas dalam industri makanan untuk mengkombinasikan bahan makanan untuk mendapatkan sifat fungsional yang berbeda atau karakteristik sensori yang berbeda. Beberapa contoh pengaplikasian proses pencampuran dalam industri makanan adalah: pengembangan tekstur dalam adonan atau ice cream, pengontrolan proses pengkristalan gula, pengeringan adonan kue, dan beberapa produk coklat. Dalam beberapa makanan, pencampuran yang tepat sangat dibutuhkan untuk menjamin bahwa proporsi tiap bahan makanan telah memenuhi standar yang berlaku. Dalam beberapa aspek, proses pencampuran bahan makanan berbeda dengan aplikasi pencampuran secara umum dalam kegiatan industri. Pencampuran bahan makanan sering kali digunakan terutama untuk mengembangkan karakteristik produk yang diharapkan daripada untuk sekedar menjamin kehomogenitasan produk. Pencampuran beberapa jenis bahan makanan sering menyebabkan perbedaan sifat fisik dan jumlah. Pencampuran sering digunakan untuk bahan dengan tingkat kekentalan yang tinggi atau larutan yang non-newtonian. Beberapa bahan makanan dapat pecah atau mengalami kerusakan akibat pencampuran yang berlebihan. Ada hubungan yang kompleks antara pola pencampuran dengan karakteristik produk akhir.

Kriteria untuk pencampuran yang berhasil dijabarkan dengan mendapatkan produk berkualitas yang dapat diterima (acceptable) yang meliputi sifat sensori, fungsional, homogenitas, dan sebagainya. Kemudian dilanjutkan dengan tingkat keamanan yang memadai, desain yang hegienis, halal, proses dan efisiensi energi, dan fleksibilitas untuk berubah dalam proses. Detail mengenai cara kerja pencampuran diberikan oleh Lindley. 2.2. Pencampuran bahan padat Berbeda dengan cairan dan pasta yang kental, pencampuran bahan padat tidak memungkinkan untuk mendapatkan campuran yang benar-benar seragam secara keseluruhan dari bubuk kering atau beberapa produk padat. Tingkat pencampuran yang diterima tergantung kepada: ukuran, bentuk, dan kepadatan dari tiap-tiap bahan; kelembaban, karakteristik permukaan dari tiap bahan; kecenderungan bahan untuk menggumpal dan mengendap; dan efisiensi dari pencampuran tertentu untuk bahan tersebut. Secara umum, benda yang memiliki kemiripan dalam ukuran, bentuk, dan kepadatan akan lebih mungkin membentuk campuran yang memiliki keseragaman secara keseluruhan dibandingkan bahan yang tidak memiliki kemiripan sama sekali. Pada saat pencampuran, perbedaan sifat itu dapat menyebabkan pemisahan (unmixing) dari beberapa bagian bahan. Dalam beberapa pencampuran, seragaman didapatkan setelah beberapa saat tertentu kemudian dimulailah pemisahan. Jadi untuk mencegah pemisahan campuran, sangatlah penting untuk mengetahui waktu pencampuran yang tepat. Keseragaman produk akhir tergantung pada keseimbangan yang didapat antara mekanisasi pancampuran dan pemisahan. Di mana semuanya ini berhubungan dengan tipe mixer yang digunakan, kondisi pengoperasian, dan komponen dari bahan makanan tersebut. Jika dua komponen campuran diambil untuk sampel sesaat sebelum mixer dinyalakan, hampir keseluruhan sampel yang diambil terdiri dari satu jenis bahan

saja. Ketika proses pencampuran berjalan, komposisi masing-masing sampel makin seragam dan merata dan semakin mendekati komposisi rata-rata dari suatu campuran. Salah satu cara untuk menentukan perubahan komposisi adalah dengan mengukur standar deviasi dari masing-masing bagian dalam sampel. Dimana m = deviasi standar, n = jumlah sampel, c = konsentrasi komponen masing-masing sampel dan = konsentrasi rata-rata sampel. Deviasi standar rendah ditemukan sebagai keseragaman pertambahan campuran. Beberapa indeks campuran dapat memonitor tingkat pencampuran dan membandingkan tipe peralatan alternatif

Di mana = deviasi standar sampel yang tercampur sempurna, o = deviasi standar sampel pada awal pencampuran, m = deviasi standar sampel selama pencampuran. o dicari menggunakan

Di mana V = volume atau massa fraksional rata-rata suatu komponen dalam campuran. Dalam praktek, pencampuran sempurna ( = 0) tak dapat dicapai, tetapi pada mixer efisien nilainya menjadi sangat rendah setelah beberapa waktu. Indeks pencampuran M1 digunakan ketika komponen bermassa hampir sama dicampur atau pada tingkat pencampuran relatif rendah, M2 digunakan ketika sebagian kecil dari salah satu komponen tergabung ke dalam bagian terpenting bahan yang lebih besar atau pada tingkat pencampuran yang lebih tinggi, M3 digunakan untuk campuran cair

atau padat dengan cara yang sama dengan M1. Dalam praktek, ketiga hal itu diuji dan dipilih salah satu yang paling cocok untuk bahan dasar tertentu dan tipe mixer. Hubungan waktu penampuran dengan index pencampuran dijabarkan sebagai berikut:

Di mana K = konstanta laju pencampuran, yang bervariasi sesuai dengan tipe mixer dan sifat bahan dasar, dan tm (s) = waktu pencampuran.

2.3.

Efek pencampuran pada bahan makanan Kerja dari mixer tidak memiliki efek langsung bagi qualitas nutrisi atau umur

simpan makanan, tetapi memiliki efek tak langsung dengan membiarkan komponen campuran bereaksi bersama. Sifat dan luas reaksi tergantung pada komponen terkait tapi dapat dipercepat bila panas yang dibutuhkan dihasilkan pada mixer. Pada umumnya, pencampuran memiliki efek substansial pada qualitas sensori dan sifat fungsional makanan. Misalnya: pengembangan gluten dibantu selama pembuatan adonan oleh perenganggan dan pelipatan yang meluruskan, menguraikan, dan memperpanjang molekul protein dan mengembangkan kekuatan struktur gluten untuk memproduksi tektur yang dibutuhkan dalam roti. Efek utama adalah menambah keseragaman produk dengan mendistribusikan bahan keseluruh bagian.

BAB III METODOLOGI

3.1

Alat dan bahan Alat-alat yang digunakan adalah mixer, ayakan bertingkat, kuas pembersih,

timbangan meja, baskom dan mangkuk. Sedangkan bahan-bahan yang dipakai adalah gula pasir dengan dua ukuran dan tepung terigu. 3.2 1. 2. 3. Prosedur kerja Gula pasir diayak dengan ayakan bertingkat sehingga didapatkan 2 jenis gula dengan 2 macam ukuran diameter butiran (gual A dan gula B) Sebanyak 200 g tepung terigu dimasukkan ke dalam baskom dalam kondisi bersih dan kering. 100 g gula A ditambahkan ke dalamnya. 2 x 5 g sampel diambil untuk mengukur derajat pencampuran pada menit ke 0, kemudian dilakukan pencampuran dengan mixer kecepatan rendah. 4. 5. Sampel berikutnya diambil pada waktu pencampuran 5, 10, dan 15 menit masing-masing 2 x 5 sampel. Fraksi tepung terigu dan gula pada sampel dianalisis dengan dilakukan pemisahan tepung dan gula dengan ayakan Tyler (Amplitudo = 50, waktu 10 menit), kemudian berat masing-masing bahan ditimbang. 6. Ayakan yang digunakan hanya 2 ayakan, yaitu ayakan dengan ukuran lubang yang sama dengan diameter butiran gula dan pan. Semua yang lolos ke dalam pan diangggap sebagai tepung, yang tertinggal di ayakan sebagai gula. 7. Hal yang sama dilakukan juga pada gula B. Hasil perhitungan keduanya dibandingkan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pencampuran adalah suatu proses penyebaran satu komponen ke komponen lainnya. Pencampuran juga merupakan suatu operasi dimana dua atau lebih komponen disatukan sampai mendapat distribusi yang homogen oleh mekanisme aliran yang diciptakan, umumnya secara mekanis. Suatu pencampuran dikatakan homogen apabila dua atau lebih komponen yang disatukan memiliki susunan bagian yang sama. (Fellows, 1990). 4.1. Indeks Pencampuran Indeks pencampuran bahan (Ig) sering disebut juga derajat keseragaman. Ig merupakan ukuran yang dipakai untuk menunjukkan apakah pencampuran telah berlangsung dengan baik atau belum. Semakin baik pencampuran suatu bahan dengan bahan lainnya, maka indeks pencampurannya akan semakin tinggi karena semakin banyak komponen-komponen dari kedua bahan yang saling terdistribusi secara random. Besarnya Indeks Pencampuran tergantung pada beberapa hal, misalnya waktu pencampuran, sifat bahan (mudah tidaknya bercampur) dan alat pencampurnya (desain alat) (Fellows, 1990). 4.1.1. Pengaruh perbedaan ukuran partikel terhadap indeks pencampuran Perbedaan karakteristik materi seperti ukuran maupun kerapatan akan menyebabkan timbulnya berpengaruh pada mudah tidaknya proses pencampuran terjadi. Proses pencampuran akan lebih mudah apabila kuantitas dan ukuran komponen yang akan dicampur kurang lebih sama besar. Apabila ada perbandingan yang cukup mencolok maka sebaiknya proses pencampuran dilakukan secara bertahap (Brenan et. al., 1990).

Gula Kasar Gula Halus Menit keIg Menit ke0 0.9096 0 5 0.9774 5 10 0.9976 10 15 0.9995 15 Tabel 4.1. Hasil Indeks Pencampuran

Ig 0.99818 0.99928 0.9966 0.9995

Pengaruh Ig terhadap waktu pada gula kasar


1.02 1 0.98 0.96 0.94 0.92 0.9 0.88 0.86 0 5 10 Waktu (menit) 15 0.9096 Ig 0.9774 0.9976 0.9995

Grafik 4.1. Grafik Ig terhadap waktu pada gula kasar

Pengaruh Ig terhadap waktu pada gula halus


1 0.999 0.998 Ig 0.997 0.996 0.995 0 5 10 Waktu (menit) 15 0.99818 0.99928 0.9995

0.9966

Grafik 4.2. Grafik Ig terhadap waktu pada gula halus Dari tabel 4.1. dan grafik di atas pun dapat dilihat bahwa gula pasir yang halus memliliki Indeks Pencampuran yang lebih besar daripada gula pasir yang kasar pada waktu bersamaan. Penyimpangan hanya terjadi pada menit ke 10, dimana Ig gula kasar didapati lebih besar dari Ig gula halus. Penyimpangan ini disebabkan karena waktu pengayakan pada gula halus terlampau lama, tidak pas 10 menit (kurang lebih 12 menit). Ini menyebabkan berat tepung yang berada di pan jauh lebih banyak dari pada seharusnya. Namun secara keseluruhan, Ig gula kasar lebih kecil daripada Ig gula halus, karena gula halus memliki ukuran yang lebih mirip dengan ukuran tepung daripada gula kasar. 4.1.2. Pengaruh waktu terhadap indeks pencampuran Faktor utama yang mempengaruhi indeks pencampuran adalah lamanya pencampuran. Indeks pencampuran ini berbanding lurus dengan waktu pencampuran. Homogenitas suatu hasil pencampuran akan meningkat seiring dengan bertambahnya waktu pencampuran. Namun demikian, terdapat suatu titik maksimum homogenitas yang nilainya adalah 1, sehingga saat mendekati titik maksimum ini tidak akan terjadi peningkatan homogenitas lagi. Artinya, indeks pencampuran bahan akan mengalami

kondisi yang konstan dari waktu ke waktu setelah mengalami peningkatan pada awal pencampuran. Setelah mencapai kondisi konstan ini, lamanya pencampuran tidak lagi mempengaruhi indeks pencampuran bahan. Walaupun terjadi peningkatan, peningkatan tersebut bukan lagi merupakan peningkatan yang cukup berarti. Hal ini terbukti dengan grafik 4.1. dimana besarnya Ig bertambah seiring pertambahan waktu, namun pada akhirnya mendekati konstan. Pada grafik 4.2. terjadi penyimpangan yaitu pada menit ke 10, karena pengayakan yang terlalu lama dan pada menit ke 0, kemungkinan karena saat pengambilan sampel, sampel telah tercampur secara manual. Dengan demikian, hasil perhitungan indeks pencampurannya menunjukkan hasil yang tinggi. 4.3. Peralatan Pemilihan tipe dan ukuran yang benar untuk alat pencampur (mixer) tergantung pada tipe dan jumlah dari bahan makanan yang dicampur dan kecepatan poengoperasian yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat pencampuran dengan konsumsi energi terkecil. Ada sangat banyak variasi atau jenis alat pencampur yang tersedia, berdasarkan pada banyaknya pemakaian pencampuran dan berdasarkan experimen alami dari desain alat pencampur beserta pengembangannya. Alat pencampur diklasifikasikan dalam beberapa tipe yang sesuai untuk: bubuk kering atau padatan tertentu, cairan dengan konsentrasi rendah atau sedang, cairan dengan konsentrasi tinggi atau pasta, melarutkan bubuk dalam cairan. Pownall telah mengadakan survei alat pencampur yang dapat digunakan untuk masin-masing kategori itu dan faktor-faktor yang digunakan untuk memilih alat pencampur digambarkan pada tabel pada lampiran. Pada umumnya, efisiensi pencampuran dapat ditingkatkan dengan pencampuran pada beberapa tahap. Misalnya, apabila 1 kg bahan dicampur dengan 500 kg air, akan tercampur lebih efisien apabila dicampur terlebih dahulu dengan 25 kg air, lalu dicampur dengan air yang tersisa.

10

4.3.1. Alat pencampur untuk bubuk kering dan padatan tertentu Alat pencampur ini memiliki 2 bentuk dasar, yaitu alat yang bergerak berputar berlawanan arah dan alat yang berputar searah baling-baling. Alat-alat ini digunakan untuk mencampur biji-bijian, tepung, dan persiapan untuk mencampur bubuk (misalnya: campuran untuk kue dan bumbu yang dikeringkan). Alat pencampur berlawanan arah (trumbling mixer), misalnya double-cone-mixer (gambar 4.1.), drum mixer (gambar 4.2.), Y-cone-mixer, dan V-cone-mixer. Alat-alat ini diisi setengah penuh dan berputar pada kecepatan 20-100 rev/menit. Pencampuran optimal untuk sebagian campuran bahan tergantung pada bentuk dan kecepatan alat, tetapi kecepatannya harus lebih kecil daripada kecepatan kritis, ketika gaya sentrifugal lebih besar daripada gravitasi. Efisiensi pencampuran ditentukan oleh putaran berlawanan arah. Ribbon-mixer (gambar 4.3.) memiliki 2 atau lebih mata pengaduk metal tipis dan kecil berbentuk helices yang berputar berlawanan arah dalam suatu lorong yang tertutup. Arah pergerakan bahan makanan berbeda dalam ribbon, gerakan yang pertama adalah ketika bahan makanan bergerak masuk ke dalam lorong dengan cepat sedangkan gerakan yang kedua adalah bahan makanan tersebut secara perlahan diputar kebelakang (berlawanan dengan arah masuknya bahan). Tipe pencampur ribbon biasa digunakan untuk bahan yang kering dan bahan makanan dengan ukuran tertentu. Vertical-screw-mixer memiliki baling-baling yang berputar vertikal, yang terdapat di dalam bejana berbentuk kerucut yang berputar di tempat untuk mengaduk atau mencampur semua bahan di dalamnya. Tipe mixer ini secara khusus sangat berguna untuk menggabungkan bahan dasar yang sedikit hingga menjadi bahan yang lebih besar.

11

(Sumber: Anonima, 2003) Gambar 4.1. Double cone mixer

12

(Sumber: Anonima, 2003) Gambar 4.2. Drum mixer

(Sumber: Anonima, 2003) Gambar 4.3. Ribbon mixer 4.3.2. Alat pencampur untuk cairan dengan viskositas kecil dan sedang

13

Sebagian besar disain dari alat pengaduk digunakan untuk mencampur cairan dalam wadah yang berputar atau wadah yang diam. Keuntungan dan kekurangan dari masing-masing variasi diperlihatkan dalam tabel 4.3. Paddle agitator (gambar 4.4.) yang paling simpel dalam alat pengaduk adalah mata pengaduk yang lebar dan datar dengan ukuran 50 - 75% dari diameter wadah dan berputar pada kecepatan 20-150 rev/menit. mata pengaduk biasanya menghasilkan arah putaran longitudinal dengan aliran ke atas dalam wadah yang diam. Impeller agitator terdiri dari dua atau lebih mata pengaduk yang melekat pada batang yang berputar. Bentuk mata pengaduk bisa datar, berkelok-kelok, atau bersudut-sudut. Turbine agitator adalah impeller agitator yang memiliki empat buah mata pengaduk yang tersusun bersama. Ukurannya biasanya 30 - 50% dari diameter wadah dan berputar pada kecepatan 30-500 rev/menit. Bentuk mata pengaduk yang datar, berkelok-kelok, atau bersudut-sudut bertujuan untuk meningkatkan aliran putaran longitudinal. Sebagai tambahan, mata pengaduk bisa tersusun pada piringan datar (dalam caned disc impeller), tersusun vertikal pada wadah berputar. Tenaga pengaduk terbesar terdapat di sekitar tepi mata pengaduk impeller dan alat ini biasanya digunakan untuk premixing pada emulsi. Impaller yang memiliki mata pengaduk yang pendek (lebih pendek daripada seperempat diameter wadah) dikenal sebagai propeller agitator (gambar 4.5.). Propeller agitator berputar pada kecepatan 400-1500 rev/menit.

(Sumber: Anonima, 2003) Gambar 4.4. Paddle agitator

14

(Sumber: Anonima, 2003) Gambar 4.5. Propeller agitator Advantages Good radial and rotational Paddle agitator flow, cheap Multiple paddle Good flow in all three agitator directions Good flow in all three Propeller agitator directions Turbine agitator Very good mixing Tabel 4.2. Keuntungan dan kerugian pencampuran cair Type of mixer Limitations Poor perpendicular flow, high vortex risk at higher speeds More expensive, higher energy required More expensivethan paddle agitator Expensive and risk of blockage

4.3.3. Alat pencampur untuk cairan dengan viskositas tinggi dan pasta Untuk cairan yang kental, digunakan mixer dengan kecepatan rendah dengan vertical-shaft-impellers seperti multiple-paddle (gate) agitator, atau lebih umum digunakan, counter-rotating-agitator untuk meningkatkan gaya aduknya. Desain dasar untuk mixer jenis ini adalah anchor and gate agitator yang biasa digunakan dengan wadah pengaduk yang sudah dipanaskan, dimana anchor dilengkapi dengan scraper blade untuk mencegah bahan makanan terbakar pada permukaan yang panas. Beberapa desain yang kompleks memiliki lengan pada gate yang terhubung dengan lengan statis pada anchor untuk menambah pemotongan, di mana yang lain telah memindahkan vertical blade untuk membantu gerakan radial pada bahan makanan. Bentuk paling umum dari mixer bermata pengaduk horizontal bershaft ganda adalah Z-blade mixer (gambar 4.6.) atau sigma blade mixer yang terdiri dari dua mata pengaduk yang tersusun horisontal dalam bak yang terbuat dari logam. Mata pengaduk terhubung dan saling berputar searah dengan kecepatan yang sama maupun berbeda (14 60 rev/min) untuk menghasilkan gaya aduk di antara kedua mata pengaduk dan di antara mata pengaduk dan bak logam. Mixer ini menggunakan

15

tenaga yang besar yang membuat produk menjadi panas. Untuk mengatasi hal itu, maka penggunaan mixer ini haruslah seefektif mungkin dengan meminimalkan waktu pengadukan dan Jika memungkinkan, bak logam dapat diberi lapisan pelindung untuk mengontrol temperatur.

(Sumber: Anonimc, 2004) Gambar 4.6. Z-blade mixer Planetary mixer (gambar 4.7.) secara umum dapat ditemukan pada industri dan rumah tangga. Mixer ini mendapatkan namanya dari garis orbit yang terbentuk dari putaran mata pengaduk (pada 40 370 rev/min), yang mengakibatkan semua isi wadah ikut teraduk. Desain alternatif menggunakan mata pengaduk yang cocok untuk mengimbangi pusat wadah yang berputar searah dan berlawanan arah. Pada kedua tipe ada sedikit jarak antara mata pengaduk dengan dinding wadah. Gate-blades digunakan untuk mencampur pasta, mencampur bahan pangan, dan membuat penyebaran; kait digunakan untuk mencampur adonan, dan pengocok digunakan untuk mempersiapkan adonan.

16

(Sumber: Anonimb, 2005) Gambar 4.7. Planetary mixer dengan empat mata pengaduk Screw-conveyor mixer adalah tipe khusus yang dikenal dengan rotor-stator mixer. Sebuah rotor horizontal ditempatkan dekat dengan tong yang diam. Balingbaling tunggal atau ganda digunakan untuk membawa bahan makanan yang kental dan pasta masuk ke dalam tong dan mendorongnya ke lempengan yang berlubang. Jarak kecil di antara baling-baling dan dinding wadah menyebabkan pemotongan dan peremasan. Hal ini didukung oleh pemotongan dan pencampuran sebagai mana bahan makanan itu muncul dari lempengan yang berlubang. Baling-baling diletakkan dengan pin untuk menambah aktivitas pemotongan. Peralatan ini juga digunakan untuk pembuatan mentega atau margarin. Pengembangan terakhir termasuk pengaturan mikroprosesor secara otomatis dengan penyimpanan khusus untuk mempercepat perubahan produk, memonitor dan mengontrol proses dan pencatatan proses dan data produk. Mixer ini digunakan untuk memproduksi adonan biskuit, roti, dan cracker. Beberapa desain lainnya, termasuk pembuat mentega, pemotong dan pemutar mangkuk masing-masing digunakan dalam pemakaian spesifik untuk mencampur makanan, biasanya dengan homogenisasi secara bersamaan atau pengurangan ukuran. Roller mill dan colloid mill sesuai untuk mencampur materi dengan tingkat

17

kekentalan tinggi sebagai tambahan untuk fungsi mereka sebagai alat pengecil ukuran. Baru-baru ini, mixer statis atau motionless telah dikembangkan untuk bahan dan cairan kental. Mixer ini merupakan seri dari precisely aligned static mixing element di dalam kelompok yang dipasang pada jalur pemprosesan. Elemen-elemen ini memisahkan, memutar, dan menggabungkan bahan makanan dengan pola yang tepat, berdasarkan pada tipe makanan yang dicampur dan tingkat pencampuran yang diperlukan. Peralatan ini bekerja menggunakan tiga tahap pencampuran: radial mixing, flow division, transient mixing. Pada radial mixing, fluida dibelokkan oleh elemen melalui pemutaran 180 yang mendorong fluida dari pusat ke dinding pipa dan kembali lagi. Pada flow division, bahan-bahan dipisahkan menjadi dua komponen oleh pencampuran elemen pertama, lalu diputar sejauh 180 sebelum dibagi menjadi empat aliran oleh elemen kedua, dan selanjutnya hingga tingkat pencampuran yang dibutuhkan tercapai. Transient mixing memakai ruang antar elemen untuk memberikan relaksasi bahan kental setelah radial mixing berhasil. Ini telah digunakan dalam produksi coklat untuk memproses cocoa mass. Static mixer menghilangkan kegunaan tank, agitator, dan bagian yang bergerak, jadi mengurangi biaya dan biaya pemeliharaan. 4.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencampuran granula Menurut Fellow, 1998, faktor-faktor yang mempengaruhi pencampuran granula antara lain : 1. Ukuran partikel, bentuk partikel dan densitas dari setiap komponen; 2. Tingkat kelembutan bahan, karakteristik permukaan bahan, dan karakteristik alur dari setiap komponen; 3. Kerapatan material untuk beragregasi; 4. Efisiensi mesin atau mixer yang digunakan.

18

BAB V KESIMPULAN

Indeks pencampuran bahan dipengaruhi oleh ukuran partikel dan lamanya pencampuran. Namun, semakin lama waktu pencampuran besarnya indeks pencampuran akan menjadi relatif konstan dan mendekati 1. Faktor lain yang mempengaruhi proses pencampuran granula adalah alat atau pengaduk yang digunakan. Tipe mixer yang spesifik untuk pencampuran granula ada dua macam, yaitu ribbon-mixer, ada vertical-screw mixer. Penggunaan kedua alat ini didasarkan pada ukuran bahan yang akan dicampurkan.

19

LAMPIRAN

GULA KASAR XrataMenit ke Ayakan 500m Pan 500m 0 Pan 500m Pan 500m 5 Pan 500m Pan 500m Pan 500m Pan 500m Berat ayakan (gr) 327.78 242.22 327.78 242.22 327.78 242.22 327.78 242.22 327.78 242.22 327.78 242.22 327.78 242.22 327.78 Ayakan & sampel (gr) 331 244.81 331.27 242.89 332.44 242.5 331.34 243.14 331.57 243.43 331.84 243.22 331.3 243.82 331.15 243.91 Berat sampel (gr) 3.22 2.59 3.49 0.67 4.66 0.28 3.56 0.92 3.79 1.21 4.06 1 3.52 1.6 3.37 1.69 Fraksi (X) 0.5542 2 0.8389 4 0.9433 2 0.7946 4 0.758 0.8023 7 0.6875 0.6660 1 0.676754 0.780186 0.868981 0.69658 rata tiap menit

10

15 Pan 242.22 Tabel 1. Hasil ayakan gula kasar St2 = (X1 Xrata-rata)2 + (X2 Xrata-rata)2 2 So2 = p (1-p)

P = total berat tepung yang dicampur / (total berat tepung + gula yang dicampur P= 200gram / (200gram+100gram) P= 2/3 So2 = 0.222

20

Sr2 = So2 / n, dimana n = jumlah partikel = tak terhingga (~), sehingga: Sr2 = So2 / ~ = 0 Ig = So2 St2 So2 Sr2 St2 menit 0 = (0.55422 - 0.69658)2 + (0.83894 0.69658)2 2 St2 menit 0 = 0.0203 Ig menit 0 = (0.222-0.0203)/0.222 = 0.9096 S St2 menit 5 = (0.94332 - 0.868981)2 + (0.79464 - 0.868981)2 2 St2 menit 5 = 5.5 x 10-3 Ig menit 5 = (0.222-5.5 x 10-3) / 0.222 = 0.9774 St2 menit 10 = (0.758 - 0.780186)2 + (0.80237 - 0.780186)2 2 St2 menit 10 = 5.4 x 10-4 Ig menit 10 = (0.222 - 5.4 x 10-4) / 0.222 = 0.9976 St2 menit 15 = (0.6875 - 0.676754)2 + (0.66601 - 0.676754)2 2 St2 menit 15 = 1.15 x 10-4 Ig menit 15 = (0.222 - 1.15 x 10-4) / 0.222 = 0.9995

21

GULA HALUS XrataMenit ke Ayakan 250m Pan 250m 0 Pan 250m Pan 250m 5 Pan 250m Pan 250m 10 Pan 250m Pan 250m Berat ayakan (gr) 303.75 242.22 303.75 242.22 303.75 242.22 303.75 242.22 303.75 242.22 303.75 242.22 303.75 242.22 303.75 Ayakan & sampel (gr) 307.82 243.31 307.62 243.52 308.3 242.47 308.17 242.59 307.51 242.66 307.23 242.88 306.84 242.97 306.91 Berat sampel (gr) 4.07 1.09 3.87 1.3 4.55 0.25 4.42 0.37 3.76 0.44 3.48 0.66 3.09 0.75 3.16 0.67 Fraksi (X) 0.7887 6 0.7485 5 0.9479 2 0.9227 6 0.8952 4 0.8405 8 0.8046 9 0.8250 7 0.814876 0.867909 0.935336 0.768655 rata tiap menit

15 Pan 242.22 242.89 Tabel 2. Tabel hasil ayakan gula halus St2 = (X1 Xrata-rata)2 + (X2 Xrata-rata)2 2 So2 = p (1-p)

P = total berat tepung yang dicampur / (total berat tepung + gula yang dicampur P= 200gram / (200gram+100gram) P= 2/3 So2 = 0.222 Sr2 = So2 / n, dimana n = jumlah partikel = tak terhingga (~), sehingga:

22

Sr2 = So2 / ~ = 0 Ig = So2 St2 So2 Sr2 St2 menit 0 = (0.78876 - 0.768655)2 + (0.74855 0.768655)2 2 St2 menit 0 = 4.04 x 10-4 Ig menit 0 = (0.222 4.04 x 10-4)/0.222 = 0.99818 St2 menit 5 = (0.92276 - 0.935336)2 + (0.94792 - 0.935336)2 2 St2 menit 5 = 1.58 x 10-4 Ig menit 5 = (0.222 1.58 x 10-4) / 0.222 = 0.99928 St2 menit 10 = (0.89524 - 0.867909)2 + (0.84058 - 0.867909)2 2 St2 menit 10 = 7.47 x 10-4 Ig menit 10 = (0.222 - 7.47 x 10-4) / 0.222 = 0.9966 St2 menit 15 = (0.80469 - 0.814876)2 + (0.82507 - 0.814876)2 2 St2 menit 15 = 1.04 x 10-4 Ig menit 15 = (0.222 - 1.04 x 10-4) / 0.222 = 0.9995 Tabel 2.1. Faktor yang digunakan untuk pemilihan mixer

23

Sumber: Fellow, 1998 Tabel 3. Faktor-faktor yang dipakai dalam pemilihan mixer

24

DAFTAR PUSTAKA

Anonima. 2003. Mixer. Diakses dari Internet. Home page http://www.systempak.co.kr/ Diakses tanggal 2 September 2005.

online.

Anonimb. 2005. Planetary mixer. Diakses dari Internet. Home page online. http://www.omp-pronotto.com/ Diakses tanggal 2 September 2005. Anonimc. 2004. Santos Planetary Mixer. Diakses dari Internet. Home page online. www.santos.fr/ Diakses tanggal 2 September 2005. Anonimd. 2005. Selectrode Industries.inc. Diakses dari Internet. Home page online. http://www.selectrode.com/selectrode/ Diakses tanggal 2 September 2005. Fellow, P.J. 1998. Food Processing Technology. Woodhead Publishing in Food Science and Technology. England. Weg, Marek. 2004. Mixing of the heterogenous granular material in a mixer. Diakses dari Internet. Home page online. http://www.ejpau.media.pl/series/volume7/issue2/engineering/ Diakses tanggal 2 September 2005.

25