Anda di halaman 1dari 20

UROLITIASIS

Batu Pada Saluran Kencing


Batu saluran kencing merupakan penyakit yang sering terjadi, yang menimbulkan rasa sakit hebat dan dapat berakibat kegagalan fungsi ginjal apabila tidak mendapat penanganan secara cepat dan tuntas. Di Amerika Serikat insiden batu saluran kencing sekitar 36 setiap 100.000 penduduk pertahun. Di Indonesia batu saluran kencing merupakan penyakit penyebab gagal ginjal nomer 2 bersama sama infeksi saluran kencing. Patogenesis batu saluran kencing masih belum jelas, banyak faktor yang berperan , namun penelitian terhadap batu ini tidak banyak dilakukan oleh para ahli. Pada awalnya ahli bedah berpendapat tindakan bedah sudah memecahkan masalah, tetapi pada akhirnya tindakan bedah yang diikuti dengan penanganan secara konservatif hasilnya lebih memuaskan. Untuk penanganan batu saluran kencing secara konservatif harus diketahui patogenesis, jenis batu dan ketepatan diagnosa. Analisa laboratorium diperlukan untuk mengetahui jenis, sifat dan komposisi batu. II. PATOGENESIS Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti terjadinya batu saluran kencing. Diduga akibat interaksi antara faktor genetik dengan beberapa faktor biologik, serta faktor lain. Faktor genetik yang diduga berpengaruh adalah : - septiuria, - hiperkalsiuria primer, - dan hiperoksaliuria primer. Adapun faktor biologiknya adalah : - supersaturasi urin, - kekurangan faktor proteksi, - perubahan pH urin - nucleasi serta faktor yang dapat melekatkan kristal tubulus renalis. Sedangkan faktor lain yang menunjang terjadinya batu adalah : - jenis kelamin : pria : wanita = 3:1 - ras : lebih sering ditemukan di Asia dan Afrika, - faktor keturunan - kebiasaan minum: banyak minum meningkatkan diuresis mencegah terjadinya batu - mobilitas: orang yang banyak bergerak mempunyai resiko lebih kecil dibanding orang yang kurang bergerak (banyak duduk) - sosial ekonomi: batu saluran kencing bagian atas lebih banyak diderita oleh masyarakat dengan sosial ekonomi tinggi (lebih banyak mengkonsumsi protein hewani dan karbohidrat), dan sebaliknya penderita dari tingkat sosial ekonomi rendah (vegetarian) lebih banyak menderita batu saluran kencing bagian bawah. - Geografis : penduduk di daerah dengan suhu panas (tropika) diduga kuat mempunyai resiko lebih tinggi, karena produksi keringat yang lebih banyak sehingga mengurangi produksi urin. - Infeksi: belum jelas apakah infeksi menyebabkan terjadinya batu atau sebaliknya. Supersaturasi merupakan penyebab terpenting dalam proses terjadinya batu saluran kencing. Supersaturasi adalah terdapatnya bahan tertentu di dalam urin yang melebihi batas kemampuan cairan urin untuk melarutkannya. Bahan-bahan tersebut adalah garam-garam dari oksalat, asam urat, sistein dan xantin. Garam tersebut apabila dalam konsentrasi yang tinggi disertai dengan pengurangan volume urin akan mengakibatkan terjadinya kristalisasi. Faktor biologis lain yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya batu saluran kencing adalah : 1. Faktor Proteksi : 1

Di dalam urin normal terdapat faktor proteksi seperti : magnesium, sitrat, pirofosfat dan berbagai protein enzim seperti glikopeptida zinc, ribonuceleid acid dan khondroitin sulfat, neprocalcim A, uropontin dan glicosanminoglycan. Ketiga yang terakhir merupakan proteksi batu kalsium. Bahan ini dapat menghambat pembentukan batu dengan berbagai cara, seperti: memecah kristal yang sudah terbentuk, membungkus kristal sehimgga tidak melekat dan memebuat garam-garam urin guna menghambat pembentukan kristal. Pada orang yang cenderung menderita batu saluran kencing, kadar zat proteksi di atas rendah, sementara infeksi akan mengurangi kadar dan aktivitas bahan proteksi dalam urin. 2. PH Urin : PH urin dalam sehari kadarnya bervariasi, tetapi pH rata-rata batas toleransi adalah antara 5,6 6,5. Perubahan pH urin ke arah lebih asam atau lebih basa akan mendorong terbentuknya kristal garam. Urin dengan pH asam memudahkan terbentuknya batu asam urat, sedangkan urin dengan pH basa akan memudahkan terbentuknya batu kalsium dan batu struvit. 3. Nucleasi Adanya partikel debris, ireguler di dinding saluran kencing. Kristal yang terbentuk dapat merupakan inti kristal untuk terbentuknya batu. Debris sendiri terjadi karena adanya benda asing, stagnasi aliran urin, obstruksi, kelainan congenital ginjal (ginjal kistik, divertikel kolitis, medulla sponge kidney) dan infeksi. Beberapa Sifat Batu Saluran Kencing : 1. Batu Kalsium Penyebab adanya batu kalsium tidak diketahui dengan pasti, sehingga adanya batu ini di saluran kencing disebut Nephrolithiasis Idiopatic. Diduga terjadinya batu ini karena adanya ketidakseimbangan antara faktor pemicu dan penghambat pembentuk batu berupa hiperkalsiuri, hiperkalsemi, hiperoksaloria dan rendahnya kadar sitrat. Faktor genetik diperkirakan berperan kurang lebih 45 % dari batu kalsium ini. Patogenesis terjadinya hiperkalsiuri: a. Absorbsi kalsium yang berlebih di dalam intestinum, didukung faktor genetik (diduga ada defek gen yang mengetur regulasi kalsitriol, hormon yang berperan dalam meningkatkan absorbsi kalsium). b. Kelebihan klorid (ion negatif) : Kalsium dalah ion positif yang mampu bergabung satu dengan yang lain, artinya kelebihan klorid akan setara dengan kelebihan kalsium. c. Kebocoran kalsium pada ginjal (renal kalsium leak) merupakan kegagalan filtrasi kalsium pada glomerulus sehingga terjad hiperkalsiuri. d. Kelebihan Sodium : Absorbsi kalsium di tubuli ginjal diikuti absorbsi sodium dan air. Kadar sodium pada urin yang tinggi akan menunjukkan kadar kalsium yang tinggi pula. Adanya defek system tubuli ginjal mengakibatkan ketidak seimbangan anatara sodium dan fosfat yang menyebabkan peningkatan kadar kalsium dalam urin. Asupan garam yang berlebihan juga mengakibatkan hal yang sama. e. Beberapa jenis kanker dan sarcoidosis dapat mengakibatkan hiperkalsiuri. f. Beberapa obat (hormone tyroid, diuretica) dapat menimbulkan hiperkalsiuri. Patogenesis terjadinya hiperkalsemi: Terjadi bila ada pemecahan di dalam tulang yang mengakibatkan lepasnya ion kalsium ke dalam darah, hal ini terjadi pada keadaan : a. Hiperparatiroidisme, + 5 % kasus batu kalsium. b. Renal tubuler asidosis, hal ini dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa, keadaan ini tidak hanya mengakibatkan kadar kalsium di dalam darah meningkat, tetapi juga dapat mengurangi kadar sitrat dalam urin. 2

Patogenesis terjadinya hiperoksaloria: Oksalat biasanya disebut sebagai asam oksalat yang berkombinasi dengan kalsium membentuk batu kalsium oksalat, yang merupakan batu komposisi terbanyak. Hiperoksaloria terjadi pada 30% batu kalsium, dan merupakan penyebab tersering dibanding dngan hiperkalsiuri. Namun demikian banyak batu oksalat tidak selalu mengeluarkan oksalat lebih banyak di urin dibanding pada orang normal. Tubuh manusia tidak dapat memetabolisme oksalat, olah karenanya ekskresi melalui ginjal merupakan satu cara untuk mengeliminasi. Apa bila terjadi gagal ginjal maka akan terjadi deposit oksalat pada organ tubuh, seperti: system konduksi jantung, parenchim ginjal, ruang sendi, dinding pembuluh darah, tulang dsb. Pada hiperoksaloria dapat berakibat batu kalsium oksalat berulang dan gagal ginjal. Patogenesis rendahnya kadar sitrat (Hipositraturia) : Walaupun penyebab rendahnya kadar sitrat belum diketahui dengan pasti, beberapa factor diduga sebagai pencetusnya yaitu : Renal tubulus asidosis, defisiensi potassium, atau magnesium, ISK dan diare kronik. Beberapa ahli membedakan Batu Kalsium menjadi : 1. Primer / Idiopatik (80-90% kasus) disebabkan beberapa kelainan metabolisme berupa : hiperabsorbsi, atau penurunan reabsorbsi di ginjal. 2. Sekunder, dimungkinkan akibat hiperparatiroid, hiperoksaloria primer, asidosis renal tubuler. metabolisme berupa : hiperabsorbsi, penurunan reabsorbsi di ginjal. 2. Batu Asam Urat Terjadi karena konsentrasi kristal asam urat yang sangat tinggi di urin, alaupun tanpa hiperurikemi dan tanpa hiperurikosuri. Kristal tersebut berasal dari purin, sebuah hasil akhir metabolisme protein. Pembentukan batu tidak selalu berhubungan dengan keasaman urin, walaupun pada sebagian besar batu asam urat terjadi pada keasaman urin persisten (80-90%), tetapi dapat pula terjadi pada urin normal atau basa. Beberapa factor yang berperan dalam terjadinya hiperurikosuri adalah : a. factor genetic b. diet tinggi protein hewani c. penyakit Gout d. obat-obatan: khemoterapi, diuretic, salisilat e. keracunan logam timbal f. penyakit darah (leukemia, mieloma multiple, limfoma) g. diare kronik. Hiperurikosuri juga memegang peranan dalam pembentukan dalam pembentukan batu kalsium oksalat, dalam hal ini urat berperan sebagai inti (nidus) dari batu, kemudian diselaputi oleh kristal oksalat. 3. Batu Infeksi Terjadi akibat infeksi saluran kencing oleh kuman Proteus dan beberapa strain E.Coli yang dapat merubah urea menjadi amonia dan CO2. Batu infeksi mengandung magnesium ammonium fosfat dengan kombinasi yang bervariasi dengan kalsium fosfat. Batu jenis ini di ginjal biasanya tumbuh menjadi besar yang memenuhi pelvis ginjal (stag horn calculi) yang lama kelamaan bisa merusak ginjal.

Faktor yang berpengaruh terhadap terbentuknya batu infeksi adalah : a. pH urin yang tinggi (alkalis) b. konsentrasi ammonium yang tinggi c. kenaikan jumlah nucleoprotein akibat proses peradangan 3

d. penurunan jumlah sitrat dan pirofosfat akibat degenerasi kuman. Batu jenis ini biasanya didapatkan pada penderita yang sebelumnya mengalami penyempitan akibat kelainan congenital, prostate hipertrofi dan penyempitan ureter. III. GEJALA KLINIK 1. Anamnesa Abdominal pain atau nyeri perut, spesikasi keluhan berdasarkan letak batu. LOKASI BATU KELUHAN GINJAL Nyeri pinggang ringan, hematuria URETER PROXIMAL Colic ginjal, nyeri pinggang, nyeri abdomen atas URETER TENGAH Colic ginjal, nyeri pinggang, nyeri abdomen depan URETER DISTAL Colic ginjal, nyeri pinggang, nyeri abdomen depan, disuria, urinaria frekwency 2. Pemeriksaan Fisik a. Nyeri ketuk pinggang atas. b. Pada hidronephrosis atau ginjal polikistik, teraba masa kistik c. Pada obstruksi saluran kemih bawah teraba kandung kemih d. Obstruksi akut sering menyebabkan kenaikan tekanan darah (karena gangguan ekskresi Natrium, retensi air dan aktivitas sistem renin angiotensin). e. Hipotensi dapat terjadi pada keadaan obstruksi partial dengan poliuri. 3. Laboratorium a. Analisa: - hematuria - piuria - bakteriuri - deposit kristal - proteinuria ringan b. Pemeriksaan Darah : - polisitemia - ureum creatinin meningkat - asidosis hipocloramik

IV. DIAGNOSA 1. Keluhan / Gejala Nyeri abdominal / colic pinggang menyebar ke daerah selangka dan gonad, mual, muntah atau tak bergejala. 2. Laboratorium : a. Urin lengkap : hematuria, piuria, kristaluria b. Darah lengkap : polisitemia, kenaikan ureum creatinin c. Analisa batu : batu jenis kalsium, kalsium oksalat, asam urat, sistein, xantin atau batu infeksi. 3. Pemeriksaan Penunjang : a. USG : untuk batu kecil sulit dilihat, begitu pula bila produksi urin berkurang sulit untuk melihat adanya sumbatan. b. Rongent foto polos abdomen : terutama untuk batu radio opak (dapat dilihat ukuran, bentuk dan lokasinya) c. IVP (Pyelografi intravena) : tidak dianjurkan pada ginjal yang sudah mengalami penurunan fungsi. 4

d. CT Scan tanpa kontras dan MRI : cepat, akurat, dapat mengenali semua tipe batu di berbagai lokasi, jenis batu dengan densitasnya, dan dapat menyingkirkan nyeri abdomen yang bukan batu saluran kencing seperti : aneurisma aorta, cholelithiasis. V. DIAGNOSA BANDING Beberapa Faktor penyebab nyeri/colic abdomen adalah : 1. Faktor Intrinsik a. Intraluminal berupa : - deposit kristal intra tubuler (obat-obatan, asam jengkol) - bekuan darah karena trauma ginjal, jaringan nekrose (papila, kista atau tumor ginjal) b. Intramural berupa : - fungsional: disfungsi ureteropelvik, vesico-uretero junction. - Autonom : tumor, granuloma, infeksi. 2. Faktor Ekstrinsik a. Berasal dari organ reproduksi - carcinoma cervik, kehamilan extrauteri, myoma, prolap uteri, endometriosis, infeksi, kista ovarii, abses - prostat hipertrofi, carcinoma prostate b. Berasal dari Vaskular - aneurisma aorta / arteri iliaca - arteri aberan pada ureteropelvik c. Berasal dari gastrointestinal - pembesaran kelenjar limfe - fibrosis oleh karena obat (beta bloker) - tumor, hematom. VII. PENGELOLAAN Pengelolaan setelah terdeteksi batu dengan melalui 2 cara : 1. Mengeluarkan batu a. Tindakan : Bedah, Litotripsi, ESWL. Indikasi batu harus dikeluarkan dengan tindakan, bila: - Sumbatan total / subtotal lebih dari 6 minggu tanpa ada penurunan - Infeksi di atas batu - Ukuran batu > 0,5 cm dan tidak ada penurunan - Nyeri hebat yang tidak teratasi dengan analgetik kuat - Sumbatan satu ginjal yang menyebabkan uremia - Gagal Ginjal Kronis. b. Konservatif Dikerjakan bila tidak memenuhi kriteria tindakan. 2. Mencegah kekambuhan. Batu Ginjal di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis). Gejala Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan 5

nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal. Diagnosa Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan analisa air kemih rutin (urinalisis). Batu yang menyebabkan nyeri biasanya didiagnosis berdasarkan gejala kolik renalis, disertai dengan adanya nyeri tekan di punggung dan selangkangan atau nyeri di daerah kemaluan tanpa penyebab yang jelas. Analisa air kemih mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu yang kecil. Biasanya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lainnya, kecuali jika nyeri menetap lebih dari beberapa jam atau diagnosisnya belum pasti. Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah pengumpulan air kemih 24 jam dan pengambilan contoh darah untuk menilai kadar kalsium, sistin, asam urat dan bahan lainnya yang bisa menyebabkan terjadinya batu. Rontgen perut bisa menunjukkan adanya batu kalsium dan batu struvit. Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan adalah urografi intravena dan urografi retrograd.

Pengobatan
Batu kecil yang tidak menyebabkan gejala, penyumbatan atau infeksi, biasanya tidak perlu diobati. Minum banyak cairan akan meningkatkan pembentukan air kemih dan membantu membuang beberapa batu; jika batu telah terbuang, maka tidak perlu lagi dilakukan pengobatan segera. Kolik renalis bisa dikurangi dengan obat pereda nyeri golongan narkotik. Batu di dalam pelvis renalis atau bagian ureter paling atas yang berukuran 1 sentimeter atau kurang seringkali bisa dipecahkan oleh gelombang ultrasonik (extracorporeal shock wave lithotripsy, ESWL). Pecahan batu selanjutnya akan dibuang dalam air kemih. Kadang sebuah batu diangkat melalui suatu sayatan kecil di kulit (percutaneous nephrolithotomy, nefrolitotomi perkutaneus), yang diikuti dengan pengobatan ultrasonik. Batu kecil di dalam ureter bagian bawah bisa diangkat dengan endoskopi yang dimasukkan melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih. Batu asam urat kadang akan larut secara bertahap pada suasana air kemih yang basa (misalnya dengan memberikan kalium sitrat), tetapi batu lainnya tidak dapat diatasi dengan cara ini. Batu asam urat yang lebih besar, yang menyebabkan penyumbatan, perlu diangkat melalui pembedahan. Adanya batu struvit menunjukkan terjadinya infeksi saluran kemih, karena itu diberikan antibiotik. Pencegahan Tindakan pencegahan pembentukan batu tergantung kepada komposisi batu yang ditemukan pada penderita. Batu tersebut dianalisa dan dilakukan pengukuran kadar bahan yang bisa menyebabkan terjadinya batu di dalam air kemih. Batu asam urat Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, karena makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih. Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol. Batu asam urat terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan suasana air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan kalium sitrat. Dan sangat dianjurkan untuk banyak minum air putih. NEPHROTILIASIS

Apakah batu ginjal itu?


Batu ginjal adalah suatu material mineral kristal yang keras yang terbentuk di dalam ginjal atau saluran kencing. Batu ginjal sering menyebabkan darah di dalam air kencing dan nyeri perut dan pinggang berat. Batu ginjal kadang-kadang disebut renal calculi. Satu dari setiap 20 orang menderita batu ginjal pada satu waktu dalam hidupnya Kondisi dimana terdapat batu ginjal disebut dengan nephrolithiasis. Adanya batu di lokasi mana pun dari saluran kencing disebut dengan urolithiasis. 6

Apa penyebab batu ginjal? Batu ginjal terbentuk jika terjadi penurunan volume urin dan/atau kelebihan zat pembentuk batu di urin. Jenis batu ginjal yang paling sering adalah kalsium kombinasi dengan oxalat atau fosfat. Senyawa kimia lain yang dapat membentuk batu di saluran kencing adalah asam urat asam amino cystine. Dehidrasi akibat berkurangnya masukan cairan atau latihan yang keras tanpa penggantian cairan yang cukup meningkatkan resiko terjadinya batu ginjal. Penyumbatan aliran urin juga dapat menyebabkan pembentukan batu. Batu ginjal juga dapat disebabkan oleh infeksi pada saluran kencing dan disebut dengan struvit atau batu infeksi. Orang laki-laki lebih sering menderita batu ginjal dan ras Caucasian lebih sering daripada ras kulit hitam. Prevalensi batu ginjal mulai meningkat ketika laki-laki menginjak usia 40 an, dan makin meningkat sampai usia 70 an. Orang yang telah mengalami lebih dari satu batu ginjal cenderung untuk mengalami lagi. Riwayat keluarga menderita batu ginjal juga merupakan faktor resiko terjadinya batu ginjal. Sejumlah kondisi medis dapat menyebabkan peningkatan resiko kejadian batu ginjal: Gout menyebabkan peningkatan jumlah asam urat di dalam urin dan dapat menyebabkan pembentukan batu asam urat. Hiperkalsiuria (kadar kalsium tinggi dalam urin), suatu kondisi keturunan, menyebabkan batu pada lebih dari setengah kasus. Pada keadaan ini, terlalu banyak kalsium yang diserap dari makanan dan diekskresikan ke dalam urin, dimana dapat membentuk batu kalsium fosfat atau kalsium oxalat. Kondisi-kondisi lain yang berhubungan dengan peningkatan resiko batu ginjal meliputi hiperparatiroidisme, penyakit ginjal seperti renal tubular acidosis, dan beberapa kondisi metabolisme keturunan seperti cystinuria dan hyperoxaluria. Penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi) juga berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya batu ginjal. Orang dengan inflamatory bowel disease (penyakit radang usus besar) atau yang mengalami operasi bypass usu atau bedah ostomy juga lebih memungkinkan terjadinya batu ginjal. Beberapa obat juga meningkatkan resiko batu ginjal. Obat-obat ini meliputi diuretik, antasid yang mengandung kalsium, dan protease inhibitor indinavir (Crixivan), suatu obat yang digunakan untuk infeksi HIV. Apa sajakah gejala-gejala batu ginjal? Jika suatu batu ginjal tidak menimbulkan gejala (dikenal dengan silent stone), orang yang mempunyai batu ginjal sering mengalami nyeri kram tiba-tiba yang luar biasa pada punggung bawah dan/atau samping, selangkangan atau perut. Perubahan posisi badan tidak menghilangkan rasa sakit. Rasa nyeri khas sangat sakit yang dikenal dengan nyeri kolik (disebut kolik renal). Rasa nyeri itu bisa sangat berat dan sering disertai rasa mual dan muntah. Batu ginjal juga khas menyebabkan darah dalam urin. Jika ada infeksi pada saluran kencing bersama dengan batu, mungkin akan ada demam dan kedinginan. Kadang-kadang, gejala seperti kesulitan kencing, nyeri pada penis, atau nyeri testis dapat timbul akibat batu ginjal. Bagaimana batu ginjal didiagnosa? Diagnosis suspect batu ginjal adalah dengan pola gejala yang khas jika penyebab lain yang mungkin dari nyeri pinggang atau perut dapat diabaikan. Tes imagingbiasanya dilakukan untuk menegakkan diagnosa. CT Scan tanpa material kontras adalah tes yang paling biasa digunakan untuk mendeteksi batu atau penyumbatan di dalam saluran kencing. Dulu, intravenous pyelogram (IVP, suatu pemeriksaan foto rontgen abdomen dengan penggunaan zat warna kontras ke dalam aliran darah) merupakan tes yang paling sering digunakan untuk mendeteksi batu di saluran kencing, tetapi tes ini mempunyai resiko komplikasi yang lebih besar, lebih lama, dan menggunakan paparan radiasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan CT Scan non kontras. CT Scan merupakan alat diagnostik yang lebih efektif dibandingkan IVP dalam mendiagnosa batu ginjal atau batu saluran kencing. Pada perempuan hamil atau mereka yang harus menghindari paparan radiasi, pemeriksaan ultrasound (USG) dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa. Bagaimana terapi batu ginjal? Kebanyakan batu ginjal akhirnya lepas ke saluran kencing dengan sendirinya dalam 48 jam dengan masukan cairan yang banyak. Obat-obat nyeri digunakan untuk menghilangkan nyeri. Jika obat-obat tersebut tidak cukup untuk mengendalikan rasa nyeri, obat-obat narkotik mungkin diperlukan. Obat nyeri intravena dapat diberikan jika ada mual dan muntah. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi lepasnya batu. Ini meliputi ukuran penderitanya, batu yang lepas sebelumnya, pembesaran prostat, kehamilan, dan ukuran batu. Batu ukuran 4 mm mempunyai 80% 7

kemungkinan untuk lepas sementara batu 5 mm, 20%. Batu yang lebih besar dari 9 mm-10 mm jarang lepas tanpa terapi khusus. Beberapa obat telah digunakan untuk meningkatkan angka lepasnya batu ginjal, meliputi calcium channel blocker seperti nifedipin (Adalat) dan alpha blocker seperti tamsulosin (Flomax). Obat-obat ini dapat diberikan pada orang-orang yang mempunyai batu yang tidak dapat dengan cepat lepas ke saluran kencing. Untuk batu ginjal yang tidak dapat lepas dengan sendirinya, prosedur khusus yang disebut lithotripsy sering digunakan. Pada prosedur ini, gelombang kejut digunakan untuk memecah batu besar menjadi potonganpotongan yang lebih kecil yang kemudian dapat lepas ke saluran kencing. Teknik-teknik bedah juga telah dikembangkan untuk membuang batu ginjal jika metode terapi lain tidak efektif. Teknik bedah ini dapat dilakukan dengan irisan kecil di kulit (precutaneous nephrolithotomy) atau melalui suatu alat yang disebut dengan ureteroscope dilewatkan melalui urethra dan kandung kemih lalu ke ureter. Bagaimana batu ginjal dapat dicegah? Dari pada melakukan terapi, lebih baik mencegah batu ginjal jika mungkin. Hal yang sangat membantu adalah minum air lebih banyak, karena masukan cairan yang rendah dan dehidrasi merupakan resiko utama pembentukan batu ginjal. Bergantung pada penyebab batu ginjal dan riwayat medis individu, perubahan diet atau pengobatan kadangkadang direkomendasikan untuk menurunkan kemungkinan pembentukan batu ginjal lebih lanjut. Jika seseorang telah melepaskan batu, ini dapat membantu untuk menganalisa dengan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan secara tepat jenis batu sehingga cara pencegahan yang tepat dapat ditentukan. adalah batu-batu kecil yang terbentuk di dalam ginjal dan bergerak turun ke dalam pipa kemih (ureter). Batu-batu ini menyebabkan nyeri yang menusuk pada bagian punggung bawah, saluran air seni atau perut sebelah bawah. Di dalam kandung kemih, batu-batu tersebut dapat menyumbat saluran air seni (urethra) dan menyebabkan buang air kecil yang nyeri serta sukar ke luar. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1. 2. 3. 4. 5. 6. A. Komposisi batu ginjal : calcium oxalate phosphate B. Penyebab : Kurang minum sehingga menyebabkan sistem metabolisme tubuh tidak berjalan maksimal. Cairan yang dibutuhkan untuk menggelontor berbagai racun di dalam tubuh tidak mencukupi. Hal ini mengakibatkan urin mengalami kondensasi sehingga membentuk butiran seperti batu. Tubuh memproduksi asam urat di dalam darah terlalu berlebihan Infeksi yang terjadi di dalam ginjal yang mempermudah batu ginjal terbentuk. Faktor genetik. Jika ditemukan salah satu anggota keluarga menderita batu ginjal, hampir dimungkinkan keturunannya berpotensi mengalami hal serupa. C. Makanan yang harus dihindari bagi penderita batu ginjal : Rhubarb Bayam Soybean crackers Kacang Cokelat Kentang manis Buah-buahan yang mengandung oxalate dalam ukuran medium, yang bisa dikonsumsi tapi dengan takaran yang tepat: Anggur Celery Gtits Green pepper Raspbery merah Fruit cake 8

7. 8. 9. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 4. 5.

Stroberi Marmalade Liver D. Fakta-fakta tentang Batu Ginjal : Para ilmuwan menemukan batu ginjal tertua pada mumi Mesir yang berumur 7000 tahun. Menurut catatan medis, sebanyak tiga juta pasien mengalami keluhan pada ginjalnya, dan setengah jutanya masuk ke ruang gawat darurat karena dideteksi mengalami batu ginjal. Sebagian besar batu ginjal akan keluar dengan sendirinya tanpa campur tangan para medis. Ini tentu pada skala normal. Tapi jika penyakit sudah parah, diperlukan penanganan lebih lanjut dengan melakukan pembedahan. Dari survei, orang Kaukasia lebih berpotensi mempunyai penyakit batu ginjal dibandingkan orang AfroAmerika. Biasanya lelaki akan mengalami batu ginjal pada umur 40 tahun dan meningkat drastis saat mencapai umur 70 tahun. Sementara kaum perempuan sekitar umur 50 tahun. E. Tanda-tanda : Keluhan pertama yang dirasakan adalah rasa sakit amat tajam atau hebat pada punggung bagian bawah, pinggang atau perut bagian bawah, atau khusus pada laki-laki di pangkal alat kelamin. Kadang-kadang saluran air kencing tersumbat sehingga penderita sukar buang air kecil, atau tidak dapat melakukannya sama sekali. Darah menetes ke luar ketika penderita mulai buang air kecil Infeksi sistem air kencing dapat terjadi secara bersamaan. F. Tindakan : Minumlah air yang banyak. Jika penderita tidak membaik dengan minum air atau jika ia mengalami panas, ia harus minum pil sulfonamid, ampicillin, atau tetracycline. Perhatikan dengan saksama mengenai takaran dan peringatannya. Berikan juga aspirin atau obat penghilang rasa sakit lain dan antispasmodik Cobalah kencing dalam keadaan berbaring. Tindakan ini kadangkala membuat batu dalam kandung air kencing bergulir ke belakang dan melepaskan sumbatan pada mulut lubang yang menuju saluran air kencing Pada kasus berat, mintalah pertolongan dokter. Ada kalanya diperlukan operasi (pembedahan).

Batu Ginjal, Penyebab dan Pencegahannya


Jun 26th, 2008 Leave a comment | Trackback Sakit pinggang terjadi bila batu yang mengadakan obstruksi berada di dalam ginjal. Sedangkan, rasa sakit yang parah pada bagian perut terjadi bila batu telah pindah ke bagian ureter. Mual dan muntah selalu mengikuti rasa sakit yang berat. Penderita batu ginjal kadang-kadang juga mengalami panas, kedinginan,adanya darah di dalam urin bila batu melukai ureter, distensi perut, nanah dalam urine. DALAM istilah kedokteran, batu ginjal disebut Nephrolithiasis atau renal calculi. Batu ginjal adalah suatu keadaan terdapat satu atau lebih batu di dalam pelvis atau calyces dari ginjal atau di dalam saluran ureter. Pembentukan batu ginjal dapat terjadi di bagian mana saja dari saluran kencing, tetapi biasanya terbentuk pada dua bagian terbanyak pada ginjal, yaitu di pasu ginjal (renal pelvis) dan calix renalis. Batu dapat terbentuk dari kalsium, fosfat, atau kombinasi asam urat yang biasanya larut di dalam urine. Batu ginjal bervariasi ukurannya, dapat bersifat tunggal atau ganda. Batu-batu tinggal dalam pasu ginjal atau dapat masuk ke dalam ureter dan dapat merusak jaringan ginjal. Batu yang besar akan merusak jaringan dengan tekanan atau mengakibatkan obstruksi, sehingga terjadi aliran kembali cairan. Kebanyakan batu ginjal dapat terjadi berulang-ulang. Apakah penyebabnya? Batu ginjal dijumpai pada 1 dari 1.000 orang, biasanya lebih banyak dijumpai pada pria (berumur 30-50 tahun) ketimbang wanita. Juga banyak dijumpai di daerah tertentu. Walaupun secara pasti tidak diketahui penyebab batu ginjal, kemungkinannya adalah bila urine menjadi terlalu pekat dan zat-zat yang ada di dalam urine membentuk kristal batu. Penyebab lain adalah infeksi, adanya obstruksi, kelebihan sekresi hormon paratiroid, asidosis pada tubulus ginjal, peningkatan kadar asam urat (biasanya bersamaan dengan radang persendian), kerusakan metabolisme dari beberapa jenis bahan di dalam tubuh, terlalu banyak mempergunakan vitamin D atau terlalu banyak memakan kalsium. Gejala Walaupun besar dan lokasi batu bervariasi, rasa sakit disebabkan oleh obsruksi merupakan gejala utama. Batu yang besar dengan permukaan kasar yang masuk ke dalam ureter akan menambah frekuensi dan memaksa 9

kontraksi ureter secara otomatis. Rasa sakit dimulai dari pinggang bawah menuju ke pinggul, kemudian ke alat kelamin luar. Intensitas rasa sakit berfluktuasi dan rasa sakit yang luar biasa merupakan puncak dari kesakitan. Apabila batu berada di pasu ginjal dan di calix, rasa sakit menetap dan kurang intensitasnya. Sakit pinggang terjadi bila batu yang mengadakan obstruksi berada di dalam ginjal. Sedangkan, rasa sakit yang parah pada bagian perut terjadi bila batu telah pindah ke bagian ureter. Mual dan muntah selalu mengikuti rasa sakit yang berat. Penderita batu ginjal kadang-kadang juga mengalami panas, kedinginan, adanya darah di dalam urin bila batu melukai ureter, distensi perut, nanah dalam urine. Bagaimanakah diagnosisnya? Dokter akan menanyakan gejala yang dialami, kemudian melakukan tes sebagai berikut: 1.Foto sinar X dari ginjal, ureter, dan kandung kemih untuk menunjukkan adanya batu ginjal. 2.Ultrasound ginjal, merupakan tes noninvasif yang mempergunakan gelombang frekuensi tinggi akan mendeteksi obstruksi dan perubahannya. 3.Pemberian intravena zat pewarna dan scan memberi konfirmasi diagnosis dan menentukan ukuran dan lokasi batu ginjal. 4.Analisis batu untuk mengetahui kandungan mineralnya. 5.Analisis kultur urine untuk menunjukkan jenis bakteri penyebab infeksi, dan lain-lain. Mencegah dan mengobati Bagaimanakah pengobatannya? Karena 90% dari batu ginjal berdiameter kurang dari 5 mm, biasanya cukup diberi air rebusan dari tumbuhan Desmodium stryracifulium dan diberi minum 6 8 gelas air per hari, diberi antibiotika untuk mencegah infeksi, serta obat pengurang rasa sakit. Pada umumnya batu akan keluar dalam waktu 5 10 hari. Apabila batu terlalu besar untuk dikeluarkan secara alamiah, operasi dapat dikerjakan. Apabila batu berada di ureter, sistoskopi dapat digunakan melalui uretra dan batu dimanipulasi dengan kateter. Pengeluaran batu dari daerah lainnya (pada calix dan pelvis) memerlukan operasi dari samping atau perut bagian bawah. Prosedur yang disebut percutaneus ultrasonic lithotripsy dan extracorporeal shock wave lithotripsy akan memecah batu ginjal menjadi fragmen kecil-kecil, sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah atau dengan pengisapan. Untuk pencegahan batu ginjal, sebaiknya sering minum air rebusan tumbuhan Desmodium stryracifolium, atau dianjurkan mengurangi makan kalsium, diberi obat untuk mencegah pembentukan batu asam urat, dan vitamin C yang memberi keasaman kepada urine. Apabila kelenjar paratiroid juga termasuk penyebabnya, dokter akan merekomendasi tindakan paratiroidektomi (kelenjar paratiroid diangkat). Prognosisnya: batu ginjal sering menimbulkan gejala rasa sakit yang hebat, tapi biasanya setelah dikeluarkan tidak menimbulkan kerusakan permanen. Memang sering terjadi kambuh lagi, terutama bila tidak didapatkan penyebabnya dan diobati. Komplikasinya: 1. Timbul kembali batu ginjal. 2. Infeksi saluran urine. 3. Penyumbatan pada ureter. 4. Kerusakan sebagian jaringan ginjal. 5. Menurunnya atau hilangnya fungsi ginjal yang terkena. (dr. Drs. Hadipratomo Y, sarjana biologi dan dokter umum).*** Mengenal Batu Ginjal [Print View] [kirim ke Teman] Ginjal dalam tubuh berfungsi sebagai filter untuk membersihkan darah/cairan lainnya. Fungsi ini bertujuan agar bahan-bahan kimia yang terkandung dalam darah atau cairan tubuh lainnya tidak terbawa kembali oleh darah dan beredar ke seluruh tubuh. Sebagian kotoran hasil penyaringan ini nantinya akan dikeluarkan melalui ginjal bersama air seni. Namun sebagian lagi mungkin tertinggal dan mengendap menjadi batu ginjal. Apabila endapan ini tidak dikeluarkan, akan menetap di ginjal atau berpindah ke kandung kemih. Gejala penyakit batu ginjal ini di antaranya pinggang terasa nyeri dan pegal-pegal. Kadang-kadang, penyakit ini tidak menimbulkan keluhan. Rasa sakit akan muncul bila batu merusak jaringan atau terbawa ke saluran kemih hingga menyumbatnya. Bentuk dan ukuran batu ginjal sendiri bervariasi. Bila batu ini agak besar dan menyumbat, sumbatan tersebut dapat menahan air seni. Jika tidak segera diobati dapat menyebabkan pembengkakan pada ginjal yang akan 10

menimbulkan rasa sakit yang amat sangat. Bila sampai parah, penderita bisa mengalami muntah-muntah. Pencegahan Dini Penyakit batu ginjal dapat dicegah sedini mungkin, yaitu dengan menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang. Allah telah memberi rizqi dengan berbagai sumber makanan yang dapat kita ambil manfaatnya bagi tubuh, baik itu berasal dari hewan maupun tumbuhan serta air. Sebagian orang ada yang hanya mengkonsumsi makanan dari hewan dan sejumlah protein dari tumbuhan. Sementara yang lain, ada yang menjadi vegetarian (hanya makan dari tumbuhan saja). Pola makan seperti itu harus ditinggalkan. Sumber makanan yang berasal dari hewan maupun tumbuhan samasama penting bagi tubuh. Untuk itu, kita harus menyeimbangkan pola makan. Tidak asal halal, tapi juga perlu memperhatikan kethoyyibannya (manfaatnya) bagi tubuh. Untuk mencegah terbentuknya batu ginjal, beberapa petunjuk di bawah ini bisa dilakukan: 1. Minum air putih yang cukup, kurang lebih 8 gelas tiap hari. Tujuannya agar menghasilkan air seni yang cukup untuk membilas zat-zat kimia yang mungkin akan mengendap di batu ginjal. 2. Jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium (susu, telor, daging, jeroan) dan mengurangi makanan yang terlalu tinggi mengandung asam urat (kangkung, bayam, kembang kol, dan olahan melinjo). 3. Seringlah mengkonsumsi buah semangka, sebab buah ini banyak manfaatnya bagi tubuh terutama ginjal. Buah ini sering disebut sebagai pencuci darah alami. 4. Perhatikan kesehatan gigi, karena gigi yang berlubang atau terkena infeksi bisa berpengaruh pada ginjal. 5. Jangan memanaskan olahan sayur bayam, sebab ini termasuk salah satu pembentuk batu ginjal. 6. Jika memungkinkan, konsumsilah air mineral. Bila Allah mentakdirkan kita mengidap penyakit ini, segeralah berobat ke dokter agar tidak menjadi parah dan menimbulkan penyakit lain. Bisa juga melakukan terapi dengan menggunakan obat alami yang sudah teruji secara klinis dan efektif mengobati batu ginjal, di antaranya: 1. Minum campuran Habbatus Sauda (jinten hitam) dan madu yang dicampur dengan air hangat. Salah satu manfaat Habbatus Sauda adalah menghancurkan batu ginjal. 2. Dapat juga minum ramuan daun-daunan seperti daun Keji Beling, Kumis Kucing, dan Tempuyung. Daun Keji Beling memiliki efek diuretic yang dapat memperlancar aliran kemih karena kandungan kaliumnya. Sementara Kumis Kucing dan Tempuyung dapat membantu menghancurkan batu ginjal sehingga mempermudah pengeluarannya dari dalam tubuh dan menghilangkan penyebab sakit kolik/pinggang. ASKEP Urolithiasis atau Batu ginjal merupakan batu pada saluran kemih (urolithiasis), Urolithiasis sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra. Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000). Insidens dan Etiologi Urolithiasis/Batu Ginjal Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih. Penyebab terbentuknya batu 11

1. 2. 3. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3.

saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik) Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik; Faktor intrinsik, meliputi: Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi. Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita. Faktor ekstrinsik, meliputi: Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu) Iklim dan temperatur Asupan air; kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih. Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life). Teori Terbentuknya Urolithiasis/Batu Ginjal Teori nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu atau sabuk batu (nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam larutan kelewat jenuh akan mengendap di dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti bantu dapat berupa kristal atau benda asing saluran kemih. Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya kristal-kristal batu. Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal yakni magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu atau beberapa zat ini berkurang akan memudahkan terbentuknya batu dalam saluran kemih. Komposisi Batu Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn dan sistin. Pengetahuan tentang komposisi batu yang ditemukan penting dalam usaha pencegahan kemungkinan timbulnya batu residif Batu Kalsium Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak ditemukan yaitu sekitar 75-80% dari seluh batu saluran kemih. Faktor tejadinya batu kalsium adalah: Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria absorbtif), gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid. Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi makanan kaya oksalat seperti the, kopi instan, soft drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam. Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam urat dalam urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari metabolisme endogen. Hipositraturia: Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia dapat terjadi pada penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretik golongan thiazide dalam jangka waktu lama. Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat, magnesium bertindak sebagai penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan dengan kalsium dengan oksalat Batu Struvit Batu struvit disebut juga batu sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini dipicu oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan pemecah urea (uera splitter seperti: Proteus spp., Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan Stafilokokus) yang dapat menghasilkan enzim urease dan 12

1.

2. 3. 4.

5.

mengubah urine menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana basa ini memudahkan garamgaram magnesium, amonium, fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP) dan karbonat apatit. Batu Urat Batu asam urat meliputi 5-10% dari seluruh batu saluran kemih, banyak dialami oleh penderita gout, penyakit mieloproliferatif, pasein dengan obat sitostatika dan urikosurik (sulfinpirazone, thiazide dan salisilat). Kegemukan, alkoholik dan diet tinggi protein mempunyai peluang besar untuk mengalami penyakit ini. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu asam urat adalah: urine terlalu asam (pH kurang dari 6, volume urine kurang dari 2 liter/hari atau dehidrasi dan hiperurikosuria. Patofisiologi Urolithiasis/Batu Ginjal Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter atau hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal) Gambaran Klinik dan Diagnosis Urolithiasis/Batu Ginjal Keluhan yang disampaikan pasien tergantung pada letak batu, besar batu dan penyulit yang telah terjadi. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok di daerah kosto-vertebra, teraba ginjal pada sisi yang sakit akibat hidronefrosis, ditemukan tanda-tanda gagal ginjal, retensi urine dan jika disertai infeksi didaptkan demam/menggigil. Pemeriksaan sedimen urine menunjukan adanya lekosit, hematuria dan dijumpai kristal-kristal pembentuk batu. Pemeriksaan kultur urine mungkin menunjukkan adanya adanya pertumbuhan kuman pemecah urea. Pemeriksaan faal ginjal bertujuan mencari kemungkinan terjadinya penurunan fungsi ginjal dan untuk mempersipkan pasien menjalani pemeriksaan foto PIV. Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai penyebab timbulnya batu salran kemih (kadar kalsium, oksalat, fosfat maupun urat dalam darah dan urine). Pembuatan foto polos abdomen bertujuan melihat kemungkinan adanya batu radio-opak dan paling sering dijumpai di atara jenis batu lain. Batu asam urat bersifat non opak (radio-lusen). Pemeriksaan pieolografi intra vena (PIV) bertujuan menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Selain itu PIV dapat mendeteksi adanya batu semi opak atau batu non opak yang tidak tampak pada foto polos abdomen. Ultrasongrafi dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV seperti pada keadaan alergi zat kontras, faal ginjal menurun dan pada pregnansi. Pemeriksaan ini dapat menilai adanya batu di ginjal atau bulibuli (tampak sebagai echoic shadow), hidronefrosis, pionefrosis atau pengkerutan ginjal. Penatalaksanaan Urolithiasis/Batu Ginjal Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih harus segera dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk melakukan tindakan pada batu saluran kemih adalah telah terjadinya obstruksi, infeksi atau indikasi sosial. Batu dapat dikeluarkan melalui prosedur medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan endo-urologi, bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka. Pencegahan Urolithiasis/Batu Ginjal Setelah batu dikelurkan, tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya adalahupaya mencegah timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7%/tahun atau kambuh lebih dari 50% dalam 10 tahun. Prinsip pencegahan didasarkan pada kandungan unsur penyusun batu yang telah diangkat. Secara umum, tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah: Menghindari dehidrasi dengan minum cukup, upayakan produksi urine 2-3 liter per hari Diet rendah zat/komponen pembentuk batu Aktivitas harian yang cukup Medikamentosa Beberapa diet yang dianjurkan untuk untuk mengurangi kekambuhan adalah: Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan menyebabkan suasana urine menjadi lebih asam. 13

1. 2. 3. 4. 1.

2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4.

Rendah oksalat Rendah garam karena natiuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria Rendah purin Rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada hiperkalsiuria absorbtif type II Nursing Diagnosis/Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul Pada Urolithiasis/Batu Ginjal Acute Pain Nyeri akut b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan, edema dan iskemia seluler. Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan. Deficient Fluid volume Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi. Deficient Knowledge Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.

UROLITIASIS
9 Desember 2008 oleh PRO-HEALTH OLEH : ERFANDI A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1. DEFINISI o Batu saluran kemih (urolitiasis) adalah adanya batu pada saluran kemih yang bersifat idiopatik, dapat menimbulkan statis dan infeksi. o Mengacu pada adanya batu (kalkuli) pada traktus urinarius. 2. ETIOLOGI Masih belum dapat dipastikan kemungkinan adanya, namun secara umum penyebab dari penyakit ini adalah sebagai berikut: a. Faktor infeksi, dimana penyebab tersering dari infeksi ini adalah adanya Escherichia Coli. b. Peningkatan vitamin D c. Diet yang salah. d. Kekurangan minum atau dehidrasi. e. Hyperparathiroidisme, penyakit metabolic bawaan. f. Factor lingkungan yang secara umum berasal dari factor sumber pemerolehan air minum. g. Tirah baring yang lama. 3. MANIFESTASI KLINIS. Adanya batu pada traktus urinarius tergantung pada adanya obstruksi dan infeksi. Ketika batu menghambat aliran urine maka menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi pada ginjal serta ureter. Infeksi yang disertai demam, menggigil, disuria terjadi karena iritasi yang terus-menerus. Bila nyeri mendadak menjadi akut disertai nyeri tekan diseluruh area kosto vertebral dan muncl mual dah muntah, maka pasien sedang mengalami kolik renal. Diare dan ketidak nyamanan abdominal terjadi karena reflek renointestinal ginjal ke lambung dan usus besar. Batu yang terjebak di kandung kemih menyebabkan gejala iritasi. Jika batu menyebabkan obstruksi akan menyebabkan terjadinya retensio urine. 4. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. Laboratorium o Urine analisis, volume urine, berat jenis urine, protein, reduksi, dan sediment. o Urine kultur meliputi: mikroorganisme, sensitivity test. o Darah yang meliputi: leuco, diff, LED, kadar ureum dan kreatinin, kadar urine acid, kadar cholesterol, GTT, UCT. b. Rontgen foto BNO/buik neir overzicht = CVB (ginjal, ureter, buli-buli) = plain foto abdomen. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui: batu dalam saluran kemih, tulang-tulang, ileo spoas lining, dan contour ginjal. 5. MACAM BATU MENURUT TEMPATNYA a. Batu ginjal. Batu yang berbebtnuk di ginjal dapat menetap pada beberapa tempat di baian ginjal, seperti di kalix minor atas 14

dan bawah, di kalix mayor, di daerah pyelum dan di atas (up junction). o Batu di kalix minor atas. Batu ini kemungkinan silent stone dengan symptom stone. o Batu di kalix monir bawah. Batu yang terdapat di bagian ini biasanya merupakan batu koral (staghorn stone), dan berbentuk seperti arsitektur dari kalices. Batu ini makin lama akan bertambah besar dan mendesak pharencim ginjal sehingga pharencim ginjal semakin menipis. Jadi batu ini potensial berbahaya bagi ginjal. o Batu di kalix mayor. Jenis batu ini adalah batu koral (staghorn stone), tetapi tidak menyumbat. Batu pada daerah ini sering tidak menimbulkan gejala mencolok / akut, tetapi sering ditemukan terjadinya pielonefritis karena infeksi yang berulang-ulang. Batu inipun makin lama akan semakin membesar dan mendesak pharencim ginjal sehingga pharencim ginjal akan semakin menipis, batu inipun berbahaya bagi ginjal. o Batu di pyelum ginjal. Batu-batu ini kadang-kadang dapat menyumbat dan menimbulkan infeksi sehingga dapat menyebabkan kolik pain dan gejala lain. Tindakan pengobatannya sebaiknya batu pada daerah ini dilakukan pengangkatan batu, karena batu dapat tumbuh terus ke dalam kalix mayor sehingga tindakan operasi akan lebih sulit untuk dilaksanakan. o Batu di atas Up Junction. Daerah up junction merupakan salah satu tempat penyempitan ureter yang fisiologist, sehingga besarnya batu diperkirakan tidak dapat melalui daerah tersebut. b. Batu ureter. Tanda dan gejala: o Tiba-tiba timbul kolik pain mulai dari pinggang hingga testes pria atau ovarium pada wanita, pada posisi apapun pasien sangat kesakitan. o Kadang-kadang disertai perut kembung, nausea, muntah. o Gross hematuria. c. Batu buli-buli. Batu buli-buli terdapat pada semua golongan umur dari anak sampai orang dewasa. 6. PENATALAKSANAAN a. Farmako terapi. o Natrium Bikarbonat. o Asam Aksorbal. o Diuretik Thiasid. o Alloporinol. b. Pengangkatan batu melalui Pembedahan. o Pielolitotomi. o Uretolitotomi. o Sistolitotomi. o Lithotripsi ultrasonic perkutan / PUL. 7. PATOFISIOLOGI Urolitiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius. Batu terbentuk ketika konsentrasi supstansi seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika difisiensi supstrats tertentu. Seperti sitrat yang secaa normal mencegah kristalisasi dalam urine, serta status cairan pasien. Infeksi, stasis urine, serta drainase renal yang lambat dan perubahan metabolic kalsium, hiperparatiroid, malignansi, penyakit granulo matosa (sarkoldosis, tuberculosis), masukan vitamin D berlebih merupakan penyebab dari hiperkalsemia dan mendasari pembentukan batu kalsium. Batu asam urat dapat dijumpai pada penyakit Gout. Batu struvit mengacu pada batu infeksi, terbentuk dalam urine kaya ammonia alkalin persisten akibat uti kronik. Batu urinarius dapat terjadi pada inflamasi usus atau ileostomi. Batu sistin terjadi pada pasien yang mengalami penurunan efek absorbsi sistin (asam ammonia) turunan. B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN a. Aktivitas / Istirahat Subyektif : Keterbatasan aktivitas / imobilisasi berhubungan dengan kondisi sebelumnya (contoh: penyakit tidak sembuh, cedera medulla spinalis). b. Sirkulasi 15

Obyektif : - Peningkatan tekanan darah / nadi - Kulit hangat dan kemerahan, pucat. c. Eliminasi Subyektif : - Riwayat adanya ISK kronik, obstruksi sebelumnya (kalkulus). - Penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh. - Rasa terbakar, dorong berkemih. - Diare. Obyketif : - Oliguria - Hematuria - Piuria - Perubahan pola berkemih. d. Makanan / cairan Subyektif: - Mual / muntah, nyeri tekan abdomen. - Diet tinggi purin, kalsium oksalat dan / atau fosfat. - Ketidakcukupan pemasukan cairan, tidak minum air dengan cukup. Obyektif: - Distensi abdomen - Penurunan / tidak adanya bising usus. - Muntah. e. Nyeri / kenyamanan. Subyektif: - Episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung pada lokasi bat, contoh pada panggul, abdomen, dan turun ke lipat paha / genetalia. Nyeri dangkal konstan menunjukkan kalkulus ada di pelvis atau kalkulus ginjal. - Nyeri dapat digambarkan sebagai akut, hebat tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain. Obyektif: - Melindungi, perilaku distraksi. - nyeri tekan pada area ginjal pada saat palpasi. f. Keamanan Subyektif: - Penggunaan alcohol. - Demam, menggigil. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Gangguan nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi ureteral dan trauma jaringan, pembentukan edema, ischemia seluler. b. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral. c. Gangguan thermoregulasi berhubungan dengan proses infeksi. d. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan dengan proses penyakit. e. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual / muntah (nausea) dan diuresis obstruksi. f. Infeksi berhubungan dengan pembentukan batu pada traktus urinarius. 3. INTERVENSI KEPERAWATAN a. Gangguan nyaman nyeri: Kemungkinan berhubungan dengan: o Peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi ureteral. o Trauma jaringan, pembentukan edema, iskhemia seluler. Tujuan: o Nyeri hilang dengan spasme terkontrol. Kriteria evaluasi: o Tampak rileks, mampu beristirahat dengan tepat. Intervensi keperawatan: 16

o Kaji skala nyeri dan lokasi Rasional : membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus. o Beri tindakan nyemen seperti pijatan pinggang (relaksasi dan distraksi). Rasional : meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot. o Bantu ambulasi sering dan tingkatkan pemasukan cairan. Rasional : hidrasi kuat meningkatkan lewatnya batu dan membantu mencegah pembentukan batu selanjutnya. o Beri kompres hangat pada punggung. Rasional : menghilangkan tegangan otot dan menurunkan refleks spasme. o Kolaborasi pemberian obat narkotik, reflek spasme dan edema jaringan. Rasional : untuk membantu gerakan batu. b. Perubahan eliminasi urine. Kemungkinan berhubungan dengan: o Stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureter. o Obstruksi mekanik, inflamasi. Tujuan: o Berkemih dengan jumlah yang normal dan biasa. Criteria evaluasi: o Tidak mengalami tanda-tanda obstruksi. Intervensi keperawatan: o Observasi intake dan output cairan serta karakteristik urine. Rasional : mengetahui fungsi ginjal dan adanya komplikasi. o Dorong meningkatkan pemasukan cairan. Rasional : peningkatan hidrasi membilas bakteri, darah, debris, dan membantu lewatnya batu. o Periksa urine dan catat adanya keluaran batu. Rasional : penemuan batu menunjukkan identifikasi tipe batu dan pilihan terapi. o Pertahankan patensi kateter tak menetap. Rasional : membantu aliran urine / mencegah retensi dan komplikasi. o Kolaborasi pemberian obat Asetozolamide, Amonium Klorida, Asam ashorbat. Rasional : meningkatkan pH urine untuk menurunkan pembentukan batu asam, menurunkan pembentukan batu fosfat dan mencegah berulangnya pembentukan batu alkalin. c. Gangguan thermoregulasi berhubungan dengan proses infeksi. Tujuan: o Suhu kembali dalam keadaan normal. Criteria evaluasi: o Suhu tubuh 36oC 37oC. o Mukosa tidak kering. Intervensi keperawatan: o Observasi tanda-tanda vital. Rasional : mengetahui perubahan suhu tubuh. o Jauhkan dari baju tebal / selimut tebal. Rasional : dapat meningkatkan suhu tubuh. o Anjurkan minum sesuai dengan kebutuhan. Rasional : memenuhi cairan tubuh. o Ciptakan lingkungan yang nyaman. d. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan. Tujuan: o Ansietas berkurang. Criteria evaluasi: o Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan pengobatan, ekspresi wajah rileks. Intervensi keperawatan: o Beri kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan harapannya. Rasional : kemampuan pemecahan masalah pasien ditingkatkan bila lingkungan nyaman dan mendukung untuk diberikan. o Beri informasi tentang sifat penyakit, tujuan tindakan dan pemeriksaan diagnostic. Rasional : pengetahuai membantu mengurangi ansietas. 17

e. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit sehubungan dengan mual dan muntah dan diuresis pasca obstruksi. Tujuan: o Mempertahankan keseimbangan cairan adekuat. Criteria evaluasi: o TTV stabil, BB normal, nadi perifer normal. o Membrane mukosa lembab. o Turgor kulit membaik. Intervensi keperawatan: o Obsevasi intake dan output cairan dan eletrolit. Rasional : membandingkan keluaran actual dan diantisipasi membantu evaluasi adanya kerusakan ginjal. o Catat adanya muntah dan diare. Rasional : muntah dan diare berhubungan dengan kolik ginjal karena syaraf ganglion seliaka pada kedua ginjal dan lambung. o Tingkatkan pemasukan cairan sampai 3 4 liter/hari. Rasional : mempertahankan keseimbangan cairan yang dapat membantu batu keluar. o Timbang berat badan setiap hari. Rasional : peningkatan berat badan yang cepat mungkin berhubungan dengan retensi. o Kolaborasi pemberian cairan parenteral dan obat antiemetik. Rasional : mempertahankan volume cairan dan menurunkan mual dan muntah. o Kaji TTV, turgor kulit dan membrane mukosa. Rasional : indicator hidrasi / volume cairan. f. Infeksi berhubungan dengan pembentukan batu pada traktus urinarius. Tujuan: o Infeksi tidak berlanjut. Criteria evaluasi: o Tanda-tanda infeksi berkurang. Intervensi keperawatan: o Observasi tanda-tanda infeksi. Rasional : mengetahui perkembangan pasien. o Catat karakteristik urine. Rasional : urine keruh dan bau menunjukkan adanya infeksi. o Gunakan teknik aseptic bila merawat. Rasional : membatasi introduksi bakteri ke dalam tubuh. o Tingkatkan cuci tangan pada pasien dan staf yagn terlibat. Rasional : menurunkan resiko kontaminasi silang. C. LITERATUR Doenges E. Marilynn, Moorhouse Frances Mary, Geisster C Alice. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien Edisi 3. Jakarta: EGC. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal BedahBrunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2. Jakarta: EGC. Kumar, Robbins. 1995. Patologi Edisi 4. Jakarta: EGC. Askep Depkes. 1996. Urogenital. Depkes. Jakarta: Batu Ginjal merupakan suatu penyakit yang salah satu gejalanya adalah pembentukan batu di dalam ginjal. ETIOLOGI Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara epidemiologik terdapat beberapa faktor yang mempermudah terbentuknya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor tersebut adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya. Faktor intrinsik antara lain : 1. Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya. 2. Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun 3. Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan Faktor ekstrinsik diantaranya adalah : 18

1. 2. 3. 4. 5.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Geografis : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi dari pada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stonebelt. Iklim dan temperatur Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi. Diet : Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu. Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life. EPIDEMIOLOGI Abad ke-16 hingga abad ke-18 tercatat insiden tertinggi penderita batu saluran kemih yang ditemukan diberbagai negara di Eropa. Berbeda dengan eropa, di negara-negara berkembang penyakit batu ini masih ditemukan hingga saat ini, misalnya Indonesia, Thailand, India, Kamboja, dan Mesir. EFEK BATU PADA SALURAN KEMIH Ukuran dan letak batu biasanya menentukan perubahan patologis yang terjadi pada traktus urinarius : (4) a. Pada ginjal yang terkena Obstruksi Infeksi Epitel pelvis dan calis ginja menjadi tipis dan rapuh. Iskemia parenkim. Metaplasia b. Pada ginjal yang berlawanan * Compensatory hypertrophy * Dapat menjadi bilateral GAMBARAN KLINIS Batu ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Umumnya gejala berupa obstruksi aliran kemih dan infeksi. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan pada penderita batu ginjal antara lain : Tidak ada gejala atau tanda Nyeri pinggang, sisi, atau sudut kostovertebral Hematuria makroskopik atau mikroskopik Pielonefritis dan/atau sistitis Pernah mengeluarkan baru kecil ketika kencing Nyeri tekan kostovertebral Batu tampak pada pemeriksaan pencitraan Gangguan faal ginjal. DIAGNOSIS Selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosis, penyakit batu ginjal perlu didukung dengan pemeriksaan radiologik, laboratorium, dan penunjang lain untuk menentukan kemungkinan adanya obstruksi saluran kemih, infeksi dan gangguan faal ginjal. A. Anamnesis Anamnesa harus dilakukan secara menyeluruh. Keluhan nyeri harus dikejar mengenai onset kejadian, karakteristik nyeri, penyebaran nyeri, aktivitas yang dapat membuat bertambahnya nyeri ataupun berkurangnya nyeri, riwayat muntah, gross hematuria, dan riwayat nyeri yang sama sebelumnya. Penderita dengan riwayat batu sebelumnya sering mempunyai tipe nyeri yang sama.(5) B. Pemeriksaan Fisik Penderita dengan keluhan nyeri kolik hebat, dapat disertai takikardi, berkeringat, dan nausea. Masa pada abdomen dapat dipalpasi pada penderita dengan obstruksi berat atau dengan hidronefrosis. Bisa didapatkan nyeri ketok pada daerah kostovertebra, tanda gagal ginjal dan retensi urin. Demam, hipertensi, dan vasodilatasi kutaneus dapat ditemukan pada pasien dengan urosepsis.(5,3) C. Pemeriksaan penunjang - Radiologi Secara radiologi, batu dapat radiopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga batu dari jenis apa yang ditemukan. Radiolusen umumnya adalah jenis batu asam urat murni. Pada yang radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga adanya batu ginjal bila diambil foto dua arah. Pada keadaan tertentu terkadang batu terletak di depan bayangan tulang, sehingga dapat luput dari penglihatan. Oleh karena itu foto polos sering perlu ditambah foto pielografi intravena (PIV/IVP). 19

1. 2. 3. 4.

Pada batu radiolusen, foto dengan bantuan kontras akan menyebabkan defek pengisian (filling defect) di tempat batu berada. Yang menyulitkan adalah bila ginjal yang mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini tidak muncul. Dalam hal ini perludilakukan pielografi retrograd. Ultrasonografi (USG) dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu pada keadaankeadaan; alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita yang sedang hamil . Pemeriksaan USG dapat untuk melihat semua jenis batu, selain itu dapat ditentukan ruang/ lumen saluran kemih. Pemeriksaan ini juga dipakai unutk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk mencegah tertinggalnya batu. - Laboratorium Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan menentukan penyebab batu. PENATALAKSANAAN 1. Terapi medis dan simtomatik Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan batu. Terapi simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain itu dapat diberikan minum yang berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik. 2. Litotripsi Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan untuk membawa tranduser melalui sonde kebatu yang ada di ginjal. Cara ini disebut nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang paling sering dilakukan adalah ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) yang adalah tindakan memecahkan batu ginjal dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut. 3. Tindakan bedah Agar terhindar dari penyakit batu ginjal, beberapa cara yang disarankan antara lain : Minum banyak air (8-10 gelas sehari), dengan demikian urin menjadi lebih encer sehingga mengurangi kemungkinan zat-zat pembentuk batu untuk saling menyatu. Dengan minum banyak, air seni biasanya berwarna bening, tidak kuning lagi. Minum air putih ketika bangun tidur di subuh hari. Hal ini akan segera merangsang kita untuk berkemih, sehingga air seni yang telah mengendap semalamam tergantikan dengan yang baru. Jangan menahan kencing; kencing yang tertahan dapat menyebabkan urin menjadi lebih pekat, atau infeksi saluran kemih. Urin yang pekat dan infeksi saluran kemih merupakan faktor pendukung terbentuknya batu. Pola makan seimbang, berolahraga, dan menjaga berat badan tetap ideal.

20