Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TERSTRUKTUR TERAPI BAHAN ALAM Buah merah (Pandanus conoideus Lam)

Disusun Oleh Nama : Desy Nawangsari NIM : G1F010067

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2013

Buah merah (Pandanus conoideus Lam) 1. Nama tumbuhan Nama daerah: Buah merah (Indonesia)

2. Klasifikasi tumbuhan Divisi Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Pandanales : Pandanaceae : Pandanus : Pandanus conoideus Lam.

3. Uraian Tumbuhan Kultivar buah merah dibedakan berdasarkan ukuran buah, warna buah, dan bentuk buah. Kultivar yang dikenal antara lain adalah kultivar merah pendek, merah coklat, merah sedang, merah panjang, kuning panjang, dan kuning pendek (Sadsoeitoeboen 2003; Limbongan dan Uhi 2005). Umumnya tanaman berumur hingga 10 tahun, berbuah pada umur 3-5 tahun, dan umur buah sampai panen 3-4 bulan. Tanaman tumbuh mengelompok dengan kerapatan 12-30 individu setiap rumpun. Tanaman buah merah memiliki akar tunjang 0,203,50 m, lingkar akar 6-20 cm, berwarna coklat dengan bercak putih, bentuk bulat, dan permukaan berduri. Jumlah akar dalam satu rumpun berkisar antara 11-97. Lingkar batang

utama berkisar antara 20-40 cm, tinggi tanaman 2-3,50 m. Batang berwarna coklat dengan bercak putih, berbentuk bulat, berkas pembuluh tidak tampak jelas, keras, arah tumbuh vertikal atau tegak, jumlah percabangan 2-4, dan permukaan berduri. Daun berukuran 96 cm x 9,30 cm sampai 323 cm x 15 cm. Ujung daun bertusuk (micronate), pangkal merompong (cut off), tepi daun dan bagian bawah tulang daun berduri. Komposisi daun tunggal dengan susunan daun berseling (alternate). Daun lentur, berwarna hijau tua, pola pertulangan daun sejajar, tanpa tangkai daun (sessile), dan tidak beraroma. Bunga menyerupai bunga nangka dengan warna kemerahan. Buah berukuran panjang 68- 110 cm, diameter 10-15 cm, berbentuk silindris, ujung menumpul, dan pangkal menjantung. Saat masih muda, buah berwarna merah pucat, dan berubah menjadi merah bata saat tua.

4. Habitat dan Penyebaran Tanaman buah merah banyak ditemukan di daerah Papua, Papua Nugini. dan secara sporadik mulai ditanam di beberapa daerah seperti Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, dan Sumatera Tanaman ini dapat tumbuh pada dataran rendah hingga ketinggian 2.500 m dari permukaan laut (dpl), dengan kesuburan tanah rendah, asam sampai agak asam (pH 4,305,30), dengan naungan 0-15%, dan tumbuh berkelompok di sekitar aliran sungai (Nainggolan, 2001; Hadad dkk., 2005).

5. Kegunaan di masyarakat Buah merah digunakan oleh masyarakat sebagai penyedap makanan yang bernilai gizi tinggi karena mengandung beta-karoten, pewarna alami yang tidak mengandung logam berat dan mikroorganisme berbahaya. Selain itu buah merah difungsikan sebagai penunjang makanan pokok sehari-hari, dan obat berbagai penyakit yaitu kanker, HIV, malaria, kolesterol, diabetes melitus, asam urat dan osteoporosis. Ampas buah merah dapat pula dimanfaatkan sebagai pakan unggas sedangkan bagian akarnya dapat dibuat tali, pengikat dan tikar kemudian batangnya sebagai papan rumah (Moeljopawiro dkk., 2007a; Limbongan dan Malik, 2009).

6. Kandungan Kimia Kandungan kimia minyak buah merah (Pandanus conoideus Lam.) yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat adalah sebagai berikut
Kandungan kimia Lipid Asam palmitat Asam oleat Asam linoleat karbohidrat Nilai (per 100 g minyak) 94,2 g 19,7% 64,9% 8,6% 5,1 g Kandungan kimia a-karoten -karotene -cryptoxanthin Vit E (a-tocopherol) sodium Nilai (per 100 g minyak) 130 g 1.980 g 1.460 g 21,2 mg 3 mg

( Waspodo dan Nishigaki, 2007)

7. Penelitian Antikanker Sari buah merah memiliki efek antikanker pada sel kanker rahim, payudara (sel T47D), sel kanker usus besar (sel CC531) dimana efek pada sel kanker rahim dan sel kanker usus besar lebih besar dari pada sel kanker payudara. IC50 sari buah merah pada sel kanker usus besar adalah 200 ppm sedangkan pada sel kanker payudara adalah 600 ppm. Aktivitas antikanker dari sari buah merah ini ternyata lebih besar dibandingkan agen kemoterapi doksorubisin. Hal ini ditunjukan melalui penelitian ekstrak metanol buah merah jenis Mbarugum dan ekstrak kloroform buah merah jenis Maler yang lebih bersifat sitotoksik pada sel kanker payudara T47D dibandingkan doksorubisin dan struktur senyawa bioaktif pada ekstrak tersebut adalah hexadecanoic acid dan 9-octadecanoic acid. Mekanisme yang memperantarai efek sitotoksik sari buah merah ini adalah apoptosis. Selain efek sitotoksik, efek antiproliferatif juga ditunjukan melalui uji doubling time pada jam ke 0, 24, 48 dan 72. Potensi antiproliferatif ini menggambarkan terjadinya penghambatan pertumbuhan sel kanker oleh sari buah merah (Moeljoprawiro dkk., 2007a; Moeljoprawiro dkk., 2007b) Penelitian secara in vivo melalui pengamatan histologi paru-paru tikus terinduksi dimetilbenz(a)antrasen (DMBA) menunjukan bahwa sari buah merah memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan kanker pada dosis 0,21 mL/ 200 g BB sedangkan pada dosis yang lebih tinggi terjadi peningkatan pertumbuhan tumor. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya kadar -karoten dalam sari buah merah, sehingga meningkatkan terjadinya kerusakan jaringan dan pertumbuhan tumor pada paru-paru. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan

mengenai pengaruh -karoten terhadap pertumbuhan tumor paru-paru yang diuji pada musang, dinyatakan bahwa pemberian -karoten pada dosis tinggi (2,4 mg/kgBB per hari) selama enam bulan dapat menyebabkan perkembangan proliferasi sel alveolar dan metaplasia keratinisasi skuamosa (Wolf, 2002; Munim dkk., 2006). Kandungan sari buah merah yang memiliki aktivitas antikanker adalah -cryptoxanthin yang merupakan provitamin A. Jenis karotenoid lain seperti a -karoten dan -karoten ternyata tidak mempengaruhi pertunbuhan sel kanker bahkan -karoten pada dosis tinggi meningkatkan mortalitas penderita kanker paru-paru di USA jika dibandingkan dengan penderita kanker paruparu yang tidak diberi -karotene dan vitamin A sintetik (Waspodo dan Nishigaki, 2007). Pengujian minyak buah merah pada sel A549 (sel kanker paru) menunjukan bahwa pada konsentrasi lebih besar dari 500 mg/ mL terjadi penghambatan pertumbuhan sel A549. Dari 500 mg minyak buah merah tersebut terkandung 0,015 g -cryptoxanthin sehingga konsentrasi cryptoxanthin yang relatif kecil telah mampu menghambat pertumbuhan sel kanker paru dan hal ini diperkuat dengan uji klinis terhadap 18.244 pria Shanghai yang merokok. Pada pengujian tersebut diketahui bahwa peningkatan kadar -cryptoxanthin pada darah menurunkan insiden kanker paru sedangkan mikronutrien lainnya seperti a -carotene, -carotene, vitamin E tidak berpengaruh pada insiden kanker paru pada perokok (Waspodo dan Nishigaki, 2007). Penelitian -cryptoxanthin dari kulit jeruk pada sel kanker hati ternyata membuktikan kemampuannya sebagai antikanker pada jenis kanker lainnya, selain kanker paru. Berdasarkan mekanisme aksi karotenoid sebagai nutrien pada Retinoic Acid Receptors (RARs) maka dimungkinkan -cryptoxanthin bekerja melalui jalur RARs yang mempengaruhi berbagai faktor transkripsi gen baik pada kanker paru maupun pada jenis kanker lainnya (Waspodo dan Nishigaki, 2007). Kandungan asam lemak yang mencapai 94% dari minyak buah merah telah terbukti mirip dengan komposisi asam lemak dari hewan dibandingkan komposisi asam lemak dari tumbuhan. Jenis asam lemak tersebut tidak termasuk dalam gologan asam lemak trans sehingga minyak buah merah tidak akan menyebabkan obesitas, atherosklerosis, diabetes mellitus dan kanker payudara (Waspodo dan Nishigaki, 2007).

Daftar Pustaka

Hadad, Atekan, M., Malik, A., dan Wamaer, D., 2006, Karakteristik dan potensial tanaman buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) di Papua, Prosiding Seminar Nasional BPTP Papua, Jayapura 24-25 Juli 2006. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor, hlm. 243-255. Limbongan, J., dan Malik, A., 2009, Peluang Pengembangan Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk.) di Provinsi Papua, Jurnal Litbang Pertanian, 28(4): 134-136. Moeljopawiro, S., Anggelia, M.R., Ayuningtyas, D., Widaryanti, B., Sari, Y., dan Budi, I.M., 2007a, Pengaruh Sari Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk.) terhadap Pertumbuhan sel Kanker Payudara dan Sel Kanker Usus Besar, Berkala Ilmiah Biologi, 6(2) : 121-130. Moeljoprawiro, S., Nuringtyas, T.R., Noveriza, R., dan Trisilawati, O., 2007b. Kajian Bioaktif Antikanker 3 Varietas Buah Merah: Identifikasi fraksi bioaktif antikanker payudara dan kanker rahim dan mikrobia kontaminan pada 3 varietas buah merah (Pandanus conoideus Lamk.), Laporan Hasil Penelitian Kerja Sama Universitas Gadjah Mada dengan Badan Litbang Pertanian, hlm. 61. Munim, Andrajati, A.r., dan Susilowati, H., 2006, Uji hambatan tumorigenesis sari buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) terhadap tikus putih betina yang diinduksi 7, 12 dimetilbenz(a)antrasene (DMBA), Majalah Ilmu Kefarmasian, III(3): 153-161. Nainggolan, D., 2001, Aspek Ekologis Kultivar Buah Merah Panjang (Pandanus conoideus Lamk.) di Daerah Dataran Rendah Manokwari, Skripsi, Fakultas Kehutanan, Universitas Negeri Papua, Manokwari. Sadsoeitoeboen, M.J., 2003, Buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) dalam Kehidupan Suku Arfak di Kabupaten Manokwari, Prosiding Lokakarya Nasional Pendayagunaan Pangan Spesifik Lokal, Jayapura 2-4 Desember 2003. Kerja Sama Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Jayapura dengan Universitas Negeri Papua. hlm. 155-160. Waspodo, I.S., dan Nishigaki, T., 2007, Novel Chemopreventive Herbal Plant Buah Merah (Pandanus conoideus) for Lung Cancers, PATPI Conference Bandung, 17 18 Juli 2007. Wolf, G., 2002, The Effect of -carotene on Lung and Skin Carcinogenesis, Carcinogenesis, 23:1263-1265.