Anda di halaman 1dari 7

2.3.

6 Semen Ionomer Kaca (SIK)

Gambar 13. Contoh produk Semen Ionomer Kaca

Semen Ionomer Kaca merupakan salah satu bahan restorasi plastis di bidang kedokteran gigi yang perkembangannya paling menarik, bahan ini ditemukan oleh Wilson dan kenk tahun 1972 sebagai bahan pertama yang paling praktis, sewarna dengan gigi dan beradhesi secara kimiawi walaupun versi awalnya tidak baik dan alaur dalam cairan mulut (Ford dalam Lubis, F.L. 2004). a). Klasifikasi GIC menurut kegunaannya menurut kegunaannya, GIC diklasifikasikan menjadi: 1. pe I : Luting Cement Semen ini berguna untuk merekatkan gigi mahkota atau jembatan, tumpatan tuang dan alat-alat ortodonti cekat. Semen perekat ini mencegah kebocoran tepi restorasi dan lapisan semen harus dibuat setipis-tipisnyaagar tidak terlarutkan oleh cairan mulut. 2. Tipe II : Restorative Cement Guna semen ini sebagai tumpatan estetik sewarna dengan gigi 3. Tipe III 4. Tipe IV 5. Tipe V 6. Tipe VI 7. Tipe VII 8. Tipe VIII 9. Type IX : Liner and Basis Cement : Fissure sealants : Orthodontic Cements : Core build up : Fluoride releasing : ART(atraumatic restorative technique) : Deciduous teet

(Philips dalam Lubis, F.L. 2004)

b). komposisi Semen ini adalah sisitem bubuk cairan, yang berbentuk karena reaksi antara kaca alumino-silikat dengan asam poliakrilat yang sering disebut alumino silikat poyacrilic acid (ASPA). (Williams dalam Lubis, F.L. 2004). 1). Komposisi Bubuk Bubuk Semen Ionomer Kaca adalah kaca alumina-silikat. Walaupun memiliki karakteristik yang sama dengan silikat tetapi perbandinagn alumina-silikat lebih tinggi pada semen silikat (Manappallil dalam Lubis, F.L. 2004).

Tabel 3. Komposisi bubuk Semen Ionomer Kaca

2). Komposisi Cairan Cairan yang digunakan Semen Ionomer Kaca adalah larutan dari asam poliakrilat dalam konsentrasi kira-kira 50%. Cairan ini cukup kental cnederung membentuk gel setelah beberapa waktu. Pada sebagian besar semen, cairan asam poliakrilat dalah dalam bentuk kopolimer dengan asam itikonik, maleic atau asam trikarbalik. Asam-asam ini cenderung menambah reaktivitas dari cairan, mengurangi kekentalan dan mengurangi kecenderungan membentuk gel (Wilson dalam Lubis, F.L. 2004). Asam tartaric juga terdapat dalam cairan yang memperbaiki karakteristik manipulasi dan meningkatkan waktu kerja, tetapi memperpendek pengerasan. Terlihat peningktan yang berkesinambungan secara perlahan pada kekentalan semen yang tidak mengandung asam tartaric. Kekentalan semen yang mengandung asam tartaric tidak menunjukkan kenaikan kekentalan yang tajam (Baum dalam Lubis, F.L. 2004).

Tabel 4. Komposisi Cairan Semen Ionomer Kaca

c). Reaksi Pengerasan Ketika bubuk dan cairan Semen Ionomer Kaca dicampurkan, cairan asam akan memasuki permukaan partikel kaca kemudian bereaksi dengan membentuk lapisan semen tipis yang akan mengikuti inti tumpatan (Ford dalam Lubis, F.L. 2004). Selain cairan sam, kalsium, aluminium, sodium sebagai ion-ion fluoride pada bubuk Semen Ionomer Kaca akan memasuki partikel kaca yang akan membentuk ion kalsium (ca2+) kemudian ion aluminium (Al3+) dan garam fluor yang dianggap dapat mencegah timbulnay karies sekunder. Selanjutnya partikel-partikel kaca lapisan luar membentuk lapisan gel (Wilson dalam Lubis, F.L. 2004). Retensi semen terhadap email dan dentin pada jaringan gigi berupa ikatan fisikokimia tanpa menggunakan teknik etsa asam. Ikatan kimianya berupa ikatan ion kalsium yang berasal dari jaringan gigi dengan gugus COOH (karboksil) multipel dari Semen Ionomer Kaca (Galinggih. 2011). Adhesi adalah daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis pada dua permukaan yang berkontak. Semen Ionomer Kaca adalah polimer yang mempunyai gugus karboksil (COOH) multipel sehingga membentuk ikatan hidrogen yang kuat. Dalam hal ini memungkinkan pasta semen untuk membasahi, adaptasi, dan melekat pada permukaan email. Ikatan antara Semen Ionomer Kaca dengan email dua kali lebih besar daripada ikatannya dengan dentin karena email berisi unsur anorganik lebih banyak dan lebih homogen dari segi morfologis (Galinggih. 2011). Secara fisik, ikatan bahan ini dengan jaringan gigi dapat ditambah dengan membersihkan kavitas dari pelikel dan debris. Dengan keadaan kavitas yang bersih dan halus dapat menambah ikatan Semen Ionomer Kaca. Air memegang peranan penting selama proses pengerasan dan apabila terjadi penyerapan air maka akan mengubah sifat fisik SIK. Saliva

merupakan cairan di dalam rongga mulut yang dapat mengkontaminasi SIK selama proses pengerasan dimana dalam periode 24 jam ini SIK sensitif terhadap cairan saliva sehingga perlu dilakukan perlindungan agar tidak terkontaminasi (Galinggih. 2011). Kontaminasi dengan saliva akan menyebabkan SIK mengalami pelarutan dan daya adhesinya terhadap gigi akan menurun. SIK juga rentan terhadap kehilangan air beberapa waktu setelah penumpatan. Jika tidak dilindungi dan terekspos oleh udara, maka permukaannya akan retak akibat desikasi. Baik desikasi maupun kontaminasi air dapat merubah struktur SIK selama beberapa minggu setelah penumpatan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka selama Proses pengerasan SIK perlu dilakukan perlindungan agar tidak terjadi kontaminasi dengan saliva dan udara, yaitu dengan cara mengunakan bahan isolasi yang efektif dan kedap air. Bahan pelindung yang biasa digunakan adalah varnis yang terbuat dari isopropil asetat, aseton, kopolimer dari vinil klorida, dan vinil asetat yang akan larut dengan mudah dalam beberapa jam atau pada proses pengunyahan (Galinggih. 2011).

d). Sifat Semen Ionomer Kaca Sifat Semen Ionomer Kaca adhesive yang mengikat enamel dan dentin. Ikatan ini terjadi karean interaksi antara ion-ion golongan karboksil dan semen dan ion-ion kalsium dari gigi, iakatan ke enamel lebih besar daripda iktannya ke dentin. Pengikatan ini baik sebagai bahan penutupan kavitas (Wilson dalam Lubis, F.L. 2004). Hal ini diungkapkan oleh Mal Donado pada tahun 1978, Perbandingan bubuk terhadap asamnya merupakan faktor penting untuk memperoleh campuran semen dengan sifat-sifat fisik yang dinginkan. Beberapa sifat dari Semen Ionomer Kaca yang akan diuraikan sebagai berikut (Wilson dalam Lubis, F.L. 2004): 1). Sifat Fisis Sifat-sifat fisis dari Semen Ionomer Kaca, antar lain: a. Anti karies Ion fluor yang dilepaskan terus menerus membuat gigi lebih tahan terhadap karies. b. Thermal ekspansi sesuai dengan dentin dan enamel c. Tahan terhadap abrasi ASPA tahan terhadap abrasi, ini penting khususnya pada penggunaan dalam restorasi dari groove yang abrasi servikalnya oleh sikat gigi dan kavitas yang erosi. .2). Sifat Mekanis Semen Ionomer Kaca juga memiliki sifat mekanis yaitu: a. Compressive strength : 150 MPa, lebih rendah dari silikat

b. Tensile strength c. Hardness d. Frakture toughness

: 6,6 MPa, lebih tinggi dari silikat : 49 KHN, lebih lunak dari silikat : Beban yang kuat dapat terjadi fraktur

(Manappallil dalam Lubis, F.L. 2004). 3). Sifat Kimia Semen Ionomer Kaca melekat dengan baik ke enamel dan dentin, perlekatan ini berupa ikatan kimia antara ion kalsium dari jaringan gigi dan ion COOH dari Semen Ionomer Kaca. Ikatan dengan enamel dua kali lebih besar daripada ikatannya dengan dentin. Dengan sifat ini maka kebocoran tepi tambalan dapat dikurangi. Semen Ionomer Kaca tahan terhadap suasana asam, oleh karena adanya ikatan silang diantara rantai-rantai semen ionomer kaca. Ikatan ini terjadi karena anya polyanion dengan berat molekul yang tinggi (Phillips dalam Lubis, F.L. 2004).

4). Sifat Biologi Semen Ionomer Kaca memiliki sifat biokompabilitas yang cukup baik artinya tidak mengiritasi jaringan pulpa sejauh ketebalan sisa dentin ke arah pulpa tidak kurang dari 0,5 mm. kontaminasi saliva selama penumpatan dan sebelum semen mengeras sempurna akan merugikan tumpatan karena semen akan mudah larut dan daya adhesi akan menurun. Kavitas harus dijaga agar tetap kering dengan mngusahakan isolasi yang efektif serta tumpatan ditutup dengan lapisan resin atau pernis yang kedap air selama beberapa jam setelah penumpatan untuk mencegah desikasi karena hilangnya cairan atau melarut karena menyerap air (Phillips dalam Lubis, F.L. 2004).

e). Kelebihan dan Kekurangan GIC 1. Kelebihan GIC a. Tahan terhadap penyerapan air dan kelarutan dalam air b. Kemampuan berikatan dengan email dan dentin c. Biokompabilitas d. Estetika (penambahan radiopak untuk penyamaan warna dengan gigi e. f. Mempunyai kekuatan kompresi yang tinggi Bersifat adhesi

g. Tidak iritatif h. Mengandung fluor sehingga mampu melepaskan bahan fluor untuk mencegah karies lebih lanjut

i. Mempunyai sifat penyebaran panas yang sedikit j. Daya larut yang rendah k. Bersifat translusent atau tembus cahaya l. Perlekatan bahan ini secara fisika dan kimiawi terhadap jaringan dentin dan email.

2. Kekurangan GIC a. Tidak dapat menahan tekanan kunyah yang besar b. Tidak tahan terhadap keausan c. Daya lekat pasta lebih kecil terhadap dentin d. Setelah restorasi butuh proteksi e. Kekerasan kurang baik f. Rapuh dan sensitive terhadap air pada waktu pengerasan g. Dapat larut dalam asam dan air

DAFTAR BACAAN

Aldelina, N.L. 2011. Semen Silikofosfat [Serial Online]. http://www.scribd.com/doc/49932856/Semen-Silikofosfat Galinggih. 2011. Semen Ionomer Kaca [Serial Online]. http://galinggih.wordpress.com/2010/04/03/semen-ionomer-kaca/ Hermanto, L.FM. 2007. Penggunaan Semen Silikofosfat di Kedokteran Gigi [Skripsi]. Medan. FKG-USU. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8036/1/030600057.pdf Kadariani. 2001. Semen Basis Sebagai Insulator Terhadap Thermal Shock di Bawah Restorasi Logam [Skripsi]. Medan. FKG-USU. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8018/1/960600036.pdf Lubis, F.L. 2004. Semen Ionomer Kaca ditijau Dari Kelebihannya Terhadap Bahan Tumpatan Plastis Lainnya [Skripsi]. Medan. FKG-USU. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8180/1/000600064.pdf Martin S. 2011. Silicate_Cement [Serial Online] http://www.doctorspiller.com/Composites/al-fl-si_cements.htm#Silicate_Cement Medicept Dental India Pvt. Ltd. 2011. Dental Polycarboxylate Cement [Serial Online]. http://www.fuzing.com/vli/003015f17253/Dental-Polycarboxylate-Cement

Nugroho, A. 2011. Semen Sebagai Luting [Serial Online]. http://www.scribd.com/doc/56760908/Semen-Sebagai-Luting Rahmawati, D. 2011. Semen. http://www.scribd.com/doc/49783839/SEMEN Ricardo, R. 2004. Kebaikan dan Keburukan Zinc Phosphate Cement Serta Penggunaannya Dalam Bidang Kedokteran Gigi. [Skripsi]. Medan. FKG-USU. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8149/1/990600076.pdf Rochyani L, et al. 2007. Daya Anti bakteri Bahan Tumpatan sementara Zinc Oxide Eugenol. Surabaya. FKG-Hang Tuah. http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/12079599.pdf Simanjuntak, E.R. 2000. Peranan Semen Ionomer Kaca Dalam Peningkatan Remineralisasi Gigi Karies [Skripsi]. Medan. FKG-USU. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8110/1/940600025.pdf

Sutrisno, G. 2011. Glass Ionomer Cement [Serial Online]. http://staff.ui.ac.id/internal/130536743/material/3-Glass-ionomerCement.pdf Wahyudi, T. 2005. Biokompabilitas Semen Zinc Oxide Eugenol [Skripsi]. Medan. FKG-USU. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8548/1/000600106.pdf