Anda di halaman 1dari 33

MATA KULIAH

EKOLOGI PANGAN DAN GIZI


KODE : KMW10109 SKS : 2 JADWAL : MINGGU 09.00 10.40 Tahun 2012 DOSEN : EDWARD SALEH RINDIT PAMBAYUN EDWAN EFFENDI

Mata ajaran akan membahas tentang pengertian, tujuan dan ruang lingkup :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. ekologi pangan dan gizi, gizi dan kesehatan masyarakat, gizi dan lingkungan biofisik, gizi dan sosial budaya, gizi dan sosial ekonomi, gizi dan pendidikan, gizi dan kependudukan, neraca bahan makanan, dan latihan presentasi data pangan dan gizi

Tujuan cabang Ilmu Mahasiswa diharapkan akan dapat menjelaskan pengertian, tujuan dan ruang lingkup ekologi pangan dan gizi, gizi dengan berbagai aspek, membuat neraca bahan makanan, dan melakukan presentasi data pangan dan gizi

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, kita tidak akan terlepas dari masalah pangan dan gizi. Sebab, pangan ini menjadi salah satu syarat pokok keberlangsungan hidup, di samping udara (oksigen).

Ada empat fungsi pokok dari pangan (makanan) bagi kehidupan manusia. (1) Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/ perkembangan serta mengganti jaringan tubuh yang rusak. (2) Memperoleh energi guna melakukan kegiatan sehari-hari. (3) Mengatur metabolisme dan berbagai keseimbangan air, mineral dan cairan tubuh lainnya. (4) Berperan di dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit.

Keadaan, objek atau kondisi disekelilinginya

Terkait dengan pangan dan gizi ini, ada beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi dari status pangan dan gizi suatu masyarakat, yaitu: Pertama, lingkungan fisik dan biologi. Kondisi fisik dan biologi dapat mempengaruhi terhadap status pangan dan gizi suatu daerah. Contoh lingkungan fisik ini meliputi: kondisi tanah, sistem cocok tanam, kondisi tanaman dan ternak, serta kesehatan lingkungannya. Sementara itu, yang termasuk lingkungan biologi, misalnya adanya rekayasa genetika terhadap tanaman dan produk pangan. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap kondisi pangan dan gizi.

Kedua, tingkat pendidikan dan kesehatan. Faktor pendidikan dan kesehatan ini memberikan andil dalam pola pikir dan perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi dan menyediakan bahan pangan untuk kehidupan manusia sehari-hari.

Ketiga, lingkungan politik. Kondisi politik yang tidak menentu (kacau) di suatu daerah atau negara sangat menentukan terhadap ketersediaan pangan dan kualitas gizi pangan yang dihasilkan di suatu daerah/negara. Hal ini disebabkan masyarakat tidak bebas dalam melakukan produksi pangan dan memperhatikan nilai gizinya.

Keempat, lingkungan ekonomi. Artinya kondisi ekonomi seseorang sangat menentukan dalam penyediaan pangan dan kualitas gizi makanan yang dikonsumsinya. Kondisi ekonomi ini, bisa meliputi tentang tingkat penghasilan, pekerjaan, pengeluaran, dan jumlah tanggungan dalam keluarga, dll.

Kelima, lingkungan budaya. Budaya suatu daerah sangat menentukan terhadap produksi pangan dan cara pengolahan makanannya. Tiap daerah itu memiliki kekhasan dalam budidaya pangan, sehingga kondisi budaya daerah ini akan mempengaruhi masalah pangan dan gizi di daerah tersebut.

Keenam, lingkungan sosial. Kondisi lingkungan sosial ini berkaitan dengan kondisi ekonomi di suatu daerah. Artinya lingkungan sosial yang terdiri dari proporsi penduduk, keadaan lingkungan tempat tinggal, dan perilaku sosial ini, tentu sangat menentukan pola konsumsi pangan dan gizi yang dilakukan anggota masyarakatnya. Misalnya antara daerah perkotaan dan pedesaan, daerah perumahan dan daerah kumuh, tentu pola konsumsi pangan dan gizinya akan berbeda-beda.

Malnutrisi ini merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya masyarakatnya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti: iklim, tanah, irigasi dll. Sehingga pengukuran faktor ekologi ini penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di masyarakat sebagai dasar melakukan program intervensi gizi.

HASIL Manusia sejahtera Jika mampu mengoptimalkan kegunaan sumberdaya alam

Perencanaan Pangan dan Gizi

Manajemen Lingkungan

PENDAHULUAN

Pangan merupakan kebutuhan yang esensial bagi manusia. Tanpa pangan orang tak dapat hidup. Pangan diperlukan untuk menyusun tubuh, sebagai sumber energi dan zat tertentu untuk mengatur proses metabolisme. Tetapi berbeda dengan mahluk hidup yang lain, yang membutuhkan pangan untuk kelangsungan hidup hayati, bagi manusia pangan juga mempunyai nilai untuk kehidupan manusiawi.

Pangan telah menjadi unsur kebudayaan. Tidak hanya nilai gizinya saja yang penting, melainkan pangan harus pula disajikan dalam rasa, warna dan bentuk yang sesuai. Kecuali manusia, tidak ada mahluk lain yang memasak makanannya. Ada memang makanan yang dimakan mentah, misalnya sayuran sebagai lalap.

Pada beberapa bangsa ada pula yang memakan daging, ikan atau kerang mentah. Tetapi makannya juga dengan mengaturnya dengan baik di atas piring, jadi unsur kebudayaan tetap ada. Orang jepang mengatakan, makan tidak cukup untuk memenuhi selera lidah, melainkan juga untuk mata.

Sejak kapan orang mulai belajar memasak makanannya tidaklah diketahui. Demikian pula tidak diketahui bagaimana orang belajar memasak. Mungkin terjadi secara kebetulan. Barangkali menemukan hewan dan biji yang terbakar api yang digunakan untuk berburu atau berladang. Dirasakannya biji dan hewan yang terbakar itu lebih empuk dan lebih enak. Setelah itu dengan sengaja makanan dimasak.

Kebudayaan memasak telah sangat maju. Semua bangsa dan suku bangsa mempunyai masakannya yang khas. Di negara kita, kita kenal, misalnya, masakan Minang, Sunda, Bali dan Jawa. Masakan Jepang, Cina, Prancis dan Mesir berbeda-beda, baik dalam bumbu, cara memasak dan menyajikannya. Walaupun bahannya sama, misalnya daging kambing, rasa dan bentuk penyajiannya tidak sama.

Dengan perkembangan kebudayaannya, manusia benar-benar menjadi omnivor, yaitu memakan segala jenis makanan. Kalau dipikirkan, sungguh mengherankan apa yang dimakan manusia. Sirip ikan hiu dan sarang burung, misalnya. Padahal sarang burung terdapat di tempat yang sangat sulit untuk dicapai dan sangat berbahaya untuk mengambilnya. Kepiting yang telah membuat perisai tubuh yang sangat kuat juga tidak luput untuk dijadikan makanan manusia. Makanan yang beracun dapat juga dimakan, setelah dihilangkan racunnya. Misalnya gadung (Dioscorea hispida) dan keluwak (Pangium edule).

Kebudayaan juga memberikan nilai sosial pada makanan Ada makanan yang dianggap mempunyai nilai sosial yang tinggi dan ada pula nilai sosial yang rendah. Antara nilai sosial dan nilai gizi tidak selalu terdapat kesamaan. Misalnya, dari segi nilai sosial, beras giling yang putih dianggap, lebih tinggi mutunya daripada beras tumbuk yang kecoklat-coklatan. Beras giling putih telah kehilangan selaput yang mengandung vitamin B1-nya. Karena itu orang yang memakan beras giling putih yang tidak mendapatkan vitamin B1 dari sumber lain akan menderita penyakit beri-beri.

Ekonomi juga mempunyai peranan penting dalam makanan orang Orang yang miskin umumnya memakan jumlah kalori dan protein yang lebih rendah daripada yang mampu. Tetapi orang yang kaya sering terlalu mementingkan simbol status makanan, sehingga apa yang dimakan tidak selalu mempunyai nilai gizi yang baik. Orang kaya juga cenderung untuk makan lebih banyak daripada yang diperlukan. Akibatnya mereka sering menjadi terlalu gemuk.

Dengan adanya faktor sosial budaya dan ekonomi ekologi pangan pada manusia lebih kompleks daripada hewan. Ilmu tentang ekologi pangan pada manusia belum banyak berkembang