Anda di halaman 1dari 1

LABORATORIUM METALURGI PROSES DEPARTEMEN METALURGI & MATERIAL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA I.

TUJUAN PRAKTIKUM Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui sifat-sifat pasir cetak dan hubungan antara sifat-sifat pasir cetak dengan proses penuangan yang meliputi : a. Distribusi besar butir pasir. b. Kadar air atau kadar aditif dalam pasir cetak. c. Hubungan antara permeabilitas, kekuatan geser, dan kekuatan tekan terhadap kadar air serta bahan aditif dalam pasir cetak. d. Mampu bentuk (flowability) dari pasir cetak. e. Perbedaan karakteristik antara pasir basah (green sand), pasir kering (dry sand), dan pasir kering tanpa pemanasan (holding sand). II. Grafik Percobaan 3. Grafik Distribusi Pasir Cetak 2. 1.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PASIR CETAK


Pengaruh Kadar Bentonit terhadap Kekuatan Geser

NPM / KELOMPOK TANGGAL DIKUMPULKAN TANGGAL DITERIMA KETERANGAN

: 1006704530 / 6 : 24 APRIL 2013 : 24 APRIL 2013 :

Pengaruh Kadar Air terhadap Kekuatan Tekan

III. Analisa Percobaan 1. Distribusi Pasir Cetak Jenis pasir cetak yang digunakan pada praktikum kali ini adalah pasir silika. Dimana, pasir silika umumnya memiliki ukuran butir yang beragam. Menurut teori, distribusi pasir yang mendekati ideal adalah jika 2/3 dari total jumlah pasir yang digunakan berada pada tiga nomor ayakan (sieve) yang berurutan. Untuk mengetahui apakah pasir tersebut ideal atau tidak untuk dipakai sebagai bahan cetakan harus dilakukan pengayakan. Distribusi pasir yang tidak berbeda jauh, pergerakan aliran pasir akan lebih baik sehingga flowabilitas pasirnya meningkat. Selain itu, untuk mendapatkan sifat permukaan yang baik (akurasi tinggi dan kehalusan permukaan) dan permeabilitas yang diinginkan harus digunakan pasir cetak dengan distribusi butir yang seragam dan halus (nilai GFN atau Grain Fine Number harus besar). Nilai GFN ini selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kecocokan pasir tersebut untuk digunakan sebagai bahan cetakan pada pengecoran logam tertentu. Pengujian distribusi pasir dilakukan dengan cara menyusun ayakan sesuai dengan mesh yang paling kecil hingga yang paling besar, kemudian diletakkan pada mesin pengguncang. Semakin besar nomor mesh pada sieve maka butir pasirnya makin halus. Sehingga butir-butir yang besar akan tertahan pada ayakan dengan mesh bernomor kecil. Data percobaan distribusi pasir cetak yang kami peroleh adalah pada tabel 1 di bawah ini: Tabel 1. Data perhitungan nilai GFN

kehalusan ukuran butir, dimana semakin besar nilai GFN maka pasir tersebut memiliki ukuran butir yang kecil dan memiliki permukaan yang halus, flowabilitas yang baik, serta permeabilitas yang rendah karena jarak terlalu rapat sehingga gas susah untuk keluar. Apabila nilai GFN tersebut semakin kecil maka pasir tersebut memiliki ukuran butir yang besar dimana memiliki permukaan yang kasar, flowabilitas yang buruk, permeabilitas yang tinggi karena memiliki banyak rongga. Untuk pengecoran logam dengan titik lebur yang tinggi maka butir pasir yang cocok digunakan adalah pasir dengan ukuran butir yang besar dengan titik lebur yang besar pula, sedangkan untuk pengecoran logam dengan titik lebur yang rendah maka butir pasir yang cocok digunakan adalah pasir dengan ukuran butir yang kecil karena butir ukuran butir kecil memiliki titik lebur yang rendah. Berdasarkan perhitungan didapat nilai GFN sebesar 36,69. Nilai ini menunjukkkan bahwa pasir cetak tersebut sangat kasar. Dalam tabel dari literatur di bawah, pasir cetak yang digunakan pada praktikum ini tidak cocok untuk pengaplikasian pengecoran logam-logam tersebut. Apabila pasir cetak tersebut tetap digunakan untuk pengecoran maka akan didapatkan produk cor dengan surface finish yang kasar.
Tabel 2. Besaran Nilai GFN umtuk Pengaplikasian Pengecoran Logam

Jenis Logam 4. Grafik Distribusi Pasir Kumulatif

GFN 130 - 140 65 - 80 60 - 75 40 - 60

6.

Pengaruh Kadar Air terhadap Kekuatan Geser

mesh berat awal berat akhir Wn Sn Wn x Sn 70 259,5 293,5 34 0 0 80 261,5 273,5 12 70 840 100 252,5 259 6,5 80 520 120 252 257,5 5,5 100 550 140 245 247 2 120 240 170 243 243,5 0,5 140 70 270 240 240 0 170 0 400 148,5 148,5 0 270 0 alas 479 479 0 400 0 (Wn) = 60,5 (WnxSn) = 2220

Paduan Al Paduan Mg Besi Tuang Kelabu Baja 2. Kadar Bentonit dalam Pasir Cetak

5.

Pengaruh Kadar Bentonit terhadap Kekuatan Tekan

7.

Pengaruh Kadar Bentonit terhadap Flowabilitas Dari data di atas, jumlah pasir terbanyak pada tiga nomor sieve yang berurutan (nomor sieve #70, #80 dan #100) adalah 52,5 gram. Menurut literatur, yang menyebabkan suatu pasir dikatakan ideal untuk dijadikan bahan cetakan adalah jika minimal 2/3 dari total jumlah pasir yang digunakan berada pada tiga nomor ayakan (sieve) yang berurutan. Pada praktikum ini 2/3 dari total jumlah pasir adalah 40,33 gram. Oleh sebab itu, pasir yang diperoleh pada saat percobaan adalah sudah termasuk pasir yang ideal untuk dijadikan bahan cetakan. Sebab, terdapat tiga mesh yang berurutan yang menghasilkan 2/3 dari total jumlah pasir yang digunakan. Sementara dari tabel 1, kita dapat menghitung nilai GFN (grain fine number) yang berfungsi untuk membandingkan

Dalam grafik pengaruh kadar bentonit terhadap kekuatan tekan, terlihat perbedaan yang signifikan pada dry sand. Pada dry sand didapatkan kekuatan tekan tertinggi terjadi ketika kadar bentonit 6%. Begitu pula dengan tekanan geser untuk dry sand yang tertinggi ketika kadar bentonit 6%. Sedangkan untuk kekuatan tekan dan geser untuk green sand dan holding sand tidak terdapat perubahan yang signifikan. Sehingga dapat disimpulkan untuk dry sand kadar bentonit yang optimum adakah 6%. Hubungan antara flowabilitas dan kandungan bentonit adalah semakin tinggi kadar bentonit maka flowabilitas semakin rendah. Tetapi pada ketiga spesimen memiliki flowabilitas yang semakin besar seiring dengan penambahan kadar bentonit, kecuali pada holding sand dengan kadar bentonit 8% yang mengalami penurunan flowability. Hal ini kemungkinan karena kadar komposisi campuran pasir yang kurang pas (terlalu banyak bentonit dan terlalu sedikit air) pada ketiga kondisi tersebut. Sehingga menghasilkan kepadatan yang berbeda setelah dilakukan ramming. Hal ini yang kemudian mempengaruhi flowabilitas spesimen. Berdasarkan literatur hubungan antara kadar bentonit dengan kekuatan didapatkan bahwa kecenderungan kekuatan