Anda di halaman 1dari 27

Penerapan Pelaksanaan Patient Safety di Rumah Sakit

Dr. Dody Firmanda, Sp.A, MA


Ketua Komite Medik
RSUP Fatmawati Jakarta.

Pendahuluan

Departemen Kesehatan RI telah menerbitkan Panduan Nasional Keselamatan


1
Pasien Rumah Sakit (Patient Safety) edisi kedua pada tahun 2008 yang
terdiri dari dari 7 standar yakni:
1. Hak pasien
2. Mendididik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda metoda peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatakan keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatn pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan
pasien

Untuk mencapai ke tujuh standar di atas Panduan Nasional tersebut


menganjurkan ’Tujuh Langkah Menuju Kesematan Pasien Rumah Sakit’ yang
terdiri dari: 6
1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien
2. Pimpin dan dukung staf
3. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko
4. Kembangkan sistem pelaporan
5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien
7. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien


Disampaikan pada Pertemuan Manajemen Disaster Plan dan Patient Safety bagi bagi RS dan RSK di
Jawa Timur diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Tingkat I Provinsi Jawa Timur di The Sun Hotel
Jl. Pahlawan Sidoarjo, Surabaya pada tanggal 11 – 12 Mei 2009.
1
Depkes RI. Panduan nasional keselamatan pasien rumah sakit (patient safety). Edisi 2, Jakarta 2008.

1
Ke tujuh langkah tersebut dalam penerapannya dibuat dalam 2 tingkat yakni
untuk tingkat rumah sakit dan tingkat unit/tim melalui 3 fase yaitu fase
persiapan, fase pelaksanaan dan fase evaluasi. Tentang keselamatan di rumah
sakit tersebut telah dimasukkan ke adlam instrumen akreditasi rumah sakit
sebagai standar dan parameter S3.P4, S3.P5, S5.P4, S7.P4, S2.P4, S7.P3,
S6.P2 dan S7.P4

Tujuan dari Undang Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik


Kedokteran adalah – memberikan perlindungan terhadap pasien,
mempertahankan/meningkatkan mutu pelayanan medis dan memberikan
perlindungan hukum kepada masyarakat dan dokter 2 serta dalam
melaksanakan praktiknya wajib mengikuti standar pelayanan kedokteran, 3
4-5 3
wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya melalui kegiatan
6 7
audit medis yang dilaksanakan oleh organisasi profesi , untuk tingkat rumah
sakit oleh kelompok seprofesi (SMF) dan Komite Medik.8

Sedangkan yang dimaksud audit medis adalah upaya evaluasi secara


profesional terhadap mutu pelayanan medis yang diberikan kepada pasien
dengan menggunakan rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi medis. 3
Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang
diberikan kepada pasien9, yang harus dibuat10 dan dilengkapi 11 serta dijaga
kerahasiaannya.12,13,14

2
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 3.
3
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 44 Ayat 1 dan penjelasannya.
4
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 49 Ayat 1 dan penjelasannya.
5
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 131/Menkes/SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional.
Bab IV Subsistem Upaya Kesehatan.
6
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 49 Ayat 2 dan penjelasannya.
7
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 49 Ayat 3 dan penjelasannya.
8
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 496/Menkes/SK/IV/2005
tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit.
9
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 46 Ayat 1 dan penjelasannya.
10
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 79 huruf b.
11
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 46 Ayat 2 dan penjelasannya.
12
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 47 Ayat 2.
13
Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 48.
14
Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) Pasal 12.

2
Kerangka Konsep Patient Safety Komite Medik RSUP Fatmawati dalam
rangka mencegah terjadinya ketidaksesuain pelaksanaan praktik
kedokteran.

Melalui sidang pleno 15 Komite Medik telah diajukan dan ditetapkan tentang
Konsep Patient Safety yang diimplementasikan di rumah sakit (Gambar 1).
Impact dalam kerangka konsep tersebut terdiri dari 3 aspek yang terukur
yakni cedera (injury), infeksi nosokomial dan tuntutan litigasi (perdata dan
pidana).

Gambar 1. Kerangka Konsep Patient Safety Komite Medik RSUP Fatmawati

15
Sidang Pleno Komite Medik adalah rapat rutin tertinggi dalam mekanisme pengambilan keputusan
kebijakan untuk profesi medis yang diadakan setiap hari Senin jam 12.30-13.30 dan dihadiri oleh
seluruh Ketua SMF serta dipimpin oleh Ketua Komite Medik (Lihat Sistem Komite Medik RSUP
Fatmawati 2003).

3
Kerangka Kontruksi Implementasi/Penerapan Patient Safety Komite Medik
RSUP Fatmawati membuat skema sistem Clinical Governance dimana salah
satu komponen dalam impact adalah Clinical Risks Management dan Patient
Safety sebagaimana dalam Gambar 2 dan mempergunakan berbagai panduan
serta pedoman sebagaimana dalam Gambar 3 berikut.

Gambar 2. Skema Clinical Governance Komite Medik RSUP Fatmawati

Gambar 3. Beberapa panduan dan pedoman Komite Medik RSUP Fatmawati

4
Dalam implementasi Model Patient Safety di rumah sakit harus dilaksanakan
secara terpadu dan terintegrasi - dipersiapkan mulai dari tingkat sistem
sampai tingkat individu profesi melalui kegiatan tim sesuai alur pembagian
tugas sebagaimana dalam Gambar 4.

Gambar 4. Model Implementasi Patient Safety: Alur pembagian tugas dalam


rangka Patient Safety di rumah sakit.

5
Dalam menilai risiko klinis yang telah dan akan terjadi secara sistm Komite
Medik RSUP Fatmawati membuat Manajemen Risiko Klinis (Clinical Risks
Management) dengan langkah langkah sebagaimana dalam Gambar 5.

Gambar 5. Langkah langkah Manajemen Risiko Klinis (Clinical Risks


Management) Komite Medik RSUP Fatmawati.

Sedangkan untuk tingkat individu profesi medis, mulai dari proses rekrutmen
penerimaan dokter sampai kepada tingkat individual performance pelaksanaan
16
praktik kedokteran sehari hari di rumah sakit.

16
RSUP Fatmawati Nomor Dokumen HK 00.07.1.143 tanggal 12 Mei 2003 revisi HK 00.07.1 484 tanggal
17 April 2007 tentang Prosedur Penilaian Kredensial Tenaga Medis di RSUP Fatmawati.

6
Profesi medis berperan penting dalam melaksanakan analisis efektivitas
klinis, sedangkan pihak manajerial dan direksi dalam bidang analisis ekonomi
dan pemerintah (dalam hal ini Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan)
selaku pembuat kebijakan dan regulator berperan dalam melakukan analisis
dampak terhadap sistem layanan kesehatan (Gambar 6 dan 7) termasuk
sistem pembiayaan dan keamanan pasien (patient safety).

Gambar 6. Strata pemanfaatan pendekatan Health Technology Assessment


(HTA) dari tingkat pembuat kebijakan/regulator, pelaksana kebijakan dan
instrumen aplikasinya pada tingkat layanan kesehatan (rumah sakit) dalam
17 18
rangka kendali mutu dan biaya. -

17
Firmanda D. Pedoman implementasi HTA di RS Fatmawati. Disampaiakan pada Sidang Pleno Kom ite
Medik RSUP Fatmawati, Jakarta 2 Juni 2008.
18
Firmanda D. Pedoman HTA di Rumah Sakit. Disampaiakan pada pada Pertemuan Finalisasi Pedoman
dan Draft Rekomendasi Hasil HTA 2008, diselenggarakan oleh Direktorat Bina Pelayanan Medik

7
Gambar 7. Kerangka konsep implementasi evidence-based medicine dan HTA
dalam penyusunan SPM/Pedoman dan Audit Medis dikaitkan dengan sistem
pembiayaan Casemis (INA DRG) dan Undang Undang Nomor 29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran.23-24

Pedoman (Standar) Pelayanan Medis/Kedokteran

Pedoman/Standar Pelayanan Medis/Kedokteran tidak identik dengan Buku


Ajar, Text-books ataupun catatan kuliah yang digunakan di perguruan tinggi.
Karena Pedoman/Standar Pelayanan Medis merupakan alat/bahan yang
diimplementasikan pada pasien; sedangkan buku ajar, text-books, jurnal,

Spesialistik, Dirjen Bina Pelayanan Medik Depkes RI di Hotel dan Apartemen Majesty, Bandung 27 –
30 Agustus 2008.

8
bahan seminar maupun pengalaman pribadi adalah sebagai bahan
rujukan/referensi dalam menyusun Pedoman/Standar Pelayanan Medis.

Pedoman/Standar Pelayanan Medis di rumah sakit pada umumnya dapat


diadopsi dari Pedoman/Standar Pelayanan Medis yang telah dibuat oleh
organisasi profesi masing masing, tinggal dicocokkan dan disesuaikan dengan
kondisi sarana dan kompetensi yang ada di rumah sakit. Bila
Pedoman/Standar Pelayanan Medis yang telah dibuat oleh organisasi profesi
tersebut sesuai dengan kondisi rumah sakit – maka tinggal disepakati oleh
anggota profesi (SMF) terkait dan disahkan penggunaannya di rumah sakit
oleh direktur rumah sakit tersebut.

Namun bila Pedoman/Standar Pelayanan Medis yang telah dibuat oleh


organisasi profesi tersebut belum ada atau tidak sesuai dengan kondisi rumah
sakit atau dalam Pedoman/Standar Pelayanan Medis dari profesi belum
mencantumkan jenis penyakit yang sesuai dengan keadaan epidemiologi
penyakit di daerah/rumah sakit tersebut – maka profesi di rumah sakit
tersebut wajib membuat Standar Pelayanan Medis untuk rumah sakit
tersebut dan disahkan penggunaannya di rumah sakit oleh direktur rumah
sakit.

Dalam menyusun Pedoman/Standar Pelayanan Medis untuk rumah sakit -


profesi medis memberikan pelayanan keprofesiannya secara efektif (clinical
effectiveness) dalam hal menegakkan diagnosis dan memberikan terapi
berdasarkan pendekatan evidence-based medicine. Secara ringkasnya
langkah tersebut sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 8 berikut.

9
Gambar 8. Langkah umum dalam kajian literatur melalui pendekatan evidence-
based, tingkat evidens dan rekomendasi dalam bentuk pedoman/standar
pelayanan medis dan atau standar prosedur operasional. 23-24

10
Format Pedoman/Standar Pelayanan Medis

Nomor : .............................................................
SMF : ............................................................
Rumah Sakit : ...........................................................

1. Judul/topik : ……………………………………………………

2. Tanggal/Nomor/Update: ………………../………………../……………….

3. Ruang lingkup pengguna: dokter umum/spesialis/konsultan*

4. Sumber informasi/literatur/bahan acuan:


i. ……………………………..
ii. ……………………………..
iii. ……………………………..
iv. ……………………………..
v. ……………………………..

5. Nama Reviewer/Penelaah kritis:


i. ………………………...
ii. ………………………...
iii. …………………………

6. Tingkat eviden: ………

7. Hasil Telaah/Rekomendasi:
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………….dst

8. Tingkat Rekomendasi: ………….

9. Indikator klinis : …………………………………………………………………

11
Pelaksanaan Audit Medis

Beberapa persyaratan sebelum dilakukan audit medis:


1. Tetapkan tujuan (objektif) audit medis yang akan dilakukan.
2. Tetapkan ruang lingkup audit medis yang akan dilakukan, antara lain
meliputi:
a. Topik/Judul kasus yang akan dilakukan audit medis.
b. Periode kasus – misalnya 3 bulan yang lalu (retrospektif) atau 3
bulan yang akan datang (prospektif) atau konkuren (cross
sectional) atau sepanjang tahun.
c. Tempat kasus – misalkan ruang rawat inap atau rawat jalan atau,
rawat intensif atau kamar operasi atau secara keseluruhan dari
mulai dari ruang emergensi/poliklinik sampai pasien
pulang/meninggal (continuous of care) .
3. Tetapkan tingkat audit medis: tingkat pertama SMF (First Party
Medical Audit) atau tingkat kedua Komite Medik (Second Party
Medical Audit)
4. Tetapkan pedoman/standar pelayanan medis (SPM) atau standar
prosdur operasional (SPO) yang digunakan.
5. Tetapkan format audit medis/manajemen yang digunakan.

Contoh: (silahkan pilih tingkat audit tersebut dibawah dan alasannya)

1. Akan dilakukan audit medis seluruh kasus apendiktomi sepanjang tahun


untuk mengetahui tingkat kepatuhan dokter dengan SPM/SPO di
Instalasi Bedah Sentral.

Tingkat audit tersebut dapat:


a. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Bedah ( First Party
Medical Audit) karena ………………………………………………………………………………
b. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Bedah Sentral
(First Party Managerial Audit ) karena .....................................................
c. Audit medis tingkat kedua oleh/di Komite Medik (cq. Sub Komite
Etik dan Mutu Profesi - Second Party Medical Audit) karena
……………………………………………………………………………………………………………………….

2. Akan dilakukan audit medis seluruh kasus apendiktomi sepanjang tahun


untuk mengetahui response time di Ruang Emergensi.

12
Tingkat audit tersebut dapat:
a. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Bedah ( First Party
Medical Audit) karena ………………………………………………………………………………
b. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Emergensi
(First Party Managerial Audit ) karena .....................................................
c. Audit medis tingkat kedua oleh/di Komite Medik (cq. Sub Komite
Etik dan Mutu Profesi - Second Party Medical Audit)
karena……………………………………………………………………………………………………………

3. Akan dilakukan audit medis seluruh kasus apendiktomi sepanjang tahun


untuk mengetahui penggunaan antibiotik profilaksis.

Tingkat audit tersebut dapat:


a. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Bedah ( First Party
Medical Audit) karena ………………………………………………………………………………
b. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Farmasi (First
Party Managerial Audit ) karena .....................................................
c. Audit medis tingkat kedua oleh/di Komite Medik (cq. Sub Komite
Farmasi dan Terapi - Second Party Medical Audit)
karena……………………………………………………………………………………………………………
d. Audit medis tingkat kedua oleh/di Komite Medik (cq. Sub Komite
Pengendalian Infeksi - Second Party Medical Audit)
karena……………………………………………………………………………………………………………
e. Audit medis tingkat kedua oleh/di Komite Medik (cq. Sub Komite
Etik dan Mutu - Second Party Medical Audit)
karena……………………………………………………………………………………………………………

4. Akan dilakukan audit medis seluruh kasus apendiktomi sepanjang tahun


untuk mengetahui infeksi luka operasi.

Tingkat audit tersebut dapat:


a. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Bedah ( First Party
Medical Audit) karena ………………………………………………………………………………
b. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Bedah (First
Party Managerial Audit ) karena .....................................................
c. Audit medis tingkat kedua oleh/di Komite Medik (cq. Sub Komite
Etik dan Mutu - Second Party Medical Audit)
karena……………………………………………………………………………………………………………

13
d. Audit medis tingkat kedua oleh/di Komite Medik (cq. Sub Komite
Pengendalian Infeksi - Second Party Medical Audit)
karena……………………………………………………………………………………………………………

5. Akan dilakukan audit medis seluruh kasus apendiktomi sepanjang tahun


untuk mengetahui tingkat ketepatan diagnosis dan indikasinya dngan
hasil pemeriksaan patologi anatomi.

Tingkat audit tersebut dapat:


a. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Bedah ( First Party
Medical Audit) karena ………………………………………………………………………………
b. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Patologi Anatomi (First
Party Medical Audit ) karena ……………………………………………………………………
c. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Bedah (First
Party Managerial Audit ) karena .....................................................
d. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Patologi (First
Party Managerial Audit ) karena .................................................................
e. Audit medis tingkat kedua oleh/di Komite Medik (cq. Sub Komite
Etik dan Mutui - Second Party Medical Audit) karena………………………..

6. Akan dilakukan audit medis seluruh kasus apendiktomi sepanjang tahun


untuk mengetahui tingkat pembatalan operasi karena:
a. Belum ada izin operasi
b. Belum ada izin anestesi
c. Hasil pemeriksaan penunjang/laboratorium: belum/tidak ada
d. Belum ada jawaban hasil konsultasi dari SMF .............................
e. Ruang rawat Intensif belum ada/penuh
f. Ada kontraindikasi yang tidak terkontrol
g. Kamar operasi penuh karena.............................
h. Operator tidak hadir/terlambat karena ...............................
i. Dokter Anestesi tidak hadir/terlmbat karena .......................................

Tingkat audit tersebut dapat:

a. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Bedah ( First Party


Medical Audit) karena ………………………………………………………………………………
b. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Anestesi (First Party
Medical Audit) karena ……………………………………………………………………

14
c. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Penyakit Dalam (First
Party Medical Audit ) karena ……………………………………………………………………
d. Audit medis tingkat pertama oleh/di SMF Jantung (First Party
Medical Audit) karena ………………………………………………………………………………
e. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Rawat Inap
(First Party Managerial Audit ) karena .....................................................
f. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Bedah (First
Party Managerial Audit ) karena .....................................................
g. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Laboratorium
Klinik (First Party Managerial Audit) karena .........................................
h. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Radiologi
(First Party Managerial Audit ) karena .....................................................
i. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Transfusi
Darah ( First Party Managerial Audit) karena ........................................
j. Audit manajemen tingkat pertama oleh/di Instalasi Rwat Intensif
(First Party Managerial Audit ) karena ........................................
k. Audit medis tingkat kedua oleh/di Komite Medik (cq. Sub Komite
Etik dan Mutui - Second Party Medical Audit) karena………………………..

7. Akan dilakukan audit medis seluruh kasus apendiktomi sepanjang


tahun untuk evaluasi kinerja individu dokter atau tim.
8. Akan dilakukan audit medis seluruh kasus apendiktomi sepanjang tahun
untuk mengetahui utilisasi kamar operasi atau instumen
9. Akan dilakukan audit medis kasus apendiktomi atas Tuan X pada
tanggal .......... karena ada pengaduan
10. dan sebagainya

15
Tabel 1: Jenis, Ruang Lingkup, Penanggung Jawab dan Kriteria/Indikator Mutu dalam Mekanisme Audit

Jenis: Ruang Penanggung Jawab Kriteria/Indikator Mutu


Lingkup Struktur Proses
Outcome
Audit SMF Koordinator Etik dan Mutu SMF 1. Jadwal Audit Pelaksanaan ‘Corrective and
Pertama 1 st SMF Audit SMF Preventive
st
Party Audit 2. Format 1 Party Action’
Audit
Audit Kedua Lintas SMF Tim Etik dan Mutu Komite Medik 1. Jadwal Audit Pelaksanaan Kebijakan Klinis
2nd Party Tim Etik dan Tim Etik (Medical/clinical
Audit Mutu Komite dan Mutu Policies)
Medik Komite
nd
2. Format 2 Party Medik
Audit
Audit Ketiga RSF Ketua Komite Medik, 1. Jadwal Audit dan Pelaksanaan Terakreditasi
3rd Party Ketua Komite Etik dan Hukum persiapan akreditasi dengan nilai
Audit RSF, Direktur Pelayanan Medik akreditasi maksimum
RSF 2. Format
Akreditasi
3. Format Kasus
(Pidana/Perdata)

16
Proses Audit Medik

1. Salah satu upaya dalam rangka meningkatkan mutu profesi


berkesinambungan berdasarkan Evidence – based Medicine ( EBM )
dan Evidence – based Health Care ( EBHC ).

2. Ruang lingkup : profesi medis

3. Bentuk :
a. Tingkat SMF – First Party Audit ( Self – Assessment )
 ……. minggu / kali
 Dipimpin : Koordinator Etik dan Mutu SMF
 Sekretaris : Koordinator Pelayanan Medik dan Diklit SMF
 Penyaji : dokter yang memegang kasus
 Peserta : seluruh staf medis SMF
 Hasil : - alternatif pemecahan masalah
- salinan dikirim ke Komite Medik

b. Tingkat Komite Medik – Second Party Audit


 Sebulan / kali atau bila ada hal yang mendesak
 Dipimpin : Ketua Komite Medik
 Moderator : Ketua Sub Komite Etik dan Mutu Komite Medik
 Sekretaris : Sekretaris Komite Medik dan Sekretaris Sub
Komite Etik dan Mutu
 Penyaji : dokter pemegang kasus dan Ketua SMF
bersangkutan.
 Peserta : - Seluruh Ketua SMF dan staf medis
- Direksi
- Kepala Bidang Mutu Pelayanan
- Manager Intalasi terkait.
 Hasil : penyelesaian kasus

17
Mekanisme :
Informasi kasus/data dapat dari:
1. Jajaran Direktur Pelayanan Medik RSF
2. Komite Etik dan Hukum RSF
3. Sub Komite Etik dan Mutu Komite Medik
4. Tim Rekam Medis Komite Medik
5. Manajer Instalasi
6. Ketua SMF

1. Ketua Komite Medik dan Ketua Sub Komite Etik dan Mutu memilih dan
menetapkan kasus berdasarkan data / kasus ( < 2 hari )
2. Ketua Komite Medik menetapkan tanggal pelaksanaan diskusi tingkat
Komite dan membuat surat undangan ( < 2 hari )
3. Ketua Komite Medik menginformasikan secara tertulis kepada Ketua
SMF kasus terkait (< 2 hari ) untuk membahas kasus tersebut pada
tingkat SMF (proses sesuai dengan Sistem SMF masing masing) dan
mempersiapkannya untuk pembahasan tingkat Komite Medik (< 2
minggu sejak surat Ketua Komite Medik diterima )
4. Ketua SMF menyerahkan berkas / formulir kepada Ketua Komite
Medik 4 hari sebelum diskusi tingkat Komite Medik.
5. Tingkat Komite Medik :
 Pembukaan oleh Ketua Komite Medik ( 5 menit )
 Diskusi : moderator Ketua Tim Etik dan Mutu Komite Medik
 Penyajian kasus : 15 menit
 Diskusi : ( 20 menit )
 Kesimpulan : ( 5 menit )
 Penutup : Ketua Komite Medik ( 5 menit ) dan Direktur ( 5 menit )
6. Resume dan laporan tertulis : Sekretaris Komite Medik

18
Formulir 1

1ST PARTY MEDICAL AUDIT


SMF : ………………………………………..
Tanggal : ………………………………………..
Waktu : Pukul ……….. sampai pukul ……..
Yang hadir : ……….. orang ( daftar hadir terlampir )
Kasus :
Identitas pasien : …………………………………………………..
No. RM : …………………………………………………...
Kronologis : ……………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
Masalah : ……………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
Evaluasi

Tidak
No Sesuai Keterangan
Sesuai
1. Pelaksanaan SPM/SOP kasus tsb SPM/SOP ada / tidak ada
2. Diagnosis Kerja
3. Rencana tindakan ( penunjang )

4. Diagnosis pasti
5. Terapi

Kesimpulan : …………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
Saran : …………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………

19
Formulir 2
ST
I PARTY MANAGERIAL AUDIT

Instalasi : ………………………………………..
Tanggal : ………………………………………..
Waktu : Pukul ……….. sampai pukul ……..
Yang hadir : ……….. orang ( daftar hadir terlampir )
Kasus :

Identitas pasien : …………………………………………………..


No. RM : …………………………………………………...
Kronologis : ……………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
Masalah : ……………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………………..
Evaluasi
PETUGAS WAKTU
NO URAIAN KET
PJ / PELAKSANA Tgl Jam
1. Ekspedisi
- Pasien
- Berkas Rekam
Medis
- ………….
- ………….
- ………….
2. Penatalaksanaan di
ruang pelayanan :
-
-

Kesimpulan : …………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
Saran : …………………………………………………………………………………………………………………

20
2nd PARTY AUDIT
TANGGAL : ………………………………

I. IDENTITAS KASUS

- Diagnosis Kasus : ……………………………………….


- Nama : ……………………………………….
- Umur : ……………………………………….
- Jenis kelamin : ……………………………………….
- No. RM : ……………………………………….

II. PEMBAHASAN

DIAGNOSIS
URAIAN MASALAH SOP/SPM

PENATALAKSANAAN
URAIAN MASALAH SPM/SOP

III. KESIMPULAN :……………………………………………………………………..

IV. SARAN – SARAN :……………………………………………………………..

Mengetahui, Jakarta, …………………


Ketua Komite Medik Notulis

( ) ( )

21
Proses selanjutnya setelah menyusun Standar Pelayanan Medis Rumah
Sakit adalah membuat Clinical Pathways sebagai salah satu komponen dari
Sistem Casemix (INA DRG) yang saat ini dipergunakan untuk Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan (Jamkesmas) di rumah sakit sebagaimana dalam
Gambar 7 di atas.

Sedangkan selama tenaga medis dokter tersebut melaksanakan praktik


kedokteran sehari hari di rumah sakit terikat dengan Sistem SMF dan
Sistem Komite Medik dengan portfolio ruang lingkup dalam aspek pelayanan
dan pendidikan kedokteran (Gambar 9) dan contoh di salah satu SMF
(Gambar 10 dan 11) serta format portfolio individual risk assessment
(Gambar 12) dibawah.

Gambar 10. Portfolio ruang lingkup profesi medis di RSUP Fatmawati.

22
Gambar 11. Contoh portfolio ruang lingkup dokter di RSUP Fatmawati

Gambar 12. Contoh uraian tugas dalam portfolio dokter di salah satu SMF.

23
Gambar 13. Format Penilaian Risiko Medis Individu (Individual Medical Risks
Assessment)

24
Ilustrasi monitoring Komite Medik RSUP Fatmawati beberapa contoh kasus
serta penanganannya melalui pendekatan format Patient Safety (Gambar 14).

Gambar 14. Laporan kasus pengaduan, manajemen risiko klinis (Clinical Risks
Management) dan Patient Safety.

Sedangkan monitoring pelaksanaan etika profesi kedokteran sesuai dengan


Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), Komite Medik RSUP Fatmawati
menerapkan format yang merangkum ke tujuh belas pasal KODEKI untuk
setiap individu profesi medis sebagaimana contoh dalam Gambar 15 berikut.

25
Gambar 15. Contoh hasil evaluasi dari Individual Portfolio tentang Kode Etik
Kedokteran Indonesia untuk periode tahun 2006.

Beberapa opsi Komite Medik dalam terjadinya ketidaksesuain pelaksanaan


praktik kedokteran
1. Etik Profesi: Bila ditemukan ada kemungkinan kecenderungan
pelanggaran dalam hal etik profesi, maka Komite Medik akan menggelar
Sidang Pleno Etik Profesi yang diselenggarakan oleh Sub Komite Etik
dan Mutu Profesi Komite Medik dengan memakai format penilaian Etik
sesuai dengan Sistem Komite Medik;
2. Audit Medis: tidak tertutup pelaksanaan nomor 1 di atas tersebut
sekaligus dilakukan juga audit medis tingkat pertama ( First Party
Medical Audit) dan kedua ( Second Party Medical Audit), dan
sebaliknya (bila dalam hasil audit medis ada unsur unsur pelanggaran
etik profesi) – two ways traffic mechanisms.
3. Bila dari kedua mekanisme di atas ada ditemukan unsur hukum, maka
akan diadakan koordinasi dengan Komite Etik dan Hukum Rumah Sakit
serta Direksi Rumah Sakit.

26
4. Bila ada kecurigaan kasus berpotensi, maka Komite Medik akan
menempuh jalur 1 dan 2 di atas.
5. Informasi satu pintu: Bila ada kasus pengaduan kasus, ketiga jajaran
(Komite Medik, Komite Etik dan Hukum, dan Direksi) segera melakukan
rapat koordinasi sesuai dengan kapasitas dan kewenangan masing
masing, serta memutuskan segala pernyataan maupun klarifikasi adalah
melalui satu pintu dan dilaksanakan oleh petugas yang diberikan
kewenangan (biasanya dalam hal ini Humas Rumah Sakit – sedangkan
Komite Medik beserta Komite Etik dan Hukum memberikan masukan
sesuai tugas dan fungsinya).

6. Kolegialitas: Setiap perkembangan kasus yang telah dilimpahkan ke


pihak berwajib, Komite Medik beserta Komite Etik dan Hukum Rumah
Sakit senantiasa berkoordinasi dan urun rembug menyelesaikan
berbagai alternatif solusi dalam Sidang Pleno Komite Medik.

Sesuai dengan rencana skema Komite Medik RSUP Fatmawati sebagaimana


dalam Gambar 2 di atas. Titik penting (crucial point) adalah pada clinical
pathways sebagai entry point dalam melaksanakan kegiatan praktik profesi
kedokteran sehari hari di rumah sakit – baik untuk tingkat sistem maupun
individu – dalam rangka kendali mutu dan kendali biaya sebagaimana
diamanatkan dalam Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran dengan tujuan memberikan perlindungan kepada
pasien/masyarakat (patient safety), profesi kedokteran sendiri dan
meningkatkan mutu pelayanan serta mutu kompetensi profesi.

Sedangkan mengenai Clinical Pathways itu sendiri akan dibahas secara


tersendiri, di luar dari ruang lingkup pembahasan makalah ini.
Catatan:
Mengenai Clinical Pathways, INA DRG, Patient Safety dan sebagainya
dapat dilihat di http://www.scribd.com/Komite Medik

Terima Kasih, semoga bermafaat.


Jakarta, 11 Mei 2009
Dr. Dody Firmanda, Sp.A, MA
Ketua Komite Medik RSUP Fatmawati Jakarta.

27