Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN TUTORIAL BLOK VIII

BIOETHIC and MEDICAL LAW

KAIDAH DASAR BIOETIKA KEDOKTERAN


KEDOKTERAN ISLAM

DAN BIOETIKA

OLEH
Nama Nim Kelompok Nama tutor : Dewi Soraya : J500080051 :3 : dr. Fikar

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Macam kaidah dasar bioetik kedokteran modern ada kaidah benefince, kaidah otonomy, kaidah NonMalaficence dan kaidah justice. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi (ilatnya) berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Keadaan terakhir disebut dengan prima facie, dimana digunakan untuk menentukan kaidah dasar mana yang dipilih ketika berada di dalam konteks atau kondisi tertentu untuk mendapatkan hasil yang efisien dan tidak merugikan pasien. Namun sebagai dokter islam kita juga memerhatikan kaidah dasar bioetik islam antaralain, kaidah niatan, kaidah Al-Yaqiin, Kaidah Al-Dhahrar (kerugian), kaidah Al-Masyaqqat ( kesulitan) dan kaidah AlUrf (kebiasaan). Yang jadi masalah penggunaan kaidah dasar bioetik kedokteran islam ini membuat ilatnya berubah. Seorang dokter harus mampu menentukan kaidah yang sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi, karena kadang-kadang kebutusan dokter tidak sesuai atau bertentangan dengan kebijakan rumah sakit atau etika rumah sakit. Namun kadang-kadang pengambilan keputusan menjadikan dilema etik di masyarakat. Etika rumah sakit adalah pengembangan dari etika biomedika (bioetika). Karena masalah-masalah atau dilema etik yang baru muncul sebagai dampak atau akibat dari penerapan kemajuan pesat ilmu dan tekhnology biomedis, justru terjadi di rumah sakit.

B. Rumusan Masalah 1. Apa saja kaidah dasar bioetika kedokteran dan bioetika kedokteran islam? 2. Bagaimana penerapan dari kaidah dasar bioetika kedokteran dan bioetika kedokteraan islam? 3. Mengapa semua pasien berhak mendapatkan pelayanan asuhan yang adil? 4. Bagaimana keputusan medis harus dibuat terhadap pasien yang tidak mampu menentukan sendiri? 5. Bagaimana tanggung jawab hak dan kewajiban dokter terhadap masyarakat dan kesehatan global? 6. Mengapa dokter menggunakan kaidah dasar bioetika Non Maleficence terhadap pasiennya? 7. Mengapa pihak rumah sakit menggunakan kaidah dasar bioetika justice terhadap pasien? 8. Mengapa prosedur pemeriksaan sensitivitas dalam islam menggunakan penerapan kaidah Al-Urf? 9. Mengapa pemilihan antibiotik Imipenem yang berdasarkan hasil tes sensitivitas termasuk memenuhi kaidah Al-yaqiin? 10. Mengapa terjadi perubahan ilat dalam penggunaan askeskin? C. Tujuan 1. Mampu menjelaskan kaidah dasar bioetika kedokteran 2. Mampu menjelaskan kaidah dasar bioetika kedokteran islam 3. Mampu menjelaskan etika yang mendasari hubungan dokter dengan pasien 4. Mampu menjelaskan etika yang mendasari hubungan dokter dengan teman sejawatnya

5. Mampu menjelaskan etika yang mendasari hubungan dokter dan masyarakat 6. Mampu menjelaskan tanggung jawab, hak dan kewajiban dokter terhadap masyarakat dan kesehatan global 7. Mampu menjelaskan pertentangan antara kewajiban dokter terhadap pasien dan terhadap masyarakat dan alasan yang mendasarinya

D. Manfaat 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mahasiswa mampu dan mengenal dasar dasar kaidah dasar bioetika kedokteran Mahasiswa mampu menggali potensi dalam pemahaman pada etika hubungan antara dokter dengan pasien Mahasiswa mampu dalam etika hubungan antara dokter dan masyarakat Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip kedokteran islam yang modern Menambah pengetahuan bagi penulis dan pembaca Menunjang wawasan tentang kaidah dasar bioetika kedokteran dan kedokteran islam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Bioetika Bioetika adalah studi interdisipliner tentang problem-problem yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran, baik pada skala mikro maupun skala makro, termasuk dampaknya terhadap masyarakat luas serta sistem nilainya, kini dan masa mendatang. Di dalam uraian mengenai bioetika dibedakannya etika dalam 3 pengertian yaitu, a. Etika sebagai nilai-nilai dan azas-azas moral yang dipakai seseorang atau suatu kelompok sebagai pegangan bagi tingkah lakunya. b. Etika sebagai kumpulan azas dan nilai yang berkenaan dengan moralitas ( apa yang dianggap baik atau buruk). Misalnya kode etik kedokteran, kode etik rumah sakit. c. Etika sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dari sudtsudut norma dan nilai-nilai moral. (J. Guwandi, 1991) Ada sekurangnya tiga cara melihat bioetika: a. Bioetika deskriptif ialah pengamatan dan penafsiran deskriptif cara orang memandang kehidupan, interaksi moral dan tanggungjawab dengan organisme hidup dalam kehidupan mereka. b. Bioetika preskriptif memberitahu atau berusaha mengatakan pada

orang lain apa yang baik atau jelek secara etika, dan apa prinsip-pinsip yang paling penting dalam membuat keputusan-keputusan seperti itu. Ini dapat juga dikatakan bahwa seseorang atau sesuatu mempunyai hak, dan orang lain mempunyai kewajiban terhadap hak ini. c. Bioetika interaktif ialah diskusi dan debat mengenai butir 1 dan 2 di atas antara orang, kelompok dalam masyarakat, dan komunitas

( Gunawan, 1992 )

B. Kaidah-kaidah dasar bioetika kedokteran Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika) antara lain : 1. Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy) Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan. Menurut pandangan Kant yaitu otonomi kehendak sama dengan otonomi moral yakni kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. Sedangkan pandangan J. Stuart Mill, otonomi tindakan/pemikiran sama dengan otonomi individu, yakni kemampuan melakukan pemikiran dan

tindakan

(merealisasikan

keputusan

dan

kemampuan

melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi. Menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan pasien demi dirinya sendiri (sebagai mahluk bermartabat). Hal ini erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan), penggunaan teknologi baru, dampak yang dimaksudkan (intended). (Shahid, 2001)

2.

Berbuat baik (beneficence) Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya. Pengertian berbuat baik diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajiban.Tindakan berbuat baik (beneficence). Ciri-ciri dari kaidah benefince antaralain, alturisme, memandang sesuatu seseorang tak hanya sejauh menguntungkan dokter, manfaat lebih besar dari pada kerugian dan menggunakan prinsip Golden rule principle. a. General beneficence, melindungi & mempertahankan hak yang

lain, mencegah terjadi kerugian pada yang lain, dan menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain. b. Specific beneficence, menolong orang cacat, menyelamatkan tak hanya sejauh menguntungkan

orang dari bahaya. Mengutamakan kepentingan pasien, memandang pasien/keluarga/sesuatu (Gunawan, 1992) 3. Tidak berbuat yang merugikan (Non-Maleficence) Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Sisi komplementer dokter/rumah sakit/pihak lain, dan maksimalisasi akibat baik.

beneficence dari sudut pandang pasien, seperti tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien, minimalisasi akibat buruk kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal : a. Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting b. Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut c. Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif d. Manfaat bagi pasien lebih besar daripada kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal). 4. Keadilan (justice) Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter. Ciri-ciri kaidah justice yaitu memberlakukan secara universal, menghargai hak setiap pasien dan tidak membedakan pelayanan kesehatan yang diberikan Jenis keadilan ada 4 yaitu, komparatif, distributive, social dan hukum : a. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima) b. Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumbersumber kenikmatan dan beban bersama, dengan cara rata/merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani, secara material kepada seetiap orang dengan andil yang sama, setiap orang sesuai dengan kebutuhannya, setiap orang sesuai upayanya, setiap orang sesuai kontribusinya, dan setiap orang sesuai jasanya.

c.

Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama yaitu utilitarian dengan memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien. Libertarian dengan menekankan hak kemerdekaan social dan ekonomi (mementingkan prosedur adil lebih besar daripada hasil substantif/materiil). Komunitarian dengan mementingkan tradisi komunitas tertentu. Egalitarian dengan kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan kriteria material kebutuhan dan kesamaan).

d. Hukum (umum) Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak.pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum. (Purwadianto, 2007)

C. Kaidah-kaidah dasar bioetika kedkteran islam 1. Prinsip niat Dalam prinsip niat ini maksud kaidah terdiri dari beberapa bagian prinsip. Bagian kaidah setiap tindakan dilandasi dengan tujuan di belakang itu untuk mengajak dokter menggunakan kesadaran jiwanya dan meyakini tindakan-tindakannya, terlihat atau tak terlihat, berdasarkan pada tujuan yang baik. Prinsip ini meminta dokter untuk berkonsultasi dengan hati

nuraninya. Bagian prinsip apakah maksud materi dan tidak tertulis dalam hukum menolak menggunakan data untuk membenarkan kesalahan atau asusila. Bagian prinsip yang menilai dengan kriteria sama yang berarti bahwa pengobatan tidak bermanfaat dengan menggunakan metode asusila. 2. Kaidah kepastian ( qaidat al-yaqiin) Diagnosa medis tidak bisa mencapai kepastian (yaqiin). Keputusan pengobatan yang baik dengan keseimbangan probabilitas. Setiap diagnosa pengobatan sebagai diagnosa yang berubah dan diambil sebagai informasi baru yang nampak. Ini memberikan kestabilan dan situasi quasi-certainty tanpa menggunakan prosedur praktis yang lambat dan efisien. Adanya tuntutan kemampuan yang harus berlaku sampai ada bukti yang memaksa mereka. Penetapan prosedur medis dan tata cara diperlakukan sebagai kebiasaan atau preseden. Apa yang telah diterima sebagai kebiasaan melalui waktu yang lama tidak dianggap berbahaya kecuali ada bukti penyimpangan. Semua prosedur medis diperbolehkan kecuali ada fakta yang melarang. Pengecualian aturan ini berhubungan dengan fungsi seksual dan reproduksi. Semua materi yang berhubungan dengan fungsi seksual dianggap terlarang kecuali terdapat fakta yang mempebolehkannya. (Rosyadi, 2008)

3. Kaidah bahaya (qaida al-dharar ) Tindakan medis dibenarkan atas dasar prinsip kerugian, jika ini terjadi, maka menjadi bebas. Kerugian tidak terlepas dengan prosedur medis yang membawa kepada kerugian yang sama sebagai efek samping. Dalam suatu usulan intervensi medis mempunyai efek samping., kita mengikuti kaidah pencegahan bahaya diproritaskan daripada mengambil manfaat yang sama. Jika manfaat pertolongan jauh lebih penting dan berharga daripada bahaya, maka mengambil manfaatnya diprioritaskan. Seorang dokter kadang-kadang dihadapkan dengan intervensi medis yang terbingkai

akibat kedua pengaruh yang terlarang dan dibolehkan. Tuntunan hukum memprioritaskan mencegah dari manfaat bila terjadi bersamaan dan pilihan harus dibuat. Bila dihadapkan dengan dua situasi medis dimana keduanya berbahaya dan tidak ada cara memilih salah satu dari keduanya, maka bahaya yang terkecil dipilih. Bahaya yang terkecil dipilih disamping untuk mencegah bahaya yang lebih besar. Disaat yang sama intervensi medis berkaitan dengan kepentingan umum didahulukan daripada kepentingan individu. Individu harus menopang bahaya untuk melindungi kepentingan public. Wabah penyakit menular dapat menyerang, keadaan tidak bisa melanggar hak umum kecuali terdapat pertolongan umum mengatasinya. 4. Kaidah kesulitan (qaidat al-masyaqqat) Tindakan medis disamping sebagai tindakan terlarang mungkin menjadi boleh di bawah kaedah kesulitan., bila dalam keadaan terpaksa. Keadaan terpaksa memperbolehkan hal-hal yang terlarang. Dalam keadaan pengobatan yang sulit dijelaskan seperti semua kondisi serius yang melemahkan fisik dan kesehatan mental jika tidak segera diobati. Kesulitan memperingan aturan dan kewajiban syariah. Melakukan tindakan terlarang seharusnya tidak diperluas diluar batasan kebutuhan untuk memelihara kebutuhan hukum yang menjadi dasar pembolehan. Bagaimanapun keadaan terpaksa tidak untuk selamanya membatalkan hak pasien yang harus dikembalikan atau dib alas tepat waktunya., keadaan terpaksa hanya melegalkan pelanggaran kebenaran sementara. Pembenaran larangan sementara tindakan medis berakhir dengan terpaksa yang dibenarkan pada keadaan pertama. Ini dapat menjadi cara alternative bila halangan berakhir, adanya larang berlaku lagi atau tidak benar lepas dari sulit dengan mendelegasikan orang lain untuk mengerjakan tindakan berbahaya. 5. Kaidah kebiasaan (qaida al-urf) Standar perawatan medis didefinisikan sebagai kebiasaan. Prinsip dasar kebiasaan atau preseden yang mempunyai kekuatan sah. Apa yang dianggap kebiasaan adalah apa yang biasa gunakan dan

berkembang luas., serta keumuman. Kebiasaan juga harus lama dan bukan fenomena baru hukum medis yang dibentuk. (Kasule, 2007)

D. Hak dan Kewajiban Dokter dan Pasien

Menurut UU praktek kedokteran RI no 29 tahun 2004 mengatur hak dan kewajiban dokter dan pasien. Sesuai Pasal 51 UU no 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, maka kewajiban dokter adalah sebagai berikut : 1. Kewajiban Dokter a.Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standart profesi dan standart prosedure operasional b. Merujuk pasien kedokter yang mempunyai keahlian atau kemampuan lebih baik apabila tidak mampu melakukan pemeriksaan atau pengobatan c.Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan setelah pasien meninggal dunia d. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melaksanakannya dan e.Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran 2. Hak Dokter Sesuai Pasal 50 UU no 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, maka hak dokter adalah sebagai berikut,

a. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standart profesi dan standar prosedur operasional b. Memberikan pelayanan medis menurut standart profesi dan standart prosedur operasional c. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien dan keluarganya d. Menjadi anggota himpunan profesi e. Menerima imbalan jasa.

3. Kewajiban Pasien Kewajiban-kewajiban pasien pada garis besarnya adalah sebagai berikut : a. Memeriksakan sedini mungkin pada dokter b. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya c. Mematuhi nasehat dan petunjuk dokter d. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan e. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima 4. Hak Pasien Dalam KODEKI terdapat pasal-pasal tentang kewajiban dokter terhadap pasien yang merupakan hak-hak pasien yang perlu diperhatikan. Pada dasarnya hak-hak pasien adalah sebagai berikut : a. Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri dan hak untuk mati secara wajar.

b. Memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai profesi kedokteran. c. Memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dari dokter yang mengobatinya. d. Menolak prosedur diagnose dan terapi yang direncanakan, bahkan dapat menarik diri dari kontrak terapeutik. e. Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang akan diikutinya. f. Menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran. g. Dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan dan

dikembalikan kepada dokter yang merujuknya setelah selesai konsultasi atau pengobatan untuk memperoleh perawatan atau tindak lanjut. h. mendapatkan isi rekam medis.(Hanafiah, 1999)

E. Hubungan Dokter dengan pasien, teman sejawat dan masyarakat

1. Hubungan dokter dengan pasien Hubungan dokter dan pasien secara yuridis dapat dimasukkan ke dalam golongan kontrak. Dimana suatu kontrak adalah pertemuan pikiran ( meeting of minds ) pasien memiliki dua dari dua orang mengenai suatu hal ( solis ). Sifat hubungan dokter dan pasien mempunyai dua ciri yaitu : a. Adanya suatu persetujuan ( consensual,

agreement ), atas dasar saling menyetujui dari pihak

dokter dan pasien tentang pemberian pelayanan pengobatan. b. Adanya suatu kepercayaan ( fiduciary ), karena hubungan kontrak tersebut berdasarkan saling percaya mempercayai satu sama lain. Bentuk hubungan kontrak dokter dan pasien ada dua yaitu : a. Kontrak yang nyata ( expressed contract ), Dalam bentuk ini sifat atau luas jangjkauan pemberian pelayanan pengobatan sudah ditawarkan oleh sang dokter yang dilakukan secara nyata dan jelas, baik secara tertulis maupun lisan. b. Kontrak yang tersirat ( implied contract ), Dalam bentuk ini adanya kontrak disimpulkan dari tindakan-tindakan para pihak. Timbulnya bukan karena suatu pesetujuan, tetapi dianggap ada oleh hukum berdasarkan akal sehat dan keadilan. ( Kasule, 2007 ) Dalam sumpah Hippokrates yang berkaitan dengan hubungan dokter dan pasien dinyatakan demikian, nasihat atau obat-obat yang akan saya berikan kepada penderita menurut kepandaian saya, menurut pertimbangan saya ialah untuk kesehatan mereka, tidak sekali-kali untuk merugikan mereka atau untuk berbuat buruk terhadap mereka, saya tidak akan sekali-kali memberikan racun yang dapat mematikan kepda mereka yang memintanya dan menasehatkan untuk memakainya dan saya tidak akan memberikan seseorang perempuan menimbulkan keguguran kandungan. ( Gunawan, 1992 ) 2. Hubungan Dokter dengan teman sejawat Para dokter seluruh dunia mempunyai kewajiban yang sama. Mereka adalah kawan-kawan seperjuangan yang merupakan

kesatuan aksi di bawah panji perikemanusiaan untuk memerangi penyakit yang merupakan salah satu pengganggu keselamatan dan kebahagiaan umat manusia. Etika kedokteran mengharuskan kepada setiap dokter untuk memelihara hubungan baik dengan teman sejawat sesuai dengan makna untuk memelihara hubungan baik dengan teman sejawat sesuai dengan makna suatu kalimat dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia pasal 15 : saya akan memberlakukan teman sejawat saya, sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan. Untuk menjalin dan mempererat hubungan baik antara para teman sejawat, maka wajiblah, setiap dokter menjadi anggota IDI yang setia dan aktif dengan menghadiri pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan, setiap dokter mengunjungi pertemuan klinik bila ada kesempatan, dan hendaknya dokter yang baru menetap di suatu tempat , mengunjungi tewan sejawatnya yang telah berada di situ, tapi hal tersebut tidak perlu dilakukan di kta-kota besar, dimana banyak dokter yang berpraktik, tetapi cukup dengan pemberitahuan tentang pembukaan praktik itu kepada teman sejawat yang tinggal berdekatan. ( Kasule, 2007 ) 3. Hubungan Dokter dengan diri sendiri Seorang dokter mempunyai kewajiban untuk memelihara kesehatan diri. Seperti melakukan pemeriksaan kesehatan berkala sekali setahun, terutama yang telah berusia 40 tahun atau lebih. Juga dalam menghadapi suatu wabah haruslah bersikap hati-hati. Jika diperlukan imunisasi, dokter yang melakukannya terlebih dahulu melakukannya untuk diri sendiri. Setiap dokter wajib mengikuti semua procedure di dalam menjalankan pekerjaannya demi keselamatan dan keamanan dirinya. Selain itu seorang dokter

juga

harus

belajar

terus

untuk

mengembangkan

ilmu

pengetahuannya. Hal ini tercantum dalam pasal 18 kodeki bahwa setiap dokter hendaknya senantiasa mengikuti perkembangan ilmu npengetahuan dan tetap setia kepada cita-cita yang luhur. Hal lain yang kadang diremehkan tetapi penting adalah pengembangan kegemaran pribadi. Kadang-kadang ada dokter yang mempunyai kegemaran tertentu. Hendaklah hal ini dikembangkan, sebab banyak di antara dokter di dunia ini lebih terkenal karena kegemarannya dari pada jabatannya, misalnya sebagai penulis, ahli music, olahragawan dan sebagainya. ( Kasule, 2007)

BAB III PEMBAHASAN Dalam skenario 2 Berpihak pada Prosedur Tetap Rumah Sakit atau Kebijakan Askeskin ini dikatakan bahwa Dokter Fulan seorang dokter rumah sakit daerah kabupaten antah brantah. Dia mendapatkan pasien Anu, dari peserta Askeskin yang menderita sepsis ( infeksi berat). Pasien Anu dari peserta askeskin yaitu peserta Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin. Adapun sembilan syarat keluarga miskin yaitu luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari delapan meter persegi, jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan, jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah atau tembok tanpa plester, tidak memiliki fasilitas buang air besar sendiri sehingga harus menggunakannya bersama dengan rumah tangga lain, sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik, sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah, hanya sanggup makan satu/dua kali dalam sehari dan tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp 500 ribu. Pasien Anu menderita sepsis atau infeksi berat dengan adanya mikroorganisme patogen (bakteri) atau toksinnya di dalam darah atau jaringan lain. (Achadiat, 2007) Setelah dilakukan sensitivitas test didapatkan antibiotik yang sensitive untuk kondisi pasien Anu adalah Imipenem. Tes sensitivitas digunakan untuk mengetahui probabilitas kondisional pada seseorang yang menderita infeksi dengan uji klinis sehingga didapatkan suatu antibiotik yang cocok yaitu imipenem. Imipenem berharga

sangat mahal dan tidak masuk plafon Askeskin. Imipenem adalah darah -lactam antibiotik termasuk ke bagian jenis dari carbapenems yang berasal dari senyawa yang disebut thienamycin, yang dihasilkan oleh bakteri Streptomyces cattleya. Imipenem memiliki berbagai kegiatan terhadap aerobik dan anaerobic Gram positif maupun Gram negatif bakteri. Hal ini penting terutama bagi aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Enterococcus spesies. Hal ini tidak aktif terhadap methicillin-resistant Staphylococcus aureus, namun. Imipenem dan obat-obatan lainnya di carbapenem kelas biasanya dibatasi digunakan, untuk menghindari meluas bakteri perlawanan. (Hanafiah, 1999) Dokter Fulan mendiskusikan masalah yang dia hadapi dengan dokter Oon, berpendapat bahwa menurut kaidah Non Maleficience, pasien ini harus segera mendapatkan pertolongan. Kaidah Non Maleficience yaitu tidak berbuat yang merugikan terhadap pasien dan mengutmakan pertolongan untuk keselamatan pasien. Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Dengan meminimalisasi akibat buruk yang akan terjadi. Pasien dalam keadaan yang berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting, dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut. Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif dengan banyaknya manfaat yang diperoleh daripada kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal). (Purwadianto, 2007)

Sedangkan dalam rumah sakit, semua pasien harus mendapatkan perlakuan yang sama (kaidah justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter. Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yaitu memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya) dan menuntut pengorbanan relatif

sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien). Tujuannya adalah menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat), khususnya yang-hak dan yang-baik. (Shahid, 2001) Tetapi dalam kasus pasien Anu, prima facie kaidah Non Maleficience terhadap kaidah justice tidak bisa diterapkan. Jangan sampai kasus ini menjadi dilemma etik. Pemilihan asas berdasarkan prima facie dalam kondisi atau konteks tertentu, seorang dokter harus melakukan pemilihan 1 kaidah dasar etik ter-absah sesuai konteksnya berdasarkan data atau situasi konkrit terabsah (dalam bahasa fiqh ilat yang sesuai). Jadi dalam kasus ini sesuai dengan kaidah Non maleficience (tidak berbuat merugikan) dokter sebaiknya bertindak segera menolong pasien emergensi, mencegah pasien dari bahaya lebih lanjut sehingga dapat meminimalisir tindakan kerugian namun karena kondisi ekonomi pasien Anu tidak mampu untuk membeli antibiotik imipenem diluar askeskin sehingga penerapan kaidah Non Maleficience terhadap kaidah justice dengan memberlakukan secara universal dan tidak membedakan pelayanan kesehatan yang diberikan tidak bisa diterapkan. Namun apabila antibiotik Imipenem tersebut termasuk obat life safety bagi pasien Anu maka dalam keadaan darurat obat tersebut bisa diberikan meskipun tidak terdapat dalam plafon askeskin. (Purwadianto, 2007) Dokter Imawan, berpendapat, bahwa prosedur pemeriksaan sensitivitas, dalam islam merupakan kaidah Al-urf. Kaidah Al-urf merupakan suatu kaidah kebiasaan juga harus lama dan bukan fenomena baru hukum medis yang dibentuk Dalam pemeriksaan sensitivitas merupakan hal yang sudah biasa dilakukan untuk mengetahui daya tahan tubuh terhadap terjadinya alergi pada suatu obat, probabilitas kondisional pada seseorang yang menderita infeksi dengan uji klinis agar tidak menimbulkan alergi pada penderita. Standar perawatan medis didefinisikan sebagai kebiasaan. Prinsip dasar kebiasaan atau preseden yang mempunyai kekuatan sah. Apa yang dianggap kebiasaan adalah apa yang biasa digunakan dan berkembang luas serta keumuman. (Kasule, 2007)

Sedangkan pemilihan antibiotik Imipenem berdasarkan hasil sensitivitas tes telah memenuhi kaidah Al-yaqiin. Pemilihan antibiotik Imipenem merupakan keputusan pengobatan yang baik dengan keseimbangan probabilitas. Setiap diagnosa pengobatan sebagai diagnosa yang berubah dan diambil sebagai informasi baru yang nampak. Dalam kaidah Al-yaqiin dijelaskan bahwa tidak ada yang benar-benar pasti (yaqiin) dalam ilmu kedokteran, artinya tingkat kepastian (yaqiin) dalam ilmu kedokteran tidak mencapai standar yaqiin yang diminta oleh hukum. Diagnosa medis tidak bisa mencapai kepastian (yaqiin). Meskipun demikian diharapkan dokter dalam mengambil keputusan medis, mengambil keputusan dengan tingkat probabilitas terbaik dari yang ada. Termasuk pula dalam hal diagnosis, perawatan medis didasarkan dari diagnosis yang paling mungkin. (Usman, 1997) Sedangkan kebijakan yang dijalankan Askeskin juga merupakan penerapan kaidah Al-urf dan Al-yaqiin untuk membuat generalisasi aturan agar pembiayaan efisien. Jadi dalam kaidah Al-urf kebijakan tersebut atau Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin sudah biasa diberikan kepada warga miskin yang tidak mampu secara ekonomi dan dijalankan sesuai prosedur yang ada dalam plafon askeskin. Oleh karena itu dalam keadaan darurat dengan kaidah Al-yaqiin bahwa seorang dokter sudah yakin dalam menentukan diagnosa dan pemilihan obat antibiotik Imipenem kepada pasien Anu sesuai dengan infeksi yang di derita. (Musbikin, 2001) Yang jadi masalah ternyata ilat-nya berubah. Sehingga harus ada kaidah yang dimenangkan mengatasi pertentangan kaidah tersebut. Apabila ilat atau sebab/ alas an tertentu yang mengakibatkan kita mengambil suatu tindakan atau keputusan tertentu sesuai keadaan. Sehingga menyebabkan perubahan dalam prima facie yang mengharuskan seorang dokter memilih satu kaidah dasar bioetik yaitu Non Maleficience terhadap kaidah justice dengan segera menolong pasien emergency, mengobati pasien Anu dengan memberikan obat antibiotik Imipenem secara proporsional dan mencegah pasien dari bahaya meskipun mengesampingkan kaidah justice karena suatu keadaan yang darurat demi keselamatan hidup pasien. (Gunawan, 1991)

BAB IV KESIMPULAN dan SARAN A. Kesimpulan 1. justice (keadilan) 4 kaidah dasar bioetik kedokteran modern meliputi respect for person (autonomy), benefince (kebaikan), Non-Melaficence dan

2. 3. procedure operasional 4. 5. 6. 7. konkrit terabsah 8.

5 kaidah dasar bioetik islam meliputi kaidah niatan, kaidah Al-Yaqiin, kaidah Al-Dhahrar, kaidah Al-masyaaqqat dan kaidah Al-Urf Salah satu kewajiban seorang dokter adalah memberikan pelayanan medis sesuai dengan standart profesi dan standart Dalam pengambilan keputusan medis seorang dokter islam harus melihat pada kaidah dasar bioetik kedokteran modern dan islam Salah satu hak pasien adalah mendapatkan pelayanan medis yang manusiawi sesuai prosedur kesehatan Bila dalam keadaan darurat penggunaan askeskin tidak berlaku, tapi yang berlaku adalah life safety (mengutamakan keselamatan) pasien Prima facie digunakan untuk menentukan pemilihan 1 kaidah dasar etik ter-absah sesuai konteksnya berdasarkan data atau situasi Prosedur berkembang luas serta keumuman pemeriksaan sensitivitas dalam islam

merupakan kaidah Al-urf (kaidah kebiasaan) yang biasa digunakan dan 9. Pemilihan antibiotik Imipenem berdasarkan hasil sensitivitas tes telah memenuhi kaidah Al-yaqiin probabilitas terbaik dari yang ada 10. Hubungan dokter dengan pasien di dasarkan pada adanya suatu persetujuan (agreement) dan suatu kepercayaan (fiduciary) keputusan dengan tingkat

B. Saran

1. Sebaiknya seorang dokter tidak terikat pada suatu instansi tertentu (apotek, laboratorium dll ) dalam memberikan rujukan pada pasien 2. Sebaiknya seorang dokter dapat menentukan keputusan kaidah mana yang akan digunakan sesuai dengan kondisi dan konteks masalah yang dihadapi 3. Sebaiknya penentuan pemilihan kaidah atau keputusan jangan sampai menimbulkan dilemma etik di kalangan masyarakat

4. Sebaiknya pelayanan medis pada pasien yang menggunakan askeskin tidak dibedakan dengan pasien-pasien lain 5. Sebaiknya seorang dokter dalam keadaan darurat lebih mementingkan keselamatan pasien (life safety)

BAB V DAFTAR PUSTAKA

Achadiat, M.Chrisdiono. 2007. Dinamika Etika dan Hukum Kedokteran dalam Tantangan Zaman. Jakarta : EGC Gunawan, 1992. Memahami Etika Kedokteran. Yogyakarta : Kanisius Hanafiah, Jusuf. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta : EGC J. Guwandi, 1991. Etika dan Hukum Kedokteran. Jakarta : Balai Penerbitan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Kasule, Omar Hasan. 2007. Kuliah Kedokteran Islam. Yogyakarta : Forum Kedokteran Islam Indonesia Musbikin, Imam . 2001. Qawaid al-Fiqhiyah. Jakarta: Raja Grafindo Persada Purwadianto, Agus. 2007. Segi Kontekstual Pemilihan Prima Facie Kasus Dilemma Etik dan Penyelesaian Kasus Konkrit Etik, dalam bahan bacaan Program Non Gelar. Jakarta : Blok II Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Rosyadi, Imron. 2008. Ber-islam: Menuju Keshalehan Individual dan Sosial. Surakarta: LPID Universitas Muhammadiyah Surakarta Shahid Athar, MD, 2001. Seri Kedokteran Islam; Islam dan Etika Kedokteran. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Usman, Muhlish. 1997. Kaidah-Kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah. Jakarta: Raja

Grafindo Persada http://www.nejm.nih.gov/medlineplus/healthtopics/medical-bioethics.html http://www.medscape.org/resources/jurnal/medical-bioethics-and-law-healthy.pdf http://www.pubmed.com/2009/01/.askeskin.html http://www.cochrane.org/2009/05/medical-bioethics.html http://www.emedicine.com/2009/03/gov/pricipleof bioethic.html