Anda di halaman 1dari 29

HAK PATEN DI INDONESIA

Oleh : Mutiara Ursula Puspita (12020049) Stefani Tri Okta (12020051) Heni Kristiati (12020052)

KELAS SABTU DOSEN : AMANDA LUBIS PROGRAM STUDI AKUNTANSI SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MANAJEMEN BISNIS INDONESIA 2012

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa penulis panjatkan atas segala karunia dan rahmat-Nya yang telah memberikan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Aspek Hukum Dalam Bisnis yang berjudul Hak Paten di Indonesia ini, tepat pada waktunya. Dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam membantu penulis dalam penyusunan Tugas Aspek Hukum Dalam Bisnis, khususnya kepada : 1. 2. 3. Dosen Aspek Hukum Dalam Bisnis, Amanda Lubis yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan tugas ini. Orang Tua Penulis yang senantiasa memberikan dukungan baik moral maupun material. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Semoga kebaikan Bapak/Ibu mendapat balasan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin. Penulis sadar bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar kedepannya lebih baik lagi serta Tugas Aspek Hukum Dalam Bisnis ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi mahasiswa STIE MBI. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan. Jakarta,

Penulis

vi

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .....................................................................................1 KATA PENGANTAR ...................................................................................2 DAFTAR ISI .................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah .........................................................4 1.2 Alasan Pemilihan Objek .........................................................5 1.3 Tujuan Dan Manfaat ..............................................................5 1.4 Identifikasi/Perumusan Masalah ............................................6 1.5 Metodologi Penelitian ............................................................6 1.6 Sistematika Penulisan .............................................................7 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Hak Paten .............................................................9 2.2 Undang undang Hak Paten ................................................10 2.3 Invensi dan Inventor..............................................................11 2.4 Hak Prioritas...........................................................................13 BAB III ANALISA / PEMBAHASAN 3.1 Paten Biasa dan Sederhana.....................................................16 3.2 Prosedur Permohonan Paten..................................................17 3.3 Pelanggaran dan Sanksi..........................................................18 3.4 Pro dan Kontra Undang Undang Paten...............................27 BAB IV PENUTUP 5.1 Kesimpulan ..........................................................................28

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Saat ini, masalah paten perangkat lunak (dan juga metode bisnis) masih merupakan subjek yang sangat kontroversial. Amerika Serikat dalam beberapa kasus hukum di sana, mengijinkan paten untuk software dan metode bisnis, sementara di Eropa, software dianggap tidak bisa dipatenkan, meski beberapa invensi yang menggunakan software masih tetap dapat dipatenkan. Paten yang berhubungan dengan zat alamiah (misalnya zat yang ditemukan di hutan rimba) dan juga obat-obatan, teknik penanganan medis dan juga sekuens genetik, termasuk juga subjek yang kontroversial. Di berbagai negara, terdapat perbedaan dalam menangani subjek yang berkaitan dengan hal ini. Misalnya, di Amerika Serikat, metode bedah dapat dipatenkan, namun hak paten ini mendapat pertentangan dalam prakteknya. Mengingat sesuai prinsip sumpah Hipokrates (Hippocratic Oath), dokter wajib membagi pengalaman dan keahliannya secara bebas kepada koleganya. Sehingga pada tahun 1994, The American Medical Association (AMA) House of Delegates mengajukan nota keberatan terhadap aplikasi paten ini. Di Indonesia, syarat hasil temuan yang akan dipatenkan adalah baru (belum pernah diungkapkan sebelumnya), mengandung langkah inventif (tidak dapat diduga sebelumnya), dan dapat diterapkan dalam industri. Jangka waktu perlindungan untuk paten biasa adalah 20 tahun, sementara paten sederhana adalah 10 tahun. Paten tidak dapat diperpanjang. Untuk memastikan teknologi yang diteliti belum dipatenkan oleh pihak lain dan layak dipatenkan, dapat dilakukan penelusuran dokumen paten. Ada beberapa kasus khusus penemuan yang tidak diperkenankan mendapat perlindungan paten, yaitu proses / produk yang pelaksanaannya bertentangan dengan undang-undang, moralitas agama, ketertiban umum
4

atau kesusilaan; metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan/atau pembedahan yang diterapkan terhadap manusia dan/atau hewan; serta teori dan metode di bidang matematika dan ilmu pengetahuan, yakni semua makhluk hidup, kecuali jasad renik, dan proses biologis penting untuk produksi tanaman atau hewan, kecuali proses non-biologis atau proses mikro-biologis. Secara umum, ada tiga kategori besar mengenai subjek yang dapat dipatenkan: proses, mesin, dan barang yang diproduksi dan digunakan. Proses mencakup algoritma, metode bisnis, sebagian besar perangkat lunak (software), teknik medis, teknik olahraga dan semacamnya. Mesin mencakup alat dan aparatus. Barang yang diproduksi mencakup perangkat mekanik, perangkat elektronik dan komposisi materi seperti kimia, obatobatan, DNA, RNA, dan sebagainya. Khusus Sel punca embrionik manusia (human embryonic stem atau hES) tidak bisa dipatenkan di Uni Eropa. Kebenaran matematika, termasuk yang tidak dapat dipatenkan. Software yang menerapkan algoritma juga tidak dapat dipatenkan kecuali terdapat aplikasi praktis (di Amerika Serikat) atau efek teknikalnya (di Eropa). 1.2 Alasan Pemilihan Objek Adapun manfaat dari penulisan ini adalah agar para pembaca pada khususnya kami yang menyusun makalah ini dapat mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai seluk beluk tentang hak paten, pengertian hak paten, pengertian invensi dan inventor serta prosedur permohonan pengajuan paten. 1.3 Tujuan dan Manfaat 1.3.1 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan dalam penyusunan tugas ini adalah : 1. Memahami lebih lanjut pengertian hak paten, invensi dan inventor. 2. Mengetahui prosedur pembuatan paten.
5

3. Mempelajari Undang Undang atau dasar hukum yang digunakan dalam hal paten. 1.3.2 Manfaat Penulisan Adapun manfaat dari penulisan ini adalah membuat masyarakat Indonesia secara umum dan khususnya mahasiswa STIE MBI, untuk lebih familiar dengan istilah istilah hak paten seperti Invensi, Inventor Sistem File to File serta prosedur bagaimana seseorang dapat mengajukan paten atas invensinya. 1.4 Identifikasi Masalah Agar lebih mempermudah pembahasan dalam pencapaian sasaran yang dituju, maka penulis mengindetifikasikan permasalahan yang dibahas pada : 1. Pengertian Hak Paten, Invensi dan Inventor ; 2. Undang Undang sebagai dasar hukum dalam paten ; 3. Prosedur Permohonan Paten ; 1.5 Metodologi Penulisan Dalam pembuatan Tugas ini, penuis membutukan data-data yang berhubungan dengan kajian penulis, yaitu bersumber dari : 1. Studi Lapangan (Field Research) Merupakan penelitian yang dilakukan secara langsung datang ke perusahaan yang dijadikan objek kajian. Dalam mengumpulkan data yang diperlukan penulis memakai teknik observasi / pengamatan mempunyai secara sistematik. Dimana data-data penulis tersebut dapat kebenaran/keabsahan sehingga

mempertanggung-jawabkan penulisan ini. 2. Studi Pustaka (Library Research)

Merupakan pengumpulan data-data dengan cara mempelajari berbagai bentuk bahan-bahan tertulis seperti berbagai buku yang menunjang kajian maupun referensi-referensi lain yang bersifat tertulis dan dapat menunjang kajian.

1.6

Sistematika Penulisan Dalam menyusun Tugas ini, pembahasaan penganalisaannya

diklasifikasikan secara sistematik ke dalam 4 (empat) bab, yaitu : BAB I : PENDAHULUAN Pada bab ini penulisan mengutarakan tentang latar belakang masalah, alasan pemilihan objek, tujuan dan manfaat penulisan, identifikasi / perumusan masalah, pembatasan masalah dan metodologi penulisan. BAB II : LANDASAN TEORI Dalam bab ini penulis mengutarakan berbagai

referensi/tinjauan pustaka yang mendukung kajian/anallisa yang penulis sampaikan, seperti : pengertian hak paten, invensi dan inventor, langkah dan prosedur pengajuan paten serta dasar hukum yang digunakan dalam pengaturan hak paten di Indonesia.

BAB III

ANALISA / PEMBAHASAN Dalam bab ini penulis mencoba untuk menguraikan kajian / analisis terhadap materi yang penulis bahas sesuai dengan judul yang disajikan.

BAB IV

PENUTUP

Pada bab ini berisi tentang kesimpulan kajian dan saran-saran yang mungkin berguna bagi pembaca sebagai masukan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Hak Paten Pengertian hak paten telah diatur dalam Undang Undang No 14 Tahun 2001 tentang paten. Dalam undang-undang ini diatur mengenai syarat paten, jangka waktu berlakunya paten, hak dan kewajiban inventor sebagai penemu invensi, tata cara permohonan hak paten, pegumuman dan pemeriksaan substansif dll. Dengan adanya undang-undang ini maka diharapkan akan ada perlindungn terhadap kerya intelektual dari putra dan putri Indonesia. Pengertian hak paten menurut Undang-undang Pasal 1 ayat 1 Nomor 14 Tahun 2001, Hak Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi selama waktu tertentu. Seorang inventor dapat melaksanakan sendiri invensinya atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Syarat mendapatkan hak paten ada tiga yaitu : 1. 2. Penemuan tersebut merupakan penemuan baru. Penemuan tersebut diproduksi dalam skala massal atau industrial. Suatu penemuan teknologi, secanggih apapun, tetapi tidak dapat diproduksi dalam skala industri (karena harganya sangat mahal / tidak ekonomis), maka tidak berhak atas paten. 3. Penemuan tersebut merupakan penemuan yang tidak terduga sebelumnya (non obvious). Jadi bila sekedar menggabungkan dua benda tidak dapat dipatenkan. Misalnya pensil dan penghapus menjadi pensil dengan penghapus diatasnya. Hal ini tidak bisa dipatenkan. Prosedur pengurusan Hak Paten: 1. Melampirkan Syarat syarat ciptaan berupa contoh
9

2. Melampirkan Permohonan pengajuan Ciptaan 3. Melampirkan identitas / Surat Legalitas Perusahaan 4. Mengecekan di HKI 5. Pendaftaran Hak Paten 6. Proses klarifikasi Hak Paten selama 1,5 Tahun 7. Penerbitan Hak Paten Syarat pendaftaran / Registrasi Hak Paten : 1. KTP Pemohon, apabila pendaftaran Hak Paten atas nama pribadi 2. Akte Perusahaan dan KTP Direktur apabila pendaftaran Hak Paten atas nama badan usaha. 3. Bukti hasil ciptaan (bisa berbentuk file, buku, patung atau media lain) 4. Contoh tanda tangan pemohon atau direktur Paten diberikan atas dasar permohonan dan memenuhi persyaratan administratif dan substantif sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Paten (UUP).

2.2

Peraturan Perundang Undangan yang Mengatur tentang Paten Peraturan perundang-undangan yang mengatur Paten antara lain : Undang-undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten (UUP); Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Agreement Establishing the World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia); Keputusan Presiden Nomor 16 Tahun 1997 tentang Pengesahan PCT and Regulations under the PCT; Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1997 tentang Pengesahan Paris Convention for the Protection of Industrial Property; Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1991 tentang Tata Cara Permintaan Paten;

10

Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1991 tentang Bentuk dan Isi Surat Paten; Keputusan Menkeh Nomor M.01-HC.02.10 Tahun 1991 tentang Paten Sederhana; Keputusan Menkeh Nomor M.02-HC.01-10 Tahun 1991 tentang Penyelenggaraan Pengumuman Paten; Keputusan Menkeh Nomor M.04-HC.02.10 Tahun 1991 tentang Persyaratan, Jangka Waktu, dan Tata Cara Pembayaran Biaya Paten; Keputusan Menkeh Nomor M.06-1-1C.02.10 Tahun 1991 tentang Pelaksanaan Pcngajuan Permintaan Paten; Keputusan Menkeh Nomor M.07-HC.02.10 Tahun 1991 tentang Bentuk dan Syarat-syarat Permintaan Pemeriksaan Substantif Paten; Keputusan Menkeh Nomor M.08-HC.02.10 Tahun 1991 tentang Pencatatan dan Permintaan Salinan Dokumen Paten; Keputusan Menkeh Nomor M.04-PR.07.10 Tahun 1996 tentang Sekretariat Komisi Banding Paten; Keputusan Menkeh Nomor M.01-HC.02.10 Tahun 1991 tentang Tata Cara Pengajuan Permintaan Banding Paten; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2004 tanggal 5 Oktober 2004 tentang Tata Cara Pelaksanaan Paten Olch Pemerintah; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2005 tanggal 4 Januari 2005 tentang Konsultan Hak Kekayaan Intelektual. 2.3 Invensi dan Inventor Invensi adalah ide inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi, dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses. Michael H. Jester (2004 : 175) mengartikan seorang penemu sebagai berikut : "A inventor is one who makes a positive contribution to at least one claim of the patent application."

11

Persyaratan dasar untuk mendapatkan paten menurut H. Jackson Knight (2002 : 7), penemuan (inventions) harus : be new, not previously publicly known; be a nonobvious extension or technical advance over previous inventions. have industrial use or real-world utility. Yang menjadi obyek hak paten ialah temuan (invention) yang secara praktis dapat dipergunakan dalam bidang perindustrian. Itulah sebabnya Hak Paten termasuk dalam jenis hak milik perindustrian, yang membedakannya dengan Hak Cipta. Penemuan yang dapat diberikan hak paten hanyalah penemuan baru di bidang teknologi. Penemuan dimaksud, bisa berupa teknologi yang ada dalam produk tertentu maupun cara yang dipakai dalam proses menghasilkan produk tertentu. Sehingga hak paten bisa diberikan pada produk maupun teknologi proses produksi. Yang dimaksud dengan Inventor (sebutan bagi penemu paten) adalah seorang yang secara sendiri atau beberapa orang yang secara bersama-sama melaksanakan ide yang dituangkan ke dalam kegiatan yang menghasilkan invensi. Pemegang paten adalah inventor sebagai pemilik paten atau pihak yang menerima hak tersebut dari pemilik paten atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak tersebut, yang terdaftar dalam daftar umum paten. Setiap invensi berupa produk atau alat yang baru dan mempunyai nilai kegunaan praktis disebabkan karena bentuk, konfigurasi, konstruksi atau komponennya dapat memperoleh perlindungan hukum dalam bentuk paten sederhana. Dalam permohonan paten dapat diajukan satu invensi, atau beberapa invensi akan tetapi harus merupakan satu kesatuan invensi. Satu kesatuan invensi yang dimaksud adalah beberapa invensi yang memiliki keterkaitan antara satu invensi dengan invensi yang lain, misalnya suatu invensi berupa alat tulis yang barn beserta tinta yang baru. Alat tulis dan

12

tinta tersebut merupakan satu kesatuan, karena tersebut khusus untuk digunakan pada alat tulis baru tersebut. Yang tidak dapat diberi paten adalah invensi tentang : a. proses atau produk yang pengumuman dan penggunaan atau pelaksanaannya bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku, moralitas agama, ketertiban umum atau kesusilaan ; b. c. metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan/atau pembcdahan yang diterapkan terhadap manusia dan/atau hewan ; teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan dan matematika; atau i. ii. semua makhluk hidup, kecuali jasad renik; proses biologis yang esensial untuk memproduksi tanaman atau hewan kecuali proses non biologis atau proses mikrobiologis. Dalam permohonan paten dapat diajukan satu invensi, atau beberapa invensi akan tetapi harus merupakan satu kesatuan invensi. Satu kesatuan invensi yang dimaksud adalah beberapa invensi yang memiliki keterkaitan antara satu invensi dengan invensi yang lain, misalnya suatu invensi berupa alat tulis yang barn beserta tinta yang baru. Alat tulis dan tinta tersebut merupakan satu kesatuan, karena tersebut khusus untuk digunakan pada alat tulis baru tersebut. Untuk mengetahui apakah permohonan paten untuk suatu invensi sudah diajukan atau belum, dapat dicek atau ditelurusi di Ditjen HaKI atau lewat internet ke kantor-kantor paten luar negeri seperti United States Patent and Trademark Office, Japan Patent Office, European Patent Office dan lainlain. 2.4 Hak Prioritas Hak prioritas adalah hak pemohon untuk mengajukan permohonan yang berasal dari negara yang tergabung dalam Paris Convention fin. Protection of Industrial Property atau Agreement Esialp lishing the World Trade
13

Organization untuk memperoleh pengakuan bahwa tanggal penerimaan di negara asal merupakan tanggal prioritas di negara tujuan yang juga anggota salah satu dari kedua perjanjian itu selama pengajuan tersebut dilakukan dalam kurun waktu yang telah ditentukan berdasarkan Paris Convention tersebut. Hak yang dimiliki oleh pemegang paten adalah : a. Pemegang paten memiliki hak eksklusif untuk melaksanakan paten yang dimilikinya, dan melarang orang lain yang tanpa persetujuannya : dalam hal paten produk : membuat, menjual, mengimpor, menyewa, menyerahkan memakai, menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan produk yang diberi paten; dalam hal paten proses : menggunakan proses produksi yang diberi paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana yang dimaksud dalam huruf a. b. Pemegang paten berhak memberikan lisensi kepada orang lain berdasarkan surat perjanjian lisensi; c. Pemegang paten berhak menggugat ganti rugi melalui pengadilan negeri setempat, kepada siapapun, yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 di atas; d. Pemegang paten berhak menuntut orang yang dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak Pemegang Paten dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana yang dimaksud dalam butir 1 di atas. Kewajiban pemegang paten adalah : a. Pemegang paten wajib membayar biaya pemeliharaan yang disebut biaya tahunan ;

14

b. Pemegang paten wajib melaksanakan patennya di wilayah Negara Republik Indonesia, kecuali apabila pelaksanaan paten tersebut secara ekonomi hanya layak bila dibuat dengan skala regional dan ada pengajuan permohonan tertulis dari pemegang paten dengan disertai alasan dan bukti-bukti yang diberikan oleh instansi yang berwenang dan disetujui oleh Ditjen HKI. Sistem first-to-file adalah suatu sistem pemberian paten yang menganut mekanisme bahwa seseorang yang pertama kali mengajukan permohonan dianggap sebagai pemegang paten, bila semua persyaratannya dipenulii. Sistem paten yang diterapkan di Indonesia menganut sistem first-to-file, dalam Pasal 34 UUP disebutkan "Apabila untuk satu invensi yang sama ternyata diajukan lebih dari satu permohonan paten oleh pemohon yang berbeda, hanya permohonan yang diajukan pertama atau terlebih dahulu yang dapat diterima".

15

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Paten Biasa dan Paten Sederhana Berdasarkan pasal 8 undang-undang nomor 14 tahun 2001 tentang paten, Jangka waktu antara paten biasa dengan paten sederhana memiliki perbedaan, diantaranya yaitu : PATEN SEDERHANA

No.

KETERANGAN

PATEN 1 invensi atau lebih yang merupakan satu kesatuan invensi 20 th (sejak tgl penerimaan permohonan paten) 18 bln setelah tanggal penerimaan 6 bulan terhitung sejak diumumkan Kebaruan (Novelty), langkah inventif, dapat diterapkan dalam industri 36 bln terhitung sejak tgl penerimaan permohonan pemeriksaan subtantif Produk atau proses

1. 2.

Jumlah Klaim

1 invensi

Masa perlindungan 3. 4. 5. Yang diperiksa dalam pemeriksaan subtantif Pengumuman permohonan Jangka waktu mengajukan keberatan

10 th (sejak tgl penerimaan permohonan paten) 3 bulan setelah tanggal penerimaan 3 bulan terhitung sejak di umumkan Kebaruan (Novelty), dapat diterapkan dalam industri

6. Lama pemeriksaan subtantif

24 bln terhitung sejak tgl penerimaan permohonan pemeriksaan subtantif Produk atau alat

7. 3.2

Obyek paten

Prosedur Permohonan Paten


16

Prosedur permohonan paten dapat digambarkan sebagai berikut :

17

Langkah awal seorang inventor mengajukan paten : Searching Analisa ciri khusus Mengambil keputusan ya atau tidak Tahap yang harus dilalui adalah sebagai berikut : Mengajukan permohonan Pemeriksaan administratif Pengumuman permohonan paten Pemeriksaan subtantif Pemberian atau penolakan Mengajukan permohonan Pemeriksaan administratif Pengumuman permohonan paten Pemeriksaan subtantif Pemberian atau penolakan 3.3 Pelanggaran & Sanksi Pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) bagi barangsiapa yang dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang Paten dengan melakukan salah satu tindakan yaitu membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan produk yang diberi Paten dan menggunakan proses produksi yang diberi Paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya. Pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus juta lima puluh juta rupiah) bagi barangsiapa yang dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak Pemegang Paten Sederhana dengan melakukan salah satu tindakan yaitu membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau
18

menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan produk yang diberi Paten dan menggunakan proses produksi yang diberi Paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya. Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten : Pasal 33 Apabila seluruh persyaratan dengan batas jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 tidak dipenuhi, Direktorat Jenderal memberitahukan secara tertulis kepada Pemohon bahwa Permohonan dianggap ditarik kembali. Pasal 42 1) Direktorat Jenderal mengumumkan Permohonan yang telah memenuhi ketentuan Pasal 24. 2) Pengumuman dilakukan : a. dalam hal Paten, segera setelah 18 (delapan belas) bulan sejak Tanggal Penerimaan atau segera setelah 18 (delapan belas) bulan sejak tanggal prioritas apabila Permohonan diajukan dengan Hak Prioritas; atau b. dalam hal Paten Sederhana, segera setelah 3 (tiga) bulan sejak Tanggal Penerimaan. 3) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dapat dilakukan lebih awal atas permintaan Pemohon dengan dikenai biaya. Pasal 45 2) Dalam hal terdapat pandangan dan/atau keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktorat Jenderal segera mengirimkan sal inan surat yang berisikan pandangan dan/atau keberatan tersebut kepada Pemohon.

19

3) Pemohon berhak mengajukan secara tertulis sanggahan dan penjelasan terhadap pandangan dan/atau keberatan tersebut kepada Direktorat Jenderal. 4) Direktorat Jenderal menggunakan pandangan dan/atau keberatan, sanggahan, dan/atau penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayal (1) dan ayat (3) sebagai tambahan bahan pertimbangan dalam tahap pemeriksaan substantif. Pasal 48 1) Permohonan pemeriksaan substantif diajukan secara tertulis kepada Direktorat Jenderal dengan dikenai biaya. 2) Tata Cara dan syarat-syarat permohonan pemeriksaan substantif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Pasal 49 2) Apabila permohonan pemeriksaan substantif tidak diajukan dalam batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau biaya untuk itu tidak dibayar, Permohonan dianggap ditarik kembali. Pasal 53 Apabila setelah pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) Pemohon tidak memberikan tanggapan, dan tidak memenuhi kelengkapan persyaratan, atau tidak melakukan perbaikan terhadap Permohonan yang telah diajukannya dalam waktu yang telah ditentukan Direktorat Jenderal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2), Permohonan tersebut dianggap ditarik kembali dan diberitahukan secara tertulis kepada Pemohon. Pasal 54 Direktorat Jenderal berkewajiban memberikan keputusan untuk menyetujui atau menolak Permohonan :
20

Paten, paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya surat permohonan pemeriksaan substantif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48, atau terhitung sejak berakhirnya jangka waktu pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) apabila permohonan pemeriksaan itu diajukan sebelum berakhirnya jangka waktu pengumuman tersebut, Paten Sederhana, paling lama 24 (dua puluh empat) bulan sejak Tanggal Penerimaan. Pasal 55 1) Apabila hasil pemeriksaan substantif yang dilaporkan oleh Pemeriksa menyimpulkan bahwa Invensi tersebut memenuhi ketentuan dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, dan ketentuan lain dalam Undangundang ini, Direktorat Jenderal memberikan Sertifikat Paten kepada Pemohon atau Kuasanya. 2) Apabila hasil pemeriksaan substantif yang dilaporkan oleh Pemeriksa menyimpulkan bahwa Invensi tersebut memenuhi ketentuan dalam Pasal 3, Pasal 5, Pasal 6, dan ketentuan lain dalam Undang-undang ini, Direktorat Jenderal memberikan Sertifikat Paten Sederhana kepada Pemohon atau Kuasanya. 3) Paten yang telah diberikan dicatat dan diumumkan, kecuali Paten yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan Negara. 4) Direktorat Jenderal dapat memberikan salinan dokumen Paten kepada pihak yang memerlukannya dengan membayar biaya, kecuali Paten yang tidak diumumkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46. Pasal 56 1) Apabila hasil pemeriksaan substantif yang dilaporkan oleh Pemeriksa menunjukkan bahwa Invensi yang dimohonkan Paten tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 35, Pasal 52 ayat (1), Pasal 52 ayat (2) atau yang dikecualikan berdasarkan ketentuan dalam Pasal 7, Direktorat Jenderal menolak
21

Permohonan tersebut dan memberitahukan penolakan itu secara tertulis kepada Pemohon atau Kuasanya. 2) Direktorat Jenderal juga dapat menolak Permohonan yang dipecah jika pemecahan tersebut memperluas lingkup Invensi atau diajukan setelah lewat Batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) atau Pasal 36 ayat (3). 3) Apabila hasil pemeriksaan substantif yang dilakukan oleh Pemeriksa menunjukan bahwa Invensi yang dimohonkan Paten tidak memenuhi ketentuan dalam Pasal 36 ayat (2), Direktorat Jenderal menolak sebagian dari Permohonan tersebut dan memberitahukannya secara tertulis kepada Pemohon atau Kuasanya. 4) Surat pemberitahuan penolakan Permohonan harus dengan jelas mencantumkan alasan dan pertimbangan yang menjadi dasar penolakan. Pasal 60 1) Permohonan banding dapat diajukan terhadap penolakan Permohonan yang berkaitan dengan alasan dan dasar pertimbangan mengenai hal-hal yang bersifat substantif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1) atau Pasal 56 (ayat 3). 2) Permohonan banding diajukan secara tertulis oleh Pemohon alma Kuasanya kepada Komisi Banding Paten dengan tembusan yang disampaikan kepada Direktorat Jenderal. 3) Permohonan banding diajukan dengan menguraikan secara lengkap keberatan serta alasannya terhadap penolakan Permohonan sebagai hasil pemeriksaan substantif. 4) Alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak merupakan alasan atau penjelasan barn sehingga memperluas lingkup Invensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.

Cara mengajukan permohonan paten tertulis dalam bahasa Indonesia ke Dirjen HaKI dengan menggunakan formulir permohonan paten yang memuat :
22

Tanggal, bulan dan tahun permohonan Alamat lengkap dan alamatjelas pemohon paten Nama lengkap dan nama inventor Nama lengkap dan alamat kuasa Surat kuasa Penyataan permohonan untuk dapat diberi paten Judul invensi Klaim yang terkandung dalam invensi Deskripsi tentng invensi (memuat keterangan cara melaksanakan invensi) Gambar (untuk memperjelas invensi, jika ada) Abstrak invensi (dokumen deskripsi, klain, abstrak, gambar = spesifikasi paten)

Berikut adalah contoh Form Pengajuan Paten : (halaman berikutnya)

23

dibuat rangkap 4 DEPARTEMEN KEHAKIMAN DAN HAK ASASI MANUSIA R.I DIREKTORAT JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL Formulir Permohonan Paten
Diisi oleh petugas Tanggal Pengajuan :

Dengan ini saya/kami 1) (71) Nama Alamat 2) Warga Negara Telepon NPWP

: : : : : :

Nomor permohonan :

Mengajukan permohonan paten/paten sederhana Yang merupakan permohonan paten Internasional/PCT dengan nomor : (74) melalui/tidak melalui *) Konsultan Paten Nama Badan Hukum 3) : Alamat Badan Hukum 2) : Nama Konsultan Paten Alamat 2) : :

Nomor Konsultan Paten : Telepon / fax : (54) dengan judul invensi : [ ]

Permohonan Paten ini merupakan pecahan dari permohonan paten nomor :

(72) Nama dan kewarganegaraan para inventor :

Diisi oleh petugas


24

........................warga negara.................................. ........................warga negara.................................. ........................warga negara................................... ........................warga negara................................... (30) Permohonan paten ini diajukan dengan/tidak dengan *) Hak prioritas 4) Negara Tgl. Penerimaan permohonan No prioritas ............ ............................................... .................. ............ ............................................... .................. ............ ............................................... .................. ............ ............................................... .................. ............ ............................................... .................. ............ ............................................... .................. Bersama ini saya lampirkan 5) : 1 (satu) rangkap : [ [ [ [ [ [ [ [ ] ] ] ] ] ] ] surat kuasa surat pengalihan hak atas penemuan bukti pemilikan hak atas penemuan bukti penunjukan negara tujuan (DO/EO) dokumen prioritas dan terjemahannya dokumen permohonan paten internasional/PCT sertifikat penyimpanan jasad renik dan terjemahannya ] dokumen lain (sebutkan) :

[ [ [ [ [ [ [ [

] ] ] ] ] ] ] ]

Dan 3 (tiga) rangkap invensi yang terdiri dari : [ [ [ [ ] ] ] ] uraian ................................. halaman klaim .................................. buah abstrak gambar ............................... buah [ ]

Saya/kami usulkan, gambar nomor .............................. dapat menyertai abstrak pada saat dilakukan pengumuman atas permohonan paten (UU No. 14 Tahun 2001)

25

Demikian permohonan paten ini saya/kami ajukan Untuk dapat diproses lebih lanjut

Pemohon,

(.........................................................)

Keterangan : 1. Jika lebih dari satu orang maka cukup satu saja yang dicantumkan dalam formulir ini sedangkan lainnya harap ditulis pada lampiran tambahan. 2. Adalah alamat kedinasan/surat-menyurat. 3. Jika konsultan Paten yang ditunjuk bekerja pada Badan Hukum tertentu yang bergerak dibidang konsultan paten maka sebutkan nama Badan Hukum yang bersangkutan. 4. Jika lebih dari ruang yang disediakan agar ditulis pada lampiran tambahan. 5. Berilah tanda silang pada jenis dokumen yang saudara lampirkan. 6. Jika permohonan paten diajukan oleh : Lebih dari satu orang, maka setiap orang ditunjuk oleh kelompok /group Konsultan Paten maka berhak menandatangani adalah konsultan yang terdaftar di Kantor Paten. *) Coret yang tidak sesuai. Form No. 001/P/HKI/2000 Tidak boleh diperbanyak dengan foto copy.

26

3.4 Pro dan Kontra Undang Undang Paten Pihak yang pro adanya Undang-undang Paten mengajukan alasan-alasan berikut : Paten mendorong semangat inovasi; Paten mendorong arus investasi modal asing, memberi jaminan kerja tenaga kerja lokal dan adanya alih teknologi ke dalam negri; Paten memicu alih teknologi; Prinsip-prinsip Undang-undang Paten Indonesia adalah :
Paten wajib dilaksanakan di Indonesia; Importasi tidak dianggap sebagai pelaksanaan paten; Mekanisme lisensi wajib (compulsory license); Paten mendukung industrialisasi;

Paten sebagai sumber informasi teknologi : mendorong kemajuan teknologi; Fasilitas riset dan pengembangan.

Sedangkan Pihak yang menentang (kontra) Undang-undang Paten mengemukakan alasan-alasan berikut : Paten mempromosi faham individualisme; Paten mengembangkan prinsip-prinsip monopoli; Harga naik Industri dikuasai asing; Biaya membangun sistem mahal; Tidak bisa mencuri teknologi; Manfaat lebih dinikmati asing;

27

BAB IV PENUTUP

5.1

Kesimpulan Kesimpulan dari tugas ini adalah sebagai berikut : Paten adalah hak ekslusif yang diberikan oleh Negara kepada Investor (seorang yang secara sendiri atau beberapa orang yang secara bersamasama melaksanakan ide yang dituangkan ke dalam kegiatan yang menghasilkan Invensi ) atas hasil Invensinya (ide Inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses ) di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensi nya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Permohonan paten diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Direktorat Jenderal dan harus memuat : tanggal, bulan, dan tahun Permohonan; alamat lengkap dan alamat jelas Pemohon; nama lengkap dan kewarganegaraan Inventor; nama dan alamat lengkap Kuasa apabila Permohonan diajukan melalui Kuasa; surat kuasa khusus, dalam hal Permohonan diajukan oleh Kuasa; pernyataan permohonan untuk dapat diberi Paten; judul Invensi; klaim yang terkandung dalam Invensi; deskripsi tentang Invensi, yang secara lengkap memuat keterangan tentang cara melaksanakan Invensi;

28

gambar yang disebutkan dalam deskripsi yang diperlukan untuk memperjelas Invensi; dan abstrak Invensi (dokumen deskripsi, klain, abstrak, gambar= spesifikasi paten). Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pengajuan permohonan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Hak paten berbeda dengan Hak Cipta. Karena Hak cipta adalah hak untuk memperbanyak ciptaannya, sedangkan hak paten adalah

29