Anda di halaman 1dari 11

HERNIA

A. PENGERTIAN
Hernia adalah protusio (penonjolan) abnormal suatu organ atau bagian suatu organ melalui lubang (apertura) pada stuktur disekitarnya, umumnya protusio organ abdominal melalui celah dari dinding abdomen. (Sue Hinchliff, 1999 : 206). Hernia adalah penonjolan dari organ internal melalui pembentukan abnormal atau lemah pada otot yang mengelilinginya. (Winter Griffith, 1997 : 340). Hernia adalah tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dinding rongga dimana organ tersebut seharusnya berada yang didalam keadaan normal tertutup. (suster nada, 21 juli 2007). B. ETIOLOGI 1. Lemahnya dinding rongga perut. Dapat ada sejak lahir atau didapat kemudian dalam hidup. 2. Akibat dari pembedahan sebelumnya. 3. Kongenital a. Hernia congenital sempurna Bayi sudah menderita hernia kerena adanya defek pada tempat tempat tertentu. b. Hernia congenital tidak sempurna Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan ( 0 1 tahun) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan, batuk, menangis). 4. Aquisial adalah hernia yang buka disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi disebabkan oleh fakor lain yang dialami manusia selama hidupnya, antara lain : a. Tekanan intraabdominal yang tinggi. Banyak dialami oleh pasien yang sering mengejan yang baik saat BAB maupun BAK. b. Konstitusi tubuh. Orang kurus cenderung terkena hernia jaringan ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia karena banyaknya jaaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong pada LMR. c. Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk. d. Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intraabdominal. e. Sikatrik. f. Penyakit yang melemahkan dinding perut. g. Merokok h. Diabetes melitus C. BAGIAN DAN JENIS HERNIA Bagian bagian hernia : 1. Kantong hernia

Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia intertitialis. 2. Isi hernia Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum). 3. Pintu hernia Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia. 4. Leher hernia Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia. 5. Locus minoris resistence (LMR) Klasifikasi hernia : 1. Menurut lokasinya a. Hernia inguinalis adalah hernia yang terjadi dilipatan paha. Jenis ini merupakan yang tersering dan dikenal dengan istilah turun berok atau burut. b. Hernia umbilikus adalah di pusat. c. Hernia femoralis adalah di paha. 2. Menurut isinya a. Hernia usus halus b. Hernia omentum 3. Menurut penyebabnya a. Hernia kongenital atau bawaan b. Hernia traumatica c. Hernia insisional adalah akibat pembedahan sebelumnya. 4. Menurut terlihat dan tidaknya a. Hernia externs, misalnya hernia inguinalis, hernia scrotalis, dan sebagainya. b. Hernia interns misalnya hernia diafragmatica, hernia foramen winslowi, hernia obturaforia.

5. Menurut keadaannya a. Hernia inkarserata adalah bila isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali kedalam rongga perut disertai akibat yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia irrenponibel. b. Hernia strangulata adalah jika bagian usus yang mengalami hernia terpuntir atau membengkak, dapat mengganggu aliran darah normal dan pergerakan otot serta mungkin dapat menimbulkan penyumbatan usus dan kerusakan jaringan. 6. Menurut nama penemunya a. Hernia petit yaitu hernia di daerah lumbosacral. b. Hernia spigelli yaitu hernia yang terjadi pada linen semi sirkularis diatas penyilangan vasa epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominalis bagian lateral. c. Hernia richter yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit.

7. Menurut sifatnya a. Hernia reponibel adalah bila isi hernia dapat keluar masuk. Isi hernis keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. b. Hernia irreponibel adalah bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. 8. Jenis hernia lainnya a. Hernia pantolan adalah hernia inguinalis dan hernia femuralis yang terjadi pada satu sisi dan dibatasi oleh vasa epigastrika inferior. b. Hernia scrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke scrotum secara lengkap. c. Hernia littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum meckeli. D. PATHOFISIOLOGI Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke 8 dari kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup, karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi kerana usia lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk batuk kronik, bersin yang kuat dan mengangkat barang barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding rongga yang telah melemas akibat trauma, hipertropi protat, asites, kehamilan, obesitas, dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua. Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila terjadi obtruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah, konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar. Bila isi perut terjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses. Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis.

E. PENATALAKSANAAN 1. Terapi umum Terapi konservatif sambil menunggu proses penyembuhan melalui proses alami dapat dilakukan pada hernia umbilikalis pada anak usia dibawah 2 (dua) tahun. Terapi konservatif berupa alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset pada hernia ventralis sedangkan pada hernia inguinal pemakaian tidak dianjurkan karena selain tidak dapat menyembuhkan alat ini dapat melemahkan otot dinding perut. Reposisi Tindakan memasukkan kembali isi hernia ketempatnya semula secara hati hati dengan tindakan yang lembut tetapi pasti. Tindakan ini hanya dapat dilakukan pada hernia hernia reponibilis dengan menggunakan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan yang lain memasukkan isi hernia melalui leher hernia tadi. Tindakkan ini terkadang dilakukan pada hernia irreponibilis apabila pasien takut operasi, yaitu dengan cara : bagian hernia dikompres dingin, penderita diberi penenang valium 10 mg agar tertidur, pasien diposisikan trendelenberg. Jika reposisi tidak berhasil jangan dipaksa, segera lakukan operasi. Suntikan Setelah reposisi berhasil suntikkan zat yang bersifat sklerotik untuk memperkecil pintu hernia. Sabuk hernia Digunakan pada pasien yang menolak operasi dan pintu hernia relatif kecil. 2. Hernioplastik endoscopy a. Hernia inguinalis Pengobatan konservatif Terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulata, kecuali pada pasien anak anak. Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedatif dan kompres es diatas hernia. Bila reposisi ini berhasil anak disiapkan untuk operasi besok harinya. Jika reposisi hernia tidak berhasil, dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera. Pengobatan operatif Pengobatan operatif merupakan satu satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operatif sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniatomy dan herniaraphy. - Herniotomy Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai kelehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlenketan, kemudian reposisi. Kantong hernia dijahit, ikat setinggi mungkin lalu dipotong. - Hernioraphy Dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. b. Hernia incarserata Tidak ada terapi konservatif untuk hernia jenis ini. Yang harus dilakukan adalah operasi secepatnya.

Jenis operasi : herniotomy. Prinsipnya adalah membuka dan memotong kantong hernia
kemudian mengeluarkan isi kantong hernia (usus) dan mengembalikannya ke tempat asalnya hingga ileus hilang. Pada hernia irreponibils dapat kita perkirakan hal hal yang akan terjadi pada isi hernia berdasarkan perhitungan waktu yaitu : a) kurang dari 24 jam setelah diagnosis, dapat di anggap isi hernia baru saja terjepit. b) 24 48 jam isi hernis mulai mengalami ischemia. c) 48 72 jam mulai terjadi ganggren. d) Lebih 3 hari isi hernia nekrosis. Selain dalam hitungan waktu, keadaan isi hernia dapat dilihat dari : a) Warna usus (membiru, ischemic atau nekrosis) b) Penilaian vaskularisasi Berikan NaCl hangat selama 5 menit pada usus, bila terjadi perubahan warna dari kebiruan menjadi kemerahan, berarti usus masih baik (viable). Bila setelah pemberian NaCl hangat warna usus masih tetap biru berarti usus telah mengalami nekrose (non - viable), harus direseksi secara end to end. c) Kemampuan peristaltic usus Bila setelah pemberian NaCl hangat terjadi peristaltic berarti keadaan usus masih baik (viable). Bila keadaan umum pasien baik tetapi ususnya non viable, maka setelah herniotomy dilakukan reseksi usus non viable tadi dikeluarkan dan diletakkan di atas paha yang dikenal dengan istilah VORLAGERUNG (letakan di muka / di luar). Dibuat lubang pada usus untuk keluarnya feses. Setelah keadaan umum pasien membaik baru operasi dapat dilanjutkan. Indikasi vorlagerung : a) usus non viable b) KU pasien jelek c) Narcose yang lama F. DIET dan AKTIVITY Aktivity : hindari mengangkat barang yang berat sebelum atau sesudah pembedahan. Diet : tidak ada diet khusus. Tetapi seetelah operasi diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi. Kemudian makan dengan gizi seimbang. Tingkatkan masukan serat dan tinggi cairan untuk mencegah sembelit dan mengejan selama buang air besar. Hindari kopi, teh, coklat, minumam berkarbonasi, minuman beralkohol, dan setiap makanan atau bumbu yang memperburuk gejala.

G. MEDICATIONS a. Analgesik b. Antibiotik untuk membasmi infeksi H. NURSING MANAJEMENT 1. Pengkajian a. Data subjektif - Sebelum operasi Adanya benjolan diselangkangan atau kemaluan Nyeri didaerah benjolan meski jarang dijumpai kalau ada biasanya dirasakan didaerah

epigastrium atau dearah paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu segmen usus halus masuk kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual muntah, kembung. Konstipasi Bayi menangis terus Pada saat bayi menangis atau mengejan dan batuk batuk kuat timbul benjolan. Pada hernia strangulata suhu badan dapat meninggi atau normal. Pada hernia obturatoria didapat keluhan nyeri seperti ditusuk tusuk dan parastesia didaerah panggul, lutut, bagian medial paha akibat penekanan pada N. Obturatorius. Riwayat penyakit terdahulu : Riwayat batuk kronis dan tumor intraabdominal, bedah abdominal. Riwayat psikososial : klien merasa terganggu dengan adanya penyakitnya, klien tidak dapat beraktivitas dengan bebas. Riwayat penyakit sekarang : merasa ada benjolan di skrotum bagian kanan atau kadang kadang mengecil / mneghilang. Bila menangis, batuk, mengangkat benda berat akan timbul benjolan lagi, timbul rasa nyeri pada benjolan dan timbul rasa kemeng disertai mual muntah. Akibat komplikasi terdapat shock, demam, asidosis metabolik, abses, fistel, peritonitis. - Sesudah operasi Nyeri didaerah operasi Lemas Pusing Mual, kembung b. Data objektif - Inspeksi Hernia reponibel terdapat benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin atau mengedan dan mneghilang setelah berbaring. Hernia inguinal - Lateralis : uncul benjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral ke medial, tonjolan berbentuk lonjong. - Medialis : tonjolan biasanya terjadi bilateral, berbentuk bulat. Hernia skrotalis : benjolan yang terlihat sampai skrotum yang merupakan tojolan lanjutan dari hernia inguinalis lateralis. Hernia femoralis : benjolan dibawah ligamentum inguinal. Hernia epigastrika : benjolan dilinea alba. Hernia umbilikal : benjolan diumbilikal. Hernia perineum : benjolan di perineum. - Palpasi Caranya : Titik tengah antar SIAS dengan tuberkulum pubicum (AIL) ditekan lalu pasien disuruh mengejan. Jika terjadi penonjolan di sebelah medial maka dapat diasumsikan bahwa itu hernia inguinalis medialis. Titik yang terletak di sebelah lateral tuberkulum pubikum (AIM) ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateral titik yang kita tekan maka dapat diasumsikan sebagai nernia inguinalis lateralis.

Titik tengah antara kedua titik tersebut di atas (pertengahan canalis inguinalis) ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateralnya berarti hernia inguinalis lateralis jika di medialnya hernia inguinalis medialis. Hernia inguinalis : kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dua permukaan sutera, tanda ini disebut sarung tanda sarung tangan sutera. Kantong hernia yang berisi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dalam hal hernia dapat direposisi pada waktu jari masih berada dalam annulus eksternus, pasien mulai mengedan kalau hernia menyentuh ujung jari berarti hernia inguinalis lateralis dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. lipat paha dibawah ligamentum inguina dan lateral tuberkulum pubikum.Hernia femoralis : benjolan lunak di Hernia inkarserata : nyeri tekan. - Perkusi Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata. Hipertimpani, terdengar pekak, - Auskultasi Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada hernia yang mengalami obstruksi usus (hernia inkarserata). - Colok dubur Tonjolan hernia yang nyeri yang merupakan tanda Howship romberg (hernia obtutaratoria). - Pemeriksaan test diagnostik : rongent, USG. - Tanda tanda vital : temperatur meningkat, pernapasan meningkat, nadi meningkat, tekanan darah meningkat. - Hasil laboratorium Leukosit > 10.000 18.000 / mm3 Serum elektrolit meningkat.

2. Diagnosa
a. Nyeri akut b/d agen injuri (biologi, kimia fisik, psikologis). NOC : - Mengenali faktor penyebab - Mengenali lamanya onset sakit - Mengunakan metode pencegahan non analgesik untuk mengatasi nyeri - Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan - Mencari bantuan tenaga kesehatan - Melaporkan gejala kepada petugas kesehatan - Menggunakan sumber sumber yang tersedia - Mengenali gejala gejala nyeri - Mencatat pengalaman tentang nyeri sebelumnya - Melaporkan nyeri yang sudah terkontrol Keterangan penilaian NOC : - Tidak dilakukan sama sekali - Jarang dilakukan - Kadang dilakukan - Sering dilakukan - Selalu dilakukan NIC - Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi. - Observasi reaksi non verbal dan ketidaknyamanan. - Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeeri pasien. - Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri. - Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau. - Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan. - Kontrol lingkungan yang dapat menpengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan. - Kurangi faktor presipitasi nyeri. - Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi, dan interpersonal). - Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi. - Ajarkan tentang tehnik non farmakologi. - Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri. b. Defisit volume cairan b/d kehilangan volume cairan secara aktif. NOC Indikator : - Tekanan darah dalam batas normal. - Rata rata tekanan arteri dalam batas normal. - Tekanan vena sentral dalam batas normal. - Tekanan paru paru dalam batas normal. - Nadi perifer teraba. - Tidak ada hipertensi ortostatik

- Keseimbangan intake dan output selama 24 jam. - Tidak ada suara napas tambahan. - Berat badan stabil. - Tidak ada mata cekung - Tidak ada kebingungan - Tidak haus berlebihan - Kelambaban kulit dalam batas normal - Elektrolit serum dalam batas normal - Nilai hematokrit dalam batas normal - BJ urin dalam batas normal Keterangan penilaian NOC : - Tidak dilakukan sama sekali - Jarang dilakukan - Kadang dilakukan - Sering dilakukan - Selalu dilakukan NIC - Monitor berat badan setiap hari - Pertahankan intake dan output yang akurat - Monitor status hidrasi (membran mokusa) yang adekuat - Monitor status nutrisi - Monitor intake dan output. c. Resiko infeksi b/d trauma, kerusakan jaringan. NOC : Indikator : - Mengetahui resiko. - Memonitor faktor resiko lingkungan. - Memonitor resiko dari tingkah laku. - Mengembangkan kontrol resiko secara efektif. - Memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko menggunakan. dukungan personal untuk mengontrol resiko. - Berpartisipasi dalam screening untuk mengidentifikasi resiko. - Memonitor perubahan status kesehatan. Keterangan penilaian NOC : - Tidak dilakukan sama sekali - Jarang dilakukan - Kadang dilakukan - Sering dilakukan - Selalu dilakukan NIC: - Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan, panas, nyeri, tumor, dan adanya fungsiolaesa. - Kaji temperatur klien tiap 4 jam. - Catat dan laporkan nilai laboratorium (leukosit, protein, serum, albumin). - Kaji warna kulit, kelembaban tesktur, dan turgor.

- Gunakan strategi untuk mencegah infeksi nosokomial. - Tingkatkan intake cairan. - Istirahat yang adekuat - Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan. - Gunakan standard precaution dan gunakan sarung tangan selama kontak dengan darah, membran mukosa yang tidak utuh. - Ikuti transmisi pencegahan dasar untuk udara, droplet, dan kontak kontak tranmitted microorganisme. - Ganti IV line sesuai dengan aturan yang berlaku. - Pastikan perawatan aseptik pada IV line. - Pastikan tehnik perawatan luka secara tepat. - Dorong pasien untuk istirahat. - Berikan terapi antibiotak sesuai instruksi. - Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat. http://rahimul.blogspot.com/2008/09/asuhan-keperawatan-hernia.html

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L.J. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentas iKeperawatan. Edisi 2. Alih bahasa Monica Ester. EGC: Jakarta Doenges, M.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Pasien, Alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC: Jakarta ______, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Pasien, Edisi 3, Alih bahasa I Made Kariasa. EGC: Jakarta NANDA, 2006. Diagnosa Keperawatan. PSIK-FK UGM: Yogyakarta Wilkinson, J.M, 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. EGC: Jakarta http://www.geocities.com/situsgratis3in1/artikel-kesehatan2.htlm. Ditulis oleh Rizal tahun 2007 dan diakses tanggal 17 Juli 2008 pukul 10.00 WIB. http://www.kompas.com/kesehatan/news. Ditulis oleh Romi tahun 2006 dan diakses tanggal 17 Juli 2008 pukul 10.00 WIB. http://susternada.blogspot.com/2007/07/hernia.html. Ditulis oleh Suster Nanda tahun 2007 dan diakses tanggal 19 Mei 2009 pukul 16.00 WIB. http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2008/12/askep-hernia.html. Ditulis oleh Khaidir tahun 2007 dan diakses tanggal 19 Mei 2009 pukul 16.00 WIB. http://ilmu-ilmukeperawatan.blogspot.com/2009/03/download-asuhan-keperawatanmedikal.html. Ditulis oleh Samsudin tahun 2007 dan diakses tanggal 19 Mei 2009 pukul 16.00 WIB. http://rahimul.blogspot.com/2008/09/asuhan-keperawatan-hernia.html. Ditulis oleh Rahimul tahun 2009 dan diakses tanggal 19 Mei 2009 pukul 16.00 WIB.