Anda di halaman 1dari 19

LEMBAR PENGESAHAN REFERAT

Judul Referat PENDEKATAN DIAGNOSIS BATUK Disusun Oleh : Nabita Aulia 110.2009.197 FK UNIVERSITAS YARSI

Telah disetujui dan dipresentasikan Pada tanggal : 21 Mei 2013

Pembimbing,

Dr. Frengky Supriatna, Sp.PD

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam saya panjatkan kehadiran Tuhan yang maha pemurah karna berkat kemurahanNya referat yang berjudul pendekatan diagnosis batuk ini dapat saya selesaikan sesuai yang di harapkan. Saya ucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan masukan dan bantuan dalam penyusunan ini. Terimakasih kepada para dokter yang banyak membantu selama kepaniteraan di bagian Ilmu Penyakit Dalam, terutama kepada Dr. Frenky Supriatna,Sp.PD sebagai pembimbing dalam penyajian kasus ini. Dalam menyusun referat ini saya masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar dapat memberikan karya yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Harapan saya, semoga penyajian kasus ini dapat berguna bagi saya khususnya sebagai penyusun, bagi teman sejawat, dan bagi siapapun yang membacanya.

Subang, 23 Mei 2013

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan.................................................................................................. i Kata Pengantar.......................................................................................................... ii Daftar Isi................................................................................................................... iii Bab I Pendahuluan.................................................................................................. 1 Bab II Pembahasan.................................................................................................. 2 Bab III Kesimpulan .................................................................................................. 14 Daftar Pustaka........................................................................................................... 1

iii

BAB I PENDAHULUAN

Batuk merupakan upaya pertahanan paru terhadap berbagai rangsangan yang ada.Batuk merupakan refleks fisiologis kompleks yang melindungi paru dari trauma mekanik,kimia dan suhu. Batuk juga merupakan mekanisme pertahanan paru yang alamiah untuk menjaga agar jalan nafas tetap bersih dan terbuka dengan jalan mencegah masuknya benda asing ke saluran nafas dan mengeluarkan benda asing atau sekret yang abnormal dari dalam saluran nafas. Batuk menjadi tidak fisiologis bila dirasakan sebagai gangguan. Batuk semacam itu sering kali merupakan tanda suatu penyakit di dalam atau diluar paru dan kadang-kadang merupakan gejala dini suatu penyakit. Batuk mungkin sangat berarti pada penularan penyakit melalui udara (air borne infection).(6)

Rangsangan penyebab batuk dapat berasal dari lingkungan maupun penyakit. Jika penyebabnya dari lingkungan, maka batuk yang terjadi adalah batuk berbentuk refleks mekanisme pertahanan tubuh, misalnya tersedak makanan/cairan, iritasi asap rokok atau kendaraan bermotor, suhu dingin atau panas. Penyebab lainnya adalah karena penyakit, baik yang berasal dari paru maupun luar paru. Penyakit paru yang menyebabkan batuk adalah infeksi (bronkhitis, pneumonia, tuberkulosis dan sebagainya) , alergi (asma, reaksi alergik sistemik) dan tumor. Sedangkan penyakit di luar paru penyebabnya adalah kelainan lambung seperti refluks gastroesophageal, kelainan jantung, pemakaian obat-obatan jantung, kelainan telinga dan gangguan emosi.(4)

BAB II PEMBAHASAN

Definisi(4) Batuk adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran napas. Batuk juga membantu melindungi paru dari aspirasi yaitu masuknya benda asing dari saluran cerna atau saluran napas bagian atas. Yang dimaksud dengan saluran napas mulai dari tenggorokan, trakhea, bronkhus, bronkhioli sampai ke jaringan paru. Batuk merupakan refleks fisiologis kompleks yang melindungi paru dari trauma

mekanik, dan suhu. Batuk juga merupakan mekanisme pertahanan paru yang alamiah untuk menjaga agar jalan nafas tetap bersih danterbuka dengan jalan mencegah masuknya benda asing ke saluran nafas dan mengeluarkan benda asing atau sekret yang abnormal dari dalam saluran nafas. Batuk menjadi tidak fisiologis bila dirasakan sebagai gangguan. Batuk semacam itu sering kali merupakan tanda suatu penyakit di dalam atau diluar paru dan kadang-kadang merupakan gejala dini suatu penyakit. Penularan penyakit batuk melalui udara (air borne infection). Penyebabnya beragam dan pengenalan patofisiologi batuk akan sangat membantu dalam menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan batuk. Batuk adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran napas. Batuk juga membantu melindungi paru dari aspirasi yaitu masuknya benda asing dari saluran cerna atau saluran napas bagian atas. Yang dimaksud dengan saluran nafas mula dari tenggorokan thrakea, bronkhus, bronkhioli sampai ke jaringan paru. Batuk merupakan gejala klinis dari gangguan pada saluran pernapasan.Batuk bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan manifestasi dari penyakit yang menyerang saluran pernafasan penyakit yang bisa menyebabkan batuk sangat banyak sekali mulai dari infeksi, alergi, inflamasi bahkan keganasan. Batuk adalah suatu refleks fisiologi yang bermanfaat untuk mengeluarkan dan membersihkan saluran pernapasan dari dahak, debu, zat-zat perangsang asing yang dihirup, partikel-partikel asing yang dihirup dan unsur-unsur infeksi.

Faktor Penyebab Batuk(1) Reflek batuk dapat ditimbulkan oleh : Rangsangan mekanis, misalnya asap rokok, debu, tumor Adanya perubahan suhu mendadak Rangsangan kimiawi, misalnya gas dan bau-bauan Adanya peradangan / infeksi Reaksi alergi batuk yang

Disamping infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) seperti influenza, penyebab paling sering adalah: Alergi dan asthma Infeksi paru-paru seperti pneumonia atau bronkitis akut. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau bronkitis kronik, emfisema Sinusitis yang menyebabkan postnasal drip. Penyakit paru seperti bronkiektasis, tumor paru.

Gastroesophageal reflux disease (GERD) ini artinya cairan lambung balik ke tenggorokan, orangnya suka bertahak asam atau pahit.

Merokok Terpapar asap rokok (perokok pasif), polutan udara Obat darah tinggi golongan ACE Inhibitor

Reflek dan Mekanisme Batuk Reflek Batuk(1) Refleks batuk terdiri dari 5 komponen utama yaitu reseptor batuk, serabut saraf aferen, pusat batuk, susunan saraf aferen, dan efektor. Batuk berasal dari suatu rangsang pada reseptor batuk. Reseptor ini berupa serabut saraf non myelin halus yang terletak baik di dalam maupun luar rongga thoraks. Yang terletak di rongga thoraks antara lain terdapat di laring, trakea, bronkus, dan di pleura. Jumlah reseptor akan semakin berkuang pada cabangcabang bronkus yang kecil, dan sejumlah besar reseptor didapat di laring, trakea, karina, dan daerah percabangan bronkus. Reseptor bahkan juga ditemui di saluran telinga, lambung, hilus, sinus paranasalis, perikardial, dan diafragma. Serabut aferen terpenting ada pada cabang nervus vagus yang mengalirkan rangsang dari laring, trakea, bronkus, pleura, lambung dan juga rangsang dari telinga melalui cabang amold n. Vagus. Nervus trigeminus menyalurkan rangsang dari sinus paranasalis. Nervus glossopharyngeus menyalurkan rangsang dari faring dan nervus phrenicus menyalurkan rangsang dari percardium dan diafragma. Oleh serabut aferen rangsang ini dibawa ke pusat batuk yang terletak di medulla, di dekat pusat pernapasan dan pusat muntah. Kemudian dari sini oleh serabut-serabut eferen n. Vagus, n. Phrenicus, n. Interkostal dan lumbar, dan lainlain menuju ke efektor. Di daerah efektor inilah mekanisme batuk kemudian terjadi. Tabel komponen refleks batuk : reseptor aferen hidung/sinus trigeminal faring glossopharyngeus laring trakea vagus bronkus pleura diafragma phrenicus pericardium sentral eferen vagus medulla phrenicus spinal motor nerves efektor laring trakea bronkus diafragma otot-otot dada, perut, dan perineal

Mekanisme Batuk (1,5) Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi empat fase yaitu :

1. Fase iritasi Iritasi dari salah satu saraf sensoris nervus vagus di laring, trakea, bronkus besar, atau serat afferen cabang faring dari nervus glosofaringeus dapat menimbulkan batuk.Batuk juga timbul bila reseptor batuk di lapisan faring dan esofagus, rongga pleuradan saluran telinga luar dirangsang. 2. Fase inspirasi Pada fase inspirasi glotis secara refleks terbuka lebar akibat kontraksi otot abduktor kartilago aritenoidea. Inspirasi terjadi secara dalam dan cepat, sehingga udara dengan cepat dan dalam jumlah banyak masuk ke dalam paru. Hal ini disertai terfiksirnya iga bawah akibat kontraksi otot toraks, perut dan diafragma, sehingga dimensi lateral dada membesar mengakibatkan peningkatan volume paru. Masuknya udara ke dalam paru dengan jumlah banyak memberikan keuntungan yaitu akan memperkuat fase ekspirasi sehingga lebih cepat dan kuat serta memperkecil rongga udara yang tertutupsehingga menghasilkan mekanisme pembersihan yang potensial. Volume udara yangdiinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional.
8

3. Fase kompresi Fase ini dimulai dengan tertutupnya glotis akibat kontraksi otot adduktor kartilagoaritenoidea, glotis tertutup selama 0,2 detik.Pada fase ini tekanan intratoraks meninggi sampai 300 cmH2O agar terjadi batuk yang efektif. Tekanan pleura tetap meninggi selama 0,5 detik setelah glotis terbuka .Batuk dapat terjadi tanpa penutupan glotis karena otot-otot ekspirasi mampu meningkatkan tekanan intratoraks walaupun glotis tetap terbuka. 4. Fase ekspirasi/ekspulsi Pada fase ini glotis terbuka secara tiba-tiba akibat kontraksi aktif otot ekspirasi,sehingga terjadilah pengeluaran udara dalam jumlah besar dengan kecepatan yang tinggi disertai dengan pengeluaran benda-benda asing dan bahan-bahan lain. Gerakan glotis, otot-otot pernafasan dan cabang-cabang bronkus merupakan hal yang penting dalam fase mekanisme batuk dan disinilah terjadi fase batuk yang sebenarnya. Suara batuk sangat bervariasi akibat getaran sekret yang ada dalam saluran nafas atau getaran pita suara.

Jenis-Jenis Batuk Batuk berdasarkan waktu(2,3) Batuk akut (kurang dari 3 minggu) : ISPA (terutama common cold, sinusitis bakterialis akut, dan pertussis) Pneumonia Emboli paru Gagal jantung kongestif Eksaserbasi dari COPD Eksaserbasi dari bronkiektasis Aspiration syndromes Allergic rhinitis Environmental irritant rhinitis

Batuk subakut (antara 3 sampai 8 minggu) : Gejala post-infeksi Peradangan saluran napas yang persisten Post nasal drip (akibat infeksi virus, pertussis, atau infeksi Mycoplasma atau Chlamydia spp) Batuk kronik (lebih dari 8 minggu) : Asma bronchiale GER
10

Eosinophilic bronchitis Bronkitis kronis Bronkiektasis ACE Inhibitors Sarcoidosis Chronic interstitial pneumonia Bronchogenic carcinoma

Berdasarkan sebabnya(4) 1. Batuk berdahak Batuk berdahak, jumlah dahak yang dihasilkan sangat banyak, sehingga menyumbat saluran pernafasan. Sputum normalnya orang dewasa menghasilkan mukus sekitar 100 ml dalam saluran nafas setiap hari. Mukus ini diangkut menuju faring dengan gerakan pemebrsihan normal silia yang melapisi saluran pernapasan. Kalau terbentuk mukus yang berlebihan, proses normal pembersihan mungkin tidak efektif lagi, sehingga akhirnya mukus tertimbun. Bila hal ini terjadi, membran mukosa akan terangsang, dan mukus dibatukan keluar sebagai sputum. warna sputum pentng, jika berwarna kuning maka terinfeksi, jika hijau ada penimbunan nanah ( warna hijau disebabkan oleh verdoperoksidase yang dihasilkan oleh leukosit polimorfonuklear dalam sputum), sputum yang berwarna merah muda dan berbusa merupakan tanda edema paru akut. Sputum yang berlendir lekat dan berwarna abuabu atau putih merupakan tanda bronkitis kronik. sedangkan sputum berbau busuk tanda abses paru atau bronkiektasis. 2. Batuk darah

11

Batuk darah atau hemoptisis adalah ekspektorasi darah akibat perdarahan pada saluran napas di bawah laring, atau perdarahan yang keluar melalui saluran napas bawah laring. Batuk darah masif dapat diklasifikasikan berdasarkan volume darah yang dikeluarkan pada periode tertentu. Batuk darah masif memerlukan penanganan segera karena dapat mengganggu pertukaran gas di paru dan dapat mengganggu kestabilan hemodinamik penderita sehingga bila tidak ditangani dengan baik dapat mengancam jiwa. Mekanisma terjadinya batuk darah adalah sebagai berikut :
a. Radang mukosa Pada trakeobronkitis akut atau kronis mukosa yang kaya pembuluh

darah menjadi rapuh,sehingga trauma yang ringan sekalipun sudah cukup untuk menimbulkan batuk darah
b. Infark paru

Biasanya disebabkan oleh emboli paru atau invasi mikroorganisme pada pembuluh darah,seperti infeksi coccus, virus, dan infeksi oleh jamur
c. Pecahnya pembuluh darah vena atau kapiler

Distensi pembuluh darah akibat kenaikan tekanan darah intraluminar seperti padadekompensasi cordis kiri akut dan mitral stenosis
d. Kelainan membranalveolokapiler

akibat adanya reaksi antibody terhadap membrane,seperti pada goodpasture syndrom


e. Perdarahan kavitas tuberkulosa

Pecahnya pembuluh darah dinding kavitas tuberkulosis yang dikenal dengan aneurisma Rasmussen; pemekaran pembuluh darah ini berasal dari cabang pembuluh darah bronkial. Perdarahan pada bronkiektasis disebabkan pemekaran pembuluh darah cabang bronkial.Diduga hal ini terjadi disebabkan adanya anastomosis pembuluh darah bronkial dan pulmonal. Pecahnya pembuluh darah pulmonal dapat menimbulkan hemoptisis massif. f. Invasi tumor ganas Akibat benturan dinding dada, maka jaringan paru akan mengalami transudasi ke dalam alveoli dan keadaan ini akan memacu terjadinya batuk darah.

g. Cedera dada

12

3. Batuk kering Batuk ini tidak mengeluarkan dahak. Tenggorokan terasa gatal, sehingga merangsang timbulnya batuk. Batuk ini mengganggu kenyamanan, bila batuknya terlalu keras akan dapat memecahkan pembuluh darah pada mata. 4. Batuk yang khas Batuk rejan, batuknya bisa berlangsung 100 hari. Bisa menyebabkan pita suara radang dan suara parau. Batuk penyakit TBC, berlangsung berbulan-bulan, kecil-kecil,timbul sekali-sekali, ka dang seperti hanya berdehem. Pada TBC batuk bisa disertai bercak darah segar. Batuk karena asma, sehabis serangan asma lendir banyak dihasilkan.Lendir inilah yang merangsang timbulnya batuk. Batuk karena penyakit jantung lemah, darah yang terbendung di paru-paru, menjadikan paru-paru menjadi basah. Kondisi basah pada paru-paru ini yang merangsang timbulnya batuk. Batuk karena kanker paru-paru yang menahun tidak sembuh.Batuknya Bila kerusakan paru-paru semakin luas, batuk semakin tambah Batuk karena kemasukan benda asing, pada saat saluran pernafasan berusaha mengeluarkan benda asing maka akan menimbulkan batuk. tidak tentu.

Penatalaksanaan terhadap Batuk(6) Penatalaksanaan batuk yang paling baik yang paling baik adalah pemberian obat spesifik terhadap etiologinya. Tiga bentuk penatalaksanaan batuk adalah :

1. Tanpa pemberian obat Batuk yang tanpa gejala akut dapat sembuh sendiri dan biasanya tidak perlu obat. Untuk mengurangi batuk biasanya dengan cara:

13

Sering minum air putih, untuk membantu mengencerkan dahak, mengurangi iritasi atau rasa gatal. Hindari paparan debu, minuman atau makanan yang merangsang tenggorokan, dan udara malam yang dingin Menghirup uap air panas, uap mentol Permen obat batuk atau permen pedas dapat menolong pada batuk yang kering dan menggelitik

2. Pengobatan spesifik Pengobatan ini diberikan terhadap penyebab timbulnya batuk. Apabila penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan terhadap penyebab tersebut. Dengan evaluasi diagnosis yang terpadu, pada hampir semua penderita dapat diketahui penyebab batuk kroniknya. Pengobatan spesifik batuk tergantung dari etiologi atau mekanismenya.

3. Pengobatan simtomatik Diberikan baik kepada penderita yang tidak dapat ditentukan penyebab batuknya maupun kepada penderita yang batuknya merupakan gangguan, tidak berfungsi baik dan potensial dapat menimbulkan komplikasi.

Obat batuk biasa disebut dengan antitusif. Obat batuk tersebut berdasarkan sasarannya terbagi menjadi 2 yaitu: 1. Obat batuk sentral Obat batuk sentral bertujuan untuk menekan rangsangan batuk di pusat batuk (medulla). Terbagi menjadi zat adiktif (kodein) dan non adiktif (noskapin, dektrometorfan, prometazin)

14

2. Obat batuk perifer Obat batuk ini bekerja di luar dari system saraf pusat. Perifer terbagi dalam beberapa kelompok yaitu ekspetoransia (ammonium klorida, guaiokol, ipeca dan minyak terbang), mukolitika (asetilkarbositein, mesna, bromheksin, dan ambroksol), dan zatzat pereda (oksolamin dan hiperpidin).

Obat batuk biasanya mengandung zat antihistamin, yang bekerja sebagai anti alergi. Zat-zat antihistamin inilah yang menyebabkan timbulnya efek kantuk. Obat batuk tanpa efek kantuk biasanya tidak mengandung zat antihistamin sama sekali, atau menggunakan zat antihistamin golongan baru yang tidak memiliki efek mengantuk. Antihistamin dengan efek samping kantuk yang biasa terdapat dalam formula obat batuk adalah Chlorfeniramine maleat atau CTM dan difenhidramin.

Jenis obat batuk berdasarkan jenis batuknya dapat dibagi dalam dua golongan obat : 1. Ekspetoran Obat batuk ini ditujukan untuk jenis batuk berdahak, karena dapat mempertinggi sekresi saluran pernapasan atau mencairkan dahak. Kandungan obat batuk yang mungkin ada dalam jenis expectorantia ini adalah zat yang bersifat mencairkan dahak sehingga mudah dikeluarkan, misalnya guaiafenesin atau gliserin guaiacolat (GG), ammonium klorida (NH 4 Cl), dan kalium yodida (KI). Obat batuk jenis ini seringkali dicampur dengan ramuan tumbuh-tumbuhan seperti jahe dan mint sehingga memberikan rasa hangat pada tenggorokan. 2. Non-ekspektoran Obat batuk ini ditujukan untuk jenis batuk kering. Ada dua golongan zat aktif yang biasa digunakan, yaitu : Golongan Alkaloid Morfin, seperti kodein, dionin, dan lain-lain. Obat ini bersifat narkotis dan menimbulkan ketagihan, karenanya hanya dapat dibeli dengan resep dokter.

15

Golongan Non-Morfin, di mana jenis zat aktif ini tidak menimbulkan ketagihan seperti dextromethorphan (DMP). Untuk batuk yang yang disebabkan oleh infeksi/peradangan, diperlukan obat-obat antibiotik yang harus melalui pemeriksaan yang seksama oleh dokter.

16

BAB III KESIMPULAN 1. Batuk adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran napas. Batuk juga membantu melindungi paru dari aspirasi yaitu masuknya benda asing dari saluran cerna atau saluran napas bagian atas. Yang dimaksud dengan saluran napas mulai dari tenggorokan, trakhea, bronkhus, bronkhioli sampai ke jaringan paru. 2. Faktor-faktor yang menyebabkan reflek batuk yaitu rangsangan mekanis, misalnya asap rokok dan debu, adanya perubahan suhu mendadak, rangsangan kimiawi misalnya gas dan bau-bauan, adanya peradangan / infeksi, reaksi alergi, penyakit misalnya tumor. 3. Reflek batuk terdiri dari reseptor batuk, serabut saraf afferent, pusat batuk, serabut saraf efferent, efektor. Reflek batuk selanjutnya akan menyababkan mekanisme batuk. 4. Mekanisme batuk terdiri dari fase iritasi, fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi atau ekspulsi. 5. Secara umum batuk terbagi menjadi batuk berdahak, batuk kering dan batuk yang khas (TBC, Batuk karena asma, batuk karena kanker paru-paru). Sedangkan menurut waktunya dibagi menjadi batuk akut (berlangsung sebentar), batuk sub-akut dan batuk kronis (terjadi dalam periode yang lama). 6. Penatalaksanaan batuk adalah dengan antitusif yang terbagi menjadi ekspetoran dan non ekspetoran.

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Aditama TY. Patofisiologi Batuk. Jakarta : Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 1993.
2. Fauci AS, Braunwald E, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J,

et al. Harrison's Principles of Internal Medicine, 17th ed. New York: McGraw-Hill Medical; 2008.
3. Goldman L, Schafer AI, eds. Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Saunders

Elsevier; 2011. 4. Guyton AC, Hall JE. 2008. Buku Ajar Fisiologi kedokteran. 11th ed. Jakarta: ECG. 5. Haddad GG, Abman SH, Chernick V, editors. Chernick-Mellins Basic Mechanism of Pediatric Respiratory Disease, 2nd ed. Hamilton, Ont : B C Decker; 2002. 6. Yunus, F. 2007. Kenali Batuk dan Obat Batuk Anda

18

REFERAT

PENDEKATAN DIAGNOSIS BATUK

PENYUSUN Nabita Aulia 1102009197

PEMBIMBING DR.FRENGKY SUPRIATNA, Sp.PD

KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI JAKARTA RSUD CIERENG KABUPATEN SUBANG 2013

19