Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan teknologi telekomunikaasi yang semakin pesat pada masa
sekarang ini menyebabkan munculnya sistem–sistem yang memungkinkan kita untuk
dapat saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Salah satu aplikasinya
adalah dalam hal komunikasi data. Pada jaman dulu, komunikasi data dilakukan
dengan standard yang berbeda-beda. Rancangan aturan / acuan yang dibuat tentunya
sesuai dengan kebutuhan masing–masing, dan hal ini dapat dilakukan karena belum
adanya acuan/standard yang baku. Namun, adanya acuan sistem yang tidak sama
menyebabkan kurang optimalnya proses dan hasil transmisi saat melakukan
komunikasi data dengan pihak lain, yang juga memiliki acuan komunikasi yang
berbeda.
Oleh sebab itu, dibuatlah suatu bakuan untuk menyeragamkan komunikasi data,
yang dapat dipakai oleh semua pengguna jasa telekomunikasi dalam lingkup
komunikasi data. Salah satu model bakuan / referensi untuk komunikasi data adalah
model Osi (Open System Interconection), yang dikeluarkan oleh ISO ( International
Standard Organisation). Model OSI terdiri dari tujuh lapisan / layer, dimulai dari
Physical Layer. Data Link, Network, Transport, Session, presentation, dan
application layer.
Pada makalah ini, akan dibahas mengenai lapisan kedua dari model OSI, yaitu
data link layer, yaitu layer penghubung antara physical layer dengan lapisan / layer
di atasnya. Pada lapisan ini, terdapat protokol dengan suatu mekanisme yang
bertujuan untuk menjamin transmisi data yang bebas dari kesalahan, menuju lapisan
yang lebih tinggi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana penjelasan tentang Data Link Protokol pada Data Link Layer

1
2. Macam–macam standar / bagian yang terdapat pada Data Link Protokol.

1.3 Ruang Lingkup


Pembahasan mengenai Data Link Protokol. Dengan batasan sebagai berikut :
- Materi yang dibahas hanya mengenai data link protokol dan bagian-bagiannya.
- Model OSI yang dibahas secara umum dan singkat hanya sebagai pengantar.
- Tidak membahas lapisan-lapisan lain dari Model OSI.

1.4 Tujuan
Mengetahui penjelasan tentang data link protokol sebagai protokol dari data link
layer beserta bagian-bagiannya.

2
BAB II
DASAR TEORI

2.1 DATA LINK LAYER


Lapisan data-link (data link layer) adalah lapisan kedua dari bawah dalam
model OSI, yang dapat melakukan konversi frame-frame jaringan yang berisi data
yang dikirimkan menjadi bit-bit mentah agar dapat diproses oleh lapisan fisik.
Lapisan ini merupakan lapisan yang akan melakukan transmisi data antara
perangkat-perangkat jaringan yang saling berdekatan di dalam sebuah wide area
network (WAN), atau antara node di dalam sebuah segmen local area network
(LAN) yang sama. Lapisan ini bertanggungjawab dalam membuat frame, flow
control, koreksi kesalahan dan pentransmisian ulang terhadap frame yang
dianggap gagal. MAC address juga diimplementasikan di dalam lapisan ini.
Selain itu, beberapa perangkat seperti Network Interface Card (NIC), switch layer
2 serta bridge jaringan juga beroperasi di sini.
Lapisan data-link menawarkan layanan pentransferan data melalui saluran
fisik. Pentransferan data tersebut mungkin dapat diandalkan atau tidak: beberapa
protokol lapisan data-link tidak mengimplementasikan fungsi Acknowledgment
untuk sebuah frame yang sukses diterima, dan beberapa protokol bahkan tidak
memiliki fitur pengecekan kesalahan transmisi (dengan menggunakan
checksumming). Pada kasus-kasus tersebut, fitur-fitur acknowledgment dan
pendeteksian kesalahan harus diimplementasikan pada lapisan yang lebih tinggi,
seperti halnya protokol Transmission Control Protocol (TCP) (lapisan transport).
Tugas utama dari data link layer adalah sebagai fasilitas transmisi data
mentah dan mentransformasi data tersebut ke saluran yang bebas dari kesalahan
transmisi. Sebelum diteruskan ke Network Layer, lapisan data link melaksanakan
tugas ini dengan memungkinkan pengirim memecah-mecah data input menjadi
sejumlah data frame (biasanya berjumlah ratusan atau ribuan byte). Kemudian
lapisan data link mentransmisikan frame tersebut secara berurutan dan memproses
acknowledgement frame yang dikirim kembali oleh penerima. Karena lapisan
fisik menerima dan mengirim aliran bit tanpa mengindahkan arti atau arsitektur

3
frame, maka tergantung pada lapisan data-link-lah untuk membuat dan mengenali
batas-batas frame itu. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membubuhkan bit
khusus ke awal dan akhir frame.
Data link layer berisi peraturan untuk line discipline, flow control dan
error handling.
a. Line Discipline (Rancangan tata tertib)
Beberapa tata tertib diperlukan dalam penggunaan link transmisi. Pada
mode half-duplex, hanya satu stasiun yang dapat mentrasmisi pada suatu
waktu. Baik mode half-duplex atau full-duplex, suatu stasiun hanya
mentransmisi jika mengetahui bahwa receiver telah siap untuk menerima.
 Point to Point Link
Bila stasiun ingin mengirim data ke stasiun yang lain, maka pertama
dilakukan penyelidikan (dinyatakan sebagai enq/enquiry) stasiun lain untuk
melihat apakah siap menerima. Stasiun kedua merespon dengan suatu
positive acknowledge (ack) untuk indikasi telah siap. Stasiun pertama
kemudian mengirim beberapa data, sebagai suatu frame.
Setelah beberapa data dikirim, stasiun pertama berhenti untuk
menunggu hasilnya. Stasiun kedua menetapkan penerimaan data (ack) yang
sukses. Stasiun pertama kemudian mengirim suatu message akhir transmisi
(eot) yang menghentikan pertukaran dan mengembalikan sistem seperti
semula. Bila terjadi error pada transmisi, suatu negative acknowledgment
(nak) dipakai untuk mengindikasikan bahwa suatu sistim tidak siap
menerima, atau data yang diterima error. Hal ini diperlihatkan sebagai garis
tipis dalam gambar. Jika hal ini terjadi maka stasiun mengulang tindakan
akhirnya atau mungkin memulai beberapa prosedur perbaikan error (erp).
Garis tebal pada gambar memperlihatkan keadaan normal.
Ada 3 fase dalam prosedur kontrol komunikasi ini :
• Establishment (penentuan) : memutuskan stasiun mana yang transmisi
dan mana yang menerima dan apa receiver siap untuk menerima.
• Data transfer : data ditransfer dalam satu atau lebih blok-blok
acknowledgment.

4
• Termination : membatasi koneksi logika (hubungan transmitter-
receiver).
 Multipoint links
Aturan umum yang dipakai dalam situasi ini yaitu poll dan select.
• Poll : primary meminta data dari suatu secondary.
• Select : primary mempunyai data untuk dikirim dan memberitahu
suatu secondary bahwa data sedang datang.
Gambar 2.1 memperlihatkan konsep ini. Dalam 2.1a, primary mem-
poll suatu secondary dengan mengirim suatu message "poll". Dalam hal ini,
secondary tidakpunya apa -apa untuk dikirim dan merespon dengan message
"nak". Timing total untuk rangkaian ini :
TN = tprop+ tpoll+ tproc + tnak+ tprop
Dimana
tprop = waktu penyebaran = t1 – t0= t5 – t4
tprop = waktu untuk transmisi suatu poll = t2 – t1
tproc = waktu untuk memproses poll sebelum acknowledgment = t3 – t2
tnak = waktu untuk transmisi suatu negative acknowledgment = t4 – t3

Transmisi dari primary harus menunjuk pada secondary yang dipilih;


transmisi dari secondary harus menyamakan secondary tersebut. Gambar
2.1c, dimana ditunjukkan fungsi select. Gambar 2.1d, menunjukkan suatu
teknik alternatif yaitu fast select, dimana message select termasuk data yang
ditransfer. Teknik ini cocok untuk aplikasi-aplikasi dengan message-message
pendek yang seringkali ditransmisi dan waktu transfer untuk message
tersebut tidak lebih lama daripada waktu balasan.

5
Gambar 2.1. Serangkaian poll dan select.

Bentuk lain dari line discipline, yaitu contention , dimana tidak ada
primary tetapi hanya suatu kumpulan stasiun-stasiun peer keduanya baik
transmitter dan receiver harus diidentifikasikan. Stasiun ini dapat
mentransmisi jika jalur/line sedang bebas; kalau tidak maka harus
menunggu. Teknik ini dapat ditemukan dalam pemakaian secara luas pada
local network dan sistem satelit.

b. Flow control
Flow control adalah suatu teknik untuk memastikan/meyakinkan bahwa
suatu stasiun transmisi tidak menumpuk data pada suatu stasiun penerima.
Tanpa flow control, buffer dari receiver akan penuh sementara sedang
memproses data lama. Karena ketika data diterima, harus dilaksanakan
sejumlah proses sebelum buffer dapat dikosongkan dan siap menerima banyak
data.
Gambar 2.2a tiap tanda panah menyatakan suatu perjalanan frame
tunggal. Suatu data link antara dua stasiun dan transmisinya bebas error. Tetapi

6
bagaimanapun, setiap frame yang ditransmisi semaunya dan sejumlah delay
sebelum diterima. Gambar 5.4b suatu transmisi dengan losses dan error.

Gambar 2.2 Model dari transmisi frame

Bentuk sederhana dari flow control, yaitu stop-and-wait flow control.


Cara kerjanya : suatu entity sumber mentransmisi suatu frame. Setelah
diterima, entity tujuan memberi isyarat untuk menerima frame lainnya dengan
mengirim acknowledgment ke frame yang baru diterima. Sumber harus
menunggu sampai menerima acknowledgment sebelum mengirim frame
berikutnya. Entity tujuan kemudian dapat menghentikan aliran data dengan
tidak memberi acknowledgment.
Untuk blok-blok data yang besar, sumber akan memecah menjadi blok-
blok yang lebih kecil dan mentransmisi data dalam beberapa frame. Hal ini
dilakukan dengan alasan :
 Transmisi yang jauh, dimana bila terjadi error maka hanya sedikit data
yang akan ditransmisi ulang.
 Pada suatu multipoint line.
 Ukuran buffer dari receiver akan terbatas.

7
Protocol Sliding Window
Sliding-window flow control dapat digambarkan dalam operasi sebagai
berikut :
Dua stasiun A dan B, terhubung melalui suatu link full-duplex. B dapat
menerima n buah frame karena menyediakan tempat buffer untuk n buah
frame. Dan A memperbolehkan pengiriman n buah frame tanpa menunggu
suatu acknowledgement. Tiap frame diberi label nomor tertentu. B mengakui
suatu frame dengan mengirim suatu acknowledgement yang mengandung
serangkaian nomor dari frame berikut yang diharapkan dan B siap untuk
menerima n frame berikutnya yang dimulai dari nomor tertentu. Skema ini
dapat juga dipakai untuk multiple frame acknowledge.
Gambar 2.3 menunjukkan proses sliding-window. Anggap dipakai 3
bit penomoran, maka terdapat 0-7 nomor. Pada gambar, pengirim dapat
mentransmit 7 buah frame, yang dimulai dengan frame ke 6. Setiap kali frame
dikirim, daerah dalam kotak akan menyusut; setiap kali sebuah
acknowledgment diterima, daerah dalam kotak tersebut akan membesar.

Gambar 2.3 Proses Sliding-window.

Gambar 2.4 menunjukkan suatu contoh, dimana dianggap ada 3 bit


penomoran dan suatu ukuran window maksimum sebesar 7. A dan B mempunyai
window yang mengindikasi bahwa A boleh mengirim 7 buah frame, dimulai
dengan frame ke 0 (f0). Setelah mengirim 3 buah frame (f0,f1,f2) tanpa
acknowledgment, A telah menyusutkan window-nya menjadi 4 buah frame.
Window ini menyatakan bahwa A boleh mentransmit 4 buah frame, dimulai
dengan frame nomor 3; pada kenyataannya, saya siap menerima 7 frame, yang
dimulai dengan frame nomor 3. Dengan acknowledgment ini, A kembali
meminta izin untuk mentransmisi 7 frame masih, diawali dengan frame 3. A
mulai mentransmisi frame 3, 4, 5 dan 6. B mengembalikan ACK 4, dimana
mengakui frame 3, dan mengizinkan transmisi frame 4 sampai 2. Tetapi, pada
waktu acknowledgment mencapai A, A sudah mentransmisi frame 4, 5 dan 6.
Kesimpulannya bahwa A hanya boleh membuka window-nya untuk
memperkenankan transmisi dari 4 frame, dimulai dengan frame 7.

Gambar 2.4. Contoh dari protokol sliding-window.

Penjelasan-penjelasan diatas untuk transmisi dalam satu arah saja.


Jika 2 stasiun menukar data, masing-masing membutuhkan 2 window : satu
untuk transmisi data dan yang lain untuk menerima. Teknik ini dikenal
sebagai piggy backing. Untuk multipoint link, primary membutuhkan masing-
masing secondary untuk transmisi dan menerima.
c. Error Control
Berfungsi untuk mendeteksi dan memperbaiki error-error yang terjadi
dalam transmisi frame-frame. Ada 2 tipe error yang mungkin :
• Frame hilang : suatu frame gagal mencapai sisi yang lain.
• Frame rusak : suatu frame tiba tetapi beberapa bit-bit-nya error.
Teknik-teknik umum untuk error control, sebagai berikut :
• Deteksi error : telah dibahas dalam chapter 4; dipakai CRC.
• Positive acknowledgment : tujuan mengembalikan suatu positif
acknowledgment untuk penerimaan yang sukses, frame bebas error.
• Transmisi ulang setelah waktu habis : sumber mentransmisi ulang suatu
frame yang belum diakui setelah suatu waktu yang tidak ditentukan.
• Negative acknowledgment dan transmisi ulang : tujuan mengembalikan
negative acknowledgment dari frame-frame dimana suatu error dideteksi.
Sumber mentransmisi ulang beberapa frame.
Mekanisme ini dinyatakan sebagai Automatic repeat Request (ARQ)
yang terdiri dari 3 versi :
• Stop and wait ARQ.
• Go-back-N ARQ.
• Selective-reject ARQ.
a. Stop and wait ARQ
Berdasarkan pada teknik flow control stop and wait dan digambarkan
dalam gambar 2.5. Stasiun sumber mentransmisi suatu frame tunggal dan
kemudian harus menunggu suatu acknowledgment (ACK) dalam periode
tertentu. Tidak ada data lain dapat dikirim sampai balasan dari stasiun tujuan tiba
pada stasiun sumber. Bila tidak ada balasan maka frame ditransmisi ulang. Bila
error dideteksi oleh tujuan, maka frame tersebut dibuang dan mengirim suatu
Negative Acknowledgment (NAK), yang menyebabkan sumber mentransmisi
ulang frame yang rusak tersebut.
Gambar 2.5. Stop-and-wait ARQ.

Bila sinyal acknowledgment rusak pada waktu transmisi, kemudian


sumber akan habis waktu dan mentransmisi ulang frame tersebut. Untuk
mencegah hal ini, maka frame diberi label 0 atau 1 dan positive acknowledgment
dengan bentuk ACK0 atau ACK1 : ACK0 mengakui menerima frame 1 dan
mengindikasi bahwa receiver siap untuk frame 0. Sedangkan ACK1 mengakui
menerima frame 0 dan mengindikasi bahwa receiver siap untuk frame 1.
b. Go-back-N ARQ
Termasuk continuous ARQ, suatu stasiun boleh mengirim frame seri
yang ditentukan oleh ukuran window, memakai teknik flow control sliding
window. Sementara tidak terjadi error, tujuan akan meng-acknowledge (ACK)
frame yang masuk seperti biasanya.
Teknik Go-back-N ARQ yang terjadi dalam beberapa kejadian :
• Frame yang rusak. Ada 3 kasus :
 A mentransmisi frame i. B mendeteksi suatu error dan telah menerima
frame (i-1) secara sukses. B mengirim A NAKi, mengindikasi bahwa
frame i ditolak. Ketika A menerima NAK ini, maka harus mentransmisi
ulang frame i dan semua frame berikutnya yang sudah ditransmisi.
 Frame i hilang dalam transmisi. A kemudian mengirim frame (i+1). B
menerima frame (i+1) diluar permintaan, dan mengirim suatu NAKi.
 Frame i hilang dalam transmisi dan A tidak segera mengirim frame
-frame tambahan. B tidak menerima apapun dan mengembalikan baik
ACK atau NAK. A akan kehabisan waktu dan mentransmisi ulang frame
i.
• ACK rusak. Ada 2 kasus :
 menerima frame i dan mengirim ACK (i+1), yang hilang dalam
transmisi. Karena ACK dikomulatif (contoh, ACK6 berarti semua frame
sampai 5 diakui), hal ini mungkin karena A akan menerima sebuah ACK
yang berikutnya untuk sebuah frame berikutnya yang akan melaksanakan
tugas dari ACK yang hilang sebelum waktunya habis.
 Jika waktu A habis, A mentransmisi ulang frame I dan semua frame-
frame berikutnya.
• NAK rusak. Jika sebuah NAK hilang, A akan kehabisan waktu (time out)
pada serangkaian frame dan mentransmisi ulang frame tersebut berikut
frame-frame selanjutnya.
c. Selective-reject ARQ
Hanya mentransmisi ulang frame-frame bila menerima NAK atau waktu
habis. Ukuran window yang perlu lebih sempit daripada go-back-N. Untuk go-
back-N, ukuran window 2n-1 sedangkan selective -reject 2n.
Skenario dari teknik ini untuk 3 bit penomoran yang mengizinkan ukuran
window sebesar 7 :
o Stasiun A mengirim frame 0 sampai 6 ke stasiun B.
o Stasiun B menerima dan mengakui ketujuh frame-frame.
o Karena noise, ketujuh acknowledgment hilang.
o Stasiun A kehabisan waktu dan mentransmisi ulang frame 0.
o Stasiun B sudah memajukan window penerimanya untuk menerima frame
7,0,1,2,3,4 dan 5. Dengan demikian dianggap bahwa frame 7 telah hilang
dan bahwa frame nol yang baru, diterima.
Problem dari skenario ini yaitu antara window pengiriman dan
penerimaan. Yang diatasi dengan memakai ukuran window max tidak lebih dari
setengah range penomoran.

2.2 PROTOKOL
Protokol adalah prosedur dan peraturan-peraturan yang mengatur
operasi dari peralatan komunikasi data. Berfungsi :
1. Membuat hubungan antara pengirim dan penerima.
2. Menyalurkan informasi dengan kehandalan tinggi.
Protokol dirancang dan dikembangkan oleh suatu pabrik sehingga
mereka sukar berhubungan apabila berlainan pabrik pembuatnya.
1. Hirarki Protokol
Untuk mengurangi kerumitan rancangan, sebagian besar jaringan
diorganisasi sebagai tumpukan layer atau level, yang setiap layernya berada
di atas layer yang berada dibawahnya. Jumlah, nama, isi, dan fungsi setiap
layer dapat berbeda dari jaringan yang satu dengan jaringan lainnya. Pada
semua jaringan, tujuan suatu layer adalah untuk memberikan layanan kepada
layer yang berada diatasnya.
Layer n pada sebuah mesin melakukan pembicaraan dengan layer n pada
mesin lainnya. Hukum dan konvensi yang dipakai dalam pembicaraan ini
dikenal secara umum sebagai protokol layer n. Antara setiap pasangan layer
yang berdekatan terdapat sebuah interface. Interface menentukan operasi-
operasi primitive dan layanan layer yang dibawah kepada layer yang berada
diatasnya. Pertimbangan yang sangat penting menentukan interface yang
bersih yang akan ditempatkan di antara dua layer yang bersangkutan. Setiap
layer membentuk kumpulan fungsi-fungsi yang secara spesifik dapat
dimengerti dengan baik. Untuk mengurangi jumlah informasi yang akan
dilewatkan ke antara dua buah layer, interface potong-bersih (clean-cut
interface). Sebuah himpunan layer dan protokol disebut arsitektur jaringan.
Sebuah arsitektur harus terdiri dari informasi yang cukup untuk
memungkinkan suatu implementasi menulis suatu program atau membentuk
perangkat keras bagi setiap layernya, sehingga jaringan dapat mentaati
sepenuhnya protokol yang cocok.

2.3 TEKNIK DETEKSI ERROR


Teknik deteksi error menggunakan error-detecting-code, yaitu tambahan
bit yang ditambah oleh transmitter. Dihitung sebagai suatu fungsi dari transmisi
bit-bit lain. Pada receiver dilakukan perhitungan yang sama dan
membandingkan kedua hasil tersebut, dan bila tidak cocok maka berarti terjadi
deteksi error. Dan Apabila sebuah frame ditransmisikan ada 3 kemungkinan klas
yang dapat didefinisikan pada penerima, yaitu :
1. Klas 1 (P1) : Sebuah frame datang dengan tidak ada bit error
2. Klas 2 (P2) : Sebuah frame datang dengan 1 atau lebih bit error yang tidak
terdeteksi
3. Klas 3 (P3) : Sebuah frame datang dengan 1 atau lebih bit error yang
terdeteksi dan tidak ada bit error yang tidak terdeteksi.
Ada dua pendekatan untuk deteksi kesalahan :
1. Forward Error Control
Dimana setiap karakter yang ditransmisikan atau frame berisi informasi
tambahan (redundant) sehingga bila penerima tidak hanya dapat mendeteksi
dimana error terjadi, tetapi juga menjelaskan dimana aliran bit yang diterima
error.
2. Feedback (backward) Error Control
Dimana setiap karakter atau frame memilki informasi yang cukup untuk
memperbolehkan penerima mendeteksi bila menemukan kesalahan tetapi
tidak lokasinya. Sebuah transmisi kontro digunakan untuk meminta
pengiriman ulang, menyalin informasi yang dikirimkan.
Feedback error control dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Teknik yang digunakan untuk deteksi kesalahan
2. Kontrol algoritma yang telah disediakan untuk mengontrol transmisi ulang.

Metode Deteksi Kesalahan :


1. Echo
Metode sederhana dengan sistem interaktif. Operator memasukkan data
melalui terminal dan mengirimkan ke komputer. Komputer akan
menampilkan kembali ke terminal, sehingga dapat memeriksa apakah
data yang dikirimkan dengan benar.
2. Error Otomatis / Parity Check
Penambahan parity bit untuk akhir masing-masing kata dalam frame.
Tetapi problem dari parity bit adalah impulse noise yang cukup panjang
merusak lebih dari satu bit, pada data rate yang tinggi.
Jenis Parity Check :
a. Even parity (paritas genap), digunakan untuk transmisi asynchronous. Bit
parity ditambahkan supaya banyaknya ‘1’ untuk tiap karakter / data adalah
genap
b. Odd parity (paritas ganjil), digunakan untuk transmisi synchronous. Bit
pariditambahkan supaya banyaknya ‘1’ untuk tiap karakter / data adalah
ganjil
Dengan bit pariti dikenal 3 deteksi kesalahan, yaitu :
• Vertical Redundancy Check / VRC
Setiap karakter yang dikirimkan (7 bit) diberi 1 bit pariti. Bit pariti
ini diperiksa oleh penerima untuk mengetahui apakah karakter yang
dikirim benar atau salah. Cara ini hanya dapat melacak 1 bit dan berguna
melacak kesalahan yang terjadi pada pengiriman berkecepatan
menengah, karena kecepatan tinggi lebih besar kemungkinan terjadi
kesalahan banyak bit.
Kekurangan : bila ada 2 bit yang terganggu ia tidak dapat melacaknya
karena paritinya akan benar.
Contoh :
ASCII huruf "A" adalah 41h
100 0001 ASCII 7 bit
1100 0001 ASCII dengan pariti ganjil
0100 0001 ASCII dengan pariti genap
Akibatnya huruf "A" kode ASCII dalam Hex :
- 41 bilamana pariti genap
- A1 bilamana pariti ganjil
• Longitudinal Redundancy Check / LRC
LRC untuk data dikirim secara blok. Cara ini seperti VRC hanya saja
penambahan bit pariti tidak saja pada akhir karakter tetapi juga pada
akhir setiap blok karakter yang dikirimkan. Untuk setiap bit dari seluruh
blok karakter ditambahkan 1 bit pariti termasuk juga bit pariti dari
masing-masing karakter. Tiap blok mempunyai satu karakter khusus yang
disebut Block Check Character (BCC) yang dibentuk dari bit uji. dan
dibangkitkan dengan cara sebagai berikut :
"Tiap bit BCC merupakan pariti dari semua bit dari blok yang
mempunyai nomor bit yang sama. Jadi bit 1 dari BCC merupakan pariti
genap dari semua bit 1 karakter yang ada pada blok tersebut, dan
seterusnya"
Kerugian : terjadi overhead akibat penambahan bit pariti per 7 bit untuk
karakter.

• Cyclic Redundancy Check / CRC


CRC (Cyclic Redundancy Check) adalah algoritma untuk
memastikan integritas data dan mengecek kesalahan pada suatu data yang
akan ditransmisikan atau disimpan. Data yang hendak ditransmisikan atau
disimpan ke sebuah media penyimpanan rentan sekali mengalami
kesalahan, seperti halnya noise yang terjadi selama proses transmisi atau
memang ada kerusakan perangkat keras. Untuk memastikan integritas data
yang hendak ditransmisikan atau disimpan, CRC dapat digunakan. CRC
bekerja secara sederhana, yakni dengan menggunakan perhitungan
matematika terhadap sebuah bilangan yang disebut sebagai Checksum,
yang dibuat berdasarkan total bit yang hendak ditransmisikan atau yang
hendak disimpan.
Dalam transmisi jaringan, khususnya dalam jaringan berbasis
teknologi Ethernet, checksum akan dihitung terhadap setiap frame yang
hendak ditransmisikan dan ditambahkan ke dalam frame tersebut sebagai
informasi dalam header atau trailer. Penerima frame tersebut akan
menghitung kembali apakah frame yang ia terima benar-benar tanpa
kerusakan, dengan membandingkan nilai frame yang dihitung dengan nilai
frame yang terdapat dalam header frame. Jika dua nilai tersebut berbeda,
maka frame tersebut telah berubah dan harus dikirimkan ulang.
CRC didesain sedemikian rupa untuk memastikan integritas data
terhadap degradasi yang bersifat acak dikarenakan noise atau sumber
lainnya (kerusakan media dan lain-lain). CRC tidak menjamin integritas
data dari ancaman modifikasi terhadap perlakukan yang mencurigakan
oleh para hacker, karena memang para penyerang dapat menghitung ulang
checksum dan mengganti nilai checksum yang lama dengan yang baru
untuk membodohi penerima.
Digunakan pengiriman berkecepatan tinggi, sehingga perlu
rangkaian elektronik yang sukar. Cara CRC mengatasi masalah overhead
dan disebut pengujian berorientasi bit, karena dasar pemeriksaan
kemungkinan kesalahan adalah bit / karakter dan menggunakan rumus
matematika khusus
Contoh menggunakan paritas genap :
VRC

1 0 1 1 0 1 1 1 ‘1’=5
1 1 0 1 0 1 1 1 ‘1’=5
0 0 1 1 1 0 1 0 ‘1’=4
1 1 1 1 0 0 0 0 ‘1’=4
1 0 0 0 1 0 1 1 ‘1’=3
0 1 0 1 1 1 1 1 ‘1’=5
0 1 1 1 1 1 1 LRC
‘1’=4 ‘1’=3 ‘1’=3 ‘1’=5 ‘1’=3 ‘1’=3 ‘1’=5
Satu blok informasi dilihat sebagai sederetan bit yang ditransmisikan. Bit yang
ditransmisikan dimasukkan kedalam register geser siklis yang disebut generator
CRC. Operasi ini didasarkan atas pembagian deretan bit dengan sebuah fungsi
khusus.
Hasil bagi pembagian diabaikan. Sisanya disalurkan sebagai BCS (Block Check
Sequence). Fungsi khusus tersebut disebut generator polynominal.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 DATA LINK PROTOKOL


Data link protocol adalah acuan dari spesifikasi yang digunakan untuk
mengimplementasikan data link layer. Data link layer berisi peraturan untuk
line discipline, flow control dan error handling. Protocol data link dibagi
menjadi dua subgroup, protocol asinkron dan protocol sinkron. Asynchronous
protocol mengolah tiap karakter ke dalam bit stream/aliran bit secara bebas.
Sedangkan Synchronous protocol mengambil seluruh bit stream dan
membaginya pada karakter yang ukurannya sama.

3.1.1 Protocol Asinkron


Protocol asinkron digunakan terutama pada modem, fitur awal dan akhir bit
dan variabel panjang gap antar karakter. Protokol asinkron dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa bagian antara lain: XMODEM,
YMODEM, ZMODEM, BLAST dan KERMIT.
a. XMODEM
Didesain pada tahun 1979 oleh Ward Cristiansen untuk protocol
transfer file pada jalur komunikasi telepon antara PC. XMODEM
merupakan protokol half-duplex stop-and-wait ARQ. Pada protocol ini
transmisi dimulai dengan mengirim frame NAK dari receiver ke sender.
Setiap kali sender mengirim frame harus menunggu pemberitahuan atau
aknowledgement sebelum frame berikutnya dapat dikirimkan. Frame
juga dapat dikimkan kembali jika renspon tidak diterima oleh sender
setelah beberapa waktu tertentu. Selain NAK atau ACK sender dapat
menerima sinyal cancel atau CAN dimana fungsinya membatalkan
transmisi.
Gambar 3.1 XMODEM

b. YMODEM
YMODEM merupakan sebuah protokol yang mirip mirip dengan
XMODEM, dengan perbedaan utama sebagai berikut:
1) data unit 1024 byte
2) dua CAN dikirim untuk membatalkan transmisi
3) ITU-T CRC-16 digunakan untuk error checking
4) Lebih dari satu file dapat dikirim bersamaan
c. ZMODEM
ZMODEM merupakan protokol yang lebih baru yang
menggabungkan fitur-fitur dari kedua XMODEM dan YMODEM.
d. BLAST
BLAST (Blocked Asynchronous Transmission) lebih powerfull
dari XMODEM. BLAST termasuk full-duplex dengan sliding window
flow control.
e. KERMIT
KERMIT, didesain di Columbia University, adalah protokol yang
paling banyak digunakan dalam protokol asinkron. Protokol ini
operasinya sama dengan XMODEM dimana sender menunggu NAK
sebelum memulai transmisi. Transmisi dari kontrol karakter teks dari
KERMIT terdiri dari dua langkah. Pertama kontrol karakter yang
digunakan sebagai teks ditransformasikan menjadi karakter tercetak
dengan cara menambah angka yang tetap menjadi representasi ASCII
CODE-nya. Kedua karakter ditambahkan pada bagian depan karakter
yang sudah ditransformasikan
3.1.2 Protokol Sinkron
Protocol sinkron kecepatannya lebih tinggi dari protocol asinkron
untuk teknologi LAN, MAN, dan WAN. Protocol sinkron terdiri dari dua
bagian yaitu character-oriented protocol dan bit-oriented protocol (lihat
gambar 3.2). Character-oriented protocol kurang efisien dibanding bit-
oriented protocol sehingga jarang digunakan. Pada oriented protocol
informasi dalam bentuk kode dari karakter yang sudah ada sebelumnya
seperti ASCII dan EBCDEC. Multi-bit character ini membawa informasi
line discipline, flow Control dan Error Control. Dari beberapa character-
oriented yang ada yang terbaik diketahui adalah Binary Synchronous
Communication atau BSC.

Gambar 3.2 Protokol Sinkron

a. BINARY SYNCHRONOUS COMMUNICATION (BSC)


Binary sinkronis Komunikasi (BSC atau Bisync) adalah IBM link
protokol, diumumkan pada tahun 1967 setelah berlakunya System/360.
Ia menggantikan sinkronis-mengirimkan-menerima (STR) protokol yang
digunakan dengan generasi kedua komputer. Yang maksud adalah bahwa
peraturan pengelolaan umum Link dapat digunakan dengan tiga
alphabets untuk encoding pesan. Enam-bit Transcode melihat ke
belakang ke sistem lama; USASCII dengan 128 karakter dan EBCDIC
dengan 256 karakter memandang ke depan. Transcode menghilang
dengan cepat tetapi EBCDIC dialek dari Bisync masih terbatas
digunakan pada awal tahun dari abad 21 st.
Binary synchronous communicatiom (BSC) merupakan protokol
data link character-oriented yang populer dikembangkan oleh IBM pada
tahun 1964. Dipergunakan pada kedua konfigurasi point-to-point dan
multipoint, ini mendukung transmisi half-duplex menggunakan
pengontrol alir stop-and-wait ARQ. BSC tidak mendukung transmisi
full-duplex atau protokol sliding window.
 BSC Frames
Protokol BSC membagi transmisi kedalam frame. Jika frame
digunakan semata-mata untuk tujuan kontrol, ini disebut frame
kontrol. Frame kontrol digunakan untuk mengubah informasi antara
peralatan telekomunikasi, contoh, untuk mendirikan koneksi pertama,
untuk mengontrol aliran dari transmisi, untuk meminta koreksi
kesalahan, dan untuk disconnect peralatan pada penutupan sesi. Jika
frame berisi bagian atau semua data pesannya, disebut frame data
atau data frame. Data frame digunakan untuk mentransmisikan
informasi, tetapi mungkin juga berisi pengontrolan infomasi yang
dapat berlaku pada informasi tersebut (lihat gambar 3.3).

Gambar 3.3 BSC Frame


 Data Frames
Gambar 3.4 memperlihatkan format dari frame data
sederhana. Tanda panah menunjukkan pengarahan transmisi.
Frame bermula dengan dua atau lebih karakter sinkronisasi
(SYN). Karakter tersebut menyiagakan receiver untuk
kedatangan frame baru dan menyediakan pola bit yang digunakan
oleh peralatan penerima untuk mengsinkronisasi timing-nya
dengan dengan pola bit peralatan pengirim.
Gambar 3.4 data frame BSC sederhana

• Bidang Header
Frame yang sesederhana seperti yang dijelaskan di atas jarang
bermanfaat. Biasanya kita butuh memasukkan alamat dari
devais penerima, alamat devais pengirim, dan
mengidentifikasikan angka frame (0 atau 1) untuk stop-and-
wait ARQ (lihat gambar 3.5). informasi ini dimasukkan pada
bidang spesial yang disebut header, yang memulai dengan
karakter start of header (SOH). Header tiba setelah SYN dan
sebelum karakter STX: segala yang diterima setelah bidang
SOH tetapi sebelum karakter STX adalah informasi header.

Gambar 3.5 Frame ABC dengan header

• Frame Multiblok
Probabilitas dari sebuah kesalahan pada blok teks meningkat
dengan panjang frame. Bit lain pada frame, semakin besar
kemungkinan bahwa salah satu dari mereka akan rusak dalam
perjalanan, dan semakin banyak kemungkinan bahwa
perubahan disetiap bit akan menggagalkan satu sama lain dan
membuat deteksi sulit. Untuk alasan ini, teks pada pesan selalu
dibagi menjadi beberapa blok. Masing-masing blok, kecuali
satu yang terakhir, berawal dengan karakter STX dan berakhir
dengan intermediate text block (ITB). Blok terakhirmemulai
dengan sebuah STX tetapi berakhir dengan ETX.

Gambar 3.6 Frame multiblok


• Transmisi Multiframe
Pada contoh yang dijelaskan diatas, frame tunggal membawa
keseluruhan pesan. Setelah masing-masing frame, pesan
adalah komplit dan pengontrolan garis melewati devais
sekunder (mode half-duplex). Beberapa pesan mungkin
terlalu panjang untuk kedalam format tunggal. Pada kasus
tersebut, sender dapat membagi pesan tidak hanya diantara
blok tetapi diantara frame. Beberapa frame dapat membawa
kelanjutan dati pesan tunggal. Untuk membuat receiver tahu
bahwa akhir dari frame adalah bukan akhir dari transmisi,
karakter ETX pada semua frame tetapi satu yang terakhir

Gambar 3.7 Transmisi multiframe

diganti oleh End of Transmission Block (ETB). Receiver


harus menyatakan masing-masing frame secara terpisah tetapi
tidak dapat control lebih dari link sampai frame mengetahui
ETX pada frame terakhir (lihat gambar 3.7)

 Control Frame
Digunakan oleh 2 devais untuk mengirim perintah atau mengumpulkan
informasi dari ke devais. Control Frame melayani tiga tujuan:
membangun koneksi, maintaining flow dan error control selama
transmisi data dan menghentikan koneksi

Gambar 3.8 Frame pengontrol BSC

 Data Transparency
Data transparency pada komunikasi data berarti lita seharusnya dapat
mengirim bermacam-macam kombinasi bit sebagai data. Data
transparency pada BSC dicapai oleh proses yang disebut byte stuffing.
Ini melibatkan dua aktifitas : menjelaskan daerah teks transparan dengan
karakter data link escape (DLE) dan mendahului katakter DLE didalam
daerah transparan oleh karakter DLE ekstra.
Gambar 3.9 Data transparency
3.2 BIT-ORIENTED PROTOCOLS
Pada protocol character-oriented, bit dikelompokkan kedalam standar
karakter pembentukan pola. protocol bit-oriented dapat membawa lebih
banyak informasi kedalam frame terpendek dan menghindari masalah
transparansi darri protocol character-oriented. Bit-oriented dibagi menjadi
beberapa bagian yang dilihatkan pada gambar dibawah 3.10.

Gambar 3.10 Protokol bit-oriented

Pada tahun 1975, IBM mempelopori perkembangan protocol bit-oriented


dengan synchronous data link control (SDLC) dan melobi ISO untuk
membuat standart SDLC. Pada tahun 1979, ISO menjawab dengan high-
level data link control (HDLC), yang didasari oleh SDLC.
a. HDLC
HDLC merupakan protocol data link bit-oriented yang didesain
untuk mendukung kedua komunikasi half-duplex dan full duplex
melebihi sambungan point-to-point dan multipoint. Sistem yang
menggunakan HDLC dapat dikarakteristikan oleh tipe stasiunnya,
konfigurasinya, dan mode responsnya.
 Tipe stasiun
HDLC membedakan antara tiga tipe stasiun : primer, sekunder,
dan gabungan. Stasiun primer merupakan peralatan pada salah satu
jalur konfigurasi point-to-point atau multipoint yang memiliki
pengontrolan link yang komplit. Primer mengirimkan perintah untuk
stasiun sekunder. Primer memberikan perintah; sekunder memberikan
respons.
Stasiun gabungan dapat memerintah dan merenpons. Stasiun
gabungan merupakan salah satu perangkat connected peer devices
yang diprogramkan untuk bertingkah sebagai salah satu primer atau
sekunder.
 Konfigurasi
Stasiun primer, sekunder, dan gabungan dapat dikonfigurasi
pada tiga jalur: unbalanced, symmetrical dan balanced. Semua
konfigurasi tersebut dapat mendukung transmisi half duplex dan full
duplex.
Konfigurasi unbalanced merupakan salah satu dimana satu
devais adalah primer dan yang lain adalah sekunder. Konfigurasi
symmetrical merupakan satu dimana setiap stasiun fisik pada link
terdiri dua stasiun logical, satu sebagai primer dan yang lain sebagai
sekunder. Konfigurasi symmetrical bertingkah seperti konfigurasi
unbalanced kecuali pengontrolan link dapat mengganti antara dua
devais. Konfigurasi balanced merupakan salah satu dimana kedua
stasiun pada topologi point-to-point merupakan tipe gabungan.
Stasiun dihubungkan oleh line tunggal yang dapat dikontrol oleh
salah satu stasiun.
 Mode komunikasi
Mode komunikasi pada HDLC merupakan hubungan antara
dua devais yang terlibat pada perubahan; mode yang menjelaskan
siapa yang mengontrol link. HDLC mendukung tiga mode
komunikasi antara stasiun: normal response mode (NRM),
asynchronous response mode (ARM) dan asynchronous balanced
mode (ABM).
NRM (Normal Response Mode) menunjukkan standard
hubungan primer-sekunder. Devais sekunder harus punya ijin dari
devais primer sebelum ditransmisikan. Pada ARM (Asynchronous
Response Mode), sekunder menginisialkan transmisi tanpa ijin dari
primer kapan pun kanal idle. ARM tidak merubah hubungan primer-
sekunder pada jalur lain
Gambar 3.12 melihatkan hubungan antara mode tersebut
dan tipe stasiun.

Gambar 3.12 Mode HLDC


 Frame
Untuk menyediakan fleksibelitas yang diperlukan untuk
mendukung semua pilihan yang mungkin pada mode dan
konfigurasi yang dijelaskan diatas. HDLC mendevinisikan tiga
tipe frame: frame informasi (I-frames), frame supervisori (S-
frame) dan frame unnumbered (U-frame); lihat gambar 3.14.
Frame informasi (I-Frames) digunakan untuk
mentransportasikan data user dan kontrol informasi yang
berhubungan dengan data user. Frame supervisory (S-Frames)
digunakan hanya untuk mentransportasikan informasi kontrol,
terutama data link layer untuk kontrol flow dan error. Frame
unnumbered (U-Frames) disediakan untuk manajemen system.
Setiap frame pada HDLC mungkin berisi diatas enam bidang:
bidang beginning flag, bidang addres, bidang control, bidang
informasi, bidang frame check sequence (FCS), dan bidang
ending flag.
• Gambar 3.13 Tipe frame HDLCBidang Flag
Bidang flag pada frame HDLC merupakan 8-bit sequence
dengan pola bit 01111110 yang mendefinisikan frame beginning dan
frame end dan melayani sebagai pola sinkronisasi untuk receiver.
Gambar memperlihatkan penempatan dua bidang flag pada I-frame.
• Bidang Alamat
Bidang kedua dari frame HDLC berisi alamat stasiun
sekunder yang salah satu originator atau destination dari frame (atau
stasiun berperan sebagai sekunder pada kasus stasiun gabungan).

Gambar 3.14 Bidang flag HDLC

Gambar 3.14 Bidang alamat HDLC


• Bidang control
Bidang control (Control field) adalah 1 atau 2 segment dari
frame yang dipake untuk flow management.

Gambar 3.15 Bidang control HDLC

• Bidang informasi
Berisi data user pada sebuah I frame, dan network
management informasi dalam sebuah U-frame. Panjangnya bebeda
tergantung dari 1 jaringan ke lainnya tapi selalu tetap dengan
jaringannya masing – masing. S frame tidak punya field informasi
.
Gambar 3.16 Bidang informasi HDLC

a) Bidang FCS
FCS adalah deteksi error dari HDLC. Dapat berisi 1 atau 2 byte
CRC.

Gambar 3.17 Bidang FCS pada HDFC

3.3 LEBIH JAUH TENTANG FRAME.


3.3.1 S- Frame
Supervisory frame dipake untuk pemberitahuan, flow kontrol, dan
error kontrol.kapan pun dukungan atas informasi sebuah I-frame adalah
tidak mungkin atau tidak tepat. S frame tidak punya field informasi yang
dapat membawa pesan ke stasiun penerima.

Gambar 3.18 S-Frame


Ada 4 tipe S-frame :
1) RR (Recei ve Ready):s-frame yang berisi kode RR dapat digunakan
dalam empat cara ynang berbeda dan setiap cara punya erbedaan
yang signifikan
 ACK. RR dipakai stasiun penerima untuk mengembalikan
pemberitahuan positif dari I-frame yang ditermia saat penerima
tidak punya data untuk dikirim.
 Poll (memilih). Ketika ditransmisikan oleh stasiun primer (atau
berperan sebagai primer pada stasiun gabungan) dengan
perangkat P/F bit.
 respons negatif untuk poll (pemilihan). Ketika dikirim oleh
stasiun sekunder dengan perangkat P/F bit, RR memberi tahu
stasiun primer bahwa sekunder tidak memiliki data untuk
dikirimkan. Jika stasiun sekunder punya data untuk
diransmisikan, maka akan merespon ke poll ( tempat pemilihan)
dengan sebuah I-frame. Bukan sebuah S-frame.
 Respon positif untuk dipilih. Ketika sekunder dapat menerima
transmisi dari primer, sekunder akan mengembalikan RR frame
dengan P/F bit nomor 1.
2) RNR (Receive Not Readt) : RNR dapat digunakan dengan 3 cara :
 ACK. RNR dikembalikan oleh penerima untuk pemberitahuan
penerumaan oleh stasiun pengiriman untuk semua
framediatasnya, tapi tidak termasuk yang terindikasi N(R) field
tapi meminta bahwa tidak ada frame lagi dapat dikirim sampai
Rrframe disebarkan.
 Select. Ketika primer meminta untuk mentransmisikan data ke
sekunder yang spesifik. Ini memperingatkan sekunder dengan
mengirim frame NRN dengan perangkat bit P/F (dipakai sebagai
P) .
3) REJ (Reject) : pemberitahuan negative oleh receiver pada system
error correction ARQ dimana receiver tidak punya data atau
dukungan respons pada N (R) field berisi jumlah kerusakan frame
untuk mengindikasikan bahwa frame dan semua yang meguikutinya
perlu untuk ditransmisikan ulang.
4) SREJ(Selective Reject) : pemberitahuan negative pada sebuah SREJ
system ARQ.. Ini dikirim oleh receiver kepada sender untuk
mengindikaskan bahwa frame spesifik (jumlah pada N(R) field )
telah diterima dalm kondisi rusak dan harus dikirim ulang.
3.3.2 U-frame
Unnumbered frame biasanya digunakan untuk pertukaran sesi
menajemen dan informasi kontro. U-frame berisi field informasi. Tapi
digunakan untuk sIstem manajemen informasi, bukan data user. Dibagi
menjadi 5 fungsi dasar
• Mode Setting
Perintah mode setting dikirim oleh stasiun utama atau oleh stasiun
gabungan untuk mengontrol perputaran atau mode bagian. Mode
setting frame member tahu stasiun penerima format apa transmisi
akan dilakukan.
• Unnumbered Exchange
Kode unnumbered exchange digunakan untuk mengirim atau
membagi potongan spesifik dari informasi data link antara devais
• Disconnection : ada 3 kode disconnect, yang 1 adalah perintah dari
stasiun utama atau stasiun gabungan. Dua lainnya adalah respon dari
stasiun penerima.
• Initializing : dipake sebagai perintah satu system ke system lainnya,
artinya set initialiting mode (SIM). SIM memerintah lalu didikui UI
(Unnemberd Information) frame yang berisi program baru atau
parameter perangkat baru.
• Miscellanous : yang menemukan 3 perintah, yang pertama dan kedua
reset (RSET, 11 001) dan ID pengubah (XID, 11 101) adalah perintah
dari system pemulai untuk system pengalamatan. Yang ketiga, frame
reject ( FLMR, 10 001) merupakan respon pengiriman dari system
pengalamatan ke system pemulai.

Gambar 3.19 U-Frame

3.4 LINK ACCES PROSEDURE


3.4.1 LAPB
Link access procedure balanced (LAPB) merupakan sub
perangkat sederhana dari HDLC yang dipakai hanya untuk menggabungkan
stasiun ke jaringan. Ini menyediakan fungsi control dasar yang dibutuhkan
untuk komunikasi antara DTE dan DCE. LAPB dipakai hanya pada
konfigurasi balanced dari dua devais, diaman kedua devais adaalh tipe
gabungan. Komunikasi selalu pada mode asinkron balanced. LAPB
digunakan pada Integrated Services Digital Network (ISDN) pada kanal B.

3.4.2 LAPD
Link Access procedure for D channel (LAPD) adalah sub perangkat
yang lain dari HDLC yang digunakan pada digunakan pada Integrated
Services Digital Network (ISDN). Ini digunakan untuk persinyalan out-of-
band (control). Biasanya digunakan Asynchronous balanced mode (ABM).
3.4.3 LAPM
Link access procedure for modems (LAPM) merupakan sub
perangkat sederhana dari HDLC untuk modem. Ini didesain untuk
melakukan asynchronous-synchronous conversion, error detection, dan
retransmisi. Ini telah dikembangkan untuk mengaplikasi fitur HDLC ke
modem.
BAB IV
KESIMPULAN

 Data Link Layer merupakan layer kedua OSI.


 Data Link Protokol merupakan protocol yang dipakai pada Data Link Layer.
 Data Link Protokol terdiri dari dua bagian, yaitu asynchronous dan synchronous
protokol
 Contoh Asynchonous protocol adalah XMODEM, YMODEM, ZMODEM,
BLAST, dan KERMIT
 Contoh Synchonous protocol adalah Character Oriented Protocol dan Bit
Oriented Protocol.
 Character Oriented Protocol meliputi Binary Synchronous Protocl (BSC)
 Salah satu contoh Bit Oriented Protocol adalah HDLC dan LAPs.
DAFTAR PUSTAKA

Forouzan, Behrouz A. Data Communications and Networking 2nd edition.Singapure :


Mcgraw-Hill Companies, Inc. 2000
Stallings, William. Komunikasi Data dan Kompute. Jakarta : Salemba Teknika.2001

Wattimena, Jeffri. Pengantar Sistem Komunikasi Data Paket. Jakarta : Elex Media
Komputindo. 1991
http://id.wikipedia.org/wiki/Kode_ASCII

onno.vlsm.org/v01/OnnoWPurbo/OnnoWPurbo/network/buku-jaringan-komputer-
data-link-network-dan-issue-12-2000.doc
http://id.wikipedia.org/wiki/CRC