Anda di halaman 1dari 5

TRIKOMONIASIS VAGINALIS Definisi Trikomoniasis adalah salah satu tipe dari Vaginitis terutama sebagai Penyakit Menular Sexual

(PMS). Juga pernah dilaporkan bahwa penyakit ini dapat pula ditularkan melalui transmisi lain, misalnya melalui pakaian kotor. Organisme penyebab Trikomoniasis adalah Trichomonas Vaginalis, yaitu suatu parasit protozoa. 4 Epidemiologi12 Terjadi diseluruh dunia, mengenai sekitar 180 juta/tahun, 15% pada wanita dan 10% pria dengan seksualitas aktif. Di USA, infeksi ini merupakan salah satu penyebab terbanyak PMS dengan insiden 2-3 juta/tahun. Etiologi12 Trichomonas vaginalis merupakan protozoa yang berflagela dengan masa inkubasi sekitar 1 minggu, tapi dapat berkisar antara 4-28 hari. Trikomoniasis merupakan penyakit yang predominan pada PMS sehingga resiko menderita infeksi ini berdasarkan pada tingkat hubungan seksual pasien. Yang termasuk faktor resiko adalah : Jumlah partner dalam hubungan seksual Partner yang beresiko menularkan infeksi Tidak menggunakan alat kontrasepsi Menggunakan kontrasepsi oral Trikomoniasis lebih banyak terjadi pada masa remaja dan dewasa dengan hubungan sex yang aktif pada wanita maupun pria.

Patogenesis Mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan sub epitel . Masa tunas rata- rata 4 hari - 3 minggu . Pada kasus yang lanjut terdapat bagian bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di lapisan sub epitel yang menjalar sampai ke permukaan epitel. Didalam vagina dan uretra parasit hidup di sisa-sisa sel ,kuman-kuman,dan benda- benda lain yang terdapat dalam sekret. 10

Gejala Klinik 4 Tanda-tanda dan gejala-gejala pada wanita: gatal-gatal dan rasa panas pada vagina sekret vagina yang banyak, berbau, dan berbusa (sekret yang berbusa merupakan bentuk klasik dari trikomoniasis sebanyak 12%) disuria dengan pruritus edema vulva perdarahan kecil-kecil pada permukaan serviks (serviks strawberry) dispareunia dan nyeri perdarahan pada waktu post coitus dan nyeri abdomen bagian bawah tetapi, lebih dari 50% asimptomatik

Jika tidak diobati, gejala-gejala dapat mereda tetapi infeksi akan menetap secara subklinis, dan mungkin akan menyebabkan hasil sediaan apus Papanicolau abnormal. Laboratorium 11 Dasar pemeriksaan adalah menyingkirkan kemungkinan lain. pH vagina.

Menentukan pH vagina dengan mengambil apusan yang berisi sekret vagina pada kertas pH dengan range 3,5 5,5. pH yang lebih dari 4,5 dapat disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dan bacterial vaginosis. Apusan basah/Wet mount

Apusan basah dapat digunakan untuk identifikasi dari flagel, pergerakan dan bentuk teardrop dari protozoa dan untuk identifikasi sel. Tingkat sensitivitasnya 4060 %, tingkat spesifiknya mendekati 100% jika dilakukan dengan segera. Pap Smear Tingkat sensitivitasnya 40 60 %. Spesifikasinya mendekati 9599%. Test Whiff

Tes ini digunakan untuk menunjukkan adanya amina-amina dengan menambahkan Potassium hidroksid ke sampel yang diambil dari vagina dan untuk mengetahui bau yang tidak sedap. Kultur

Dari penelitian Walner Hanssen dkk, dari insiden Trikomoniasis dapat deteksi dengan kultur dan tidak dapat dideteksi dengan Pap Smear atau apusan basah. Kebanyakan dokter tidak mengadakan kultur dari sekresi vagina secara rutin. Direct Imunfluorescence assay

Cara ini lebih sensitive daripada apusan basah, tapi kurang sensitive dibanding kultur. Cara ini dilakukan untuk mendiagnosa secara cepat tapi memerlukan ahli yang terlatih dan mikroskop fluoresesensi. Polimerase Chain Reaction Cara ini telah dibuktikan merupakan cara yang cepat mendeteksi Trichomonas vaginalis.3

Diagnosis Diagnosis tidak dapat ditegakkan bila hanya berdasarkan gambaran klinis semata, karena Trichomonas vaginalis dalam saluran urogenital tidak selalu menimbalkan gejala atau keluhan. Untuk mendiagnosis Trichomoniasis dapat dipakai beberapa cara misalnya sediaan basah,sediaan hapus serta pembiakan. Sediaan basah dicampur dengan garam faal dan dapat dilihat pergerakan aktif parasit. Pembiakan dapat digunakan bermacam macam pembenihan yang mengandung serum.4

Pengobatan Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik. Secara topikal dapat berupa : 1. Bahan cairan berupa irigasi,misalnya Hidrogen peroksida 1- 2 % dan larutan asam laktat 4% 2. Bahan berupa supositoria,bubuk yang bersifat trikomonoasidal 3. Jel dan krim yang berisi zat trikomonoasidal Secara sistemik ( oral) : Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti : Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg / hari selama 7 hari Nimorazol : dosis tunggal 2 gram Tinidazol : dosis tunggal 2 gram Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram

Pengobatan Trichomoniasis dalam kehamilan perlu dilakukan. Mengingat bahwa infeksi pada bayi dapat mengakibatkan secret vagina yang berlebihan, piuria dan irritability. Metronidazol kontra indikasi dalam kehamilan trimester I, sedangkan obat yang lain tidak ada yang manjur, oleh karena itu metronidazol diberikan pada trimester II atau ke III dengan dosis tunggal sebanyak 2 gram. Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita : 1. Pemeriksaan dan pengobatan kepada pasangan seksual untuk mencegah jangan terjadi infeksi pingpong 2. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan sebelum dinyatakan sembuh 3. Hindari pemakaian barang barang yang mudah menimbulkan transmisi. 4,10

Diagnosis Banding Rasa terbakar oleh zat kimia Candidiasis Cervicitis Infeksi Chlamydia Enterobiasis Gonorrhea Herves simplek Infeksi HIV Syphilis Infeksi traktus urinary 12

Komplikasi Infeksi pelvis Pada kehamilan : - lahir premature - bayi berat lahir rendah - selulitis posthysterectomy 12

Prognosis Metronidazol menunjukkan angka kesembuhan 95 % . Angka kesembuhan meningkat bila kontak seksual memakai pengaman.12

DAFTAR PUSTAKA

10. Price, SA dan Wilson, LM. Infeksi Trichomonas dalam PATOFISIOLOGI : KONSEP KLINIS PROSES-PROSES PENYAKIT, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995, hal. 1168. 11. Wilson R, MD. eMedicine Jurnal, Volume 2, Number 7, July 11 2001. 12. Wisnuwardhani, SD. Penyakit Kelamin dalam ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, Edisi Ketiga, FK-UI, Jakarta, 1999, hal. 358-9.