Anda di halaman 1dari 7
Asal Usul Tari Kandagan Asal usul tari kandagan – Tari Kandagan yaitu tari putri yang karakternya

Asal Usul Tari Kandagan

Asal usul tari kandagan Tari Kandagan yaitu tari putri yang karakternya gagah, tari ini berupa tari perkembangan dari tari Renggarini di taun 1960 oleh tokoh pembaharu tari Sunda, Raden Tjetje Somantri.

Pada tahun 1957 Tjetje Somantri menciptakan tari Topeng Wadon, hanya nama Wadon tidak cocok dengan bentuk tarinya, seterusnya namanya dirubah menjadi renggarini. Rengga artinya berlaga dalam arti kebaikan. Rini artinya wanita, jadi Renggarini bisa diartikan sebagai wanita yang kelakuannya seperti lelaki atau wanita yang aktif. Perbedaan dari dua tari ini yaitu dalam tata pakaian dan pemakaian soder atau sampur panjang. Hiasan kepala tari Renggarini berupa perkembangan desain iket, sedangkan di tari Kandagan menggunakan siger dengan rambut membentuk gambuh kecil diatasnya. Pemakaian pakaian tari Renggarini yaitu kebaya kutung merah tua, dengan pinggirannya warna hijau, sedangkan tari Kandagan menggunakan baju tutup kutung, kerahnya pendek warna hitam. Perbedaan dalam tata rias yaitu tidak dihiar godeg geulis di tari Renggarini sebab tidak pakai susumping, rambut digulung keatas disembunyikan dalam iket. Dalam tari Kandagan rambut memakai sanggul melengkapi tata rias Kandagan. Kandagan artinya wadah, tempat menyimpan perhiasan dan barang-barang berharga lainnya. Oleh karena itu, nama tari Kandagan bisa juga dimaksudkan tempat kumpulan gerak-gerak tari. Dalam latihannya, tari Kandagan termasuk tari putri yang gagah, tari ini memerlukan keterampilan bakat dan latihan yang lama untuk menguasainya. Untuk membentuk koreografi tari Kandagan untuk pemula biasanya dimulai dengan mengolah badan untuk persiapan menari.

Dalam pertunjukannya, tari Kandagan dipertunjukkan tunggal, tetapi bisa juga ditarikan sejara berbarengan, tentu saja dengan karakter penari yang sama yaitu karakter gagah putri. Tari Kandagan mempunyai kekayaan gerak yang beragam yang dibangun oleh gerak pokok dan gerak peralihan. Selain dari itu, untuk belajar menari tari Kandagan dibutuhkan sikap dan gerak sebagai pola yang mendorong ke pertunjukannya. Seperti sikap kepala, badan, kaki, dan tangan. Begitu juga gerak kepala, badan, kaki dan tangan. Sama seperti karakter tarinya yang gagah, dalam menerapkan sikap dan gerak mempunyai perbedaan dengan tari Dewi dan Sulintang.

Asal usul tari ketuk tilu Asal usul tari ketuk tilu – Ketuk Tilu adalah suatu tarian

Asal usul tari ketuk tilu

Asal usul tari ketuk tilu Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.

Istilah ketuk tilu adalah berasal dari salah satu alat pengiringnya yaitu boning yang dipukul tigakali sebagai isyarat bagi alat instrument lainnya seperti rebab, kendang besar dan kecil, goong untuk memulai memainkan sebuah lagu atau hanya sekedar instrumentalia saja. Dilihat dari aspek pertunjukannya tari ketuk tilu terbagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, sepengiring melantunkan irama gamelan, rebab dan kendang untuk menarik perhatian masyarakat. Pada bagian kedua yaitu takala orang-orang telah berkumpul memadati tanah lapang barulah muncul para penari memperkenalkan diri kepada para penonton sambil berlenggak-lenggok mencuri perhatian penonton. Pada bagian ketiga adalah pertunjukannya itu sendiri yang dipandu oleh seseorang semacam moderator dalam rapat atau juru penerang. Pada bagian pertunjukan ini penari mengajak penonton untuk menari bersama dan menari secara khusus berpasangan dengan penari. Adakalanya apabila ingin menari secara khusus dengan sipenari ia harus membayar sejumlah uang. Di desa-desa tertentu di Jawa Barat, pertunjukan seni tari ketuk tilu ini sering kali dilakukan hingga semalam suntuk. Konon kabarnya, ketuk tilu memiliki gaya tarian tersendiri dengan nama-nama seperti, depok, sorongan, ban karet, lengkah opat, oray-orayan (ular-ularan), balik bandung, torondol, angin-angin, bajing luncat, lengkah tilu dan cantel. Gaya-gaya ini sesuai dengan cirri khas daerahnya. Saat ini daerah-daerah yang masih memiliki kesenian tari ketuk tilu adalah di Kabupaten Bandung, Karawang, Kuningan dan Garut namun jumlahnya sangat sedikit, itupun hanya diminati generasi tertentu (kaum yang fanatik terhadap seni ketuk tilu). Sedangkan generasi mudanya lebih menyukai seni tari Jaipongan (pengembangan kreasi dari ketuk tilu) karena tarian dan iramanya lebih dinamis dan dapat dikombinasikan dengan tari-tarian modern.

Ditinjau dari perangkat tabuhan, Ketuk Tilu adalah nama perangkat tabuhan yang tersebar hampir di seluruh tatar Sunda. Nama perangkat tersebut dipinjam dari salah satu waditra yaitu ketuk yang terdiri dari tiga buah (tiga buah penclon/koromong). Waditra lainnya yang merupakan kelengkapan tabuhan Ketuk Tilu. satu unit Rebab, satu buah Gong, satu buah Kempul, satu buah Kendang besar, dua buah Kulanter (Kendang kecil), serta satu unit kecrek.

Perangkat Ketuk Tilu pada awalnya merupakan gending iringan rumpun tarian (ibing Ketuk

Tilu). Yoyo Yohana seorang tokoh Ketuk Tilu dari Ujungberung mengungkapkan bahwa: “Ketuk

Tilu, merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang mandiri” Artinya, tidak terikat atau bukan merupakan bagian dari cabang seni lain. Pada perkembangan selanjutnya, perangkat Ketuk Tilu di beberapa daerah di tatar Sunda, menjadi bagian dari suatu pertunjukan teater. Misalnya: Ronggeng Gunung di daerah Ciamis, Banjet di daerah Karawang clan Subang, Topeng Betawi di beberapa daerah di kawasan JABOTABEK, begitu juga Ubrug di Banten.

Di masa lampau Ketuk Tilu memiliki struktur sajian tersendiri yaitu diawali dengan Tatalu (sajian gending pembukaan), kemudian Ronggeng masuk arena. Pada bagian ini Ronggeng

masuk beriringan sambil menari bersama. Dilanjutkan dengan taxi Jajangkungan yang diirngi dengan Gamelan (instrumentalia). Bagian berikutnya adalah Wawayangan yang dilakukan oleh Ronggeng dengan posisi setengah lingkaran atau tapal kuda. Mereka menari sambil menyanyikan Kidung. Selesai WawayIngan, para Ronggeng berbanjar ke samping menghadap

Panjak (para penabuh atau Nayaga). Jika bermain di atas panggung, maka posisi banjarnya membelakangi penonton. Selanjutnya, Lurah kongsi (pimpinan rombongan) membakar

kemenyan dalam Parupuyan yang disimpanberdekatan dengan ” Pangradinan (sesajen),

kemudian membacakan matera¬mantera, memohon keselamatan selama pagelaran serta minta rizki yang banyak. Selain itu dibacakan pula (secara perlahan) Asihan agar para Ronggengnya disukai oleh para penonton. Dengan Asihan diharapkan para penonton bermurah hati untuk memberikan uang, sehingga otomatis menambah inkam bagi rombongan.

Selama babak tersebut, Gamelan mengalun dalam lagu Kidung. Habis lagu Kidung Ronggeng membuat posisi berbentuk bulan sabit, menghadap ke arah penonton, dilanjutkan pada Babak Erang. Pada babak ini Ronggeng menari bersama secara bebas diiringi lagu Erang. Para penari pria dari penonton, bebas menari tanpa harus membayar uang Pasakan (uang bokingan). Babak ini disajikan khusus untuk penonton yang suka menari, sebagai pemanasan sekaligus sebagai bonus, karena tidak harus membayar. Selesai Babak Erang, baru kemudian dilanjutkan pada Babak Pasakan, dimana para penari pria dari penonton yang menari dengan Ronggeng, harus memberikan uang Pasak kepada ronggeng atau Panjak.

Lagu-lagu yang disajikan terdiri dad: Kidung (lagu wajib pada pagelaran Ketuk Tilu, Erang (juga lagu wajib), Emprak atau Emprak kagok, Polos yang berkembang menjadi Polos Tomo dan kadang-kadang disambung dengan naek Geboy, Berenuk Mundur, Kaji-kaji, Gorong, Tunggul Kawung, Gondang, Sorong Dayung, Cikeruhan, Prangprangtarik, Renggong Buyut, Awi Ngarambat, Bangket Solontongan, Paleredan, Geseh, Kembang Beureum, Sonteng, Ombak Banyu, Gaya Engko, Mainang, Karawangan Barlen, Soloyong dan sebagainya. Liriknya berbentuk pantun, yaitu dua kalimat pertama merupakan cangkang (sampiran/kulit) dan dua kalimat terakhir merupakan eusi (isi). Pantun tersebut bersifat kebirahian dan asmara dengan wama cerah, gembira, humoritis. Selain lirik-lirik yang sudah dipersiapkan sebelum main, juga kadang-kadang Ronggeng melantunkan lagu yang liriknya dibuat seketika (waktu main). Ketuk Tilu merupakan taxi Pertunjukan yang gerakan¬gerakannya dilakukan oleh Ronggeng atau Doger sebagai primadona atau oleh Panjak tertentu yang memiliki kepandaian dalam menari. Gerakan-gerakan tersebut menyerupai Silat Kembang pada Pencak Silat. Selain merupakan taxi Pertunjukan, Ketuk Tilu juga sebagai tari Pergaulan, karena Ronggeng menari bersama penari pria dari penonton dengan gerak-gerak improvisatoris yang bebas, tidak terikat oleh idiom¬idiom gerak tari ataupun silat. Dari tari Pergaulan ini sering muncul tarian-tarian yang tidak kalah mutunya dengan tari¬tari Pergaulan yang telah ada. Hal ini kemungkinan besar bahwa di antara para penari pria dari penonton, terdapat penari yang berasal dari kalangan menak serta pandai menari Wayang atau Tayub menarai bersama Ronggeng. Sehingga terjadilah perpaduan gerak yang lebih bersifat tari dari pada silat. Dalam memilih Ronggeng sebagai pasangan menari, sering terjadi kericuhan, sehingga babak ini dinamai Parebut Ronggeng. Oleh karena itu, Ketuk -Tilu pernah dilarang oleh Pemerintah dengan alasan demi ketertiban umum dan keamanan. Akan tetapi pada kenyataanya Ketuk Tilu belum lenyap sama sekali bahkan ada usaha-usaha untuk melestarikannya. Tari Ketuk Tilu dan tari-tari lainnya memiliki perbedaan, baik dilihat dari gerak-gerak tarinya yang khas, Karawitannya, serta memiliki ketentuan-ketentuan yang khas dalam penyajiannya. Dalam Tari ketuk Tilu terdapat gerakan-gerakan yang berpola Kendang, gerakan-gerakan yang merupakan gambaran keseharian, serta ada pula gerakan-gerakan yang berupa improvisasi yang disesuaikan dengan irama lagu pengiringnya. Di samping itu, Tari Ketuk Tilu juga memiliki warna tertentu yaitu:

gembira, romantis, merangsang, horitis, cerah, Iincah, akrab, dan penuh penjiwaan.

Asal usul tari cokek Asal usul tari cokek – Salah satu tarian yang ada di jawa

Asal usul tari cokek

Asal usul tari cokek Salah satu tarian yang ada di jawa barat adalah tari cokek. Tari Cokek adalah seni tari pertunjukan yang berkembang pada abad ke 19 M di Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten pada waktu itu. Tarian ini dimainkan oleh sepuluh orang penari wanita, dan tujuh orang laki-laki pemegang gamang kromong, alat musik yang mengiringinya. Alunan musik gamang kromong merupakan hasil kombinasi suara yang ditimbulkan oleh rebab dua dawai, suling, kempul, gong, kendang dan kecrek.

Asal usul tari cokek

Tari Cokek dibuat berawal dari adanya pentas hiburan yang diadakan oleh para juragan tanah etnis Tionghoa yang tinggal di kota Tangerang. Dalam pentas seni itu, Tan Sio Kek, yang merupakan salah satu juragan tanah yang cukup di segani di Tangerang, dengan mempersembahkan tiga orang penari sebagai wujud partisipasinya dalam pesta hiburan rakyat itu. Pada awalnya, dia menyisipkan tarian para gadis cantik tersebut sebagai pertunjukan tambahan. Namun, berawal dari pertunjukan tambahan itulah, kemudian para penari ini menjadi terkenal dan berdiri sendiri sebagai kelompok penari yang kemudian tariannya dinamakan Tari Cokek. Kata “ cokek” sebenernya singkatan dari juragan tanah tersebut yang bernama Tan Sio Kek, yaitu orang yang cukup penting yang mengilhami pertunjukan tarian cokek ini.

Artikel yang terkait Asal usul tari cokek : trik sejarah tari cokek, tari cokek betawi, kesenian tari cokek, lagu tari cokek, Asal usul tari cokek, gambar tari cokek, ciri ciri tari cokek, busana tari cokek, tari ngibing

Asal usul tari yapong Asal usul tari yapong – Tari Yapong bukan tari pergaulan seperti Jaipongan

Asal usul tari yapong

Asal usul tari yapong Tari Yapong bukan tari pergaulan seperti Jaipongan dan seperti jenis tari lainnya, yang berasal dari Jawa Barat, namun kemudian dalam perkembangan tari yapong kadang kala berfungsi sebagai tari pergaulan untuk mengisi acara menari sesuai permintaan karena tarian ini penuh dengan variasi.

Asal usul tari yapong pada waktu itu ada acara peringatan HUT Kota Jakarta ke-450 pada tahun 1977. Pada saat itu, Dinas Kebudayaan DKI menyiapkan sebuah pergelaran tari massal yang spektakuler dengan mempergelarkan cerita . perjuangan Pangeran Jayakarta. Pergelaran berbentuk sendratari ini dipercayakan penggarapannya kepada seniman Bagong Kussudiarjo. Untuk mempersiapkan pergelaran itu, Bagong mengadakan penelitian selama beberapa bulan mengenai kehidupan masyarakat Betawi melalui perpustakaan, film, slide maupun langsung pada masyarakat Betawi. Akhirnya pergelaran tari ini berhasil dipentaskan pada tanggal 20 dan 21 Juni 1977 di Balai Sidang Senayan. Pementasannya didukung 300 orang artis dan musikus.

Tari Yapong merupakan suatu tari gembira dengan gerakan yang dinamis dan erotis. Dalam adegan tersebut dipertunjukkan suasana gembira menyambut kemenangan Pangeran Jayakarta. Adegan ini dinamai Yapong dan tidak mengandung arti apapun. Namun istilah Yapong ini lahir dari bunyi lagunya ya, ya, ya, ya, yang dinyanyikan artis pengiringnya serta suara musik yang berkesan pong, pong, pong, sehingga lahirlah “ya- pong” dan berkembang menjadi Yapong.

Pusat Latihan Tari (PLT) Bagong Kussudiarjo dan Dinas Kebudayaan DKl Jakarta seusai pementasan menggubah tari Yapong dari bentuk sendratari dan mengembangkannya sebagai tarian lepas. Adapun corak pakaian yang dikenakan para penarinya, merupakan pengembangan pakaian tari Kembang Topeng Betawi. Tampak jelas bentuk serta ragam hias tutup kepala serta selempang dadanya, yang disebut toka-toka. Tari Yapong diwarnai oleh tari rakyat Betawi, kemudian diolah dengan unsur-unsur tari pop, antara lain unsur tari daerah Sumatera. Karena kesenian Betawi dipengaruhi oleh unsur kesenian Tionghoa, maka dalam tari Yapong juga terdapat unsur kesenian Tionghoa, misalnya dalam kain yang dipakai oleh para penari terdapat motif-motif naga dengan warna merah menyala. Alat musik yang digunakan saat tarian ini dipergelarkan adalah campuran antara Betawi, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Setelah menjadi tarian lepas, dalam tarian tersebut. DKl Jakarta memanfaatkan instrumen Rebana Biang, Rebana Hadroh, dan Rebana Ketimpring. Dengan demikian tari Yapong merupakan garapan kreasi baru yang bertolak dari unsur-unsur gerak tradisional Betawi.

Artikel yang terkait Asal usul tari yapong : pengertian tari yapong, sejarah tari yapong betawi, sejarah tari serimpi, sejarah tari yapong betawi download, sejarah tari yapong betawi pendidikan, search sejarah tari yapong betawi html, tari yapong ensiklopedi, tari yapong mitra, tari yapong betawi, sejarah tari yapong, Asal usul tari yapong, download tari yapong, tari serimpi, tari topeng, tari jaipong, tari merak, tari yapong mp3

Tari Topeng Gong Tari kreasi baru yang diangkat dari tarian dalam teater tradisional Topeng Betawi. Gerakannya

Tari Topeng Gong

Tari kreasi baru yang diangkat dari tarian dalam teater tradisional Topeng Betawi. Gerakannya masih berpola pada gerak dasar Tari Topeng Betawi. Tari Topeng Gong merupakan satu bentuk kesenian tari yang memakai topeng, kedok, atau tapel yang diiringi dengan gamelan. Merupakan seni gamelan yang dilengkapi dengan tarian, lawakan, serta lakon atau cerita rakyat Betawi. Dengan catatan bahwa tarian tersebut tanpa mempergunakan topeng yang mirip dengan tari Longser dan Ketuk Tilu di Jawa Barat. Bentuk seni pertunjukan seperti itu merupakan upaya penggarap seni/para seniman setempat dalam rangka pengembangan seni Gamelan Ajeng di Betawi agar tidak membosankan dan tidak ditinggalkan oleh penontonnya. Hal ini telah berlangsung beberapa tahun yang lalu.

Di dalam pertunjukan, Tari Topeng Gong di Lenteng Agung menyajikan cerita yang bertemakan agama Islam, yaitu mengisahkan seorang anak yang diharuskan belajar di pesantren. Namun si anak itu tidak turut perintah orang tuanya, akhimya anak tersebut memperaleh penyesalan. Ini membuktikan bahwa di lingkungan setempat sangat banyak yang memeluk Agama Islam. Koreografi tari Topeng Gong Betawi terbagi menjadi dua, yaitu tarian wanita dan tarian pria. Dalam Tari Topeng Gong Betawi ini terdiri atas 7 gerak pokok dan 3 gerak peralihan dalam gerakan yang sama yaitu ngalaras. Tujuh gerak pokok itu adalah keupat, tindak tilu, mincid dan nyanyian, mincid dobelan, obah taktak (nyanyian), goyang pinggul, dan mincid tepuk bahu (akhir). Sedang tiga gerak pokok peralihan dalam gerakan yang sama, yaitu ngalaras. Sedangkan tarian laki-Iaki terdiri atas empat gerak pokok dan dua macam gerak tari peralihan (gerak peralihan nglaras obah taktak dan nglaras soloyong). Ditambah dengan satu gerak improvisasi yang disebut dombanini.

Waditra atau instrumen yang mengisi tarian Topeng Gong, antara lain terampet (sebagai pembawa melodi), kendang, kedemung atau demung, saron I dan saran II, boning, ketuk, cecer atau kecrek, kempul dan gong, bende atau kemor atau beri. Kadangkala iringan musik tergantung dari variasi masing-masing kelompok yang memainkannya dan menarikan jenis tarian ini. Adapun lagu-Iagu yang seringkali ditampilkan mengiringi tarian antara lain:

Geseh, Kangsreng, Cara Bali, Wajigjag, Oncom Lele, Marikangen, dan Uti-uti Uri.

<a href=Ronggeng Blantek Budaya Bekasi hampir punah. Penyebabnya tidak lain karena generasi „emoh‟ untuk meneruskan kebiasaan-kebiasaan yang dulu di banggakan. Namun satu diantara budaya Bekasi yang masih eksis, tetapi sudah hampir terpinggirkan adalah Topeng. Dengan sedikit modifikasi, Topeng Tambun atau yang biasa disebut dengan Topeng Blantek Bekasi kini dicoba eksistensinya lewat ekstrakurikuler untuk sekolah dasar (SD) dan SMP. Tarian lenggak-lenggok ini dulunya digunakan sebagai mata-mata pribumi pejuang Bekasi terhadap musuh. Biasanya dilakukan oleh gadis-gadis cantik yang memakai topeng. Mereka berpakaian khas dengan warna- warni yang lebih „norak‟. Mereka melakukannya dengan berkelompok. Sehingga tercipta goyangan-goyangan yang lebih terarah sekaligus menatau keadaan di sekitarnya. Saat ini topeng blantek Bekasi mulai digemari oleh siswa. Sebab selain eskul, Topeng/Ronggeng Blantek menjadi iringan setiap kegiatan di Bekasi. Sedikitnya untuk melakukan ronggeng blantek, ada sekitar 30 gerakan yang harus dihapal. Menurut Ibu Maysaroh, S.Pd, pemandu seni tari di Kec. Bekasi Selatan, bahwa tari ronggeng blantek saat ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa, hingga menarik minat baik terhadap penonton maupun pemainnya. “Bahkan saat ini sudah ada „pengdut‟ atau topeng dangdut,” kata Bu May panggilan guru yang mengajar di SDN Margajaya VI. Beberapa gerakan topeng/ronggeng blantek adalah; Rapat nindak, Koma, Talso, Pak blang, Koma, Selancar, Selancar tindak, Pak blang mundur 2x, Koma, Geol, Blang tur tangan kiri dipundak, tangan kanan diatas, Blang tur tangan kanan kiri atas, Puter goyang cendol hejo, puter, Kewer kanan, puter, Kewer Dobel/kiri kanan, puter, Kewer kanan dan koma putes. Selanjutnya; Kayak pariasi, mulai tangan kanan 1,2,3 balik ganti tangan kiri 3x, Mincik, Ganjingan 2x + goyang pundak, Blong tur 6x, Blong tur pariasi, Mincik , Silat tepak 3/silat 1, Blenggo, Silat 2, Mincik, Gibang, Goyang kepala, dan Gibang pulang. Semua gerakan memakai istilah Bekasi. Sedangkan sebagai pengiring ronggeng Blantek Bekasi diantaranya; Bonang, Kecrek, Saron, Gong, Gendang dan Rebab. “Para penabuh dan pemain pengiring/pemusik disebut Panjak,” timpal Burhaniawan, S.Pd guru SDN Margajaya V sekaligus Ketua KKG-KTK Bekasi Selatan. Untuk pakaian ronggeng lebih kental pada warn anorak seperti merah, kuning, hijau dan biru. “Ini pengaruh dari kebuday aan China,” kata Burhan. Ada 8 macam pakaian topeng blantek Bekasi, yakni; Kain pucuk rebung (sampur/batik tombak pesisir), Baju kebaya tangan susun (kebaya ¾ atau selontreng ¾, lengan tanggung dengan tiga lapis wiron dan tiga warna unsur ini mengambil pengaruh budaya keagamaan Hindu, Toka-toka (pasangan bersilang/toka-toka omyok dalam bahasa sunda). Ampreng (penutup pinggul seukuran penutup pinggul biasanya ditaruh di depan), Andong/ampok (jenis ampreng) khusus dipakai sebelum ampreng/untuk ronggeng biasa dipakai andong rawis, Slendang, Konde cepol (sumpit) untuk menahan kembang topeng yang dipakai disanggul sebagai penopang, Kembang topeng (dipakai dikepala) bentuknya terdiri dari benang wol diikat dan dibentuk lingkaran sehingga membentuk bunga. Garis tegah antara 25-30 cm sedangkan lingkaran untuk sanggul 7 cm dan jarak antara sisi dengan lubang sanggul 3 cm. Sumpit ditusuk 2 buah menyilang disanggul untuk menopang kembang topeng. " id="pdf-obj-6-2" src="pdf-obj-6-2.jpg">

Budaya Bekasi hampir punah. Penyebabnya tidak lain karena generasi „emoh‟ untuk meneruskan kebiasaan-kebiasaan yang dulu di banggakan. Namun satu diantara budaya Bekasi yang masih eksis, tetapi sudah hampir terpinggirkan adalah Topeng. Dengan sedikit modifikasi, Topeng Tambun atau yang biasa disebut dengan Topeng Blantek Bekasi kini dicoba eksistensinya lewat ekstrakurikuler untuk sekolah dasar (SD) dan SMP. Tarian lenggak-lenggok ini dulunya digunakan sebagai mata-mata pribumi pejuang Bekasi terhadap musuh. Biasanya dilakukan oleh gadis-gadis cantik yang memakai topeng.

Mereka berpakaian khas dengan warna-warni yang lebih „norak‟. Mereka melakukannya dengan berkelompok. Sehingga tercipta goyangan-goyangan yang lebih terarah sekaligus menatau keadaan di sekitarnya. Saat ini topeng blantek Bekasi mulai digemari oleh siswa. Sebab selain eskul, Topeng/Ronggeng Blantek menjadi iringan setiap kegiatan di Bekasi.

Sedikitnya untuk melakukan ronggeng blantek, ada sekitar 30 gerakan yang harus dihapal. Menurut Ibu Maysaroh, S.Pd, pemandu seni tari di Kec. Bekasi Selatan, bahwa tari ronggeng blantek saat ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa, hingga menarik minat baik terhadap penonton maupun

pemainnya. “Bahkan saat ini sudah ada „pengdut‟ atau topeng dangdut,” kata Bu May panggilan guru

yang mengajar di SDN Margajaya VI.

Beberapa gerakan topeng/ronggeng blantek adalah; Rapat nindak, Koma, Talso, Pak blang, Koma, Selancar, Selancar tindak, Pak blang mundur 2x, Koma, Geol, Blang tur tangan kiri dipundak, tangan kanan diatas, Blang tur tangan kanan kiri atas, Puter goyang cendol hejo, puter, Kewer kanan, puter, Kewer Dobel/kiri kanan, puter, Kewer kanan dan koma putes.

Selanjutnya; Kayak pariasi, mulai tangan kanan 1,2,3 balik ganti tangan kiri 3x, Mincik, Ganjingan 2x + goyang pundak, Blong tur 6x, Blong tur pariasi, Mincik , Silat tepak 3/silat 1, Blenggo, Silat 2, Mincik, Gibang, Goyang kepala, dan Gibang pulang. Semua gerakan memakai istilah Bekasi.

Sedangkan sebagai pengiring ronggeng Blantek Bekasi diantaranya; Bonang, Kecrek, Saron, Gong,

Gendang dan Rebab. “Para penabuh dan pemain pengiring/pemusik disebut Panjak,” timpal

Burhaniawan, S.Pd guru SDN Margajaya V sekaligus Ketua KKG-KTK Bekasi Selatan.

Untuk pakaian ronggeng lebih kental pada warn anorak seperti merah, kuning, hijau dan biru. “Ini pengaruh dari kebudayaan China,” kata Burhan.

Ada 8 macam pakaian topeng blantek Bekasi, yakni; Kain pucuk rebung (sampur/batik tombak pesisir), Baju kebaya tangan susun (kebaya ¾ atau selontreng ¾, lengan tanggung dengan tiga lapis wiron dan tiga warna unsur ini mengambil pengaruh budaya keagamaan Hindu, Toka-toka (pasangan bersilang/toka-toka omyok dalam bahasa sunda). Ampreng (penutup pinggul seukuran penutup pinggul biasanya ditaruh di depan), Andong/ampok (jenis ampreng) khusus dipakai sebelum ampreng/untuk ronggeng biasa dipakai andong rawis, Slendang, Konde cepol (sumpit) untuk menahan kembang topeng yang dipakai disanggul sebagai penopang, Kembang topeng (dipakai dikepala) bentuknya terdiri dari benang wol diikat dan dibentuk lingkaran sehingga membentuk bunga. Garis tegah antara 25-30 cm sedangkan lingkaran untuk sanggul 7 cm dan jarak antara sisi dengan lubang sanggul 3 cm. Sumpit ditusuk 2 buah menyilang disanggul untuk menopang kembang topeng.