Anda di halaman 1dari 19

Pengaruh Hormon Progesteron dan Esterogen terhadap Siklus Menstruasi

Antonius Jonathan* NIM 102011182 Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA, Jakarta Pendahuluan Haid atau yang sering disebut juga mensturasi merupakan siklus yang di alami oleh setiap wanita yang sudah mengalami masa pubertas. Pada dasarnya menstruasi merupakan proses katabolisme dan terjadi dibawah pengaruh hormon hipofisis dan ovarium. Menstruasi pertama, disebut menarke, biasanya terjadi pada usia 8-13 tahun. Berakhirnya menstruasi, menopause, normalnya terjadi pada usia 49-50 tahun. Interval antar periode menstruasi bervariasi sesuai usia, keadaan fisik dan emosi, serta lingkungan. Siklus menstruasi normal umumnya tetap setiap 28 hari tetapi interval 24-32 hari masih dianggap normal kecuali siklusnya sangat tidak teratur. Saat mencapai maturitas, kira-kira dua per tiga wanita mempertahankan periodisitas yang kurang lebih teratur, kecuali saat hamil, stress atau sakit.1 Berdasarkan pada skenario yang menceritakan tentang seorang mahasiswi berusia 19 tahun merasa risau karena dalam 6 bulan terakhir haidnya tidak teratur, kadang-kadang dalam 1 bulan ia tidak mendapat haid, tetapi bulan berikutnya bisa 2 kali mendapat haid. Dalam keberlangsungannya terdapat dua jenis hormon ovarium yaitu esterogen dan progesteron. Fluktuasi kadar esterogen dan progesteron selama siklus ovarium menimbulkan perubahan mencolok di uterus, menghasilkan siklus haid atau siklus ovarium. Kemampuan reproduksi bergantung pada hubungan rumit antara hipotalamus, hipofisis anterior, organ reproduksi, dan sel sasaran hormon seks. Hubungan ini menggunakan banyak mekanisme regulatorik yang digunakan oleh sistem tubuh lain untuk mempertahankan homeostasis, misalnya mengontrol umpan balik negatif. Oleh karena itulah, dalam hal ini akan dibahas lebih lanjut lagi mengenai hal yang terjadi tersebut. Sehingga dapat dipahami lebih dalam lagi mengenai masalah tersebut.

Alamat Korespondensi: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510 Telephone: (021) 5694-2061 (hunting), Fax: (021) 563-1731 Email: antoniussjoo@yahoo.com

Pembahasan Makroskopik dan Mikroskopik OVARIUM Ovarium adalah sepasang organ berbentuk oval, sedikit pipih, yang tampak putih seperti mutiara berbercak dengan banyak ketidakteraturan pada permukaannya, dengan ukuran panjang 3 sampai 5 cm, lebar 2 sampai 3 cm, dan tebal 1 cm. Berbentuk seperti kacang kenari, masingmasing ovarium terletak pada dinding samping rongga pelvis posterior dalam sebuah ceruk dangkal, yaitu fossa ovarian, dan ditahan dalam posisi tersebut oleh mesenterium pelvis yang merupakan lipatan peritoneum antara peritoneum visceral dan peritoneum parietal. Ovarium adalah satu-satunya organ dalam rongga pelvis yang retroperitoneal. Ovarium ini terletak di bawah tepi pelvis dan ditopang oleh ligamentum ovarii dan ligamentum infundibulopelvis. Di bagian atas, ovarium dibatasi oleh pembuluh darah illiaca eksterna, di bagian bawah oleh saraf dan pembuluh darah obturator, di bagian posterior oleh ureter serta arteri dan vena uterina, dan di anterior oleh pelekatan ligamentum latum dengan pelvis. Tuba uterina terletak di atas permukaan medial ovarium.1,2 Persarafan ovarium berasal dari rantai simpatis lumbosakral dan menuju ovarium bersama dengan arteri ovarika. Arteri ovarika merupakan suplai darah utama ovarium. Namun demikian, darah juga dialirkan dari anastomoosis cabang ovarium aretri uterina. Cena berjalan mengikuti arteri membentuk plexus pampiniformis di dalam mesovarium. Darah dari vena ovarika kanan mengalir ke vena kava, sedangkan dari vena ovarika kiri biasanya masuk le vena renalis kiri. Limfe mengalir retroperitoneal ke nodus lumbalis aorta.1 Secara mikroskopik, ovarium dilapisi oleh epitel kolumner rendah atau kuboid dan terbagi menjadi medula dan korteks. Epitel kuboid rendah yang asalnya disebut epitel germinal. Sel germinal primordial mempunyai asal di luar gonad. Di bawah epitel germinal terdapat lapisan jaringan penghubung avaskular bewarna pucat, tunika albugenia yang terdiri dari serat kolagen yang tersusun paralel terhadap permukaan organ. Zona luar ovarium, korteks memiliki sifat seluler dan mempunyai komposisi sel seperti fibroblas pada jaringan jala serat kolagen tipis. Zona dalam ovarium yang lebih kecil, medula, bewarna lebih pucat dan terdiri dari jaringan penghubung renggang yang mengandung serat-serat lebih elastik, kadang-kadang sel otot polos, dan sejumlah arteri dan vena yang berkelok-kelok dari cabang kecil beradiasi ke korteks.2,3 Pada korteks, terdapat banyak folikel yang memperlihatkan ukuran dengan rentang luas.

Mayoritas adalah folikel primordial yang terdiri dari oosit sferis besar yang dilapisi oleh lapisan tunggal sel kuboid rendah atau skuamosa. Pada saat lahir, terdapat hanya jenis folikel. Pada bulan dan tahun-tahun berikut, beberapa dari folikel ini mengalami perkembangan lanjutan untuk membentuk folikel primer, dengan oositnya lebih besar dan dikelilingi oleh dua lapisan sel folikular atau lebih. Setelah pubertas, beberapa folikel primer ini memasuki fase pertumbuhan cepat pada setiap siklus menstruasi.3,4

Gambar 1. Mikroskopik ovarium.5 TUBA FALLOPI Kedua tuba uterina berfungsi membawa ovum dari ovarium ke uterus. Keduannya terletak bilateral pada batas atas ligamentum latum yang terbungkus peritoneum yang disebut mesolping. Panjang setiap tuba 7-14 cm dan biasanya terletak horizontal dekat uterus. Mendekati kutub ovarium bagian bawah, tuba uterina berjalan mengelilingi ovarium dan akhirnya berhubungan dengan permukaan media posterior ovarium. Setiap tuba terbagi atas ismus, ampula, dan infundibulum. Segmen paling medial adalah ismus, yang berdiameter sempeti, dan mengakhiri perjalanan uterus intramuralnya dengan sebuah ostium berukuran kira-kira 1 mm. Bagian lebih distal dari ismus adalah ampula yang lebih berliku-liku dan lebih lebar. Bagian distal, ampula berakhir pada infundibulum berbentuk corong yang mempunyai serangkaian tonjolan tersebar berbentuk jari-jari tangan sebagai batas paling distal yang disebut fimbria.1,2 Mulut infundibulum yang berbentuk corongm selain fimbria yang dapat menjangkau luas berdiameter kira-kira 3 mm dan bermuara ke dalam rongga peritoneum. Infundibulum disokong longgar oleh ligamentum infundibulopelvis (ligamentum suspensorium ovarii). Dinding tuba tersusun atas komponen serosa, sub-serosa atau adventisial, muskular dan mukosa. Lapisan

muskular tersusun atas lapisan otot polos sirkular di bagian dalam dan otot polos longitudinal di bagian luar. Mukosa dilapisi oleh epitel kolumnar sekretoris bersilia yang tersusun dalam lipatan longitudinal, yang menjadi lebih kompleks pada ampula. Gerkan silianya menuju ke uterus, yang berfungsi untuk memfasilitasi pergerakan zigot nonmotil ke arah rongga uterus untuk berimplantasi. Silia secara konsisten menyapu ke arah uterus. Ketika silia mengalami kerusakan atau tidak mampu bergerak embrio dapat berimplantasi di dalam tuba Fallopii itu sendiri (kehamilan ektopik). Persarafan saluran ovum berasal dari plexus simpatis dan parasimpatis ovarii dan pelvis. Pendarahan tuba berasal dari arteri uterina cabang tuba dan dari cabang ovarium. Drainase vena melalui vena tuba yang menyerupai arteri. Drainase limfe terletak retroperitoneal terhadap nodus aorta lumbalis.1

Gambar 2. Uterus.5 UTERUS Uterus merupakan organ berotot seperti buah pir terbalik dengan ruang sempit di tengahnya, terletak di dalam pelvis minor antara vesica urinaria dan rektum. Ruang tengahnya, yang dilapisi endometrium, berbentuk segitiga dengan dasar di atas dan sangat padat di bagian anteriorposterior. Setiap apeks bagian atas berhubungan dengan saluran ovum dan apeks bagian bawah bersatu dengan kanalis servikalis. Tuba uterina melekat pada uterus, satu pada setiap sisinya, berjarak kira-kira pada dua per tiga jarak ke puncak uterus. Bagian uterus di atas insersi tuba disebut fundus. Di bawah insersi tuba, terdapat korpus uteri yang berkelanjutan dengan segmen supravaginal serviks. Berlawanan dengan serviks, substansi uterus (miometrium) terdiri dari atas 85% otot polos dan hanya sekitar 15% jaringan ikat. Kecuali bagian antero inferior korpus, yang ditempelei vesica urinaria, uterus dilapisi oleh peritoneum.1

Uterus disokong oleh tiga pasang ligamentum. Paling atas adalah ligamentum rotundum, yang berjalan dari fundus uteri, anterior tuba uterina, dan ke kanalis inguinalis interna. Ligamentum kardinale terdapat di lateral setiap sisi dari inferior tuba uterina yang memanjang ke serviks dan melebar ke dinding samping pelvis. Ligamentum uterosakrum membentang dari setiap pelekatan sakrum ke sambungan uteroserviks bagian posterior. Saraf yang menuju ke uterus meliputi plexus hipogastrika superior, pleksus hipogastrika inferior, nevri erigentes, nervus iliaka komunis, dan ganglion hipogastrika. Arteri uterina merupakan sumber darah utama ke uterus dan arteri ovarika hanya mengalir sedikit. Arteri uterina melewati anterior ureter di dekat sambungan uteroserviks. Vena yang mendrainase uterus terutama adalah vena uterina dan yang kedua adalah vena ovarii. Drainase limfe dapat melalui serviks ke rantai iliaka eksternal atau melalui ismus ke nodus sakrum lateral. Drainase limfe dalam ligamentum rotundum dapat meluas ke nodus inguinal superficialis, kemudian femoral dan akhirnya ke rantai iliaka eksternal. Drainase melali ligamentum suspensorium ovarii berlanjut ke nodus lumbal sepanjang aorta, di atas atau di bawah ginjal.1,2

Gambar 3. Potongan sagital uterus.5 Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan, yaitu endometrium, miometrium, dan sebagian lapisan luar peritoneum parietalis. Endometrium yang banyak mengandung pembuluh darah adalah suatu lapisan membrane mukosa yang terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan permukaan padat, lapisan tengah jaringan ikat yang berongga, dan lapisan dalam padat yang menghubungkan endometrium dengan miometrium. Selama menstruasi dan sesudah melahirkan, lapisan permukaan yang padat dan lapisan tengah jaringan ikat yang berongga, dan lapisan dalam padat yang menghubungkan endometrium dengan miometrium. Selama menstruasi dan sesudah

melahirkan, lapisan permukaan yang padat dan lapisan tengah yang berongga tanggal. Segera setelah aliran menstruasi berakhir, tebal endometrium 0,5 mm. Mendekati akhir siklus endometrium, sesaat sebelum menstruasi mulai lagi, tebal endometrium menjadi 5 mm.3,6 Miometrium yang tebal tersusun atas lapisan-lapisan serabut otot polos membentang ke tiga arah (longitudinal, transversa, dan oblik). Miometrium paling tebal di fundus, semakin menipis ke arah istmus, dan paling tipis di serviks.Serabut longitudinal membentuk lapisan luar miometrium yang paling banyak ditemukan di fundus, sehingga lapisan ini cocok untuk mendorong bayi pada persalinan. Pada lapisan miometrium tengah yang tebal, terjadi kontraksi yangmemicu kerja hemostatis. Sedangkan pada lapisan dalam, kerja sfingter untuk mencegah regurgitasi darah menstruasi dari tuba fallopii selama menstruasi. Kerja sfingter di sekitar ostium serviks interna membantu mepertahankan isi uterus selama hamil. Cedera pada sfingter ini dapat memperlemah ostium interna dan menyebabkan ostium interna serviks inkompeten.7

Gambar 4. Tampak dorsal organ reproduksi.5 Siklus Ovarium Siklus menstruasi diperantarai oleh mekanisme neuroendokrin yang kompleks suatu hormon pelepas, gonadotropin-releasing hormon (GnRH), sudah dikenali berperan terhadap pelepasan gonadotropin, follicle stimulating hormon (FSH) dan luteinizing horomone (LH). GnRH dihasilkan di hipotalamus dan dihantarkan ke hipofisis anterior (tempat gonadotropin dihasilkan) melalui sistem vaskular periportal.1 Siklus menstruasi normal diatur secara cermat oleh sekresi gonadotropin dari hipofisis anterior ke sirkulasi sistemik. Dengan onset setiap siklus, folikel yang siap untuk pematangan dirangsang

berkembang oleh FSH. Satu folikel (jarang lebih) melampaui yang lainnya untuk membentuk folikel de graaf, kemudian folikel yang tersisa mengalami regresi. Sementara itu esterogen dihasilkan oleh sel lutein teka pada folikel. Esterogen ovarium yang utama adalah estron, estradiol, dan sejumlah kecil estriol. Pada siklus hari ke-8 dan ke-9, kadar esterogen berhenti meningkat dan LH serta FSH mulai berfluktuasi. Pada sekitar hari ke-14, kenaikan kadar LH yang tinggi dan mendadak memicu pecahnya folikel dan ovulasi. Terjadi sedikit perdarahan, dan folikel yang kosong segera terisi oleh darah yang menggumpal. LH dan mungkin prolaktin merangsang lutenisasi sel granulosa sehingga terbentuk kopus luteum. Sel lutein granulosa menghasilkan progesteron, yang mencapai puncaknya pada kira-kira hari ke-23 atau ke-24. Jika pada saat itu tidak terjadi fertiliasai dan nidasi ovum, korpus luteum mengalami regresi. Kemudian kadar progesteron dan esterogen turun mencapai kadar kritis pada sekitar hari ke-28 ketika terjadi perdarahan endometrium (menstruasi).1 Hormon yang berpengaruh pada siklus ovarium Ovarium memiliki dua unit endokrin yang berkaitan: folikel penghasil estrogen selama paruh pertama siklus, dan korpus luteum yang menghasilkan progesteron dan estrogen selama paruh terakhir siklus. Unit-unit ini secara berurutan dipicu oleh hubungan hormonal siklik kompleks antara hipotalamus, hipofisis anterior, dan kedua unit endokrin ovarium (estrogen dan progesteron). Fungsi gonad pada wanita dikontrol secara langsung oleh hormon-hormon gonadotropik hipofisis anterior, yaitu follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua hormon ini diatur oleh gonadotropin-releasing hormone (GnRH) hipotalamus serta efek umpan balik hormon-hormon gonad. Kontrol gonad wanita diperumit oleh sifat fungsi ovarium yang siklik. Efek FSH dan LH pada ovarium bergantung pada stadium siklus ovarium. Selain itu, estrogen menimbulkan efek umpan balik negatif selama paruh tertentu siklus dan efek umpan balik positif pada paruh siklus lainnya, bergantung pada konsentrasi estrogen. Berbeda dengan pria, FSH tidak hanya semata-mata bertanggung jawab untuk gametogenesis, demikian juga LH pada ovarium tidak hanya menentukan sekresi hormon gonad.4,8 dalam hal ini terdapat tiga jenis fungsi hormonal dalam pengaturan siklus ovarium:4 1. Kontrol folikel Tahap-tahap awal pertumbuhan folikel pra-antrum dan pematangan oosit tidak memerlukan rangsangan gonadotropik namun diperlukan dukungan hormon untuk pembentukan antrum dan perkembangan folikel. Pembentukan antrum diinduksi oleh FSH. FSH dan estrogen merangsang proliferasi sel-sel granulosa. FSH dan LH

diperlukan untuk sintesis dan sekresi estrogen oleh folikel, tetapi kedua hormon ini bekerja pada sel yang berbeda dan pada tahap yang berbeda dalam jalur pembentukan estrogen. Sel granulosa dan sel teka ikut serta dalam memproduksi estrogen. Kolesterol diubah menjadi estrogen dalam beberapa tahap dengan yang terakhir berupa konversi androgen menjadi estrogen. Sel-sel teka cepat menghasilkan endrogen tetapi kurang kemampuannya untuk mengubah androgen menjadi estrogen. Sel granulosa, sebaliknya, mengandung enzim aromatase sehingga dapat dengan mudah mengubah androgen menjadi estrogen tetapi sel granulosa tidak dapat membentuk androgen. LH bekerja pada sel teka untuk merangsang pembentukan androgen, sementara FSH bekerja pada granulosa untuk meningkatkan konversi androgen teka yang berdifusi ke dalam sel granulosa dari sel teka menjadi estrogen. Karena kadar basal FSH yang rendah sudah memadai untuk mendorong konversi akhir menjadi estrogen, maka laju sekresi estrogen oleh folikel terutama bergantung pada LH dalam darah, yang terus meningkat selama fase folikular. Sejalan dengan semakin bertumbuhnya folikel, lebih banyak estrogen diproduksi karena sel folikel penghasil estrogen bertambah. Sebagian dari estrogen yang dihasilkan oleh folikel dikeluarkan ke dalam darah dan sisanya tetap berada di dalam folikel dan ikut membentuk cairan antrum dan merangsang proliferasi lebih lanjut sel granulosa. Estrogen yang dikeluarkan ke darah, selain bekerja pada jaringan spesifik seperti uterus, juga menghambat hipotalamus dan hipofisis anterior secara umpan balik negatif. Kadar estrogen yang meningkat dan menandai terjadinya fase folikular bekerja secara langsung pada hipotalamus untuk menghambat sekresi sekresi GnRH sehingga pelepasan FSH dan LH tertekan. Namun, efek primer estrogen adalah langsung pada hipofisis itu sendiri. Estrogen menurunkan kepekaan sel-sel penghasil FSH sehingga menyebabkan kadar FSH plasma turun selama fase folikular. Faktor lain penyebab FSH menurun ialah sekresi inhibin oleh sel-sel folikel yang bekerja pada sel hipofisis anterior. Penurunan FSH mengakibatkan semua folikel yang sedang berkembang menjadi atresia kecuali satu yang paling matang. 2. Kontrol ovulasi Ovulasi dan selanjutnya luteinisasi folikel yang pecah dipicu oleh peningkatan sekresi LH yang mendadak dan besar. Lonjakan LH ini menyebabkan empat perubahan besar dalam folikel:

Menghentikan sintesis estrogen oleh sel-sel folikel Memulai kembali meiosis di oosit folikel yang sedang berkembang, tampaknya dengan menghambat pelepasan suatu oocyte maturation-inhibiting substance yang dihasilkan oleh sel granulosa. Memicu pembentukan prostaglandin kerja lokal, yang memicu ovulasi dengan mendorong perubahan vaskular yang menyebabkan pembekakan cepat folikel sembari menginduksi digesti enzimatik dinding folikel. Selain itu, prostaglandin menyebabkan pecahnya dinding yang menutupi tonjolan folikel. Diferensiasi sel folikel menjadi sel luteal. Karena lonjakan LH memicu ovulasi dan luteinisasi, maka pembentukan korpus luteum secara otomatis mengikuti ovulasi. Lonjakan LH mengakhiri fase folikular dan memulai fase luteal. Dua cara sekresi LH, yaitu sekresi tonik LH yang menyebabkan sekresi hormon ovarium, dan lonjakan LH yang menyebabkan ovulasi tidak saja terjadi dalam waktu yang berbeda dan menghasilkan efek yang berbeda pada ovarium tetapi juga dikontrol oleh mekanisme yang berbeda pula. Sekresi tonik LH ditekan secara parsial oleh efek inhibitorik kadar sedang estrogen selama fase folikular, dan ditekan total oleh peningkatan kadar progesteron selama fase lukteal. Lonjakan LH dipicu oleh efek umpan balik positif. Sementara kadar estrogen yang meningkat dan moderat pada awal fase folikular menghambat sekresi LH, kadar estrogen yang tinggi selama puncak sekresi estrogen pada akhir fase folikular merangsang LH dan memulai lonjakan LH. Hanya folikel matang praovulasi, bukan folikel pada tahap awal perkembangan yang dapat mengeluarkan estrogen dalam jumlah banyak sehingga memicu lonjakan LH. Oleh karena itu ovulasi baru terjadi sampai folikel mencapai ukuran dan kematangan yang sesuai. Lonjakan LH berlangsung sekitar sehari pada pertengahan siklus, tepat sebelum ovulasi. 3. Kontrol korpus luteum LH memelihara korpus luteum yaitu setelah memicu pembentukan korpus luteum, LH merangsang sekresi berkelanjutan hormon steroid oleh struktur ovarium. Di bawah pengaruh LH, korpus luteum mengeluarkan progesteron dan estrogen, dengan progesteron merupakan hormon yang paling banyak diproduksi. Kadar progesteron meningkat untuk pertama kali selama fase luteal. Tidak ada progesteron yang dikeluarkan selama fase folikular. Fase folikular didominasi oleh hormon estrigen, sedangkan fase

luteal oleh hormon progesteron. Pada pertengahan siklus terjadi penurunan sesaat kadar estrogen darah karena folikel penghasil estrogen mati saat ovulasi. Kadar estrogen kembali naik selama fase luteal karena aktivitas korpus luteum meskipun tidak mencapai kadar yang sama dengan fase folikular. Meskipun estrogen kadar tinggi merangsang sekresi LH namun progesteron yang mendominasi fase luteal, dengan kuat menghambat sekresi LH serta FSH. Inhibisi FSH dan LH oleh progesteron mencegah pematangan folikel baru dan ovulasi selama fase luteal. Di bawah pengaruh progesteron, sistem reproduksi dipersiapkan untuk menunjang ovum yang baru saja dibebaskan seandainya ovum tersebut dibuahi, dan bukan mempersiapkan pelepasan ovum lain. Tidak ada inhibin yang disekresikan selama fase luteal. Korpus luteum berfungsi selama rerata dua minggu kemudian berdegenerasi jika tidak terjadi fertilisasi. Menurunnya kadar LH yang disebabkan oleh efek inhibitorik progesteron berperan dalam degenerasi korpus luteum. Matinya korpus luteum mengakhiri fase luteal dan menyiapkan tahap baru untuk fase folikular berikutnya. Sewaktu fase folikular berdegenerasi, kadar progesteron dan estrogen plasma turun secara drastis karena kedua hormon ini tidak lagi diproduksi. Hilangnya efek inhibisi kedua hormon ini pada hipotalamus memungkinkan sekresi FSH dan sekresi LH tonik kembali meningkat moderat. Di bawah pengaruh hormon-hormon gonadotropik ini, kelompok baru folikel primer kembali diinduksi untuk matang seiring dengan dimulainya fase folikular baru. Siklus Endometrium selama masa reproduksi endometrium mengalami perubahan siklis secara terus menerus. Setiap siklus biasanya melalui 4 fase yang berhubungan dengan aktivitas hormon ovarium dan dapat diidentifikasi dengan biopsi endometrium atau pemeriksaan multi hormon, berikut penjelasannya: A) Fase proliferatif Fase proliferatif (estrogenik) mempunyai durasi yang sanga bervariasi tetapi biasanya konsisten untuk setiap individu. Biasanya sekitar 14 hari pada siklus 28 hari. Fase proliferatif dini dimulai pada kira-kira hari keempat atau kelima siklus, tepat sebelum akhir menstruasi dan berlangsung selama 2-3 hari. Akhir fase ini bertepatan dengan kira-

kira hari ketujuh siklus klasik. Epitel permukaan diperbaiki tetapi tipis atau mudah rusak. Ketebalannya tergantung pada hilangnya epitel berlapis-lapis palsu (pseudostratifikasi), dan sering terjadi mitosis. Sel-sel stroma menunjukkan inti yang relatif besar dengan sedikit sitoplasma. Terdapat sel fagosit. Fase midproliferatif bertepatan dengan kira-kira hari ke 10 siklus. Fase ini hanya berbeda derajat dengan fase proliferatif dini. Permukaannya lebih teratur, kelenjarnya lebih berliku-liku dan sel kelenjar berlapis-lapis pasu. Ketebalan endometrium meningkat. Fase proliferatif lanjut terjadi pada kira-kira hari ke-14 siklus rata-rata. Permukaannya berombak, sel stroma sangat padat, dan berbagai cairan ekstraseluler hilang. Ketebalan kira-kira seperti sebelum proliferasi, tetapi dengan konsentrasi sel yang lebih besar. Kelenjar semakin berliku-liku dan mengandung sekresi minimal.1 Pada permulaan setiap siklus menstruasi, sebagian besar endometrium mengalami deskuamasi oleh proses menstruasi. Setelah menstruasi, hanya lapisan tipis stroma endometrium tersisa pada basis endometrium asli, dan satu-satunya sel epitel yang tertinggal terletak pada bagian dalam sisa-sisa kelenjar dan kriptus endometrium. Di bawah pengaruh esterogen yang sekresinya ditingkatkan oleh ovarium selama bagian pertama siklus ovarium, sel-sel stroma dan sel-sel epitel dengan cepat berproliferasi. Permukaan endometrium mengalami reepitelisasi dalam tiga sampai tujuh hari setelah permulaan menstruasi. Selama dua minggu pertama siklus seksual yaitu, sampai ovulasi, tebal endometrium sangat bertambah, karena peningkatan jumlah sel-sel stroma dan karena pertumbuhan progresif kelenjar-kelenjar endometrium dan pembuluh darah ke dalam endometrium, semua efek ini ditingkatkan oleh esterogen. Pada saat ovulasi tebal endometrium sekitar 2 sampai 3 mm.6 B) Fase ovulasi Fase ovulasi terjadi pada kira-kira hari ke-14 pada siklus 28 hari, dengan disertai ovulasi. Karena tidak ada perubahan endometrium yang cukup besar dalam 24-36 jam setelah ovulasi, endometrium pada hari ke-14 tidak dapat dibedakan dengan hari ke-15. Perubahan yang nyata tampak pada sel kelenjar pada hari ke-16 dan kemudia menunjukkan aktivitas korpus luteum dan, tampaknya ovulasi.1 C) Fase sekretorik Fase sekretorik secar teknis dimulai dengan ovulasi. Pada hari ke-16, kelenjar semakin

berliku-liku, terdapat banyak gambaran mitosis dan muncul vakuola basal penuh berisi glikogen. Pada hari ke-17 terjadi vaskuolisasi sel yang paling jelas. Hampir dua per tiga bagian basal kelenjar ini berisi cairan yang penuh mengandung glikogen. Dapat diamati adanya edema ringan, dan jarang terjadi mitosis. Pada hari ke-18 sekresi cairan dalam kelenjar menjadi jelas. Keadaan ini bertepatan dengan saat ovum berada bebas dalam ruang uterus dan harus mendapat makanan dari sekresi uterus. Pada hari ke-22, kelenjar lebih berliku-liku tetapi aktivitas sekretorisnya lebih sedikit dan terlihat sekresi mukoid yang cukup banyak dalam lumennya. Edema stroma saat ini mencapai puncaknya. Keadaan ini akan mempermudah implantasi ovum. Puncak aktivitas sekretoris dan endema stroma yang tinggi bertepatan dengan periode fungsi korpus luteum yang maksimal. Dari hari ke-24 sampai hari ke-27, edema berkurang dan sel stroma mengalami perubahan bentuk menjadi unsur yang mengarah ke sel desidua. Perubahan pertama terlihat dalam sel di sekeliling arteriola spiralis dengan gambaran mitosis pada stroma perivaskuler. Kelenjar semakin lama semakin berliku-liku dengan dinding yang bergerigi. Sekresi sel kelenjar berkurang terdapat infiltrasi oleh netrofil polimorfonukleat dan monosit. Akhirnya, terjadi nekrosis dan peluruhan. Selama separuh terakhir siklus seksual, progesteron dan esterogen disekresi dalam jumlah besar oleh korpus luteum. Esterogen menyebabkan proliferasi sel tambahan dan progesteron menyebabkan pembengkakan hebat dan pembentukan sekresi endometrium. Kelenjar tambah berkelok-kelok, zat yang disekresi tertimbun dalam sel epitel kelenjar, dan kelenjar menyekresi sedikit cairan endometrium. Sitoplasma sel stroma juga bertambah, lipid dan glikogen banyak mengendap dalam sel stroma, dan suplai darah ke endometrium meningkat lebih lanjut sebanding dengan aktivitas sekresi yang sedang berkembang. Tebal endometrium sekitar dua kali waktu fase sekresi sehingga menjelang akhir siklus haid, endometrium mempunyai ketebalan 4 sampai 6 mm. (guyton EDIT lagi) D) Fase menstrual Selama fase mensturasi, edema endometrium dan perubahan degeneratif yang terjadi pada akhir fase sekretoris menyebabkan nekrosis jaringan. Keadaan ini tersebar secara tidak merata di seluruh lapisan endometrium kecuali lapisan basal. Nekrosis menyebabkan pembuluh darah robek, menghasilkan perdarahan-perdarahan kecil yang tersebar. Perdarahan ini membesar dan bersatu membentuk hematoma yang menyebar, yang nantinya akan menyebabkan pemisahan endometrium dan semain robeknya

pembuluh darah kecil. Lepasnya fragmen-fragmen jaringan biasanya diawali dengan bercak-bercak sekitar 12 jam setelah dimulainya perdarahan pada siklus ovulatoir. Yang menarik, seluruh isi ruang endometrium terpisah sebagai apa yang disebut dismenore membranosa. Keadaan sakit ini berasal dari pemisahan mendadak seluruh lapisan endometrium sekretoris, mungkin karena serangkaian kejadian yang diterangkan di atas teradi sangat cepat dan lengkap. Diperkirakan sekitar dua per tiga endometrium hilang setiap mensturasi ovulatoir. Pada saat aliran cepat ini berhenti, penyusutan jaringan dan pemisahan telah terjadi pada bagian yang lebih besar dari permukaan kavum uteri. Setelah menstruasi berlangsung selama 4-7 hari, perdarahan perlahan-lahan berkurang. Perdarahan regional berkurang akibat konstriksi dan trombosis sisa arteriola spiralis yang tidak rusak, sehingga bercak perdarahan akhirnya berhenti. Interval antara ovulasi dan menstruasi normalnya hampir tepat 14 hari. Sebaliknya, pada periode praovulatoir, interval hari pertama mensturasi dengan hari ovulasi, dapat beragam dari 7 atau 8 hari hingga lebih dari satu bulan. Variasi periode praovulatoir ini menyebabkan perbedaan interval antara periode menstruasi.1,6 Menstruasi disebabkan oleh pengurangan mendadak progesteron dan esterogen pada akhir siklus haid ovarium. Efek pertama adalah penurunan rangsang sel-sel endometrium oleh kedua hormon tersebut, diikuti dengan cepat oleh involusi endometrium itu sendiri sampai sekitar 65 persen tebal sebelumnnya. Selama 24 jam sebelumnya mulai menstruasi, pembuluh darah yang menuju ke lapisan mukosa endometrium menjadi vasopastik, mungkin karena beberapa efek involusi seperti pengeluaran zat vasokonstriktor. Vasospasme dan kehilangan rangsan hormonal mulai menimbulkan nekrosis pada endometrium. Sebagian akibatnya, darah merembes dalam lapisan vaskular endometrium, area perdarahan mulai tebentuk setelah 24 sampai 36 jam. Lambat laun, lapisan luar endometrum yang nekrotik terlepas dari uterus pada tempat perdarahan, pada 48 jam setelah mulainya menstruasi, semua lapisan superfisial endometrium telah mengalami deskuamasi. Jaringan deskuamasi dan darah dalam kubah uterus memulai kontraksi uterus yang mengeluarkan isi uterus.6 Hormon yang berpengaruh pada siklus uterus Fluktuasi kadar esterogen dan progesteron selama silus ovarium menimbulkan perubahan mencolok di uterus, menghasilkan siklus haid, atau siklus uterus. Karena mencerminkan perubahan hormon selama siklus ovarium maka siklus haid berlangsung rerata 28 hari, seperti halnya silum ovarium, meskipun bahkan pada orang normal dapat terjadi variasi yang cukup

bermakna dari rerata ini. Manifestasi nyata perubahan siklik di uterus adalah perdarahan haid sekali dalam tiap siklus haid. Namun, perubahan yang relatif kurang jelas berlangsung sepanjang siklus, sewaktu uterus bersiap untuk implantasi seandainya ovum yang dibebaskan dibuahi, kemudian pembersihan lapisan tersebut jika implantasi tidak terjadi, hanya untuk memulihkan dirinya dan kembali bersiap untuk ovum yang akan dibebaskan pada siklus berikutnya.4 Uterus terdiri dari dua lapisan utama yaitu miometrium, lapisan otot polos luar dan endometrium, lapisan darah yang mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar. Esterogen merangsang pertumbuhan miometrium dan endometrium. Hormon ini juga meninduksi sentesis reseptor progesteron di endometrium. Karena itu, progesteron dapat berefek pada endometrium hanya setelah endometrium dipersiapkan oleh esterogen. Progesteron bekerja pada endometrium yang telah dipersiapkan oleh sterogen untuk mengubah menjadi lapisan yang ramah dan menunjang pertumbuhan ovum yang dibuahi. Di bawah pengaruh progesteron, jaringan ikat endometrium menjadi longgar dan edematosa akibat akumulasi elektrolit dan air, memfasilitasi implantasi ovum yang dibuahi. Progesteron menyiapkan endometrium lebih lanjut untuk menampung mudigah dengan mendorong kelenjar endometrium mengeluarkan dan menyimpan glikogen dalam jumlah besar serta merangsang pertumbuhan besar-besaran pembuluh darah endometrium. Progesteron juga mengurangi kontraktilitas uterus agar tercipta lingkungan yang tenang untuk implantasi dan pertumbuhan mudigah. Dalam hal ini siklus haid terdiri dari tiga fase:4,6 1. Fase haid Fase haid merupakan fase yang paling jelas, ditandai oleh pengeluaran darah dan sisa endometrium dari vagina. Berdasarkan perjanjian, hari pertama haid dianggap sebagai siklus baru. Fase ini bersamaan dengan pengakhiran fase luteal ovarium dan dan dimulainya fase folikular. Sewaktu korpus luteum berdegenerasi karena tidak terjadi fertilisasi dan implantasi ovum yang dibebaskan selama siklus sebelumnya, kadar progesteron dan estrogen darah mengalami penurunan drastis. Terhentinya sekresi sekresi kedua hormon ini menyebabkan lapisan dalam uterus yang kaya vaskular dan nutrien kehilangan hormon-hormon penunjangnya. Turunnya kadar hormon ovarium merangsang pembebasan suatu prostagalndin uterus yang menyebabkan kematian endometrium. Penurunan penyaluran oksigen yang terjadi menyebabkan kematian endometrium dan pembuluh darahnya. Perdarahan yang terjadi melalui kerusakan pembuluh darah ini membilas jaringan endometrium yang mati ke dalam uterus. Sebagain besar lapisan dalam uterus terlepas selama haid kecuali sebuah lapisan dalam yang tipis berupa sel

epitel dan kelenjar, yang menjadi asal regenerasi endometrium. Prostaglandin uterus yang sama juga merangsang kontraksi ritmik ringan miometrium uterus. Kontraksi ini membantu mengeluarkan darah dan sisa endometrium dari rongga uterus keluar melalui vagina sebagai darah haid. Kontraksi uterus yang terlalu kuat akibat produksi berlebihan prostaglandin menyebabkan kram haid (dismenore) yang dialami oleh sebagian wanita. Pengeluaran darah rerata selama satu kali haid adalah 50-150 ml. Haid biasanya berlangsung selama lima sampai tujuh hari setelah degenerasi korpus luteum, bersamaan dengan bagian awal fase folikular ovarium. Selanjutnya, folikelfolikel baru terbentuk di bawah pengaruh hormon gonadotropik yang kadarnya meningkat. Setelah lima sampai tujuh hari di bawah pengaruh FSH dan LH, folikelfolikel yang baru berkembang telah menghasilkan cukup estrogen untuk mendorong perbaikan dan pertumbuhan endometrium. 2. Fase proliferatif Ketika fase haid selesai, fase proliferatif siklus uterus dimulai bersamaan dengan bagian terakhir fase folikular ovarium ketika endometrium mulai berproliferasi di bawah pengaruh estrogen dari folikel-folikel yang berkembang. Saat aliran darah haid berhenti, yang tersisa adalah lapisan endometrium tipis dengan ketebalan kurang dari 1 mm. Estrogen merangsang proliferasi sel-sel epitel, kelenjar, dan pembuluh darah di endometrium, meningkatkan ketebalan lapisan menjadi 3-5 mm. Fase proliferatif yang didominasi oleh estrogen ini berlangsung dari akhir haid hingga ovulasi. Kadar puncak estrogen memicu lonjakan LH yang menjadi penyebab ovulasi. 3. Fase sekretorik atau progestasional Setelah ovulasi, ketika terbentuk korpus luteum baru, uterus masuk ke fase sekretorik atau progestasional yang bersamaan waktunya dengan fase luteal ovarium. Korpus luteum mengeluarkan sejumlah besar progesteron dan estrogen. Progesteron mengubah endometrium tebal yang telah dipersiapkan estrogen menjadi jaringan kaya vaskular dan glikogen. Periode ini disebut fase sekretorik karena kelenjar endometrium aktif mengeluarkan glikogem. Jika fertilisasi dan implantasi tidak terjadi maka korpus luteum berdegenerasi dan fase folikular serta fase haid dimulai kembali. Sistem hormon pada wanita terdiri dari tiga hirarki hormon sebagai berikut:6

1. Hormon 'releasing' hipotalamus : 'luteinizing hormone-releasing hormone' (LHRH) 2. Hormon hipofisis anterior, hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon lutenisasi (LH), yang di sekresi akibat respon terhadap 'releasing hormone' dari hipotalamus. 3. Hormon ovarium; esterogen, dan progesteron, yang disekresi oleh ovarium akibat respon terhadapt dua hormon dari kelenjar hipofisis anterior. Hormon esterogen, pada wanita normal, tidak hamil, esterogen di sekresi terutama oleh ovarium, walaupun dalam jumlah kecil juga disekresi oleh korteks adrenal. Pada kehamilan, dalam jumlah besar juga disekresi oleh plasenta, tentu saja sampai 100 kali jumlah yang disekresi oleh ovarium selama siklus bulanan normal. Sedangkan hormon progesteron, hampir semua progesteron pada wanita tidak hamil disekresi oleh korpus luteum selama separuh terakhir setiap siklus ovarium. Akan tetapi, selama kehamilan progesteron dibentuk dalam jumlah besar sekali oleh plasenta, sekitar 10 kali jumlah normal setiap bulannya, khususnya setelah bulan keempat kehamilan. Progesteron berfungsi dalam meningkatkan perubahan sekresi pada endometrium. Feed back sistem hipotalamus hipofisis ovarium 1. sekresi hormon-hormon ovarium pasca ovulasi dan penekanan gonadotropin. Bagian paling awal siklus haid yang dijelaskan adalah peristiwa yangterjadi selama fase pascaovulasi, antara ovulasi dan permulaan mensturasi. Selama masa ini korpus luteum menyekresi banyak sekali progesteron dan esterogen. Efek kombinasinya atas hipotalamus adalah untuk menghambat sekresi LHRH sehingga menyebabkan umpan balik negatif kuat yang menekan sekresi gonadotropin, FSH, dan LH, selama waktu ini. 2. Fase pertumbuhan folikel. Beberapa hari sebelum menstruasi, korpus luteummengalami involusi, serta sekresi esterogen dan progesteron turun sampai rendah. Hal ini melepaskan hipotalamus dari efek umpan balik esterogen dan progesteron turun sampai rendah. Hal ini melepaskan hipotalamus dari efek umpan balik dari progesteron dan esterogen sehingga sekresi LHRH meningkat lagi, diikuti secara berurutan oleh peningkatan sekresi FSH dan LH beberapa ratus persen. Hormon ini memulai pertumbuhan folikel baru dan peningkatan progresif sekresi esterogen, mencapai puncak sekresi esterogen sekitar 12 sampai 13 hari setelah timbulnya menstruasi. Selama 11 sampai 12 hari pertama pertumbuhan folikel ini,

kecepatan sekresi FSH dan LH gonadotropin berkurang, kemudian dengan mendadak sekresi kedua hormon tersebut meningkat, mengakibatkan stadium siklus haid selanjutnya. 3. Gejolak LH dan FSH praovulasi. Ovulasi sekitar 11 sampai 12 hari setelah timbulnya menstruasi, penurunan sekresi FSH dan LH berhenti dengan mendadak. Diduga bahwa kadar esterogen yang tinggi pada saat ini menyebabkan efek umpan balik positif, seperti dijelaskan sebelumnya, yang mengakibatkan gejolak sekresi yang hebat, khusus nya LH tetapi dalam arti yang lebih sempit FSH. Efek ini dapat dikaitkan dengan kenyataan bahwa sel sekresi folikel menjadi lelah sehingga kecepatan sekresi esterogen telah mulai turun sekitar satu hari sebelum gejolak LH. Apapun penyebab gelora LH dan FSH sebelum ovulasi, LH mengakibatkan ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Jenis-jenis gangguan menstruasi Hipogonadisme. Sekresi ovarium yang kurang dari normal dapat akibat pembentukan ovarium yang jelek atau ovarium tidak ada. Bila ovarium tidak ada sejak lahir atau bila tidak pernah berfungsi, terjadi eunukisme wanita. Pada keadaan ini, sifat seksual sekunder umumnya tidak tampak, dan organ seksual tetap infantil. Yang khususnya spesifik pada keadaan ini adalah pertumbuhanberlebihan tulang panjang karena epifisis tidak bersatu dengan batang tulang pada usia permulaan wanita remaja normal. Akibatnya, wanita 'eunuch' pada hakekatnya setinggi rekan prianya yang mempunyai dasar genetik yang sama atau mungkin bahkan sedikit lebih tinggi.6 Bila ovarium pada wanita berkembang sempurna dibuang, organ seksual mengalami regresi sedemikian rupa sehingg auterus menjadi hampir infantil ukurannya, vagina menjadi lebih kecil, dan epitel vagina menjadi tipis dan mudah rusak. Kelenjar mamae atrofi dan menjadi kendor, dan rambut pubis menjadi sangat jaran. Perubahan yang sama terjadi pada wanita setelah menopause.6,8 Menstruasi yang tidak teratur dan amenore akibat hipogonadisme. Jumlah esterogen dibentuk ovarium harus tinggi di atas tingkat kritis agar mereka dapat menghambat pembentukan hormon perangsang folikel yang cukup menyebabkan osilasi siklus seksual. Akibatnya, pada hipogonadisme atau bila gonad menyekresi sedikit esterogen sebagian akibat faktor lain, siklus ovarium mungkin tidak normal. Sebagai gantinya, beberapa bulan tidak timbul menstruasi atau

menstruasi dapat berhenti sama sekali (amenore). Yang khas, siklus ovarium yang memanjang sering dihubungkan dengan kegagalam ovulasi, mungkin akibat kekurang sekresi hormon lutenasi yang diperlukan untuk ovulasi.6,8 Selain itu terdapat beberapa jenis lainnya, seperti dismenorea yang dimana dapat dikategorikan menjadi dismenorea primer yang dimana cenderung dimulai dua atau tiga tahun setelah menstruasi dimulai, dan ovulasi telah berlangsung. Penyebab kelainan ini biasanya tidak ditemukan dan gangguan seringkali hilang pada usia sekitar 25 tahun dan jarang dijumpai setelah kelahiran anak. Namun, ini dapat berlanjut setelah kelahiran anak dan pada pertengahan usia 30-an. Sedang kan dismenorea sekunder lebih sering dijumpai pada usia dewasa dan menimbulkan kram perut 1 atau 2 minggu sebelum mulai haid. Ini biasanya merupakan gejala suatu kelainan dasar seperti endometriosis atau perlekatan, menurut penelitian dismenore primer terjadi akibat kekurangan hormon prostaglandin. Kemudian terdapt menoragia yang dimana merupakan menstruasi berat, menoragia merupakan suatu kejadian dimana menstruasi yang biasanya mengeluarkan 30 50 ml darah meningkat menjadi sekitar 80 ml. Hal ini terjadi akibat tidak adanya progesteron, horomon yang berperan mengendalikan kehilangan darah haid. Kemudian amenorea primer, biasanya timbul akibat pubertas yang mulai lebih lambat, walaupun juga bisa timbul akibat kelainan sistem reproduksi atau hormon. Penyebab amenorea sekunder yang paling sering adalah kehamilan. Amenorea adalah suatu istilah medis untuk hilagnnya menstruasi. Amenorea disebut primer jika wanita tidak perna mengalami menstruasi, dan sekunder jika menstruasi normal terganggu selama empat bulan atau lebih. Penutup Berdasarkan pembahasan-pembahasan tersebut, yang didasari pada skenario yang sudah dipaparkan. Siklus menstruasi atau siklus ovarium di dasarkan pada hormon gonadotropinreleasing hormone (GnRH) pada hipotalamus. GnRH mengatur sekresi hormon gonadotropik hipofisis anterior, yaitu follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). FSH dan LH mengontrol sekresi estrogen dan progesteron pada ovarium. Horomon-hormon ini memiliki umpan balik satu dengan yang lainnya. Dan ketika terjadinya gangguan pada komunikasi antar hormon tersebut, hal ini dapat menyebabkan silus menstruasi menjadi terganggu, sehingga hal ini dapat menyebabkan mensturasi yang tidak teratur.

DAFTAR PUSTAKA 1. Benson CR, Pernoll LM. Buku saku obstetri dan ginekologi. 9 th ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedoteran EGC; 2009.h.26-58. 2. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004.h.353-61. 3. Fawcett D. Buku ajar histologi. 12th ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002.h.731-70. 4. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. 6th ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2012.h.833-46 5. Putz R, Pabst R. Sobotta atlas of human anatomy. Vol 2. 14 th ed. Munich: Urban & Fischer verlag; 2006.p.201-3 6. Guyton A. Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit. 3 rd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2012.h.741-50. 7. Heffner LJ, Schust DJ. At a glance sistem reproduksi. Jakarta: Erlangga; 2006.h.30-5. 8. Hamilton FD. Lecture notes obstetrics and gynaecology. 3rd ed. USA: Blackwell Science Ltd. ; 2009.p.33-7. 9. Miriam S. Panduan kesehatan keluarga. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2010.h.247-9

Anda mungkin juga menyukai