Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA BASAL CELL CARCINOMA

Anatomi Kulit

Kulit (dikenal sebagai integumen umum). Secara anatomis kulit dibagi menjadi tiga lapisan, yaitu: Epidermis Epidermis terutama terdiri dari sel sel khusus yang melakukan fungsi vital.
Dermis

Dermis terdiri dari matriks ekstraseluler yang menyediakan dukungan untuk jaringan yang kompleks seperti saraf, pembuluh darah, dan struktur adneksa. Membrane basalis. Membrane basalis memenuhi fungsi fungsi biologis termasuk organisasi

jaringan, persediaan faktor pertumbuhan dan penghalang selektif semipermeabel. Epidermis

Mempunyai ciri yaitu perdarahannya sedikit dan lapisannya tipis. Terutama terdiri dari keratinosit, epidermis yang bersifat dinamis, berlapis lapis sel yang matang. Dari lapisan internal sampai lapisan eksternal terdiri dari : 1. Stratum basale/Germinativum o Terdiri dari sel sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis. o Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade. o Lapisan terbawah dari epidermis. o Terdapat melanosit yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin( melindungi kulit dari sinar matahari) Sel basal adalah mitosis aktif, sel tunggal yang terakhir yang dibedakan keratinosit pada struktur dasar dari epidermis. Sebagai sel basal, mereka meninggalkan lamina basalis untuk memulai diffrensiasi dan migrasi ke atas. Pada lapisan spinosus keratinosit dihubungkan oleh tonofibrils dan memproduksi keratin. Sebagai sel sel yang naik ke atas, mereka kehilangan kemampuan mitosis mereka. Dengan masuk ke dalam lapisan granular, sel menumpuk pada granula keratohyalin. Pada lapisan tanduk, keratinosit yang sudah tua, kehilangan hubungan interseluler dan tempatnya. Dari lapisam basal sampai menuju tempatnya, keratinosit mempunyai waktu transit kira kira 40 56 hari. 2. Stratum spinosum o Lapisan epidermis yang paling tebal. o Terdiri dari sel polygonal o Sel sel mempunyai protoplasma yang menonjol yang terlihat seperti duri. 3. Stratum Granulosum o Sitoplasma mengandung granula 4. Stratum lucidum o Lapisan sel-sel mati tanpa inti sel 5. Stratum corneum
o Terdiri dari 20 25 lapis sel tanduk tanpa inti.

Dermis Mempunyai perdarahan yang lebih banyak dari epidermis dan lapisannya tebal. Pada dermis terdapat nervus sensorik, folikel rambut, kelenjar ( sebasea, holokrin, keringat, apokrin, dan jaringan ikat ). Dermis juga terbagi atas dua lapisan, yaitu :

Lapisan luar atau lapisan papiler yang terdiri dari serat serat kolagen dan retikular, berisi substansia dasar.

Lapisan dalam atau lapisan retikuler yang dibentuk oleh serabut serabut kolagen padat, kasar dan bercabang cabang yang sejajar dengan permukaan kulit.

Dermis sebagian besar terdiri dari protein struktural dan komponen struktural. Kolagen, protein fungsional utama dalam dermis. Tropocolagen, preskursor kolagen, terdiri dari tiga rantai polipeptida ( hydroxyprolin, hidroksilin, dan glisin ). Molekul panjang kemudian saling melintasi untuk satu sama lain membentuk serat kolagen. Dari tujuh struktural kolagen yang berbeda, kulit terutama mengandung sebagian besar tipe serat retikulin kolagen, tapi ini hanya di zona membrane basal dan daerah perivaskuler. Serat elastik mampu melawan kekuatan peregangan, serat serat ini memungkinkan kembali ke bentuk awal setelah kulit mengalami respon stress deformitas. Suplai darah ke dermis didasarkan pada jaringan yang rumit dari pembuluh darah yang memberikan aliran untuk struktur yang dangkal, serta mengatur suhu tubuh. Ini dicapai dengan bantuan saluran pembuluh darah vertical yang menghubungkan dua pleksus horizontal, salah satu dalam dermis papiler dan yang lainnya di subkutan. Sensasi kulit dicapai melalui aktivasi pleksus serabut otonom dari kulit yang bersinapsis untuk kelenjar keringat, erector pili, dan pembuluh darah. Serabut ini juga terhubung ke reseptor sel hidup yang menyampaikan informasi dari kulit kembali ke sistem syaraf pusat. Meissner, ruffini, dan Pacini yang mengirimkan informasi pada tekanan lokal, getaran, sentuhan, suhu, nyeri, dan gatal. Adneksa Kulit Kulit memiliki tiga struktur utama, yaitu : Kelenjar ekrin Kelenjar ekrin dan kelenjar apokrin merupakan kelenjar sederhana, tubuler, melingkar pada dasar dermis. Keringat yang diproduksi kelenjar ekrin yang terletak di seluruh tubuh, tetapi banyak terkonsentrasi pada telapak tangan, telapak kaki, ketiak, dan

kening, kecuali bibir dan bagian tertentu genitalia eksterna. Kelenjar ekrin merupakan regulator suhu tubuh. Kelenjar ini tidak berbau ( odorless ). Kelenjar pilosebasea Kelenjar apokrin. Kelenjar apokrin banyak terdapat pada kelopak mata dan ketiak, yang mempunyai bau yang khasbila terjadi dekomposisi oleh bakteri. Folikel rambut tubuh sejak 3 bulan intrauterine. Folikel rambut merupakan mitosis aktif germinal center yang memproduksi rambut. Bersama dengan dengan minyak, yang disekresikan oleh kelenjar sebasea, kedua struktur tersebut membentu unit pilosebasea. Selain memproduksi rambut, folikel rambut juga mempunyai beberapa fungsi penting. Folikel rambut berisi persedian sel induk pluripotent penting dalam produktivitas epidermis. Sel sel ini mampu mengekspansi daerah sekitarnya untuk menggantikan sel yang hilang atau rusak serta menggantikan kelangsungan epidermis setelah terluka. Sebagai contoh, dalam skin graft kulit, folikel rambut yang tersisa memberikan pasokan untuk meregenerasi keratinosit, untuk meregenerasi epidermis dan mengembalikan integritas kulit. Kelenjar sebasea menghasilkan cairan seperti minyak yang berfungsi untuk lubrikasi rambut dan kulit serta menjaga kelembabannya. Banyak pada dahi, pipi dan hidung.Lapisan bawah dermis yang terdiri dari lemak disebut hypodermis atau subdermis atau subkutis. Fungsi kulit secara umum:

perlindungan terhadap mekanik, kimia, osmotik, termal, kehilangan air, dan invasi mikroba. Permeabilitas selektif terhadap berbagai zat kimia Proses Biosintesis (misalnya, prekursor vitamin D dibawah pengaruh sinar ultraviolet) Target berbagai hormon (mengatur pigmentasi,sekresi, turgidity,dll) Regulasi panas melalui sirkulasi, kelenjar keringat, jaringan adiposa. Reservoir darah, lemak dan air, (turgor). Ekskresi metabolit (keringat) Organ sensorik dan refleks reseptif.

Definisi Basal Cell Carcinoma (BCC) adalah neoplasma ganas yang berasal dari sel-sel non keratinosit yang berasal dari lapisan basal epidermis dan jenis kaknker kulit yang paling sering mengenai manusia. WHO mendefinisikan Basal Cell Carcinoma secara histologi sebagai tumor kulit yang invasif lokal, penyebarannya lambatdan jarang bermetastase, berkembang di epidermis atau folikel rambut, secara fakta, sel-sel perifer tersebut biasanya mirip dengan sel-sel basal dari epidermis . Tumor berasar dari sel lapisan basal atau dari lapisan luar sel folikel rambut yang paling sering muncul pada daerah-daerah yang sering terpapar sinar matahari.BCC biasanya tumbuh lambat dan jarang bermetastase, akan tetapi dapat menyebabkan kerusakan lokal yang nyata apabila dibiarkan atau diterapi dengan tidak adekuat. Epidemiologi Angka kejadian BCC jauh lebih besar pada laki-laki dari pada perempuan. Hal ini mungkin mencerminkan suatu tingkat yang lebih tinggi paparan sinar matahari dari laki-laki karena pola kerja.Sebuah studi Minnesota memberikan angka kejadian tahunan untuk lakilaki dan wanita adalah masing-masing 175 dan 124 per 100.000. Namun, kejadian pada wanita meningkat karena perubahan mode pakaian diluar rumah dan waktu yang dihabiskan akibat pola rekreasi atau pekerjaan tertentu. Survei di Australia menunjukkan bahwa kejadian baru penderita BCC primer baru meningkat 1,5 % dalam 10 tahun dan lebih dari 700 orang per 100.000 orang menderita BCC multipel. Kejadian BCC meningkat menurut usia dan lebih sering terjadi pada orangtua. Lebih dari 90 % dari BCC yang terdeteksi terdapat pada pasien yang berusia 60 tahun atau lebih. Etiopatogenesis Etiologi dan faktor resiko dari KSB dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Faktor Eksogen Radiasi ultraviolet adalah penyebab BCC paling penting dan paling sering. Radiasi ultraviolet gelombang pendek, Ultraviolet B, 290-320 nm, yang menyebabkan sunburn, lebih sering menyebabkan BCC dibandingkan ultraviolet gelombang panjang, ultraviolet B, 320-400 nm.

Radiasi lain, yaitu sinar X dan sinar grenz juga berhubungan dengan terjadinya BCC Paparan arsen lewat obat-obatan, pekerjaan atau diet. Kontaminasi air sering menyebabkan ingesi arsen Pengobatan dengan imunosupressan jangka panjang juga dapat meningkatkan resiko BCC. Oleh karena itu, penerima transplantasi organ atau sel stem mempunyai resiko tinggi hidup untuk menderita BCC Adanya trauma, jaringan parut, luka bakar juga dapat menimbulkan BCC 2. Faktor Endogen Kulit tipe 1, rambut kemerahan atau keemasan dengan anak mata berwarna hijau atau biru telah menunjukkan faktor resiko yang tinggi untuk terdinya BCC, dengan perkiraan ratio 1;6 perkembangan BCC dilaporkan lebih sering terjadi setelah freckling pada usia anak dan setelah sunburn hebat pada usia anak. Xeroderma pigmentosum : Penyakit autosomal resesif ini dipicu oleh faktor pendedahan pada kulit, dimulai dengan perubahan pigmen dan akhirnya menjadi BCC. Efeknya berhubungan dengan ketidakmampuan untuk menginduksi kerusakan DNA karena ultraviolet. Sindrom nevoid BCC (Sindrom nevus sel basal, sindrom Gorlin): BCC muncul pada keadaan autosomal dominan, timbul pada usia muda. Biasanya terdapat odontogenik keratosistik, plitting palmoplantar, kalsifikasi intracranial dan kelainan tulang iga. Biasa juga timbul tumor seperti meduloblastoma, meningioma dan ameloblastoma. Sindrom Bazex:terdapat atropoderma folikuler (tanda-tanda ice pick, khususnya pada dorsal tangan), BCC multipel dan anhidrosis lokal. Terdapat riwayat kanker kulit non melanoma sebelumnya. Insiden kanker kulit nonmelanoma adalah 35 % pada 3 tahun pertama dan 50% pada 5 tahun kedua setelah dignosis awal kanker kulit. Aspek terpenting darei BCC adalah bahwa kanker kulit ini terdiri dari sel tumor epithelial berasal dari sel primitif selubung akar rambut sementara komponen stroma menyerupai lapisan papilaris dermis dan terdiri dari kolagen, fibroblast dan substansia dasar yang sebagian besar berupa berbagai jenis glukosa aminoglikans (GAGs). Kedua komponen ini saling ketergantungan sehingga tidak bisa berkembang tanpa komponen yang lainnya. Hubungan ketergantunan ini sifatnya sangat unik, hal inilah yang dapat menjelaskan mengapa KSB sangat jarang bermetastasis dan mengapa pertumbuhan BCC pada kultur sel dan

jaringan sangat sulit terjadi. Hal ini dikarenakan bolus metastase yang besar dengan komponen sel dan stroma didalamnya sulit memasuki sistem limfatik ataupun sistem vaskular. Dan inilah yang membedakan antara BCC dengan melanoma maligna dan karsinoma sel skuamosa yang keduanya sering mengadakan metastase Beberapa gen telah dikaitkan dengan perkembangan BCC. Sitokrom 450 (CYP) dan glutathione S-Transferase (GST), keduanya terlibat dalam berbagai macam detoksifikasi mutagen. Polimorfisme spesifik dalam supergen ini telah diidentifikasi, khususnya GSTM1, GSTT1, GSTP1 dan CYP2D6 dapat juga berhubungan dengan pengembangan beberapa KSB multiple. Sindrom nevus sel basal terjadi karena adanya mutasi gen PTCH yang terletak pada kromosom 9q22. Gen PTCH adalah homolog manusia dari drosophilia patched gene, mengatur jalur Hedgehog secara negatif melalui penghambatan SMO, dan merupakan protein transmembran, KSB sporadik juga telah ditunjukkan memiliki mutasi PTCH lebih dari 68% kasus. Mutasi pada tumor supresor gen p53 menyebabkan inaktifassi gene tersebut dan perkembangan resistensi tumor terhadap apoptosis. Sekitar 53 % dari BCC mungkin memiliki mutasi alel tunggal dari gen p53. Tipe kulit berhubungan dengan polimorfisme reseptor melanocortin (MCR1) dan merupakan faktor risiko independen terjadinya BCC. Warna mata dan fungsi tanning juga terkait dengan polimorfisme di tirosinase dan merupakan salah satu resiko terjadinya BCC.

Klasifikasi dan Stadium Karsinoma Tumor Primer (T) Tx T0 Tis T1 T2 T3 T4

Tumor primer tidak dapat dinilai Tidak ada bukti tumor primer Karsinoma in situ Diameter tumor 2 cm Diameter tumor 2-5 cm Diameter tumor > 5 cm Tumor menginvasi struktur extradermal dalam (yaitu: tulang rawan,

otot rangka atau tulang. Limfonodus Regional (N) Nx Kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai N0 Kelenjar getah bening regional tidak metastasis N1 Kelenjar getah bening regional metastasis Metastasis (M) Mx Metastasis jauh tidak dapat dinilai

M0 M1 Stadium Stadium 0 Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV

Metastasis jauh tidak ada Metastasis jauh Tis T1 T2 T3 T4 Semua T Semua T N0 N0 N0 N0 N0 N1 Semua N M0 M0 M0 M0 M0 M0 M1

Faktor Risiko Kambuh Lokal Berdasarkan Karakteristik Tumor Primer FAKTOR Lokasi - Badan dan ekstremitas - Dahi dan leher - Wajah Batas Insidensi Imunosupresi Sebelum terapi radiasi/peradangan kronik Laju pertumbuhan yang cepat Gejala-gejala neurologis Diferensiasi Perineural/Invasi vascular Gambaran Klinis Pada kulit sering di jumpai tanda-tanda kerusakan seperti telangiektasis dan atropi. Lesi tumor ini tidak menimbulkan rasa sakit. Adanya ulkus menandakan suatu proses kronis yang berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun dan ulkus ini secara perlahan-lahan dapat bertambah besar. Gambaran klinik basal cell karsinoma bervariasi. Terdapat 5 tipe dan 3 sindroma klinik, yaitu: RISIKO RENDAH < 20 mm < 10 mm < 6 mm Tegas Primer Negatif Negatif Negatif Negatif Ya Negatif RISIKO TINGGI 20 mm 10 mm 6 mm Tidak tegas Berulang Positif Positif Positif Positif Sedang atau buruk Positif

1. Tipe Nodular-Ulseratif (Ulkus Rosdens) Jenis ini dimulai dengan nodus kecil 2-4 mm, translusen, warna pucat seperti lilin (Waxy-nodule). Dengan inspeksi yang teliti, dapat dilihat perubahan pembuluh darah superficial melebar (telangiektasis). Permukaan nodus mula-mula rata tetapi kalau lesi membesar, terjadi cekungan ditengahnya dan pinggir lesi menyerupai bintil-bintil seperti mutiara (pearly border). Nodus mudah berdarah pada trauma ringan dan mengadakan erosi spontan yang kemudian menjadi ulkus yang terlihat di bagian sentral lesi. Kalau telah terjadi ulkus, bentuk ulkus seperti kawah, berbatas tegas, dasar irreguler dan ditutupi oleh krusta. Pada palpasi teraba adanya indurasi disekitar lesi terutama pada lesi yang mencapai ukuran lebih dari 1 cm, biasanya berbatas tegas, tidak sakit atau gatal. Dengan trauma ringan atau bila krusta diatasnya diangkat, mudah berdarah. 2. Tipe Pigmented Gambaran klinisnya sama dengan nodula-ulseratif, pada jenis ini berwarna coklat atau berbintik-bintik atau homogeni (hitam merata) kadang-kadang menyerupai melanoma. Banyak dijumpai pada orang dengan kulit gelap yang tinggal pada daerah tropis. 3. Tipe Morphea-Like atau Fibrosing Merupakan jenis yang agak jarang ditemukan. Lesinya berbentuk plakat yang berwarna kekuningan dengan tepi yang tidak jelas, kadang-kadang tepinya meninggi. Pada permukaannya tampak beberapa folikel rambut yang mencekung sehingga memberikan gambaran seperti sikatriks. Kadang-kadang tetutup krusta yang melekat erat. Jarang mengalami ulserasi. Tapi ini cenderung invasive kearah dalam. Tepi ini menyerupai morphea atau skleroderma. 4. Tepi Superficial Berupa bercak kemerahan dengan skuama halus dan tepi yang yang meninggi. Lesi dapat meluas secara lambat, tanpa mengalami ulserasi. Umumnya multiple, terutama dijumpai pada badan, kadang-kadang pada leher dan kepala. 5. Tipe Fibroepitelial Berupa satu atau beberapa nodul keras dan sering bertangkai pendek, permukaannya halus dan sedikit kemerahan. Terutama dijumpai dipunggung.Tipe ini sangat jarang ditemukan.

Sindrom klinik yang merupakan bagian penting dari Basal Cell Karsinoma, yaitu: Sindrom Karsinoma Sel Basal Nevoid Dikenal sebagai sindrom Gorlin Goltz. Merupakan suatu sindrom yang diturunkan secara autosomal dan terdiri dari: Kelainan kulit : Berupa nodul kecil yang multiple yang terdapat pada masa kanak-kanak atau akhir pubertas, terutama dijumpai pada muka dan badan. Selama stadium nevoid, ukuran dan jumlah nodul bertambah. Sering setelah umur dewasa, lesinya mengalami ulserasi dan kedalam stadium neoplastik dimana terjadi invasi, destruksi dan mutilasi. Kematian dapat terjadi karena invasi ke otak terdapat cekungan (pits) pada telapak tangan dan kaki. Kelainan tulang : Berupa kista pada rahang, kelainan pada tulang iga dan tulang belakang (skoliosis,spina bifida) Kelainan mata: berupa katarak, buta congenital.

Sindrom Linear and Generalized Follicular Basal Cell nevi Merupakan jenis yang sangat jarang ditemukan pada lesi yang linear, berupa nodul yang disertai komedo dan kista epidermal, tersusun seperti garis dan unilateral, akibat kerusakan folikel rambut akibat pertumbuhan tumor.

Sindrom Bazex : atrophoderma dengan multiple karsinoma sel basal Disamping itu ada juga tipe-tipe klinis yang jarang dijumpai, yaitu: Fibroepitelioma, giant pore KSB,wild fire KSB, angiomatous KSB, Lipoma like KSB, giant exophytic KSB, hiperkeratotic KSB dan intra oral KSB.

Gambaran Histopatologi Sifat-sifat Histopatologis dari Basal Cell Carcinoma bervariasi, namun pada umumnya mempunyai inti yang besar, oval, atau memanjang dengan sedikit sitoplasma. Sel pada Basal Cell Carcinoma mirip dengan sel basal pada stratum basal epidermis hanya rasio antara inti dengan sitoplasma lebih besar atau tidak tampak adanya jembatan antar sel. Inti dari sel Basal Cell Carcinoma lebih seragam (tidak hanya berbeda dalam ukuran dan intensitas pewarnaan) dan tidak ada gambaran anaplastik. Parenkim tumor pada Basal Cell Carcinoma selalu dikelilingi oleh stroma yang sering tampak sebagai jaringan dengan banyak fibroblast muda. Oleh karena parenkim tumor

berasal dari sel epithelial, dan stroma berasal dari mesoderm, yang berperan dalam pembentukan adneksa kulit. Berdasarkan sifat pertumbuhan merupakan hal yang lebih penting antara lain bentuk: Noduler, kelompok sel tumor secara keseluruhan memberikan kesan berbatas tegas dengan jaringan sekitar. Noduler Infiltrate, pada bagian tengah tampak tonjolan tumor dengan tepi menunjukkan pertumbuhan infiltrate kecil. Infiltratif, jaringan tumor menunjukkan pertumbuhan infiltrative tidak teratur. Selerosing, stroma menunjukkan jaringan ikat padat terdiri dari serabut kolagen dan elastik. Non Selerosing, kelompok sel tumor besar dengan jaringan ikat stroma tidak begitu padat. Multifokal, jaringan tumor berasal dari beberapa tempat pada epidermis.

Diagnosis Banding Karsinoma Sel Skuamosa Melanocytic Nervi (Nevus Pigmentosus) Melanoma Malignan Ttichoepitelioma. Hiperplasia Sebaceous Keratosis Seboroik Diagnosis Ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik (gejala klinis) dan pemeriksaan histopatologis. Dari anamnesis terdapat kelainan kulit terutama dimuka yang sudah berlangsung lama berupa benjolan kecil, tahi lalat, luka yang sukar sembuh, lambat menjadi besar dan mudah berdarah. Tidak ada rasa gatal/sakit.Pada pemeriksaan fisik terlihat papul/ulkus dapat berwarna seperti warna kulit atau hiperpigmentasi. Pada palpasi teraba indurasi. Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan histopatologi yaitu dengan dilakukannya biopsi.

Penatalaksanaan Oleh karena sinar matahari predisposisi utama untuk terjadinya kanker kulit maka perlu diketahui perlindungan kulit terhadap sinar matahari, terutama bagi orang-orang yang sering melakukan aktivitas diluar rumah dengan cara memakai sunscreens (tabir surya) selama terpajan sinar matahari. Penggunaan tabir surya untuk kegiatan diluar rumah diperlukan tabir surya untuk kegiatan diluar rumah diperlukan tabir surya dengan SPM yang lebih tinggi (> 15-30). Adanya hubungan antara terbentukknya berbagai radikal bebas antara lain sinar UVV pada beberapa jenis kanker kulit, telah banyak dilaporkan. Pemakaian antioksidan dapat berfungsi untuk menetralkan kerusakan atau mempertahankan fungsi dari serangan radikal bebas. Dapat mengakibatkan berbagai gejala klinik atau penyakit yang cukup serius Banyak metode pengobatan Basal Cell Carcinoma, yaitu: a. Bedah Eksisi Bedah eksisi atau bedah scalpel pada Basal Cell Carcinoma dini memberikan tingkat kesembuhan yang tinggi. b. Radioterapi Penyinaran lokal diberikan lapangan radiasi meliputi tumor dengan 1-2 cm jaringan sehat disekelilingnya. Penyinaran dilakukan dengan dosis 200 cGy perfrasaksi, 5 fraksi dalam 1 minggu dengan total dosis 4000 cGy c. Kuretasi dan elektrodesikasi Dilakukan pada tingkat yang dini, cara yang terbaik dengan cara memotong dan koagulasi dibantu dengan curettage. Jika hendak mengambil spesipik jaringan untuk pemeriksaan histopatologis, dilakukan dengan elektro section (pure cutting). Terlebih dahulu diberi marker 3 5 mm diluar tumor. d. Bedah Beku (Cryosurgery) Bedah beku adalah Suatu metode pengobatan dengan menggunakan bahan yang dapat menurunkan suhu tubuh jaringan tubuh dari puluhan sampai ratusan derajat celcius dibawah nol (Subzero). e. Bedah Mikrografi Mohs Evaluasi Histopatologi pada tepi irisan mendekati 100 % dibandingkan dengan tekhnik seksi vertikal tradisional. Dengan analisa tepi irisan yang lengkap dapat diketahui dan ditelusuri semua fokus-fokus tumor yang masih tertinggal. Reseksi

hanya pada daerah tumor, sehingga dapat menghemat jaringan atau meminimalkan jaringan yang hilang. f. Terapi Fotodinamik Fotodinamik terapi (PDT) dilakukan dengan aplikasi topikal dari asam 5aminolaevulinic prodrug (ALA) atau Aminolaevulinic (MAL). g. Imiquimod Imiquimod merupakan modifikasi respon imun, mengikat reseptor permukaan sel toll 7 dan/ atau 8. Ikatan ini mengaktifkan produksi sitokin pro inflamasi dan selanjutnya kematian sel T sitotoksik sel diperantarai. Prognosis Prognosis umumnya baik dengan five year survival rate mencapai 99 %. Basal Cell Carcinoma mempunyai rekurensi tinggi, terutama bila pengobatan tidak adekuat. Biasanya rekurensi terjadi 4 bulan pertama sampai 12 bulan setelah pengobatan Faktor faktor yang mempengaruhi prognosis Basal Cell Karsinoma: Ukuran tumor (peningkatan ukuran memiliki risiko kekambuhan yang lebih tinggi) Lokasi tumor (Lesi ditengah wajah, terutama di sekitar mata, hidung, bibir, dan telinga adalah risiko yang lebih tinggi terulangnya. Definition of clinical margins (poorly defined lesions are at higher risk of recurrence) Histologi subtipe (subtipe tertentu memiliki risko yang lebih tinggi terulangnya) Fitur histologis agresi (keterlibatan perineural dan/ atau perivascular risiko yang lebih tinggi terulangnya) Kegagalan penanganan sebelumnya (lesi yang rekuren)

DAFTAR PUSTAKA

Town send Courtney,M.Sabiston Textbook Of Surgery The Biological Basis Of Modern Surgical Practice. 2004. 17thed. Library Of Congress Cataloging-In-Publication data. Telfer N, Colver G, Morton C. Guidlines For The Management Of basal Cell Carcinoma.NHS Foundation Trust. 2008. Vant Y,Corik R. Histological Types Of Basal Cell Carcinoma.Scripta Medica (BRNO). 2006

John A,David J. Basal Cell Carcinoma In; wolff k, Goldsmith LA,katz SI, Gilchrest BA, Paller A,Leffell DJ.Dermatology In General Medicine. 7th ed. United States Of America; Mc-Graws-Hills Companies, In C.2008